Jun 19, 2009

Ellen Johnson Sirleaf : Sirleaf Mengobati Luka Liberia

Sirleaf Mengobati Luka Liberia
Oleh : Luki Aulia

Tanggal 23 November 2005 menjadi hari bersejarah bagi rakyat Liberia. Ellen Johnson Sirleaf (67) dinyatakan menang pemilu dan menjadi presiden perempuan pertama di Liberia bahkan di Afrika. Sirleaf berhasil melawan arus dominasi laki-laki di dunia politik Afrika dan membuka peluang perempuan Afrika untuk terjun ke dunia politik.

Kesuksesan Sirleaf ini tidak dengan mudah diperoleh. Selama ini Sirleaf dikenal sebagai ”Iron Lady” karena berkeinginan kuat dan gigih memperjuangkan apa yang diyakini benar. Karena sikap kerasnya ini Sirleaf pernah dua kali dijebloskan ke penjara selama 10 tahun oleh rezim militer Samuel Doe dan mendiang Presiden Charles Taylor. Keduanya dikenal sebagai diktator yang memimpin Liberia dengan brutal.

Dalam kepemimpinan mereka, selama 25 tahun Liberia tercabik-cabik akibat perang saudara yang berakhir tahun 2003. Jumlah korban akibat perang saudara itu mencapai 250.000 orang. Tidak tahan dengan rezim Doe dan Taylor, Sirleaf memilih menjadi oposisi. Padahal, awalnya Sirleaf mendukung Taylor yang memimpin pemberontakan untuk menggulingkan Doe. Tahun 1980-an untuk pertama kalinya Sirleaf dipenjara oleh Doe gara-gara kerap mengkritik tajam rezim Doe.

Segera setelah Doe terjungkal dan dibunuh, Taylor diangkat menjadi presiden. Ternyata gaya pemerintahan Taylor tidak jauh berbeda dengan Doe. Sirleaf berbalik menyerang Taylor. Akibatnya, Sirleaf kembali masuk penjara karena dianggap berkhianat. Setelah bebas dari penjara, mantan menteri keuangan pada masa kepemimpinan Presiden William Tolbert tahun 1970-an itu mengasingkan diri sekaligus mempersiapkan diri untuk kembali terjun ke politik di negara republik tertua di Afrika itu.

Tahun 1992 Sirleaf kembali muncul ke publik dengan menjadi ekonom untuk Bank Dunia dan Citibank di Afrika. Sirleaf kemudian mencurahkan sebagian besar waktunya mewakili Liberia di berbagai institusi keuangan regional dan internasional, termasuk di antaranya International Monetary Fund (IMF) dan African Development Bank. Selain menjadi ekonom, tahun 1997 Sirleaf kembali naik ke panggung politik dan berhadapan dengan Taylor pada pemilu Liberia, namun Sirleaf kalah.

Sirleaf kembali maju mencalonkan diri di pemilu 2005. Kali ini ia mendapat persaingan ketat dari bintang sepak bola George Weah. Namun, dengan payung Partai Persatuan, Sirleaf memenangi pemilu dengan jumlah perolehan 192.326 suara pada putaran pertama dan 478.526 suara (59,4 persen) pada putaran kedua.

Selama kampanye, Sirleaf menyatakan, jika ia menang, itu akan membangkitkan semangat perempuan di seluruh Afrika untuk terjun ke dunia politik dan meraih jabatan politik yang setinggi-tingginya. Namun, banyak pihak menilai Sirleaf akan menghadapi tantangan terberat di daerah pedesaan yang tradisi dominasi laki-lakinya masih kuat. Banyak yang menilai sulit bagi perempuan untuk menghadapi pemberontak di Liberia dan menyelesaikan konflik etnis.

Tantangan itu memang tidak akan mudah. Selain harus menyelesaikan konflik dan mengupayakan perdamaian, Sirleaf juga harus membangun kembali Liberia yang porak-poranda akibat perang. Mulai dari infrastruktur yang hancur total hingga persoalan minimnya persediaan air bersih dan listrik. Fasilitas kesehatan dan pendidikan juga masih terbatas, apalagi pendidikan untuk anak perempuan.

Mengantisipasi agar tidak lagi terjadi perang saudara, Sirleaf berjanji meninjau kembali sistem kepemilikan tanah agar tidak lagi menjadi sumber konflik antarkelompok etnis Liberia. Saat ini mayoritas tanah di Liberia diatur pemimpin lokal. ”Tantangan terbesar itu mengupayakan perdamaian dan stabilitas. Kita perlu mengubah citra Liberia dari negara yang bermasalah dan gagal menjadi negara yang memimpin Afrika,” kata Sirleaf.

BBC News menyebutkan, Sirleaf berniat menjadi presiden karena ingin memasukkan unsur keibuan dan emosi sebagai cara menyembuhkan Liberia yang hancur akibat perang saudara selama 25 tahun. ”Dulu saya dianggap orang keras, disiplin, dan berkeinginan kuat. Tetapi, sekarang saya akan menjadi ibu bagi Liberia. Saya ingin menyembuhkan luka negeri ini,” kata Sirleaf.

Perempuan lulusan Harvard University yang memiliki empat putra dan delapan cucu itu juga pernah bekerja di UN Nations Development Programme (UNDP), Yayasan Soros, dan lembaga International Crisis Group (ICG). ”Saya selalu berusaha menjadi diri sendiri. Mengisi hidup saya dengan berbagai kegiatan dan memperjuangkan apa yang saya yakini benar,” kata Sirleaf.

Lahir di Monrovia, 29 Oktober 1938, Sirleaf adalah anak warga asli koloni Liberia (mantan budak Afrika dari AS) yang dikenal sebagai Americo-Liberians. Tahun 1948-1955 Sirleaf menuntut ilmu ekonomi di College of West Africa di Monrovia. Setelah menikahi James Sirleaf pada usia 17 tahun, ia pindah ke AS (1961) untuk melanjutkan studi dan memperoleh gelar sarjana dari University of Colorado. Tahun 1969-1971 ia belajar ekonomi di Harvard University dan memperoleh gelar master bidang administrasi publik. Sirleaf memutuskan kembali ke Liberia dan bekerja dengan Tolbert. ”Liberia butuh identitas nasional untuk menyatukan kita. Selama ini kita menjadi anak tiri AS, tidak pernah menjadi Afrika yang seutuhnya,” kata Sirleaf.

Liberia terbentuk menjadi koloni setelah AS menghapuskan perbudakan tahun 1822. Konflik dimulai tahun 1980 ketika tentara Liberia pimpinan Doe menggulingkan Tolbert yang kemudian dibunuh di rumah dinasnya. Kemudian Doe memimpin. Akhir 1989, oposisi memimpin revolusi untuk menggulingkan Doe.

Kondisi yang terus-menerus tidak menentu itu semakin membuat Liberia terperosok. Namun, kini Liberia memiliki secercah harapan. Mungkin Liberia membutuhkan sentuhan perempuan untuk menyelesaikan segala konflik kekerasan. ”Saya beruntung dan bangga menjadi perempuan. Kini saatnya bagi perempuan untuk menunjukkan apa yang mereka miliki dan bisa lakukan,” kata Sirleaf.

Sumber : Kompas, RAbu, 18 Januari 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks