Jun 16, 2009

Achmad Ibrahim, Impian Kapal Kargo

Achmad Ibrahim, Impian Kapal Kargo
Oleh : Ferry Santoso

Sebagian besar tamu yang datang ke tempat peresmian kapal Systemindo satu per satu disalami Achmad Ibrahim (50), pemilik kapal tersebut. Bagi Achmad, yang terpenting pada Sabtu (1/7/2006) lalu bukan hanya peresmian pengoperasian kapal, tetapi mensyukuri atas kepemilikan kapal kargo bekas yang baru dibeli senilai Rp 25 miliar.

Meskipun bekas, fungsi kapal kargo berkapasitas 300 peti kemas ukuran 20 kaki (twenty foot equivalent unit/teus) itu tidak kecil. Tanggal 7 Juli 2006, kapal kargo itu dioperasikan untuk perdagangan antarpulau, khususnya Batam-Jakarta, dan sebaliknya.

Selama ini, distribusi barang antarpulau selalu menjadi masalah karena keterbatasan kapal atau transportasi laut. Jika ada, kapal-kapal pun masih didominasi oleh kapal-kapal berbendera asing.

Perjalanan Achmad memiliki kapal sendiri dan berbisnis di bidang transportasi laut bukan waktu yang pendek dan mudah. Pada mulanya, tahun 1991, ia memulai usaha dengan memodifikasi peti kemas menjadi ruangan kantor (portable cabin). "Pada awal usaha itu, modal saya baru Rp 25 juta untuk membeli peti kemas bekas dan peralatan," tuturnya.

Peluang bisnis peti kemas itu sudah tercium saat kondisi ekonomi di Batam "naik daun" tahun 1989-1990. Saat itu, banyak peti kemas impor yang dibawa kapal-kapal asing masuk ke Batam.

Peluang itu dimanfaatkan dengan menyediakan jasa pembersihan dan perawatan peti kemas di Batam. Achmad yang juga pemilik perusahaan keluarga PT Systemindo Container Persada pernah mendapat pesanan (order) perawatan peti kemas sebanyak 1.200 peti kemas per bulan dari perusahaan pelayaran Hanjin.

Selain itu, Achmad juga mencari akses ke perusahaan-perusahaan untuk menggunakan peti kemas kosong itu untuk keperluan ekspor. Dengan adanya akses ke perusahaan-perusahaan itu, ia juga menyediakan transportasi darat untuk pengangkutan peti kemas dengan berbekal dua truk pengangkut peti kemas.

Akan tetapi, tahun 1998, bisnis peti kemas, termasuk usaha lain, merosot saat terjadi krisis ekonomi. Saat itu, impor barang-barang—yang sebelumnya cukup besar dan menjadi andalan usaha peti kemas—di Batam pun anjlok.

Saat itu, Achmad mulai memikirkan untuk mencari pasokan barang-barang dari dalam negeri. Jaringan bisnis antara pemasok dan pembeli mulai dicari. Ia hanya memfasilitasi pengiriman barang melalui jasa pengangkutan laut. Barang-barang yang dikirim berupa barang kebutuhan pokok, makanan, seperti mi instan, barang-barang kebutuhan rumah tangga, termasuk sepeda motor.

Untuk mengantar barang ke tempat tujuan, seperti dari Jakarta ke Batam, sebelumnya ia hanya menyewa ruang (space) kapal, khususnya dari kapal Jakarta Lloyd dan Samudra Indonesia. Sampai tahun 2003, usaha tersebut terus ditekuni. Barang-barang yang dibawa mencapai 100 peti kemas per minggu.

Dukungan perbankan

Dalam perjalanan bisnisnya, upaya untuk memiliki kapal terus dilakukan untuk melayani sekitar 40 pelanggan setia. Upaya itu dilakukan dengan mencari dukungan perbankan.

Akhirnya, dengan bendera PT Systemindo Container Persada yang dimilikinya, ia berhasil meyakinkan pihak perbankan dalam bisnis transportasi laut yang digeluti. Bantuan dana dari Bank Syariah Mandiri di Batam pun cair untuk membeli kapal bekas senilai Rp 25 miliar, dengan cara bagi hasil selama lima tahun. Bantuan dana dari Bank Syariah Mandiri sebesar 80 persen dari nilai pembelian kapal tersebut.

"Saat ini, saya baru bisa membeli kapal bekas. Meskipun demikian, saya yakin saya dapat mengelola dengan baik untuk melayani perdagangan antarpulau," tutur Achmad.

Dengan kapal Systemindo yang dimilikinya, diharapkan bahan-bahan kebutuhan pokok dari daerah produsen, seperti di Jawa, dapat didistribusi lebih cepat dan lancar ke daerah yang membutuhkan. Perdagangan antarpulau seperti itu menjadi sangat penting agar tidak terjadi ketimpangan pasokan dan stabilitas harga yang tinggi di daerah produsen dan daerah yang membutuhkan.

Distribusi atau perdagangan antarpulau itu juga semakin penting mengingat kecenderungan pemerintah mengurangi impor, khususnya komoditas pertanian, seperti gula, beras, dan buah-buahan. Bagaimana harus tetap diupayakan menjamin ketersediaan barang di daerah yang membutuhkan dengan harga yang terjangkau dan waktu yang tepat sehingga ketergantungan impor pun sedikit-sedikit dapat dikurangi.

Untuk itu, Achmad juga mengharapkan dukungan dari pemasok atau produsen untuk mau mendistribusikan atau memasarkan produk ke daerah-daerah yang membutuhkan.

Untuk mendukung perdagangan antarpulau, kapal-kapal lokal atau berbendera Indonesia pun menjadi suatu tuntutan yang harus cepat dilaksanakan. Upaya itu telah dimulai Achmad di Batam. Ia mengakui, kapal yang dimilikinya merupakan kapal lokal pertama yang terdaftar di Syahbandar Pelabuhan Pertamina, Batam.

Pada akhir sambutan saat peresmian pengoperasian kapal itu, Achmad sempat melontarkan pendapat. "Kita tidak akan mundur selangkah pun dalam menghadapi angkutan laut," ujarnya.

Mudahan-mudahan saja, transportasi laut terus dapat dikembangkan oleh pelaku-pelaku usaha di kemudian hari. Dengan demikian, perdagangan antarpulau dan pemberdayaan industri pelayaran dapat terus bergairah.

Sumber : Kompas, Sabtu, 8 Juli 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks