Jun 25, 2009

Flisch Joerimann : Merekonstruksi Emosi Rakyat Aceh

Merekonstruksi Emosi Rakyat Aceh
Oleh : Khaeruddin

Sebuah brosur tentang program International Committee of The Red Cross disodorkan Flisch Joerimann. Brosur tersebut berisi penjelasan tentang bagaimana ICRC atau Komite Palang Merah Internasional berusaha agar seseorang yang terpisah dari keluarganya akibat konflik bersenjata, bisa berhubungan kembali.

Sejak tahun 2003 Flisch, yang bekerja sebagai penerjemah di ICRC, keluar-masuk berbagai penjara di Indonesia demi mempertemukan orang-orang yang terpisah dari keluarganya akibat kegiatan separatisme hingga terorisme.

Selain penjara-penjara di Jawa Barat, hampir seluruh sel-sel tahanan di Pulau Jawa telah dia datangi. Flisch mendata berapa banyak anggota dan simpatisan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang ditahan di berbagai penjara di Pulau Jawa. Dengan meminta persetujuan pihak berwenang, seperti Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia hingga kepala lembaga pemasyarakatan, Flisch memfasilitasi para narapidana tersebut bertemu kembali dengan keluarganya.

”Saya juga pernah masuk ke penjara-penjara di Papua. Tidak hanya penjara, tetapi juga ruang tahanan polisi dan kejaksaan. Mendata mereka yang tersangkut dengan OPM. Prinsipnya, setiap narapidana berhak mendapatkan kunjungan dari keluarganya sekali dalam setahun. Kami bekerja di bawah hukum humaniter internasional,” tutur pria lajang yang lahir di Chur, sebuah kota kecil di Pegunungan Alpen, Swiss, 10 Juni 1976.

Tugas sebagai penerjemah ICRC membuatnya bisa berkeliling Indonesia. Flisch sangat mencintai Indonesia. Pertama kali datang tahun 1997 sebagai wisatawan, Flisch kemudian memutuskan meneliti dampak pariwisata Bali terhadap perempuan di desa-desa adat sebagai tesisnya di jurusan antropologi Universitat Zurich, pada tahun 2000-2001.

Bahasa Indonesianya yang lancar dia pelajari dari orang-orang di sebuah kampung kecil di Kabupaten Gianyar, Bali, tempatnya meneliti. ”Tujuh tahun saya kuliah antropologi. Saya banyak mengenal Indonesia setelah belajar antropologi,” katanya.

Flisch membeli sebidang tanah di Bali untuk ditinggalinya kelak. Suatu saat dia ingin benar-benar menjadi orang Indonesia. ”Saya sengaja memilih tinggal di kampung, bukan di Kuta atau Denpasar karena orang-orang di kampung bisa bersikap apa adanya. Mereka juga relatif lebih jujur dan tulus kalau membantu,” katanya.

Saat gempa bumi dan tsunami meluluhlantakkan Aceh akhir tahun lalu, Flisch tengah merayakan Natal di Pulau Weh, Sabang, bersama seorang rekannya yang juga berasal dari Swiss. Nalurinya sebagai pekerja kemanusiaan membuat dia langsung kembali ke Banda Aceh.

Flisch diliputi kengerian yang luar biasa ketika melihat mayat-mayat bergelimpangan di sepanjang jalan dari pantai menuju ke kantor gubernur. Malam itu juga dia langsung bekerja.

”Untuk beberapa waktu lamanya kami harus bekerja hingga dini hari. Dua minggu setelah tsunami, baru bantuan relawan ICRC sebanyak 60 orang datang. Sebelumnya hanya kami berdua saja,” ujar Flisch yang merasa beruntung menjadi satu dari sedikit orang asing yang bisa leluasa mengunjungi Aceh.

Pekerjaan mendatangi berbagai penjara dan tahanan di Indonesia pun, bukanlah pekerjaan mudah. ”Pekerjaan ini sangat sensitif, jadi dibutuhkan orang yang paham betul bahasa Indonesia,” katanya. Apalagi jika menyangkut narapidana dengan tuduhan separatis atau teroris.

”Padahal seperti layaknya manusia, mereka juga berhak untuk tetap berhubungan dengan keluarganya. Namun, kelompok ini merupakan yang paling rentan karena berarti dia ditahan di daerah musuh,” ujar Flisch.

Memfasilitasi tahanan atau narapidana untuk kembali berhubungan dengan keluarganya tidak hanya dilakukan dengan mempertemukan mereka. Bisa saja ICRC menyediakan telepon satelit agar mereka bisa saling berkomunikasi atau dengan menyediakan jasa layanan surat-menyurat, terutama di daerah yang tengah dilanda perang.

”Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan mereka yang terpisah jauh dari orang-orang yang disayanginya. Bagi yang tidak terlibat mungkin susah membayangkan. Saya yang berpisah enam bulan saja dari keluarga di Eropa sudah diliputi perasaan kangen, apalagi mereka yang terpisah bertahun-tahun,” tuturnya.

Aceh menjadi tempat di mana ratusan, bahkan mungkin ribuan orang, terpisah dari keluarganya karena konflik bersenjata dan bencana tsunami. Konflik bersenjata membuat rakyat Aceh yang tergabung dalam GAM yang ditangkap dan ditahan di luar Aceh harus terpisah dari keluarganya. Tsunami juga telah menceraiberaikan rakyat Aceh lainnya.

Di Aceh, Flisch seperti menemukan jiwanya. Flisch tidak ingin rakyat Aceh harus kehilangan segala-galanya, termasuk terputusnya hubungan keluarga. Tatkala berhasil mempertemukan Zulkifli Nasir, narapidana asal Aceh, dengan istri dan anaknya yang terpisah hampir lima tahun, Rabu (27/7/2005), mata Flisch berkaca-kaca. Berkali-kali Flisch meminta wartawan menunda wawancara agar Zulkifli dan keluarganya bisa bercengkerama lebih lama.

Zulkifli bukan anggota GAM. Dia hanya rakyat Aceh biasa yang tidak berani pulang ke kampung halamannya karena konflik bersenjata, tetapi harus mendekam di penjara karena perkara pidana. Sementara anak dan istri Zulkifli di Aceh mengalami langsung dampak tsunami.

”Bantuan kemanusiaan bagi rakyat Aceh bukan hanya membangun sarana fisik, tetapi juga memulihkan hubungan keluarga, karena ini menyangkut sisi emosi mereka,” tutur Flisch.

Dengan telaten, Flisch mendatangi penjara di mana terdapat warga Aceh. Dia mendata, apakah ada sanak saudara mereka yang hilang. Ribuan narapidana asal Aceh di berbagai tempat di Indonesia kemudian mengisi formulir pencarian.

Usahanya cukup berhasil. Flisch bersama relawan ICRC sedikitnya telah ”mempertemukan” 3.700 warga Aceh yang hilang akibat bencana tsunami dengan keluarganya. Termasuk 42 anak yang hilang kembali dipertemukan dengan orangtuanya.

Sumber : Kompas, Kamis, 4 Agustus 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks