Jun 28, 2009

Amaq Saebah : Wasik, Pengembang Pupuk Kompos yang Buta Huruf

Wasik, Pengembang Pupuk Kompos yang Buta Huruf
Oleh : Khaerul Anwar

TIDAK membaca aksara Latin alias buta huruf bukan halangan meraih prestasi bidang ilmu pengetahuan dan teknologi maupun kegiatan penelitian. Wasik alias Amaq Saebah (60 tahun) membuktikannya tanpa membaca teori dari buku-buku referensi. Hanya berbekal semangat dan ketekunan, dia mampu menyamai para dosen dan peneliti yang menggeluti bidang riset.

PUPUK kompos dengan formula khusus adalah produk riil kerja kreatif warga Dusun Pidendang, Desa Sepakek, Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah, sekitar 25 kilometer arah timur Mataram, ibu kota Nusa Tenggara Barat (NTB). Tenaga anggota dan Ketua Seksi Pemasaran Kelompok Tani Ternak Gerak Maju terkuras membersihkan kotoran ternak sapinya di kandang setiap hari.

Produk kotoran ternak yang menumpuk di "kandang kumpul" itu, dari 239 ekor milik 108 anggota kelompok, sebesar 2.935 kilogram (kg) atau rata- rata 15 kg tiap ekor per malam. Ampas perut ternak itu kemudian dibuang melalui saluran pembuangan. Air limbah perut ternak menyatu dengan air irigasi sawah penduduk.

Di sinilah persoalannya, pemilik lahan harus menutup saluran ke sawah agar air limbah yang bercampur dengan air irigasi tidak ke areal sawah. Jika air limbah itu masuk, membuat batang padi jadi gemuk, bulirnya kosong dan lambat laun tanaman itu jatuh. Begitu pun tanaman kedelai, "pendeknya, kalau kena air limbah kotoran ternak, tanaman padi dan kedelai jadi makanan ternak".

FENOMENA inilah yang membuat penasaran Wasik. Pikirannya, sederhana, kalau batang tanaman bisa gemuk, mengapa buahnya kosong. Pikiran itu dikaitkan dengan petuah kalangan orang tua di dusunnya. "Senugak pia’an Nenek le’ dunia ni, ndek arak jari kesie, selapuk ne berfaedah ojok mahluk hidup," ujarnya. Artinya: sumber daya alam yang merupakan karunia Ilahi, tidak satu pun menjadi sia-sia, melainkan sebagai berkah buat makhluk hidup.

Nasihat dipadukan dengan kebiasaan dan pengalaman empirik, seperti batang padi-setelah dibakar-oleh kalangan perempuan di desa, abunya digunakan untuk keramas. Demikian juga dengan ekstrak beragam jenis kayu dan kapur dijadikan bahan ramuan obat tradisional. Kebiasaan warga di kampung, ditambah logika sederhana bahwa seorang pakar pun mengawali kepakarannya dari belajar, menjadi pemicu Wasik mencari jawab atas fenomena yang dilihatnya kendati tidak sedikit persoalan yang menghadang.

Umpamanya, setelah kotoran sapi dicampur dengan bahan alami, lalat dan semut datang merubungi. Akhirnya, setelah tiga tahun (1997-2000) dalam proses "pencarian", Wasik mendapatkan formula yang pas. Untuk produk pupuk kompos siap pakai diperlukan proses pelapukan selama 35 hari. Formulanya berupa satu ton kotoran sapi dicampur dengan kapur 20 kg, serbuk gergaji 50 kg, dan abu sekam 100 kg.

Guna mempercepat proses pelapukan dipakai bahan campuran tertentu yang disebut stardek. Nyatanya, formula itu membuat pupuk kompos itu tidak lagi diganggu kawanan lalat dan semut. Wasik lalu membawa hasil racikannya itu untuk diteliti di Laboratorium Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi di Mataram.

Hasilnya, kandungan nutrisi pupuk kompos cukup banyak, dapat dijadikan pengganti pupuk kimia, produktivitas lebih banyak. Itu dibuktikan pada areal uji coba seluas 12 are miliknya, menghasilkan 7,5 kuintal gabah kering panen (GKP)-atau lebih tinggi daripada memakai pupuk SP3, 7 kuintal GKP. Memakai pupuk kompos, selain tanaman relatif tidak diganggu gulma, juga sehektar tanaman padi butuh 1,5 ton seharga Rp 350 per kg sehingga ada efisiensi biaya proses produksi.

Pantauan di bedengan saat pembibitan juga menunjukkan, dengan sistem tanam tandur jajar-menggunakan pupuk kompos-sebatang bibit padi berjarak tanam 20 sentimeter (cm) menghasilkan 28-30 batang anakan per tandan. Bila menggunakan pupuk kimia, berjarak tanam 8-10 cm, berisi sekitar 10 batang per tandan.

Tingkat produktivitas padi memakai pupuk kompos juga lebih tinggi. Tiap batang hanya lima bulir padi yang kosong bijinya, sedangkan menggunakan pupuk kimia (urea) ada 15 bulir padi per batang yang kosong bijinya. "Kalau beras yang menggunakan pupuk kimia, bijinya berdebu, agak kasar, dan buram. Sedangkan yang memakai pupuk kompos, biji beras halus dan berkilau," tutur Wasik tentang perbedaan mutu beras bila memakai pupuk kompos.

BERKAT temuan Wasik itu, banyak pihak beroleh manfaat. Kelompok Tani Ternaknya, misalnya, memiliki pemasukan, dari pesanan pupuk kompos dengan produksi rata-rata 20-25 ton sebulan, tercatat Rp 14 juta tahun 2002 dan Rp 24 juta tahun 2003 dana yang masuk ke kas kelompok. Uang itu antara lain dibagi buat anggota, membeli bahan-bahan baku, upah para anggota Rp 5.000 per orang saat pupuk dalam proses penggodokan, berikut sewa truk, uang rokok sopir yang mengangkut bahan baku pupuk kompos.

Pupuk kompos itu beredar di Pulau Lombok hingga Pulau Sumbawa, dipesan kelompok tani, kalangan hotel, dan sejumlah instansi. Bahkan awal tahun ini Wasik mendapat order dari perusahaan agroindustri di Desa Sembalun, Lombok Timur, sejumlah 250 ton, termasuk perusahaan tambang emas di Kabupaten Sumbawa Barat, Pulau Sumbawa. Kini 80 hektar sawah produktif milik petani di dusun itu memakai pupuk kompos untuk budi daya tanaman padi.

Karena perannya itu, Wasik termasuk 20 orang yang mendapat anugerah Teknologi Tepat Guna (TTG) tahun 2004 kategori pengembang dari Pemerintah Provinsi NTB. Hadiah berupa uang sebesar Rp 3.400.000 diterima ayah dua anak itu bertepatan Hari Jadi NTB pada 17 Desember 2004. "Saya tidak menyangka kalau dapet hadiah jutaan rupiah," ujar Wasik tentang jumlah uang yang dengan jujur dan lugu ia katakan bahwa "selama ini uang sebanyak itu cuma bisa didengarnya saja".

Lugu dalam penampilan dan berbicara ditunjukkan pada saat melakukan ekspos temuannya di hadapan panitia TTG di Kantor Bappeda NTB. "Mau tanya apa saja soal pupuk kompos silakan, asalkan Bapak jangan suruh saya baca dan nulis karena saya buta huruf, tidak pernah ’makan sekolahan’," ujarnya, berkelakar.

Walau buta aksara, Wasik acap kali menjadi pengajar sejumlah kelompok tani, menjadi tempat bertanya para mahasiswa dan dosen seputar pupuk kompos. Saat ini pun semangat untuk meneliti terus dilanjutkan. Wasik memantau kegunaan air kencing sapi yang mampu membunuh kutu (treset-istilah lokal) yang menyerang atau mengisap daun kacang panjang, kedelai, dan kacang tanah yang lambat laun menyebabkan kematian pada tanaman. Untuk membunuh serangga itu, air kencing sapi dicampur dengan bahan khusus, dan hasilnya serangga pengganggu itu tewas dalam tempo sehari. (KHAERUL ANWAR)

Sumber : Kompas, Sabtu, 30 April 2005

0 comments:

 
Powered By Blogger
Powered By Blogger
Powered By Blogger

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks