Jun 19, 2009

Amran Ahmad : Memperjuangkan Taman Nasional

Memperjuangkan Taman Nasional
Oleh : Reny Sri Ayu

Tidak mudah memperjuangkan kawasan karst di Bantimurung dan sekitarnya di Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan, untuk menjadi taman nasional, terlebih sebagai warisan dunia (world heritage). Apalagi di kawasan itu sudah ada dua pabrik semen besar yang melakukan penambangan kapur.

Akan tetapi, Amran Ahmad tak berkecil hati. Penelitiannya selama bertahun-tahun tentang keberagaman flora dan fauna serta keunikan bebatuan di kawasan karst itu membuatnya berjuang keras agar kawasan itu menjadi kawasan konservasi yang betul-betul dilindungi.

Alhasil, tidak lagi lama kawasan karst itu segera ditetapkan menjadi taman nasional. Penunjukannya sendiri sudah dilakukan melalui Surat Keputusan (SK) Menteri Kehutanan Nomor 398/Menhut/II/2004 tanggal 18 Oktober 2004. Bahkan, taman nasional itu juga diusulkan untuk menjadi world heritage.

”Kawasan karst di Maros dan Pangkep sangat unik, baik dari kandungan bebatuan, keberadaan gua dan situs purbakala, hutan yang tumbuh subur dan lebat di atas bebatuan, hingga flora fauna yang ada dalam hutan,” kata Amran. Menurut dia, di hutan-hutan kawasan karst itu masih terdapat sejumlah fauna endemik Sulsel, seperti jenis kupu-kupu, kera, burung enggang besar dan burung enggang hitam, musang sulawesi, kuskus, kelelawar, hingga babi hutan. Sementara untuk tumbuhan ada setidaknya 53 jenis tanaman obat-obatan serta 17 jenis tanaman untuk makanan dan minuman.

Tak hanya meyakinkan masyarakat, legislatif, dan eksekutif di dua kabupaten bahkan Provinsi Sulawesi Selatan, dia juga ikut berjuang mendampingi instansi terkait ke pusat agar mau melirik kawasan karst itu. Karena berlatar belakang akademisi, perjuangan yang dilakukan Amran dilalui dari presentasi ke presentasi.

”Musuh bersama”

Butuh kerja keras dan perjuangan meyakinkan, terutama pemerintah di dua kabupaten itu, untuk menyetop izin penambangan dan sekaligus kehilangan sejumlah pemasukan dari aktivitas penambangan itu. Selain dua perusahaan besar, satu milik badan usaha milik negara (BUMN) dan satu lagi milik swasta itu, juga masih ada perusahaan kecil lainnya.

Bukan pekerjaan mudah menghadapi pengusaha yang telanjur menanamkan investasinya untuk industri semen dan marmer itu. Bahkan, saat itu, oleh sebagian besar pengusaha tambang, Amran dijadikan ”musuh bersama”.

”Sejak awal saya sudah tahu apa yang bakal saya hadapi ketika mengusulkan ini. Saya sadar di kawasan karst ada kepentingan bisnis sekaligus kepentingan pemerintah dan masyarakat yang ikut mendapatkan pemasukan dari situ,” kata lelaki kelahiran Enrekang, Sulsel, 20 Juni 1957, ini.

Perjuangannya tak sia-sia. Pemerintah Kabupaten Maros dan Pangkep berikut DPRD setempat memutuskan menyetop izin penambangan, kecuali yang sudah telanjur keluar dan yang ditetapkan sebagai kawasan penambangan. Amran juga menawarkan jalan keluar dengan membuat peta dan membagi wilayah mana yang masuk kawasan taman nasional dan mana yang masuk kawasan penambangan.

Hasilnya, dari 40.000 hektar kawasan karst di dua kabupaten itu, sebanyak 20.000 hektar ditetapkan menjadi kawasan penambangan. Luasan 20.000 hektar lainnya ditetapkan menjadi bagian dari 43.750 hektar Taman Nasional Bantimurung.

Kendati hanya 20.000 hektar, kata Amran, kawasan karst itu masih terluas di Indonesia dan kedua di dunia. Pembagian itu dinilai paling adil dan menjadi jalan tengah antara kepentingan bisnis dan konservasi, yang diterima semua pihak dengan senang hati.

Menjadi ahli konservasi apalagi berurusan dengan hutan sebenarnya tak pernah terpikir saat Amran masih muda. Sejak kecil hingga sesaat akan mendaftar kuliah, cita-cita yang ada di benaknya adalah menjadi dokter dengan spesialisasi anak atau kandungan. Sebagaimana anggapan orang-orang lainnya, kata Amran, menjadi dokter itu keren dan banyak duit.

”Ternyata saya tidak lulus di kedokteran. Yang ada saya lulus pada pilihan kedua di kehutanan,” kata suami Haslina ini. Masuk kuliah di Universitas Hasanuddin tahun 1976, Amran Ahmad menyelesaikan S1 tahun 1983. Tahun 1992 Amran melanjutkan kuliah S2 di Asian Institute Technology di Bangkok dan selesai tahun 1993. Saat ini dia sedang menyelesaikan S3.

Di luar waktu penyelesaian kuliahnya, Amran Ahmad banyak terlibat dalam masalah-masalah dan proyek kehutanan, taman nasional, dan terutama soal konservasi. Di antaranya terlibat dalam perencanaan 25 tahun Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah, termasuk pembuatan foto citra satelit. Di beberapa hutan di Kalimantan, misalnya, dia terlibat baik sebagai konsultan maupun perencana, untuk membuat perencanaan dan pemetaan hutan.

Meyakinkan masyarakat

Intensitasnya meneliti kawasan karst di Maros dan Pangkep dimulai tahun 1994 sepulang dari Bangkok. Dari hasil penelitian dan pengamatan yang cukup lama, pada tahun 1997 Amran mulai mempresentasikan hasil penelitiannya ke mana-mana, termasuk pihak-pihak dan instansi terkait. Berturut-turut setelah mendapatkan persetujuan dari semua pihak yang berwenang, tahun 1999, usulan taman nasional itu mulai mengemuka hingga akhirnya ditunjuk sebagai taman nasional tahun 2004.

Penunjukan kawasan karst sebagai taman nasional itu tak membuat Amran berhenti bekerja. Saat ini, dengan bantuan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM), Amran terus melakukan pendekatan ke masyarakat sekitar kawasan taman nasional.

”Saya dan teman-teman LSM mencoba mendekati seluruh masyarakat yang berada di sekitar kawasan. Kami tekankan pentingnya taman nasional dan mengapa harus dijaga,” katanya.

Saat ini, bersama masyarakat, Amran merintis jalan yang bisa digunakan untuk masyarakat, sekaligus bisa digunakan para wisatawan. Di tempat-tempat tertentu dibuat pos peristirahatan yang nantinya juga bisa disewakan kepada pengunjung untuk istirahat sejenak. ”Saya hanya berharap dengan terlibat di dalamnya, masyarakat ikut merasa memiliki dan mau menjaga taman nasional ini,” kata Amran.

Sumber : Kompas, Kamis, 23 Februari 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks