Jun 19, 2009

Balawan, Merembes di Celah Tradisi

Balawan, Merembes di Celah Tradisi
Oleh : Putu Fajar Arcana

Bagi sebagian besar orang Bali, apalagi mereka yang lahir di Batuan, Gianyar, tradisi tidak sekadar masa lalu. Tradisi itu sampai kini hidup menjalar menembus kisi-kisi waktu kontemporer. Karena itu, daerah seperti Batuan lebih dikenal karena seniman tradisi seperti penari dan penabuh gamelan. Bahkan, desa itu telah melahirkan gaya lukisan yang dikenal sebagai gaya Batuan.

Jika kemudian dalam belitan tradisi yang seakan menyebabkan tak ada lagi tempat menghindar bagi manusia Bali muncul maestro gitar seperti Balawan (32), pastilah ia orang istimewa. Kuncinya, Balawan tidak menerobos selaput tradisi, tetapi merembes sebagai air yang menetes di atas batu.

Batu pun lama-lama berlubang juga..., kata Balawan seusai peluncuran album terbarunya bertajuk Magic Fingers yang dirilis Sony BMG, akhir pekan lalu di Denpasar.

Nama Balawan barangkali tak cukup dikenal dalam belantika musik Indonesia. Itu karena lelaki bernama lengkap I Wayan Balawan ini lebih sering mengikuti festival dan tur di tingkat internasional.

Dalam tahun 2005 ini saja bersama kelompoknya, Batuan Ethnic Fusion (BEF), ia mengikuti Hell Blues Festival in Trondheim Norway, tur empat kota di Australia, Pop Asia Fukuoka, Jepang, dan Tokyo Asia Music Market, Jepang.

Tahun 2000 ia mengikuti dua festival besar di Jerman, East Meet West Gitarren Festival Edenkoben dan Open String Guitar Festival Osnabrueck. Inilah yang membuat seorang produser Jerman merilis album solo gitar Balawan (2001). Dalam rangka mempromosikan album itu Balawan melakukan Tour International Guitar Night di 12 kota di Jerman tahun 2001.

Kendati mengusung instrumen dan permainan musik yang berkembang di Barat, lelaki kelahiran Batuan, 9 September 1973, ini bukan berarti meninggalkan tradisi. Setelah selesai mempelajari musik jazz di Australian Institute of Music, Sydney, tahun 1997 Balawan membentuk BEF, tempat ia melakukan dialog intim dengan tradisi.

Bahkan, penemuannya tentang teknik bermain gitar dengan cara disentuh (touching) dan dikait (taping), menurut dia, diispirasi teknik memukul rindik (salah satu instrumen serupa gamelan). Saya terpukau pada kecepatan pukulan rindik. Bagaimana kalau gitar diperlakukan serupa, ujar Balawan.

Hasilnya memang mencengangkan. Balawan memainkan gitar menyerupai piano. Ia menggunakan delapan jari tangannya untuk memainkan kord, melodi, dan bas.

Tidak jarang tangan kanan dan kiri bersalipan pada leher gitar. Tuntutan permainan yang cepat dan penyederhanaan instrumen telah membuatnya merancang gitar sendiri yang menggunakan dua leher. Gitar rancangannya diberi nama Stephallen Balawan seri I menggunakan 13 senar.

Dengan gitar ini saya bisa memainkan instrumen yang mestinya dimainkan tiga orang, kata lelaki rendah hati ini.

Menyempal

Bagi anak-anak Batuan, Balawan pastilah dianggap menyempal dari kelaziman. Kawan-kawan masa kanaknya, seperti Wayan Suastika atau Nyoman Marcono, adalah pemain rindik dan kendang yang andal. Beberapa kawan lainnya memilih menjadi pelukis gaya Batuan. Almarhum Ayah penari dan pelukis tradisional, tutur Balawan, putra I Wayan Regug (almarhum) dan Ni Wayan Sunti (60).

Kakak perempuannya, Ni Wayan Mariani, yang memperkenalkan Balawan pada gitar. Ketika kelas tiga SD dia coba-coba memainkan gitar milik kakaknya. Memasuki umur 12 tahun, bersama beberapa kawan ia membentuk grup rock Maxel, kelompok yang hampir selalu membawakan lagu-lagu Scorpion dan Van Halen.

Kemampuan memainkan gitar kemudian menarik perhatian temannya, warga Australia, yang membantu mencarikan beasiswa sekolah musik di Sydney untuk tiga tahun. Setelah itu dia tinggal dua tahun di sana dan membentuk grup band Garis, memainkan musik jazz yang dicampur musik etnis Jawa.

Sepulang dari Australia saya coba-coba mencari teknik baru main gitar. Obsesi saya memadukan musik etnis Bali dengan jazz, kata pengagum musisi jazz asal Inggris, John McLaughlin. McLauhglin, kata Balawan, bersama kelompoknya, Maha Visnu, melakukan sinergi musik tradisi India dengan jazz.

Bali sebagai inspirasi dalam musik bukan hal baru. Akan tetapi, kata Balawan, sebagian besar komposisi yang dibentuk dari elemen musik tradisi Bali memandang Bali dengan mata romantisme, dan bahkan eksotisme. Musik etnis hanya jadi pelengkap, banyak yang tidak menguasai jiwanya, kata dia.

Seharusnya pemusik kontemporer seperti jazz-lah menurut Balawan yang belajar kepada pemusik tradisi. Banyak yang jago dalam tradisi, tetapi kalau diajak bermain bersama umumnya enggak bisa baca notasi. Tetapi sekali hafal, sampai mati tak akan lupa, paparnya.

Makanya, ketika membuat sinergi Bali dan jazz, Balawan berupaya menemukan teknik bermain gitar yang khas, yaitu disentuh dan dikait. Sejauh ini di dunia hanya ada satu lagi yang menguasai teknik serupa, yakni gitaris asal Amerika Serikat, Stenley Jordan.

Sumber : Kompas, Kamis, 29 Desember 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks