Jun 24, 2009

Acep Zamzam Noor : Acep, Mendekatkan Sastra pada Rakyat

Acep, Mendekatkan Sastra pada Rakyat
Oleh : Yenti Aprianti

Sastra bukan hanya milik kaum intelektual. Di Tasikmalaya, penarik becak, pedagang kaki lima, penjual mi rebus, perempuan-perempuan janda, serta kepala desa bersama-sama mempelajari sastra. Bahkan mereka sudah mampu membuat puisi-puisi yang berkualitas dan layak dimuat dalam koran nasional.

Mereka adalah orang-orang yang bergabung dalam Sanggar Sastra Tasik (SST) dan Azan yang didirikan oleh penyair Acep Zamzam Noor (45). Entah karena keberhasilannya mendekatkan sastra pada masyarakat sekaligus kualitas puisi-puisi yang dihasilkannya atau alasan lain, Acep mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Thailand dalam South East Asian (SEA) World Award 2005 yang rangkaian acaranya berlangsung 7-13 Oktober 2005.

Selain penghargaan tadi, Acep sudah mendapatkan berbagai penghargaan lain karena prestasi kepenyairannya. Tahun 1995 ia mengikuti Second ASEAN Writers di Filipina. Tahun 2000 beberapa puisinya mendapat penghargaan dari Pusat Bahasa, tahun 2001 mengikuti SEA Writers di Malaysia, dan tahun 2004 mengikuti Festival Puisi Winternachten di Belanda. Puisi-puisinya pun sudah banyak yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Perancis.

Memilih puisi

Acep mulai mengenal puisi sejak di bangku sekolah menengah pertama (SMP) sekitar awal tahun 1970-an. Ia mengenal sastra dari buku-buku koleksi ayahnya, KH Mohammmad Ilyas Ruhiyat, pemimpin Pesantren Cipasung, Tasikmalaya.

Saya pilih puisi karena sesuai dengan kepribadian saya yang penyendiri, ujar Acep yang mengaku pemberontak di masa mudanya.

Salah satu pemberontakannya, ia tidak mengikuti tradisi keluarga yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi untuk mempelajari agama, tetapi memilih seni lukis di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (ITB).

Tahun 1991-1993, Acep mendapat beasiswa dari Pemerintah Italia untuk mempelajari seni lukis di Universita Italiana per Stranieri, Perugia, Italia, dan di Belanda. Di dua negara itu Acep menjadi lebih produktif menulis puisi.

Namun, sepulang dari Italia, pulang ke kampung halamannya di Tasikmalaya, ia mulai jarang menulis puisi. Bahkan ia mengalami masa vakum sekitar dua tahun. Maka ketika gairah berpuisinya muncul lagi, tahun 1996, Acep menciptakan puisi berjudul Menjadi Penyair Lagi.

"penyair tidak sedih karena ditinggalkan. Juga tidak sakit karena akhirnya selalu dikalahkan. Penyair tidak menangis karena dikhianati, juga tidak pingsan saat mulutnya dibungkam. Penyair akan mati apabila kehilangan tenaga kata-kata...," ujarnya membacakan beberapa lirik dari puisinya di hadapan puluhan penonton Pembacaan Puisi, Tiga Penyair Dua Kota yang diselenggarakan Grasindo di Pusat Kebudayaan Perancis, Bandung, Sabtu (10/9) malam.

Penyair itu pekerjaan absurd. Berpuisi bukan mengharapkan uang. Sebab, untuk menciptakan puisi, biayanya mahal. Buat beli rokok berbungkus-bungkus dan kopi. Kalau bikinnya di kafe mungkin butuh wine, sementara honor puisi yang dimuat di koran tidak seberapa, katanya.

Memilih kampung

Acep mengaku, sepulang dari Italia ia memang tidak memilih tinggal di Jakarta atau Bandung, melainkan di kampung halamannya di Tasikmalaya. Salah satu pertimbangan, di kampung ia tidak perlu memikirkan beras dan masih ada sawah yang bisa menghidupi ia dan keluarganya. Di situ ia tinggal bersama istrinya yang membantu keperluan keluarga dengan membuka warung, Euis Nurhayati (35), serta anak-anak, yakni Rebana Adawiyah (14), Imana Tahira (9), Diwan Masnawi (5), dan Abraham Kindi (2).

Tahun 1994 Acep mendirikan SST. Awalnya ia hanya diminta mengisi acara diskusi sastra berdurasi dua jam di sebuah radio lokal. Banyak pendengar yang tertarik sastra dan akhirnya ia membangun komunitas sastra itu. Penarik becak, pedagang mi rebus, dan masyarakat awam sastra menjadi temannya berdiskusi.

Banyak yang menghasilkan puisi berkualitas, bahkan sudah dimuat di berbagai koran nasional, kata Acep. Puisi mereka juga sudah dibukukan pada tahun 1997.

Tidak hanya itu, Acep membangun komunitas Azan atau panggilan yang bisa juga diartikan dari akronim namanya Acep Zamzam Noor. Komunitas ini ada di kampungnya di Cipasung, 17 kilometer dari Kota Tasikmalaya. Lewat Azan, Acep mencoba mendekatkan sastra pada masyarakat awam. Sebulan sekali ia menggelar teater, pembacaan puisi, musik, dan lainnya di halaman rumahnya di kompleks pesantren.

Saya tidak menyangka, ternyata apresiasi masyarakat sangat tinggi. Tidak hanya karena yang menonton banyak, tapi juga karena mereka mau bertahan mengikuti acara hingga pukul 01.00 dini hari. Padahal sejak pukul 23.00, acaranya bukan hiburan, tapi diskusi sastra, ujar Acep.

Sumber : Kompas, Kamis, 22 September 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks