Jun 18, 2009

Bambang Prayitno : Keharmonisan Bambang Prayitno

Keharmonisan Bambang Prayitno
Oleh : Simon Saragih

Kehidupan berbangsa yang harmonis dan kukuh mungkin masih luput dari Ibu Pertiwi. Terbukti, sampai kini masih ada gerakan yang mencoba memisahkan kelompoknya dari yang lain. Aksi pemisahan seperti itu mungkin belum mengkristal, tetapi berpotensi menjadi demikian.

Nilai-nilai keharmonisan telah menjadi dambaan, sekaligus tugas sehari-hari Duta Besar (Dubes) RI untuk Takhta Suci, Bambang Prayitno. Itulah yang menguat di benak bapak tiga anak ini, semuanya putra, semenjak menjalani tugas di Negara Kota Vatikan, lokasi Takhta Suci, nama pemerintahan yang dipimpin Sri Paus.

Menjadi seorang Muslim bukan penghambat bagi lulusan Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Surabaya, ini. Dari 12 dubes yang pernah bertugas di Takhta Suci, hanya tiga yang Katolik.

"Sudah pasti, sebagaimana setiap negara, Takhta Suci akan meneliti calon dubes yang ditugaskan di wilayahnya. Faktor agama bukan penghambat," ungkap Bambang yang meniti karier di Departemen Luar Negeri sejak tahun 1977. Ia juga terbiasa dengan lingkungan Kristen selama pendidikan menengah.

Tantangan yang dia hadapi, yaitu Takhta Suci tidak terlibat dalam aktivitas ekonomi, perdagangan, investasi, dan urusan pinjam-meminjam, walau Takhta Suci memiliki Bank Vatikan yang kaya raya. Praktis kegiatan Dubes RI di bidang itu tidak ada. Karena itu, sempat ada kebingungan sejenak, apa yang harus dia lakukan di Vatikan.

Pancasila

Sejak tahun 1984 hingga 2002, Bambang sudah melanglang buana ke berbagai negara menjadi diplomat. Pada umumnya ia ditempatkan di Kantor Perwakilan Tetap Republik Indonesia (PTRI) di Geneva, New York, dan Wina karena tugas-tugasnya yang menangani politik di lembaga dunia bernama PBB.

Mendapatkan tugas di bidang yang menangani urusan RI di PBB jelas sangat menyibukkan. Setiap bulan, kadang tiap pekan, ada saja pertemuan, pembahasan yang menyita waktu hingga dini hari. Namun, kesibukan ekstra seperti itu tidak sering terjadi di Takhta Suci.

Tidak lama setelah melakoni tugasnya, Bambang menyadari, betapa tugasnya di Vatikan tidak bisa juga dianggap ringan. Putra tunggal dari seorang pensiunan Brimob ini kian terpicu melakukan sesuatu tatkala Paus Johanes Paulus II (almarhum) menyebut Pancasila, saat menerima Bambang pertama kali sebagai dubes. Kata "Pancasila" mengingatkan dia pada warisan nenek moyang, yang ternyata telah lama menerima kebhinnekaan.

Bambang, kelahiran Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, 5 Desember 1946, ini kemudian menemukan bahwa Takhta Suci memiliki beberapa Dewan Kepausan, yang salah satunya mendorong dialog antar-agama.

Dialog itu bertujuan menciptakan saling pengertian di antara pemeluk agama, bukan memaksa pihak lain menjadi pemeluk agama tertentu. Tujuan dialog adalah memelihara keharmonisan di masyarakat dengan berbagai anutan.

Bambang lalu berinisiatif mengunjungi sebagian dari sekitar 650 rohaniwan/rohaniwati Katolik asal RI yang tergabung dalam Ikatan Rohaniwan/Rohaniwati di Kota Abadi (IRRIKA), yang bertugas di Vatikan dan Italia. Itu menjadi bagian tugasnya. "Ya, seperti bertemu dengan teman dari satu negara," ujar Bambang yang juga menjadi Ketua Kelompok Duta Besar Wilayah Asia untuk Takhta Suci.

Inisiatif lain, ia memperkenalkan Indonesia dengan mendorong kelompok tari dan musik gamelan, kebanyakan pemainnya warga Italia. Salah satu hasilnya berupa sumbangan perahu mesin untuk 35 nelayan di Aceh yang menjadi korban tsunami. Itu adalah donasi dari hasil pertunjukan dengan seorang pengajar lulusan ISI Yogyakarta.

Pentingnya dialog

Kegiatan dialog antar-agama, dengan melibatkan tokoh agama dari berbagai negara, membuat Bambang seperti kembali menjalani tugas-tugasnya dalam konteks internasional dan hubungan negara-negara, sama seperti ketika ia bertugas di berbagai PTRI.

Bambang juga bersemangat mengakomodasi pertemuan internasional dialog antar-agama dengan mendatangkan tokoh agama dari Indonesia. Ia makin terdorong karena terkesan oleh pernyataan KH Hasyim Muzadi dan Syafii Maarif yang mengaku hormat pada kepribadian Julius Kardinal Darmaatmadja SJ. Uskup Agung Jakarta itu dinilai telah turut menciptakan kekompakan di antara tokoh-tokoh agama di Indonesia. Kedua tokoh Muslim ini juga terpandang sebagai pendamba keharmonisan antar-umat beragama.

Hal itu semakin memicu niat Bambang untuk menjadi bagian dari gerakan untuk menciptakan keharmonisan antar-umat beragama. Ia mengaku sempat menjadi "bulan-bulanan" oleh pertanyaan Takhta Suci yang menanyakan tentang hak hidup dan kebebasan beragama bagi siapa saja di Indonesia.

Ia menjelaskan tentang sejumlah peristiwa konflik di berbagai daerah di Tanah Air kepada Takhta Suci. Bahwa semua itu bukan kebijakan Pemerintah RI. Ia juga menjelaskan tentang sinyalemen adanya pihak asing yang membuat kekisruhan.

Bambang tertolong lewat penjelasan The Friends of Indonesia, julukan bagi para misionaris asing yang mencintai Indonesia dan sebagian bertugas di Indonesia. Mereka menjelaskan, betapa luas Indonesia. Luas bentangnya mulai dari Portugal hingga Moskwa sehingga tidak mudah dibuat tenang. Meski begitu, ada juga wilayah RI yang aman dan bisa menerima perbedaan serta lolos dari konflik.

"Cita-cita saya, bagaimana makin terlibat dan mewujudkan keharmonisan, sampai pensiun nanti," ujar Bambang. Itu semakin penting untuk menjawab postulat Samuel P Huntington bahwa tantangan dunia berikutnya adalah benturan peradaban.

Sumber : Kompas, Kamis, 27 April 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks