Jun 20, 2009

Ayi Rohman : Perpustakaan Sariwangi, Impian Ayi Rohman

Perpustakaan Sariwangi, Impian Ayi Rohman
Oleh : Her Suganda*

Ayi Rohman tidak segan-segan menukar barang dagangannya dengan buku-buku bekas. Bahkan, untuk memenuhi hasrat mendirikan perpustakaan di desanya, ia sering membohongi istrinya karena menggunakan uang dagangan untuk membeli buku.

Dia lebih mementingkan mengurus perpustakaan,” keluh istrinya, Ny Neneng Rismayati. Berhari-hari ia lupa mencari nafkah karena keasyikan mengelola perpustakaan. Ayi bukanlah pengusaha atau petani berada di desanya. Rumah dan perabotannya sederhana saja. Ia juga bukan sarjana. Setelah menyelesaikan pendidikannya di sekolah teknik menengah negeri bagian bangunan di Bandung tahun 1989, ayah dua anak yang dilahirkan di Bandung, 11 Mei 1969, itu tidak memilih pekerjaan sesuai dengan bidang pendidikannya.

Sehari-hari ia menghidupi anak-istrinya dengan berjualan gorden keliling kampung sehingga ia dikenal sebagai ”Ayi Gorden”. Teman-teman sebayanya ada juga yang menjuluki ”Ayi Karbit” karena ketika kecil ia gemar membuat meriam bumbung bambu menggunakan bahan peledak karbit.

Yang membedakan Ayi dari pedagang gorden lainnya adalah ia memiliki minat baca tinggi. Dia melahap buku-buku yang menjadi minatnya. ”Setiap pagi saya selalu membaca walaupun hanya satu kalimat,” katanya.

Kegilaan membaca buku itulah yang mendorong Ayi mendirikan perpustakaan di desanya pada 20 April tahun lalu dan dinamakan Perpustakaan Sariwangi. Buku-buku ia peroleh dengan berbagai cara. Jika ke Bandung membeli bahan kain gorden, ia menyisihkan sebagian uang pembeli kain untuk dibelikan buku.

”Begitu keluar dari toko buku, label harga dilepas agar istri tidak tahu harga sebenarnya,” katanya. Agar tidak dimarahi, buku-buku yang harga sebenarnya Rp 50.000 misalnya, dikatakan dibeli dengan harga Rp 15.000.

Ayi juga memperoleh buku melalui sumbangan dari pemesan kain gorden, kadang secara barter. ”Saya tidak sayang menukar dengan kain gorden jika mengetahui pembeli kain gorden tersebut memiliki buku,” katanya.

Pemilik buku-buku tersebut biasanya tidak percaya begitu saja bahwa buku-buku tersebut untuk dibaca sendiri. Mungkin dan sangat boleh jadi karena Ayi Rohman hanya seorang tukang gorden keliling. Namun, setelah yakin bukan untuk dijual, akhirnya buku tersebut disumbangkan pemiliknya.

Mula-mula, buku-buku itu dijadikan koleksi taman bacaan di rumahnya yang sekaligus menjadi cikal bakal Perpustakaan Sariwangi. Sebagian besar pengunjungnya anak tetangga. ”Saya senang dan bahagia jika mereka ikut membaca,” katanya.

Waktu luang

Bangunan perpustakaan sebenarnya sangat tidak memadai. Bangunan semipermanen di sisi jalan raya Arjasari berukuran 2 x 3 meter itu sebelumnya kios pupuk milik kakaknya.

Ia membuat sendiri rak dengan bahan seadanya. ”Papan dan tripleks bekas ini pemberian pelanggan gorden yang sedang membangun rumah,” katanya.

Di bagian tengah ruang diletakkan meja berukuran sekitar 2 x 0,5 meter, persis meja makan di warung tegal yang hanya bisa menampung paling banyak 10 anak.

Untuk membiayai perpustakaannya, Ayi menetapkan iuran anggota Rp 2.000 per bulan. Tetapi, banyak yang tidak bersedia membayar. Akhirnya, untuk menghidupi perpustakaan Ayi harus menyisihkan dana dari biaya hidup atau hasil usahanya yang tidak seberapa.

Untuk menjaga perpustakaan, Ayi berusaha menyisihkan waktu luangnya. Jika berhalangan karena ada pesanan kain gorden atau mencari pemesan, tugasnya digantikan istri atau anak tertuanya.

Dengan koleksi yang sebagian besar buku dan majalah bekas, Sariwangi setiap hari dikunjungi rata-rata 20-30 orang yang sebagian besar anak-anak. Buku yang paling diminati adalah buku agama, disusul buku fiksi atau komik, ilmu terapan, dan paling rendah buku pelajaran.

Terancam tutup

Walaupun perpustakaan tersebut dikelola secara sederhana dan menempati ruangan serta fasilitas seadanya, Sariwangi telah meningkatkan minat baca masyarakat Desa Arjasari. April lalu perpustakaan ini terpilih sebagai Pengelola Perpustakaan Terbaik se-Kabupaten Bandung.

Ayi Rohman merasa bangga. Namun, dia sempat kelabakan untuk memenuhi undangan penyerahan hadiah dari Bupati Bandung karena tidak punya sepatu. Karena tak seorang pun tetangga dan saudara-saudaranya memiliki sepatu berukuran cocok untuk kakinya, akhirnya istrinya merelakan uang belanja Rp 100.000 untuk membeli sepatu.

”Kalau nanti memperoleh hadiah uang, pinjaman itu harus diganti,” kata istrinya. Namun, Bupati Bandung rupanya hanya memberi hadiah buku.

Impian pedagang gorden itu memang masih sangat jauh dari harapannya. Terutama jika dihubungkan dengan visinya, ”Melalui perpustakaan kita jadikan Desa Arjasari sebagai desa yang cerdas, sehat, dan mandiri”.

Dia hanya tercenung ketika teringat masalah yang tengah dihadapi. Ruang perpustakaan rencananya akan dijadikan kios bensin oleh pemiliknya.

”Saya tidak tahu harus pindah ke mana,” katanya bergumam.

*Her Suganda Anggota Forum Wartawan dan Penulis Jawa Barat

Sumber : Kompas, Senin, 5 Desember 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks