Jun 26, 2009

Bernard Soroinsong : Bena Namanya

Bena Namanya
Oleh : Eddie Kurnianto

Bena nama panggilannya, Bernard Soroinsong lengkapnya. Dia adalah driver sewaan kami, saat saya dan rekan saya, Wahyu Juniawan, ditugaskan ke Minahasa, Sulawesi Utara. Melalui hotel kami menyewa mobil, dan saat itulah kami bertemu Bena. Sebenarnya harga yang ditawarkan bukan yang paling murah, tapi kami terkesan pada keramahannya dan pengetahuannya tentang pelosok Menado dan Minahasa.

Bena ternyata seorang koordinator penyewaan kendaraan di sebuah hotel berbintang di Menado, tapi Bena lebih suka menjadi driver. Tugasnya sebagai koordinator cukup dijalankan lewat dua handphone yang tidak berhenti berdering. Bena ternyata juga pemandu wisata yang lihai, dan benar-benar mengerti daerah Minahasa dan sekitarnya. Bena juga menawarkan tour keliling Sulawesi, ia mengaku cukup tahu pulau itu sampai pelosok pedesaan. Saya tidak menganggapnya berlebihan, dari jawabannya terhadap pertanyaan-pertanyaan saya, Bena termasuk orang yang tak mau berbicara tentang apa yang dia tidak tahu. Bena selalu terus terang kalau dia tidak mengerti atau ragu-ragu.

Sebagai driver, Bena mengerjakan tugasnya serius. Kami tinggal menyebutkan mau kemana dia akan mengantarkan. Kalau dia tak tahu, dia akan mencari tahu, kalau tak ketemu dia akan mencarikan daerah yang punya obyek serupa. Dia mau turun membelikan keperluan saat kami sibuk meliput. Bena tak keberatan bertanya-tanya untuk kami dalam bahasa daerah. Free of charge. Katanya itu salah satu tugas pelengkapnya sebagai supir sewaan, yaitu memberikan kemudahan dan kepuasan pada kliennya.

Pengetahuannya cukup luas, dari marketing sampai masalah politik aktual Bena mengerti. Bena jago mengobrol. Mulai dari petugas keamanan sampai ketua adat, bisa diajaknya mengobrol. Bahkan ketika berpisah sudah terlihat bak karib lama. Tak heran, karena Bena menguasai banyak dialek dan bahasa daerah. Mulai bahasa jawa kasar (campur logat minahasa), karo, minahasa, sampai padang bisa dengan enteng digunakan berganti-ganti, belum lagi bahasa inggris dan jepangnya yang bersih dari logat.

Yang lebih membuat kaget, dari danau tondano, bunaken sampai kampung jawa, Bena nyaris selalu ditegur Kenalannya. Dari agen penerbangan di hotel-hotel, sampai tukang nasi dipinggiran tondano tampaknya mengenalnya. Bena mengaku dulu adalah salesman. Mulai dari alat pemadam sampai makanan kering. Omsetnya cukup tinggi, danuntuk itu ia mengelilingi Sulawesi. Menyenangkan dan menantang untuk seorang bujangan, tapi kemudian pekerjaan itu sulit diteruskan karena saat menikah istrinya minta Bena tak lagi bepergian.

Ada satu yang menarik. Bena nyaris tidak pernah memaksa atau meminta sesuatu. Bena jago membujuk, itu saya tahu. Tapi ia juga mahir melihat keinginan seseorang.

“yang penting adalah mengerjakan pekerjaan apapun yang kita lakukan sebaik-baiknya. yang penting meraih kepercayaan orang. Membantu, melayani, mengerjakan tugas harus ikhlas, toh kalau orang sudah percaya pada kita, kita juga yang akan beruntung.”

Bena bercerita, saat ia menjadi salesman ia sering bertandang ke tempat-tempat terpencil. Dari pelanggannya ia ia menerima titipan untuk dibelikan di kota. Bena selalu bersedia, lagi-lagi tanpa imbalan.

“yang penting pelanggan tahu kita dan percaya pada kita. Pelanggan saya jarang yang mau beli dari sales lain, walaupun mereka tawarkan lebih murah. Saya lebih dari pedagang buat mereka. Saya sudah jadi teman mereka”.

Bena tak sekedar bicara. Bena nyaris tak pernah komplain dan marah saat pulang terlalu larut dan melewati batas penyewaan. Tak juga mengeluh saat diminta menginap sehari di kampung jawa atau saat diminta menjemput setelah subuh. Ia tidak menagih kelebihannya. Kami memang seringkali tak sempat memesan makanan khas karena diburu waktu. Bena juga tak keberatan menjamu kami dengan uangnya, untuk membelikan makanan khas daerah tertentu. Alhasil, karena dia tidak hitungan, kami juga tak enak untuk membayarnya pas bandrol.

Seorang Front Office di hotel kami bertanya, berapa kami menyewa Bena. Dia mengira kami punya uang sangat banyak. Bena biasanya hanya mengantar turis asing, sisanya biasanya dijalankan untuk anak buahnya. Gajinya juga besar sebagai koordinator, belum lagi dia punya pelanggan tetap dari jepang. Tiap tahun mereka mengontraknya setiap kali tiba di Menado.

Saya percaya saja. Saya pernah merasakan kualitas kerjanya. Bena termasuk salah satu orang hebat yang saya temui diperjalanan. Dia memberikan arti pada kata-kata service excelence yang sering saya dengar. Saya jadi berpikir, kapan saya memperlakukan pekerjaan yang saya miliki dengan kecintaan seperti dia, dan tidak mempermasalahkan kendala yang saya hadapi.

Saya masih harus banyak belajar.
Masih sangat banyak yang bisa dilihat dan didengar diluar sana.
Saya masih harus banyak berjalan.
Masih banyak orang hebat yang bisa mengajari saya.
Untuk menjadi pekerja yang lebih hidup dan menjadi manusia yang lebih baik.

Sumber : http//berliunbiru.blogspot.com

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks