Jun 18, 2009

Allesandro Gomes de Reis : Mestre Cicatriz, Capoeira, Capoeira...

Mestre Cicatriz, Capoeira, Capoeira...
Oleh : Maria Hartiningsih

Sejak pertama mengenalnya, Alessandro Gomes de Reis (31) sudah jatuh cinta. "Dia" kemudian menjadi bagian hidupnya, bahkan "dia" adalah hidup itu sendiri. "Dia" adalah capoeira.

Capoeira memasuki hidupku bahkan sebelum aku lahir," ujar Alessandro, menekankan betapa sejarah hidupnya justru menjadi bagian dari sejarah capoeira.

Tentu ia tidak mampu mengingat jauh ke belakang dari masa-masa itu. Tetapi, sang ibu mengatakan kepadanya, bayi Alessandro menendang-nendang perut ibunya ketika sang ibu menonton kakak sang bayi melakukan roda, yakni formasi lingkaran yang dibentuk bersama-sama dan di tengahnya digunakan untuk bermain capoeira.

"Mungkin aku ikut menikmati irama atabaque (gendang capoeira) di perut Ibu," tutur pria kelahiran Campo Grande, Rio de Janeiro, Brasil, tahun 1974 itu dengan senyum tersungging.

Alessandro Gomes de Reis yang mempunyai nama capoeira Mestre Cicatriz itu ditemui beberapa waktu lalu di Jakarta untuk mendampingi murid-muridnya dari International Sinha Bahia de Capoeira yang tengah mempersiapkan The First Jakarta International Capoeira Festival (Capofest 2006) yang akan diselenggarakan di Plaza Semanggi pada 10-16 April 2006.

Kelompok capoeira yang didirikan oleh Mestre Cabeca dan yang ada di Indonesia sejak sekitar dua setengah tahun lalu itu bermarkas besar di Macae, Brasil, dengan Mestre Cicatriz sebagai Ketua Asia Pasifik.

Perjumpaan sosial

Capoeira, yang sering diidentikkan sebagai seni bela diri atau martial art dari Brasil, sebenarnya bukanlah jenis seni bela diri yang kasar dan mengutamakan kemenangan. Tetapi, capoeira juga bukanlah tarian yang sederhana.

Lebih dari itu semua, capoeira memberikan tantangan fisik, psikologis, filsafat diri, dan perjumpaan sosial dari berbagai kelas sosial dalam masyarakat. "Apa yang diajarkan kalau dilakukan dengan kehendak baik, sangat berguna dalam segala aspek kehidupan," lanjut Alessandro.

Dengan kata lain, roda sebenarnya merupakan simbol dari "dunia besar" manusia: kehidupan. Seperti sekolah formal, di dalam capoeira orang belajar menghargai sesama manusia dan belajar membangun hubungan-hubungan yang jujur, tulus, dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan diri sendiri.

"Di dalam capoeira kita adalah keluarga, suatu masyarakat di luar mainstream di mana kita berada. Aspek sosial, kebersatuan secara sosial itu sangat mengagumkan dan akan selalu dihargai dalam capoeira," lanjut Alessandro.

Tak pernah cukup

Alessandro Gomes de Reis itu mulai belajar capoeira kala berusia delapan tahun dari Mestre Lotar. Dia mendapat gelar mestre, yang artinya ’guru’, setelah sekitar 15 tahun menekuni bentuk seni itu—menjadi salah seorang mestre termuda. Nama julukannya Cicatriz berarti ’codet’ atau ’parut’, merujuk pada bekas luka yang menoreh dadanya.

Bekas luka itu didapatnya pada ujung masa kanak-kanaknya, kala berjuang mempertahankan sepeda pemberian ayahnya dari orang yang akan merampasnya di jalanan Rio. Pemberian nama julukan itu membuat dia menerima bekas luka yang tadinya dianggapnya memalukan, menjadi sesuatu yang menjadi cirinya. Dan memang itu memperlihatkan salah satu sifatnya, yang akan berjuang habis-habisan membela miliknya, keluarga sedarahnya maupun keluarga capoeira-nya.

Salah satu cirinya yang dikenal para muridnya dari International Sinha Bahia de Capoeira adalah bahwa dia selalu menekankan agar memberi kesempatan sekali lagi kepada orang yang melakukan kesalahan, terutama kepada para muridnya.

"Orang melakukan kesalahan. Kita harus memberi mereka satu kesempatan lagi untuk memperbaiki keadaan," begitu dia kerap berucap menurut para muridnya. Namun, bila kesempatan yang diberikan itu juga disia-siakan, jangan harap akan ada lagi kata maaf.

Selama bertahun-tahun ia melakukan perjalanan jauh; ke Paraguay, Argentina, Venezuela, Cile, Amerika Serikat, Jepang, dan akhirnya bermukim sejak lebih lima tahun lalu di Australia. Bentuk kesenian itu lalu dibawanya ke Indonesia dan ke Thailand, dengan jumlah murid telah ratusan orang. "Keinginan saya memang memperkenalkan bentuk seni capoeira ini ke berbagai penjuru dunia," katanya.

Walau telah mempunyai gelar mestre, baginya tidak ada istilah selesai belajar capoeira karena seni ini selalu berubah, berkembang sesuai dengan zaman. Karena itulah, mestre yang tinggal di Sydney, Australia, itu merasa harus menyempatkan diri untuk pulang ke Brasil tiap tahunnya untuk mengikuti perkembangan bentuk seni itu di tanah kelahiran dan pusat capoeira itu.

"Capoeira tidak seperti lukisan yang bisa diselesaikan, lalu digantung di dinding untuk dinikmati. Capoeira adalah seni yang senantiasa harus dipelajari kembali dan disentuh secara terus-menerus, dan waktu tak pernah terasa cukup untuk menyempurnakannya," papar Alessandro.

Ia mempelajari semua itu dari guru-gurunya, dan ia masih terus menjaga hubungan dekat dengan mereka. "Dukungan mereka sangat membantu dan memberikan bimbingan yang terus-menerus. Aku menjadikan mereka sebagai sosok ayah dalam hidupku," lanjutnya. Hal yang sama ia lakukan kepada murid-muridnya.

Alessandro Gomes de Reis atau Mestre Cicatriz terus melakukan perjalanan untuk menguatkan dasar eksistensi capoeira yang terintegrasi dalam budaya dunia.

Seperti dikatakannya, "Inilah hidupku, pekerjaanku, duniaku, energiku, dan aku. Semuanya ada di dalam satu kata: capoeira."

Sumber : Kompas, Sabtu, 8 April 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks