Jun 18, 2009

Erni Tamme : Pengabdian Guru Erni Tamme

Pengabdian Guru Erni Tamme
Oleh : Reinhard Nainggolan

Karena ketakutan, tiga dari lima guru Sekolah Dasar Negeri 13 Poso mengundurkan diri menyusul pembacokan dan penembakan siswi-siswi sekolah menengah atas di Poso pada akhir 2005. Seorang guru lainnya hanya mengajar dua kali seminggu, itu pun sering tidak masuk. Jadilah Erni Tamme (43) seorang diri mengajar murid kelas I hingga kelas VI.

Kepala SDN 13 Poso itu juga harus rela mengemban semua tugas di luar proses belajar-mengajar di dalam kelas, mulai dari membuka dan menutup pintu sekolah, memukul lonceng tanda pelajaran dimulai, sampai memimpin upacara bendera.

Setiap hari, pukul 06.15 Wita, Erni berangkat dari rumahnya di Kelurahan Kawua menuju SDN 13 yang terletak di Kelurahan Bukit Bambu, Poso. Dengan menggunakan jasa ojek, ia selalu melewati jalan setapak tempat tiga siswi SMA Kristen Poso dipenggal sekelompok pria tak dikenal, Oktober 2005.

Peristiwa sadis yang kemudian disusul dengan penembakan dua siswi SMEA Poso itulah yang membuat empat guru SDN 13 Poso ketakutan dan tidak lagi berani ke sekolah. "Sebenarnya, saya juga ketakutan. Tetapi, kasihan anak-anak kalau sampai tidak belajar," tutur Erni.

Sejak itu, pekerjaan Erni berlipat ganda. Tiba di sekolah, Erni membuka pintu kelas dan mulai menyiapkan buku-buku pelajaran yang akan dipakai pada hari itu. Setelah murid-murid datang, Erni meminta mereka membersihkan ruang kelas masing-masing dan halaman sekolah.

Pukul 07.00 Erni memukul lonceng sekolah. Murid-murid pun berkumpul di halaman sekolah dan Erni mengatur mereka berbaris. Setiap Senin, Erni memimpin upacara bendera. Di hari lainnya, Selasa hingga Sabtu, Erni hanya memberikan pengarahan singkat.

Sampai tahap itu, Erni mengaku masih bisa mengatasinya. Namun, ketika semua murid dari kelas I-VI telah duduk di bangku masing-masing dan pelajaran harus segera dimulai, Erni mulai kebingungan harus mengajar dari kelas mana dulu.

"Biasanya saya mengajar di kelas I dan II dulu. Setelah saya terangkan isi pelajaran hari ini sebentar, mereka saya suruh membaca buku. Hal seperti itu juga yang saya lakukan di kelas III-VI. Setelah selesai menerangkan pelajaran di kelas VI, saya kembali ke kelas I," tutur Erni.

Menginap

Erni menyadari proses belajar-mengajar seperti itu tidak memberikan banyak tambahan pengetahuan kepada anak didiknya. Karena itu, seusai sekolah Erni masih menyediakan waktu untuk ditanyai murid-muridnya. Bahkan, Erni kerap kali harus menginap di salah satu rumah murid yang terletak di sekitar sekolah untuk memberikan pelajaran ekstra. Semua itu diberikan Erni tanpa mendapat imbalan apa pun.

"Saya sudah bersyukur kalau ada orangtua murid yang tinggal di sekitar sekolah mau menyediakan rumahnya untuk tempat saya istirahat siang maupun menginap. Kalau saya menginap, sore sampai malam hari anak-anak akan berkumpul untuk menanyakan pelajaran," kata Erni.

Menyadari waktu belajar di sekolah dan "les privat" yang diberikan belum juga memadai, Erni selalu memberikan pekerjaan rumah. Karena harus mengoreksi pekerjaan rumah itu, waktu Erni untuk mengurus anak-anaknya sendiri semakin terbatas. Syukur, tiga anaknya— Alfres (16), Suryani (13), dan Erens (9)—dapat memahami tanggung jawab dan kecintaan Erni pada profesinya. Begitu pula dengan Albar Ruminggo, suami Erni yang bekerja sebagai petani cokelat, ikut mendukung Erni memberikan pelajaran ekstra.

Di sela-sela kesibukannya mengajar dan mengurus rumah tangganya, Erni masih menyempatkan diri melanjutkan kuliah di jenjang Strata Satu (S-1) Fakultas Keguruan Universitas Terbuka Tadulako, Palu. Tamatan Diploma II Fakultas Keguruan ini merasa masih harus banyak menimba ilmu untuk dapat menjadi guru yang baik.

"Pelajaran SD itu tidak sulit. Yang sulit bagaimana membuat murid-murid dapat mengerti dan memahami pelajaran. Dari bangku kuliah, saya mendapat banyak masukan bagaimana mengajar yang baik, di antaranya harus memahami psikologi anak-anak," papar Erni.

Memahami psikologi anak-anak sekolah di Poso itulah, lanjut Erni, yang menjadi tantangan terberat bagi para guru di Poso. Konflik horizontal di Poso pada tahun 1998 dan 2000 telah menimbulkan trauma tersendiri bagi anak-anak sekolah. Selain hidup menderita di pengungsian, mayoritas dari mereka juga tidak dapat melanjutkan sekolah.

Tidak heran jika ada murid kelas III dan IV di SDN 13 Poso masih terbata-bata untuk membaca bacaan sederhana sekalipun. "Untuk mengajar murid-murid yang masih tertekan oleh masa lalu itu dibutuhkan kesabaran dan kasih sayang. Kita harus memperlakukan mereka seperti anak sendiri, tidak hanya sekadar murid," ucap Erni.

Harus mengajar murid kelas I sampai VI, memberikan pelajaran ekstra, mengurus rumah tangga, dan melanjutkan kuliah di jenjang S-1, ternyata tidak menjadi beban bagi Erni. Selain menyukai anak-anak, menjadi guru adalah cita-citanya sejak kecil. "Saya bahagia dengan pekerjaan ini. Hanya saja, saya suka sedih melihat minimnya fasilitas yang dapat digunakan anak-anak untuk belajar," katanya.

Apa yang harus kita berikan pada ketegaran, kecintaan, dan pengorbanan Erni itu selain penghormatan setinggi-tingginya kepadanya?

Sumber : Kompas, Kamis, 18 Mei 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks