Jun 28, 2009

Adiya Sukmana, Kecemasan Seorang Penyuluh Tua

Adiya Sukmana, Kecemasan Seorang Penyuluh Tua
Oleh : Y09

ADIYA Sukmana (66) dikenal sebagai tukang to’ong, alias tukang intip atau mata-mata. Dengan uang sendiri, ia mata-matai petani demi kesejahteraan petani. Ia mendatangi lahan-lahan pertanian di kota lain untuk melihat apa saja yang mereka tanam.

IA juga membaca majalah dan koran soal pertanian serta memantau harga produksi pertanian. Dengan itu ia bisa memutuskan tanaman apa yang bisa ditanam petani di lingkungannya agar mereka tidak rugi.

"Jika petani di Garut sudah banyak menanam tomat, petani Sumedang jangan menanamnya agar produksi tidak berlimpah dan menyebabkan harga jual anjlok," kata Adiya.

Karena usia, sudah dua tahun Adiya tidak lagi menjalankan hobinya sebagai tukang mengintip. Lelaki bertubuh tinggi dan kurus ini lebih banyak tinggal di rumahnya.

Beberapa jenis bibit jeruk menutupi tanah pekarangannya. Ada juga jati emas dan jamu alas. Ia masih memiliki sekitar 10.400 meter persegi lahan lain yang ia tanami bibit jamu alas.

"Bibit ini saya berikan secara gratis. Harga buahnya per kilogram mencapai Rp 15.000. Peluang ekspornya masih besar," kata Adiya yang bersedia mengajari cara menanam pohon yang buahnya dijadikan bahan jamu ini agar tumbuh bagus. "Sayang, tubuh saya hanya mampu membibitkannya, tapi tidak kuat lagi membagi-bagikan kepada petani," tuturnya.

ADITYA adalah orang pertama yang mengembangkan budidaya cengkeh, nanas, dan ikan mas di Kabupaten Subang. Semua berkat hobinya mengamati kehidupan petani dan lahan pertaniannya.

Ia lahir di Cimalaka, Kabupaten Sumedang, sebuah desa yang sudah dikenal hasil pertaniannya sejak ia masih kecil. Setelah lulus sekolah rakyat di desanya, anak ketiga dari lima bersaudara pedagang kain batik ini belajar di Sekolah Guru B (SGB). Baru satu tahun belajar, Adiya menyerah dan pindah ke sekolah pertanian di Cimalaka.

Ia hanya menyelesaikan pendidikan selama tiga bulan karena gurunya memintanya langsung ikut ujian akhir bersama murid kelas empat. Dari 40 siswa sekolah pertanian, hanya Adiya yang lulus.

Adiya lulus tahun 1955 dan langsung ditugaskan oleh Departemen Pertanian Pusat untuk mengembangkan pertanian di Purwokerto, Jawa Tengah. Baru tinggal sebulan, Adiya memutuskan pulang ke Sumedang karena tidak bisa mengerti bahasa masyarakat setempat.

Ia memilih usaha membibitkan jeruk sambil berdagang kain ke Subang. "Di kota itu saya lihat ada perkebunan cengkeh bekas Belanda. Tidak banyak orang menanamnya, padahal harga cengkeh per kilogram saat itu sangat menggiurkan, melebihi harga mobil Chevrolet," ujarnya. Harga satu kilogram cengkeh mencapai Rp 48.000, padahal harga satu mobil Chevrolet baru pada tahun 1955 masih Rp 40.000.

Keuntungan berdagang kain ia belikan biji cengkeh seharga Rp 1 per biji sebanyak 2.000 biji. Ia membibitkan cengkeh selama tiga bulan dan menjualnya Rp 100. "Hasilnya, saya membeli lahan satu hektar di Subang dan sebuah mobil," kata Adiya.

Ia juga membudidayakan nanas liar yang banyak tumbuh di Subang. Budidaya nanas berhasil, apalagi setelah didirikan pabrik pengalengan buah.

Karena selalu membagikan ilmunya kepada para petani, ia dianggap sebagai ahli pertanian. Pada tahun 1958 mereka bertanya apalagi yang bisa dikembangkan di Subang. Adiya mengusulkan untuk membudidayakan ikan mas di daerah Jalan Cagak, Subang.

"Kalau saya melewati daerah itu lagi, yang tersisa hanya rasa haru. Tidak terbayang apa yang saya awali akan terus bertahan hingga kini," kata ayah delapan anak ini, tujuh anaknya merupakan anak asuh. Salah satu anak asuhnya meneruskan pekerjaannya di bidang pembibitan.

ADITYA menetap di Subang dari 1957 hingga 1962. Kini, lahan pertaniannya dikelola oleh adiknya. Ia kembali lagi ke Sumedang.

Melihat pesatnya pembangunan fisik di berbagai daerah, ia meramalkan lahan pertanian akan semakin sempit. Tahun 1981 ia mengembangkan tanaman "haberda" alias hasil berganda, berupa tomat dan kentang.

"Masa tanam keduanya sama sehingga petani bisa memanen tomat dan kentang sekaligus. Pupuk tidak perlu dobel karena dengan sekali memupuk tomat, kentang yang tumbuh di dalam tanah bisa ikut mendapatkannya," ujar Adiya. Lahan dan pupuk dihemat, tetapi hasilnya bisa berganda.

"Berkali-kali saya laporkan hasil percobaan itu kepada pemerintah setempat, tapi tidak direspons," kisah Adiya.

Akhirnya ia nekat menghadap presiden, waktu itu Soeharto, hanya dengan bekal surat dari kepala desa. Ia datang ke Istana Negara di Jakarta sambil membawa contoh dan makalah ilmiah tentang tanaman "haberda".

Ia bertemu presiden selama lima menit. Seminggu kemudian petugas istana datang dan memintanya mengembangkan percobaan itu. Sejak itu, ia sering berkeliling Indonesia sebagai pembimbing petani.

Kesempatan itu ia pakai untuk terus melihat peluang mengembangkan pertanian. Hasilnya, ia mengembangkan vanili di Lampung pada tahun 1980-an. Harga satu kilogram vanili mencapai Rp 2 juta. Sayang, tanaman ini sering dicuri. Karena tak dapat mengatasi pencurian, pertanian vanili tidak berhasil.

Adiya juga mengamati sebatang pohon sawo yang tumbuh di dekat sumur di sebuah daerah di Sumedang. Air sumur tak pernah surut meskipun di musim kemarau panjang. Setelah mencari informasi dari berbagai media, ia mengetahui bahwa pohon bergetah putih seperti sawo mampu menyimpan air saat musim hujan dan mengeluarkannya saat kemarau.

Sawo itu ia tanam di lahan miliknya di Desa Marga Cinta, Sumedang Selatan. Beberapa tahun lalu wilayah yang luasnya sekitar empat hektar dengan kemiringan 45 derajat itu longsor. Hampir semua rumah di desa itu rusak.

"Sebagian besar lahan di sana dimiliki orang kota yang tidak tahu bagaimana mengurus tanah," kata Adiya yang langsung membeli satu hektar tanah di daerah yang sudah rusak itu.

Selain ditanami sawo, lahan tersebut juga dia tanami rambutan, durian, pisang, dan nangka. Pepohonan itu menghasilkan buah, menghijaukan alam, dan mampu mencegah longsor.

Kini di masa tua Adiya khawatir melihat kehidupan petani Indonesia yang belum bisa mengembangkan pertanian sebagai usaha tani, bukan sekadar bertani. (Y09)

Sumber : Kompas, Kamis, 19 Mei 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks