Jun 19, 2009

Bambang Bimo Suryono : Kak Bimo dan Kota Dongeng

Kak Bimo dan Kota Dongeng
Oleh : Irma Tambunan

Perhatian ratusan anak tertuju ke atas panggung. Tak sampai lima menit, gelak tawa mereka memenuhi alam terbuka, tempat acara hiburan digelar. Dan, sore itu mereka pulang berbekalkan sebuah cerita penuh kesan dan sarat pesan.

Mereka anak-anak kecil yatim dan miskin yang datang dari dusun-dusun terpencil di Selopamioro, Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, tak mengira bakal didongengi oleh Bambang Bimo Suryono (32), yang biasa dipanggil Kak Bimo, awal Februari lalu. Pendongeng ini tak sekadar menuturkan cerita, tetapi juga menghibur lewat kemampuannya bersuara hingga 103 karakter.

Pada dongeng yang dibawakannya yang berjudul Kiamat Sudah Tiba, Bimo menirukan suara sangkakala, deburan ombak, gunung meletus, suara-suara binatang, hingga suara anak kecil dan suara malaikat yang membacakan rapor hidup si bocah. Namun, Bimo juga menyelipkan karakter tokoh-tokoh kartun sebagai hiburan. Hingga dongeng ditutup dengan ajakan untuk berbuat baik, tak satu pun dari anak-anak kecil di sekitar panggung itu beranjak pergi.

Sudah 15 tahun ia berkiprah di dunia dongeng dan memantapkan diri sebagai pendongeng edukatif. Dari seluruh koleksi cerita yang ada, Bimo memilih hanya akan mendongengkan jenis-jenis cerita yang mendidik, logis, tak mengandung mitos, dan tak berbau SARA. Dongeng-dongeng ini diharapkan dapat memberi nilai-nilai baru dalam kehidupan anak, dan supaya hal-hal baik saja yang diserap alam pikiran anak.

Bagaimanapun, menurut Bimo, karakter bangsa dapat dibangun dari cerita-cerita anak. Jika anak sudah disuguhi cerita-cerita mendidik dan membangun budinya sejak masih kecil, maka 20 atau 30 tahun lagi akan muncul generasi baru yang berkualitas, berintelegensia, dan berakhlak mulia.

Atas semangat membentuk watak baik pada anak lewat cerita, banyak pula pendongeng dan guru TK datang berguru kepadanya. Seperti halnya sanggar mendongeng yang dilaksanakan setiap hari Jumat siang di rumahnya, Dusun Cungkuk, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, diisi dengan berbagai materi menarik, seperti seni bertutur, teknik olah vokal, teknik olah mental, ekspresi, cara menarik perhatian anak hingga akhir cerita, serta strategi mengajak anak berpekerti luhur, tanpa anak merasa dikuliahi.

Meniru

Pria kelahiran 14 Mei 1974 ini telah menyadari bakat mendongengnya ini sejak kecil. Ia kerap kali menirukan suara-suara orang tua, guru dan teman-temannya sendiri, termasuk pula suara hewan, alam, alat musik, dan suara-suara lainnya. Kegemaran ini tumbuh didasari keinginan yang besar untuk bisa menyamai atau bahkan melebihi seseorang.

Bimo kecil pernah menirukan suara gurunya di depan kelas, dengan maksud bergurau, namun malah mengakibatkan gurunya marah. ”Saya sampai dipukul pakai penggaris karena berguyon meniru-niru suaranya di depan kelas. Namun, dari sini saya semakin sadar bahwa saya punya bakat mengolah vokal,” tuturnya.

Atas dorongan pamannya, Darmono, yang juga sering mendongenginya semasa kecil, ayah dari Aulia Rahman (4) dan Ulinn Nuha (2) ini akhirnya sampai pada keputusan untuk mendedikasikan dirinya sebagai pendongeng. Ia kini memiliki sejumlah cerita andalan yang berdampak besar terhadap pengembangan karakter anak.

Syaiful dan Tiga Satwa, misalnya, bercerita tentang seorang anak kecil yang membantu tiga satwa yang hampir mati dimangsa. Kebaikannya ini ternyata berbuah karena di saat Syaiful dalam bahaya, masing-masing satwa ini datang memberi pertolongan.

Sejumlah cerita tak kalah menarik, antara lain Dr Jagger and Mr Hyde, All Mine to Give, Empat Santri Lucu, dan Aku Harus Sekolah, umumnya mengajak anak untuk berbuat baik dan rendah hati serta berhasrat mencari ilmu setinggi-tingginya.

Bagi Bimo, mendidik anak melalui dongeng penting karena lewat dongenglah transfer ilmu dan nilai dapat lebih mudah sampai ke cakrawala pikiran anak. Namun, tidak semua orang mampu menyampaikan pesan secara baik lewat dongeng. Karena itulah, selain mendirikan sekolah sanggar mendongeng, Bimo sejak dua bulan terakhir ini juga membuka kursus bagi calon pendongeng, dengan hanya biaya Rp 50.000 per orang hingga kursus berakhir.

Kursus yang dilaksanakan di rumahnya yang sederhana ini diikuti berbagai kalangan, mulai dari sejumlah pendongeng muda, penyiar televisi, guru TK, hingga anak SMA. Anak-anak didiknya yang sudah berusia dewasa ini tak sekadar diajari mendongeng, tetapi juga ditulari 103 karakter yang telah dikuasainya.

Mimpi besarnya adalah menjadikan Yogya sebagai kota dongeng, melengkapi identitasnya sebagai kota pelajar dan pariwisata. Kota ini sebagai komunitas para pendongeng dan sejumlah ajang mendongeng yang bersifat mendidik.

”Kita sudah punya sekitar 20 pendongeng di Yogya. Jika semakin banyak lagi pendongeng edukatif dan tersedia ruang mendongeng yang cukup bagi anak-anak, maka dari Yogya inilah karakter bangsa Indonesia akan dibangun,” ujarnya.

Sumber : Kompas, Jumat, 24 Februari 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks