Jun 26, 2009

Bagong Soebardjo : Senyum Kecut Seorang Animator

Senyum Kecut Seorang Animator
Oleh : Yenti Aprianti

Stan milik Bagong Soebardjo (47) yang dipasang di Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Bandung, dalam Pekan Komik dan Animasi Nasional Ke-5 mencuri banyak perhatian, bahkan sebelum ia menatanya.

Boneka-boneka binatang seperti kerbau, harimau, ular, dan buaya yang terbuat dari spons menjadi daya pikat pengunjung. Saat Bagong tengah membentuk dan memakaikan baju untuk boneka-bonekanya, tak jarang pengunjung yang sebagian besar anak-anak muda menghampiri dan bertanya kepadanya soal boneka-boneka dan profesinya.

Bagong menyambut orang-orang yang penasaran itu dengan senyum dan menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan. ”Boneka ini bisa menggerak-gerakkan bibir. Tangannya juga lentur, makanya enak untuk mendongeng,” kata Bagong menjawab pertanyaan seorang remaja lelaki, Rabu (20/7/2005) pekan lalu.

”Membuatnya gampang. Bahannya spons dan kaus kaki,” ujar Bagong. Anak muda itu makin tertarik dan mengamati satu per satu boneka buatan Bagong. Saat-saat seperti itulah yang membuat Bagong bahagia. Semangatnya muncul kembali, membakar hangus rasa putus asa yang sering kali terselip di hatinya dalam mengembangkan animasi dengan boneka.

Sulit, animasi boneka Indonesia berkembang di negeri ini. Industri televisi sering menolak karena dianggap tidak menarik dan terbukti tidak ada iklan yang masuk tiap kali program tersebut ditawarkan kepada pengiklan. Bagong pun pernah merasakan penolakan semacam itu.

Orang-orang dewasa di negeri ini mencoba menentukan kebutuhan anak-anak dalam hiburan. Jika tidak ada iklan, berarti tidak ada anak yang menginginkannya! Mereka seakan-akan melupakan kesuksesan Sesame Street atau Teletubbies.

Tapi kekecewaan itu tak pernah memudarkan hasrat Bagong mengembangkan animasi boneka sebagai media untuk mendongeng kepada anak-anak. Dari dongeng-dongengnya, ia selalu menanamkan pendidikan budaya dan moral bagi anak-anak.

”Saat ini anak membunuh orangtua, terjadi di mana-mana. Kenapa ini terjadi? Karena mereka tidak dibekali budaya menghormati orangtua dengan baik. Memang terasa feodal kalau kita harus menunduk kepada orangtua. Tapi dari perilaku itu, anarkisme bisa dihindarkan,” kata Bagong.

Bagi anak-anak, Bagong selalu ada waktu untuk mendongeng secara gratis. ”Saya tidak bisa menolak mereka,” tuturnya.

Bagong menemui anak-anak di desa-desa atau di sekolah-sekolah di sekitar Yogyakarta sambil membawa beberapa boneka atau wayang kartun untuk mendongeng. Hal tersebut dilakukan sudah 26 tahun.

Suka wayang

Sejak kecil, Bagong amat menyukai wayang. Lelaki asal Semaki Gede, Yogyakarta, itu rela pergi sampai ke Gunung Kidul untuk menonton wayang. Agar bisa selalu menonton wayang, ia menguntit tetangganya yang pedalang.

Sering mengikuti rombongan pedalang itu, ia pun ikut membantu menabuh gamelan. Saat itu ia tak hanya menikmati cerita wayang, tetapi juga belajar mendalang dengan cara mengamati pedalang beraksi.

Saat sekolah menengah atas, Bagong mulai mendongengi anak-anak di kampungnya. Dongengnya dibuat menarik dengan cara memarodikan cerita wayang dan fabel yang sudah dikenal. Dalam cerita-ceritanya, ia selalu mengakhiri adegan dengan menolong tokoh jahat. Baginya, jagoan sejati selalu menolong meskipun itu musuhnya. ”Ini adalah ajaran kasih sayang,” ujarnya.

Tahun 1979, ia kuliah di Institut Seni Indonesia Jurusan Seni Lukis. Ia mulai membuat karakter-karakter wayang parodi. Ia membuat banyak wayang untuk satu tokoh. Ada yang tengah duduk atau berkuda.

Tak mengherankan jika wayangnya digemari, terutama oleh anak-anak. Buat anak-anak, ia tidak pernah memungut bayaran. Tapi jika ditanggap orang dewasa dalam acara pesta pernikahan atau acara lainnya, harga mentasnya sekarang berkisar Rp 8 juta. Honor ia buat untuk membeli bahan wayang dan boneka.

Sejak 1987, ia mulai membuat boneka untuk mendongeng karena ia melihat anak-anak senang pada boneka. Juga membuat setting perkampungan boneka.

Meski pernah ditolak televisi setelah ia membuat 13 episode film cerita animasi dengan boneka, ia tetap membuat animasi. Kini ia sudah merampungkan 14 judul film animasi dengan biaya produksi sekitar Rp 20 juta per episode yang dibiayai oleh temannya.

Ia membuat serial Belanus atau Belantara Nusantara yang menceritakan tokoh Bontel, profesor yang menyepi ke hutan dan mengabdikan ilmunya untuk kelestarian hutan dan makhluk hidup lain di dalamnya.

Empat karakter tokoh boneka dan seluruh cerita sudah ia patenkan. Ia yakin, meskipun hari ini ia masih tersenyum kecut karena cerita boneka belum diminati, suatu hari akan banyak yang membutuhkan.

Sumber : Kompas, Senin, 25 Juli 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks