Jun 18, 2009

Anom Mertha : Kegundahan Seorang Perajin Batok Kelapa

Kegundahan Seorang Perajin Batok Kelapa
Oleh : Ayu Sulistyowati

Anom Mertha tampak gundah ketika duduk di kursi dari tempurung kelapa, hasil karyanya. Siang itu ia sedang menyaksikan hasil karyanya yang lain—juga dari batok kelapa—di ruang pamer miliknya di Jalan HOS Cokroaminoto 318, depan Masjid Ubung, Denpasar, Bali.

Dari wajahnya tersirat kekecewaan karena merasa keunikan karya seninya telah dimanipulasi oleh mitra bisnisnya dari luar negeri. Namun, Anom menjadikan pengalaman pahit itu sebagai pelajaran berharga yang terus diingat agar tidak lagi gegabah memercayai orang dalam berbisnis.

Kisah getir Anom berawal dari sebuah pertemuan tahun 1994, ketika ia mengikuti pameran hasil kerajinan di Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali bagian utara. Anom berkenalan dengan seorang pebisnis dari mancanegara yang mengaku tertarik dengan hasil karya Anom yang berbahan baku utama tempurung kelapa.

”Dia bilang karya saya berpeluang besar untuk pasaran Eropa. Wah, saya senang sekali saat itu dan mulai bermitra dengannya,” ujar Anom dengan serius. Dalam perjalanan kerja sama dengan mitra asing itu, usaha Anom memang menggeliat. Perusahaannya yang bernama Nusantara Indah mulai kebanjiran pesanan partai besar untuk ekspor, terutama ke Eropa.

Maka, dalam waktu tidak terlalu lama, usaha kerajinan Anom mampu melibatkan sedikitnya 200 tenaga kerja, sebagian besar perajin. Maklum saja, di puncak kejayaannya omzet transaksinya bisa mencapai Rp 400 juta per bulan. Setidaknya sekali dalam tiga bulan, barang kerajinan Anom terkirim ke luar negeri. Mulai dari yang berukuran kecil seperti pernik-pernik, peralatan dapur hingga meja, kursi, dan lemari. Ia juga melayani permintaan dalam negeri terutama dari perhotelan, umumnya untuk interior.

Harganya jelas mahal. Sebagai contoh satu set meja dan empat kursi batok kelapa, pada tahun 1990-an itu harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Namun, dimaklumi pula karena hasil kerajinan dari batok kelapa, proses pembuatannya tidak mudah, membutuhkan kesabaran ekstra dalam penyusunan dan proses pengeleman pecahan batoknya.

Dijiplak

Ternyata bulan madu dalam bisnis dengan mitra asing akhirnya berujung getir juga. Anom merasa ada kejanggalan dalam kemitraan selanjutnya. Barang kerajinan batok kelapa yang unik dan karena itu tidak gampang ditiru orang, hasil ciptaan atau karya Anom, hak patennya sudah dimanipulasi menjadi milik mitra asing tersebut.

Anom mengakui, penjiplakan hak paten tersebut baru diketahui setelah kemitraan mereka berlangsung selama sekitar lima tahun atau hingga akhir tahun 1990-an.

”Setelah tahu ditipu, saya langsung menghentikan kontrak kerja kami. Saya tidak mau lagi ditipu atau dibohongi. Semua kerajinan saya ternyata sudah lolos uji dan dipatenkan di luar negeri atas nama rekan bisnis asing itu,” ujarnya.

Dampak pemutusan kontrak kerja dengan mitra asingnya yang asal Eropa itu membuat omzet ekspornya langsung merosot. Akan tetapi, perubahan kondisi itu tidak menyurutkan tekad Anom untuk terus menekuni usahanya, meski terpaksa harus mengurangi tenaga kerjanya dari 200 orang hingga kini hanya tersisa tujuh orang. Keputusan pengurangan tenaga kerja itu seiring menurunnya omzet transaksi dari sekitar Rp 400 juta menjadi hanya rata-rata sekitar Rp 36 juta per bulan.

Kondisi ini diperparah lagi oleh krisis multidimensi tahun 1998, disusul dua kali teror bom di Bali, 12 Oktober 2002 dan 1 Oktober 2005. Namun, ia tetap yakin pada saatnya badai akan berlalu dan Bali (juga dirinya), bisa bangkit kembali.

Selain memulihkan usaha yang sedang lesu, ia juga harus memerangi penjiplakan hak cipta sebagaimana dilakukan mitra asing atas hasil karyanya.

Salah satu bentuk upayanya adalah tetap mencoba menerobos pasar Eropa. Dan juga, barang kerajinan produksinya tak lagi dengan merek jiplakan mitra asingnya, tetapi merek perusahaannya, Nusantara Indah.

Luar biasa

Anom Mertha yang hanya tamat SMP layak diposisikan sebagai luar biasa atas kiprahnya sebagai perajin batok kelapa yang begitu unik hingga sulit ditiru perajin lain.

Sesungguhnya kiprahnya sebagai perajin batok kelapa berawal dari kesukaannya mengoleksi barang-barang kerajinan sejak seusia muda. Lama-lama muncul rasa ingin tahu, bagaimana proses menghasilkannya. Ia bahkan pada tahun 1982 memimpikan dirinya sebagai perajin yang menghasilkan barang kesenian yang unik dan juga laku di pasar.

Bagi Anom, mimpi seperti itu bukanlah hal yang terlalu sulit untuk diwujudkan. Modal awalnya, ia memang memiliki kemahiran mengutak-atik elektronik. Kemahiran itu tentu dari minatnya ditambah kemauannya membaca berbagai buku yang berhubungan dengan elektronik tentang cara penggunaan, fungsi, sampai bagaimana memperbaikinya ketika rusak.

Minat dan kemahirannya mengutak-atik elektronik itulah yang dijadikan sebagai modal awal Anom ketika beralih menjadi perajin batok kelapa. Keuletannya ternyata membawa hasil. Meski awalnya ia meniru dari bentuk koleksinya, lama-lama karakter khas dirinya muncul, bahkan hasil karyanya begitu unik hingga sulit ditiru oleh perajin lain.

Seperti disebutkan, bahan baku utama barang kerajinannya adalah batok kelapa. Selebihnya adalah bahan pendukung, seperti berbagai jenis kayu, serbuk kayu, gelugu (pohon kelapa), plastik, dan kaca.

Melalui kreasinya, usaha kerajinan Anom telah menghasilkan berbagai jenis barang kesenian seperti peralatan dapur, daun jendela, daun pintu, sampai meja-kursi dan barang hiasan lainnya yang terbuat dari susunan pecahan batok kelapa dengan variasi warna dan corak.

Meski demikian, ayah tiga anak ini ternyata termasuk kelompok perajin yang tidak pernah puas dengan hasil karyanya. Ia terus bereksperimen, sambil berharap suatu saat hasil karyanya dengan hak paten atas namanya.

Sumber : Kompas, Rabu, 22 Maret 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks