Jun 19, 2009

Achmad Hadi Winata, Ketekunan Loper Koran

Achmad Hadi Winata, Ketekunan Loper Koran
Oleh : D09

Di antara deretan motor dan sepeda yang berjajar rapi di depan halaman parkir sebelah timur Sungai Cikapundung, Kota Bandung, tempat yang lebih dikenal sebagai bursa koran Cikapundung, ikut diparkir sebuah sepeda kumbang yang berusia sekitar lima puluh tahun.

Usia sepeda kumbang ini sama tua dengan jam terbang si empunya, yaitu Achmad Hadi Winata (76), seorang loper koran yang masih setia menekuni pekerjaannya hingga kini selama 56 tahun. Pak Achmad, begitu biasa dia dipanggil, adalah satu dari segelintir loper berusia senja yang masih bertahan mengantarkan koran kepada para pelanggan. Rambut dan janggut yang sudah memutih berikut keriput di paras tidak menghalangi niatnya untuk tetap bekerja.

Seperti pada hari Kamis (2/2/2006) pagi, dengan mengenakan kaus putih berbalut sweater abu-abu, Achmad menuntun sepedanya melintasi Jalan Banceuy yang ramai dengan lalu lalang kendaraan bermotor. Dengan sabar dia tunggu jalan itu sampai sepi, sebelum menyeberang. ”Waktu dulu se-Kota Bandung bisa saya kelilingi, tapi sekarang tidak lagi,” tuturnya sambil tertawa ringan.

Suami dari Wiyanan Partawirya (66) ini pertama kali bekerja sebagai loper tahun 1950, atau di awal terbitnya koran Pikiran Rakyat. Saat itu usianya baru 20 tahun dan sudah bisa menghasilkan uang Rp 100 dalam sebulan. Selain sebagai loper, dia pun berperan ganda sebagai agen Pikiran Rakyat.

Sebagai agen, sekitar tahun 1960, Achmad mempekerjakan lebih kurang sepuluh anak usia sekolah menengah pertama untuk menjadi loper. ”Biasanya, setelah mereka tamat sekolah, pekerjaan itu diteruskan adik-adiknya,” ujar Achmad yang merasa puas bisa membantu mencarikan biaya sekolah anak-anak itu meski secara tidak langsung.

Achmad mengatakan, sewaktu masih muda dan tubuhnya masih segar, ada sekitar 300 eksemplar koran yang bisa dia edarkan. Bahkan, jumlah pelanggannya pernah mencapai 5.000 ketika lelaki yang memiliki enam anak itu berada di puncak bisnis loper koran.

”Itu karena dulu loper masih sedikit dan yang langganan koran masih banyak. Kalau sekarang, loper banyak, tapi pembeli lebih suka beli eceran,” papar Achmad.

Ujung tombak

Menjadi loper bagi Achmad adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Menurut dia, loper merupakan ujung tombak dari sebuah media penerbitan. Selain itu, bekerja sebagai loper ibaratnya mendirikan perusahaan dari nol. Kami, kata Achmad, bekerja mati-matian menyebarkan koran kepada pelanggan. Dalam bekerja, Achmad selalu menanggapi sesuatu yang terjadi dengan sabar dan tekun. Tak jarang pelanggan marah-marah karena koran terlambat diantar atau basah karena hujan.

”Biarkan saja dia marah. Sebab, kalau dilawan, pelanggan bisa hilang dan pindah loper,” kenang Achmad dengan tersenyum.

Sayangnya, kesejahteraan loper dari tahun ke tahun jarang diperhatikan penerbit. Saat ini tidak ada lagi insentif yang merangsang loper untuk giat bekerja.

Ini termasuk upah yang diterima para loper sekarang. Pendapatannya sebulan, ujar Achmad, tak lagi mencukupi kebutuhan setiap hari. ”Dulu, dengan upah Rp 150, loper sudah bisa menyekolahkan anak dan menghidupi keluarga, tapi kalau sekarang payah,” keluh Achmad.

Memanfaatkan waktu

Achmad yang lahir di Kota Kembang 76 tahun lalu mengakui, pekerjaan sebagai loper koran saat ini adalah untuk mengisi hari-hari tuanya dengan kegiatan yang lebih bermanfaat, terutama bagi kesehatannya. Sebab, beberapa tahun lalu, dia pernah dirawat di Rumah Sakit Borromeus karena penyakit asma.

”Setelah dirawat selama beberapa hari di rumah sakit, dokter menyarankan agar saya memperbanyak olahraga, terutama jalan-jalan pagi. Kesempatan itu pun saya manfaatkan untuk meloper kembali. Daripada jalan-jalan tidak menghasilkan, lebih baik saya mengantarkan koran di dekat-dekat rumah saja,” cerita Achmad.

Contohnya adalah pagi itu, Achmad mengantarkan koran kepada pelanggannya di kawasan Banceuy. Pelanggan terjauh yang harus didatangi adalah di daerah Tegallega, sekitar dua kilometer dari rumahnya di Gang H Fahruroji di belakang Pasar Baru, Bandung.

Uang Rp 350.000 yang didapat Achmad dari jerih payahnya mengantarkan 35 eksemplar koran setiap hari saat ini hanya digunakan untuk biaya hidup bersama istri. Tujuannya adalah untuk menghindari minta biaya hidup kepada anak. ”Yah..., kadang-kadang juga bisa untuk kasih uang jajan ke cucu,” ujar Achmad yang sudah memiliki lima cucu.

Esok, lusa, dan hari-hari berikutnya Achmad pasti akan datang lagi ke Cikapundung. Dia akan bergumul dengan loper lain mengepak koran ke dalam tas, lalu dengan setia mengantarkan ke depan pintu tiap pelanggannya. (D09)

Sumber : Kompas, Kamis, 9 Februari 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks