Jun 20, 2009

Bhumibol Adulyadej, Tidak Sekadar Raja

Bhumibol Adulyadej, Tidak Sekadar Raja
Oleh : Pieter P Gero

Berada di Thailand hanya empat hari menjelang peringatan hari ulang tahun ke-78 Raja Thailand Bhumibol Adulyadej pada hari Senin (5/12/2005) lalu semakin mengukuhkan bahwa Bhumibol bukan sekadar raja dengan hanya berbagai tugas seremonial. Bhumibol adalah raja dalam hati dan sikap semua rakyat Thailand.

Bolehlah dianggap lumrah kalau gambar raja, spanduk, dan hiasan dalam ukuran beras menghiasi berbagai gedung serta jalan di Bangkok. Maklum, Raja Bhumibol sudah hampir 60 tahun bertakhta (dia diangkat pada 9 Juni 1946 pada usia 19 tahun). Saat ini dia kepala negara terlama di dunia.

Namun, semua pernak- pernik tadi juga terlihat sampai ke pelosok negeri, sedikitnya sejauh 200 kilometer timur laut dari Bangkok. Terasa mulai dari Pattaya hingga ke Taman Nasional Khao Yai. Sambutan penuh antusias terasa di mana-mana, apalagi di kalangan petani dan warga pedesaan.

Hari ulang tahun ke-78 memang bukan angka yang istimewa. Namun, keteladanan serta integritas Raja Bhumibol sangat pas jika dikaitkan dengan para pemimpin di negeri ini. Rakyat kebanyakan, seperti petani, bukan menjadi fokus perhatian. Yang terjadi, hak dan kesejahteraan petani pun diambil seperti terlihat dengan kebijakan impor beras.

Bagi Bhumibol, petani adalah segalanya. Pada awal tahun 1960-an, Bhumibol menaruh perhatian pada kawasan pedesaan. ”Di sana tempat mereka yang miskin dan kurang perhatian,” ujarnya. Raja dan anggota keluarga mulai melakukan kunjungan dan mencanangkan sekitar 1.800 proyek yang dikenal dengan Proyek Raja.

Bhumibol bahkan harus berjalan kaki untuk bertemu suku terasing di kawasan pegunungan di utara yang terisolasi, untuk menawarkan proyek. ”Kalian lebih baik menanam buah-buahan segar yang laris di pasar ataupun sayur-mayur daripada menanam opium,” tawar Raja. Tak lama kemudian, muncul proyek irigasi dan jalan raya guna memudahkan pemasaran semua produk tadi.

Berada di kawasan pedesaan di Thailand sekarang ini akan banyak terlihat menara air mirip UFO (unidentified flying object), bagi kebutuhan manusia dan pertanian. Juga jalan raya, termasuk jalan desa yang mulus yang memungkinkan distribusi produk pertanian atau manufaktur lancar ke mana pun tujuannya.

Jangan pernah meragukan komitmen Raja pada petani atau warga pedesaan, ujar beberapa warga Thailand yang ditemui. Sisi selatan dan barat dari istananya, Chitralada Villa, di Bangkok, terlihat sejumlah bangunan yang tak lazim, seperti silo, pabrik pemrosesan, dan perkebunan.

Ini bagian kecil dari Proyek Raja, yang biasanya mulai dari proyek riset yang sebagian besar berkaitan dengan pertanian, sekolah alternatif, pelatihan keahlian, konservasi air, dan pengembangan tanah, demikian terungkap pada beberapa buku biografi Raja Bhumibol.

Sentuhan langsung

Bhumibol lahir di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat, saat ayahnya, Mahidol Adulyadej, yang juga putra mahkota, belajar kedokteran di sana. Sekolah dasar di Sekolah Mater Dei, Bangkok. Namun, sekolah dasar dilanjutkan ke Lausanne ketika sebagian keluarganya pindah ke Swiss.

Dia menghabiskan SLTA di Lausanne. Bhumibol mendapat nilai tinggi pada kesusastraan Perancis, Latin, dan Yunani. Dia kemudian belajar sains di Universitas Lausanne ketika kakaknya, Ananda Mahidol, menjadi raja tahun 1935. Namun, kematian misterius Mahidol bulan Juni 1946 membuat Bhumibol harus naik takhta.

Hanya saja, Bhumibol tidak langsung diberikan mahkota karena diminta menghabiskan studinya di Swiss. Dia diminta belajar hukum dan ilmu politik yang berguna sebagai raja. Saat akhir studi, Bhumibol sering melihat pabrik otomotif di Perancis. Di sini dia bertemu sepupu jauhnya, Mom Rajawongse Sirikit Kitiyakara, yang juga putri Duta Besar Thailand di Paris.

Cinta pun bersemi. Sirikit diminta meneruskan sekolah di Lausanne, biar makin lengket. Pada Juli 1949 mereka tunangan, dan beberapa pekan sebelum dimahkotai, Mei 1950, mereka menikah. Kini anak mereka empat, seorang putra dan tiga putri. Mereka semua terlibat penuh dalam proyek-proyek raja.

Bahwa kini Raja Bhumibol mendapat tempat di relung hati rakyat Thailand karena sentuhan-sentuhan langsungnya. Penggemar musik jazz dan komposer lagu (dia memperoleh anggota kehormatan dari Institut Musik dan Seni Vienna, Austria) ini selalu memberi waktu untuk menyerahkan diploma pada setiap lulusan universitas negeri di Thailand. Kini tugas itu diambil alih anak-anaknya.

Apabila Thailand kini unggul dalam olahraga, juga tak lepas dari peran Raja Bhumibol. Penggemar fotografi dan pengarang/ penerjemah ini dikenal seorang atlet berlayar. Tahun 1967, dia memperoleh medali emas dalam Asian Games di Manila, Filipina.

Karena seorang atlet, Bhumibol selalu kontak atlet-atlet Thailand yang meraih medali emas. Ketika petinju Somluck Kamsing meraih medali emas dalam Olimpiade Atlanta (AS), emas pertama bagi Thailand dalam sejarah olimpiade, raja langsung meneleponnya.

Saya bertinju untuk Raja, dia yang selalu membakar semangat saat di final, ujar Khun Manus, petinju lainnya yang meraih emas di Olimpiade Athena tahun lalu. Dia menjadi inspirasi bagi atlet Thailand, ujar Peter Cummins, yang banyak memerhatikan olahraga Thailand.

Jenderal pun tunduk

Raja Bhumibol sebenarnya enggan memasuki koridor politik. Tetapi sekali lagi menyangkut rakyat banyak, dia tak bisa tinggal diam. Tahun 1973, Bhumibol secara jelas menghendaki Marsekal Thanom Kittikachorn mundur dari rezim militer dan membentuk pemerintahan demokrasi.

Menyusul kudeta tahun 1991, raja lantas mendesak rezim militer pimpinan Jenderal Suchinda Kraprayoon mengadakan pemilu. Namun, rakyat marah karena partai pemenang pemilu tahun 1992 menjadikan Suchinda sebagai perdana menteri.

Raja lantas memanggil Suchinda Kraprayoon dan memilih gerakan pro-demokrasi, Mayjen Chamlong Srimuang. Sebagaimana terlihat di televisi, kedua jenderal ini menghadap raja sambil berlutut. Raja hanya minta agar demokrasi ditegakkan. Sejak itu, kudeta militer menjadi tabu di sana.

Apabila Raja Bhumibol dalam ulang tahunnya ke-78 mencerca Perdana Menteri Thaksin Shinawatra untuk bersedia menerima kritik, semata karena itu konsekuensi sebagai pemimpin. Pepatah bahwa raja tidak mungkin berbuat salah, itu adalah penghinaan. Itu berarti raja bukan manusia. Saya bisa berbuat salah dan saya tak takut dikritik langsung, ujarnya. Contoh nyata seorang pemimpin.

Sumber : Kompas, Senin, 12 Desember 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks