Jun 20, 2009

Bob James : Jazz Jawa ala Bob James

Jazz Jawa ala Bob James
Oleh : Frans Sartono

Jazz bukan milik Amerika. Its an international thing sesuatu yang mendunia, kata pemusik jazz Bob James (65) saat tampil dalam Bob James Tour and Concerts di Hotel Shangrila, Jakarta, Minggu (11/12/2005) malam. Maka Bob James pun memainkan jazz rasa Jawa bersama Idang Rasjidi.

Dalam konser yang digelar Omega Pacific Production dan Surya Cipta Media itu Bob James tampil dengan grupnya, yang berawakan Nathan East pada bas, Jack Lee gitaris berdarah Korea, serta Lewis Pragasam pemain drum berdarah India asal Kuala Lumpur, Malaysia. Mereka memainkan komposisi yang pernah dipopulerkan Bob seperti Angela, lagu tema serial televisi Taxi, Restless, sampai Restoration sebagai nomor pembuka.

Menguatkan kemenduniaan jazz, Bob James menutup pergelaran dengan berduet bersama Idang Rasjidi. Bob duduk di belakang grand piano, sedangkan Idang memainkan keyboard. Mereka memainkan komposisi spontan dengan cengkok melodi Jawa yang lazim terdengar pada tembang Jawa. Komposisi itu mendapat sambutan paling riuh.

Komposisi jazz Jawa itu merupakan hasil kolaborasi Bob dan Idang. Mereka sebelumnya sempat bertemu di studio milik Sugeng Sarjadi di Grand Wijaya, Jakarta Selatan. Mereka semula berbincang soal kehidupan di Indonesia yang sedikit banyak dikenal Bob James yang telah beberapa kali datang ke Indonesia. Ketika pembicaraan masuk ke kehidupan musik di Indonesia, Idang memberi contoh musik yang menurut Idang dibayangi oleh pola melodi yang lazim digunakan dalam gamelan Jawa.

Its magic, mengagumkan, komentar Bob James menyatakan keterpesonaannya atas cengkok melodi Jawa versi Idang.

Di studio, Idang memberi stimulus dengan memainkan frasa atau rangkaian melodi bercengkok Jawa. Bob merespons dengan refleks musikal seorang improviser tulen. Dialog semacam itu bersambung hingga sekitar tiga puluh menit. Hasil kolaborasi itulah yang kemudian disuguhkan pada konser dan penonton terpukau.

Ekletik

Sebagai pemusik jazz, kami biasa berada dalam situasi yang tidak kami kenal sebelumnya, kata Bob tentang model kolaborasi dengan Idang itu.

Situasi tidak saling mengenal itu, menurut Bob, justru melahirkan semangat untuk saling mendengar dan memahami. Itu menjadi sikap kesenimanan Bob. Sikap itu diejawantahkan dalam apa yang ia sebut sebagai pendekatan ekletik dalam bermusik. Maksudnya, Bob menyerap beragam unsur dari berbagai sumber.

Seniman jazz perlu peka terhadap realitas musik di sekitarnya. Saya suka musik negeri ini (Indonesia Red), gamelan. Saya mencoba menyerap musik di mana saya berada, kata Bob dalam jumpa pers di Hotel Regents, Jakarta, Sabtu (10/12/2005) sore.

Saat singgah di China, misalnya, Bob menyerap bunyi-bunyian dari instrumen tradisional China. Lahir kemudian album Angel of Shanghai. Salah satu lagu pada album tersebut dibawakan Bob James di Jakarta, yaitu Endless Time.

Sikap bermusik semacam itulah yang membuat Bob merasa bersaudara dengan siapa pun.

Kita hidup di zaman yang kacau di berbagai tempat di dunia ini. Adalah menjadi tugas kami seniman untuk menyebarkan pesan bahwa kita ingin bersama-sama melanjutkan kehidupan. Kita menghayatinya dengan musik. Kita mempertemukan dua dunia, katanya.

Dalam pemahaman semacam itu pula Bob James akan datang bersama Fourplay dalam Jakarta International Java Jazz Festival, pesta jazz yang akan digelar awal Maret 2006. Fourplay merupakan kuartet jazz yang berawakan Bob James pada keyboard, Nathan East (bas), Harvey Mason (drum), dan gitaris Larry Carlton yang menggantikan posisi Lee Ritenour.

Terus berubah

Jazz, kata Bob James, memang terlahir untuk terus-menerus berubah. Perubahan itu antara lain muncul dari kreativitas personal seniman jazz itu sendiri. Lahirnya bebop, fusion, sampai smooth jazz adalah bukti bahwa jazz tak pernah berhenti di satu titik.

Perjalanan Bob James dari era awal 1960-an hingga hari ini adalah perjalanan seniman yang terus berubah. Ia pernah menjadi pianis dalam album dan konser penyanyi jazz legendaris Sarah Vaughan pada awal era 1960-an. Bob, yang saat itu baru menyelesaikan kuliah di Universitas Michigan dan kemudian meneruskan di Berklee College of Music di Boston, memainkan jazz mainstream, jazz standar.

Melompat ke era 1980-an Bob James telah memainkan musik dengan instrumen elektrik penuh seperti pada album Sign of Times. Komposisi Sign of the Times begitu populer di Indonesia hingga ia menjadi musik latar di radio. Pada akhir 1980-an Bob kembali ke piano akustik dengan album seperti Grand Piano Canyon. Awal 1990-an Bob populer lewat kuartet Fourplay.

Seperti kehidupan itu sendiri, jazz akan terus berubah. Zaman berubah, teknologi berkembang, setiap pribadi bertumbuh. Kami pemusik merespons perubahan itu, kata Bob menjelaskan.

Sumber : Kompas, Selasa, 13 Desember 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks