Jun 17, 2009

Doyo Mulyo Iskandar : Doyo, Kebanggaan Seorang Petani

Doyo, Kebanggaan Seorang Petani
Oleh : Yenti Aprianti

"Pak, ganti dong identitas pekerjaannya. Masak enggak malu disebut petani? Ganti jadi wiraswasta, begitu," ungkap Doyo Mulyo Iskandar (38), menirukan pernyataan salah seorang anaknya.

Doyo pernah mengalami krisis kepercayaan karena pekerjaannya sebagai petani. Apabila di kampungnya, Kampung Cibeunying, Desa Cibodas, Kabupaten Bandung, ada perayaan seperti hajatan perkawinan, Doyo segera membawa anak-anaknya ke kebun agar mereka tidak minta dibelikan jajanan yang dijual pedagang di sekitar tempat perayaan. Sebagai petani miskin, ia tidak pernah memegang uang sepeser pun.

Jika dia atau anggota keluarganya sakit, Doyo tidak bisa berobat ke dokter karena tidak ada biaya, meskipun sejak subuh hingga malam ia bekerja keras mengurus kebun.

Menjadi petani dirasakannya sebagai pekerjaan yang selalu rugi. Setiap musim tanam tiba, jangankan membangun rumah, justru luas tanahnya yang semula 7.000 meter persegi terus berkurang karena terpaksa dijual untuk modal baru. Ia sering tidak memanen sayuran yang ditanamnya dan membiarkannya busuk karena harga jual saat panen selalu jatuh drastis.

Meski demikian, Doyo tetap yakin pertanian adalah pilihan hidupnya. Sarjana dari Institut Teknologi Tekstil Bandung ini sejak kecil dididik ibunya, Eceh (80), yang bekerja sebagai petani.

Eceh membesarkan enam anaknya sendiri karena suaminya, Mahmud Iskandar, meninggal sejak Doyo berusia sekitar enam tahun. Meski demikian, ibunya mampu membesarkan dan menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. Itu sebabnya Doyo menyebut ibunya petani tangguh.

Belajar dari tetangga

Berkaca pada kehidupan ibunya, Doyo pun menguatkan diri berusaha di bidang pertanian walau keluarganya tidak mendukung. "Mereka sering bilang, buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau tetap jadi petani," ucap Doyo.

Jalan bagi kesuksesan Doyo mulai terbuka saat Isak, pemuda di desanya, disekolahkan ke Jepang untuk mempelajari teknologi budidaya pertanian hortikultura. Sepulang dari pendidikan itu kemudian banyak ilmu tentang pertanian yang dia tularkan kepada petani setempat.

Doyo pun memberanikan diri belajar pada tahun 1996. Dia bekerja di lahan pertanian milik Isak yang sukses membudidayakan berbagai jenis komoditas sayur. Sepulang bekerja di pertanian sayur milik teman sekampungnya itu Doyo baru mengurus kebunnya sendiri.

Di perusahaan pertanian Isak, Doyo belajar mengenal komoditas hortikultura baru yang diminati pasar. Ia belajar mulai dari menyangkut penanaman, pengepakan, pengiriman barang, bahkan hingga mencari pasar untuk produknya. Di perusahaan pertanian tersebut Doyo dipercaya menjadi manajer produksi.

Setelah dianggap mampu mandiri, atasannya memberi kesempatan kepada Doyo untuk mengembangkan usahanya serta membagi ilmu kepada petani lain di desanya. Kepercayaan diri Doyo makin tumbuh ketika ia mendapat pelatihan tentang standar mutu produk yang dilakukan Pemerintah Australia di desanya.

Menyuluh petani

Doyo dan petani lain bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan pasar. Sejak mengubah pola pertaniannya pada tahun 1996, Doyo berhasil memasarkan produk pertaniannya ke belasan toko swalayan di Jakarta secara berkelanjutan.

Doyo kini memiliki 17 pegawai di kebun sayurnya. Mereka bekerja dengan upah rata-rata Rp 20.000 per hari. Selepas bekerja di kebunnya mereka diperbolehkan mengurus lahan mereka sendiri. Ada juga pegawai yang ia pinjami lahan agar bisa segera mandiri.

Sebelumnya tak pernah terbayangkan oleh Doyo bahwa petani bisa memiliki cukup waktu senggang untuk istirahat, bercengkerama dengan keluarga, serta membagi ilmunya kepada petani lain.

Hampir setiap pekan Doyo pergi berkeliling dari desa ke desa, membagi ilmu serta pengetahuan soal pertanian dan pemasaran produk pertanian dengan mengunjungi langsung petani di desanya. Ia bertindak tak ubahnya seperti penyuluh pertanian.

Ia bahkan pergi ke beberapa provinsi di seluruh Indonesia. "Yang belum pernah saya datangi hanya Irian," tutur Doyo. Bagi Doyo, dari kegiatan membagi pengalaman bertani, ternyata ia banyak mendapat teman yang kemudian menjadi mitra bisnis.

Beli kasur

Setiap tahun Doyo juga menerima sekitar 200 tamu yang ingin belajar bertani.

Ayah dari Titin Sumartini (17), Siti Nurisiani (12), Muhammad Hilmi (2,5), dan kakek seorang cucu ini sekarang tidak hanya bisa memberi mereka uang jajan, tetapi juga berhasil membeli lahan melebihi yang ia miliki dulu. Selain itu, ia telah membangun rumah untuk keluarga, juga membangun rumah untuk petani, pelajar, mahasiswa, atau siapa pun sebagai tempat mereka menginap saat belajar pertanian di desanya.

"Sekarang, kalau punya uang sedikit, saya sisihkan beli kasur untuk tamu. Kalau mereka menginap dan ternyata membayar, saya bersyukur. Tetapi, tidak bayar pun tidak apa-apa," ujar Doyo. Ia selalu melibatkan istrinya, Neneng Jumartin, yang bertugas mengurus keperluan tamu di rumahnya.

Ia tidak pernah lupa menyimpan beberapa bagian dari rezeki tambahannya untuk menyubsidi pelajar atau mahasiswa yang menetap cukup lama di desanya guna belajar atau meneliti pertanian, tetapi tidak punya cukup uang.

Sekarang Doyo bangga memperkenalkan dirinya sebagai petani. Ia juga bangga menantunya, Aa Ridwan (21), memilih menjadi petani.

Sumber : Kompas, Selasa, 30 Mei 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks