Jun 19, 2009

Ang Lee : Golden Globe untuk Ang Lee

Golden Globe untuk Ang Lee
Oleh : Frans Sartono

Ang Lee (54) menerima penghargaan Golden Globe 2006 sebagai sutradara terbaik lewat film Brokeback Mountain, Senin (16/1/2006) di California, Amerika Serikat. Film tersebut juga mendapat tiga penghargaan lain, yaitu sebagai film terbaik untuk kategori film drama, skenario terbaik garapan Larry McMurtry, serta lagu asli terbaik untuk lagu A Love That Will Never Grow Old.

Brokeback Mountain yang diangkat dari cerita pendek karya Annie Proulx mengisahkan persahabatan intim antara dua koboi di Wyoming, AS, di awal era 1960-an. Film ini dibintangi Heath Ledger dan Jake Gyllenhaal.

Lee, sutradara kelahiran Pingtung, Taiwan, 23 Oktober 1954, menyisihkan sutradara ”Hollywood” lain yang masuk unggulan Golden Globe, yaitu Woody Allen dengan filmnya Match Point, George Clooney (Good Night, and Good Luck), Peter Jackson (King Kong), Steven Spielberg (Munich), serta Peter Meirelles (The Constant Gardener).

Dalam kata sambutan singkat saat menerima penghargaan Golden Globe, Lee menyampaikan rasa hormatnya kepada para sutradara unggulan.

”Rasa terima kasih pertama saya tujukan kepada rekan-rekan sutradara yang telah menguatkan keyakinan saya pada kekuatan film dalam mengubah cara kita berpikir,” kata Ang Lee yang disebut-sebut sebagai salah satu sineas penting saat ini.

Wajah Asia

Ang Lee menjadi bagian dari sineas asal Asia yang belakangan memberi warna pada wajah perfilman dunia. Barisan sineas Asia—Barat menyebutnya sebagai Timur Jauh—itu antara lain John Woo, Zhang Yimou, dan Chen Kaige.

Lee memberi warna tersendiri lewat sepuluh film arahannya, seperti Hulk produksi tahun 2003. Kemudian The Hire: Chosen (2002), Crouching Tiger Hidden Dragon (2000), Ride with the Devil (1999), The Ice Storm (1997), Sense and Sensibility (1995), Eat Drink Man Woman (1994), The Wedding Banquet (1993), Pushing Hands (1992), serta Brokeback Muntain.

Kritisi film menilai karya Ang Lee sebagai cerminan seniman yang hidup dalam pergulatan kultur lintas budaya dan globalisme. Lee, anak seorang guru, tumbuh dewasa dengan tradisi China di Taiwan. Ia kemudian belajar penyutradaraan teater di Universitas Illinois, Amerika Serikat, tahun 1978. Kemudian ia memperdalam soal produksi film di Universitas New York. Di New York, ia sempat menjadi asisten sutradara untuk Spike Lee.

Ang Lee, bapak dua anak itu, sempat kecewa karena saat itu Amerika tidak tertarik pada film berbasis kultur Asia, khususnya Timur Jauh, termasuk China. Ia nyaris putus asa sampai sempat memutuskan untuk pulang ke Taiwan. Niat itu urung karena ia mendapat kesempatan menyutradarai film Pushing Hands pada tahun 1992 yang ternyata diterima publik di Festival Film Internasional di Berlin. Film tersebut mendapat penghargaan pada Festival Film Asia-Pasifik.

Belakangan, kelintasbudayaan Ang Lee menemukan bentuknya dalam film garapannya. Film dengan lanskap Asia—seperti The Wedding Banquet yang masuk unggulan Oscar dan Golden Globe atau juga Crouching Tiger Hidden Dragon yang mendapat empat Oscar—termasuk film non-Amerika terbaik.

Di sisi lain, Ang Lee dengan terampil dan cerdas menggarap film dengan lanskap kultural Barat yang bisa dinikmati baik oleh penonton Timur maupun Barat. Tersebutlah antara lain Sense and Sensibility, film Hollywood mainstream pertamanya. Film tersebut masuk unggulan Oscar.

Film-film ”Barat” Ang Lee lahir dari pemahaman obyektifnya akan kultur Barat. ”Kami (orang Asia) tahu Barat dari film sebagai dunia yang diromantisasikan sebagai jagatnya para jago tembak. Akan tetapi, Barat yang sesungguhnya saya kira tak banyak diketahui orang (non-Barat),” kata Ang Lee seperti dikutip situs web Emanuel Levy.

”Orang seperti saya yang datang dari Taiwan melihat Amerika seakan hanya New York atau Pantai Barat (West Coast). Tapi, bukankah ada juga bagian kehidupan pinggiran udik yang tak banyak kita ketahui. Saya kira orang perlu memahami sisi Amerika yang lain. Seperti halnya setiap orang, mereka juga punya hati,” kata Ang Lee tentang usahanya memahami sisi lain dari sebuah kultur.

Di sisi lain, lewat film-filmnya, Ang Lee mengharapkan orang juga mau memahami kultur lain, termasuk Asia. Ang Lee dengan cerdik mengakomodasikan kepentingan penonton di dua belahan kultural tersebut. Dia mengaku mencoba merengkuh seluruh audience tanpa merendahkan harga diri sebagai sineas.

”Di Asia, saya harus membuat film jenis film larisnya Jackie Chan. Tapi, setelah itu saya harus membawa film ke Barat dan merilisnya sebagai film yang lazim ditonton sebagai film art. Saya mencoba memuaskan setiap orang,” katanya sambil tertawa.

Ia siap dengan risiko sikap berkeseniannya itu.

”Saya ingin membuat film yang lebih besar dan lebih baik. Kadang saya akan sukses, tapi kadang saya akan gagal. Bagi saya, seluruh karier saya itu seperti sebuah sekolah film.”

Kali ini Ang Lee sukses dengan Brokeback Mountain-nya.

Sumber : Kompas, Kamis, 19 Januari 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks