Jun 18, 2009

Azhari, Menyumpal Mulut Senapan dengan Puisi

Azhari, Menyumpal Mulut Senapan dengan Puisi
Oleh : Ahmad Arif

Ia tumbuh di Aceh ketika peluru lebih berkuasa dibandingkan kata-kata. Mulut-mulut dibungkam, atau memilih diam, karena salah ucap berarti mati. Kala itu rektor, ulama, guru, petani, anak-anak, dan perempuan bisa dibunuh atas dasar praduga bersekutu dengan lawan.

Namun, ketika teman-temannya, anak-anak muda yang terluka dan memendam dendam, menenteng senjata penuh mesiu, Azhari (24) memegang erat pena, menuliskan kata demi kata. "Aku ingin menyumpal mulut senapan dengan puisi," ungkapnya.

Azhari lahir di Lamjamee, pinggiran Kota Banda Aceh, 5 Oktober 1981, dari keluarga sederhana. Bapaknya, almarhum M Ayub Ibrahim (44), adalah tukang kayu, dan ibunya, almarhumah Halimah (40), ibu rumah tangga biasa. Anak pertama dari dua saudara ini kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Syiah Kuala, sejak tahun 2000, dan belum selesai hingga kini.

Puisi dan cerpennya bertebaran di sejumlah koran nasional, dan beberapa di koran lokal. Juli 2004, cerpen-cerpennya terbit berupa buku berjudul Perempuan Pala (AKY, 2004), yang kemudian memenangi Free World Award dari Poets of All Nations (PAN) Belanda tahun 2005.

Dalam Perempuan Pala, Azhari menorehkan nyeri Aceh akibat perang. "Jika sastra menjadi risalah politik, pasti akan memihak kepada satu pihak. Saya menghindari ini. Sastra harus bebas dari propaganda politik praktis. Saya memilih menulis dari kacamata korban yang diimpit dua kekuatan yang bertikai untuk mengabarkan kepedihan akibat perang agar tercipta damai, demokrasi, dan pluralisme," kata dia.

Berpindah-pindah

Perjalanan kepenulisan Azhari banyak diwarnai oleh interaksinya bersama anak-anak muda sebaya dari sejumlah kampus di Aceh yang pada tahun 2002 mendirikan Komunitas Tikar Pandan. Di komunitas ini anak-anak muda berdiskusi mengenai masalah-masalah budaya dan filsafat.

Dorongan bergelut di dunia sastra agaknya memang lebih besar dalam diri Azhari dibandingkan berkecimpung dalam dunia politik. Pada saat SMU, Azhari sudah mulai aktif menulis, seiring interaksinya dengan sejumlah seniman Aceh di Dewan Kesenian Aceh (DKA). Cerpen pertamanya, Karnaval, dimuat di koran lokal saat Azhari masih duduk di kelas I SMU, tahun 1988.

Setahun kemudian, cerpennya berjudul Kenduri memenangi sayembara cerpen untuk umum yang diselenggarakan oleh DKA. Tahun-tahun berikutnya, cerpen dan puisi Azhari kian banyak ditemukan di koran-koran nasional.

Pagi tanggal 26 Desember 2004 ketika gelombang raya tsunami menerjang kampungnya, Azhari tengah berada di Perawang, Riau, sepulang dari undangan membaca puisi di Penang, Malaysia. Mengetahui adanya bencana besar di Aceh, Azhari bergegas pulang. Tiga hari kemudian dia tiba di Banda Aceh, tetapi hanya menemukan cangkul bapak dan selembar kain ibu di antara puing rumahnya yang telah hancur.

Bapak dan ibunya, serta adik satu-satunya, Wardiati (22), lenyap ditelan bumi. Bahkan, hingga kini, Azhari tak bisa menemukan jejak mereka.

Penuh amarah dan kepedihan, Azhari meninggalkan Aceh, dan berpindah-pindah dari Jakarta, Bali, Bandung, dan Yogyakarta. The Paradox Literary Centre kemudian mengevakuasi Azhari ke Yogyakarta, dan menawarkan akomodasi selama setahun agar Azhari bisa memulihkan kembali kediriannya dengan berkumpul bersama komunitas penulis di Yogyakarta.

Namun, baru enam bulan di Yogyakarta, Azhari tak betah. Kerinduan kepada Aceh membuatnya kembali pulang. "Saya ingin melakukan sesuatu di Aceh, di tanah kelahiran saya," tutur Azhari, yang berjanji tak akan membangun rumah hingga semua pengungsi di Aceh mendapat rumah.

Dia pun kembali berhimpun dengan teman-temannya, seperti Fozan Santa dan Reza Idria, di Komunitas Tikar Pandan. Sekolah menulis dibangun kembali dengan sistem pengajaran yang lebih sistematis. Sekolah menulis itu kemudian beralih nama menjadi Do Karim, diambil dari nama penyair Aceh semasa perang Aceh melawan kolonial Belanda.

Bangkit

Ditemui suatu sore di rumah kontrakan sekaligus kantornya di Ulee Kareng, Kota Banda Aceh, yang kemudian disusul dengan perbincangan di kedai kopi, Azhari sudah kembali menemukan dirinya. Trauma terhadap tsunami yang menjadikannya sebatang kara mulai menguap. Semangat anak muda itu muncul.

Amuk tsunami yang juga telah menghilangkan bahan- bahan tulisan dan penelitian untuk novel baru yang tengah disusunnya, Pemberontakan Tujuh, mulai dilupakan Azhari. "Seharusnya novel saya Pemberontakan Tujuh terbit tahun lalu, tetapi Pemberontakan Tujuh sudah jadi bagian masa lalu yang hilang. Sekarang saya ingin menulis sesuatu yang baru," katanya.

Di tengah kesibukannya mengajar di sekolah menulis Do Karim, Azhari melakukan penelitian dan menulis Lamkreh, sebuah novel tentang bajak laut. "Orang-orang Aceh harus menulis kisah-kisah tentang diri mereka sendiri. Karena selama ini, kisah-kisah besar tentang Aceh ditulis oleh orang-orang luar Aceh," ujar Azhari mengungkapkan tekadnya.

Sumber : Kompas, Rabu, 17 Mei 2006

0 comments:

 
Powered By Blogger
Powered By Blogger
Powered By Blogger

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks