Jun 18, 2009

Abu Bakar, Pelestari Seni Sakeco

Abu Bakar, Pelestari Seni Sakeco
OLeh : Khaerul Anwar

"…Pang dalam bulan Desember tanggal 26 ano Senan pang jam 8, tau Atje tasiai kena ling musiba gempa, ai rango liwat batas kirada 10 meter, pemanjang mara lolo njir, umak bagulung maraba lantar bale, bueruru nomonda tu bela dengan masing2 bela diri, bawa diri lako tingi, ianange nonda kuasa, tenris molalo kamelar tolako bawa ling aris…".

Kalimat-kalimat berbahasa Samawa itu disenandungkan oleh Abu Bakar (56) dan Adnan (50), keduanya seniman Sakeco, yang mengisahkan peristiwa gempa dan tsunami di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Terjemahannya begini, "Hari Senin 26 Desember, orang Aceh mendapat musibah air banjir berketinggian 10 meter, setinggi pohon kelapa, gelombang pasang bergulung-gulung, menghantam semua yang ada di desa maupun di kota. Semua orang menyelamatkan diri, berlari ke tempat yang lebih tinggi. Ada pula yang berenang, walau ada yang tidak berdaya dibawa arus dan tewas".

"Saya tidak pernah ke sana, tetapi melihat di televisi bagaimana kejadiannya. Peristiwa itu lalu saya tulis dan bersama Adnan saya ceritakan kembali kepada orang banyak," papar Abu Bakar, warga Kampung Menala RT 1, RW 7, Kecamatan Taliwang, Kabupaten Sumbawa Barat, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Hebatnya lagi, seakan menjadi saksi mata, keduanya bersahut-sahutan dengan irama dinamis (cepat-lambat, tinggi-rendah), menceritakan detail-detail musibah itu, termasuk bagaimana susahnya petugas memilah mayat di bawah reruntuhan rumah dan tumpukan sampah, yang digambarkan dalam kalimat, "Ya tupili siong miri, tu tompoh siong roro" (Yang dipilih mayat, bukan memilih buah kemiri, ditumpuk bukan sampah).

Dua pemain

Seni Sakeco mirip dengan seni Madihin di Kalimantan Selatan. Seni ini melibatkan dua pemain sebagai penutur sekaligus memainkan rebana sebagai musik pengiring, yang ditabuh saat penutur menyelesaikan satu alinea cerita kemudian dilanjutkan cerita ke bait berikutnya.

Abu Bakar mengaku tidak tahu asal-usul kesenian ini. Yang dia ingat, ayahnya juga seniman Sakeco. Selain menghibur, seni ini juga berisi nasihat hidup dan dahulu dipakai untuk alat perjuangan.

Kesenian ini populer bagi etnis Samawa di Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat, Sumbawa, dan biasanya ditampilkan pada acara hajatan warga seperti pernikahan, khitanan, dan sejenisnya.

Cerita disampaikan dalam bentuk balada, temanya menyangkut kisah nyata pergaulan muda-mudi, kasus pembunuhan, fenomena sosial, pemilihan kepala daerah, kawin lari, kasus pembunuhan, dan cerita lain yang menarik diketahui masyarakat.

Sayangnya, banjir yang melanda Kecamatan Taliwang tahun 2000 membuat ratusan karya Abu Bakar yang dia tulis dan dia simpan dalam dua kardus besar ikut hanyut. Kebetulan tempat Abu Bakar berada di tepi Sungai Brang Rea.

Abu Bakar bertindak selaku penyusun cerita dari berbagai peristiwa sehari-hari, mengolahnya menjadi pertunjukan, dan menyampaikannya kepada khalayak. Cerita Sakeco umumnya terdiri atas pembuka (samula) yang berisi ucapan selamat datang dan terima kasih kepada penonton. Kemudian disusul ringkasan kisah yang akan diceritakan, selanjutnya bagian inti cerita (isi sakeco), dan terakhir racik atau penutup yang biasanya berupa cerita jenaka.

Akhir cerita bisa bahagia, sedih, atau tragedi seperti kisah kawin lari (merari) yang oleh masyarakat setempat dinilai tabu, bahkan acap mengundang konflik horizontal. Pertunjukan Sakeco duet Abu-Adnan umumnya berlangsung malam hari, dan Abu-Adnan tahan duduk dan tetap prima pukul 21.00-pukul 04.00. Di tengah pertunjukan biasanya ada waktu istirahat untuk makan dan minum. Seusai pertunjukan, Abu-Adnan biasa minum madu campur telur untuk mengganti energi yang terkuras.

Agar tetap aktual menyampaikan keseniannya, selain memasang mata dan telinga merekam kejadian-kejadian menarik di desanya maupun desa tetangganya, Abu yang hanya mengenyam pendidikan kelas III sekolah dasar ini juga rajin menyimak siaran televisi dan radio.

Di luar itu, ada saja warga yang datang kepadanya untuk mengisahkan suatu peristiwa kriminal atau peristiwa apa saja sebagai "bahan". Tetapi, dia perlu memastikan benar-tidaknya informasi yang dia terima kepada yang bersangkutan.

Belajar dari ayah

Abu mulai menekuni seni Sakeco sejak tahun 1975 setelah belajar dari pendahulunya, yaitu ayah kandungnya dan para seniman Sakeco di kampungnya. Setelah mahir, dia mencari pasangan bermain dan mulai mendapat undangan tampil.

Tampaknya kemampuan Abu dan Adnan membawakan cerita yang disampaikan secara kocak membuat keduanya populer. Keduanya sering diundang ke seantero Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat.

Mereka yang mengundang datang ke rumah Abu. Atas jasanya itu Abu dan Adnan mendapat imbalan Rp 300.000-Rp 600.000 sekali tampil, tergantung jarak jauh-dekatnya tempat acara. Dalam sebulan, keduanya dapat tampil rata-rata empat kali.

Karena pengabdiannya kepada seni Sakeco ini, Abu yang sebelum berpasangan dengan Adnan pernah berduet dengan empat seniman lain yang kini telah meninggal, sempat tampil dua kali di Jakarta, yaitu saat ulang tahun Taman Mini Indonesia Indah pada tahun 1976 dan 1978.

Meski sudah punya nama selaku pelestari Sakeco, di luar kesibukan berkesenian, sehari-hari Abu adalah petani. Ia mengolah sawahnya yang seluas satu hektar untuk mempertahankan hidup keluarganya—anaknya sembilan orang—agar asap dapur terus mengepul. Adapun Adnan yang petani penggarap juga bekerja menjadi sais cidomo (kereta khas Lombok yang ditarik kuda) dan menyabit rumput buat kudanya.

Sumber : Kompas, Selasa, 4 April 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks