Jun 24, 2009

Dismas, Memulung Kata-kata

Dismas, Memulung Kata-kata
Oleh : Agnes Suharsiningsih

Saya tidak mau disebut kritis terhadap bahasa karena saya bukan ahli bahasa. Saya hanya tertarik mengenai asal-usul kata. Untuk itulah saya kemudian mendalami apa yang disebut etimologi karena dengan memahami bahasa, kita sekaligus memahami hidup, kata Dismas memulai kisahnya hingga dirinya dikenal sebagai Pemulung Kata-kata.

Menurut laki-laki kelahiran Denpasar, 62 tahun lalu, itu, ia tertarik bahasa sejak sekolah dasar (SD). Di bangku SD itu dia punya pengalaman menarik. Bersama teman-teman satu sekolahan, suatu hari mereka diminta datang ke Lapangan Puputan, Denpasar, menyambut Presiden Soekarno.

Dalam kunjungannya, presiden pertama Republik Indonesia itu menggunakan helikopter. Saat itu ada teman saya yang bertanya apa itu, saya jawab dengan senang, karena saya tahu, helikopter. Eh, ternyata Bung Karno mendengar saya mengatakan itu, kemudian dia membenarkan lafal saya. Dari situlah saya mulai merasa tertarik untuk mengetahui kata-kata, lanjut Dismas bercerita.

Lulusan Teologi Wedhabakti Universitas Sanata Dharma (saat itu masih IKIP Sanata Dharma) Yogyakarta tersebut merasa jengah dengan penggunaan tiap kata yang dinilainya tidak pas. Kejengahan itu akhirnya dia luapkan dengan tulisan melalui rubrik bernama Pemulung Kata-kata di suatu surat kabar lokal di Bali. Dia masih terus aktif hingga kini, menuangkan segala ide dan temuannya dalam rubrik tersebut.

Nama rubrik tersebut sangat melekat pada dirinya, dan akhirnya menjadi ikon tersendiri bagi suami Rumanti dan ayah dari Kristia serta Mahardhika itu. Orang mengenalnya sebagai Bapak Pemulung Kata-kata. Yang mengenal ikon itu tidak saja orang dari kalangan atas yang notabene terpelajar, tetapi juga pemulung (dalam arti sebenarnya, pemulung sampah).

Dari pertemuannya dengan pemulung, Dismas merasa semakin menghayati arti sebutan pemulung, yang memang dipilih untuk memberi sebutan pada hobinya mengumpulkan kata demi kata dan menelaahnya secara etimologis. Seperti layaknya pemulung, Dismas memang memungut kata demi kata yang bagi orang lain mungkin tidak memiliki arti apa pun, tetapi baginya sangat berarti.

Untuk menunjang hobinya, Dismas membekali diri dengan bermacam kamus, mulai dari bahasa Indonesia, Sanskerta, Inggris, Jerman, Perancis, Belanda, Latin, Arab, bahkan Yunani.

Seperti layaknya pemulung, setiap melewati jalan-jalan di Denpasar, Dismas selalu menemukan hal yang menarik. Orang biasa melihatnya mengayuh sepeda menyusuri Denpasar dan sekitarnya, kawasan kota yang mulai padat di Pulau Dewata. Setiap menjumpai pemandangan kata yang membuatnya berkerut dahi, pasti Dismas akan menghentikan sepeda kesayangan yang setia menemaninya sejak hampir sepuluh tahun lalu atau tepatnya tahun 1996.

Pengalaman cukup menggelikan antara lain ketika Dismas menyusuri sudut Denpasar, sekitar tujuh bulan lalu. Ketika mampir di sebuah kios majalah, dia melihat tulisan Homo floresiensis terpampang dalam sebuah majalah. Wanita pemilik kios mengatakan bahwa pasti di Flores banyak kaum gay. Betapa kagetnya Dismas mendengar itu.

Coba bayangkan ketika orang salah mengartikan penggunaan kata semacam itu. Wah, kan jadinya lucu, kata Dismas sambil tergelak.

Kemudian Dismas menjelaskan kepada ibu itu bahwa ada perbedaan arti kata homo dari bahasa Latin yang berarti manusia, dengan homo sebagai awalan dalam bahasa Yunani yang artinya sejenis. Dengan demikian, Homo floresiensis maksudnya manusia dari Flores.

Dia memang bisa menjumpai tiap kata yang membuatnya penasaran itu tidak hanya di rumah saat membaca koran atau majalah. Bisa juga saat asyik membaca buku di perpustakaan atau saat berkunjung ke suatu toko buku. Sumber lainnya bisa saja dari spanduk di pinggir jalan ataupun dari deretan kata yang terpampang di kios majalah.

Memiliki jiwa

Apa hubungan kata dan hidup? Dismas, yang sudah melanglang buana dan akhirnya kembali ke Denpasar untuk menetap, memiliki penghayatan bahwa kata merupakan kapsul yang merangkai kehidupan sehingga menjadi bermanfaat.

Saat kata demi kata dirangkai menjadi suatu kalimat dalam tatanan bahasa, dia akan memiliki jiwa yang mampu membantu mengomunikasikan maksud satu orang kepada orang yang lain. Inilah kekuatan kata, karena itu memang tepatlah jika kata dimengerti dan digunakan secara tepat agar tidak hilang jiwanya.

Dismas, yang menghidupi dirinya dengan menjadi guru musik di Denpasar, tidak pernah menolak siapa pun yang meminta bantuannya memahami kata demi kata. Bahkan, meminjamkan bukunya dan tidak dikembalikan karena orangnya pindah tempat tinggal juga menjadi pengalaman yang berkali-kali terjadi padanya.

Sumber : Kompas, Jumat, 23 September 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks