Jun 19, 2009

Eden Arifin : Pelukis Arifin Menemukan SMB II

Pelukis Arifin Menemukan SMB II
Oleh : Djoko Poernomo

Melukis wajah seseorang hanya berdasarkan data minim bukan merupakan pekerjaan gampang. Namun, hal itu mampu dilakoni Eden bin Nur Arifin (61) alias Eden Arifin, pelukis senior asal Palembang, Sumatera Selatan.

Eden dalam waktu 22 hari bisa menciptakan wajah penguasa Kesultanan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II—memerintah tahun 1774-1803—ke atas kanvas secara pas. Lukisan wajah SMB II karya Eden itulah yang kini diakui banyak pihak.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, sebagai pemesan lukisan, cuma menyertakan data SMB II menyangkut usia, bijaksana, tampan, dan gagah berani.

”Enam hari pertama saya habiskan untuk membuat sketsa di atas kertas,” tutur Eden, bapak enam anak dan kakek enam cucu itu. Di sela-sela pencarian wajah SMB II itu ia sempat membaca buku sejarah tentang sepak terjang SMB II melawan Inggris dan Belanda pada abad ke-17. Hingga hari ketujuh pun apa yang ia cari belum juga ketemu.

Pada hari ke-12 Eden mencoba membuat sketsa lagi berdasarkan keterangan kerabat dekat SMB II. ”Sejak itu tangan saya merasa ringan saat menggoreskan kuas. Seolah ada yang membimbing perasaan dan pikiran untuk segera menyelesaikan lukisan yang hanya tersisa 10 hari...,” katanya.

Permukaan kanvas tertutup cat pada hari ke-13. Namun, sosok SMB II baru muncul pada hari ke-17 dengan rambut gondrong sebatas bahu. Sehari kemudian Eden melengkapi dengan pernik-pernik, semisal tanjak kepudang (tutup kepala), baju jubah kelamkari, keris kepala burung dari gading, badong, serta baju tekep dado (baju dalam) yang berhiaskan dua kalimat syahadat dalam huruf Arab.

Setelah pekerjaan ini dirasakan cukup, Eden melangkah ke pekerjaan berikut, yakni melengkapi latar gambar yang terinspirasi dari peperangan loji (kantor dagang) di Sungai Aur, Palembang, ketika SMB II berperang melawan Belanda, 1811.

Akan tetapi, kata Eden lirih, sosok SMB II yang berambut gondrong memperoleh banyak kritik dari seniman setempat yang sengaja ia undang untuk memberikan penilaian akhir sebelum gambar itu diserahkan kepada pihak pemesan.

Rambut gondrong memberi kesan SMB II garang dan kejam, padahal tidak demikian. Dalam waktu singkat Eden mengubah rambut gondrong SMB II menjadi pendek, seperti terlihat dalam gambar sekarang ini.

SMB II sendiri naik takhta menggantikan ayahnya, Sultan Muhammad Bahauddin. Ketika naik takhta, ia sudah siap memerintah Kesultanan Palembang Darussalam dengan segala permasalahan menghadapi Inggris dan Belanda.

Bambang Budi Utomo dari Puslitbang Arkeologi Nasional mencatat, SMB II wafat dalam pengasingan di Ternate pada akhir September 1852 (Kompas 21/11).

Ekspresi

Ada empat pelukis lain yang diminta menggambar SMB II. Namun, berdasarkan pemenuhan semua persyaratan, semisal ekspresi, ciri khas muka, watak dan mental, kemudian usia, serta aksesori yang dikenakan SMB II, karya Eden dinyatakan sebagai peraih nilai tertinggi. Atas karyanya ini Eden memperoleh penghargaan uang yang besarnya sangat relatif.

”Yang memotivasi bukan uang, tetapi pengakuan dari masyarakat luas bahwa gambar SMB II lahir dari tangan saya,” tutur Eden yang sebulan terakhir banyak berada di Jakarta.

Lukisan karya Eden pun berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sumatera Selatan 5 November 1982 ditetapkan sebagai gambar resmi SMB II. Dua tahun berikutnya, tepatnya 29 Oktober 1984, SMB II diputuskan menjadi pahlawan nasional. Sejak itulah Eden Arifin, pelukis yang mewarisi bakat seni dari almarhum ayahnya, Nur Arifin, dikenal sebagai pencipta gambar pahlawan nasional SMB II.

Wajah SMB II yang dibuat Eden kini dipasang di Kantor Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, sementara gambar duplikasi dipajang di gedung-gedung di provinsi yang sama, termasuk di bandar udara internasional di Palembang. ”Di dunia cuma ada satu lukisan SMB II,” kata Eden menegaskan.

Band

Eden Arifin remaja menyukai berbagai bentuk kesenian. Bidang fotografi pernah dia geluti, demikian pula bermusik di bawah bendera The Little Poor Brothers Band di Kota Palembang.

Pada tahun 1966 Eden yang menikahi gadis asli Palembang, Murniati, mulai menekuni seni lukis, diawali kumpul bersama para seniman di sebuah sanggar di kawasan Pasar Tengkuruk 16 Ilir, Palembang. Beberapa sanggar pernah ia masuki sampai akhirnya mendirikan sanggar sendiri di kawasan Kebon Gede, Palembang, yang diberi nama Violet pada tahun 1973. Gaya lukisan Eden Arifin adalah realis.

Dia antara lain pernah menjadi karyawan Departemen Agama, Departemen Penerangan, guru empu di SMSR Palembang, serta mengajar di beberapa sekolah swasta.

Tahun 2001 Eden memperoleh penghargaan seni dari Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan atas kreativitas, produktivitas, dan dedikasi terhadap karya seni lukis.

”Untuk profesi seperti saya tidak ada kamus pensiun,” ujar Eden mantap. Ia melukis selama 39 tahun dan ribuan lembar lukisan potret diri telah ia hasilkan. Ia pun akan terus berkarya.

Sumber : Kompas, Kamis, 12 Januari 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks