Makarim Wibisono
Jun 29, 2009
Lebih Jauh Dengan : Makarim Wibisono
Pewawancara : Nugroho F Yudho
ADA yang menarik dalam Sidang Ke-51 Komisi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (Komisi HAM PBB) yang digelar di Geneva, Swiss, mulai 15 Maret dan akan berakhir 22 April 2005 mendatang. Untuk tahun 2005, sidang Komnas HAM dipimpin oleh diplomat Indonesia, Makarim Wibisono. Menarik, karena Indonesia yang sering dicitrakan sebagai negara pelanggar HAM, kini justru tampil untuk pertama kali memimpin forum tertinggi di PBB untuk promosi dan perlindungan HAM.
Makarim, yang juga menjabat Wakil Tetap Indonesia di PBB Geneva, memang bukan orang baru di dunia diplomasi multilateral. Mantan wartawan lulusan Fisipol Universitas Gadjah Mada yang bergabung ke Departemen Luar Negeri sejak tahun 1972 itu, memang sudah malang melintang di dunia diplomasi. Awalnya, hingga tahun 1982, dia memang masih berkutat di dalam negeri dengan menjalani hampir semua direktorat di Departemen Luar Negeri. Setelah mengambil gelar master di The Paul Nitze School di John Hopkins University Washington DC (1984) dilanjutkan dengan master sekaligus gelar doktor di Political Economy di Ohio State University, Columbus, Ohio (1987), Makarim kembali ke Indonesia untuk setahun. Tapi sejak tahun 1988, ketika dia kembali ke AS menjadi Minister Counsellor di Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC, Makarim mulai bergaul dengan perundingan multilateral sejak tahun 1991, ketika diangkat menjadi Minister Counsellor di Perwakilan Tetap RI di PBB, New York. Sejak itulah lelaki kelahiran Mataram, 8 Mei 1947 ini terus mengukir prestasinya sebagai diplomat multilateral mulai dari Grup 77, UNCTAD UNDP, ESCAP ASEAN, APEC, sampai IOR-ARC. Dia pernah menjadi Deputi Wakil Tetap Permanent Mission of Indonesia di PBB New York (1994-1997) dan Ketua Grup 77 (1998). Dia juga menjadi orang Indonesia pertama yang menjabat President Economic and Social Council di PBB New York. Dia juga menjadi Ketua World Peace Assembly on Interreligious and Dialogue Among Civilizations di PBB (2000), serta Ketua Tim Antiterorisme untuk APEC (2003).
Terpilihnya Makarim bukan urusan mudah. Menurut Eddi Hariyadhi, Wakil Duta Besar RI di PTRI Geneva, setelah disetujui pemerintah di Jakarta, nama Makarim diusung lewat lobi di kelompok negara Asia di PBB. Makarim diajukan di tengah persaingan India, Pakistan, dan Jepang yang juga menginginkan posisi ketua Komisi HAM PBB untuk tahun 2005. Namun setelah melewati lobi intensif, justru ketiga negara itu ditambah China dan Korea Selatan yang memuluskan jalan Makarim memperebutkan posisi prestisius itu. Beberapa negara Asia serta kawasan dunia lain, akhirnya harus menerima kuatnya dukungan terhadap Makarim.
Empat bulan setelah ditugaskan memimpin Perwakilan Tetap RI di PBB Geneva September 2004, Makarim menduduki jabatan Ketua Sidang Komisi HAM PBB. Makarim kini tinggal di rumah dinas yang padat lalu lintas di Geneva bersama istrinya, Eny Sekarwati, yang dinikahinya sejak baru saja lulus kuliah tahun 1972. Tiga anaknya, yaitu Aria Teguh Mahendra (31), Adhy Surya Sidharta (30), dan Aryanti Wulan Savitri (29) tak satu pun yang ikut dengannya karena sudah tinggal di AS dan Indonesia. Di tengah tugas beratnya sekarang, Makarim harus menerima cobaan lain. Istrinya Eny sejak beberapa waktu lalu menderita penyakit kanker yang cukup berat. Tapi Eny terus mendampingi Makarim di Geneva. "Dari begitu banyak dukungan yang saya terima, yang paling memotivasi adalah dorongan istri saya. Dialah yang mendorong saya agar bisa membuktikan kemampuan dan kepemimpinan di Komisi HAM PBB ini. Tak ada yang lebih berarti dari dorongan istri saya," ujar Makarim yang di tengah ketatnya jadwal sidang menyediakan waktu untuk wawancara. Berikut petikannya.
SELAMA bertahun-tahun Indonesia sering menjadi sorotan, sasaran tembak sebagai pelanggar hak asasi manusia, kok berani tampil memimpin Sidang Komisi HAM PBB?
Isu hak asasi manusia adalah diplomatic matters, masalah diplomatik. Ada beberapa cara menghadapinya. Pertama, kita bersikap reaktif saja, yaitu defensif. Sehingga kita hanya bereaksi dan membela diri jika ada negara atau organisasi yang mempersoalkan pelaksanaan HAM di Indonesia. Tapi pendekatan defensif rasanya hanya cocok untuk masa lalu. Kini kita ccnderung memakai cara proaktif. Artinya, kita secara aktif menentukan agenda setting, kita yang mengarahkan pembahasan atau bahkan konsensus. Sekarang dan di masa-masa akan datang, kita harus tunjukkan kita sudah menjadi Indonesia baru.
Kita sudah memilih demokrasi sebagai cara kita hidup, cara berpolitik yang ingin kita tegakkan, termasuk hak asasi manusianya. Kita tunjukkan bahwa kita bangsa bermartabat. Sejarah menunjukkan bahwa kita mampu berkontribusi pada civilization, budaya luhur. Bahwa kita punya kisah hitam selama 32 tahun tidak demokratis, tidak berarti kita akan tetap begitu selamanya. Sejarah hitam itu sudah lewat. Sudah tutup buku. Dengan cara proaktif, kita bisa menunjukkan kita sudah berbeda. Kita tidak bisa menutup realitas bahwa masih ada kekurangan di sana-sini, tapi kita harus melihatnya secara menyeluruh. Kita harus berupaya agar masalah-masalah HAM tidak lagi dilihat secara selektif.
Selama ini kalau pelanggaran HAM terjadi di negara berkembang, sorotan begitu tajam diarahkan. Tapi jika terjadi di negara-negara maju, tidak dipersoalkan. Kita jangan cuma melihat HAM secara sepotong-sepotong. Jangan cuma persoalkan kebebasan berbicara (freedom of speech) atau kebebasan pers (freedom of the press) dan informasi (freedom of information), tapi juga right to food (hak untuk makan) atau right to shelter (hak atas perumahan yang layak) dan hak untuk membangun (right to develop). Jangan lagi kita memolitisasi isu HAM di forum-forum internasional.
Tapi bukankah pembahasan isu HAM memang sangat politis?
Justru karena itulah kita berinisiatif mengambil posisi pimpinan sidang. Kita ingin agar usaha promosi dan perlindungan HAM tidak selalu dipolitisasi. Sering kita terjebak pada perdebatan yang tidak menyentuh substansi pelanggaran HAM, tapi malah menuntut perubahan sistem politik sebuah negara, menjatuhkan atau mengganti pemerintahannya. Dengan memimpin Sidang Komisi HAM PBB, kita tunjukkan bahwa upaya yang harus dilakukan adalah memperbaiki keadaan agar perlindungan HAM bisa dilakukan maksimal, apa pun sistem pemerintahannya siapa pun penguasanya. Setelah perang dingin usai, masalah ideologi tidak lagi menggigit, tidak lagi banyak dipersoalkan. Yang kini berkembang adalah tema-tema yang perdebatannya bisa sekuat ideologi, seperti HAM, lingkungan hidup, atau prinsip-prinsip good governance.
Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan maupun High Level Panels Report yang dibentuknya, mengusulkan adanya reformasi di tubuh PBB. Apa masalahnya?
Begini. Tahun 2005 ini, PBB genap berusia 60 tahun. Di usianya yang sudah cukup lama ini, gereget PBB justru berkurang. Kepercayaan terhadap multilateralisme kini sedang di ambang bahaya. Gaungnya makin mengecil. Kini banyak langkah-langkah unilateral yang dilakukan tanpa mengindahkan lagi Piagam PBB. Negara bisa menyerang negara lain, tanpa otorisasi dari PBB, seperti yang dilakukan AS di Irak.
Berkurangnya kepercayaan terhadap multilateralisme ini juga terjadi dalam bidang HAM, seperti juga terasa di Komisi HAM PBB. Komisi ini kini juga punya masalah kredibilitas. Semakin banyak resolusi yang dilahirkan komisi tidak bisa secara efektif dilaksanakan di lapangan.
Apa Anda sendiri masih percaya pada efektivitas multilateralisme? Bukankah forum regional atau terbatas lebih efektif?
Saya sudah menekuni masalah-masalah di PBB sejak 1991. Selama itu pula saya melihat adanya dua kubu yang berkembang dalam manajemen di forum internasional. Ada yang percaya pada forum multilateral. Tapi tidak banyak juga yang meragukan efektivitas multilateral karena dianggap bertele-tele dan hanya bisa merumuskan hal-hal berjangka panjang. Mereka memilih untuk penyelesaian lebih mudah, cepat, dan responsif terhadap perkembangan masalah, lewat pengelompokan yang lebih kecil. Barangkali di satu sisi hal itu ada betulnya. Tapi yang harus disadari adalah inti dari multilateralisme adalah kerja sama internasional yang inklusif dengan hasil yang lebih kokoh, karena melibatkan semua pihak.
Semua pihak, semua negara, duduk bersama-sama, mencari konsensus dengan prinsip kesetaraan. Tidak ada eksklusivisme. Tidak ada satu negara yang lebih penting dari negara lain sehingga bisa diberi hak veto atau keistimewaan apa pun. Cara-cara eksklusif seperti yang terjadi di Dewan Keamanan PBB adalah cara yang menjauhkan masyarakat internasional dari prinsip demokrasi. Mengapa harus ada negara-negara yang punya hak veto. Anehnya negara-negara yang mengaku pendekar demokrasi-dan setiap saat mendesak negara berkembang agar menjunjung tinggi demokrasi-justru mengingkari prinsip demokrasi dalam forum internasional. Mana mau Dewan Keamanan PBB bicara dengan Indonesia secara setara? Itu tidak fair, itu tidak demokratis.
Prinsip demokrasi harusnya tidak hanya diterapkan di tingkat nasional, tapi juga kerja sama internasional. Saya yakin multilateralisme adalah cara paling baik dan benar, apalagi di Komisi HAM PBB ini. Kita harus democratize Komisi HAM PBB. Tidak boleh ada bangsa yang dibiarkan merasa lebih tinggi dari bangsa lain. Saya percaya pada multilateralisme dan itulah yang harus kita perjuangkan.
Apa ada hasil konkretnya?
Ada. Saya baru saja berhasil mengajak semua negara-negara anggota Komisi HAM PBB untuk mau menggelar informal meeting atau pertemuan informal pada 12 April minggu depan untuk membahas upaya reformasi Komisi HAM PBB, seperti yang diusulkan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan serta High Level Panels bentukan Sekjen PBB. Ini bukan forum special sitting, yang memang dimungkinkan oleh mekanisme sidang Komisi HAM PBB. Special sitting bisa digelar secara paralel dengan sidang untuk membahas isu tertentu. Tapi biasanya pesertanya terbatas pada negara-negara yang berkaitan dengan isu tertentu. Kali ini, informal meeting melibatkan semua anggota.
Sejak dibentuk 59 tahun lalu, baru dalam sidang kali inilah, kita punya forum baru yang namanya informal meeting, yang digelar bersamaan dengan berlangsungnya sidang Komisi HAM PBB. Awalnya tidak ada negara yang setuju dengan gagasan itu. Beberapa negara malah bereaksi keras menolak. Tapi lewat lobi dan pendekatan, saya mempertanyakan sikap mereka yang menolak. Mengapa kita harus menolak munculnya gagasan atau konsep baru tentang perlindungan HAM. Kalau Komisi HAM PBB tidak mau membahas, forum apa lagi yang akan membahas.
Akhirnya semua mendukung gagasan informal meeting itu. Maklumlah, karena sudah terbiasa dengan politisasi isu-isu HAM, hal-hal yang bersifat konsep malah sering diabaikan, hanya karena dampak politiknya kurang kuat. Informal meeting itu memang belum tentu menghasilkan konsensus yang konkret. Tapi apa pun hasilnya, acara ini akan memberi gaung baru pada bekerjanya mekanisme multilateral di Komisi HAM PBB.
Saya sendiri tidak yakin reformasi Komisi HAM PBB akan terlaksana dalam waktu dekat. Sebab, dengan reformasi itu, Kofi Anan mengusulkan agar Komisi HAM PBB diubah menjadi Human Rights Council, tidak lagi berada di bawah Ecosoc, tapi menjadi sejajar dengan Dewan Keamanan PBB dan Sidang Umum (General Assembly) PBB. Ini ideal sekali. Tapi harus diakui bukan hal mudah, karena negara-negara maju cenderung menolak, apalagi di dalamnya tidak ada eksklusivitas. Tidak ada negara yang punya hak veto seperti di DK PBB.
Bagaimana dengan gagasan agar Komisi HAM PBB membuat global report atas pelaksanaan HAM di seluruh dunia?
Gagasan itu bagus sekali dan sudah muncul sejak tiga-empat tahun terakhir. Masalahnya, Komisi HAM PBB tak punya kapasitas untuk melakukan global report atas seluruh 191 negara. Kita tidak cukup equipped untuk melakukan itu. Sekretariat Komisi HAM PBB hanya punya 200 staf dan anggarannya hanya dua persen dari total budget PBB. Tanpa adanya global report saja, Komisi HAM PBB menerima sekitar 17.000 laporan pelanggaran HAM setiap tahun. Gagasan agar semua negara menyerahkan 0,7 persen dari GNP-nya sampai sekarang tidak juga jalan.
Buat Indonesia sendiri, apa arti kepemimpinan Anda di Komisi HAM PBB?
Saya berharap bisa membuka mata hati semua elemen bangsa di Indonesia bahwa masalah HAM sudah menjadi arus utama global. Jangan lagi memandang HAM sebagai masalah yang harmful, yang merugikan kepentingan nasional. Penghargaan dan perlindungan HAM justru akan meningkatkan kualitas hidup bangsa. HAM adalah bagian yang tak terpisahkan dari keberadaan kita sebagai bangsa. Indonesia adalah bangsa bermartabat, yang tahu apa arti humanisme. Artinya, dalam kompetisi globalisasi, kita bukan bangsa nomor dua. Kita jangan lagi punya inferiority complex. Kita harus punya dignity. Pelanggaran HAM adalah masalah dunia yang terjadi di mana saja, termasuk di negara-negara maju yang dikenal sebagai pendekar demokrasi.
Bagaimana rasanya memimpin Komisi HAM PBB, berbanding lembaga lain di PBB?
Sejak hampir 15 tahun bermain di dunia diplomasi multilateral, Komisi HAM PBB adalah tempat paling berat. Ini menyangkut dignity, sehingga semua negara, apalagi NGO (nongovernmen organization) menjadi sangat sensitif soal HAM. Di sini dimensi sensitivitasnya tinggi. Di sini semua delegasi bicara dengan nada tinggi, cepat meledak. Di Ecosoc, misalnya, kita bisa bicara soal ketimpangan negara maju dan negara berkembang dari tahun ke tahun dengan nada bicara yang sama. Tapi di sini, pelanggaran HAM begitu bervariasi. Inggris yang dikenal pembela HAM, misalnya, tiba-tiba menjadi begitu defensif ketika delegasi dari Irlandia Utara mempersoalkan terbunuhnya hakim di sana. Semuanya emosi. Sebagai ketua saya harus belajar untuk mendengar dan secara sabar menampung semua ledakan emosi itu. Level kemarahan orang di sini, tiga sampai empat kali lebih peka dibanding semua lembaga PBB yang pernah saya masuki.
NGO menambah ramai sidang, apa tidak menyulitkan?
Dibanding semua lembaga PBB lain, tidak ada lembaga lain yang seperti Komisi HAM PBB, yang memberikan keterlibatan begitu besar pada NGO. Ini menjadi bagian penting dari perlindungan HAM, karena dari tangan merekalah pelanggaran berbagai aspek HAM diangkat untuk dicari jalan keluarnya. Ada yang memang berangkat dari humanisme, tapi tidak sedikit juga yang membawa agenda tertentu atau menjadi kelompok penekan untuk kepentingan negara tertentu. Tapi itu sah-sah saja dalam demokrasi kan. Ide melibatkan NGO itu merupakan terobosan penting yang bagus. Kalaupun ada yang mengganjal adalah jumlahnya terlalu banyak dan masalah yang mereka sampaikan sering kali sama atau tumpang tindih.
Anda lihat sendiri kan, untuk satu topik saja, jumlah NGO yang bicara bisa 110 delegasi. Padahal kita punya belasan topik di sidang. Mengapa begitu banyak, maka yang mesti menjawab adalah komite NGO di Ecosoc. Sebab, merekalah yang memberi dan mengevaluasi akreditasi sekitar 1.200 NGO setiap tahun. Syukur-syukur kalau di antara mereka sendiri ada kerja sama sehingga untuk masalah-masalah yang sama, mereka bisa bergabung. Saya sendiri banyak meluangkan waktu untuk berdialog dengan mereka, sebelum atau bahkan secara paralel dengan sidang-sidang. Memang dibanding lembaga PBB lain, Komisi HAM PBB terasa agar hiruk-pikuk, ramai oleh pernyataan, aksi, atau diskusi paralel yang digelar bersamaan dengan sidang. Pengambilan keputusan memang dilakukan hanya oleh negara. Tapi sebelum keputusan, biasanya di luar sidang lobi gencar dilakukan, bukan saja antarnegara, tapi juga melibatkan NGO. Tapi bukankah itu bagian dari indahnya demokrasi.
Sumber : Kompas, Minggu, 10 April 2005
Pewawancara : Nugroho F Yudho
ADA yang menarik dalam Sidang Ke-51 Komisi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (Komisi HAM PBB) yang digelar di Geneva, Swiss, mulai 15 Maret dan akan berakhir 22 April 2005 mendatang. Untuk tahun 2005, sidang Komnas HAM dipimpin oleh diplomat Indonesia, Makarim Wibisono. Menarik, karena Indonesia yang sering dicitrakan sebagai negara pelanggar HAM, kini justru tampil untuk pertama kali memimpin forum tertinggi di PBB untuk promosi dan perlindungan HAM.
Makarim, yang juga menjabat Wakil Tetap Indonesia di PBB Geneva, memang bukan orang baru di dunia diplomasi multilateral. Mantan wartawan lulusan Fisipol Universitas Gadjah Mada yang bergabung ke Departemen Luar Negeri sejak tahun 1972 itu, memang sudah malang melintang di dunia diplomasi. Awalnya, hingga tahun 1982, dia memang masih berkutat di dalam negeri dengan menjalani hampir semua direktorat di Departemen Luar Negeri. Setelah mengambil gelar master di The Paul Nitze School di John Hopkins University Washington DC (1984) dilanjutkan dengan master sekaligus gelar doktor di Political Economy di Ohio State University, Columbus, Ohio (1987), Makarim kembali ke Indonesia untuk setahun. Tapi sejak tahun 1988, ketika dia kembali ke AS menjadi Minister Counsellor di Kedutaan Besar Indonesia di Washington DC, Makarim mulai bergaul dengan perundingan multilateral sejak tahun 1991, ketika diangkat menjadi Minister Counsellor di Perwakilan Tetap RI di PBB, New York. Sejak itulah lelaki kelahiran Mataram, 8 Mei 1947 ini terus mengukir prestasinya sebagai diplomat multilateral mulai dari Grup 77, UNCTAD UNDP, ESCAP ASEAN, APEC, sampai IOR-ARC. Dia pernah menjadi Deputi Wakil Tetap Permanent Mission of Indonesia di PBB New York (1994-1997) dan Ketua Grup 77 (1998). Dia juga menjadi orang Indonesia pertama yang menjabat President Economic and Social Council di PBB New York. Dia juga menjadi Ketua World Peace Assembly on Interreligious and Dialogue Among Civilizations di PBB (2000), serta Ketua Tim Antiterorisme untuk APEC (2003).
Terpilihnya Makarim bukan urusan mudah. Menurut Eddi Hariyadhi, Wakil Duta Besar RI di PTRI Geneva, setelah disetujui pemerintah di Jakarta, nama Makarim diusung lewat lobi di kelompok negara Asia di PBB. Makarim diajukan di tengah persaingan India, Pakistan, dan Jepang yang juga menginginkan posisi ketua Komisi HAM PBB untuk tahun 2005. Namun setelah melewati lobi intensif, justru ketiga negara itu ditambah China dan Korea Selatan yang memuluskan jalan Makarim memperebutkan posisi prestisius itu. Beberapa negara Asia serta kawasan dunia lain, akhirnya harus menerima kuatnya dukungan terhadap Makarim.
Empat bulan setelah ditugaskan memimpin Perwakilan Tetap RI di PBB Geneva September 2004, Makarim menduduki jabatan Ketua Sidang Komisi HAM PBB. Makarim kini tinggal di rumah dinas yang padat lalu lintas di Geneva bersama istrinya, Eny Sekarwati, yang dinikahinya sejak baru saja lulus kuliah tahun 1972. Tiga anaknya, yaitu Aria Teguh Mahendra (31), Adhy Surya Sidharta (30), dan Aryanti Wulan Savitri (29) tak satu pun yang ikut dengannya karena sudah tinggal di AS dan Indonesia. Di tengah tugas beratnya sekarang, Makarim harus menerima cobaan lain. Istrinya Eny sejak beberapa waktu lalu menderita penyakit kanker yang cukup berat. Tapi Eny terus mendampingi Makarim di Geneva. "Dari begitu banyak dukungan yang saya terima, yang paling memotivasi adalah dorongan istri saya. Dialah yang mendorong saya agar bisa membuktikan kemampuan dan kepemimpinan di Komisi HAM PBB ini. Tak ada yang lebih berarti dari dorongan istri saya," ujar Makarim yang di tengah ketatnya jadwal sidang menyediakan waktu untuk wawancara. Berikut petikannya.
SELAMA bertahun-tahun Indonesia sering menjadi sorotan, sasaran tembak sebagai pelanggar hak asasi manusia, kok berani tampil memimpin Sidang Komisi HAM PBB?
Isu hak asasi manusia adalah diplomatic matters, masalah diplomatik. Ada beberapa cara menghadapinya. Pertama, kita bersikap reaktif saja, yaitu defensif. Sehingga kita hanya bereaksi dan membela diri jika ada negara atau organisasi yang mempersoalkan pelaksanaan HAM di Indonesia. Tapi pendekatan defensif rasanya hanya cocok untuk masa lalu. Kini kita ccnderung memakai cara proaktif. Artinya, kita secara aktif menentukan agenda setting, kita yang mengarahkan pembahasan atau bahkan konsensus. Sekarang dan di masa-masa akan datang, kita harus tunjukkan kita sudah menjadi Indonesia baru.
Kita sudah memilih demokrasi sebagai cara kita hidup, cara berpolitik yang ingin kita tegakkan, termasuk hak asasi manusianya. Kita tunjukkan bahwa kita bangsa bermartabat. Sejarah menunjukkan bahwa kita mampu berkontribusi pada civilization, budaya luhur. Bahwa kita punya kisah hitam selama 32 tahun tidak demokratis, tidak berarti kita akan tetap begitu selamanya. Sejarah hitam itu sudah lewat. Sudah tutup buku. Dengan cara proaktif, kita bisa menunjukkan kita sudah berbeda. Kita tidak bisa menutup realitas bahwa masih ada kekurangan di sana-sini, tapi kita harus melihatnya secara menyeluruh. Kita harus berupaya agar masalah-masalah HAM tidak lagi dilihat secara selektif.
Selama ini kalau pelanggaran HAM terjadi di negara berkembang, sorotan begitu tajam diarahkan. Tapi jika terjadi di negara-negara maju, tidak dipersoalkan. Kita jangan cuma melihat HAM secara sepotong-sepotong. Jangan cuma persoalkan kebebasan berbicara (freedom of speech) atau kebebasan pers (freedom of the press) dan informasi (freedom of information), tapi juga right to food (hak untuk makan) atau right to shelter (hak atas perumahan yang layak) dan hak untuk membangun (right to develop). Jangan lagi kita memolitisasi isu HAM di forum-forum internasional.
Tapi bukankah pembahasan isu HAM memang sangat politis?
Justru karena itulah kita berinisiatif mengambil posisi pimpinan sidang. Kita ingin agar usaha promosi dan perlindungan HAM tidak selalu dipolitisasi. Sering kita terjebak pada perdebatan yang tidak menyentuh substansi pelanggaran HAM, tapi malah menuntut perubahan sistem politik sebuah negara, menjatuhkan atau mengganti pemerintahannya. Dengan memimpin Sidang Komisi HAM PBB, kita tunjukkan bahwa upaya yang harus dilakukan adalah memperbaiki keadaan agar perlindungan HAM bisa dilakukan maksimal, apa pun sistem pemerintahannya siapa pun penguasanya. Setelah perang dingin usai, masalah ideologi tidak lagi menggigit, tidak lagi banyak dipersoalkan. Yang kini berkembang adalah tema-tema yang perdebatannya bisa sekuat ideologi, seperti HAM, lingkungan hidup, atau prinsip-prinsip good governance.
Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan maupun High Level Panels Report yang dibentuknya, mengusulkan adanya reformasi di tubuh PBB. Apa masalahnya?
Begini. Tahun 2005 ini, PBB genap berusia 60 tahun. Di usianya yang sudah cukup lama ini, gereget PBB justru berkurang. Kepercayaan terhadap multilateralisme kini sedang di ambang bahaya. Gaungnya makin mengecil. Kini banyak langkah-langkah unilateral yang dilakukan tanpa mengindahkan lagi Piagam PBB. Negara bisa menyerang negara lain, tanpa otorisasi dari PBB, seperti yang dilakukan AS di Irak.
Berkurangnya kepercayaan terhadap multilateralisme ini juga terjadi dalam bidang HAM, seperti juga terasa di Komisi HAM PBB. Komisi ini kini juga punya masalah kredibilitas. Semakin banyak resolusi yang dilahirkan komisi tidak bisa secara efektif dilaksanakan di lapangan.
Apa Anda sendiri masih percaya pada efektivitas multilateralisme? Bukankah forum regional atau terbatas lebih efektif?
Saya sudah menekuni masalah-masalah di PBB sejak 1991. Selama itu pula saya melihat adanya dua kubu yang berkembang dalam manajemen di forum internasional. Ada yang percaya pada forum multilateral. Tapi tidak banyak juga yang meragukan efektivitas multilateral karena dianggap bertele-tele dan hanya bisa merumuskan hal-hal berjangka panjang. Mereka memilih untuk penyelesaian lebih mudah, cepat, dan responsif terhadap perkembangan masalah, lewat pengelompokan yang lebih kecil. Barangkali di satu sisi hal itu ada betulnya. Tapi yang harus disadari adalah inti dari multilateralisme adalah kerja sama internasional yang inklusif dengan hasil yang lebih kokoh, karena melibatkan semua pihak.
Semua pihak, semua negara, duduk bersama-sama, mencari konsensus dengan prinsip kesetaraan. Tidak ada eksklusivisme. Tidak ada satu negara yang lebih penting dari negara lain sehingga bisa diberi hak veto atau keistimewaan apa pun. Cara-cara eksklusif seperti yang terjadi di Dewan Keamanan PBB adalah cara yang menjauhkan masyarakat internasional dari prinsip demokrasi. Mengapa harus ada negara-negara yang punya hak veto. Anehnya negara-negara yang mengaku pendekar demokrasi-dan setiap saat mendesak negara berkembang agar menjunjung tinggi demokrasi-justru mengingkari prinsip demokrasi dalam forum internasional. Mana mau Dewan Keamanan PBB bicara dengan Indonesia secara setara? Itu tidak fair, itu tidak demokratis.
Prinsip demokrasi harusnya tidak hanya diterapkan di tingkat nasional, tapi juga kerja sama internasional. Saya yakin multilateralisme adalah cara paling baik dan benar, apalagi di Komisi HAM PBB ini. Kita harus democratize Komisi HAM PBB. Tidak boleh ada bangsa yang dibiarkan merasa lebih tinggi dari bangsa lain. Saya percaya pada multilateralisme dan itulah yang harus kita perjuangkan.
Apa ada hasil konkretnya?
Ada. Saya baru saja berhasil mengajak semua negara-negara anggota Komisi HAM PBB untuk mau menggelar informal meeting atau pertemuan informal pada 12 April minggu depan untuk membahas upaya reformasi Komisi HAM PBB, seperti yang diusulkan Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan serta High Level Panels bentukan Sekjen PBB. Ini bukan forum special sitting, yang memang dimungkinkan oleh mekanisme sidang Komisi HAM PBB. Special sitting bisa digelar secara paralel dengan sidang untuk membahas isu tertentu. Tapi biasanya pesertanya terbatas pada negara-negara yang berkaitan dengan isu tertentu. Kali ini, informal meeting melibatkan semua anggota.
Sejak dibentuk 59 tahun lalu, baru dalam sidang kali inilah, kita punya forum baru yang namanya informal meeting, yang digelar bersamaan dengan berlangsungnya sidang Komisi HAM PBB. Awalnya tidak ada negara yang setuju dengan gagasan itu. Beberapa negara malah bereaksi keras menolak. Tapi lewat lobi dan pendekatan, saya mempertanyakan sikap mereka yang menolak. Mengapa kita harus menolak munculnya gagasan atau konsep baru tentang perlindungan HAM. Kalau Komisi HAM PBB tidak mau membahas, forum apa lagi yang akan membahas.
Akhirnya semua mendukung gagasan informal meeting itu. Maklumlah, karena sudah terbiasa dengan politisasi isu-isu HAM, hal-hal yang bersifat konsep malah sering diabaikan, hanya karena dampak politiknya kurang kuat. Informal meeting itu memang belum tentu menghasilkan konsensus yang konkret. Tapi apa pun hasilnya, acara ini akan memberi gaung baru pada bekerjanya mekanisme multilateral di Komisi HAM PBB.
Saya sendiri tidak yakin reformasi Komisi HAM PBB akan terlaksana dalam waktu dekat. Sebab, dengan reformasi itu, Kofi Anan mengusulkan agar Komisi HAM PBB diubah menjadi Human Rights Council, tidak lagi berada di bawah Ecosoc, tapi menjadi sejajar dengan Dewan Keamanan PBB dan Sidang Umum (General Assembly) PBB. Ini ideal sekali. Tapi harus diakui bukan hal mudah, karena negara-negara maju cenderung menolak, apalagi di dalamnya tidak ada eksklusivitas. Tidak ada negara yang punya hak veto seperti di DK PBB.
Bagaimana dengan gagasan agar Komisi HAM PBB membuat global report atas pelaksanaan HAM di seluruh dunia?
Gagasan itu bagus sekali dan sudah muncul sejak tiga-empat tahun terakhir. Masalahnya, Komisi HAM PBB tak punya kapasitas untuk melakukan global report atas seluruh 191 negara. Kita tidak cukup equipped untuk melakukan itu. Sekretariat Komisi HAM PBB hanya punya 200 staf dan anggarannya hanya dua persen dari total budget PBB. Tanpa adanya global report saja, Komisi HAM PBB menerima sekitar 17.000 laporan pelanggaran HAM setiap tahun. Gagasan agar semua negara menyerahkan 0,7 persen dari GNP-nya sampai sekarang tidak juga jalan.
Buat Indonesia sendiri, apa arti kepemimpinan Anda di Komisi HAM PBB?
Saya berharap bisa membuka mata hati semua elemen bangsa di Indonesia bahwa masalah HAM sudah menjadi arus utama global. Jangan lagi memandang HAM sebagai masalah yang harmful, yang merugikan kepentingan nasional. Penghargaan dan perlindungan HAM justru akan meningkatkan kualitas hidup bangsa. HAM adalah bagian yang tak terpisahkan dari keberadaan kita sebagai bangsa. Indonesia adalah bangsa bermartabat, yang tahu apa arti humanisme. Artinya, dalam kompetisi globalisasi, kita bukan bangsa nomor dua. Kita jangan lagi punya inferiority complex. Kita harus punya dignity. Pelanggaran HAM adalah masalah dunia yang terjadi di mana saja, termasuk di negara-negara maju yang dikenal sebagai pendekar demokrasi.
Bagaimana rasanya memimpin Komisi HAM PBB, berbanding lembaga lain di PBB?
Sejak hampir 15 tahun bermain di dunia diplomasi multilateral, Komisi HAM PBB adalah tempat paling berat. Ini menyangkut dignity, sehingga semua negara, apalagi NGO (nongovernmen organization) menjadi sangat sensitif soal HAM. Di sini dimensi sensitivitasnya tinggi. Di sini semua delegasi bicara dengan nada tinggi, cepat meledak. Di Ecosoc, misalnya, kita bisa bicara soal ketimpangan negara maju dan negara berkembang dari tahun ke tahun dengan nada bicara yang sama. Tapi di sini, pelanggaran HAM begitu bervariasi. Inggris yang dikenal pembela HAM, misalnya, tiba-tiba menjadi begitu defensif ketika delegasi dari Irlandia Utara mempersoalkan terbunuhnya hakim di sana. Semuanya emosi. Sebagai ketua saya harus belajar untuk mendengar dan secara sabar menampung semua ledakan emosi itu. Level kemarahan orang di sini, tiga sampai empat kali lebih peka dibanding semua lembaga PBB yang pernah saya masuki.
NGO menambah ramai sidang, apa tidak menyulitkan?
Dibanding semua lembaga PBB lain, tidak ada lembaga lain yang seperti Komisi HAM PBB, yang memberikan keterlibatan begitu besar pada NGO. Ini menjadi bagian penting dari perlindungan HAM, karena dari tangan merekalah pelanggaran berbagai aspek HAM diangkat untuk dicari jalan keluarnya. Ada yang memang berangkat dari humanisme, tapi tidak sedikit juga yang membawa agenda tertentu atau menjadi kelompok penekan untuk kepentingan negara tertentu. Tapi itu sah-sah saja dalam demokrasi kan. Ide melibatkan NGO itu merupakan terobosan penting yang bagus. Kalaupun ada yang mengganjal adalah jumlahnya terlalu banyak dan masalah yang mereka sampaikan sering kali sama atau tumpang tindih.
Anda lihat sendiri kan, untuk satu topik saja, jumlah NGO yang bicara bisa 110 delegasi. Padahal kita punya belasan topik di sidang. Mengapa begitu banyak, maka yang mesti menjawab adalah komite NGO di Ecosoc. Sebab, merekalah yang memberi dan mengevaluasi akreditasi sekitar 1.200 NGO setiap tahun. Syukur-syukur kalau di antara mereka sendiri ada kerja sama sehingga untuk masalah-masalah yang sama, mereka bisa bergabung. Saya sendiri banyak meluangkan waktu untuk berdialog dengan mereka, sebelum atau bahkan secara paralel dengan sidang-sidang. Memang dibanding lembaga PBB lain, Komisi HAM PBB terasa agar hiruk-pikuk, ramai oleh pernyataan, aksi, atau diskusi paralel yang digelar bersamaan dengan sidang. Pengambilan keputusan memang dilakukan hanya oleh negara. Tapi sebelum keputusan, biasanya di luar sidang lobi gencar dilakukan, bukan saja antarnegara, tapi juga melibatkan NGO. Tapi bukankah itu bagian dari indahnya demokrasi.
Sumber : Kompas, Minggu, 10 April 2005
Endang Wiharso, Energi Seni Kulit Telur
Jun 28, 2009
Entang Wiharso, Energi Seni Kulit Telur
Oleh : Efix Mulyadi
Para bakul telur puyuh mendapat rekanan baru yang unik: seorang perupa. Sang perupa tidak membeli isi untuk dimakan, melainkan hanya kulit semata untuk bahan pembuatan karya-karya seni.
"Semula saya beli telur puyuh untuk mendapat kulitnya. Lama-lama terpikir, wah, jadi mahal banget nih. Akhirnya saya temui bakul untuk membeli khusus kulitnya saja," tutur Entang Wiharso selagi asyik mengawasi pemasangan sejumlah patung atau obyek dari seni instalasinya untuk pameran tunggal di Bentara Budaya Jakarta tanggal 8-17 April 2005. Pameran tunggalnya yang ke-14 ini bertajuk "Inter-Eruption".
Bagian permukaan patung dari bahan resin ia lapisi kulit telur dengan lem kayu. Jadilah permukaan patung, yang umum menggambarkan manusia atau makhluk mirip manusia, menjadi kasar. Warnanya didominasi oleh bercak coklat tua atau putih padam, yaitu warna asli kulit telur itu.
"Saya minta para bakul itu mengupas telur dengan hati-hati sehingga bisa diperoleh kulit-kulit dengan bentangan luas. Mereka mau. Rupanya mereka senang karena menjual kulit itu artinya sekaligus membuang sampah basah yang bau bukan main. Giliran saya yang terkena bau, he-he-he...," katanya tentang kulit telur yang mesti dijemur sampai setengah kering agar masih tetap lentur, sementara bau ikut pergi.
Justru berkat sifat gampang retak atau pecah itulah kulit telur menjadi berharga bagi dunia seni.
"Tiga teman yang mengerjakannya menjadi lebih berhati-hati agar tetap utuh ketika ditempel. Fragility itu yang saya cari. Saya menempelnya ke patung manusia seperti memberi sifat rapuh manusia kepada karya-karya tersebut," tutur Entang yang menampilkan karya kulit telur puyuh pertama kali untuk pamerannya di CP Artspace Jakarta pada tahun 2004.
Butuh berbulan-bulan lamanya untuk menemukan metafor yang tepat seperti itu. Pada awalnya ia tertarik pada cara tradisional ketika mencari telur ayam yang baik, yaitu dengan cara menerawangnya. Hal itu muncul untuk karyanya In the Name of President seiring dengan kesibukan orang Indonesia memilih pemimpin yang baru.
Ia lukis tubuh-tubuh yang koyak di kanvas ekstra besar untuk mengungkap kecemasan, ketegangan, atau teror yang membuat masyarakat sakit jiwa. Ia memasang ratusan biji mata seukuran kepalan tangan, gergaji, atau boneka untuk seni instalasinya di dalam kisah senada.
Memang berbagai pengalaman personal, yang tak jarang ternyata juga menyuarakan pengalaman bersama, menjadi semangat keseniannya. Tinggal di berbagai wilayah budaya, yaitu Tegal, Yogyakarta, dan sempat di Jakarta, menyuburkan pengalaman tersebut. Pengalaman Indonesia yang bangkrut, munculnya ancaman diskriminasi atas nama nilai tertentu, ikut memicu pencarian metafor yang tepat guna seperti kulit telur puyuh.
Belakangan, sesudah menikah dengan warga Amerika Serikat keturunan Italia, ia memasuki kancah perbenturan budaya juga dengan intensitas yang berbeda. Bersama keluarga ia bermukim di Kalasan, Yogyakarta, dan di Providence, Rhode Island, Amerika Serikat. Ketegangan budaya itu diimbuh dengan peristiwa 11 September, yang membuat banyak warga Amerika paranoid.
"Waktu itu keluar rumah sendirian terasa ngeri. Suhu patriotisme naik. Kalau paspor kita Indonesia, diperiksanya lebih lama dan rumit," tutur Entang tentang pengalaman tidak enak pada bulan-bulan selepas kejadian mencekam tersebut. "Saya naik pesawat Northwest, pesawat pertama yang masuk ke AS selepas 11 September. Saya diinterogasi selama tiga jam di Amsterdam."
Pengalaman seperti itu memicu kelahiran sejumlah karya, antara lain Portrait in the Gold Rain-disertakan di dalam pameran di Bentara Budaya Jakarta kali ini. Lukisan tersebut membuat batal pameran tunggalnya di Rhode Island, AS, bulan Januari 2003. Ia menolak permintaan pihak galeri agar lukisan itu tidak disertakan karena menganggapnya illegal, jorok, dan menjurus seksual. Isi lukisan menonjolkan satu sosok lelaki telanjang tengah berjongkok.
"Saya tidak suka hal jorok, dan persoalan di lukisan itu juga bukan seksual. Saya ingin menggambarkan manusia yang ditindas oleh sistem, didiskriminasi, dilabelisasi, disisihkan, sampai terkentut-kentut," kata Entang.
Pencekalan itu memicu solidaritas para seniman setempat maupun para kurator, yang memindahkan pameran Entang ke tempat lain. Peristiwa yang terjadi di negara kampiun demokrasi itu menyulut dukungan di berbagai media massa terhadap seniman warga Indonesia tersebut. Sempat dibuat pula diskusi untuk membela haknya sebagai seniman.
Tinggal di AS juga membuatnya akrab dengan ikon dunia kartun seperti Bart Simpson, yang kemudian ia comot untuk karyanya. "Kartun Bart Simpson itu mengungkap masalah kita, manusia biasa di dalam kehidupan sehari-hari, bukan manusia super," tuturnya.
Belakangan sejumlah lukisan maupun karya instalasinya menampilkan sosok berkuping lebar mirip Teddy Bear. Boneka kesayangan anak itu ia sulap menjadi simbol Amerika, yang banyak dipuja tetapi lebih banyak lagi yang membenci.
"Saya tertarik ketika Dominic lahir, banyak kado berupa Teddy Bear. Saya tanya ke istri, apa maknanya? Ternyata itu berangkat dari kisah seorang Teddy Roosevelt, pemimpin Amerika saat itu, menyelamatkan bayi beruang," tutur Entang. Dominic Ensar Wiharso dan Marco Emil Wiharso adalah buah pernikahannya dengan Christine Cocca tahun 1997. Christine seorang ahli sejarah seni dan kini mengurus aktivitas seni suaminya.
Lelaki kelahiran Tegal, 19 Agustus 1967, ini menjalani masa mahasiswanya di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan kerja keras. Ia sempat cuti kuliah untuk membantu keluarga mengelola bisnis makanan kaki lima di Jakarta, yang dikenal sebagai "warung tegal".
Kini secara ekonomi kehidupannya sangat baik, tetapi sebagai seniman ia tak hendak mapan di dalam arti berhenti "mencari". Pamerannya di Bentara Budaya Jakarta yang dibuka Jumat (8/4) malam lalu membuktikan hal itu. Ia terpilih bersama tiga seniman lain untuk tampil di dalam Biennale Venesia pada bulan Juni tahun ini. (EFIX MULYADI)
Sumber : Kompas, Senin, 11 April 2005
Oleh : Efix Mulyadi
Para bakul telur puyuh mendapat rekanan baru yang unik: seorang perupa. Sang perupa tidak membeli isi untuk dimakan, melainkan hanya kulit semata untuk bahan pembuatan karya-karya seni.
"Semula saya beli telur puyuh untuk mendapat kulitnya. Lama-lama terpikir, wah, jadi mahal banget nih. Akhirnya saya temui bakul untuk membeli khusus kulitnya saja," tutur Entang Wiharso selagi asyik mengawasi pemasangan sejumlah patung atau obyek dari seni instalasinya untuk pameran tunggal di Bentara Budaya Jakarta tanggal 8-17 April 2005. Pameran tunggalnya yang ke-14 ini bertajuk "Inter-Eruption".
Bagian permukaan patung dari bahan resin ia lapisi kulit telur dengan lem kayu. Jadilah permukaan patung, yang umum menggambarkan manusia atau makhluk mirip manusia, menjadi kasar. Warnanya didominasi oleh bercak coklat tua atau putih padam, yaitu warna asli kulit telur itu.
"Saya minta para bakul itu mengupas telur dengan hati-hati sehingga bisa diperoleh kulit-kulit dengan bentangan luas. Mereka mau. Rupanya mereka senang karena menjual kulit itu artinya sekaligus membuang sampah basah yang bau bukan main. Giliran saya yang terkena bau, he-he-he...," katanya tentang kulit telur yang mesti dijemur sampai setengah kering agar masih tetap lentur, sementara bau ikut pergi.
Justru berkat sifat gampang retak atau pecah itulah kulit telur menjadi berharga bagi dunia seni.
"Tiga teman yang mengerjakannya menjadi lebih berhati-hati agar tetap utuh ketika ditempel. Fragility itu yang saya cari. Saya menempelnya ke patung manusia seperti memberi sifat rapuh manusia kepada karya-karya tersebut," tutur Entang yang menampilkan karya kulit telur puyuh pertama kali untuk pamerannya di CP Artspace Jakarta pada tahun 2004.
Butuh berbulan-bulan lamanya untuk menemukan metafor yang tepat seperti itu. Pada awalnya ia tertarik pada cara tradisional ketika mencari telur ayam yang baik, yaitu dengan cara menerawangnya. Hal itu muncul untuk karyanya In the Name of President seiring dengan kesibukan orang Indonesia memilih pemimpin yang baru.
Ia lukis tubuh-tubuh yang koyak di kanvas ekstra besar untuk mengungkap kecemasan, ketegangan, atau teror yang membuat masyarakat sakit jiwa. Ia memasang ratusan biji mata seukuran kepalan tangan, gergaji, atau boneka untuk seni instalasinya di dalam kisah senada.
Memang berbagai pengalaman personal, yang tak jarang ternyata juga menyuarakan pengalaman bersama, menjadi semangat keseniannya. Tinggal di berbagai wilayah budaya, yaitu Tegal, Yogyakarta, dan sempat di Jakarta, menyuburkan pengalaman tersebut. Pengalaman Indonesia yang bangkrut, munculnya ancaman diskriminasi atas nama nilai tertentu, ikut memicu pencarian metafor yang tepat guna seperti kulit telur puyuh.
Belakangan, sesudah menikah dengan warga Amerika Serikat keturunan Italia, ia memasuki kancah perbenturan budaya juga dengan intensitas yang berbeda. Bersama keluarga ia bermukim di Kalasan, Yogyakarta, dan di Providence, Rhode Island, Amerika Serikat. Ketegangan budaya itu diimbuh dengan peristiwa 11 September, yang membuat banyak warga Amerika paranoid.
"Waktu itu keluar rumah sendirian terasa ngeri. Suhu patriotisme naik. Kalau paspor kita Indonesia, diperiksanya lebih lama dan rumit," tutur Entang tentang pengalaman tidak enak pada bulan-bulan selepas kejadian mencekam tersebut. "Saya naik pesawat Northwest, pesawat pertama yang masuk ke AS selepas 11 September. Saya diinterogasi selama tiga jam di Amsterdam."
Pengalaman seperti itu memicu kelahiran sejumlah karya, antara lain Portrait in the Gold Rain-disertakan di dalam pameran di Bentara Budaya Jakarta kali ini. Lukisan tersebut membuat batal pameran tunggalnya di Rhode Island, AS, bulan Januari 2003. Ia menolak permintaan pihak galeri agar lukisan itu tidak disertakan karena menganggapnya illegal, jorok, dan menjurus seksual. Isi lukisan menonjolkan satu sosok lelaki telanjang tengah berjongkok.
"Saya tidak suka hal jorok, dan persoalan di lukisan itu juga bukan seksual. Saya ingin menggambarkan manusia yang ditindas oleh sistem, didiskriminasi, dilabelisasi, disisihkan, sampai terkentut-kentut," kata Entang.
Pencekalan itu memicu solidaritas para seniman setempat maupun para kurator, yang memindahkan pameran Entang ke tempat lain. Peristiwa yang terjadi di negara kampiun demokrasi itu menyulut dukungan di berbagai media massa terhadap seniman warga Indonesia tersebut. Sempat dibuat pula diskusi untuk membela haknya sebagai seniman.
Tinggal di AS juga membuatnya akrab dengan ikon dunia kartun seperti Bart Simpson, yang kemudian ia comot untuk karyanya. "Kartun Bart Simpson itu mengungkap masalah kita, manusia biasa di dalam kehidupan sehari-hari, bukan manusia super," tuturnya.
Belakangan sejumlah lukisan maupun karya instalasinya menampilkan sosok berkuping lebar mirip Teddy Bear. Boneka kesayangan anak itu ia sulap menjadi simbol Amerika, yang banyak dipuja tetapi lebih banyak lagi yang membenci.
"Saya tertarik ketika Dominic lahir, banyak kado berupa Teddy Bear. Saya tanya ke istri, apa maknanya? Ternyata itu berangkat dari kisah seorang Teddy Roosevelt, pemimpin Amerika saat itu, menyelamatkan bayi beruang," tutur Entang. Dominic Ensar Wiharso dan Marco Emil Wiharso adalah buah pernikahannya dengan Christine Cocca tahun 1997. Christine seorang ahli sejarah seni dan kini mengurus aktivitas seni suaminya.
Lelaki kelahiran Tegal, 19 Agustus 1967, ini menjalani masa mahasiswanya di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan kerja keras. Ia sempat cuti kuliah untuk membantu keluarga mengelola bisnis makanan kaki lima di Jakarta, yang dikenal sebagai "warung tegal".
Kini secara ekonomi kehidupannya sangat baik, tetapi sebagai seniman ia tak hendak mapan di dalam arti berhenti "mencari". Pamerannya di Bentara Budaya Jakarta yang dibuka Jumat (8/4) malam lalu membuktikan hal itu. Ia terpilih bersama tiga seniman lain untuk tampil di dalam Biennale Venesia pada bulan Juni tahun ini. (EFIX MULYADI)
Sumber : Kompas, Senin, 11 April 2005
Soedjono : Pak Jon dan Keprihatinan Tembang "Dolanan" Jawa
Pak Jon dan Keprihatinan Tembang "Dolanan" Jawa
Oleh : P Bambang Wisudo dan Rien Kuntari
Kidang Talun,
nduwe anak, talun
mil ketemil, mil ketemil,
si kidang mangan lembayung…
BISA dipastikan, petikan syair lagi dolanan bocah berjudul Kidang Talun itu tak lagi akrab di telinga anak zaman sekarang. Justru lagu-lagu bertema dewasa, seperti Cucak Rowo, Rondho Kempling, serta Bojo Loro, yang lebih mereka kenal.
Bukan karena lagu-lagu itu kurang bagus, tetapi rasanya sangat tidak tepat untuk dikonsumsi anak-anak. Tetapi, anak-anak pun tidak bisa disalahkan karena minimnya lagu-lagu yang baik bagi mereka." Kalimat itu meluncur dari bibir Soedjono (45), seorang guru agama yang juga pencipta lagu di Salatiga, sebuah kota sejuk nan alami di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Ia prihatin dengan kondisi itu. Katanya, "Setiap generasi mempunyai hak untuk mendapatkan bimbingan di segala sektor, termasuk budaya." Tidak adanya tembang dolanan anak-anak, lanjutnya, menjauhkan anak-anak dari kehidupan dan budaya yang seharusnya.
Pak Jon, begitu ia biasa dipanggil, lalu memberi contoh tembang dolanan berjudul Plek-emplek Ketepu.
"Plek-emplek ketepu, wong lanang goleko kayu, lamun golek aja dha menek, lamun menek aja dha mencit, lamun mencit aja dha tiba, lamun tiba aja nganti lara".
Lagu ini mengingatkan tentang peran seorang lelaki yang kelak menjadi kepala keluarga. Ia harus "mencari kayu", dalam arti mencari nafkah, tetapi tidak perlu ngoyo dan selalu waspada dalam hidup.
Dalam tembang Jago Kate, misalnya, Soedjono mengatakan, lagu yang bersyair "jago kate te te te, kukukluruuk … Kok! Amecece ce ce ce, kukuklurukkk… dibalang watu bocah kuncung, keok… mari umuk, mari ngece, sikate katon yen tukung" itu memang sebuah ledekan. Sasarannya seseorang bertubuh kecil, pendek, yang berlagak seperti jagoan tetapi ternyata gampang dikalahkan. Lagu itu menyiratkan sindiran kepada Jepang ketika menjajah Indonesia di era tahun 1942-an.
Katanya dengan tandas, "Kita, para orang tua dan guru, cukup risih ketika menyaksikan penampilan anak-anak di media audio visual, di mana mereka diperlakukan sebagai obyek eksploitasi untuk kepentingan komersial semata dengan mengabaikan perkembangan jiwa anak."
MAKA Soedjono tergerak untuk mengumpulkan, kemudian melestarikan tembang dolanan bocah tersebut. "Bagi saya, tembang dolanan bocah ini adalah warisan kebudayaan yang adiluhung, karena itu harus dilestarikan," ujarnya.
Selain itu, ia pun menangkap keresahan rekan-rekan seprofesi, khususnya guru taman kanak-kanak, sekolah dasar, atau pun madrasah aliah. Dalam arti, animo para guru untuk tetap mengajarkan filosofi dan nilai-nilai budaya kepada anak-anak cukup tinggi. Kendalanya, bahan maupun media tidak tersedia.
Hingga saat ini, ia berhasil mengumpulkan sekitar 70 lagu dolanan. Dari jumlah itu, 15 lagu telah ia kemas dalam bentuk satu rekaman kaset. "Semua itu semata-mata untuk keperluan sekolah karena banyak guru yang merasa tidak memiliki bahan dan media untuk mengajarkan tembang dolanan itu," ujarnya.
"Saya hanya berharap, anak-anak tidak tercerabut dari akar budaya mereka. Selain itu, lagu adalah bahasa universal, karena itu tidak akan pernah lekang," katanya. Melalui volume I, rekaman yang telah ia buat, Soedjono sengaja mengambil lagu-lagu yang sudah jarang dinyanyikan. Sebut saja, misalnya, Kidang Talun, Dodo Satrio, Esuk-esuk Srengengene, Sinten Numpak Sepur, Jago Kate, ataupun Pitik Tukung.
Sengaja ia memilih lagu-lagu yang kurang top karena lagu lain, seperti Gundhul-gundhul Pacul dan Cublak-cublak Suweng, masih cukup sering dinyanyikan. Selain itu, ia mengaku bahwa upaya itu masih menggunakan modal sendiri. Untuk menelurkan volume I kumpulan tembang dolanan bocah itu, ia telah menghabiskan setidaknya Rp 70 juta, jumlah yang memang tidak sedikit.
Sementara itu, masih ada sekitar 55 lagu yang perlu dilestarikan. "Yah, pelan-pelanlah. Yang penting, sekarang ini para guru sudah bisa memiliki media untuk mengajar, dan sedikit demi sedikit tembang dolanan ini bisa dilestarikan," katanya perlahan.
SOEDJONO memang sosok yang unik. Tak terlalu salah rasanya jika mengatakan ia hidup di dua "dunia". Untuk menopang kehidupan sehari-hari, lulusan Fakultas Tarbiah IAIN ini mengajarkan Ilmu Agama Islam di sekolah dasar negeri di Salatiga. Selain itu, lebih karena seorang teman, ia diminta mengajar seni teater dan musik di SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah, Salatiga, serta khusus teater di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, juga di Salatiga.
Terlepas dari itu, ia adalah salah satu vokalis Ken Arok, kelompok musik dangdut ternama di Salatiga. Dengan kata lain, di siang hari ia bicara soal agama, sedangkan di malam hari ia sibuk dengan kegiatan musik yang sarat dengan goyang. Pria kelahiran Susukan, Kabupaten Semarang, 12 Agustus 1959, itu hanya tersenyum menghadapi "benturan" tersebut, jika kedua hal itu memang dibenturkan.
Bagi ayah empat anak ini, kedua soal itu tidaklah saling berlawanan. "Kita bicara agama adalah untuk mendasari hidup, sementara seni, khususnya musik dangdut, adalah realita," ujarnya.
Ia merasa tidak perlu membenturkan kedua hal tersebut.
"Bagi saya, semua ini justru membawa kita pada proses pendewasaan dan pematangan diri dalam beragama," kata pria berkulit sawo matang itu. "Malah yang saya takutkan adalah satu hal, jangan sampai saya mengharamkan orang lain, dan yang tidak baik lagi adalah jika saya munafik," ujarnya.
Di belantika musik dangdut, ia memang bukan orang asing, bahkan pada tingkat nasional. Tahun 1995, ia menerima penghargaan HDX Award untuk lagu Jodoh yang ia ciptakan.
"Lagu itu meledak cukup luar biasa ketika dinyanyikan kelompok (dangdut) Manis Manja," katanya sambil tersenyum.
Sumber : Kompas, Selasa, 12 April 2005
Oleh : P Bambang Wisudo dan Rien Kuntari
Kidang Talun,
nduwe anak, talun
mil ketemil, mil ketemil,
si kidang mangan lembayung…
BISA dipastikan, petikan syair lagi dolanan bocah berjudul Kidang Talun itu tak lagi akrab di telinga anak zaman sekarang. Justru lagu-lagu bertema dewasa, seperti Cucak Rowo, Rondho Kempling, serta Bojo Loro, yang lebih mereka kenal.
Bukan karena lagu-lagu itu kurang bagus, tetapi rasanya sangat tidak tepat untuk dikonsumsi anak-anak. Tetapi, anak-anak pun tidak bisa disalahkan karena minimnya lagu-lagu yang baik bagi mereka." Kalimat itu meluncur dari bibir Soedjono (45), seorang guru agama yang juga pencipta lagu di Salatiga, sebuah kota sejuk nan alami di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Ia prihatin dengan kondisi itu. Katanya, "Setiap generasi mempunyai hak untuk mendapatkan bimbingan di segala sektor, termasuk budaya." Tidak adanya tembang dolanan anak-anak, lanjutnya, menjauhkan anak-anak dari kehidupan dan budaya yang seharusnya.
Pak Jon, begitu ia biasa dipanggil, lalu memberi contoh tembang dolanan berjudul Plek-emplek Ketepu.
"Plek-emplek ketepu, wong lanang goleko kayu, lamun golek aja dha menek, lamun menek aja dha mencit, lamun mencit aja dha tiba, lamun tiba aja nganti lara".
Lagu ini mengingatkan tentang peran seorang lelaki yang kelak menjadi kepala keluarga. Ia harus "mencari kayu", dalam arti mencari nafkah, tetapi tidak perlu ngoyo dan selalu waspada dalam hidup.
Dalam tembang Jago Kate, misalnya, Soedjono mengatakan, lagu yang bersyair "jago kate te te te, kukukluruuk … Kok! Amecece ce ce ce, kukuklurukkk… dibalang watu bocah kuncung, keok… mari umuk, mari ngece, sikate katon yen tukung" itu memang sebuah ledekan. Sasarannya seseorang bertubuh kecil, pendek, yang berlagak seperti jagoan tetapi ternyata gampang dikalahkan. Lagu itu menyiratkan sindiran kepada Jepang ketika menjajah Indonesia di era tahun 1942-an.
Katanya dengan tandas, "Kita, para orang tua dan guru, cukup risih ketika menyaksikan penampilan anak-anak di media audio visual, di mana mereka diperlakukan sebagai obyek eksploitasi untuk kepentingan komersial semata dengan mengabaikan perkembangan jiwa anak."
MAKA Soedjono tergerak untuk mengumpulkan, kemudian melestarikan tembang dolanan bocah tersebut. "Bagi saya, tembang dolanan bocah ini adalah warisan kebudayaan yang adiluhung, karena itu harus dilestarikan," ujarnya.
Selain itu, ia pun menangkap keresahan rekan-rekan seprofesi, khususnya guru taman kanak-kanak, sekolah dasar, atau pun madrasah aliah. Dalam arti, animo para guru untuk tetap mengajarkan filosofi dan nilai-nilai budaya kepada anak-anak cukup tinggi. Kendalanya, bahan maupun media tidak tersedia.
Hingga saat ini, ia berhasil mengumpulkan sekitar 70 lagu dolanan. Dari jumlah itu, 15 lagu telah ia kemas dalam bentuk satu rekaman kaset. "Semua itu semata-mata untuk keperluan sekolah karena banyak guru yang merasa tidak memiliki bahan dan media untuk mengajarkan tembang dolanan itu," ujarnya.
"Saya hanya berharap, anak-anak tidak tercerabut dari akar budaya mereka. Selain itu, lagu adalah bahasa universal, karena itu tidak akan pernah lekang," katanya. Melalui volume I, rekaman yang telah ia buat, Soedjono sengaja mengambil lagu-lagu yang sudah jarang dinyanyikan. Sebut saja, misalnya, Kidang Talun, Dodo Satrio, Esuk-esuk Srengengene, Sinten Numpak Sepur, Jago Kate, ataupun Pitik Tukung.
Sengaja ia memilih lagu-lagu yang kurang top karena lagu lain, seperti Gundhul-gundhul Pacul dan Cublak-cublak Suweng, masih cukup sering dinyanyikan. Selain itu, ia mengaku bahwa upaya itu masih menggunakan modal sendiri. Untuk menelurkan volume I kumpulan tembang dolanan bocah itu, ia telah menghabiskan setidaknya Rp 70 juta, jumlah yang memang tidak sedikit.
Sementara itu, masih ada sekitar 55 lagu yang perlu dilestarikan. "Yah, pelan-pelanlah. Yang penting, sekarang ini para guru sudah bisa memiliki media untuk mengajar, dan sedikit demi sedikit tembang dolanan ini bisa dilestarikan," katanya perlahan.
SOEDJONO memang sosok yang unik. Tak terlalu salah rasanya jika mengatakan ia hidup di dua "dunia". Untuk menopang kehidupan sehari-hari, lulusan Fakultas Tarbiah IAIN ini mengajarkan Ilmu Agama Islam di sekolah dasar negeri di Salatiga. Selain itu, lebih karena seorang teman, ia diminta mengajar seni teater dan musik di SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah, Salatiga, serta khusus teater di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri, juga di Salatiga.
Terlepas dari itu, ia adalah salah satu vokalis Ken Arok, kelompok musik dangdut ternama di Salatiga. Dengan kata lain, di siang hari ia bicara soal agama, sedangkan di malam hari ia sibuk dengan kegiatan musik yang sarat dengan goyang. Pria kelahiran Susukan, Kabupaten Semarang, 12 Agustus 1959, itu hanya tersenyum menghadapi "benturan" tersebut, jika kedua hal itu memang dibenturkan.
Bagi ayah empat anak ini, kedua soal itu tidaklah saling berlawanan. "Kita bicara agama adalah untuk mendasari hidup, sementara seni, khususnya musik dangdut, adalah realita," ujarnya.
Ia merasa tidak perlu membenturkan kedua hal tersebut.
"Bagi saya, semua ini justru membawa kita pada proses pendewasaan dan pematangan diri dalam beragama," kata pria berkulit sawo matang itu. "Malah yang saya takutkan adalah satu hal, jangan sampai saya mengharamkan orang lain, dan yang tidak baik lagi adalah jika saya munafik," ujarnya.
Di belantika musik dangdut, ia memang bukan orang asing, bahkan pada tingkat nasional. Tahun 1995, ia menerima penghargaan HDX Award untuk lagu Jodoh yang ia ciptakan.
"Lagu itu meledak cukup luar biasa ketika dinyanyikan kelompok (dangdut) Manis Manja," katanya sambil tersenyum.
Sumber : Kompas, Selasa, 12 April 2005
Wayan Sadha : sadha, Kartun, dan Anjing "Sompret"
Sadha, Kartun, dan Anjing "Sompret"
Oleh : Putu Fajar Arcana
BAGI orang "desa" seperti Wayan Sadha (57), pariwisata Bali menimbulkan banyak ironi. Kurang dari 10 tahun, Jimbaran, di mana ia dilahirkan 29 Juli 1948, berubah pesat. Dulu desa di selatan kota Denpasar itu hanyalah dusun nelayan kecil yang hanya memiliki akses ke kota lewat laut. Kini kata Jimbaran sendiri mengenangkan akan seafood cafe yang berderet di sepanjang pantai. Lalu turis-turis yang bersantai sembari meneguk berbotol-botol bir.
SECARA ekonomi, gerusan perubahan itu jauh meninggalkan Sadha seorang diri. Ia tetap tidak terangkut oleh mesin industri yang bergerak cepat meraih obsesi "kemakmuran". Sebagai manusia "masa lalu", tetapi hidup di riuh industri masa kini, Sadha hadir sebagai paradoks.
Sebelum memutuskan hidup sebagai kartunis, Sadha menjalani beragam profesi, yang erat kaitannya dengan kelaparan yang menyertainya sejak kecil.
IA pernah menjadi pedagang ikan keliling dengan sepeda ontel di kawasan Denpasar Selatan. Desa-desa seperti Jimbaran, Pecatu, Kedonganan, Suwung, Sesetan, Pemogan, dan sekitarnya adalah wilayah-wilayah yang jadi pasaran ikannya. Tahun-tahun 1970-an, bisa jadi Sadha adalah sedikit dari lelaki Bali yang mau berjualan. Tak lama sesudah itu, dengan sepeda yang sama ia hidup sebagai tukang foto keliling.
"Mungkin waktu itu saya satu-satunya tukang foto keliling di wilayah Denpasar Selatan," tutur Sadha. Bagi desa-desa tadi, berfoto menjadi ritual yang "mahal" dan "aneh" karena masih sangat jarang orang yang memiliki kamera.
Justru Sadha yang hanya sampai kelas I SR (sekolah rakyat) mengisi peluang itu. Ia belajar memotret dari pengalaman, sebagaimana pula nantinya ia lakukan ketika memutuskan menjadi kartunis.
"Saya selalu dipanggil kalau ada upacara, terutama perkawinan. Bahkan pernah pula memotret untuk pembuatan KTP, hi-hi-hi," kenang Sadha terkekeh. Ketika kemudian banyak orang memiliki kamera dan studio foto merebak di mana- mana, profesi tukang potret keliling itu tak lagi laku. Sadha pun kehilangan pekerjaan, padahal ia menanggung enam orang adik.
Ibunya, Ni Ketut Jegu, meninggal tahun 1969. Sementara, kata Sadha, ayahnya, I Nyoman Cateng, termasuk nelayan yang kurang rajin. "Jadi sebagai anak tertua saya harus menanggung hidup keluarga," katanya. Tadinya pekerjaan ibunya sebagai buruh angkut di Pasar Badung cukup membantu kehidupan keluarga mereka.
SEKITAR awal tahun 1980-an, setelah bersentuhan dengan antropolog asal Perancis Jean Couteau, Sadha memutuskan menjadi kartunis sekaligus wartawan untuk sebuah majalah berbahasa Inggris terbitan lokal Bali bernama Archipelago. Tentulah itu sebuah "profesi" yang sungguh asing bagi orang "desa" seperti dia. Menggambar kartun hampir-hampir tak dikenal dalam tradisi rupa di Bali. Kalau toh sekarang banyak kartunis berasal dari Bali, itu terjadi bukan karena kesadaran tradisi. Profesi kartunis secara langsung "diadopsi" dari dunia Barat.
Pada Sadha soalnya menjadi unik. Mungkin kartun-kartunnya ia bikin untuk kepentingan siaran di media massa, tetapi secara bentuk dan isi ia mencerminkan "kedesaan". Gambar-gambarnya mengingatkan pada ilustrasi-ilustrasi yang dibikin untuk dongeng-dongeng Bali. Sementara isinya, yang diungkapkan dalam bahasa Bali, sebagian besar mengisahkan ironi-ironi hidup di alam tradisi yang digempur pariwisata.
Dalam satu kartun yang dimuat pada buku Bali To Day karya Jean Couteau, Sadha "menyindir" perilaku para gigolo di Bali. Ia melukiskan seorang gigolo sedang membeli bensin. Seorang karyawan bertanya, "Ngudiang diketone ngejang pipis." (Kok pada itumu menyimpan duit). Dijawab, "Mapan icang ngalih gae nganggon ikut." (Itu karena aku kerja dengan ekor). Gambarnya memperlihatkan seorang lelaki di atas sepeda motor bermerek "Gigolo", membonceng turis perempuan, sedang mengeluarkan uang dari dalam celananya.
Tanpa harus menjelaskan modal kerja seorang gigolo untuk meraih uang, kita sudah paham apa yang dimaksudkan Sadha. Di luar soal itu, inilah ironi-ironi yang dibangun Sadha untuk mengkritik berbagai kepincangan yang dihasilkan pariwisata. Ia tidak berangkat dari narasi-narasi di dalam buku, tetapi menjadi saksi pola perilaku "saudara-saudaranya" ketika "bergembira" menyambut pariwisata.
HAMPIR pada setiap karyanya suami dari Ni Made Kondri ini memunculkan tokoh anjing bernama Sompret. "Sompret adalah anjing kacang, di mana tak seorang majikan pun yang sudi merawatnya," ujar Sadha. Sompret selalu nyeletuk untuk menyuarakan kepincangan, ketidakadilan, dan pengingkaran terhadap kebenaran.
Mungkin Sompret hanya metafor. Dalam bahasa Indonesia sompret artinya terompet. Dan anjing kacang adalah terompet untuk menyuarakan aspirasi orang-orang marjinal, seperti Sadha.
Apa yang dilakukan Sadha mengingatkan kita kepada cerita-cerita rakyat di Bali tentang tokoh-tokoh yang bodoh dan miskin, tetapi justru selalu beruntung, atau dengan kebodohannya bisa memperdayai orang lain. Ini juga cerminan hidup Sadha sehari-hari sekarang, yang sepenuhnya bergantung pada kebisaannya menggambar kartun di media-media lokal.
Kartun bagi Sadha tak sekadar media untuk menyindir. Ia juga cerminan dari kondisi-kondisi sosial yang kini melanda Bali dengan perspektif lokal. Oleh karena itu, ujar Sadha, apa yang ia kerjakan itulah yang sesungguhnya terjadi. "Tidak ada bumbu-bumbu, saya hanya mengucapkan apa yang saya lihat sehari-hari," tuturnya.
Selain tidak terangkut oleh gemuruh industri pariwisata, sebagai kartunis Sadha juga sesungguhnya sebuah anomali. Ia tidak mengikuti arus besar diskursus gambar dan isi kartun di Tanah Air. Bahasa Bali yang digunakannya adalah bahasa rakyat, tetapi ia memotret sebuah realitas aktual yang sedang riuh rendah melanda daerah ini. Maka di situlah ironi-ironi itu berkembang menjadi penggambaran sebuah pencapaian yang timpang dari cita-cita "kemakmuran".
Karya-karya Sadha kini tersebar di berbagai penerbitan lokal Bali. Bahkan, tahun 2006 ia berhasrat memamerkan karya-karyanya sebagaimana orang menikmati lukisan. Karya-karya Sadha merupakan cermin yang lain di dalam memahami Bali secara lebih menyeluruh.
Sumber : Kompas, Rabu, 13 April 2005
Oleh : Putu Fajar Arcana
BAGI orang "desa" seperti Wayan Sadha (57), pariwisata Bali menimbulkan banyak ironi. Kurang dari 10 tahun, Jimbaran, di mana ia dilahirkan 29 Juli 1948, berubah pesat. Dulu desa di selatan kota Denpasar itu hanyalah dusun nelayan kecil yang hanya memiliki akses ke kota lewat laut. Kini kata Jimbaran sendiri mengenangkan akan seafood cafe yang berderet di sepanjang pantai. Lalu turis-turis yang bersantai sembari meneguk berbotol-botol bir.
SECARA ekonomi, gerusan perubahan itu jauh meninggalkan Sadha seorang diri. Ia tetap tidak terangkut oleh mesin industri yang bergerak cepat meraih obsesi "kemakmuran". Sebagai manusia "masa lalu", tetapi hidup di riuh industri masa kini, Sadha hadir sebagai paradoks.
Sebelum memutuskan hidup sebagai kartunis, Sadha menjalani beragam profesi, yang erat kaitannya dengan kelaparan yang menyertainya sejak kecil.
IA pernah menjadi pedagang ikan keliling dengan sepeda ontel di kawasan Denpasar Selatan. Desa-desa seperti Jimbaran, Pecatu, Kedonganan, Suwung, Sesetan, Pemogan, dan sekitarnya adalah wilayah-wilayah yang jadi pasaran ikannya. Tahun-tahun 1970-an, bisa jadi Sadha adalah sedikit dari lelaki Bali yang mau berjualan. Tak lama sesudah itu, dengan sepeda yang sama ia hidup sebagai tukang foto keliling.
"Mungkin waktu itu saya satu-satunya tukang foto keliling di wilayah Denpasar Selatan," tutur Sadha. Bagi desa-desa tadi, berfoto menjadi ritual yang "mahal" dan "aneh" karena masih sangat jarang orang yang memiliki kamera.
Justru Sadha yang hanya sampai kelas I SR (sekolah rakyat) mengisi peluang itu. Ia belajar memotret dari pengalaman, sebagaimana pula nantinya ia lakukan ketika memutuskan menjadi kartunis.
"Saya selalu dipanggil kalau ada upacara, terutama perkawinan. Bahkan pernah pula memotret untuk pembuatan KTP, hi-hi-hi," kenang Sadha terkekeh. Ketika kemudian banyak orang memiliki kamera dan studio foto merebak di mana- mana, profesi tukang potret keliling itu tak lagi laku. Sadha pun kehilangan pekerjaan, padahal ia menanggung enam orang adik.
Ibunya, Ni Ketut Jegu, meninggal tahun 1969. Sementara, kata Sadha, ayahnya, I Nyoman Cateng, termasuk nelayan yang kurang rajin. "Jadi sebagai anak tertua saya harus menanggung hidup keluarga," katanya. Tadinya pekerjaan ibunya sebagai buruh angkut di Pasar Badung cukup membantu kehidupan keluarga mereka.
SEKITAR awal tahun 1980-an, setelah bersentuhan dengan antropolog asal Perancis Jean Couteau, Sadha memutuskan menjadi kartunis sekaligus wartawan untuk sebuah majalah berbahasa Inggris terbitan lokal Bali bernama Archipelago. Tentulah itu sebuah "profesi" yang sungguh asing bagi orang "desa" seperti dia. Menggambar kartun hampir-hampir tak dikenal dalam tradisi rupa di Bali. Kalau toh sekarang banyak kartunis berasal dari Bali, itu terjadi bukan karena kesadaran tradisi. Profesi kartunis secara langsung "diadopsi" dari dunia Barat.
Pada Sadha soalnya menjadi unik. Mungkin kartun-kartunnya ia bikin untuk kepentingan siaran di media massa, tetapi secara bentuk dan isi ia mencerminkan "kedesaan". Gambar-gambarnya mengingatkan pada ilustrasi-ilustrasi yang dibikin untuk dongeng-dongeng Bali. Sementara isinya, yang diungkapkan dalam bahasa Bali, sebagian besar mengisahkan ironi-ironi hidup di alam tradisi yang digempur pariwisata.
Dalam satu kartun yang dimuat pada buku Bali To Day karya Jean Couteau, Sadha "menyindir" perilaku para gigolo di Bali. Ia melukiskan seorang gigolo sedang membeli bensin. Seorang karyawan bertanya, "Ngudiang diketone ngejang pipis." (Kok pada itumu menyimpan duit). Dijawab, "Mapan icang ngalih gae nganggon ikut." (Itu karena aku kerja dengan ekor). Gambarnya memperlihatkan seorang lelaki di atas sepeda motor bermerek "Gigolo", membonceng turis perempuan, sedang mengeluarkan uang dari dalam celananya.
Tanpa harus menjelaskan modal kerja seorang gigolo untuk meraih uang, kita sudah paham apa yang dimaksudkan Sadha. Di luar soal itu, inilah ironi-ironi yang dibangun Sadha untuk mengkritik berbagai kepincangan yang dihasilkan pariwisata. Ia tidak berangkat dari narasi-narasi di dalam buku, tetapi menjadi saksi pola perilaku "saudara-saudaranya" ketika "bergembira" menyambut pariwisata.
HAMPIR pada setiap karyanya suami dari Ni Made Kondri ini memunculkan tokoh anjing bernama Sompret. "Sompret adalah anjing kacang, di mana tak seorang majikan pun yang sudi merawatnya," ujar Sadha. Sompret selalu nyeletuk untuk menyuarakan kepincangan, ketidakadilan, dan pengingkaran terhadap kebenaran.
Mungkin Sompret hanya metafor. Dalam bahasa Indonesia sompret artinya terompet. Dan anjing kacang adalah terompet untuk menyuarakan aspirasi orang-orang marjinal, seperti Sadha.
Apa yang dilakukan Sadha mengingatkan kita kepada cerita-cerita rakyat di Bali tentang tokoh-tokoh yang bodoh dan miskin, tetapi justru selalu beruntung, atau dengan kebodohannya bisa memperdayai orang lain. Ini juga cerminan hidup Sadha sehari-hari sekarang, yang sepenuhnya bergantung pada kebisaannya menggambar kartun di media-media lokal.
Kartun bagi Sadha tak sekadar media untuk menyindir. Ia juga cerminan dari kondisi-kondisi sosial yang kini melanda Bali dengan perspektif lokal. Oleh karena itu, ujar Sadha, apa yang ia kerjakan itulah yang sesungguhnya terjadi. "Tidak ada bumbu-bumbu, saya hanya mengucapkan apa yang saya lihat sehari-hari," tuturnya.
Selain tidak terangkut oleh gemuruh industri pariwisata, sebagai kartunis Sadha juga sesungguhnya sebuah anomali. Ia tidak mengikuti arus besar diskursus gambar dan isi kartun di Tanah Air. Bahasa Bali yang digunakannya adalah bahasa rakyat, tetapi ia memotret sebuah realitas aktual yang sedang riuh rendah melanda daerah ini. Maka di situlah ironi-ironi itu berkembang menjadi penggambaran sebuah pencapaian yang timpang dari cita-cita "kemakmuran".
Karya-karya Sadha kini tersebar di berbagai penerbitan lokal Bali. Bahkan, tahun 2006 ia berhasrat memamerkan karya-karyanya sebagaimana orang menikmati lukisan. Karya-karya Sadha merupakan cermin yang lain di dalam memahami Bali secara lebih menyeluruh.
Sumber : Kompas, Rabu, 13 April 2005
Ko Houw Houw : Iwan Nit-Net, "Bank Data" Budaya Banten
Iwan Nit-Net, "Bank Data" Budaya Banten
Oleh : MH Samsul Hadi
Sebagai Ko Houw Houw, ia tak dikenal. Namun, jika Iwan Nit-Net (40) yang disebut, warga Kampung Pamarican di Banten Lama hingga orang Baduy Dalam di Kampung Cibeo sekalipun akrab.
BERBEKAL kamera, ia suka keluar masuk kampung untuk mencatat dan merekam berbagai informasi seputar budaya Banten. Akibat hobinya itu, anak tunggal pasangan Ko Kian Hoe-Tjioe Lan Eng ini pernah dijuluki "China Edan".
"Saya bosan dengan ritual buka toko di pagi hari dan tutup toko di malam hari," tutur Iwan. "Saya kumpulkan data-data kesenian tradisional dan budaya Banten, mumpung orangnya (pelaku kesenian) masih ada."
Dokumentasi kesenian tradisional dan budaya Banten itu berupa catatan-yang juga ia simpan di komputer usang berperangkat Pentium 3-selain foto, rekaman kamera, dan barang antik. Semua terserak di ruang kerja yang sempit pada lantai dua rumahnya di Jalan Diponegoro, Kota Serang.
ADA juga tumpukan koran lama yang menyentuh langit-langit rumah. Tersimpan juga beberapa barang antik seperti Jejodog (tempat duduk) karya pahatan pelukis Hendra Gunawan (1918-1983) yang diabadikan dalam lukisan Aku dan Istriku di Lonceng Kedua.
"Waktu aktif di lingkungan seni kampus, saya kesulitan mencari literatur tentang budaya Banten. Orang-orang sini pun ketika ditanya soal itu, banyak yang tidak tahu," papar pria bernama lengkap Muhammad Iwan Subakti Koharjaya soal awal mula minatnya pada dokumentasi budaya Banten.
Sejak itulah ia berkelana dari satu kampung ke kampung lain di wilayah Banten. Ia bertemu kiai, tokoh pendekar, hingga para kokolot (tokoh adat). Asal-usulnya yang keturunan Tionghoa tidak menghambat interaksinya dengan mereka.
Ia mampu menjalin persahabatan dengan Jaro Karis, tokoh jawara karismatik dari Lebak, sejak tahun 1985 dan sejumlah kokolot Baduy sejak tahun 2001. "Tidak benar kalau orang Banten fanatik. Kuncinya adalah komunikasi yang kita bangun," kata pria kelahiran Bandung, 23 November 1965, itu.
Iwan juga mengumpulkan benda-benda cagar budaya. Data tentang budaya Banten dan benda-benda cagar budaya tersebut menjadikan rumahnya seperti "bank data" budaya Banten.
Benda cagar budaya itu berupa gerabah, pedang, keris, meja, lemari, mata uang, fosil batu, alat pertanian, serta keramik kuno buatan Thailand, Vietnam, China, Jepang, dan Eropa. Sebagian dari benda-benda itu diserahkan pemiliknya karena bosan atau ingin ada yang merawatnya.
"Sebagian benda-benda tersebut masih disimpan pemiliknya sampai saya mempunyai mitra untuk membuat sebuah tempat penyimpanan," ujar Iwan. Ia bercita-cita benda-benda cagar budaya itu kelak mengisi museum daerah Banten, yang tengah dia rintis bersama rekan-rekannya.
"Banyak benda cagar budaya Banten yang berpindah tangan, berpindah tempat bahkan hingga ke luar negeri. Ini sangat merugikan Banten yang kelak sangat sulit menemukan titik terang sejarah Banten," kata ayah dari Mimosa Pudica Koharjaya (11), hasil perkawinannya dengan wanita asli Serang, Lia Mulyasih (35).
MINAT Iwan pada dokumentasi budaya Banten terbangun sejak ia masih di sekolah dasar. Saat itu ia sering diajak berkeliling ke berbagai tempat oleh ayahnya, Ko Kian Hoe (72) alias Sianfu atau Chemy SNF, wartawan dan pendiri majalah bulanan Oetoesan Banten, media cetak pertama di Banten setelah Indonesia merdeka, yang terbit tahun 1954.
Berbekal kamera yang dibelikan ayahnya waktu itu, ia mulai mengasah kemampuannya di bidang fotografi. Sebagian koleksi fotonya tentang budaya Banten telah dimuat di beberapa media cetak. Berkat kekayaan data-datanya, jebolan Fakultas Teknik Sipil Sekolah Teknik Tinggi Tirtayasa Cilegon tanpa ijazah itu dipercaya menggarap Menara Banten, majalah bulanan yang dikelola Pemerintah Provinsi Banten, tahun 2003-2004.
Iwan sering didatangi mahasiswa yang menyusun skripsi tentang Banten maupun wartawan yang memerlukan foto-foto itu. "Semua itu saya berikan secara gratis dan tidak ada yang ditutup-tutupi," ujarnya.
Foto-foto mengenai budaya Banten tidak dia jual, kecuali kepada perusahaan, seperti kepada PT Angkasa Pura II yang membeli 50 lembar foto berukuran 10R untuk dipasang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Ia sering diminta memandu para pemburu khazanah budaya Banten. Beberapa peneliti di Badan Arkeologi Nasional, Museum Nasional, Universitas Leiden (Belanda), Universitas Kyoto (Jepang), dan Pusat Kebudayaan Jepang juga sering mengontaknya untuk berdiskusi soal budaya Banten.
SEPERTI diakuinya, Iwan telah keluar dari stereotip tentang keturunan Tionghoa: piawai berbisnis, kurang peduli sekitar, dan pasti kaya raya. Berkali-kali usahanya gagal, mulai dari layanan jasa desain, perusahaan furnitur, hingga usaha warnet. Tidak ada peninggalan dari bekas usahanya kecuali nama "Nit-Net" yang dikutip dari nama warnetnya.
Selain menekuni jalur budaya, ia juga aktif dalam Yayasan Seng Pho-bergerak di bidang pendidikan dan dokumentasi sejarah-di mana ia menjadi salah satu pendiri dan sekretarisnya.
Iwan menggalang komunitas Wong Banten sebagai basis gerakan untuk membentuk karakter masyarakat lokal, dengan jaringan para warga Banten yang tersebar hingga ke luar negeri. Komunitas itu berupaya menggali identitas budaya lokal, yang hingga 4,5 tahun setelah Provinsi Banten berdiri, masih menjadi tanda tanya.
Belakangan ini ia mulai menggarap komunitas pertanian dengan menawarkan pupuk gratis kepada para petani sebagai uji coba meningkatkan produksi padi. "Jika produksi padi mereka meningkat lebih dari satu ton, petani memberikan gabahnya 50 kilogram yang dikumpulkan untuk membantu warga yang kekurangan pangan," tuturnya.
Dengan begitu, Iwan ingin membuktikan: bergerak di jalur budaya bukanlah sesuatu yang mengawang-awang, teoretis, dan elitis. Mengenai hal itu, ia berkata, "Bagaimana mau bicara soal character building plan jika perut masih kosong." (MH SAMSUL HADI)
Sumber : Kompas, Kamis, 14 April 2005
Oleh : MH Samsul Hadi
Sebagai Ko Houw Houw, ia tak dikenal. Namun, jika Iwan Nit-Net (40) yang disebut, warga Kampung Pamarican di Banten Lama hingga orang Baduy Dalam di Kampung Cibeo sekalipun akrab.
BERBEKAL kamera, ia suka keluar masuk kampung untuk mencatat dan merekam berbagai informasi seputar budaya Banten. Akibat hobinya itu, anak tunggal pasangan Ko Kian Hoe-Tjioe Lan Eng ini pernah dijuluki "China Edan".
"Saya bosan dengan ritual buka toko di pagi hari dan tutup toko di malam hari," tutur Iwan. "Saya kumpulkan data-data kesenian tradisional dan budaya Banten, mumpung orangnya (pelaku kesenian) masih ada."
Dokumentasi kesenian tradisional dan budaya Banten itu berupa catatan-yang juga ia simpan di komputer usang berperangkat Pentium 3-selain foto, rekaman kamera, dan barang antik. Semua terserak di ruang kerja yang sempit pada lantai dua rumahnya di Jalan Diponegoro, Kota Serang.
ADA juga tumpukan koran lama yang menyentuh langit-langit rumah. Tersimpan juga beberapa barang antik seperti Jejodog (tempat duduk) karya pahatan pelukis Hendra Gunawan (1918-1983) yang diabadikan dalam lukisan Aku dan Istriku di Lonceng Kedua.
"Waktu aktif di lingkungan seni kampus, saya kesulitan mencari literatur tentang budaya Banten. Orang-orang sini pun ketika ditanya soal itu, banyak yang tidak tahu," papar pria bernama lengkap Muhammad Iwan Subakti Koharjaya soal awal mula minatnya pada dokumentasi budaya Banten.
Sejak itulah ia berkelana dari satu kampung ke kampung lain di wilayah Banten. Ia bertemu kiai, tokoh pendekar, hingga para kokolot (tokoh adat). Asal-usulnya yang keturunan Tionghoa tidak menghambat interaksinya dengan mereka.
Ia mampu menjalin persahabatan dengan Jaro Karis, tokoh jawara karismatik dari Lebak, sejak tahun 1985 dan sejumlah kokolot Baduy sejak tahun 2001. "Tidak benar kalau orang Banten fanatik. Kuncinya adalah komunikasi yang kita bangun," kata pria kelahiran Bandung, 23 November 1965, itu.
Iwan juga mengumpulkan benda-benda cagar budaya. Data tentang budaya Banten dan benda-benda cagar budaya tersebut menjadikan rumahnya seperti "bank data" budaya Banten.
Benda cagar budaya itu berupa gerabah, pedang, keris, meja, lemari, mata uang, fosil batu, alat pertanian, serta keramik kuno buatan Thailand, Vietnam, China, Jepang, dan Eropa. Sebagian dari benda-benda itu diserahkan pemiliknya karena bosan atau ingin ada yang merawatnya.
"Sebagian benda-benda tersebut masih disimpan pemiliknya sampai saya mempunyai mitra untuk membuat sebuah tempat penyimpanan," ujar Iwan. Ia bercita-cita benda-benda cagar budaya itu kelak mengisi museum daerah Banten, yang tengah dia rintis bersama rekan-rekannya.
"Banyak benda cagar budaya Banten yang berpindah tangan, berpindah tempat bahkan hingga ke luar negeri. Ini sangat merugikan Banten yang kelak sangat sulit menemukan titik terang sejarah Banten," kata ayah dari Mimosa Pudica Koharjaya (11), hasil perkawinannya dengan wanita asli Serang, Lia Mulyasih (35).
MINAT Iwan pada dokumentasi budaya Banten terbangun sejak ia masih di sekolah dasar. Saat itu ia sering diajak berkeliling ke berbagai tempat oleh ayahnya, Ko Kian Hoe (72) alias Sianfu atau Chemy SNF, wartawan dan pendiri majalah bulanan Oetoesan Banten, media cetak pertama di Banten setelah Indonesia merdeka, yang terbit tahun 1954.
Berbekal kamera yang dibelikan ayahnya waktu itu, ia mulai mengasah kemampuannya di bidang fotografi. Sebagian koleksi fotonya tentang budaya Banten telah dimuat di beberapa media cetak. Berkat kekayaan data-datanya, jebolan Fakultas Teknik Sipil Sekolah Teknik Tinggi Tirtayasa Cilegon tanpa ijazah itu dipercaya menggarap Menara Banten, majalah bulanan yang dikelola Pemerintah Provinsi Banten, tahun 2003-2004.
Iwan sering didatangi mahasiswa yang menyusun skripsi tentang Banten maupun wartawan yang memerlukan foto-foto itu. "Semua itu saya berikan secara gratis dan tidak ada yang ditutup-tutupi," ujarnya.
Foto-foto mengenai budaya Banten tidak dia jual, kecuali kepada perusahaan, seperti kepada PT Angkasa Pura II yang membeli 50 lembar foto berukuran 10R untuk dipasang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Ia sering diminta memandu para pemburu khazanah budaya Banten. Beberapa peneliti di Badan Arkeologi Nasional, Museum Nasional, Universitas Leiden (Belanda), Universitas Kyoto (Jepang), dan Pusat Kebudayaan Jepang juga sering mengontaknya untuk berdiskusi soal budaya Banten.
SEPERTI diakuinya, Iwan telah keluar dari stereotip tentang keturunan Tionghoa: piawai berbisnis, kurang peduli sekitar, dan pasti kaya raya. Berkali-kali usahanya gagal, mulai dari layanan jasa desain, perusahaan furnitur, hingga usaha warnet. Tidak ada peninggalan dari bekas usahanya kecuali nama "Nit-Net" yang dikutip dari nama warnetnya.
Selain menekuni jalur budaya, ia juga aktif dalam Yayasan Seng Pho-bergerak di bidang pendidikan dan dokumentasi sejarah-di mana ia menjadi salah satu pendiri dan sekretarisnya.
Iwan menggalang komunitas Wong Banten sebagai basis gerakan untuk membentuk karakter masyarakat lokal, dengan jaringan para warga Banten yang tersebar hingga ke luar negeri. Komunitas itu berupaya menggali identitas budaya lokal, yang hingga 4,5 tahun setelah Provinsi Banten berdiri, masih menjadi tanda tanya.
Belakangan ini ia mulai menggarap komunitas pertanian dengan menawarkan pupuk gratis kepada para petani sebagai uji coba meningkatkan produksi padi. "Jika produksi padi mereka meningkat lebih dari satu ton, petani memberikan gabahnya 50 kilogram yang dikumpulkan untuk membantu warga yang kekurangan pangan," tuturnya.
Dengan begitu, Iwan ingin membuktikan: bergerak di jalur budaya bukanlah sesuatu yang mengawang-awang, teoretis, dan elitis. Mengenai hal itu, ia berkata, "Bagaimana mau bicara soal character building plan jika perut masih kosong." (MH SAMSUL HADI)
Sumber : Kompas, Kamis, 14 April 2005
Catharina Wijanto : Rini Akan Mengantarkan Anda di Hamburg
Rini Akan Mengantarkan Anda di Hamburg
Oleh : Taufik H Minhardja
Ayahnya bilang begini,"Sebelum usia kamu 40 tahun, kamu itu mesti kerja mati-matian. Kalau kamu tidak bisa melakukan itu, maka hidupmu gagal."
PESAN almarhum ayahnya itu terngiang-ngiang terus dalam pikiran perempuan paruh baya bernama Catharina-yang akrab dipanggil Rini. Karena itu, ia ingin selalu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari supaya ia tidak termasuk dalam orang-orang yang hidupnya gagal.
Ayahnya yang keturunan China meninggal tahun 1995, sedangkan ibunya yang berdarah Betawi meninggal berbarengan dengan peristiwa gempa bumi dan tsunami di Aceh pada 26 Desember tahun lalu.
Tahun 1988 Rini dinikahi Hermann Wijanto, seorang pelaut yang sudah selama 30 tahun bekerja di kapal Jerman. Hermann mengajaknya pindah ke Hamburg. Di sana Rini gigih mencari pekerjaan, yang membawanya ke dunia yang selama ini digeluti kaum pria, yakni menjadi sopir taksi. Profesi itu sudah ia jalani selama delapan tahun terakhir.
PERTEMUAN Kompas dengan Rini pada hari Sabtu, 9 April, itu tidak disengaja. Cuaca yang dingin di bawah 10 derajat Celsius yang disertai angin kencang pada petang itu memaksa kami berempat untuk naik taksi, daripada berjalan kaki, dari sebuah kantor di pusat kota ke hotel, yang jaraknya sekitar tiga kilometer.
Kami berjalan ke arah taksi yang sedang berjejer menunggu penumpang di seberang mal C & A. Kepada sopir taksi yang terdepan itu, kami bertanya apakah empat orang boleh naik dalam satu taksi. Tanpa diduga, sopir itu menjawab dalam bahasa Indonesia, "Boleh!"
Suaranya terdengar suara perempuan. Rupanya jaket penghangat tubuh berwarna kuning serta topi putih yang dikenakannya tidak serta-merta menunjukkan bahwa sopir itu seorang perempuan.
Mendapat jawaban seperti itu, kami lalu menaiki taksi tersebut dengan penuh keriangan disertai kekaguman. Sambil ngobrol macam-macam, Rini lalu mengantarkan kami ke Suitehotel. Sesampainya di depan hotel, kami lalu menyerahkan ongkos taksi 6 euro atau sekitar Rp 75.000.
Sayang Rini waktu itu menolak diajak makan malam bersama. "Saya malam ini sudah punya janji untuk ngerumpi dengan ibu-ibu asal Indonesia," kata Rini, sambil menyebutkan sebuah tempat. Ia menyatakan tidak enak kepada tuan rumah kalau ia harus membatalkan janji begitu saja. Apalagi pertemuan itu diselenggarakan hanya sebulan sekali.
Perempuan asal Cibubur, Jakarta Timur, itu kini memakai nama Catharina Wijanto dan tinggal di Marienthaler Strasse, Hamburg. Pasangan ini memiliki tiga anak: dua anak perempuan yang dilahirkan di Indonesia dan bungsu laki-laki lahir di Jerman.
Ketiganya masih bersekolah. Yang terbesar akan menjadi guru taman kanak- kanak, yang kedua ingin menjadi asisten dokter, sedangkan yang ketiga masih di tingkat SMP.
Sebagai seorang ibu, Rini biasa bangun pagi, pukul 06.00 atau 08.00. Lalu ia mengerjakan pekerjaan seperti ibu-ibu lainnya, misalnya mempersiapkan masakan bagi anak-anaknya dan mencuci. Sekitar pukul 10.00 ia baru memulai pekerjaannya sebagai sopir taksi hingga sekitar pukul 16.00 atau 18.00.
Dengan begitu, ia bisa membantu suami dalam menghidupi kebutuhan keluarganya pada tingkat yang cukup.
"Saya harus membayar sewa apartemen 700 euro sebulan (sekitar Rp 8,6 juta). Belum lagi kebutuhan sehari-hari, urusan listrik, dan macam-macam," katanya.
RINI bercerita, selama menjadi sopir taksi, ia tidak mengalami kesulitan apa- apa karena hanya membawa kendaraannya siang hari. "Malam hari giliran suami saya membawa mobil ini," ujarnya.
Suaminya yang dulu pelaut kini beralih profesi, dengan memiliki taksi yang bermesin Mercedes Benz itu. Di Jerman, kata Rini, setiap taksi harus dimiliki oleh sebuah perusahaan. Tidak peduli apakah perusahaan itu hanya memiliki satu taksi saja, seperti perusahaannya itu.
Menjadi sopir taksi, kata Rini, tidak gampang. Rini harus melalui dua tahap, yakni memiliki SIM biasa, lalu SIM taksi, yang keseluruhannya baru bisa dimiliki dalam waktu enam bulan. Tesnya macam-macam. Salah satu jenis tes yang harus dijalani adalah mencari alternatif jalan terdekat untuk satu tujuan tertentu.
Tes itu penting, ujar Rini, sebab berdasarkan kuitansi pembayaran taksi itu, penumpang bisa mengajukan tuntutan kalau ternyata ia dibawa melalui rute yang jauh, apalagi berputar-putar dengan sengaja.
"Jarang di sini penumpang yang kurang ajar. Mereka baik-baik. Biasanya kita yang mengucapkan selamat pagi atau siang terlebih dahulu. Di sini sering sekali saya disapa lebih dulu oleh mereka," ujar Rini.
Sering juga Rini membawa penumpang nenek-nenek. "Mereka paling banyak ngoceh-nya. Ngomong melulu sepanjang jalan. Mungkin karena di rumahnya sendiri jarang ngomong ya," kata Rini sambil tersenyum.
Dulu Rini sering bertemu dengan ibu-ibu dari Konsulat RI. "Sekarang enggak pernah sejak Dharma Wanita bubar. Paling-paling pertemuan sebulan sekali, seperti nanti malam, dengan ibu-ibu lainnya. Kangen-kangenan bercanda dalam bahasa Indonesia," kata Rini.
Selama menjadi sopir taksi selama delapan tahun, Rini juga belum pernah bertemu dengan sopir perempuan.
Rini mengatakan tidak tahu lagi harus bekerja di mana di Hamburg untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Tetapi, menjadi sopir taksi secara bergantian dengan suaminya, menurut Rini, sudah bisa mencukupi kebutuhan standar hidupnya di Hamburg.
"Pilihannya memang kita harus bekerja 24 jam untuk cari duit, ya untuk anak-anak saya itu," kata Rini.
Kepada Rini ditawarkan untuk mengantarkan kami dari hotel ke bandara Hamburg keesokan harinya, Minggu siang. Namun Rini mengatakan tidak bisa memberikan janji, apalagi Minggu merupakan hari libur, kesempatan yang jarang bagi dirinya untuk bercengkerama dengan keluarga.
AKHIRNYA Rini berpamitan, menyetir sendiri lagi taksinya, berharap mendapatkan penumpang baru.
Kalau Anda ke Hamburg, mudah-mudahan Anda berkesempatan bertemu dengan Rini, seorang pejuang yang dengan senang hati akan mengantarkan Anda dengan Mercedes Benz kuning bernomor HH UM 2521 itu.... (TAUFIK H MIHARDJA)
Sumber : Kompas, Jumat, 15 April 2005
Oleh : Taufik H Minhardja
Ayahnya bilang begini,"Sebelum usia kamu 40 tahun, kamu itu mesti kerja mati-matian. Kalau kamu tidak bisa melakukan itu, maka hidupmu gagal."
PESAN almarhum ayahnya itu terngiang-ngiang terus dalam pikiran perempuan paruh baya bernama Catharina-yang akrab dipanggil Rini. Karena itu, ia ingin selalu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari supaya ia tidak termasuk dalam orang-orang yang hidupnya gagal.
Ayahnya yang keturunan China meninggal tahun 1995, sedangkan ibunya yang berdarah Betawi meninggal berbarengan dengan peristiwa gempa bumi dan tsunami di Aceh pada 26 Desember tahun lalu.
Tahun 1988 Rini dinikahi Hermann Wijanto, seorang pelaut yang sudah selama 30 tahun bekerja di kapal Jerman. Hermann mengajaknya pindah ke Hamburg. Di sana Rini gigih mencari pekerjaan, yang membawanya ke dunia yang selama ini digeluti kaum pria, yakni menjadi sopir taksi. Profesi itu sudah ia jalani selama delapan tahun terakhir.
PERTEMUAN Kompas dengan Rini pada hari Sabtu, 9 April, itu tidak disengaja. Cuaca yang dingin di bawah 10 derajat Celsius yang disertai angin kencang pada petang itu memaksa kami berempat untuk naik taksi, daripada berjalan kaki, dari sebuah kantor di pusat kota ke hotel, yang jaraknya sekitar tiga kilometer.
Kami berjalan ke arah taksi yang sedang berjejer menunggu penumpang di seberang mal C & A. Kepada sopir taksi yang terdepan itu, kami bertanya apakah empat orang boleh naik dalam satu taksi. Tanpa diduga, sopir itu menjawab dalam bahasa Indonesia, "Boleh!"
Suaranya terdengar suara perempuan. Rupanya jaket penghangat tubuh berwarna kuning serta topi putih yang dikenakannya tidak serta-merta menunjukkan bahwa sopir itu seorang perempuan.
Mendapat jawaban seperti itu, kami lalu menaiki taksi tersebut dengan penuh keriangan disertai kekaguman. Sambil ngobrol macam-macam, Rini lalu mengantarkan kami ke Suitehotel. Sesampainya di depan hotel, kami lalu menyerahkan ongkos taksi 6 euro atau sekitar Rp 75.000.
Sayang Rini waktu itu menolak diajak makan malam bersama. "Saya malam ini sudah punya janji untuk ngerumpi dengan ibu-ibu asal Indonesia," kata Rini, sambil menyebutkan sebuah tempat. Ia menyatakan tidak enak kepada tuan rumah kalau ia harus membatalkan janji begitu saja. Apalagi pertemuan itu diselenggarakan hanya sebulan sekali.
Perempuan asal Cibubur, Jakarta Timur, itu kini memakai nama Catharina Wijanto dan tinggal di Marienthaler Strasse, Hamburg. Pasangan ini memiliki tiga anak: dua anak perempuan yang dilahirkan di Indonesia dan bungsu laki-laki lahir di Jerman.
Ketiganya masih bersekolah. Yang terbesar akan menjadi guru taman kanak- kanak, yang kedua ingin menjadi asisten dokter, sedangkan yang ketiga masih di tingkat SMP.
Sebagai seorang ibu, Rini biasa bangun pagi, pukul 06.00 atau 08.00. Lalu ia mengerjakan pekerjaan seperti ibu-ibu lainnya, misalnya mempersiapkan masakan bagi anak-anaknya dan mencuci. Sekitar pukul 10.00 ia baru memulai pekerjaannya sebagai sopir taksi hingga sekitar pukul 16.00 atau 18.00.
Dengan begitu, ia bisa membantu suami dalam menghidupi kebutuhan keluarganya pada tingkat yang cukup.
"Saya harus membayar sewa apartemen 700 euro sebulan (sekitar Rp 8,6 juta). Belum lagi kebutuhan sehari-hari, urusan listrik, dan macam-macam," katanya.
RINI bercerita, selama menjadi sopir taksi, ia tidak mengalami kesulitan apa- apa karena hanya membawa kendaraannya siang hari. "Malam hari giliran suami saya membawa mobil ini," ujarnya.
Suaminya yang dulu pelaut kini beralih profesi, dengan memiliki taksi yang bermesin Mercedes Benz itu. Di Jerman, kata Rini, setiap taksi harus dimiliki oleh sebuah perusahaan. Tidak peduli apakah perusahaan itu hanya memiliki satu taksi saja, seperti perusahaannya itu.
Menjadi sopir taksi, kata Rini, tidak gampang. Rini harus melalui dua tahap, yakni memiliki SIM biasa, lalu SIM taksi, yang keseluruhannya baru bisa dimiliki dalam waktu enam bulan. Tesnya macam-macam. Salah satu jenis tes yang harus dijalani adalah mencari alternatif jalan terdekat untuk satu tujuan tertentu.
Tes itu penting, ujar Rini, sebab berdasarkan kuitansi pembayaran taksi itu, penumpang bisa mengajukan tuntutan kalau ternyata ia dibawa melalui rute yang jauh, apalagi berputar-putar dengan sengaja.
"Jarang di sini penumpang yang kurang ajar. Mereka baik-baik. Biasanya kita yang mengucapkan selamat pagi atau siang terlebih dahulu. Di sini sering sekali saya disapa lebih dulu oleh mereka," ujar Rini.
Sering juga Rini membawa penumpang nenek-nenek. "Mereka paling banyak ngoceh-nya. Ngomong melulu sepanjang jalan. Mungkin karena di rumahnya sendiri jarang ngomong ya," kata Rini sambil tersenyum.
Dulu Rini sering bertemu dengan ibu-ibu dari Konsulat RI. "Sekarang enggak pernah sejak Dharma Wanita bubar. Paling-paling pertemuan sebulan sekali, seperti nanti malam, dengan ibu-ibu lainnya. Kangen-kangenan bercanda dalam bahasa Indonesia," kata Rini.
Selama menjadi sopir taksi selama delapan tahun, Rini juga belum pernah bertemu dengan sopir perempuan.
Rini mengatakan tidak tahu lagi harus bekerja di mana di Hamburg untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Tetapi, menjadi sopir taksi secara bergantian dengan suaminya, menurut Rini, sudah bisa mencukupi kebutuhan standar hidupnya di Hamburg.
"Pilihannya memang kita harus bekerja 24 jam untuk cari duit, ya untuk anak-anak saya itu," kata Rini.
Kepada Rini ditawarkan untuk mengantarkan kami dari hotel ke bandara Hamburg keesokan harinya, Minggu siang. Namun Rini mengatakan tidak bisa memberikan janji, apalagi Minggu merupakan hari libur, kesempatan yang jarang bagi dirinya untuk bercengkerama dengan keluarga.
AKHIRNYA Rini berpamitan, menyetir sendiri lagi taksinya, berharap mendapatkan penumpang baru.
Kalau Anda ke Hamburg, mudah-mudahan Anda berkesempatan bertemu dengan Rini, seorang pejuang yang dengan senang hati akan mengantarkan Anda dengan Mercedes Benz kuning bernomor HH UM 2521 itu.... (TAUFIK H MIHARDJA)
Sumber : Kompas, Jumat, 15 April 2005
Andy Pramoedya, Cetak "Offset" dari Banyuwangi
Andy Pramoedya, Cetak "Offset" dari Banyuwangi
Oleh : S04
Kelangkaan akibat penghentian produksi menjadikan P Andy Pramoedya (61) memutuskan membuat mesin cetak offset berkemampuan cetak maksimal seukuran kertas folio. Permintaan pasar terhadap jenis mesin ini cukup tinggi sehingga harganya mahal, padahal yang ada di pasaran sekarang ini pun teknologinya masih sederhana. Hal itu membuat Andy semakin menggebu-gebu membuat mesin cetak offset kecil berteknologi tinggi, andal, dan murah.
Teknologi yang diterapkan adalah pengaplikasian sensor cahaya dengan serat optik. Cara kerjanya, dengan memanfaatkan celah masuk kertas yang menutup sensor pada saat kertas lewat.
Ketika cahaya merah sensor itu tertutup kertas, secara otomatis tabung ketiga (impression tube) naik ke atas, memberikan tekanan pada kertas yang berada di antara impression tube dan tabung kedua berupa gulungan karet padat (blanket tube). Gulungan karet padat ini sebelumnya juga menerima tekanan dari tabung pertama yang dipasangi pelat cetak untuk menerima pencitraan cetak yang ditembakkan dari pelat tabung pertama.
"Aplikasi teknologi ini untuk mengatasi paper jam (kemacetan kertas–Red), terutama pada saat mencetak kertas rangkap yang sangat tipis," ujarnya menguraikan.
Sejak dua setengah tahun lalu Andy membuat 11 prototipe mesin dengan membedah tiga mesin cetak offset bermerek Toko 820 dari Jepang. Awal Januari 2005 Andy berhasil membuat mesin cetak offset yang layak dilempar ke pasaran.
ANDY bisa menjual mesin produksinya seharga Rp 17 juta. Padahal, mesin sejenis harganya Rp 87 juta.
Hanya dua bulan sejak produksi perdananya, mesin itu terjual enam unit. Dua unit dijual ke Jakarta. Sisanya ke Denpasar, Probolinggo, Bandung, dan Toli-toli, Sulawesi Tengah. Mesin cetak offset buatannya memiliki pasar sangat besar, terutama pengusaha yang bergerak di skala cetak menengah-kecil.
Kecepatan mencetak sebesar satu rim (500 lembar-Red) per 10 menit, lebih tinggi dibandingkan dengan mesin sejenis, menjadi fitur unggulan dalam merengkuh pasar. Konsumsi listrik yang hanya sekitar 250 watt menjadi kelebihan lain.
Dengan empat karyawan dan kemampuan produksi rata-rata hanya dua unit per bulan, Andy tidak berani mengikat perjanjian dengan pemasok di Jakarta. Karyawan berpendidikan SMA didatangkan dari Tuban dan Probolinggo serta dididik langsung oleh Andy.
Untuk memudahkan calon konsumen mengenali mesinnya, Andy melekatkan angka 820 di belakang merek Smart. Mirip mesin sejenis produksi Jepang bermerek Toko 820. "Kenapa takut, ini kan seperti kata mild, yang dipakai beberapa merek rokok," ujarnya ketika ditanya soal hak atas kekayaan intelektual berkaitan dengan merek yang dipasang itu.
SEJAK memulai pendidikan di Sekolah Rakyat Mater Dei Probolinggo, dilanjutkan ke SMP Kolese Santo Yusuf Malang, sampai menamatkan pendidikan menengah atas di sekolah Hwa In (nama lain Kolese Santo Yusuf) di Klojen, Malang, pria kelahiran Banyuwangi, 24 Desember 1944, ini tidak pernah merasa cocok dengan pendidikan di sekolah. Ia sempat drop out dari sebuah perguruan tinggi di Jakarta sebelum menekuni dunia industri.
Andy belajar mengenal segala jenis mesin, seperti mesin penggilingan (milling), rajut (weaving), dan tenun (woven), dari seorang petinggi di perwakilan Fuji Engineering Industrial di Jakarta bernama Yuichi Ishijiwa. Ia mengenal Yuichi lewat sopir pribadinya pada tahun 1970-an.
Yuichi mengajak Andy menengok sejumlah pabrik di Indonesia, seperti pabrik kaolin di Bangka Belitung dan pabrik kalsium karbonat di Simalungun, Sumatera Utara, bahkan sampai Tokyo, Jepang. "Saya dipanggil Apollo oleh Yuichi karena sangat cepat saat bekerja," ujar Andy yang meniti karier di Fuji Engineering Industrial sejak tahun 1976.
Tahun 1980 Andy menjadi manajer pabrik pada perusahaan oil seal di Kawasan Industri Jatake, Tangerang. Perusahaannya, PT Arsartamara, merupakan hasil kongsi antara Yuichi Ishijiwa (Fuji Engineering Industrial) dengan Hendrik Suhardiman dari Bank Tamara serta Ronny Mandagi dari Bank Artha Pusara.
Tahun 1983 ia kembali ke Surabaya, menekuni dunia percetakan. Tahun 1987 Andy mulai belajar prosedur impor mesin-mesin cetak rekondisi-mesin bekas yang telah digunakan sekitar lima tahun di Jepang-yang diakrabinya hingga tahun 1997. Penyakit diabetes dan krisis ekonomi membuat Andy merumahkan belasan karyawannya dan menjual seluruh aset perusahaan sekitar Rp 800 juta.
Kondisi ekonomi yang tak menguntungkan memaksanya untuk "banting setir". Kegelisahan akan ketergantungan Indonesia pada barang-barang impor membuat Andy "gatal" untuk mengutak-atik berbagai mesin yang dulu diimpornya. "Kita ini sangat import minded," tutur anak kedua dari lima bersaudara itu.
KINI usahanya menemukan titik terang. Andy sangat yakin terhadap pasar mesin produksinya. Perkembangan mesin cetak yang menuju konvergensi dengan berbagai perangkat digital, menurut Andy, belum memengaruhi besarnya permintaan mesin-mesin cetak konvensional seperti yang saat ini ia kembangkan. "Dalam 10 tahun pun kita belum tentu bisa menyejajarkan diri dengan perkembangan teknologi digital dalam dunia percetakan," katanya.
Andy yang beristrikan Maria Magdalena memiliki tiga anak perempuan, yaitu Rika Agrippina (37), Rita Faira (35), dan Jeanne Christine (20). Dua di antaranya telah memiliki karier mapan, masing-masing sebagai manajer sebuah hotel berbintang di Jakarta dan instruktur piano. Karena tidak seorang pun anaknya berminat mengikuti jejaknya, Andy mempersiapkan karyawannya sebagai penerus usahanya. (S04)
Sumber : Kompas, Sabtu, 16 April 2005
Oleh : S04
Kelangkaan akibat penghentian produksi menjadikan P Andy Pramoedya (61) memutuskan membuat mesin cetak offset berkemampuan cetak maksimal seukuran kertas folio. Permintaan pasar terhadap jenis mesin ini cukup tinggi sehingga harganya mahal, padahal yang ada di pasaran sekarang ini pun teknologinya masih sederhana. Hal itu membuat Andy semakin menggebu-gebu membuat mesin cetak offset kecil berteknologi tinggi, andal, dan murah.
Teknologi yang diterapkan adalah pengaplikasian sensor cahaya dengan serat optik. Cara kerjanya, dengan memanfaatkan celah masuk kertas yang menutup sensor pada saat kertas lewat.
Ketika cahaya merah sensor itu tertutup kertas, secara otomatis tabung ketiga (impression tube) naik ke atas, memberikan tekanan pada kertas yang berada di antara impression tube dan tabung kedua berupa gulungan karet padat (blanket tube). Gulungan karet padat ini sebelumnya juga menerima tekanan dari tabung pertama yang dipasangi pelat cetak untuk menerima pencitraan cetak yang ditembakkan dari pelat tabung pertama.
"Aplikasi teknologi ini untuk mengatasi paper jam (kemacetan kertas–Red), terutama pada saat mencetak kertas rangkap yang sangat tipis," ujarnya menguraikan.
Sejak dua setengah tahun lalu Andy membuat 11 prototipe mesin dengan membedah tiga mesin cetak offset bermerek Toko 820 dari Jepang. Awal Januari 2005 Andy berhasil membuat mesin cetak offset yang layak dilempar ke pasaran.
ANDY bisa menjual mesin produksinya seharga Rp 17 juta. Padahal, mesin sejenis harganya Rp 87 juta.
Hanya dua bulan sejak produksi perdananya, mesin itu terjual enam unit. Dua unit dijual ke Jakarta. Sisanya ke Denpasar, Probolinggo, Bandung, dan Toli-toli, Sulawesi Tengah. Mesin cetak offset buatannya memiliki pasar sangat besar, terutama pengusaha yang bergerak di skala cetak menengah-kecil.
Kecepatan mencetak sebesar satu rim (500 lembar-Red) per 10 menit, lebih tinggi dibandingkan dengan mesin sejenis, menjadi fitur unggulan dalam merengkuh pasar. Konsumsi listrik yang hanya sekitar 250 watt menjadi kelebihan lain.
Dengan empat karyawan dan kemampuan produksi rata-rata hanya dua unit per bulan, Andy tidak berani mengikat perjanjian dengan pemasok di Jakarta. Karyawan berpendidikan SMA didatangkan dari Tuban dan Probolinggo serta dididik langsung oleh Andy.
Untuk memudahkan calon konsumen mengenali mesinnya, Andy melekatkan angka 820 di belakang merek Smart. Mirip mesin sejenis produksi Jepang bermerek Toko 820. "Kenapa takut, ini kan seperti kata mild, yang dipakai beberapa merek rokok," ujarnya ketika ditanya soal hak atas kekayaan intelektual berkaitan dengan merek yang dipasang itu.
SEJAK memulai pendidikan di Sekolah Rakyat Mater Dei Probolinggo, dilanjutkan ke SMP Kolese Santo Yusuf Malang, sampai menamatkan pendidikan menengah atas di sekolah Hwa In (nama lain Kolese Santo Yusuf) di Klojen, Malang, pria kelahiran Banyuwangi, 24 Desember 1944, ini tidak pernah merasa cocok dengan pendidikan di sekolah. Ia sempat drop out dari sebuah perguruan tinggi di Jakarta sebelum menekuni dunia industri.
Andy belajar mengenal segala jenis mesin, seperti mesin penggilingan (milling), rajut (weaving), dan tenun (woven), dari seorang petinggi di perwakilan Fuji Engineering Industrial di Jakarta bernama Yuichi Ishijiwa. Ia mengenal Yuichi lewat sopir pribadinya pada tahun 1970-an.
Yuichi mengajak Andy menengok sejumlah pabrik di Indonesia, seperti pabrik kaolin di Bangka Belitung dan pabrik kalsium karbonat di Simalungun, Sumatera Utara, bahkan sampai Tokyo, Jepang. "Saya dipanggil Apollo oleh Yuichi karena sangat cepat saat bekerja," ujar Andy yang meniti karier di Fuji Engineering Industrial sejak tahun 1976.
Tahun 1980 Andy menjadi manajer pabrik pada perusahaan oil seal di Kawasan Industri Jatake, Tangerang. Perusahaannya, PT Arsartamara, merupakan hasil kongsi antara Yuichi Ishijiwa (Fuji Engineering Industrial) dengan Hendrik Suhardiman dari Bank Tamara serta Ronny Mandagi dari Bank Artha Pusara.
Tahun 1983 ia kembali ke Surabaya, menekuni dunia percetakan. Tahun 1987 Andy mulai belajar prosedur impor mesin-mesin cetak rekondisi-mesin bekas yang telah digunakan sekitar lima tahun di Jepang-yang diakrabinya hingga tahun 1997. Penyakit diabetes dan krisis ekonomi membuat Andy merumahkan belasan karyawannya dan menjual seluruh aset perusahaan sekitar Rp 800 juta.
Kondisi ekonomi yang tak menguntungkan memaksanya untuk "banting setir". Kegelisahan akan ketergantungan Indonesia pada barang-barang impor membuat Andy "gatal" untuk mengutak-atik berbagai mesin yang dulu diimpornya. "Kita ini sangat import minded," tutur anak kedua dari lima bersaudara itu.
KINI usahanya menemukan titik terang. Andy sangat yakin terhadap pasar mesin produksinya. Perkembangan mesin cetak yang menuju konvergensi dengan berbagai perangkat digital, menurut Andy, belum memengaruhi besarnya permintaan mesin-mesin cetak konvensional seperti yang saat ini ia kembangkan. "Dalam 10 tahun pun kita belum tentu bisa menyejajarkan diri dengan perkembangan teknologi digital dalam dunia percetakan," katanya.
Andy yang beristrikan Maria Magdalena memiliki tiga anak perempuan, yaitu Rika Agrippina (37), Rita Faira (35), dan Jeanne Christine (20). Dua di antaranya telah memiliki karier mapan, masing-masing sebagai manajer sebuah hotel berbintang di Jakarta dan instruktur piano. Karena tidak seorang pun anaknya berminat mengikuti jejaknya, Andy mempersiapkan karyawannya sebagai penerus usahanya. (S04)
Sumber : Kompas, Sabtu, 16 April 2005
I Gusti Agung Rai Kusumayudha
I Gusti Agung Rai Kusumayudha
Pewawancara : Brigitta Isworo L dan Ida Setyorini
SOSOK pria tinggi besar dengan tubuh kekar ini, yang dikenal dengan nama Ade Rai, sudah identik dengan dunia binaraga dan dunia fitness. Mungkin tidak banyak yang tahu, di balik tubuh besarnya, Ade adalah sosok dengan tutur kata yang halus, sikap santun, ramah, dan cerdas.
Putra kedua dari empat putra-putri pasangan I Gusti Rai Widaja (almarhum) dengan Selena Susanti ini dalam setiap kesempatan selalu menekankan, "Mengapa punya badan gede harus sangar? Seolah-olah badan gede adalah tukang pukul, badan gede itu galak. Kenapa mesti begitu? Justru mestinya adalah bagaimana kita memotivasi orang lain menjadi inspirasi bagi orang lain. Bukan intimidasi."
Bagi Ade, prestasi mendunia yang telah diraihnya di bidang binaraga bukanlah tujuan utama. Kini di depannya terpapar tantangan berat, bagaimana membuat olahraga binaraga dan olahraga fitness menjadi sebuah gaya hidup, yaitu gaya hidup sehat menjadi lebih memasyarakat. Selebihnya, dia bercita-cita mengembangkan industri di seputar olahraga ini.
Diselingi menyantap hidangan kembang tahu-makanan tinggi protein yang sesuai bagi kebutuhan tubuhnya sebagai binaragawan-dan mencicip cake oatmeal buatan sang istri, Kenny Amelia, perbincangan berlangsung hangat di apartemen Ade dan Kenny yang mungil, rapi, dan apik di Kelapa Gading.
Ade, duta antirokok WHO pada tahun 2002 yang dilahirkan di Jakarta, 6 Mei 1970, ini bertutur banyak tentang kasus skorsingnya tahun 2002, usahanya di bidang fitness dengan Klub Ade Rai-nya, tentang keterlibatannya di dunia karate, penghargaan terhadap atlet, perlawanannya terhadap penyalahgunaan obat, sukses hidupnya, dan tentang sang bapak yang disebutnya sebagai number one fan- nya. Di bawah ini kami sajikan cuplikan wawancara Kompas dengan pria penikmat film dan musik ini. (Film yang inspiratif bagi Ade antara lain Over the Top dan Rocky-keduanya dibintangi Sylvester Stallone).
APA saja prestasi tertinggi di binaraga?
Tahun 2000 saya juara dunia di kejuaraan binaraga Professional Super Body dan Muscle Mania World di Amerika Serikat. Mulainya tahun 1995 saya juara dua, lalu tahun 1996 di Amerika saya juara overall, tahun 2000 saya juara pro. Sekarang bukan hanya saya yang juara, Komang juga juara di Muscle Mania World di California, AS, tahun 2004. Sedangkan Ricky Syamsuri dan Taat Pribadi juara di tingkat amatir. Sama-sama di kejuaraan dunia natural.
Perpecahan di organisasi binaraga, dengan dikeluarkannya binaraga dari PB PABBSI (Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi, Binaraga, dan Angkat Berat Seluruh Indonesia) dan dimasukkan ke Federasi Binaraga Indonesia (FBI), bagaimana Anda bersikap?
Menurut saya, ini karena sebagian dari pengurus itu memiliki perbedaan visi sehingga keluar dan membentuk organisasi baru. Padahal, atletnya ada di PABBSI. Memang sekarang FBI yang diakui Federasi Binaraga Asia (ABBF), dan opini publik dibuat, bahwa PABBSI tidak benar. Menurut saya justru ABBF sendiri yang kurang bijaksana dalam melihat permasalahannya. Akhirnya atletnya bingung. ’Gimana De, boleh enggak bertanding di FBI?’ Menurut saya, atlet sih bisa bertanding di mana saja. Kalau kenyataannya FBI bisa memajukan olahraga ini, mengapa tidak. (Namun, bagi saya, kalau membantu mereka, ya jangan harap. Menurut saya, ide pendirian federasi ini tidak dengan cara yang benar). Inovasi muncul karena kompetisi, prestasi muncul karena kompetisi. Kalau dilihat dari sisi itu, positif. Tetapi ada negatifnya, yaitu saling jegal, saling mendiskreditkan.
Anda punya kekhawatiran?
Cepat atau lambat perpecahan itu akan lebih besar lagi. Andai Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat bijaksana, KONI bisa bilang begini, ’Selama ini PABBSI sudah menjalankan binaraga dan sudah jalan. Pembinaan lokal biar dipegang PABBSI, kalau internasional khususnya untuk multievent, FBI bertanggung jawab memilih atlet. Artinya, KONI bisa menyatukan mereka. Biarkan saja atlet memilih. Kalau multievent, atlet FBI saja yang ikut. Saat single event tetap bisa ikut Muscle Mania, dengan PABBSI. Kalau PON, bisa dua-duanya ikut. Kalau KONI memilih satu pihak saja, perpecahan itu akan terjadi. (Tahun 2000 Ade kena skors tidak boleh turun di Kejuaraan Asia akibat mengikuti kejuaraan Muscle Mania yang terakhir kali diikutinya tahun 1999. Kejuaraan Muscle Mania tidak diakui Federasi Binaraga Internasional atau IBBF. Dia juga dilarang turun di Asian Games tahun 2002 akibat main iklan- yang sudah tidak tayang tahun 2000). Binaraga bukan olahraga mayoritas. Sangat menyedihkan jika peminatnya sendiri mau memecah belah seperti itu. Di Indonesia binaraga tidak seterkenal bulu tangkis, sepak bola, voli, dan basket. Padahal, federasi internasional binaraga itu no boundaries, no politics involved, no money, no apa pun. Dalam kenyataannya tidak seperti itu. Lambat laun respek saya terhadap federasi bina raga internasional yang resmi semakin pudar.
Bagaimana prospek binaraga di kompetisi internasional?
Kalau KONI hanya berpikir binaraga itu multievent, itu salah. Binaraga tidak selalu ada di multievent, bahkan di Olimpiade tidak pernah. Di Asian Games (AG) baru sekali dipertandingkan, yakni di Pusan tahun 2002. Kita banyak diatur- atur. Atlet tidak boleh main iklan, tidak boleh pakai colour tertentu. Jadi, untuk SEA Games ke depan, kita bisa hitung-hitungan. Bisa dapat satu emas saja sudah bagus. Lalu, bagaimana mau mengangkat citra bangsa di mata internasional?
Lalu, nasib binaragawan jika tidak ada pertandingan?
Menjadi binaragawan tidak harus menjadi competitive body builder. Misalnya, Nano de Mayo dulu kerjanya jaga di beberapa tempat, seperti di Hard Rock. Karena kecintaannya terhadap fitness, dia mau belajar. Dia tidak pernah jadi juara DKI, dia tidak pernah juara nasional. Namun, dia bisa ikut kejuaraan di Malaysia. Dia belajar dengan baca buku. Akhirnya dia lancar menjelaskan olahraga ini. Kini dia menjadi personal trainer. Itu bayarannya bagus.
Dulu Anda juara panco, lalu pernah ikut bulu tangkis dan bola voli, bagaimana bisa jatuh cinta pada binaraga?
Potensi, bakat, dan kesukaan saya ada di sana. Waktu badminton, saya setiap hari latihan dengan Ardy Wiranata (peraih medali perak tunggal putra di Olimpiade Barcelona-Red), teman baik saya di klub Djarum. Niat saya juga mau jadi pemain bulu tangkis, tetapi motivasi saya kalah besar dari Ardy. Kalau week end atau libur, Ardy bilang, ’De, kita lari yuk ke Ancol’. ’Gila aja ha-ha-ha. Orang sudah bisa libur santai’. Secara teknis kondisi fisiknya dan kekuatan otot setiap orang berbeda. Didukung faktor genetik, badan saya bertulang kecil, pinggang kecil, kepala saya juga kecil (tertawa). Jadi, seolah-olah badan saya cepat besarnya. Jadi, ada pengakuan dari luar maupun dari dalam. Binaraga is not about competition, binaraga is about life style, soal gaya hidup sehat. Di dunia fitness, di dunia kesehatan, pemeonya adalah we are what we eat.
Kegiatan di luar binaraga?
Kebetulan semua berhubungan dengan fitness. Majalah sudah pasti. Kami punya fasilitas olahraga Klub Ade Rai, ada 12 di Indonesia. Jangan salah ya, tempatnya bukan tempat saya, tetapi Klub Ade Rai- nya. Saya memiliki reputasi dan kemampuannya. Kalau ada yang mau membuat sarana olahraga dan punya investasi, bisa kerja sama dengan saya, membuat sesuatu yang positif. Saya selalu ajarkan, atlet harus memiliki multiperan. Jangan hanya selalu berpikir: latihan-bertanding-menang, latihan-bertanding-menang. Di olahraga Indonesia, "ada uang abang disayang, tidak ada uang abang melayang". Atlet juga begitu. Selama dia masih berprestasi, dia akan disayang dan aman posisinya. Tetapi, pada saat prestasinya menurun, tidak ada yang memandang dia. Istilahnya, masa depan atlet suram. Penyebabnya, karena golden age-nya pendek. Maka, saya katakan bahwa atlet harus sekolah, harus belajar, harus punya wawasan. Syukur, untuk binaraga saya bisa buktikan sendiri. Saya bisa kuliah. Jadi, binaraga memungkinkan untuk selesai kuliah dan menjadi atlet binaraga. Di binaraga memungkinkan kita bekerja di bidang lain. Menjadi personal trainer, instruktur, pengusaha, model, bintang sinetron, dan yang lain. Seperti Primus (Yustisio), Marcellino (Lefrand), dan Adrian (Maulana), dulu job-nya jumpa fans lalu foto-foto. Sekarang mereka juga diundang untuk senam dan talk show kesehatan. Menjadi pembicara. Menurut saya, that what body building is all about (itulah makna sebenarnya binaraga). Kemandirian tetap yang paling utama. Orangtua saya pensiunan ABRI. Dulu di SMA ada teman saya mau sekolah ke luar negeri. Saya cuma bisa mimpi. Harga tiket pesawat saja sudah tiga kali gaji bapak saya. Kalau dapat oleh-oleh dari teman kayaknya berharga banget, saya simpen. Tetapi, kemudian ternyata olahraga ini bisa membawa saya ke sana. Gratis, bahkan saya dibayar.
Investasi awal Klub Ade Rai?
Tidak susah, kami buat sendiri di Senen. Teman saya yang investasi. Berdiri saat krisis moneter tahun 1998. Sering terjadi, jika fasilitas bagus biasanya pasti mahal. Kalau murah, alatnya sederhana dan seadanya. Jadi, kami menggunakan alat-alat buatan dalam negeri. Pola usaha ini sukses, bisa balik modal dalam satu sampai tiga tahun, cepat sekali. Itu memotivasi orang lain untuk buka usaha fitness center (pusat kebugaran) yang sama. Ini bagus, lapangan pekerjaan bertambah banyak.
Bagaimana awalnya Ade mengenal Muscle Mania, padahal informasi tentang dunia binaraga amat minim di Indonesia?
Awalnya ada teman saya sekolah di AS, dan saya pikir di sana sumber segala informasi tentang fitness. Tahun 1993 saya juara dua di PON XIV. Dari Gubernur DKI Jakarta Surjadi, saya dapat uang Rp 5 juta. Lalu saya pergi ke rumah teman saya di Washington DC, AS. Saya berterima kasih sekali bisa nebeng di rumah dia. Karena tidak ada uang, kadang saya ke toko buku, saya catatin saja semua. Makannya tiap hari mi instan. Saat berangkat berat saya 98-99 kilogram, ketika pulang tinggal 83 kilogram. Lalu saya terapkan informasinya. Saya ikut kejuaraan nasional di Jakarta tahun 1994. Saya juara. Saya iseng-iseng ikut Muscle Mania ketika itu. Saya juara satu, dari satu peserta, ha-ha-ha (tertawa). Saya juara empat dari empat peserta (tertawa lagi). Saat saya bertanding, salah satu presiden Muscle Mania itu melihat saya lalu bilang, "Wah kamu punya potensi. Suatu saat kamu harus bertanding di kejuaraan saya, Muscle Mania California." Saya bilang, "Kasih masukan saja ke saya, saya mesti apa latihannya." Undangan itu memotivasi karena pada saat saya sendiri tidak yakin dengan kemampuan saya, tiba-tiba ada orang yang punya pengaruh besar di dunia binaraga di sana bisa bilang bahwa saya punya potensi gede. Tahun 1995 saya ke sana, saya juara dua. Tahun 1996 saya ke sana lagi, saya juara overall. Sejak tahun 1997 sampai tahun 2000 saya ke Amerika dibayarin terus. Mulai tahun 2000 sampai 2004 saya hanya jadi bintang tamu saja.
Anda dikenal selalu mempromosikan binaraga tanpa obat terlarang. Bagaimana kondisinya di Indonesia?
Memang dari awal saya memilih berjuang untuk binaraga tanpa obat terlarang. Dalam waktu dekat ini saya bersama-sama dengan pihak berwajib mencoba membuat kebijakan-kebijakan memerangi penyalahgunaan obat. Sekarang ini semakin marak banyak drug dealer yang datang ke fitness center. Kian meresahkan. Ini terjadi di seluruh fitness center di Indonesia. Saya serius memeranginya. Masalahnya adalah kita ini sulit melakukan drug test karena mahal. Akhirnya tidak semua pertandingan di Indonesia bisa menggunakan konsep drug test. Sekarang oleh Lembaga Anti-Doping Indonesia (LADI) dicoba membuat solusinya. Mengapa saya perangi? Simbolnya kan olahraga itu sehat, olahraga kuat. Lha kok binaragawan malah pengguna obat? Kan jadi aneh. Sekarang menjualnya sudah tidak main-main. ’Lu mau gede enggak, nanti saya suntikin’. Kalau sekarang pemerintah fight against narkoba, saya fight melawan narkoba di binaraga, yaitu anabolic steroid, growth hormone, dan performance enhancer. Saya minta kepada dokter-dokter di Indonesia harus punya tanggung jawab, jangan hanya sekadar menjual obat, tetapi harus melihat manfaatnya. Lain dengan suplemen seperti amino acid, protein, multivitamin, susu, atau powder, itu enggak apa-apa. Mulai bulan depan saya bekerja sama dengan Gubernur Jawa Tengah, ke sekolah-sekolah di SMA untuk kampanye program anti-drugs baik narkoba maupun doping.
Anda sudah menjadi figur publik. Tertarik terjun ke dunia hiburan?
Jawaban saya sederhana. Dunia hiburan membutuhkan saya tidak sebesar dunia fitness. Saat ini dunia fitness lebih banyak membutuhkan saya, maka prioritas saya ke sana. Dunia fitness ini menurut saya juga dunia hiburan. As an athlete, as an entertainer, as an entrepreneur, sebagai seorang pengusaha juga. Belakangan ini saya juga bikin peralatan olahraga, sepatu, video, buku, seminar- seminar, dan majalah.
Bagaimana peta prestasi binaraga Indonesia di dunia?
Sekarang ini Komang Arnawa, Ricky Syamsuri, dan Taat Pribadi sudah juara dunia, tetapi yang natural, bukan kejuaraan dunia resmi. Kami memang tidak diakui. Buat saya tidak masalah. Kami butuh pengakuan dari diri sendiri. Tetapi, orang Australia mengundang saya sebagai juara dunia untuk menjadi bintang tamu di kejuaraan nasionalnya, di Melbourne Crowne Plaza. Besar sekali. Saya sering menjadi bintang tamu di kejuaraan nasional Australia dan kejuaraan nasional Filipina. Siapa pun bisa menjadi diplomat, semua punya tanggung jawab menjaga nama baik Indonesia. Saya bersyukur banget dan bangga banget bisa menjadi bintang tamu.
Banyak yang sudah Anda lakukan, dari prestasi di tingkat internasional hingga mengembangkan binaraga dan fitness di Indonesia. Anda banyak meraih sukses…?
Yang namanya sukses tidak pernah habis dan relatif bagi setiap orang. Kalau sukses dalam arti juara nasional, ya saya sukses. Menjadi juara Asia, saya juara terus dari tahun 1995 hingga tahun 1998. Di kejuaraan dunia walau tidak resmi, saya sudah juara. Selebihnya yang lainnya, ya membangun industri ini. Saya ingin melihat orang-orang yang ada di sekitar saya bisa hidup layak. Itu tantangan buat saya. Keinginan untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap olahraga ini, juga meluruskan pandangan masyarakat. Seperti misalnya seolah-olah saya ini cuma mempromosikan orang badan gede berotot dan kuat. Padahal, saya juga mau orang yang baru melahirkan badannya menjadi langsing, orang yang badannya kegemukan bisa lebih kurus. Orang yang sakit diabetes bisa sembuh. Itu yang ingin saya tawarkan. Atau misalnya masyarakat bisa mempunyai satu fokus yang bagus ketimbang terdistorsi ke hal-hal negatif. Yang saya rasain sendiri, badan menjadi lebih oke, badan menjadi lebih enak, penampilan lebih bagus, eh bisa hidup pula di dalamnya. Saya tidak muluk-muluk, seperti Indonesia menjadi better place. Paling tidak bagi orang yang dekat dengan saya, minimal apa yang saya lakukan ada manfaatnya bagi mereka. Membuka lapangan kerja yang lebih luas. Karena itu, saya misalnya membikin majalah. Itu untuk mengedukasi masyarakat. Kalau tanpa edukasi, masyarakat tidak terlalu mengerti. Kalau bicara sukses, itu secara moral, material, atau finansial. Secara moral saya banyak kepuasannya. Secara material saya masih jauh dari cukup. Saya mau seimbang dan hidup layak. Sampai saat ini saya harus akui bahwa orang-orang yang berkecimpung di dunia ini kadang-kadang hidupnya masih susah secara materi. Orang mengira saya mendapat banyak karena memiliki banyak gym. Padahal, itu bukan milik saya. Saya juga harus membayar orang-orang yang bekerja di kantor saya. Tetapi, buat saya ini investasi. Ibaratnya latihan dulu. Sebagai awal industri, saya berani miskin dulu. Menurut saya, kesuksesan saya kalau seandainya saya juga bisa membuat teman-teman saya bisa mandiri. Sebagai contoh Nano atau yang lain, termasuk Ricky, Taat, dan sebagainya. Perkembangannya, ibaratnya dulu orang investasi fitness center dengan Rp 50 juta-Rp 60 juta, sekarang orang bisa investasi fitness center miliaran rupiah. Berani, karena kesadaran masyarakatnya semakin tinggi. Saya tidak butuh pengakuan dari media atau dari orang. Saya mendapat pengakuan minimal dari diri saya sendiri dan dari orang-orang yang mengenal saya bahwa kita bisa menjadi bagian dari sebuah sejarah yang positif, yaitu majunya kesadaran hidup sehat masyarakat di Indonesia. Itu yang saya banggakan.
Dulu citra binaraga belum sepositif sekarang. Mengapa tertarik menerjuni?
Dari awal saya melihat, kita harus menjadi wakil yang baik bagi olahraga. Kita tidak bisa cuma latihan saja. Kalau diajak ngobrol, diajak ngomong, tidak bisa hanya ngomong tentang olahraga saja. Itu yang coba saya lakukan, bagaimana membuat suatu kemasan yang bagus. Itu saya tampilkan ke dalam segala sesuatu yang berhubungan dengan diri saya. Saya tidak mau melihat atlet binaraga itu mengesankan intimidasi. Saya lebih senang kita mengesankan simpati. Saya senang kalau kita badan gede tapi bukan banyak lawan, melainkan banyak kawan. Dari kecil saya selalu berusaha menjadi sesuatu yang lain dari yang lain. Saya selalu berpikir kebalikan dari yang disukai orang lain. Begitu juga dalam memilih olahraga. Pada saat orang menganggap binaraga itu adalah olahraganya "kuli", olahraga yang tidak jelas, saat itu tantangan buat saya jadi semakin besar. Saya pikir kalau ada sesuatu tantangan kita hadapi, apakah kita jatuh, apakah kita bisa jadi lebih bagus kalau bisa mengatasinya.
Masih suka panco?
Saya mempromosikan panco. Saya bersyukur karena panco ini bisa mempersatukan kelompok-kelompok pekerja kasar. Mereka diajarkan sportivitas. Ini gara-gara setiap minggu disiarkan di depan teve. Salah satu warisan olahraga adalah sportivitas. Peserta diajarkan bagaimana to be a good winner dan to be a good loser. Ini mempererat hubungan antara mereka sendiri sehingga kriminalitas atau keributan berkurang. Mereka akhirnya bergabung dalam organisasi Persatuan Olahraga Panco Indonesia. Semua berteman. Saya paling syukuri ini. Saya lakukan ini karena saya dulu juara nasional panco, kedua saya senang olahraganya, ketiga ternyata olahraga ini mempererat hubungan manusianya. Itu yang menurut saya paling oke dari dunia panco. Sementara tiga-empat tahun terakhir saya ikut Kyokushin Karate Indonesia (KKI). Saya pengurus daerah di DKI Jakarta. Awalnya saya mendapat sabuk hitam kehormatan karena membantu mereka di gym saya. Saya lalu berlatih sungguh- sungguh. Ternyata nilai-nilai budho karate yang diajarkan itu luar biasa sekali. Saya paling hargai ketua dewan guru, shihan JB Sujoto, dan para pemimpin lainnya. Mereka mengajarkan betapa dengan karate ini kita punya budi pekerti yang lebih bagus.
Di rumah tidak ada alat fitness?
Biar lebih santai, lebih tenang. Semakin tua, kenyamanan seseorang berarti kalau materi semakin kuat, kenyamanan jika dengan penampilan optimal, semakin nyaman jika punya fisik bagus. Padahal, kalau sudah meninggal semuanya akan ditinggal, tidak dibawa. Harta tidak dibawa, rumah tidak dibawa, mobil tidak dibawa, selama fisik sehat juga tidak dibawa. Yang satu lagi adalah spiritual. Tidak hanya jasmani yang dilatih, tetapi juga rohani.
Maksudnya?
Sama dengan jasmani kita, rohani kita harus dilatih. Supaya lebih tajam ibarat pisau, diasah dulu. Makanya, saya belajar meditasi, berusaha menjadi lebih sabar, apalagi setelah bapak pergi pada Desember 2003. Satu-satunya penyesalan yang ada adalah saya belum puas menyenangkan dan membahagiakan bapak saya. Ibaratnya, saya bisa membuktikan seratus, saya baru membuktikan 20. Saya masih punya 80 di kantong saya. Berat sekali bagi saya. Ibaratnya, Papa adalah fan terbesar saya. Number one fan saya adalah bapak saya. Ketika kehilangan bapak, saya seperti kehilangan mesin. Dia yang paling menghargai saya. Di lemarinya lengkap semua data tentang saya. Saya tidak ngeh (tahu). Saya baru tahu itu setelah bapak saya pergi.
Sumber : Kompas, Minggu, 17 April 2005
Pewawancara : Brigitta Isworo L dan Ida Setyorini
SOSOK pria tinggi besar dengan tubuh kekar ini, yang dikenal dengan nama Ade Rai, sudah identik dengan dunia binaraga dan dunia fitness. Mungkin tidak banyak yang tahu, di balik tubuh besarnya, Ade adalah sosok dengan tutur kata yang halus, sikap santun, ramah, dan cerdas.
Putra kedua dari empat putra-putri pasangan I Gusti Rai Widaja (almarhum) dengan Selena Susanti ini dalam setiap kesempatan selalu menekankan, "Mengapa punya badan gede harus sangar? Seolah-olah badan gede adalah tukang pukul, badan gede itu galak. Kenapa mesti begitu? Justru mestinya adalah bagaimana kita memotivasi orang lain menjadi inspirasi bagi orang lain. Bukan intimidasi."
Bagi Ade, prestasi mendunia yang telah diraihnya di bidang binaraga bukanlah tujuan utama. Kini di depannya terpapar tantangan berat, bagaimana membuat olahraga binaraga dan olahraga fitness menjadi sebuah gaya hidup, yaitu gaya hidup sehat menjadi lebih memasyarakat. Selebihnya, dia bercita-cita mengembangkan industri di seputar olahraga ini.
Diselingi menyantap hidangan kembang tahu-makanan tinggi protein yang sesuai bagi kebutuhan tubuhnya sebagai binaragawan-dan mencicip cake oatmeal buatan sang istri, Kenny Amelia, perbincangan berlangsung hangat di apartemen Ade dan Kenny yang mungil, rapi, dan apik di Kelapa Gading.
Ade, duta antirokok WHO pada tahun 2002 yang dilahirkan di Jakarta, 6 Mei 1970, ini bertutur banyak tentang kasus skorsingnya tahun 2002, usahanya di bidang fitness dengan Klub Ade Rai-nya, tentang keterlibatannya di dunia karate, penghargaan terhadap atlet, perlawanannya terhadap penyalahgunaan obat, sukses hidupnya, dan tentang sang bapak yang disebutnya sebagai number one fan- nya. Di bawah ini kami sajikan cuplikan wawancara Kompas dengan pria penikmat film dan musik ini. (Film yang inspiratif bagi Ade antara lain Over the Top dan Rocky-keduanya dibintangi Sylvester Stallone).
APA saja prestasi tertinggi di binaraga?
Tahun 2000 saya juara dunia di kejuaraan binaraga Professional Super Body dan Muscle Mania World di Amerika Serikat. Mulainya tahun 1995 saya juara dua, lalu tahun 1996 di Amerika saya juara overall, tahun 2000 saya juara pro. Sekarang bukan hanya saya yang juara, Komang juga juara di Muscle Mania World di California, AS, tahun 2004. Sedangkan Ricky Syamsuri dan Taat Pribadi juara di tingkat amatir. Sama-sama di kejuaraan dunia natural.
Perpecahan di organisasi binaraga, dengan dikeluarkannya binaraga dari PB PABBSI (Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi, Binaraga, dan Angkat Berat Seluruh Indonesia) dan dimasukkan ke Federasi Binaraga Indonesia (FBI), bagaimana Anda bersikap?
Menurut saya, ini karena sebagian dari pengurus itu memiliki perbedaan visi sehingga keluar dan membentuk organisasi baru. Padahal, atletnya ada di PABBSI. Memang sekarang FBI yang diakui Federasi Binaraga Asia (ABBF), dan opini publik dibuat, bahwa PABBSI tidak benar. Menurut saya justru ABBF sendiri yang kurang bijaksana dalam melihat permasalahannya. Akhirnya atletnya bingung. ’Gimana De, boleh enggak bertanding di FBI?’ Menurut saya, atlet sih bisa bertanding di mana saja. Kalau kenyataannya FBI bisa memajukan olahraga ini, mengapa tidak. (Namun, bagi saya, kalau membantu mereka, ya jangan harap. Menurut saya, ide pendirian federasi ini tidak dengan cara yang benar). Inovasi muncul karena kompetisi, prestasi muncul karena kompetisi. Kalau dilihat dari sisi itu, positif. Tetapi ada negatifnya, yaitu saling jegal, saling mendiskreditkan.
Anda punya kekhawatiran?
Cepat atau lambat perpecahan itu akan lebih besar lagi. Andai Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat bijaksana, KONI bisa bilang begini, ’Selama ini PABBSI sudah menjalankan binaraga dan sudah jalan. Pembinaan lokal biar dipegang PABBSI, kalau internasional khususnya untuk multievent, FBI bertanggung jawab memilih atlet. Artinya, KONI bisa menyatukan mereka. Biarkan saja atlet memilih. Kalau multievent, atlet FBI saja yang ikut. Saat single event tetap bisa ikut Muscle Mania, dengan PABBSI. Kalau PON, bisa dua-duanya ikut. Kalau KONI memilih satu pihak saja, perpecahan itu akan terjadi. (Tahun 2000 Ade kena skors tidak boleh turun di Kejuaraan Asia akibat mengikuti kejuaraan Muscle Mania yang terakhir kali diikutinya tahun 1999. Kejuaraan Muscle Mania tidak diakui Federasi Binaraga Internasional atau IBBF. Dia juga dilarang turun di Asian Games tahun 2002 akibat main iklan- yang sudah tidak tayang tahun 2000). Binaraga bukan olahraga mayoritas. Sangat menyedihkan jika peminatnya sendiri mau memecah belah seperti itu. Di Indonesia binaraga tidak seterkenal bulu tangkis, sepak bola, voli, dan basket. Padahal, federasi internasional binaraga itu no boundaries, no politics involved, no money, no apa pun. Dalam kenyataannya tidak seperti itu. Lambat laun respek saya terhadap federasi bina raga internasional yang resmi semakin pudar.
Bagaimana prospek binaraga di kompetisi internasional?
Kalau KONI hanya berpikir binaraga itu multievent, itu salah. Binaraga tidak selalu ada di multievent, bahkan di Olimpiade tidak pernah. Di Asian Games (AG) baru sekali dipertandingkan, yakni di Pusan tahun 2002. Kita banyak diatur- atur. Atlet tidak boleh main iklan, tidak boleh pakai colour tertentu. Jadi, untuk SEA Games ke depan, kita bisa hitung-hitungan. Bisa dapat satu emas saja sudah bagus. Lalu, bagaimana mau mengangkat citra bangsa di mata internasional?
Lalu, nasib binaragawan jika tidak ada pertandingan?
Menjadi binaragawan tidak harus menjadi competitive body builder. Misalnya, Nano de Mayo dulu kerjanya jaga di beberapa tempat, seperti di Hard Rock. Karena kecintaannya terhadap fitness, dia mau belajar. Dia tidak pernah jadi juara DKI, dia tidak pernah juara nasional. Namun, dia bisa ikut kejuaraan di Malaysia. Dia belajar dengan baca buku. Akhirnya dia lancar menjelaskan olahraga ini. Kini dia menjadi personal trainer. Itu bayarannya bagus.
Dulu Anda juara panco, lalu pernah ikut bulu tangkis dan bola voli, bagaimana bisa jatuh cinta pada binaraga?
Potensi, bakat, dan kesukaan saya ada di sana. Waktu badminton, saya setiap hari latihan dengan Ardy Wiranata (peraih medali perak tunggal putra di Olimpiade Barcelona-Red), teman baik saya di klub Djarum. Niat saya juga mau jadi pemain bulu tangkis, tetapi motivasi saya kalah besar dari Ardy. Kalau week end atau libur, Ardy bilang, ’De, kita lari yuk ke Ancol’. ’Gila aja ha-ha-ha. Orang sudah bisa libur santai’. Secara teknis kondisi fisiknya dan kekuatan otot setiap orang berbeda. Didukung faktor genetik, badan saya bertulang kecil, pinggang kecil, kepala saya juga kecil (tertawa). Jadi, seolah-olah badan saya cepat besarnya. Jadi, ada pengakuan dari luar maupun dari dalam. Binaraga is not about competition, binaraga is about life style, soal gaya hidup sehat. Di dunia fitness, di dunia kesehatan, pemeonya adalah we are what we eat.
Kegiatan di luar binaraga?
Kebetulan semua berhubungan dengan fitness. Majalah sudah pasti. Kami punya fasilitas olahraga Klub Ade Rai, ada 12 di Indonesia. Jangan salah ya, tempatnya bukan tempat saya, tetapi Klub Ade Rai- nya. Saya memiliki reputasi dan kemampuannya. Kalau ada yang mau membuat sarana olahraga dan punya investasi, bisa kerja sama dengan saya, membuat sesuatu yang positif. Saya selalu ajarkan, atlet harus memiliki multiperan. Jangan hanya selalu berpikir: latihan-bertanding-menang, latihan-bertanding-menang. Di olahraga Indonesia, "ada uang abang disayang, tidak ada uang abang melayang". Atlet juga begitu. Selama dia masih berprestasi, dia akan disayang dan aman posisinya. Tetapi, pada saat prestasinya menurun, tidak ada yang memandang dia. Istilahnya, masa depan atlet suram. Penyebabnya, karena golden age-nya pendek. Maka, saya katakan bahwa atlet harus sekolah, harus belajar, harus punya wawasan. Syukur, untuk binaraga saya bisa buktikan sendiri. Saya bisa kuliah. Jadi, binaraga memungkinkan untuk selesai kuliah dan menjadi atlet binaraga. Di binaraga memungkinkan kita bekerja di bidang lain. Menjadi personal trainer, instruktur, pengusaha, model, bintang sinetron, dan yang lain. Seperti Primus (Yustisio), Marcellino (Lefrand), dan Adrian (Maulana), dulu job-nya jumpa fans lalu foto-foto. Sekarang mereka juga diundang untuk senam dan talk show kesehatan. Menjadi pembicara. Menurut saya, that what body building is all about (itulah makna sebenarnya binaraga). Kemandirian tetap yang paling utama. Orangtua saya pensiunan ABRI. Dulu di SMA ada teman saya mau sekolah ke luar negeri. Saya cuma bisa mimpi. Harga tiket pesawat saja sudah tiga kali gaji bapak saya. Kalau dapat oleh-oleh dari teman kayaknya berharga banget, saya simpen. Tetapi, kemudian ternyata olahraga ini bisa membawa saya ke sana. Gratis, bahkan saya dibayar.
Investasi awal Klub Ade Rai?
Tidak susah, kami buat sendiri di Senen. Teman saya yang investasi. Berdiri saat krisis moneter tahun 1998. Sering terjadi, jika fasilitas bagus biasanya pasti mahal. Kalau murah, alatnya sederhana dan seadanya. Jadi, kami menggunakan alat-alat buatan dalam negeri. Pola usaha ini sukses, bisa balik modal dalam satu sampai tiga tahun, cepat sekali. Itu memotivasi orang lain untuk buka usaha fitness center (pusat kebugaran) yang sama. Ini bagus, lapangan pekerjaan bertambah banyak.
Bagaimana awalnya Ade mengenal Muscle Mania, padahal informasi tentang dunia binaraga amat minim di Indonesia?
Awalnya ada teman saya sekolah di AS, dan saya pikir di sana sumber segala informasi tentang fitness. Tahun 1993 saya juara dua di PON XIV. Dari Gubernur DKI Jakarta Surjadi, saya dapat uang Rp 5 juta. Lalu saya pergi ke rumah teman saya di Washington DC, AS. Saya berterima kasih sekali bisa nebeng di rumah dia. Karena tidak ada uang, kadang saya ke toko buku, saya catatin saja semua. Makannya tiap hari mi instan. Saat berangkat berat saya 98-99 kilogram, ketika pulang tinggal 83 kilogram. Lalu saya terapkan informasinya. Saya ikut kejuaraan nasional di Jakarta tahun 1994. Saya juara. Saya iseng-iseng ikut Muscle Mania ketika itu. Saya juara satu, dari satu peserta, ha-ha-ha (tertawa). Saya juara empat dari empat peserta (tertawa lagi). Saat saya bertanding, salah satu presiden Muscle Mania itu melihat saya lalu bilang, "Wah kamu punya potensi. Suatu saat kamu harus bertanding di kejuaraan saya, Muscle Mania California." Saya bilang, "Kasih masukan saja ke saya, saya mesti apa latihannya." Undangan itu memotivasi karena pada saat saya sendiri tidak yakin dengan kemampuan saya, tiba-tiba ada orang yang punya pengaruh besar di dunia binaraga di sana bisa bilang bahwa saya punya potensi gede. Tahun 1995 saya ke sana, saya juara dua. Tahun 1996 saya ke sana lagi, saya juara overall. Sejak tahun 1997 sampai tahun 2000 saya ke Amerika dibayarin terus. Mulai tahun 2000 sampai 2004 saya hanya jadi bintang tamu saja.
Anda dikenal selalu mempromosikan binaraga tanpa obat terlarang. Bagaimana kondisinya di Indonesia?
Memang dari awal saya memilih berjuang untuk binaraga tanpa obat terlarang. Dalam waktu dekat ini saya bersama-sama dengan pihak berwajib mencoba membuat kebijakan-kebijakan memerangi penyalahgunaan obat. Sekarang ini semakin marak banyak drug dealer yang datang ke fitness center. Kian meresahkan. Ini terjadi di seluruh fitness center di Indonesia. Saya serius memeranginya. Masalahnya adalah kita ini sulit melakukan drug test karena mahal. Akhirnya tidak semua pertandingan di Indonesia bisa menggunakan konsep drug test. Sekarang oleh Lembaga Anti-Doping Indonesia (LADI) dicoba membuat solusinya. Mengapa saya perangi? Simbolnya kan olahraga itu sehat, olahraga kuat. Lha kok binaragawan malah pengguna obat? Kan jadi aneh. Sekarang menjualnya sudah tidak main-main. ’Lu mau gede enggak, nanti saya suntikin’. Kalau sekarang pemerintah fight against narkoba, saya fight melawan narkoba di binaraga, yaitu anabolic steroid, growth hormone, dan performance enhancer. Saya minta kepada dokter-dokter di Indonesia harus punya tanggung jawab, jangan hanya sekadar menjual obat, tetapi harus melihat manfaatnya. Lain dengan suplemen seperti amino acid, protein, multivitamin, susu, atau powder, itu enggak apa-apa. Mulai bulan depan saya bekerja sama dengan Gubernur Jawa Tengah, ke sekolah-sekolah di SMA untuk kampanye program anti-drugs baik narkoba maupun doping.
Anda sudah menjadi figur publik. Tertarik terjun ke dunia hiburan?
Jawaban saya sederhana. Dunia hiburan membutuhkan saya tidak sebesar dunia fitness. Saat ini dunia fitness lebih banyak membutuhkan saya, maka prioritas saya ke sana. Dunia fitness ini menurut saya juga dunia hiburan. As an athlete, as an entertainer, as an entrepreneur, sebagai seorang pengusaha juga. Belakangan ini saya juga bikin peralatan olahraga, sepatu, video, buku, seminar- seminar, dan majalah.
Bagaimana peta prestasi binaraga Indonesia di dunia?
Sekarang ini Komang Arnawa, Ricky Syamsuri, dan Taat Pribadi sudah juara dunia, tetapi yang natural, bukan kejuaraan dunia resmi. Kami memang tidak diakui. Buat saya tidak masalah. Kami butuh pengakuan dari diri sendiri. Tetapi, orang Australia mengundang saya sebagai juara dunia untuk menjadi bintang tamu di kejuaraan nasionalnya, di Melbourne Crowne Plaza. Besar sekali. Saya sering menjadi bintang tamu di kejuaraan nasional Australia dan kejuaraan nasional Filipina. Siapa pun bisa menjadi diplomat, semua punya tanggung jawab menjaga nama baik Indonesia. Saya bersyukur banget dan bangga banget bisa menjadi bintang tamu.
Banyak yang sudah Anda lakukan, dari prestasi di tingkat internasional hingga mengembangkan binaraga dan fitness di Indonesia. Anda banyak meraih sukses…?
Yang namanya sukses tidak pernah habis dan relatif bagi setiap orang. Kalau sukses dalam arti juara nasional, ya saya sukses. Menjadi juara Asia, saya juara terus dari tahun 1995 hingga tahun 1998. Di kejuaraan dunia walau tidak resmi, saya sudah juara. Selebihnya yang lainnya, ya membangun industri ini. Saya ingin melihat orang-orang yang ada di sekitar saya bisa hidup layak. Itu tantangan buat saya. Keinginan untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap olahraga ini, juga meluruskan pandangan masyarakat. Seperti misalnya seolah-olah saya ini cuma mempromosikan orang badan gede berotot dan kuat. Padahal, saya juga mau orang yang baru melahirkan badannya menjadi langsing, orang yang badannya kegemukan bisa lebih kurus. Orang yang sakit diabetes bisa sembuh. Itu yang ingin saya tawarkan. Atau misalnya masyarakat bisa mempunyai satu fokus yang bagus ketimbang terdistorsi ke hal-hal negatif. Yang saya rasain sendiri, badan menjadi lebih oke, badan menjadi lebih enak, penampilan lebih bagus, eh bisa hidup pula di dalamnya. Saya tidak muluk-muluk, seperti Indonesia menjadi better place. Paling tidak bagi orang yang dekat dengan saya, minimal apa yang saya lakukan ada manfaatnya bagi mereka. Membuka lapangan kerja yang lebih luas. Karena itu, saya misalnya membikin majalah. Itu untuk mengedukasi masyarakat. Kalau tanpa edukasi, masyarakat tidak terlalu mengerti. Kalau bicara sukses, itu secara moral, material, atau finansial. Secara moral saya banyak kepuasannya. Secara material saya masih jauh dari cukup. Saya mau seimbang dan hidup layak. Sampai saat ini saya harus akui bahwa orang-orang yang berkecimpung di dunia ini kadang-kadang hidupnya masih susah secara materi. Orang mengira saya mendapat banyak karena memiliki banyak gym. Padahal, itu bukan milik saya. Saya juga harus membayar orang-orang yang bekerja di kantor saya. Tetapi, buat saya ini investasi. Ibaratnya latihan dulu. Sebagai awal industri, saya berani miskin dulu. Menurut saya, kesuksesan saya kalau seandainya saya juga bisa membuat teman-teman saya bisa mandiri. Sebagai contoh Nano atau yang lain, termasuk Ricky, Taat, dan sebagainya. Perkembangannya, ibaratnya dulu orang investasi fitness center dengan Rp 50 juta-Rp 60 juta, sekarang orang bisa investasi fitness center miliaran rupiah. Berani, karena kesadaran masyarakatnya semakin tinggi. Saya tidak butuh pengakuan dari media atau dari orang. Saya mendapat pengakuan minimal dari diri saya sendiri dan dari orang-orang yang mengenal saya bahwa kita bisa menjadi bagian dari sebuah sejarah yang positif, yaitu majunya kesadaran hidup sehat masyarakat di Indonesia. Itu yang saya banggakan.
Dulu citra binaraga belum sepositif sekarang. Mengapa tertarik menerjuni?
Dari awal saya melihat, kita harus menjadi wakil yang baik bagi olahraga. Kita tidak bisa cuma latihan saja. Kalau diajak ngobrol, diajak ngomong, tidak bisa hanya ngomong tentang olahraga saja. Itu yang coba saya lakukan, bagaimana membuat suatu kemasan yang bagus. Itu saya tampilkan ke dalam segala sesuatu yang berhubungan dengan diri saya. Saya tidak mau melihat atlet binaraga itu mengesankan intimidasi. Saya lebih senang kita mengesankan simpati. Saya senang kalau kita badan gede tapi bukan banyak lawan, melainkan banyak kawan. Dari kecil saya selalu berusaha menjadi sesuatu yang lain dari yang lain. Saya selalu berpikir kebalikan dari yang disukai orang lain. Begitu juga dalam memilih olahraga. Pada saat orang menganggap binaraga itu adalah olahraganya "kuli", olahraga yang tidak jelas, saat itu tantangan buat saya jadi semakin besar. Saya pikir kalau ada sesuatu tantangan kita hadapi, apakah kita jatuh, apakah kita bisa jadi lebih bagus kalau bisa mengatasinya.
Masih suka panco?
Saya mempromosikan panco. Saya bersyukur karena panco ini bisa mempersatukan kelompok-kelompok pekerja kasar. Mereka diajarkan sportivitas. Ini gara-gara setiap minggu disiarkan di depan teve. Salah satu warisan olahraga adalah sportivitas. Peserta diajarkan bagaimana to be a good winner dan to be a good loser. Ini mempererat hubungan antara mereka sendiri sehingga kriminalitas atau keributan berkurang. Mereka akhirnya bergabung dalam organisasi Persatuan Olahraga Panco Indonesia. Semua berteman. Saya paling syukuri ini. Saya lakukan ini karena saya dulu juara nasional panco, kedua saya senang olahraganya, ketiga ternyata olahraga ini mempererat hubungan manusianya. Itu yang menurut saya paling oke dari dunia panco. Sementara tiga-empat tahun terakhir saya ikut Kyokushin Karate Indonesia (KKI). Saya pengurus daerah di DKI Jakarta. Awalnya saya mendapat sabuk hitam kehormatan karena membantu mereka di gym saya. Saya lalu berlatih sungguh- sungguh. Ternyata nilai-nilai budho karate yang diajarkan itu luar biasa sekali. Saya paling hargai ketua dewan guru, shihan JB Sujoto, dan para pemimpin lainnya. Mereka mengajarkan betapa dengan karate ini kita punya budi pekerti yang lebih bagus.
Di rumah tidak ada alat fitness?
Biar lebih santai, lebih tenang. Semakin tua, kenyamanan seseorang berarti kalau materi semakin kuat, kenyamanan jika dengan penampilan optimal, semakin nyaman jika punya fisik bagus. Padahal, kalau sudah meninggal semuanya akan ditinggal, tidak dibawa. Harta tidak dibawa, rumah tidak dibawa, mobil tidak dibawa, selama fisik sehat juga tidak dibawa. Yang satu lagi adalah spiritual. Tidak hanya jasmani yang dilatih, tetapi juga rohani.
Maksudnya?
Sama dengan jasmani kita, rohani kita harus dilatih. Supaya lebih tajam ibarat pisau, diasah dulu. Makanya, saya belajar meditasi, berusaha menjadi lebih sabar, apalagi setelah bapak pergi pada Desember 2003. Satu-satunya penyesalan yang ada adalah saya belum puas menyenangkan dan membahagiakan bapak saya. Ibaratnya, saya bisa membuktikan seratus, saya baru membuktikan 20. Saya masih punya 80 di kantong saya. Berat sekali bagi saya. Ibaratnya, Papa adalah fan terbesar saya. Number one fan saya adalah bapak saya. Ketika kehilangan bapak, saya seperti kehilangan mesin. Dia yang paling menghargai saya. Di lemarinya lengkap semua data tentang saya. Saya tidak ngeh (tahu). Saya baru tahu itu setelah bapak saya pergi.
Sumber : Kompas, Minggu, 17 April 2005
Nusjirwan Tirtaamidjaja : Iwan Tirta, Emban Seni Kriya Indonesia
Iwan Tirta, Emban Seni Kriya Indonesia
Oleh : Ninuk M Pambudy
TUJUH puluh tahun bukan usia sedikit. Banyak orang pada usia ini merasa telah selesai melakukan tugas di dunia sehingga sisa umur adalah untuk menikmati hasil kerja selama ini.
NAMUN, Iwan Tirta pada usia yang hari ini memasuki 70 tahun merasa begitu cepat waktu berlalu, sementara masih panjang deretan pekerjaan yang ingin dia lakukan. "Banyak hal yang harus dilakukan kalau ingin bertahan dan bahkan berkembang. Saya masih punya banyak ide untuk mengembangkan batik, perak, porselen, dan perhiasan, tetapi waktu kok rasanya singkat sekali," kata Iwan di rumahnya yang kental dengan suasana Indonesia.
Di teras samping rumahnya terpampang dua galaran yang padanya tersampir dua kain batik yang masih dalam proses pembuatan motif dengan menggunakan malam. "Saya masih terus membatik, tetapi malam hari. Lebih enak karena sepi. Saya akan terus membatik sampai tanganku buyutan," kata Iwan diiringi tawanya yang khas. Buyutan adalah istilah umum untuk tangan yang bergetar karena usia lanjut.
Batik memang dunia Iwan Tirta sampai kini meskipun pendidikan formalnya adalah School of Oriental and African Studies di London University dan master of laws dari Yale University, Amerika Serikat, serta mendapat fellowship dari Yayasan Adlai Stevenson di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Perkenalannya dengan batik berawal dari ketika dia bersekolah di Amerika Serikat dan mendapat banyak pertanyaan tentang budaya Indonesia.
Namun, sebetulnya perkenalan Nusjirwan Tirtaamidjaja, nama asli Iwan Tirta, pada budaya Jawa berawal lebih jauh lagi, yaitu dari pendidikan masa kecilnya. Iwan sebetulnya berdarah campuran Purwakarta, Jawa Barat, dari ayahnya Mr Moh Husein Tirtaamidjaja, anggota Mahkamah Agung RI (1950-1958), dan Sumatera Barat dari ibunya yang berasal dari Lintau. Iwan yang lahir di Blora, Jawa Tengah, belajar mengenai budaya Jawa ketika orangtuanya menjelma menjadi priayi Jawa saat ditugaskan di Jawa Tengah.
Ketertarikan secara khusus kepada batik lahir ketika atas dana hibah dari Dana John D Rockefeller III Iwan mendapat kesempatan mempelajari tarian keraton Kesunanan Surakarta. Di sanalah Iwan memutuskan mendalami batik dan bertekad mendokumentasi serta melestarikan batik. Kemudian lahirlah bukunya yang pertama, Batik, Patterns and Motifs pada tahun 1966.
SUMBANGAN Iwan paling nyata adalah ketika dia berhasil mentransformasi batik dari selembar kain batik yang secara tradisional digunakan dengan dililitkan di tubuh menjadi gaun indah yang tidak kalah dengan gemerlap dari Barat. Kepraktisan berbusana cara Barat perlahan tetapi pasti memang telah menggerus cara berbusana tradisional perempuan Jawa, dan Iwan berhasil memadukan keindahan batik dengan kepraktisan pakaian ala Barat.
Kepekaan seni dan pergaulannya yang luas dengan berbagai kalangan dari Timur dan Barat membuat Iwan mampu membawa batik menjadi busana yang diterima bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Kecenderungannya pada bidang keilmuan membuat Iwan melihat batik secara rasional dan dia melahirkan buku berikutnya, Batik, A Play of Light and Shades (1996).
Ketertarikannya kepada budaya Jawa dan sebenarnya juga budaya Nusantara lainnya serta kedekatannya dengan kalangan keraton Jawa membawa pengelanaan Iwan kepada seni kriya lain. Perak adalah penjelajahan berikut Iwan. Motif modang, misalnya, dijadikan ragam hias pada tutup tempat perhiasan, sementara seperangkat tempat sirih peraknya menghiasi lobi Hotel Dharmawangsa di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Pengetahuannya yang luas dan mendalam mengenai batik membuat Iwan tidak lagi dalam tataran teori ketika berbicara mengenai motif batik yang dapat muncul dalam bentuk apa saja. Itu dibuktikannya ketika mendesain perangkat makan porselen yang menggunakan motif batik. Energi kreatifnya juga tersalur dengan merancang perhiasan yang inspirasinya dari perhiasan keraton.
"KUNCINYA adalah pendidikan dan riset. Kita sangat kurang dalam dua hal itu," kata Iwan yang selalu berkemeja batik dalam setiap acara, tetapi siap pula mengenakan celana pendek denim dengan kaus ketat ketika di rumah dan siap membatik. Pandangan ini secara konsisten dikukuhinya sejak mulai berkenalan intens dengan batik pada tahun 1960-an.
Dalam hal riset, Iwan melakukannya sejak bertahun lalu. Dia terus mendokumentasikan motif batik tua, termasuk milik Puri Mangkunegaran, Solo, ke dalam data digital dan ke atas kertas dengan bantuan pengusaha Rachmat Gobel. Data tersebut menjadi pegangannya dalam mengembangkan motif baru yang terus dia kembangkan sesuai selera zaman dengan tetap mempertahankan ciri khasnya, yaitu antara lain warna yang cerah dan motif berukuran besar.
Pekan lalu dia diminta Ibu Negara Ny Ani Yudhoyono untuk ikut menyumbangkan pemikiran dalam pengembangan batik sebagai ikon nasional. Bicara mengenai hal itu Iwan kembali prihatin pada kondisi pendidikan, riset, dan kemampuan promosi Indonesia sebagai negeri batik. "Sekarang Malaysia ke mana-mana mengaku batik sebagai milik mereka. Itu karena kita tidak punya kemampuan public relations," kata penerima Anugerah Kebudayaan 2004 kategori individu peduli tradisi ini.
Dengan fasih Iwan menjelaskan di mana kekuatan batik Jawa yang menjadi dasar batik nasional yang tidak bakal bisa ditiru negara lain. Pertama adalah adanya teknik yang pasti, yaitu penggunaan malam dan canting; kedua, adanya pakem berupa ragam hias dengan dasar geometris nongeometris; ketiga, jalinan erat dengan budaya lain; dan ketidakterikatan dengan satu agama tertentu.
"Itu semua kekuatan batik Indonesia yang tidak dipunyai bangsa lain, tetapi untuk mengeluarkan potensi ini perlu pendidikan dan riset," kata Iwan kukuh.
Keyakinan itu dan tugas baru yang disandangnya membuat Iwan bertekad akan mengabdikan hidupnya sebagai emban seni kriya Indonesia. "Tugas emban itu ya mengasuh, mendampingi, untuk semua, tidak hanya batik Iwan Tirta," tuturnya.
Senin ini Iwan akan memperingati 70 tahun usianya dan malam ini rencananya dia akan mengadakan syukuran bersama teman-temannya. "Saya tidak melahirkan batik, tetapi saya akan terus mengasuh dan memelihara yang ada. Seperti tugas emban."
Sumber : Kompas, Senin, 18 April 2005
Oleh : Ninuk M Pambudy
TUJUH puluh tahun bukan usia sedikit. Banyak orang pada usia ini merasa telah selesai melakukan tugas di dunia sehingga sisa umur adalah untuk menikmati hasil kerja selama ini.
NAMUN, Iwan Tirta pada usia yang hari ini memasuki 70 tahun merasa begitu cepat waktu berlalu, sementara masih panjang deretan pekerjaan yang ingin dia lakukan. "Banyak hal yang harus dilakukan kalau ingin bertahan dan bahkan berkembang. Saya masih punya banyak ide untuk mengembangkan batik, perak, porselen, dan perhiasan, tetapi waktu kok rasanya singkat sekali," kata Iwan di rumahnya yang kental dengan suasana Indonesia.
Di teras samping rumahnya terpampang dua galaran yang padanya tersampir dua kain batik yang masih dalam proses pembuatan motif dengan menggunakan malam. "Saya masih terus membatik, tetapi malam hari. Lebih enak karena sepi. Saya akan terus membatik sampai tanganku buyutan," kata Iwan diiringi tawanya yang khas. Buyutan adalah istilah umum untuk tangan yang bergetar karena usia lanjut.
Batik memang dunia Iwan Tirta sampai kini meskipun pendidikan formalnya adalah School of Oriental and African Studies di London University dan master of laws dari Yale University, Amerika Serikat, serta mendapat fellowship dari Yayasan Adlai Stevenson di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Perkenalannya dengan batik berawal dari ketika dia bersekolah di Amerika Serikat dan mendapat banyak pertanyaan tentang budaya Indonesia.
Namun, sebetulnya perkenalan Nusjirwan Tirtaamidjaja, nama asli Iwan Tirta, pada budaya Jawa berawal lebih jauh lagi, yaitu dari pendidikan masa kecilnya. Iwan sebetulnya berdarah campuran Purwakarta, Jawa Barat, dari ayahnya Mr Moh Husein Tirtaamidjaja, anggota Mahkamah Agung RI (1950-1958), dan Sumatera Barat dari ibunya yang berasal dari Lintau. Iwan yang lahir di Blora, Jawa Tengah, belajar mengenai budaya Jawa ketika orangtuanya menjelma menjadi priayi Jawa saat ditugaskan di Jawa Tengah.
Ketertarikan secara khusus kepada batik lahir ketika atas dana hibah dari Dana John D Rockefeller III Iwan mendapat kesempatan mempelajari tarian keraton Kesunanan Surakarta. Di sanalah Iwan memutuskan mendalami batik dan bertekad mendokumentasi serta melestarikan batik. Kemudian lahirlah bukunya yang pertama, Batik, Patterns and Motifs pada tahun 1966.
SUMBANGAN Iwan paling nyata adalah ketika dia berhasil mentransformasi batik dari selembar kain batik yang secara tradisional digunakan dengan dililitkan di tubuh menjadi gaun indah yang tidak kalah dengan gemerlap dari Barat. Kepraktisan berbusana cara Barat perlahan tetapi pasti memang telah menggerus cara berbusana tradisional perempuan Jawa, dan Iwan berhasil memadukan keindahan batik dengan kepraktisan pakaian ala Barat.
Kepekaan seni dan pergaulannya yang luas dengan berbagai kalangan dari Timur dan Barat membuat Iwan mampu membawa batik menjadi busana yang diterima bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Kecenderungannya pada bidang keilmuan membuat Iwan melihat batik secara rasional dan dia melahirkan buku berikutnya, Batik, A Play of Light and Shades (1996).
Ketertarikannya kepada budaya Jawa dan sebenarnya juga budaya Nusantara lainnya serta kedekatannya dengan kalangan keraton Jawa membawa pengelanaan Iwan kepada seni kriya lain. Perak adalah penjelajahan berikut Iwan. Motif modang, misalnya, dijadikan ragam hias pada tutup tempat perhiasan, sementara seperangkat tempat sirih peraknya menghiasi lobi Hotel Dharmawangsa di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Pengetahuannya yang luas dan mendalam mengenai batik membuat Iwan tidak lagi dalam tataran teori ketika berbicara mengenai motif batik yang dapat muncul dalam bentuk apa saja. Itu dibuktikannya ketika mendesain perangkat makan porselen yang menggunakan motif batik. Energi kreatifnya juga tersalur dengan merancang perhiasan yang inspirasinya dari perhiasan keraton.
"KUNCINYA adalah pendidikan dan riset. Kita sangat kurang dalam dua hal itu," kata Iwan yang selalu berkemeja batik dalam setiap acara, tetapi siap pula mengenakan celana pendek denim dengan kaus ketat ketika di rumah dan siap membatik. Pandangan ini secara konsisten dikukuhinya sejak mulai berkenalan intens dengan batik pada tahun 1960-an.
Dalam hal riset, Iwan melakukannya sejak bertahun lalu. Dia terus mendokumentasikan motif batik tua, termasuk milik Puri Mangkunegaran, Solo, ke dalam data digital dan ke atas kertas dengan bantuan pengusaha Rachmat Gobel. Data tersebut menjadi pegangannya dalam mengembangkan motif baru yang terus dia kembangkan sesuai selera zaman dengan tetap mempertahankan ciri khasnya, yaitu antara lain warna yang cerah dan motif berukuran besar.
Pekan lalu dia diminta Ibu Negara Ny Ani Yudhoyono untuk ikut menyumbangkan pemikiran dalam pengembangan batik sebagai ikon nasional. Bicara mengenai hal itu Iwan kembali prihatin pada kondisi pendidikan, riset, dan kemampuan promosi Indonesia sebagai negeri batik. "Sekarang Malaysia ke mana-mana mengaku batik sebagai milik mereka. Itu karena kita tidak punya kemampuan public relations," kata penerima Anugerah Kebudayaan 2004 kategori individu peduli tradisi ini.
Dengan fasih Iwan menjelaskan di mana kekuatan batik Jawa yang menjadi dasar batik nasional yang tidak bakal bisa ditiru negara lain. Pertama adalah adanya teknik yang pasti, yaitu penggunaan malam dan canting; kedua, adanya pakem berupa ragam hias dengan dasar geometris nongeometris; ketiga, jalinan erat dengan budaya lain; dan ketidakterikatan dengan satu agama tertentu.
"Itu semua kekuatan batik Indonesia yang tidak dipunyai bangsa lain, tetapi untuk mengeluarkan potensi ini perlu pendidikan dan riset," kata Iwan kukuh.
Keyakinan itu dan tugas baru yang disandangnya membuat Iwan bertekad akan mengabdikan hidupnya sebagai emban seni kriya Indonesia. "Tugas emban itu ya mengasuh, mendampingi, untuk semua, tidak hanya batik Iwan Tirta," tuturnya.
Senin ini Iwan akan memperingati 70 tahun usianya dan malam ini rencananya dia akan mengadakan syukuran bersama teman-temannya. "Saya tidak melahirkan batik, tetapi saya akan terus mengasuh dan memelihara yang ada. Seperti tugas emban."
Sumber : Kompas, Senin, 18 April 2005
Subscribe to:
Posts (Atom)

