Jun 18, 2009

Judi Knight Achjadi : Judi Achjadi dan Kain-kain Adati

Judi Achjadi dan Kain-kain Adati
Oleh : Mulyawan Karim

Helai-helai kain hinggi itu tak cuma dibentang, dipandang, dan diraba untuk dikaji ragam hias dan teknik pembuatannya. Untuk mengetahui jenis pewarna dan jumlah serat benangnya, kain-kain tenun Sumba itu pun diteropong dengan kaca pembesar. Sebagian bahkan dicium untuk mengidentifikasi jenis benang yang dipakai.

Begitulah antara lain yang dilakukan Judi Knight- Achjadi di hari-hari menjelang pameran kain tenun Sumba di Bentara Budaya Jakarta, yang rencananya akan diresmikan Jumat (7/4/2006) malam ini. Dalam kegiatan pemeran berjudul ”Heavenly Cloths of Sumba” itu, Judi (71) berperan sebagai kurator yang bertugas menyeleksi dan menulis keterangan bagi setiap helai kain yang akan dipertontonkan.

Menjadi kurator pameran kain tradisional Indonesia bukan pertama dilakukan Judi. Ia sudah pernah melakukannya untuk sejumlah pameran lain, termasuk pameran koleksi kain Wastraprema dalam rangka peringatan 25 tahun perhimpunan pencinta kain adati Indonesia itu di Museum Tekstil Jakarta, tahun 2001.

Tahun lalu, bersama kurator lain, ia juga ikut menyiapkan pameran tentang pengaruh China dalam busana dan tekstil tradisional Indonesia yang diselenggarakan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata di Museum Nasional.

Pada tahun 1999, perempuan berdarah Kanada ini bahkan dipercaya menjadi kurator Museum Tekstil Jakarta, yang memperoleh sebagian koleksi awalnya dari perkumpulan Wastraprema, yang antara lain dimotori oleh para kolektor kain terkemuka, seperti Jo Seda dan Herawati Diah.

Meski selalu menolak disebut ahli, keluasan dan kedalaman pengetahuan Judi soal kain adati Indonesia tak bisa diragukan. Ia bisa bicara panjang-lebar dan penuh semangat tentang kain dan busana adat dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari kain ulos Batak, baju kurung Minangkabau, songket Palembang, kain kebaya Jawa, sampai macam-macam kain tenun dari kawasan Indonesia timur, termasuk Sumba.

Buku

Di kalangan kolektor, peneliti, dan pencinta wastra (kain) tradisional Indonesia, nama Judi Achjadi tak asing lagi. Sudah puluhan tahun istri Achjadi, pensiunan diplomat Departemen Luar Negeri RI itu berkecimpung di dunia busana dan kain adati Nusantara.

Berkat ketekunannya meneliti dan membuat catatan, Judi sudah menghasilkan tak kurang dari 11 buku, baik yang sepenuhnya ditulis sendiri maupun yang digarap bersama para penulis lain. Hampir semua berbicara tentang kain dan busana tradisional Indonesia. Buku-bukunya, antara lain, Indonesia’s Arts & Crafts (1982), Batik: Spirit of Indonesia (1999), dan Butterflies and Phoenixes: Chinese Influence in Indonesia’s Textile Arts (2005).

Apa yang membuat Judi heran, tak banyak orang Indonesia yang berminat mempelajari dan menulis tentang kain adat dan busana tradisionalnya.

”Sejak saya menulis buku tentang busana tradisional perempuan Indonesia pada 1970-an, rasanya tak ada lagi orang lain yang melakukannya,” kata Judi menunjuk buku pertamanya, Traditional Indonesian Women’s Costumes, yang terbit pertama kali pada 1976. Menurut Judi, buku itu, yang sudah dua kali dicetak ulang, sampai kini masih digunakan sebagai buku pelajaran di beberapa sekolah di Kanada.

Judi, yang kelahiran Montreal tahun 1935, mengaku sejak kecil sudah senang pada berbagai kebudayaan tradisional. ”Saya mewarisi kesenangan ibu saya pada antropologi, arkeologi, dan sejarah,” kisahnya. Ia juga mengaku, saat remaja sempat bercita-cita menjadi seorang antropolog yang melakukan penelitian di negeri-negeri asing nan jauh.

Akan tetapi, Judi baru jatuh hati pada Indonesia, khususnya pada pakaian dan kain tradisionalnya, setelah ia mulai tinggal di Indonesia tahun 1958. Ketika itu ia mengikuti suami, Achjadi, seorang diplomat muda Indonesia di Kanada, yang menikahinya. Judi kemudian sempat mendampingi sang suami yang ditempatkan di berbagai negara, termasuk Vatikan.

Ingin berkebaya

Menurut Judi, ketika baru tinggal di Jakarta, sebagai perempuan muda ia ingin berpakaian seperti perempuan Indonesia umumnya. Ia pun mencoba memakai kain kebaya, yang waktu itu masih sangat umum dipakai. ”Tapi, mengenakan kebaya ternyata tak sesederhana yang saya bayangkan sebelumnya. Meski ada yang memuji, tapi ada pula yang menunjukkan kesalahan saya, dalam memilih dan cara memakai kain, misalnya,” kata Judi yang sudah jadi WNI sejak tahun 1959.

Judi, yang kini sudah jadi ibu tiga anak dan nenek lima cucu, mengatakan, pengalaman inilah yang membangkitkan minatnya mempelajari berbagai tradisi berbusana di Indonesia. Meski tak pernah belajar antropologi secara formal, sejak itu Judi mengaku rajin mengumpulkan informasi dan mencatat semua hal yang terkait dengan tradisi berbusana di berbagai daerah di Indonesia.

Ia juga secara khusus mendalami pengetahuan tentang berbagai kain tenun tradisional Nusantara. Ia kerap pergi ke berbagai daerah untuk menimba ilmu langsung dari para penenun di desa-desa.

Indonesia adalah negeri yang sangat kaya dengan tradisi kain tenun, katanya. Kain tenun dari setiap daerah memiliki keindahan tersendiri. Ia sangat menyayangkan banyak orang Indonesia yang tak lagi menghargai, apalagi memakainya.

Saat meneliti kain, Judi selalu menciumnya lebih dulu.

”Saya kebetulan alergi terhadap benang pintal tangan yang kasar. Dengan mencium sehelai kain saya bisa segera tahu jenis benang apa yang dipakai, benang pabrik atau benang yang dipintal dengan tangan,” katanya di sela-sela kesibukannya menyiapkan pameran di Bentara Budaya Jakarta.

Sumber : Kompas, Jumat, 7 April 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks