HEADLINE NEWS

Translate it !

Showing posts with label N. Show all posts
Showing posts with label N. Show all posts

Nusjirwan Tirtaamidjaja : Iwan Tirta, Emban Seni Kriya Indonesia

Jun 28, 2009
Iwan Tirta, Emban Seni Kriya Indonesia
Oleh : Ninuk M Pambudy

TUJUH puluh tahun bukan usia sedikit. Banyak orang pada usia ini merasa telah selesai melakukan tugas di dunia sehingga sisa umur adalah untuk menikmati hasil kerja selama ini.

NAMUN, Iwan Tirta pada usia yang hari ini memasuki 70 tahun merasa begitu cepat waktu berlalu, sementara masih panjang deretan pekerjaan yang ingin dia lakukan. "Banyak hal yang harus dilakukan kalau ingin bertahan dan bahkan berkembang. Saya masih punya banyak ide untuk mengembangkan batik, perak, porselen, dan perhiasan, tetapi waktu kok rasanya singkat sekali," kata Iwan di rumahnya yang kental dengan suasana Indonesia.

Di teras samping rumahnya terpampang dua galaran yang padanya tersampir dua kain batik yang masih dalam proses pembuatan motif dengan menggunakan malam. "Saya masih terus membatik, tetapi malam hari. Lebih enak karena sepi. Saya akan terus membatik sampai tanganku buyutan," kata Iwan diiringi tawanya yang khas. Buyutan adalah istilah umum untuk tangan yang bergetar karena usia lanjut.

Batik memang dunia Iwan Tirta sampai kini meskipun pendidikan formalnya adalah School of Oriental and African Studies di London University dan master of laws dari Yale University, Amerika Serikat, serta mendapat fellowship dari Yayasan Adlai Stevenson di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Perkenalannya dengan batik berawal dari ketika dia bersekolah di Amerika Serikat dan mendapat banyak pertanyaan tentang budaya Indonesia.

Namun, sebetulnya perkenalan Nusjirwan Tirtaamidjaja, nama asli Iwan Tirta, pada budaya Jawa berawal lebih jauh lagi, yaitu dari pendidikan masa kecilnya. Iwan sebetulnya berdarah campuran Purwakarta, Jawa Barat, dari ayahnya Mr Moh Husein Tirtaamidjaja, anggota Mahkamah Agung RI (1950-1958), dan Sumatera Barat dari ibunya yang berasal dari Lintau. Iwan yang lahir di Blora, Jawa Tengah, belajar mengenai budaya Jawa ketika orangtuanya menjelma menjadi priayi Jawa saat ditugaskan di Jawa Tengah.

Ketertarikan secara khusus kepada batik lahir ketika atas dana hibah dari Dana John D Rockefeller III Iwan mendapat kesempatan mempelajari tarian keraton Kesunanan Surakarta. Di sanalah Iwan memutuskan mendalami batik dan bertekad mendokumentasi serta melestarikan batik. Kemudian lahirlah bukunya yang pertama, Batik, Patterns and Motifs pada tahun 1966.

SUMBANGAN Iwan paling nyata adalah ketika dia berhasil mentransformasi batik dari selembar kain batik yang secara tradisional digunakan dengan dililitkan di tubuh menjadi gaun indah yang tidak kalah dengan gemerlap dari Barat. Kepraktisan berbusana cara Barat perlahan tetapi pasti memang telah menggerus cara berbusana tradisional perempuan Jawa, dan Iwan berhasil memadukan keindahan batik dengan kepraktisan pakaian ala Barat.

Kepekaan seni dan pergaulannya yang luas dengan berbagai kalangan dari Timur dan Barat membuat Iwan mampu membawa batik menjadi busana yang diterima bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Kecenderungannya pada bidang keilmuan membuat Iwan melihat batik secara rasional dan dia melahirkan buku berikutnya, Batik, A Play of Light and Shades (1996).

Ketertarikannya kepada budaya Jawa dan sebenarnya juga budaya Nusantara lainnya serta kedekatannya dengan kalangan keraton Jawa membawa pengelanaan Iwan kepada seni kriya lain. Perak adalah penjelajahan berikut Iwan. Motif modang, misalnya, dijadikan ragam hias pada tutup tempat perhiasan, sementara seperangkat tempat sirih peraknya menghiasi lobi Hotel Dharmawangsa di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Pengetahuannya yang luas dan mendalam mengenai batik membuat Iwan tidak lagi dalam tataran teori ketika berbicara mengenai motif batik yang dapat muncul dalam bentuk apa saja. Itu dibuktikannya ketika mendesain perangkat makan porselen yang menggunakan motif batik. Energi kreatifnya juga tersalur dengan merancang perhiasan yang inspirasinya dari perhiasan keraton.

"KUNCINYA adalah pendidikan dan riset. Kita sangat kurang dalam dua hal itu," kata Iwan yang selalu berkemeja batik dalam setiap acara, tetapi siap pula mengenakan celana pendek denim dengan kaus ketat ketika di rumah dan siap membatik. Pandangan ini secara konsisten dikukuhinya sejak mulai berkenalan intens dengan batik pada tahun 1960-an.

Dalam hal riset, Iwan melakukannya sejak bertahun lalu. Dia terus mendokumentasikan motif batik tua, termasuk milik Puri Mangkunegaran, Solo, ke dalam data digital dan ke atas kertas dengan bantuan pengusaha Rachmat Gobel. Data tersebut menjadi pegangannya dalam mengembangkan motif baru yang terus dia kembangkan sesuai selera zaman dengan tetap mempertahankan ciri khasnya, yaitu antara lain warna yang cerah dan motif berukuran besar.

Pekan lalu dia diminta Ibu Negara Ny Ani Yudhoyono untuk ikut menyumbangkan pemikiran dalam pengembangan batik sebagai ikon nasional. Bicara mengenai hal itu Iwan kembali prihatin pada kondisi pendidikan, riset, dan kemampuan promosi Indonesia sebagai negeri batik. "Sekarang Malaysia ke mana-mana mengaku batik sebagai milik mereka. Itu karena kita tidak punya kemampuan public relations," kata penerima Anugerah Kebudayaan 2004 kategori individu peduli tradisi ini.

Dengan fasih Iwan menjelaskan di mana kekuatan batik Jawa yang menjadi dasar batik nasional yang tidak bakal bisa ditiru negara lain. Pertama adalah adanya teknik yang pasti, yaitu penggunaan malam dan canting; kedua, adanya pakem berupa ragam hias dengan dasar geometris nongeometris; ketiga, jalinan erat dengan budaya lain; dan ketidakterikatan dengan satu agama tertentu.

"Itu semua kekuatan batik Indonesia yang tidak dipunyai bangsa lain, tetapi untuk mengeluarkan potensi ini perlu pendidikan dan riset," kata Iwan kukuh.

Keyakinan itu dan tugas baru yang disandangnya membuat Iwan bertekad akan mengabdikan hidupnya sebagai emban seni kriya Indonesia. "Tugas emban itu ya mengasuh, mendampingi, untuk semua, tidak hanya batik Iwan Tirta," tuturnya.

Senin ini Iwan akan memperingati 70 tahun usianya dan malam ini rencananya dia akan mengadakan syukuran bersama teman-temannya. "Saya tidak melahirkan batik, tetapi saya akan terus mengasuh dan memelihara yang ada. Seperti tugas emban."

Sumber : Kompas, Senin, 18 April 2005
Read Full 0 comments

Nane Annan-Lagergren : Nane Annan dan Dukungan Hadapi AIDS

Nane Annan dan Dukungan Hadapi AIDS
Oleh : Agnes Aristiarini

KONFERENSI Asia-Afrika (KAA) baru saja usai. Tak ada perubahan berarti dalam pertemuan para pemimpin dunia yang kebanyakan dari negara berkembang itu karena bahasan utamanya tak jauh dari politik dan ekonomi. Nyaris tak terdengar adanya upaya kerja sama di bidang pendidikan, kesehatan, apalagi pemberdayaan perempuan.

PADAHAL, Human Development Index (HDI) yang mengukur keberhasilan suatu negara menyejahterakan rakyatnya justru menggunakan tingkat pendidikan, kesehatan, maupun kesetaraan jender sebagai bagian dari parameter utamanya. Lebih ironis lagi, banyak negara Afrika dan Asia yang peringkat HDI-nya rendah, termasuk Indonesia.

Kalaupun ada perhatian ke bidang-bidang yang masih marjinal tersebut, itu lebih ke minat pribadi yang belum dikaitkan dengan agenda KAA secara keseluruhan. Demikian pulalah yang terjadi dengan kunjungan Nane Annan, istri Sekjen PBB Kofi Annan, yang Sabtu (23/4/2005) siang sempat menengok Spiritia. Ini suatu lembaga nonpemerintah yang memberi dukungan kepada mereka yang hidup dengan HIV/AIDS secara luas, termasuk keluarga, pasangan, maupun teman-temannya.

Kunjungannya sungguh singkat karena harus diselipkan di antara acara protokoler, termasuk jamuan makan siang yang molor hingga dua jam. Dalam pertemuan yang "sepi"-jauh dari sorotan media dan hanya didampingi lembaga PBB untuk menanggulangi AIDS (UNAIDS)-Nane menyebut Spiritia sebagai rumah yang sarat warna dan spirit dalam perjuangan antidiskriminasi.

Lalu matanya mendadak berkaca-kaca dan suaranya tersekat ketika menceritakan pertemuannya dengan orangtua Suzana Murni, pendiri Spiritia yang menutup mata tahun 2002 pada usia 30 tahun. "Sungguh mengagumkan melihat bagaimana mereka mendukung penuh putrinya, termasuk saat Suzana membuka status dirinya di depan publik. Saya selalu terharu kalau ingat mereka bilang bahwa putrinya selalu bisa pulang ke rumah setiap saat, apa pun yang terjadi," katanya.

NANE Annan-Lagergren, yang menikah dengan Kofi Annan tahun 1984, memang tertarik dengan isu-isu kemanusiaan, terutama perempuan, anak-anak, dan HIV/AIDS. Perempuan Swedia yang tadinya adalah pengacara komisi tinggi PBB untuk pengungsi (UNHCR) ini hidupnya berubah drastis sejak suaminya diangkat menjadi Sekjen PBB tahun 1996.

Ia berhenti dari pekerjaannya dan melupakan hobi melukisnya karena sering bepergian mendampingi Annan dan mengunjungi proyek-proyek PBB di berbagai negara. Namun, semua tak sia-sia.

Pertemuannya dengan berbagai kegiatan kemanusiaan membuka matanya akan berbagai ketimpangan yang masih terjadi, dari kemiskinan hingga ketidakadilan terhadap hak-hak perempuan dan anak-anak. Ketika mengunjungi rumah sakit yang merawat pasien HIV/AIDS dan bertemu dengan mereka yang terinfeksi, ia menyadari bahwa masalah kesehatan pun bisa memicu stigmatisasi dan diskriminasi.

Maka Nane pun belajar mengupayakan berbagai cara untuk mendukung perjuangan mereka yang hidup dengan HIV/AIDS. "Saya sadar posisi saya sebagai istri Sekjen PBB. Mungkin saya bisa membantu dengan memberi perhatian, bertemu dengan para istri pemimpin negara yang saya temui untuk mengingatkan masalah itu," kata ibu tiga anak ini.

Sabtu sore, dalam pertemuannya dengan media yang terbatas, ia menceritakan keprihatinannya atas meningkatnya kasus-kasus HIV/AIDS pada perempuan, terutama di kawasan Asia dan Afrika. "Saya memahami bahwa perempuan terinfeksi karena posisi mereka yang belum setara. Perempuan belum dilihat sebagai orang yang paling rentan di seluruh dunia," jelasnya.

Karena itu, Nane senang sekali ketika berbincang dengan Ny Kristiani Yudhoyono dan menemukan bahwa istri Presiden Indonesia itu menyadari adanya permasalahan serupa di negerinya. Ia berharap kesadaran ini bisa memicu berbagai implementasi yang mempercepat penghapusan stigma dan diskriminasi bagi yang terinfeksi HIV/AIDS.

"Perempuan juga manusia, baik yang tertular maupun tidak. Adalah tugas kita bersama untuk mendukung mereka mendapatkan hak-haknya dan menanggulangi masalahnya. Mengutip ucapan suami saya, maka pemberdayaan perempuan adalah strategi terbaik untuk memperbaiki masa depan dunia," tegas Nane yang didampingi penasihat program UNAIDS untuk Indonesia Jane S Wilson PhD dan Frika Iskandar dari Asia Pacific Network of People Living with HIV/AIDS.

DATA UNAIDS menunjukkan, jumlah perempuan yang terinfeksi HIV/AIDS terus meningkat di berbagai kawasan. Kalau pada awal epidemi ini jumlah laki- laki yang terinfeksi jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan, maka sejak tahun 1998 proporsi perempuan dengan HIV/AIDS meningkat menjadi 41 persen.

Sejak tahun 2002, peningkatan paling tajam terjadi di kawasan Asia Timur yang selama dua tahun telah naik 56 persen, diikuti kawasan Eropa Timur dan Asia Tengah dengan 48 persen. Kini perempuan dewasa yang terinfeksi HIV/AIDS hampir 50 persen, bahkan di Sub-Sahara Afrika mendekati 60 persen.

Masalah ini masih ditambah lagi dengan jutaan kaum muda yang masuk periode seksual aktif namun tidak memiliki akses untuk upaya pencegahannya. Tidaklah mengherankan bila di kawasan Sub-Sahara Afrika saja, 76 persen remaja perempuan berusia 15-24 tahun yang terinfeksi HIV/AIDS. Penelitian sudah membuktikan bahwa remaja perempuan tiga kali lebih rentan tertular HIV/AIDS dibandingkan dengan remaja laki-laki pasangannya.

Maka Nane terus mengajak para perempuan di seluruh dunia untuk memberdayakan kaumnya. "Tidak ada jalan lain. Anak perempuan harus terus bersekolah, mampu memutuskan sendiri apa yang mereka inginkan, bisa mengatakan tidak bila diperlukan, dan tahu cara menyiasati lingkungan yang belum mendukung," tuturnya.

Sebagai istri Kofi Annan, barangkali dalam pertemuan-pertemuan internasional selanjutnya Nane juga bisa menyarankan kepada pihak protokoler untuk memasukkan kunjungan ke berbagai kegiatan kemanusiaan dalam "ladies program" para istri pemimpin negara-yang lebih sering diisi acara belanja. Sebagai ahli hukum yang biasa bernegosiasi, ini tentu bukan tugas sulit baginya. (Agnes Aristiarini)

Sumber : Kompas, Selasa, 26 April 2005
Read Full 0 comments

Nyoman Sutantra, Pencipta Prototipe CDI Mobil

Jun 21, 2009
Nyoman Sutantra, Pencipta Prototipe CDI Mobil
Oleh : Runik Sri Astuti

Memiliki mobil yang tarikannya ringan, mudah dihidupkan, berkecepatan tinggi, dan hemat bahan bakar serta rendah polusi memang bukan lagi impian. Profesor Ir Nyoman Sutantra berhasil menciptakan sebuah prototipe sistem pengapian menggunakan kondensor untuk menyempurnakan pembakaran.

Condensor Discharge Ignition (CDI), begitu sebutan alat itu. Agar lebih mudah dikenali masyarakat dan untuk membedakannya dengan alat serupa buatan orang lain, Nyoman mematenkan nama Stanly pada CDI yang ia produksi. Selanjutnya, CDI bernomor paten P-00200400471 ini menjadi temuan pertama dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) yang dikomersialkan.

Kata Stanly diambil dari sebuah singkatan nama Sutantra dan Harly. Harly adalah salah satu muridnya yang sedang menempuh pendidikan doktor yang telah membantunya merealisasikan ide pembuatan CDI.

Bermodalkan bantuan pemerintah sebesar Rp 500 juta, prototipe CDI Stanly lantas diproduksi secara massal. Dia mulai masuk pasaran onderdil mobil di Indonesia kendati pangsa pasarnya masih terbatas di Surabaya dan Malang. Rencananya, pasar akan diperluas sampai ke Jakarta.

Maklum modalnya kecil sehingga kapasitas produksinya pun terbatas sekitar 400-500 unit ujar Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat ITS ini.

Proses pengerjaan dipercayakan kepada VEDC (Vocational Education Development Center), sebuah lembaga pemberdayaan masyarakat dan usaha kecil menengah. Dengan demikian, dapat menularkan ilmu pengetahuan dan memberi lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat kecil. Ibarat pepatah, sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampau.

Uji coba

Sebagai salah satu komponen dalam sistem pengapian busi kendaraan bermotor, CDI bukan hal baru di dunia otomotif. Hal itu menjadi baru ketika Nyoman Sutantra memasangkan konsep CDI ini pada kendaraan jenis mobil sebagai pengganti platina untuk mobil buatan sebelum tahun 1980-an atau Transistor Coil Ignition (TCI) untuk mobil keluaran baru.

Fungsinya sama, yakni sebagai alat pembangkit pengapian pada busi kendaraan. Kelebihannya, CDI Stanly dilengkapi alat bernama osilator, yang bisa menghemat pemakaian bahan bakar. Efisiensinya lebih dari 10-15 persen karena proses pembakaran berlangsung sempurna atau optimal.

Panjang api yang dihasilkan dari pembakaran mencapai 12 mm. Pengapian yang optimal ini membuat bahan bakar mobil semakin irit, begitu juga dengan emisi gas buangnya. Gas buang CO (karbon monoksida) turun 30 persen-40 persen sehingga mengurangi polusi.

Uji coba pada mobil Toyota Kijang menunjukkan, tanpa CDI Stanly, CO yang dihasilkan 1,5 persen. Dengan CDI kami, CO yang dihasilkan mobil hanya 0,96 persen, papar sarjana lulusan Teknik Mesin ITS tahun 1969 dan bapak dari tiga anak ini.

Sebelum diproduksi secara massal, karya pria yang memilih menjadi dosen selepas kuliah ini terlebih dahulu diujicobakan pada 55 mobil angkutan umum jurusan Singosari-Malang, Jawa Timur, selama lebih dari dua bulan. Hampir dua tahun, pria kelahiran Celuk, Sukawati, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, 5 Juni 1951, ini melakukan trial and error sampai menemukan komposisi sempurna untuk alatnya.

Distribusi dan pemasaran juga ia lakukan sendiri. Konsep usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang serba mandiri dan konsep pemberdayaan masyarakat benar-benar ia terapkan. Kita ini kan lembaga pengabdian masyarakat, ucapnya. Suami Made Suarini ini mengaku bahwa kecintaannya pada dunia otomotif muncul sejak kecil. Kecintaan itulah yang mengantarkan semangat untuk belajar dan terus belajar hingga ketekunannya mendapat penghargaan dari Menteri Perindustrian dan Perdagangan pada Oktober 2004 untuk kategori Teknologi Industri Kreasi Indonesia.

Segudang karya telah dia hasilkan. Di antaranya, pada tahun 1987 lulusan S2 dari Wisconsin University of America program struktur otomotif tahun 1980 itu berhasil merancang alat untuk menyeimbangkan laju mobil sehingga ketika berada pada posisi belok tetap bisa melaju dengan kencang dan stabil. Ia merancang roda belakang dengan fungsi sebagai penyeimbang.

Bagi pria yang ingin setiap karyanya dapat dinikmati langsung oleh masyarakat ini, otomotif merupakan dunia yang sangat menarik untuk dipelajari karena melibatkan multidisiplin di dalamnya. Ada transportasi, ada teknik mesin, ada mobilisasi massa terlibat di dalamnya dan semua itu merupakan bagian dari napas perekonomian suatu negara, ujarnya.

Sumber : Kompas, Selasa, 4 Oktober 2005
Read Full 0 comments

Naomi Susilowati Setiono : Mantan Kernet Bus yang Pengusaha Batik

Jun 19, 2009
Mantan Kernet Bus yang Pengusaha Batik
Oleh : Ichwan Susanto

Kegetiran hidup tak menyurutkan perjuangan Naomi Susilowati Setiono (46) dalam menjalani kesehariannya. Dengan berapi-api, wanita sederhana ini menuturkan kisah hidupnya yang diawali sebagai tukang cuci baju, pemotong batang rokok, kernet bus antarkota, dan akhirnya menjadi pengusaha serta perajin batik lasem.

Semua ini karena kebaikan Tuhan, ujarnya mensyukuri perbaikan hidup yang dialaminya. Meski bukan pengusaha batik nomor wahid di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, perempuan peranakan Tionghoa ini sangat terkenal di dunia perbatikan, khususnya batik lasem.

Hingga tak heran, rekan-rekannya memintanya untuk menjadi ketua cluster batik lasem, yang hingga kini belum diberi nama. Dalam waktu dekat, cluster ini akan dinamai menjadi semacam asosiasi perajin/pengusaha batik lasem.

Jenis batik lasem (atau laseman) yang perkembangannya jauh tertinggal dibanding batik solo dan yogya ini terus digeluti, meski masih menggunakan peralatan tradisional. Naomi yang memimpin Batik Tulis Tradisional Laseman Maranatha di Jalan Karangturi I/I Lasem, Rembang, ini mengerahkan 30 perajin guna mendukung usahanya.

Selain mengemban status single parent, Naomi terkenal aktif sebagai pendeta di gereja setempat. Bahkan, akhir-akhir ini ia disibukkan dengan mengisi seminar maupun pemaparan ke berbagai instansi mengenai seluk-beluk batik lasem.

Ia juga tengah merintis pengaderan perajin batik ke sekolah-sekolah secara gratis. Kalau tidak kami sendiri yang mengader, siapa lagi? Tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, ujarnya.

Naomi mengaku pernah melontarkan gagasannya kepada Bupati Rembang Hendarsono (saat itu) untuk menyisipkan cara membatik ke dalam pelajaran muatan lokal. Sayangnya, ide ini tak ditanggapi dan dianggap tidak bisa berhasil.

Akhirnya, ia langsung turun ke sekolah-sekolah untuk menyampaikan gagasannya itu. Kini, ia masih menunggu tanggapan dari sekolah-sekolah. Jika masalah tempat, saya bisa meminjam balai desa, tak perlu keluar uang, ujarnya.

Meski sangat sibuk, produktivitasnya tak berubah. Setiap bulan Naomi dan rekan-rekan pekerja di tempatnya menghasilkan rata-rata 150 potong batik tulis. Batik-batik bermotif akulturasi budaya Cina dan Jawa ini dikirim ke berbagai daerah, seperti Serang (Banten), Medan (Sumut), dan Surabaya (Jatim).

Naomi menjelaskan, usaha batik yang digeluti sejak tahun 1990 ini merupakan limpahan dari orangtua. Namun, ia tidak semata-mata menerima begitu saja.

Pada tahun 1980, lulusan Sekolah Menengah Apoteker Theresiana Semarang ini mendapatkan masalah sehingga dikucilkan dari keluarga yang saat itu terpandang di wilayahnya. Ditolak dari keluarga yang telah mengasuhnya 21 tahun itu mau tak mau harus diterimanya. Ia pun pindah ke Kabupaten Kudus.

Di tempat ini ia menyingsingkan lengan baju dan bekerja sebagai pencuci pakaian. Tergiur penghasilan yang lebih tinggi, ia pindah sebagai buruh pemotong batang rokok di Pabrik Djarum Kudus.

Karena kurang cekatan, ia hanya mendapatkan penghasilan yang sedikit, Rp 375 per hari. Padahal teman-teman dapat memotong rokok berkarung-karung, bisa mendapat uang Rp 2.000-an, ujar lulusan Sekolah Tinggi Theologia Lawang, Jatim, ini.

Ia hengkang dan berpindah sebagai kernet bus Semarang-Lasem. Singkat cerita, orangtuanya memintanya kembali ke Lasem. Itu pun dengan berbagai cemooh. Saya ditempatkan di bawah pembantu. Mau minta air dan makan ke pembantu. Saya juga tidak boleh memasuki rumah besar, ujarnya.

Perlakuan ini ia terima dengan lapang dada. Sedikit demi sedikit ia mempelajari cara pembuatan batik lasem. Mulai dari desain, memegang canting, melapisi kain dengan malam, hingga memberi pewarnaan diperhatikannya dengan saksama.

Hingga suatu hari, tahun 1990, orangtuanya memutuskan tinggal dengan adik-adiknya di Jakarta. Usaha batik tidak ada yang meneruskan. Dari titik inilah Naomi dipercaya untuk melanjutkan usaha batik warisan turun-temurun ini.

Kesempatan ini digunakan Naomi untuk mengubah sistem dan aturan main bagi pekerjanya. Ia memberi kesempatan kepada perajin untuk menunaikan ibadah shalat. Sesuai kewajiban yang ingin mereka jalankan, saya memberikannya. Ini salah satu sistem baru yang saya terapkan, ujarnya yang pernah bercita-cita sebagai arkeolog.

Suasana kerja juga bukan lagi atasan dan bawahan. Ia menganggap perajin adalah rekan usaha yang sama-sama membutuhkan dan menguntungkan. Jika siang hari turun tangan dalam memproses batik, malam hari digunakannya untuk membuat desain.

Hingga kini, ibu dari Priskila Renny (23) dan Gabriel Alvin Prianto (17) ini masih tetap eksis di dunia perbatikan. Perlahan namun pasti, batik lasem mulai menggeliat dan dilirik kembali oleh para pencinta batik, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Sumber : Kompas, Senin, 23 Januari 2006
Read Full 0 comments

Ni Made Suciarmi : Pelukis Wayang Kamasan

Pelukis Wayang Kamasan
Oleh : Ayu Sulistyowati

Umur Ni Made Suciarmi ketika itu masih sembilan tahun, saat ia kagum melihat kakek dan paman-pamannya melukis cerita wayang di atas kain belacu atau katun yang direndam larutan tepung beras agar kaku. Meski waktu itu sempat dilarang oleh bibinya karena masih terlalu kecil, ia tetap tidak peduli.

Sekarang umur Ni Made sudah 73 tahun dan sudah benar-benar sebagai pelukis wayang seperti pendahulunya. Tak hanya itu. Pelukis yang tinggal di Banjar Sangging, Desa Kamasan, Kabupaten Klungkung, ini bahkan menjadi pelukis perempuan pertama di Pulau Dewata yang piawai melukis cerita wayang.

Darah berkesenian rupanya memang telah mengalir dalam diri Ni Made Suciarmi. Ayahnya guru SD yang pintar menabuh gamelan Bali. Ibunya pun lihai menari. Almarhum suaminya juga seorang penabuh terkenal di Kamasan.

Namun, ia tetap tidak lupa menjalankan kewajibannya sebagai seorang ibu yang membesarkan keenam anak-anaknya. Bahkan, tak luput menjalani hubungan sosial kemasyarakatannya selaku wanita Bali. Ia juga pandai membanten, wirama (membaca bahasa Bali di atas daun lontar dengan indah seperti macapat), menari, dan memasak.

Seingatnya, janda berkacamata itu tidak pernah gentar dengan larangan bibinya yang sampai sekarang tidak dipahaminya. ”Mungkin karena saya masih kecil dan belum pernah melakukan upacara sebagai perempuan dewasa. Jadi, belum boleh melakukan kegiatan orang dewasa,” ucapnya sambil tersenyum.

Terus berjuang

Hal lain yang memicunya untuk terus berjuang mewujudkan keinginannya melukis di antara kesibukannya mengikuti upacara adat yang hampir ada setiap minggunya adalah pesan ibunya. ”Perempuan Bali yang pandai membanten atau membuat sesaji upacara dan lihai menari itu sudah biasa, anakku. Bahkan, memasak pun dapat dipelajari. Tetapi, menjadi luar biasa jika sebagai perempuan Bali juga pandai mencari nafkah. Itu yang harus kau bisa.” Itulah sederet kalimat pesan sang ibu kepada Suciarmi.

Pesan itu terus menjadi cambuk kesehariannya. Semenjak menikah, Suciarmi membantu mencari nafkah dari menjual karya-karyanya. Saat itu hasil karyanya dijual ke pasar dan masih berupa uang kepeng zaman penjajahan. Kini, anak-anaknya sudah mandiri dan beberapa di antaranya sudah mengenyam bangku S-2.

Suciarmi memang terlihat sebagai wanita yang tidak pernah menyerah. Di balik keramahan dan kelembutannya, ia tergolong gigih bekerja. Bahkan, sekarang ini Suciarmi tidak sabar menjalani operasi katarak untuk mata kirinya, setelah sukses dengan mata kanannya. ”Semenjak mata saya terkena katarak, lukisan jadi kacau. Karena apa yang saya bayangkan tidak seperti kenyataannya. Kalau melihat hasil lukisan sebelum operasi itu, saya jadi ketawa sendiri dan malu,” ucapnya sambil tersipu.

Meskipun umurnya sudah memasuki kepala tujuh, kekuatan melukisnya masih sangat kuat. Ia masih kuat untuk mentransfer cerita-cerita wayang dari pikirannya ke atas kain belacu. Suciarmi yang tinggal bersama kakak iparnya itu seperti kesetanan menyelesaikan lukisannya.

Bahkan, gambar wayang dengan ukuran sekitar 1,5 x 2 m itu dapat dirampungkannya kurang dari biasanya, sekitar sebulan, karena tingkat kerumitannya. ”Ini lukisan klasik dan harus dengan konsentrasi tinggi. Hasilnya pasti berbeda dengan yang sekadar melukis. Bahkan, goresan masing-masing pelukis berbeda,” katanya.

Awal bakatnya melukis diketahui oleh guru SD-nya. Di kelasnya, ia paling jago melukis wayang dengan cepat. Ketika itu belum ada kertas karena di zaman Jepang para murid masih menulis di atas batu, jadi cepat hilang terkena air. Selanjutnya, ayahnya terus mendukung bakat putrinya. Sayangnya, orangtuanya tak mampu menyekolahkan Suciarmi setelah lulus SD. Tetapi, ia tidak kecewa.

Sudah tergambar

Apa yang akan dilukisnya semuanya sudah tergambar di dalam kepalanya. Ritual sembahyang kepada Hyang Widi pun perlu dilakoninya. Semata mendapatkan kekuatan inspirasi dan jauh dari gangguan. ”Dulu, saya sering lupa apa yang akan dilukis, termasuk alur ceritanya. Tiba-tiba semuanya hilang begitu saja. Lalu, saya pun harus sembahyang dulu meminta kekuatan leluhur mengembalikan ingatan cerita wayang kelanjutan lukisan saya,” ceritanya serius.

Sekalipun sekarang zaman modern, Suciarmi tetap tidak mau bergeming dari peralatan tradisionalnya. Tangannya yang masih lincah itu tetap setia pada kuas dari bambu dan batang nao. Pewarna baju tokoh-tokoh pewayangan tetap menggunakan batu pere, kencu, hingga belacu, termasuk tinta cina. ”Semua ini lebih awet. Lukisan Kamasan bisa bertahan 10 tahunan lebih,” ujarnya meyakinkan.

Karya lukisan Suciarmi yang pertama bercerita mengenai Arjuna Wiwaha. Lukisan salah satu tokoh wayang Pandawa Lima, Arjuna, yang tengah bersemedi mencari kesempurnaan. Lukisan itu pula yang menghantarkannya berpameran untuk pertama kalinya pada tahun 1976 di Art Centre Denpasar. Sekarang hasil karyanya pun sudah banyak dikenal sampai ke luar negeri. ”Lukisan Arjuna Wiwaha kebanggaan saya. Lukisan itu tidak dijual. Kalau ada yang mau, saya bisa buatkan lagi dengan warna sesuai keinginan pembeli saja,” katanya sambil menunjukkan beberapa lukisannya.

Baginya, puluhan lukisan di galeri dengan harga mulai Rp 200.000 hingga jutaan rupiah itu memberi ruang kepuasan dirinya sebagai perempuan, istri, dan ibu dari anak-anaknya. ”Saya wujudkan seperti keinginan ibu saya. Lukisan ini membawa berkah bagi saya dan keluarga,” ungkapnya.

Saat ditemui di rumahnya, suasana Desa Kamasan sepi. Padahal, desa yang sudah menjadi desa wisata itu sering dikunjungi wisatawan asing dan domestik. Suciarmi pun resah. Pasalnya, galeri miliknya menjadi ikut tidak hidup. Galerinya yang berlantai semen, tembok bercat coklat muda, dengan jendela-pintu dari kayu itu kosong, sore itu. Ia hanya bisa berharap ledakan bom tak lagi meluluhlantakkan semangat melestarikan seni lukis wayang Kamasan.

Kegelisahan lainnya yang mengusik hatinya ketika melihat generasi muda yang dianggapnya kurang gigih berlatih. Dalam melukis, ia merasakan para pelukis muda ini hanya mampu meniru. Bahkan, ia menjamin mereka tidak bisa menceritakan lukisan wayang yang ditirunya. Padahal, menjadi seorang pelukis cerita wayang harus mampu menjelaskan hasil karyanya. ”Tidak hanya sekadar keindahan sebagai pajangan ketika laku terjual,” ucapnya.

Sekali lagi, ia mengatakan, melukis cerita-cerita wayang ini tidak sembarangan demi kepentingan komersial semata. Hal ini yang perlu ditanamkan kepada generasi muda sekarang ini. Termasuk pesannya kepada kaum hawa bahwa jangan pernah menyerah pada kebiasaan lingkungan. Tetapi, juga harus berani dengan kegigihan bahwa perempuan juga mampu dan kuat.

Sumber : Kompas, Rabu, 8 Februari 2006
Read Full 0 comments

Nyoman Kantun : "Dukun" Tanaman Padi Lokal Lombok

Jun 18, 2009
"Dukun" Tanaman Padi Lokal Lombok
Oleh : Khaerul Anwar

Tanaman lokal, seperti beragam jenis tanaman padi, kini nyaris tinggal jadi kenangan sejarah karena kian terdesak oleh varietas unggul. Upaya pelestarian plasma nutfah tanaman padi lokal pun agaknya bukan menjadi perhatian instansi teknis, yang umumnya sibuk dengan pekerjaan rutin dan proyek-proyek sektoral lainnya.

Padi merupakan plasma nutfah dan kekayaan alam yang sudah tahan uji melalui seleksi alam selama berabad-abad. Sungguh sayang, berkah Tuhan itu hilang tanpa ada upaya konkret untuk melestarikannya," ucap I Nyoman Kantun (58), satu dari sedikit orang yang merasa paling rugi karena plasma nutfah itu hilang.

Menurut catatan dosen/peneliti pada Fakultas Pertanian Universitas Mataram (Unram) ini, ada 200 varietas tanaman padi lokal, dan 60 jenis ketan varietas lokal, yang kini terancam hilang, bahkan sudah tidak terlihat ditanam oleh petani. Atau, meskipun ditanam, itu terbatas pada tempat-tempat tertentu untuk kepentingan rumah tangganya.

Misalnya padi (pare) beaq ganggas (bulunya kemerah-merahan, batangnya setinggi/ganggas 1,50 cm), dan padi beras merah umumnya masih dibudidayakan di daerah subur, seperti Desa Sembalun, Desa Suwela, Lombok Timur, dan beberapa desa di Kecamatan Bayan dan Narmada, Lombok Barat. Sisanya, petani memilih jenis varietas unggul IR 36 dan 64, sedangkan varietas lokal terpinggirkan.

Sebutlah tanaman ketan/reket nangka dan reket loma’, ucap ayah empat anak ini, tidak tampak lagi ditanam. Sama halnya dengan pare bebai, yang warna daun dan malainya kehitaman, serta batangnya relatif pendek. Padi bebai (sebutan untuk makhluk halus di Lombok)—per nah dilihatnya di Desa Janapria, Lombok Tengah—ditanam di pojok dan pinggiran petak sawah, sebagai "penjaga" tanaman padi lain dari "makhluk" pengganggu yang mengakibatkan padi jadi hampa bulir.

"Itu kearifan lokal. Mungkin padi bebai itu punya aroma khas yang tidak disenangi hama," tutur Kantun yang menyelesaikan studi strata dua bidang pemuliaan tanaman di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tahun 1991.

Kawin silang

Anak ketiga dari Nyoman Sedana-Nyoman Sari, warga Desa Alas Angker, Kecamatan Buleleng, Bali, itu maklum, varietas unggul digemari karena adanya perubahan orientasi petani umumnya, yang ingin cepat menuai hasil karena masa tanamnya lebih singkat sekitar tiga bulan dibandingkan dengan varietas lokal dengan masa tanam 5-7 bulan, meski secara ekonomis harga varietas lokal itu—setelah jadi beras—mungkin lebih mahal di pasaran.

Agar varietas-varietas lokal yang merupakan plasma nutfah itu tidak terdesak, Kantun pun mengawinkannya dengan varietas unggul. Padi beras merah lokal jenis piong dan sri, maupun padi ketan lokal, misalnya, dikawinkan dengan varietas unggul macam IR 36.

Dari persilangan itu diharapkan gen-gen unggul tanaman tadi akan "lahir" varietas unggul baru, seperti kandungan gizi cukup tinggi yang amat dibutuhkan anak balita kurang gizi di Nusa Tenggara Barat didapat dari padi beras merah. Selain itu, umur genjah (lebih singkat) dan batang lebih kokoh agar lebih kuat menopang bulir diperoleh dari IR 36.

Diperlukan waktu rata-rata tiga bulan untuk mendapatkan hasil tiap persilangan. Awalnya, tanaman-tanaman ditanam pada demplot, yang F1. Jumlah persilangan pertama sangat sedikit, mungkin sekitar 10 malai, kemudian ditanam lagi dan berjalan hingga F5. Pada tahap F5 hasil persilangan biasanya terjadi segregasi (pemisahan) sifat genetik masing-masing individu tanaman, lalu dipilih sesuai dengan kriteria yang diinginkan, seperti umur genjah (pendek), tinggi batang dan sifat-sifat unggul lainnya, dan hasilnya disebut galur harapan.

Galur harapan ini kemudian memasuki tahap uji daya hasil pendahuluan, uji daya hasil lanjutan, dan uji multilokasi. Jika tahapan ini selesai, dan hasilnya lolos penilaian sesuai dengan kriteria Badan Benih Nasional, penelitian dilanjutkan hingga beberapa tahapan (F6, F7, F8) hingga kriteria mantap (F9) sebagai benih unggul.

Pada tahap uji multilokasi itulah biasanya riset jadi macet karena alasan klasik: terbatasnya dana. Tidak heran, banyak hasil riset di Unram terhenti di tengah jalan, malah menumpuk dalam lemari dan mubazir, karena tidak bisa diaplikasikan, bahkan kurang publikasi.

Karena itu, tidak heran, saat ini banyak plasma nutfah di Indonesia, termasuk dari Lombok, dikoleksi di Institut Penelitian Tanaman Padi Internasional (IRRI), Filipina. Cuma lambat laun tanaman lokal itu kehilangan unsur genetiknya karena pengaruh lingkungan. Kalau bidang kesenian dan kepurbakalaan punya museum, maka "tanaman padi sebagai sebuah peradaban disediakan museum juga", sebab ketimbang dikoleksi di luar negeri, akan lebih baik jika tanaman padi dikoleksi in situ, dekat tempat asalnya.

Dengan pertimbangan itulah, beberapa hasil persilangan yang dikerjakan Kantun sendiri disimpan dalam lemari, di samping ditanam sebagai stok bibit bahan penelitian bagi mahasiswa dan dosen. Malah, risetnya (varietas padi gogo tahan kering hasil persilangan padi gogo lokal dengan IR 36) pernah ditanam oleh mahasiswa untuk bahan penelitian di daerah kritis air Lombok Timur bagian selatan. Setelah masa penelitian berakhir, padi itu diambil petani untuk dijadikan bibit, apalagi bulirnya memenuhi cita rasa dan aroma khas.

"Sebenarnya (penanaman di lahan petani tadi) menyalahi prosedur resmi. Tapi, ya saya biarkan, toh hasil penelitian ditujukan untuk orang petani. Penanaman itu sekaligus bentuk uji multilokasi," ujar suami I Wayan Subakti ini.

Lantaran komitmen, keseriusannya yang dibuktikan secara nyata, sosok Kantun dijuluki sebagai "dukun" padi. Dia tahan seharian mengamati tanaman di demplot tempat mengajar maupun di sawah yang disewanya seluas 0,50 hektar di bilangan Kota Mataram. Pengabdiannya mestinya menjadi cermin yang baik bagi sementara dosen yang keluar dari jalur keilmuan (teknokrat), dan malah ikut "intervensi" di jalur birokrasi.

Sumber : Kompas, Senin, 15 Mei 2006
Read Full 2 comments

Nursamsi Pelestari Musik Blas

Jun 12, 2009
Nursamsi Pelestari Musik Blas
Oleh : Emilius Caesar Alexey

Tujuh pemusik yang rata-rata berumur di atas 50 tahun langsung memainkan nada-nada pada tempo di marcia dalam harmoni lagu Maju Tak Gentar, saat seorang pejabat lokal mengunjungi Pulau Lepar, di selatan Pulau Bangka. Harmoni musik tiup dan tabuh itu terdengar rancak sehingga membangkitkan gairah semua warga yang berkerumun menyambut sang pejabat.

Lagu-lagu nasional terus diperdengarkan mengiringi kedatangan rombongan di Desa Tanjung Labuh, bagian barat Pulau Lepar. Uniknya, lagu-lagu itu diisi dengan variasi-variasi cengkok Melayu yang khas.

Bagi masyarakat Pulau Bangka, yang menjadi salah satu pulau induk di provinsi muda itu, kelompok musik tersebut mungkin hanya dianggap sebagai kumpulan seniman desa. Tetapi, bagi masyarakat Pulau Lepar, kelompok kesenian musik blas adalah napas seni tradisi mereka.

"Tidak boleh ada pernikahan atau hajatan lainnya tanpa hiburan musik blas. Sebab musik blas merupakan sebuah kesenian pelengkap dan wajib bagi warga Pulau Lepar," ungkap Nursamsi, pemimpin kelompok kesenian musik blas.

Kesenian musik blas adalah perpaduan alat-alat musik tiup modern dan perkusi. Alat musik tiup yang digunakan itu yakni terompet, klarinet, seruling, tenor, dan bass trombone. Sedangkan perkusi yang digunakan adalah tambur dan tanjidor.

Warisan kolonial

Kesenian musik blas sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Kolonialis mengajari penduduk Pulau Lepar bermain musik untuk menghibur mereka. Kemudian pada masa penjajahan Jepang, Jepang melestarikan kesenian ini dan memberikan nama blas sebagai nama pembeda dari jenis kesenian musik lainnya.

Musik itu diajarkan turun-temurun. Namun, seiring berjalannya waktu, musik blas mulai kehilangan para pemainnya. Lebih parahnya, para pemain yang memiliki bakat alam tersebut hanya mampu memainkan alat musik tertentu dan tidak mengerti notasi nada sehingga tidak ada yang mampu menyelaraskan semua alat musik.

Kekhawatiran itu muncul sejak tahun 1980-an ketika generasi pemusik pertama yang hidup pada zaman penjajahan Belanda sudah habis. Tidak ada lagi yang mempersatukan para pemusik yang tersisa.

Beruntung kesenian musik blas masih dapat dipertahankan ketika Nursamsi pulang lagi ke kampung halamannya pada tahun 1997, setelah merantau selama sembilan tahun di berbagai wilayah. Nursamsi berhasil menciptakan lagi harmoni musik blas, dan terus menyemangati anggota yang tersisa untuk tetap berkesenian.

Nursamsi sebenarnya juga merupakan warga Pulau Lepar, dari Desa Tanjung Labuh. Seperti layaknya anak kecil di desanya, Nursamsi juga belajar kesenian musik blas dari orangtuanya.

Beruntung bagi Aci—nama panggilan Nursamsi—karena ayahnya adalah penjaga SD di desanya sehingga dia berkesempatan untuk mencoba semua jenis alat musik yang dititipkan di SD itu. Pria kelahiran 29 Oktober 1949 ini juga sempat mendapat pendidikan not balok dari seorang guru musik bernama A Rahman, yang khusus didatangkan dari Baturusa, Bangka, untuk mengajar kesenian.

Di penjara

Bermain musik, bagi pemuda desa saat itu, tidak dapat mendatangkan penghidupan yang layak. Oleh karena itu, Nursamsi memutuskan merantau ke Belitung.

Pengalaman menarik didapatkan ketika dia merantau ke pulau ini. Karena sebuah perkelahian, Nursamsi terpaksa mendekam di penjara Tanjung Pandan. Saat di penjara, dia sering memainkan alat musik tiup yang ada.

Kemahirannya bermusik membuatnya terkenal, mulai di antara para narapidana sampai ke para pejabat Belitung. Bahkan, pemimpin Angkatan Udara (AU) di Tanjung Pandan sempat memintanya melatih tim musik AU untuk perayaan 17 Agustus. Sebagai balas jasanya, masa hukuman Nursamsi dipersingkat oleh pemerintah.

Nursamsi kemudian merantau ke berbagai kota di Jawa dan mendapatkan berbagai pengalaman. Kemampuan bermusiknya semakin terasah setelah bertemu dengan banyak seniman di berbagai kota.

Di perantauan, Nursamsi yang flamboyan mempunyai sembilan istri dan sepuluh anak. Namun, seluruh pernikahannya kandas meskipun akhirnya mereka tetap berhubungan baik.

Pada tahun 1997, jiwanya sebagai anak pulau membuat Nursamsi kembali lagi ke Desa Tanjung Labuh, Pulau Lepar. Di kampung halamannya itu, dia melihat bahwa kesenian blas sudah hampir punah. Tidak ada lagi yang dapat mengatur harmonisasi setiap alat musik dan tidak ada pemusik-pemusik baru. Kesenian musik blas juga mulai ditinggalkan karena kurang sedap didengarkan.

"Ketika saya pulang, permainan musik blas sungguh tidak nyaman didengar. Tidak ada harmonisasi dan terasa tidak ada yang mampu memimpin kekompakan paduan bunyi," papar Nursamsi.

Ia kemudian mengumpulkan lagi para pemusik kesenian blas yang masih hidup dan kuat bermain musik. Kebanyakan dari antara mereka adalah orang-orang yang sudah tua, yang pertama kali belajar musik itu pada tahun 1950-an sampai 1960-an, dari orangtua mereka.

Nursamsi mulai mengajarkan sekitar 15 judul lagu untuk dihafalkan dan dimainkan bersama. Beberapa lagu itu adalah lagu-lagu perjuangan dan lagu pop melayu sepanjang masa, seperti Ayam Hitam dan Lajang Kawin.

"Saat ini, musik blas sudah kembali diterima oleh masyarakat sebagai bagian integral dalam budaya mereka. Tidak ada acara hajatan, baik kecil maupun besar, yang tidak menggunakan kesenian musik blas sebagai hiburan," kata Nursamsi.

Sumber : Kompas, Kamis, 14 September 2006
Read Full 0 comments

Nyong Muhammad Rajib : Om Nyong Lestarikan Seni Maluku

Om Nyong Lestarikan Seni Maluku
Oleh : Subhan SD

Demi melestarikan seni tari dan sastra lisan Maluku Utara, Nyong Muhammad Rajib tak malu berutang. Tanpa modal sekalipun, dia terus menabuh tifa atau memetik gambus agar generasi muda daerah itu tak melupakan seni tradisi para leluhur.

Ketika menyaksikan kesenian tradisional Maluku Utara makin tergilas, hati Nyong amat sedih. Apalagi, di pesta-pesta perkawinan orang lebih suka memutar kaset musik pop atau dangdut. Maka, di rumahnya yang amat sederhana di Kampung Afe, di balik Gunung Gamalama, Pulau Ternate, Nyong mengajak anak-anak yang masih remaja untuk belajar menari.

Lewat Sanggar Kie Raha Makaraba yang dibentuknya tahun 1989, Nyong melatih puluhan anak usia sembilan hingga belasan tahun. Di ruang tamu rumahnya yang berukuran 2 meter x 3,5 meter, anak-anak berlatih menari di antara meja-kursi tamu, meja tempat puluhan trofi/piala, televisi, serta tumpukan alat musik seperti tifa, gong, gambus. Meski terasa sempit, Nyong mampu mengumpulkan anak-anak dari tiga kampung: Afe, Tadoma, dan Dorpedo (kemudian dikenal sebagai Desa Aftador).

Menurut Nyong, tarian Maluku Utara antara lain lala, togal, danadana, tujuh putri, yang diiringi alat musik, memiliki gerakan yang dinamis. Tiga hal yang menjadi penilaian tari adalah birama (kesesuaian irama), wiraga (keserasian gerakan), dan wirata (keseimbangan dengan kostum). "Setiap gerakannya punya makna," kata ayah dua anak, Irsan dan Susintia, ini.

Pada masa silam, tarian itu ditampilkan dalam pesta rakyat, perkawinan, bahkan penobatan sultan. Tarian itu hidup sejak zaman empat kesultanan Maluku Utara: Ternate, Tidore, Jailolo, Bacan, beberapa abad silam.

"Budaya (tradisional) perlu kita kembangkan supaya adik-adik generasi muda tidak terlalu terpengaruh budaya luar," papar Nyong Muhammad Rajib yang juga menguasai sastra lisan (doro bololo), yaitu semacam pantun atau petuah yang sarat pesan-pesan agama.

Ada ungkapan indah yang selalu tersimpan di benaknya, yang menyemangati aktivitasnya saat ini, Kahia magam ngolo si iwaro ngolo ua, muleou magam banga si iwaro banga ua (Ikan hiu bertempat di laut, tetapi tidak tahu kedalaman laut, burung hutan tinggal di hutan, tetapi tidak tahu luasnya hutan).

"Intinya kira-kira, saya ini anak daerah atau anak asli Indonesia, tetapi kenapa saya tidak bisa menampilkan diri sebagai anak daerah," kata Nyong yang membuat sendiri alat musik seperti gambus dan suling.

Tak pungut bayaran

Mengajak melestarikan kebudayaan leluhur itu saat arus modernisasi menembus bilik-bilik kampung bukanlah perkara gampang. Tetapi, Nyong tak mau menyerah. Selama ada anak muda Maluku Utara yang mau mempertahankan tradisi itu, buatnya sudah lebih dari cukup.

Karena itu, dia tak minta bayaran, bahkan iuran bulanan sekalipun untuk mereka yang aktif di sanggarnya. "Kalau disuruh bayar, nanti mereka malah pergi," kata lelaki yang biasa disapa "Om Nyong" ini.

Pada setiap pentas atau lomba, Nyong selalu berpikir ekstra agar bisa mengumpulkan dana, minimal buat transportasi atau konsumsi penari. Biasanya, untuk biaya sekali tampil dibutuhkan dana Rp 300.000 hingga Rp 350.000. Padahal, kalaupun menang, hadiah yang diperoleh tak sepadan dengan jumlah pengeluaran.

"Biasanya saya bilang ke orangtua mereka, barangkali ada yang mau menyumbang. Kalau tidak ada, tak apa-apa, saya cari sendiri. Kalau saya tidak punya uang, ya, ngutang dulu. Kendaraan (transportasi) akan saya bayar kalau sudah punya uang," ungkap lelaki kelahiran Ternate, 2 September 1965, ini.

Itu artinya, seusai pentas, dia segera merampungkan anyaman keranjang bambu (biti) yang menjadi mata pencariannya sehari-hari. Dalam tiga hari dia bisa menyelesaikan lima keranjang seharga Rp 30.000-Rp 35.000 per buah. Setelah barangnya laku, sebagian uang digunakan untuk melunasi utang, sebagian lagi diberikannya kepada sang istri, Noni, untuk biaya sehari-hari.

Dia terpaksa mencari dana dengan caranya sendiri setelah berbagai upaya donasi tak kunjung tiba, selain dari kepala desanya sebesar Rp 100.000 dan Wali Kota Ternate Syamsir Andili senilai Rp 5 juta tahun 2003. Dengan uang itulah akhirnya dia membeli peralatan seperti tifa, gong, amplifier, loudspeaker, juga kostum.

Dia juga bisa membagikan "honor" kepada para penari ciliknya dengan uang bantuan yang dia terima, yaitu berupa uang buku dan pena karena mereka masih bersekolah. Selain itu, Rp 1 juta ia sumbangkan ke masjid.

Buruh dan berkebun

Nyong mengaku darah seni mengalir dari orangtuanya, almarhum Muhammad dan Deis, yang penari dan budayawan. Tak heran sejak muda Nyong sudah tampil sebagai penari. Tetapi, sejak akhir tahun 1980-an, setelah membentuk sanggar, dia hanya bertindak sebagai pelatih.

Sanggar yang dikelola bersama anak-anak dan warga desa itu nyaris tak menonjol. Meski jaraknya kira-kira 15 kilometer dari Kota Ternate, Desa Aftador seperti tersembunyi di pesisir pantai di balik Gunung Api Gamalama (1.715 meter). Di rumah itu tersimpan puluhan trofi dan piagam penghargaan. Sebagai seniman, Nyong mahir memainkan alat-alat musik tradisional, seperti gambus, suling, tifa, dan gong. Sebaliknya, ia mengaku kurang menguasai alat musik modern.

Melatih menari dan melantunkan sastra lisan dilakoninya di antara pekerjaan membuat keranjang, menjadi buruh kasar harian, atau menanam sayur di lahan milik orang lain—semua dia lakukan agar bisa survive.

"Dari semua itu saya menghidupi keluarga sekaligus sanggar seni ini agar kebudayaan Maluku Utara tidak mati," ungkap alumnus Sekolah Pendidikan Guru Agama yang ijazahnya hangus terbakar pada saat konflik sosial tujuh tahun silam itu.

Sumber : Kompas, Jumat, 15 September 2006
Read Full 0 comments

Nicky Hayden : Hayden Hayden Personafikasi Honda

Hayden Personifikasi Honda
Oleh : A Tomy Trinugroho

Akhir pekan lalu "dendam kesumat" Honda terhadap Valentino Rossi terbalas. Perjuangan berat raksasa pabrikan motor itu untuk menumbangkan dominasi Rossi akhirnya tuntas pada seri penghabisan MotoGP musim 2006 di Valencia. Semua ini ditandai dengan hadirnya juara dunia baru, Nicky Hayden.

Keberhasilan Hayden menjadi juara dunia 2006 terkait erat dengan ambisi besar Honda untuk menempatkan kembali pembalap mereka di puncak tertinggi balap motor dunia. Setelah ditinggalkan Rossi pada akhir musim 2003, Honda memang hanya bisa bermimpi memiliki pembalap yang menjadi juara dunia.

Walau sudah dikeroyok pembalap Honda yang tersebar di berbagai tim, Rossi masih saja tak terkalahkan. Gelar juara dunia 2004 dan 2005 berhasil diraih pembalap Yamaha itu. Tiga tahun berturut-turut sebelumnya, Rossi menjadi juara dunia bersama Honda.

Ujung tombak

Hayden merupakan salah satu pembalap muda yang direkrut Honda untuk menjadi ujung tombak mereka di kancah MotoGP. Terjun pertama kali di MotoGP pada tahun 2003, Hayden membuktikan dirinya memiliki bakat lebih dari cukup.

Bersama Repsol Honda, dia menutup musim 2003 pada urutan kelima klasemen dan menjadi Pendatang Baru Terbaik. Rekan satu timnya saat itu adalah juara dunia Rossi.

Honda merekrut Hayden dan menempatkannya di Repsol Honda—tim paling elite di antara tim-tim Honda lain—tentu bukannya tanpa alasan kuat. Pemuda kelahiran 30 Juli 1981 di Owensboro, Kentucky, Amerika Serikat, itu mencetak prestasi mengesankan di ajang Superbike AMA (American Motorcyclist Association). Setahun sebelum menggeluti MotoGP, Hayden menjadi pembalap termuda yang menjuarai Superbike AMA.

Padahal, Hayden mengikuti secara penuh rangkaian seri Superbike AMA baru pada tahun 2001. Di akhir tahun itu, Hayden menempati urutan ketiga klasemen Superbike AMA.

Prestasi mengesankan Hayden bukan sesuatu yang jatuh dari langit. Semua itu bersumber dari lingkungan yang pertama dikenalnya, yakni keluarga. Keluarganya mencintai balap motor dan mendukung keterlibatan Hayden di dunia itu.

Ketika baru berusia sekitar tiga tahun, Hayden telah mencicipi balapan flat track (balapan yang tak berlangsung di lintasan beraspal, tetapi, berbeda dengan motokros karena sesuai dengan namanya, balapan ini berlangsung di trek rata). Tentu ia berlomba dengan memakai sepeda motor mini atau pee wee.

Ayahnya, Earl, sangat mendukung Hayden. Ketika putranya menyatakan cita-cita menjadi juara dunia, Earl langsung membuatkan trek di lahan mereka sebagai tempat Hayden berlatih.

Pada usia lima tahun, ia turun di ajang flat track kelas 80 cc. Lawan-lawannya berusia tujuh dan 11 tahun. Pada usia delapan tahun, ia mengikuti lomba di Oklahoma yang berjarak 800 mil dari Owensboro, Kentucky.

Mantan juara dunia GP 500 1978, 1979, dan 1980 asal Amerika Serikat, Kenny Roberts, punya penilaian sendiri mengenai penampilan Hayden muda. "Nicky sangat berbakat. Saya mengamati dia sejak muda dan ia bisa tampil bagus di berbagai jenis balapan," ujar Roberts, pemimpin salah satu tim MotoGP, tim Roberts.

Pada tahun 1992, atau saat berusia 11 tahun, Hayden mencicipi road race pertama kali. Meski begitu, ia masih mengikuti balapan flat track.

Dua saudara kandung Hayden, Tommy dan Roger Lee, menjadi pembalap. Mereka kini berlaga di ajang Superbike AMA.

Salah satu pengaruh keluarga yang jelas terlihat adalah nomor 69 yang dipakai Hayden. Nomor ini dulu juga dipakai ayahnya. Konon, Hayden senior menyenangi nomor 69 karena gampang dibaca walau pembalap yang memakainya terjatuh.

Anggapan salah

Kepindahan Rossi ke Yamaha mengejutkan banyak pihak, termasuk tentunya kubu Honda. Kala itu, ada anggapan kuat, untuk menjadi juara dunia, pembalap harus bergabung dengan Honda karena pabrikan ini memiliki motor tangguh.

Rossi membuktikan anggapan itu salah. Pembalap Italia yang berusia dua tahun lebih tua dari Hayden ini membuktikan pembalap tetap memegang peranan sangat penting dalam perebutan juara.

Sejak ditinggalkan Rossi, Honda hanya bisa melihat pabrikan saingan mereka, Yamaha, menikmati indahnya memiliki pembalap bergelar juara dunia. Setelah dua musim berturut- turut—musim 2004 dan musim 2005—paceklik gelar juara dunia pembalap—Honda bekerja ekstra keras untuk merebut gelar itu pada musim 2006.

Saat musim 2006 belum lagi dimulai, Repsol Honda dan Hayden bekerja amat keras untuk menyempurnakan motor RC211V hasil pengembangan paling mutakhir.

Hayden telah menyelesaikan uji coba sejauh 3.819 mil sebelum musim 2006 dimulai. Masih belum cukup, Hayden juga khusus berlatih ketika trek diguyur hujan. Hal ini dilakukannya hanya untuk meningkatkan kemampuannya berlomba di bawah guyuran hujan.

Hasilnya sesuai dengan harapan seluruh kubu yang berberseberangan dengan Rossi. Hayden, ujung tombak Honda, tampil sangat konsisten.

Meski hanya dua kali menang pada tahun 2006, ia baru satu kali gagal mendulang poin, yakni di Estoril, Portugal.

Hal ini kontras dengan Rossi yang walau lima kali menang, tetapi tiga kali gagal mencetak poin. Tak mengherankan, Rossi menegaskan Hayden pantas menjadi juara dunia karena tampil paling konsisten.

Sumber : Kompas, Rabu, 1 November 2006
Read Full 0 comments

Nurhadi Rangkuti : "Kutil", Si Pengintil Jejak Peradaban

Jun 10, 2009
"Kutil", Si Pengintil Jejak Peradaban
Oleh : Kenedi Nurhan

Disangka tengah menggali harta karun peninggalan Sriwijaya, arkeolog muda itu akhirnya harus berurusan dengan aparat keamanan. Penjelasannya bahwa dia sedang melakukan penelitian terkait keberadaan Kerajaan Sriwijaya di Palembang tak digubris.

Dengan cetok di tangan, pagi itu ia sibuk mengais- ngais lubang galian di situs Lorong Jambu, tak jauh dari Bukit Siguntang yang berada di bagian barat Palembang. Kebetulan teman-temannya sesama peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional sedang berada di lokasi lain ketika tiba-tiba ia didatangi aparat keamanan. Kesalahpahaman pun terjadi. Tanpa banyak bicara, Bintara Pembina Desa alias Babinsa berpangkat sersan itu membawanya ke Markas Koramil Ilir Barat II Palembang.

"Pecahan-pecahan keramik dan temuan manik-manik dari lokasi penggalian ikut diangkut ke Koramil. Itu benar-benar pengalaman yang mengesalkan, tetapi sebetulnya juga menggelikan," kata Nurhadi Rangkuti (48), arkeolog yang oleh rekan dan sejawatnya akrab disapa dengan panggilan (nama) kecilnya, Kutil.

Hampir seharian ia "ditahan" di markas tentara tingkat kecamatan tersebut. Kedatangan Bambang Budi Utomo selaku ketua tim ekskavasi Sriwijaya tak cukup membuat petugas Koramil percaya. Begitu pun kesaksian salah seorang staf Bidang Museum dan Purbakala pada Kantor Wilayah Depdikbud Sumatera Selatan, yang ikut bersama tim ekskavasi, juga disangsikan.

Apa boleh buat! Salah seorang anggota tim akhirnya diutus ke Kantor Wali Kota Palembang. Baru setelah Kepala Bagian Humas Pemda Kotamadya Palembang (ketika itu) Jalaluddin ikut turun tangan, urusan beres. Si Kutil pun "bebas" dari tuduhan sebagai pemburu harta karun Sriwijaya.

Sebagai arkeolog, tentu saja banyak suka duka yang ia alami dalam berbagai penelitian di sejumlah situs di Tanah Air. Akan tetapi, berurusan dengan petugas Koramil dan dituduh sebagai penggali liar untuk mencari harta karun adalah hal yang "istimewa".

"Seumur-umur tidak pernah ada kejadian seorang peneliti di bidang arkeologi diangkut dan ditahan di Koramil seperti menimpa Kutil," kata Bambang Budi Utomo tertawa terkekeh-kekeh mengomentari peristiwa yang terjadi pada tahun 1990 tersebut.

Nurhadi Rangkuti akhirnya dipercaya menjadi Kepala Balai Arkeologi Palembang, lembaga yang kemudian dibentuk jauh setelah ekskavasi Sriwijaya berakhir. Diakuinya, serangkaian penelitian tentang keberadaan Kerajaan Sriwijaya banyak memberi andil bagi karier awalnya sebagai arkeolog.

Berburu jejak peradaban

Bagi lelaki kelahiran Medan (30 Desember 1958) namun tumbuh dan besar di Jakarta ini, dunia arkeologi sudah menjadi bagian dari hidupnya. Meski profesi ini sepi dari "tepuk tangan"—apalagi penghargaan materi, ia mengaku tidak pernah menyesal menggelutinya.

Setiap kali cetok-nya menyentuh benda-benda peninggalan masa lampau yang sudah ratusan tahun terkubur di perut Bumi, dengan amat hati-hati ia perlakukan bagai menggendong anak kesayangannya. Ia telusuri serpihan-serpihan budaya yang tersisa itu hingga bisa menguak jenis peradaban yang telah terpendam tersebut.

Kesabaran dan rasa cinta pada profesi menjadi modal dasar untuk menguak misteri peradaban yang pernah ada di masa lampau. Sebagai peneliti, Kutil dan rekan-rekannya sesama peneliti tentu saja tidak berhenti pada hasil temuan itu sendiri. Jauh lebih penting adalah bagaimana menempatkan tinggalan-tinggalan masa lampau itu dalam konteks ruang dan waktu, kemudian meletakkannya dalam bingkai kekinian.

"Memberi konteks dan menggali makna di balik sebuah peradaban adalah esensi dari aktivitas penelitian arkeologi. Dengan begitu kita bisa ’membaca’ kearifan-kearifan lokal dari suatu peradaban," kata Nurhadi Rangkuti dalam suatu percakapan santai di tepian Sungai Musi, beberapa waktu lalu.

Tampil sangat bersahaja, dan mengaku agak risi dengan embel-embel barunya sebagai "pejabat" struktural yang mengharuskannya ikut mengurusi masalah-masalah administratif, sehari-hari ia tetap bangga disebut sebagai peneliti. Tak aneh bila hingga kini pun ia masih lebih kerap berada di lapangan ketimbang di kantor.

Sebelum dipercaya menjadi Kepala Balai Arkeologi Palembang, ayah dua anak (Shella Atria Rangkuti dan Harsya Matumona Rangkuti)—dari hasil perkawinannya dengan Nurtyastuti Irrandari pada 11 September 1999—ini memang lebih kerap berada di lapangan daripada di kantor. Hampir seluruh situs arkeologis dari masa klasik—terutama di Sumatera dan Jawa—sudah ia jelajahi.

Toh, di tengah kerepotannya dalam masalah-masalah administratif, ia tetap saja "gatal" untuk tetap terjun ke lapangan. Pertengahan Oktober lalu, misalnya, ia bersama timnya "terjun" ke Sungai Batanghari di Jambi. Akhir pekan ini, selama 10 hari, ia akan menjelajahi kawasan Karang Agung untuk melakukan penelitian lanjutan di kawasan pantai timur Sumatera tersebut.

Ketertarikannya pada hal-hal yang berkaitan dengan sejarah masa lampau sudah tumbuh sejak SD (1971) dan SMP (1974). Selepas SMA (1977), Nurhadi Rangkuti memutuskan masuk Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Pendidikan S-1 arkeologi ia selesaikan tahun 1984, sedangkan program S-2 diambilnya bidang geografi di Universitas Gadjah Mada (2000); saat ia bertugas di Balai Arkeologi Yogyakarta.

Sumber : Kompas, Sabtu, 25 November 2006
Read Full 0 comments

Nurti Wijayanti : Nurti dan Media Wayang Beber

Jun 8, 2009
Nurti dan Media Wayang Beber
Oleh : Suprapto

Nurti Wijayanti (47) membuka dua tas besar, beberapa kotak kardus, serta lemari di ruang tamu dan ruang tengah rumahnya di Jalan Diponegoro 94 Pati, Jawa Tengah. Isinya bukan aneka benda berharga, melainkan ratusan lukisan dan berbagai hasil karya murid-murid sekolah taman kanak-kanak dari berbagai kota, khususnya Kelompok Bermain Aisyiyah 02 Pati.

Bagi Nurti, itulah salah satu koleksi dan barang yang tidak ternilai harganya. Hal ini disebabkan koleksinya itu mampu mengangkat dirinya menjadi juara pertama tingkat nasional lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran Tahun 2006 dan juga juara pertama lomba Karya Nyata Pendidik Pendidikan Anak Usia Dini tingkat nasional 2006.

"Bukan berarti saya bekerja dan berkarya hanya untuk mengincar juara dalam ajang perlombaan. Tetapi, saya sangat berharap pengembangan kreativitas merupakan pilihan utama bagi pendidikan nasional, terutama metode pembelajaran bagi anak usia dini (0-6 tahun) karena pada usia inilah saat menentukan kepribadian seorang anak," tuturnya.

Nurti selama ini dikenal sebagai Kepala Kelompok Bermain Aisyiyah 02 Pati, dengan masa kerja 18 tahun. Ia mulai memperkenalkan metode belajar mengajar dengan media wayang beber dan wayang kardus secara terprogram sejak Agustus 2005-Mei 2006. Wayang beber adalah lukisan yang dibuat pada kain atau kertas yang dimainkan dengan cara membeber kain atau kertas.

Kenapa memilih wayang beber sebagai media peningkatan kreativitas? Menurut Nurti, yang pernah kuliah di Fisipol UGM, idiom wayang beber mengandung unsur menggambar atau melukis dan bercerita.

Bagi anak usia dini, menggambar atau melukis adalah media pengungkapan perasaan atau ketertarikan pada sesuatu, termasuk media kegiatan emosi, sehingga dapat dijadikan sarana merangsang kecerdasan emosional dan menumbuhkan kemampuan nonverbal.

Imaji luar biasa

Untuk konteks bercerita, Nurti lebih memilih tidak menyusun cerita yang kemudian diceritakan kepada anak didik. Nurti membiarkan mereka menyusun ceritanya sendiri, kemudian menceritakannya dengan media wayang beber kepada teman-temannya.

"Metode ini saya pilih karena sering terjadi kesalahan persepsi, khususnya di kalangan sebagian besar guru taman kanak- kanak yang cenderung memfokuskan kemampuan berbahasa dengan kemampuan membaca dan menulis saja," tutur Nurti ibu tiga anak yang bersuamikan Anis Sholeh Shing. Seperti istrinya, Anis juga hidup berkesenian.

Pentingnya berkata-kata atau mampu berbicara dengan baik merupakan sarana agar anak mengetahui dan mengenal dirinya sendiri, mempunyai perasaan setara dengan teman sebaya, serta memperlancar proses belajar selanjutnya.

Untuk membuat wayang beber dibutuhkan bahan kertas koran, kertas semen, kain belacu berbagai ukuran (45 x 200 cm atau 100 x 200 cm) atau kain bekas berbagai variasi ukuran. Ditambah spidol, tinta hitam, cat sablon, cat arturo, cat tembok, dan konstruksi kayu atau bambu untuk memasang wayang.

Proses membuatnya, setiap anak diberi kesempatan menggambar bebas di atas kertas atau kain dan bebas memilih warna. Ketika sudah jadi, guru membantu memasangkan pada alat peraga dan selanjutnya dilakukan masing-masing anak. "Untuk memainkannya, setiap anak diminta bercerita dengan dibekali tongkat penunjuk gambar dan diiringi tetabuhan dari mulut atau alat yang ada," ujar Nurti.

Perempuan bertubuh langsing ini bereksperimen dengan menyediakan baju, rompi, atau rok berbahan baku belacu, dengan ukuran disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak. Kemudian setiap anak menggambar atau melukis, mengenakan kain yang telah dilukis atau digambar serta menceritakannya.

"Busana hasil kreasi anak- anak tersebut sempat dipamerkan dan diperagakan sendiri dalam berbagai kegiatan. Tidak hanya itu, kami juga menyediakan sarung bantal, selimut, tas dengan bahan berharga murah," ujar Nurti.

Bahkan, sebelum wayang beber, Nurti juga membuat wayang dari kardus. Diawali dengan menggambar pada kardus atau koran ukuran kecil dengan menggunakan spidol atau pastel. Lalu diguntingi sesuai gambar dan seorang guru membantu membuat dan memasang gapit yang terbuat dari bambu dan berfungsi sebagai penjepit.

Selanjutnya, wayang dari kardus itu dimainkan bagai seorang dalang wayang kulit yang tengah beraksi. Tentu saja dilengkapi layar, daun atau batang pisang, atau media lainnya yang berfungsi untuk ditancapi wayang kardus.

Seperti halnya proses pembuatan, dalam proses pementasan pada awalnya dengan cerita sederhana, kosakata terbatas, dan waktu bercerita singkat. Namun, akhirnya cerita bertambah kompleks, kosakata semakin beragam dan durasinya panjang.

Dengan metode belajar mengajar seperti itu, Nurti yang lahir di Magelang, 26 Maret 1960, ini dapat menyimpulkan, anak usia dini memiliki daya imaji yang luar biasa. Mereka mampu mengembangkan kecerdasan, kreativitas, cepat berinteraksi, kreatif berimprovisasi, kesadaran tentang orisinalitas yang begitu tinggi, dan terdorong setiap saat semakin kreatif.

Kardus bekas, wayang beber, wayang kardus, baju, rompi, sarung bantal, selimut, hingga tas koleksi Nurti itu terus bertambah banyak karena dengan predikat juara pertama lomba keberhasilan Guru dalam Pembelajaran dan lomba Karya Nyata Pendidik PAUD tingkat nasional 2006, undangan dari berbagai pihak dari luar kota Pati mengalir deras.

Sumber : Kompas, Jumat, 12 Januari 2007
Read Full 0 comments

Nicodemus Singpanki : Menjejak Lumpur Mengumpulkan Angka

Jun 7, 2009
Menjejak Lumpur Mungumpulkan Angka
Oleh : Aryo Wisanggeni Genthong

Hujan semalaman mengguyur Distrik Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, sehingga tiap kali kaki menjejak akan tertanam sedalam 10 sentimeter. Tenaga yang harus dikerahkan untuk menarik kaki dari tanah liat becek itu benar-benar membuat napas memburu.

Nicodemus Singpanki yang sudah separuh baya itu toh masih segar bugar. Ia memang terbiasa berjalan kaki karena sudah 23 tahun bertugas menjadi mantri statistik di Oksibil, menjejaki jalanan berlumpur untuk mendatangi desa dan kampung yang ada di Kabupaten Pegunungan Bintang.

"Jalan kaki tiga jam begini terhitung dekat. Kalau mau melakukan pencacahan, sering kali pencacah BPS harus berjalan lima hari," kata Singpanki.

Tidak seperti kebanyakan anak Papua kala itu, Singpanki berkesempatan menikmati bangku SMA. "Setiap kali lulus, guru saya, Pastor Suarcis, selalu meminta saya melanjutkan sekolah saya. Saat itu, sangat jarang anak Papua bersekolah sampai SMA. Karena dorongan Pastor Suarcis, saya terus bersekolah dan lulus SMA tahun 1982," katanya.

Kala itu, Singpanki muda ingin bersekolah di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri. Ia pun mendatangi Kantor Bupati Jayawijaya (saat itu Pegunungan Bintang masih bagian dari Kabupaten Jayawijaya) untuk mendaftarkan diri.

Rencana Singpanki mendaftarkan diri menjadi mahasiswa Akademi Pemerintahan Dalam Negeri "disabot" Kepala Bagian Kepegawaian Kabupaten Jayawijaya, Abdullah, yang tidak lain mantan guru SMP Negeri Wamena.

"Kata beliau, BPS mencari pegawai baru. Beliau tanya, ’Kamu mau kerja atau tidak’. Saya bilang, ’Terserah Bapak’. Setelah ikut tes, ternyata saya diterima, diumumkan di RRI," kata Singpanki bangga.

Distrik terpencil

Sejak Maret 1983, Singpanki memulai pengabdiannya sebagai mantri statistik di Oksibil, yang waktu itu merupakan distrik paling terpencil di Kabupaten Jayawijaya.

Sampai hari ini pun Kabupaten Pegunungan Bintang belum memiliki jalan yang menghubungkan Oksibil dengan daerah yang lain. Bisa dibayangkan, pada tahun 1980-an kondisi Oksibil lebih berat lagi.

"Dulu kalau saya melakukan survei saya harus membawa bekal. Tidur di tengah hutan itu pasti. Kadang daerah penelitian sangat jauh sehingga saya harus naik pesawat kecil untuk menuju lapangan terbang terdekat dengan daerah penelitian yang ditentukan BPS. Dari situ, saya masih berjalan berhari-hari, kadang sampai lima hari tidur di tengah perjalanan," tutur Singpanki.

Salah satu kenangan Singpanki adalah mencacah penduduk di kantong Tentara Pembebasan Nasional/Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM). "Itu saat sensus penduduk 1987. Saya harus mencacah penduduk di Dewok. Sesampai di Iwur, saya diberi tahu ada kelompok TPN/OPM Marinus Tabuni yang akan menghadang perjalanan saya," ungkapnya.

Ia akhirnya bertemu dengan Marinus Tabuni. Bahkan, ia sempat dimintai tolong menyediakan obat bagi kelompok Tabuni. "Saya jelaskan bahwa saya ini bukan mantri kesehatan, tetapi mantri statistik. Saya bilang, ’tujuan Bapa Tabuni dengan saya sama, yaitu bekerja demi kebaikan masyarakat’. Akhirnya, beliau mengizinkan saya melanjutkan proses pencacahan di Iwur," cerita Singpanki.

Dari tahun ke tahun, ia menjelajah pelosok Pegunungan Bintang, menemui para responden yang ditentukan BPS. "Yang paling berat memang saat sensus, karena semua orang harus dicacah. Di Pegunungan Tengah Papua, orang biasa tinggal berjauhan. Terkadang, saya harus berjalan kaki tiga jam hanya untuk mendatangi satu rumah yang jauh, dan mencacah sekitar 10 penghuni rumah itu. Padahal, honor pencacah P4B hanya Rp 500 per jiwa. Jalan pulang- pergi enam jam untuk uang Rp 5.000," papar Singpanki sambil tertawa.

Ia juga hanya tertawa saja ketika disinggung bahwa orang di Jakarta, ribuan kilometer dari Oksibil, meragukan kesahihan data BPS.

Kini, Oksibil tidak lagi sama dengan Oksibil 23 tahun lalu. Meski tetap berlumpur, Oksibil mulai mewujud menjadi ibu kota Kabupaten Pegunungan Bintang. Kini pejabat ada di mana-mana, mulai dari bupati, para kepala dinas, juga para wakil rakyat.

Ia jadi saksi bagaimana para pejabat baru itu menikmati rumah dinas baru, lengkap dengan genset besar, dan mengendarai kendaraan dinas di jalanan berlumpur. Mulai dari sepeda motor sampai mobil 4WD (penggerak empat roda) keluaran terbaru. Adapun Singpanki yang tujuh tahun lagi pensiun, tetap harus berjalan kaki untuk mencari respondennya.

Kisah hidupnya mungkin lain jika ia bersekolah di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri. "Tapi saya tidak menyesal menjadi mantri statistik," ujarnya.

Menjelang pensiun, Singpanki tidak berharap banyak. "Kalau sekarang saya boleh berharap, saya minta BPS memberikan jalan yang baik bagi dua mitra statistik yang selama dua tahun ini membantu saya," ujarnya.

Singpanki menyudahi pembicaraan sore itu dengan senyum. Kembali ia menyusuri jalan berlumpur yang mulai mengeras setelah ditimpa terik sang surya.

Sumber : Kompas, Sabtu, 24 Februari 2007
Read Full 0 comments

Nurcholis, Sendiri Mendirikan eNdonesia

Jun 5, 2009
Nurcholis, Sendiri Mendirikan eNdonesia
Oleh : Amir Sodikin dan Pepih Nugraha

"Buat apa membangun website atau blog? Sekarang eranya portal web. Jika pernah buat website, berarti bisa buat portal. Kalau pengin membangun portal, bisa mendapatkannya gratis menggunakan open source, salah satunya eNdonesia," kata Nurcholis, webmaster sekaligus tukang las, bahkan juga tukang batu.

Ketika internet baru booming, keahlian membangun situs web merupakan aset mahal. Berlomba-lomba webmaster mengajukan proyek situs web berharga ratusan juta hingga miliaran rupiah. Biaya mahal inilah momok bagi perusahaan yang ingin memiliki situs web.

Namun, selalu ada orang yang bekerja tak semata untuk uang. Di belahan dunia ini banyak webmaster berkarya sukarela tanpa digaji.

Mereka terhimpun dalam proyek open source bidang perangkat lunak Content Management System (CMS) atau portal website interaktif. Dibutuhkan ribuan file dan jutaan baris pemrograman PHP yang disusun tak hanya semalam, tetapi bertahun-tahun. Namun, perangkat lunak itu lalu dibagi gratis.

CMS berbasis PHP pertama adalah Php-Nuke. Diikuti kemudian PostNuke, Drupal, Mambo, Joomla, phpWebsite, Geeklog, Dragonfly, phpWCMS, Sitefreme, TYPO3, Xoops, dan banyak lagi yang biasanya dibangun orang asing.

Kiprah Indonesia?

Ternyata ada juga yang membangun CMS, namanya eNdonesia dengan alamat web utama di endonesia.org, ada juga di endonesia.com, endonesia.net, endonesia.biz, dan endonesia.info.

Kenapa eNdonesia dan bukan Indonesia?

"Karena kita susah bilang Indonesia," begitu Nurcholis (40), pendiri eNdonesia, saat dikunjungi di rumahnya di kawasan Jatiwaringin, Jakarta Timur.

Nurcholis tak memiliki latar belakang pendidikan pemrograman. Anak tentara kelahiran Pontianak, 15 Oktober 1967, ini kuliah pada Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Bandung) angkatan 1985. Ia merupakan angkatan pertama pada jurusan yang baru dibuka itu.

Ketika masih kuliah, ketika teman-temannya banyak yang belum tahu komputer, dia sudah mengenal internet. Ketika teman-temannya mengenal program pengolah kata WS, dia sudah memesan domain dan asyik dengan dunia online.

"Saya hanya baca-baca buku saja, tidak pernah kursus," kata Nurcholis. Pemrograman bahasa PHP dia pelajari otodidak. Bagi kebanyakan webmaster, PHP terlalu rumit dibandingkan dengan HTML, tetapi Nurcholis justru menikmatinya.

Membeli domain

Tahun 1998, ketika masih menjadi wartawan Republika, dia membeli domain labalaba.com. "Waktu itu harganya masih mahal, 70 dollar AS untuk dua tahun," katanya. Di labalaba.com itu di-install direktori web.

Tahun 2001 Nurcholis berhenti sebagai wartawan dan mulai memikirkan membangun portal berita online. Modalnya? Februari 2002 Nurcholis menjual labalaba.com dan laku Rp 200 juta. Fantastis untuk harga domain Indonesia. Penjualan itu tepat waktu karena April 2002 booming internet berakhir, dan banyak perusahaan dotcom redup.

Ia lalu membuat portal yang diberi nama eNdonesia. Kata "e" mengacu pada electronic atau e-commerce, layaknya e-mail, e-banking, e-store, dan lain-lain.

Setelah mencari sana-sini perangkat lunak portal yang cocok, Nurcholis menemukan phpWebsite. Perangkat lunak itu dirasa tak sesuai dengan selera Nurcholis.

Dia kemudian keluar dari phpWebsite dan mendirikan perangkat lunak dengan brand baru, eNdonesia versi 8.1. Kini eNdonesia memasuki versi 8.4. Menurut Nurcholis, eNdonesia dibangun dengan taksonomi (sesuai keahliannya sebagai pustakawan) yang cocok untuk penerbit.

eNdonesia merupakan perangkat lunak portal interaktif gratis yang pertama kali didirikan orang Indonesia. Jumlah unique visitor (pengunjung unik) eNdonesia.com mencapai 4.500 per hari, belum pengunjung lain di eNdonesia.net, eNdonesia.org, eNdonesia.info, dan eNdonesia.biz.

Biasanya, setiap proyek CMS selalu mencantumkan link donasi untuk membantu membiayai proyek tersebut, tetapi Nurcholis tak melakukannya.

"Saya sudah dapat uang dari penjualan labalaba.com. Uang itu saya gunakan sebagai dana abadi untuk membiayai eNdonesia," katanya.

Pribadi unik

Pergulatannya dengan buku membuat hampir semua nilai mata kuliahnya A. Saat mahasiswa umumnya mengoleksi kaset dan menghiasi kamar dengan seperangkat sistem audio, Nurcholis memenuhi kamar indekos dengan deretan buku. Buku-buku lawas itu sampai sekarang masih menghiasi kamar kerjanya.

Nurcholis menyelesaikan semua kewajiban perkuliahan dalam waktu tujuh semester atau sekitar 3,5 tahun. Uniknya, ia tidak segera menyelesaikan skripsi. Ia menjadi wartawan harian Mandala, Bandung, dan baru menyelesaikan skripsi saat tenggat berakhir alias terancam drop out.

Sebelum menjadi wartawan Berita Buana dan Republika di Jakarta, Nurcholis pernah menerima tawaran membuat indeks sebuah majalah bulanan terbitan Jakarta. Majalah itu ingin mengindeks mulai terbitan pertama tahun 1963 sampai 1990.

Ia menerima tawaran itu karena relatif tak ada mahasiswa yang mengenal program CDS-ISIS, program untuk mengindeks. Selain itu, ia juga punya komputer "jangkrik" pada awal tahun 1990 itu. Dia lalu mempekerjakan teman-teman seangkatan untuk input data menjadi sebuah indeks.

Akan tetapi, karena tak ada perjanjian hitam di atas putih dengan pengelola majalah, tak ada kejelasan sampai berapa lama proses indeks selesai dan dibayar berapa. Celakanya, ia harus membayar rekan-rekannya pergi-pulang Bandung-Jakarta.

Karena tak ada kejelasan, tidak ada cara lain baginya selain menghentikan proyek indeks, lantas menjual komputer untuk membayar "gaji" rekan-rekannya.

Dari kamar sederhana di Jatiwaringin, yang ia sebut sebagai gudang, Nurcholis mengendalikan eNdonesia. Ditemani anaknya, Zhillan Zhalila (5,5) dan Armida Aulia (6 bulan), hasil pernikahannya dengan Indah Wulanningsih (34), Nurcholis hidup bersahaja.

Pemasukan Nurcholis lewat eNdonesia memang hanya dari iklan yang berafiliasi ke Google Adsense. Nilainya tak terlalu besar, tetapi bisa digunakan menghidupi istri dan anak. Sebagai tambahan, ia kini ikut bisnis kelambu malaria dengan rekan-rekannya.

Terkadang, untuk mendukung kebutuhan hidupnya, Nurcholis menerima pekerjaan las. Di gudangnya, selain berisi buku-buku dan komputer, juga tersedia peralatan las dan menukang.

"Saya baru saja ngelas mobil lawas Cherokee. Setelah diperbaiki terus dijual," ujarnya.

"Dua minggu terakhir ini saya jadi tukang batu membangun rumah, rumah sendiri sih," kata Nurcholis.

Sumber : Kompas, Senin, 2 April 2007
Read Full 0 comments

Nicolas Paul Stephane Sarkozy de Nagy-Bocsa : Anak Imigran yang Ingin Ubah Perancis

Jun 4, 2009
Anak Imigran yang Ingin Ubah Perancis
Oleh : Diah Marsidi

Kisah hidupnya bagai dongeng pop, lengkap dengan bumbu ambisi, kerja keras, serta percintaan berliku. Nicolas Paul Stephane Sarkozy de Nagy-Bocsa mencapai impian masa kanak-kanaknya ketika hari Minggu (7/5) terpilih menjadi Presiden Perancis. Ia menjanjikan dimulainya lembaran baru bagi negara itu.

Sarkozy lahir di Paris 52 tahun lalu, dari seorang ibu Perancis dan seorang ayah yang memilih berimigrasi ke Perancis ketika negaranya, Hongaria, diinvasi Uni Soviet yang komunis, sebagai anak kedua dari tiga bersaudara laki-laki.

Sang ayah yang keturunan bangsawan itu meninggalkan keluarganya kala Sarkozy dan dua saudaranya masih kecil. Itu membuatnya selama beberapa tahun kala remaja untuk tidak mau berhubungan sama sekali dengan ayahnya.

Namun, mungkin itu juga yang membuatnya punya semangat berkobar untuk membuktikan diri melalui kerja keras. Dia pernah mengungkapkan bahwa perginya sang ayah, meninggalkan keluarganya kala dia berusia empat tahun, membuatnya merasa tidak berdaya, dan membangkitkan kebutuhan untuk terus membuktikan diri pada dunia.

Sarkozy tumbuh besar di Paris, kemudian di Neuilly-sur-Seine, sebuah pinggiran kota Paris, di mana dia masih tinggal sampai kini. Ibunya, Andree, membesarkan ketiga anak lelaki itu dengan kakek mereka, seorang dokter Yahudi-Yunani yang memuja Jenderal Charles de Gaulle. Keluarganya itulah yang mengajarinya nilai-nilai Gaullisme: cinta pada Perancis dan menolak kekalahan.

Sebagai anak muda, dia bereaksi menolak pandangan sayap kiri yang waktu itu menjadi mode dan dihubungkan dengan pemberontakan mahasiswa Mei 1968, dan memilih pandangan kanan dari partai Gaullis.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Institut Ilmu Politik dan Hukum di Paris yang bergengsi, dia menjadi pengacara pada usia 26 tahun. Namun, beberapa tahun sebelumnya dia sudah memulai karier politiknya, melalui Partai Gaullis, partai yang membawanya ke cita-cita yang telah dimilikinya sejak berusia tujuh tahun: menjadi Presiden Perancis.

Dia tidak merahasiakan ambisinya yang sangat kuat untuk memperoleh kekuasaan. "Saya tidak ingin menjadi presiden, saya harus menjadi presiden," katanya pada penulis biografinya, Catherine Nay.

Ambisinya nyaris tanpa batas. Pada tahun 1983, pada usia 28 tahun, dia menyingkirkan mentor politiknya -- yang adalah juga pendampingnya saat dia menikah -- untuk menjadi wali kota Neuilly-sur-Seine, kota Perancis terkaya per kapita.

Sarko, begitu julukannya, dikenal dengan gayanya yang keras dan bahasa yang juga tanpa tedeng aling-aling, juga sikapnya yang tegas pada kejahatan dan imigrasi ilegal ketika menjadi Menteri Dalam Negeri.

Tahun 2005, kala dia masih memegang jabatan Mendagri, bahasanya yang keras menjadi salah satu faktor penyulut kerusuhan yang berkobar di seluruh Perancis, terutama di kawasan proyek perumahan yang dihuni oleh mayoritas imigran miskin.

Pada waktu itu, dia meyakinkan seorang wanita di sebuah proyek perumahan bahwa dia akan menggelontor "sampah" dari jalan-jalan, merujuk pada anak-anak muda para pelaku kejahatan.

Kawasan-kawasan pinggir kota yang dihuni banyak imigran kulit hitam dan Arab itu pun terlanda oleh gelombang kerusuhan selama tiga minggu pada akhir 2005.

Namun, para pemilih Perancis telah memutuskan bahwa gaya kepemimpinannya yang keras adalah yang diperlukan Perancis untuk memperbarui negara yang turun pamor setelah 12 tahun di bawah Jacques Chirac itu.

Realitas ekonomi

Selama masa kampanye, kaum Sosialis mencoba membuat takut orang Perancis yang merencanakan memilih Sarkozy, dengan memperingatkan bahwa dia sebuah bahaya pada demokrasi dan seorang politisi agresif yang tidak dapat dipercaya untuk tetap tenang sebagai presiden.

Namun, taktik itu bagai bumerang. Pemilih merasa gaya kepemimpinan macam itu yang kini dibutuhkan.

Minggu malam, Sarkozy-lah yang melakukan pawai kemenangan kepresidenen Perancis, mengitari Arc de Triomphe dan melewati Champs Elysees, membuka botol sampanye dan disambut meriah para pendukungnya.

Malam itu, ada sebuah perasaan di Paris bahwa Perancis, seperti kata Sarkozy dalam pidato kemenangannya, telah membalik "sebuah halaman baru dari sejarah kita."

"Dalam republik yang ingin saya abdi," katanya, "tidak boleh ada hak tanpa kewajiban. Semua harus mempunyai kesempatan, tetapi mereka harus mendapatkannya dengan kerja, dengan komitmen pribadi, dengan keyakinan."

Kemenangannya membuktikan apa yang diyakininya selama ini bahwa Perancis siap untuk perubahan-perubahan radikal yang ditawarkannya -- perubahan-perubahan yang berdasarkan pada tema kampanyenya kerja keras, tanggung jawab perseorangan dan hormat pada "nilai-nilai nasional" Perancis.

Menurut para analis, kemenangan Sarkozy menandai sebuah titik balik bagi Perancis, dengan pemilih bergeser ke kanan memilih pembaharuan-pembaharuan yang merupakan norma di sebagian besar negara maju lain.

Hasil pemilu itu dianggap menandai diterimanya realitas ekonomi oleh Perancis. Rakyat bisa melihat ekonomi tidak berjalan, pajak selalu tinggi, dan Sarkozy menjelaskan bahwa prioritasnya adalah meringankan beban itu.

Salah satu perubahan yang diusulkannya adalah mengenai 35 jam kerja maksimal per minggu yang akan dijadikannya minimal.

Dongeng pop dari kisah hidupnya tak lengkap tanpa unsur cinta yang berbelit. Pada tahun 1984, dia jatuh cinta pada Cecilia Albeniz. Saat sebagai wali kota Neuilly, dia meresmikan perkawinannya dengan gadis berambut hitam, seorang bintang TV.

Akhir 1980-an, Sarkozy bercerai dari istri pertamanya yang memberinya dua putra, dan dia dan Cecilia menikah tahun 1996. Setahun kemudian putra mereka lahir.

Ketika Sarkozy masuk ke pemerintah tahun 2002, Cecilia mempunyai sebuah kantor di kementerian dalam negeri, namun pada awal 2005 mantan model dan eksekutif humas itu menghilang dan ternyata dia meninggalkan suaminya demi seorang eksekutif iklan di New York.

Beberapa bulan kemudian mereka rujuk, walau gosip mengenai hubungan mereka masih ramai.

Franck Tapiro, mantan manajer kampanye Sarkozy yang telah mengenalnya selama 22 tahun mengatakan, "Anda akan mencintai dia atau Anda membenci dia. Tidak ada di tengah-tengah." (AP/Reuters/AFP/BBC)

***
BIODATA

Nama: Nicolas Sarkozy

Lahir: Januari 1955 di Paris, Perancis, dari ayah seorang imigran Hongaria dan ibu Perancis keturunan Yahudi-Yunani.

Karier Politik: 1977 terpilih menjadi anggota Dewan Kota Neuilly, dan enam tahun kemudian terpilih sebagai Wali Kota Neuilly, pada usia 28 tahun, dan terus terpilih kembali untuk jabatan itu selama 19 tahun.

Sarkozy memasuki pemerintahan untuk pertama kali tahun 1993, sebagai Menteri Anggaran Belanja dan Jubir Perdana Menteri Edouard Balladur.

Tahun 2002 ketika Jacques Chirac menang dalam pemilu presiden, dia menjadi Menteri Dalam Negeri, lalu Menteri Keuangan tahun 2004. Ketika Partai UMP memilihnya menjadi ketua partai pada November 2004, dia meninggalkan pemerintah, dan kembali Mei 2005 atas permintaan Chirac sebagai Menteri Dalam Negeri.

Dia menikah dua kali, dan mempunyai tiga putra: Pierre dan Jean yang memberikan suara untuk pertama kalinya tahun ini, serta Louis.

Sumber : Kompas, Selasa, 8 Mei 2007
Read Full 0 comments

Nurpudji Astuti dan Nilai Tambah Ikan Gabus

Nurpudji Astuti dan Nilai Tambah Ikan Gabus
Oleh : Reny Ayu Taslim

Bagi sebagian orang, ikan gabus tak masuk hitungan lauk favorit. Untuk nelayan pun ikan gabus dianggap kurang bernilai ekonomis. Namun, di tangan dokter Nurpudji Astuti, ikan ini memiliki nilai tambah.

Ikan yang tak disukai karena baunya yang amis ini, dia "sulap" menjadi suplemen makanan yang berfungsi menjaga metabolisme tubuh, menaikkan kadar albumin, dan mempercepat pemulihan kesehatan. Ikan gabus diracik sedemikian rupa, dibuat serbuk, kemudian dimasukkan dalam kapsul. Bau amis ikan yang tak disukai itu pun hilang, tak terasa lagi.

Hampir semua pasien berkadar albumin rendah yang diberi suplemen dari ikan gabus ini, kadar albuminnya naik lebih cepat ketimbang pemberian albumin lewat infus. Bahkan, pasien berkadar albumin rendah yang diikuti komplikasi penyakit lain seperti TB, diabetes, patah tulang, stroke, hingga HIV/AIDS, kondisinya bisa lebih baik dengan pemberian kapsul ikan gabus.

Pada anak dengan gizi buruk dan berat badan kurang, pemberian biskuit dari bubuk ikan gabus, membuat berat badan mereka naik minimal 1 kilogram per bulan. Maka, bersama kader posyandu, petugas puskesmas dan rumah sakit yang merawat anak bergizi buruk, Pudji memberikan biskuit ikan gabus secara rutin.

Ibu hamil kurang gizi juga diberi kapsul ikan gabus untuk asupan protein dan zat besi yang diperlukan selama masa kehamilan agar bayi yang dilahirkan lebih sehat.

Fungsi albumin

Pudji memandang albumin dalam tubuh sebagai indikasi mortalitas, morbiditas, dan metabolisme tubuh. Albumin juga berfungsi mempertahankan regulasi cairan dalam tubuh. Bila kadarnya rendah, protein yang masuk tubuh akan pecah, dan tak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Bahkan, penyerapan obat-obatan yang seharusnya berfungsi menyembuhkan, tak akan maksimal.

Oleh karena itu, pasien berkadar albumin rendah diberi infus untuk menaikkan kadar albuminnya. Namun, infus itu biayanya mahal, Rp 1,4 juta setiap pemberian. Ini pun minimal harus diberikan tiga kali. Untuk pasien tak mampu, ini memberatkan. Bahkan, pasien pengguna Askes pun menanggung sendiri biaya pemberian infus baru bila kadar albumin 2,2. "Kadar albumin normal 3,5-4,5," ujar istri Taslim Arifin itu.

Kondisi tersebut membuat ibu tiga anak ini berusaha mencari bahan lain untuk menaikkan kadar albumin dengan harga terjangkau. Ahli gizi yang melakukan banyak penelitian ini pun sampai pada ikan gabus yang mengandung kadar albumin tinggi. Ikan gabus dipilih juga karena relatif mudah didapat dan harganya murah.

Dalam percobaan pertama, Pudji memberi masakan ikan gabus kepada pasien di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Sulawesi Selatan. Ikan gabus dalam bentuk makanan ini berhasil menaikkan kadar albumin. Tetapi, jumlah petugas dapur di rumah sakit kurang. Kalaupun ada, mereka kewalahan meracik ikan gabus, apalagi dengan komposisi yang dianjurkan.

"Saya mencoba membuat cairan, lalu dimasukkan melalui selang makanan. Ini pun berhasil, tetapi banyak pasien yang menolak baunya," tutur Pudji.

Ekstrak dalam kapsul

Dia lalu mencari cara agar pemberian ikan gabus bisa lebih mudah. Bersama beberapa rekan, Pudji melakukan percobaan hingga menemukan cara, yakni membuat ekstrak ikan gabus dan memasukkannya dalam kapsul. Cara ini berhasil karena pemberiannya lebih mudah, dan pasien tak lagi menolak baunya.

Harganya pun relatif terjangkau, setiap kapsul Rp 3.000. Dengan pemberian dua kapsul sekali minum, tiga kali sehari selama 10 hari, pasien mengeluarkan biaya Rp 180.000. Bandingkan dengan harga infus yang mencapai Rp 4,2 juta. Padahal, kemampuan menaikkan kadar albuminnya sama.

Pudji lalu mendaftarkan permohonan paten kapsul ikan gabus dengan nomor P00200600144, berjudul produk konsentrat protein ikan gabus. Permohonan paten ini diumumkan pada 8 Maret lalu oleh Departemen Kehakiman dengan nomor publikasi 047.137.A.

Dia sebenarnya meneliti ikan gabus sejak tahun 1994. Pada 2003 Pudji mulai memberikan cairan ikan gabus melalui selang makanan pada pasien di Rumah Sakit Wahidin. Tahun 2004-2005, tamatan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin ini membuat ikan gabus dalam bentuk kapsul.

Untuk meyakinkan dan membuktikan suplemen makanan yang dibuat itu bisa diterima di mana-mana, Pudji mengirimkan kapsul tersebut kepada rekan dokter di berbagai daerah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jakarta.

"Saya minta mereka memberikannya kepada pasien dengan beragam penyakit seperti luka patah tulang, stroke, gula, TB, atau gizi buruk. Hasilnya, pemberian suplemen makanan ini membuat pasien sembuh lebih cepat, dan kondisinya menjadi lebih baik," paparnya.

Sebagai dokter spesialis gizi, Pudji resah atas maraknya kasus gizi buruk. Menurut dia, banyak pasien gizi buruk yang membaik setelah diberi biskuit ikan gabus. Sesuatu yang sebenarnya mudah didapat dan murah harganya. Kini, tinggal kemauan dan keseriusan pemerintah daerah untuk berjaringan dengan berbagai instansi, termasuk perguruan tinggi. "Saya siap membantu," ucapnya.

Apalagi, ujar Pudji, penggunaan ikan gabus untuk produksi makanan tambahan juga bisa memberi nilai tambah ekonomis bagi petambak. Ini akan lebih terasa bila produksi makin meningkat. Dia memang membuat kapsul itu dalam skala laboratorium karena penggunaannya pun masih terbatas.

***
BIODATA

Nama: Nurpudji Astuti
Tempat, tanggal lahir: Wates, Yogyakarta, 20 Oktober 1956
Suami: Taslim Arifin
Anak:
1. Dewi Lestari (26)
2. M Sidi Utama (24)
3. M Syaiful Andi (18)

Pendidikan:
- SDN 24 Makassar, SMPN 1 Makassar, SMAN 3 Makassar
- S-1 Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (1974-1984)
- S-2 bidang nutrisi University of North Carolina at Chappelhill, Amerika Serikat (1992-1994)
- S-3 studi nutrisi di Universitas Hasanuddin (1996-2004)
- 2006 menjadi guru besar Unhas

Penelitian:
- 1994, 2003, 2004, 2005: Penelitian tentang ikan gabus.
- 2002: Pemberian makanan tambahan pada ibu hamil kurang gizi yang terkait berat lahir anak.
- 2003: Evaluasi jaringan sosial "safety net" dengan Bappenas pada Provinsi Sulsel dan Sultra.
- 2005: Survei kesehatan daerah untuk Maluku.
- 2006: Survei kesehatan daerah Kabupaten Sidrap.

Penghargaan:
- 1997: Dosen Teladan Fakultas Kedokteran Unhas
- Satyalencana 10 tahun dari Presiden RI
- 2005: Award untuk presentasi masalah gizi pada Asia Pacific Academic Consortium for Public Health

Sumber : Kompas, Kamis, 31 Mei 2007
Read Full 0 comments

Nasirun, Menyadap Energi dari Mitologi

Nasirun, Menyadap Energi dari Mitologi
Oleh : Putu Fajar Arcana

Rumah perupa Nasirun (42) di kawasan Kalibayem, Bantul, Yogyakarta, terbilang besar. Banyak pohon dan nyaman. Jangan kaget kalau tiba-tiba di bawah pohon pandan "raksasa" di halaman samping kanan tergeletak lukisan dalam ukuran besar.

Tak jauh dari situ, di atas aliran sungai yang diberi semacam geladak, bersandar pula lukisan lain. Keduanya baru setengah jadi. Agak ke dalam, tapi masih di halaman samping, terdapat studio. Di situ lagi-lagi terpampang lukisan setengah jadi. Pada rak di atasnya, tertata ribuan kanvas kosong….

Bagian luar dari kediaman dan studio perupa kelahiran Cilacap ini saja sudah mengisyaratkan "kerumitan" pada ruang dalamnya. Di ruangan yang biasanya Nasirun berbincang dengan para tamunya, lukisan pun bertumpuk-tumpuk, tak terkecuali banyak lukisan setengah jadi.

"Coba lihat di kamar mandi," ujar Nasirun. Rupanya ruang untuk membersihkan badan itu pun tak luput dari "serbuan" lukisan. Saking banyaknya, Nasirun sampai harus menyewa kamar putri pertamanya, Ima Bunga Insan Sani (13), sebesar Rp 300.000 sebulan, "hanya" untuk menyimpan lukisan.

Nasirun memang dikenal sebagai perupa superproduktif. Bahkan, pada tahun 1997 ketika bom seni rupa berlanjut—setelah sebelumnya dimulai awal tahun 1990-an, ia dicap sebagai pelukis "pelayan pasar". Soal itu, Nasirun hanya berujar singkat, "Apa dosa saya pada kebudayaan?" Soal sebenarnya bukan sekadar "memanfaatkan" momentum penerimaan pasar terhadap seni rupa kontemporer Indonesia, tetapi lebih pada mencari wahana atas gelegak energi kreatif yang meledak-ledak.

Suami dari Illah (35) ini tak bisa berhenti. Ibaratnya, langit seperti terbuka lalu mengalirkan berjuta-juta partikel ide di kepala Nasirun. Dan secara fisik dia melayaninya dengan menggambar dan terus menggambar. Hebatnya, sebagaimana pula diakui oleh kolektor Oei Hong Djien, meski secara ide terkadang sama, Nasirun selalu berhasil mencari bentuk-bentuk yang tak mirip. Bahkan, berbeda sama sekali.

Ketidaksamaan itu barangkali karena Nasirun membentang wilayah kreatif yang demikian luas. Ia nyaris selalu berangkat dari tradisi dan mitologi yang ditarik ke wilayah kontemporer. Pada saat tarikan itulah Nasirun melakukan interpretasi. Begitu terus sampai ia merasa bertemu pada kedalaman nilai.

Lukisan paling gres yang ia kerjakan berjudul Nyanyian Pesisir. Tema ini barangkali sudah "dijamah" Nasirun berulang kali. Tetapi, tetap ada nuansa kontekstual dan segar, meski ia hampir selalu berangkat dari mitologi.

Pada lukisan mitologi tentang kinjeng (capung) dan bintang waluku (tenggala) menjadi dasar untuk mengungkapkan betapa manusia kontemporer tak pernah mau belajar dari alam dan tradisi. Bintang waluku akan muncul saat-saat musim tanam padi dimulai. Dan "tradisi" ini sudah hampir tak diindahkan lagi, ketika pertanian kita hanya mengejar produksi.

Tradisi pesisiran

Nasirun memang besar pada ranah tradisi pesisiran. Ayahnya, mendiang Sanrustam, dan ibunya, Supiyah, hanyalah buruh tani. Kekerasan hidup itulah yang sering kali membuat Nasirun nekat. Tahun 1983 ia berangkat ke Yogyakarta setelah menjual daun pintu rumahnya.

"Untuk menahan angin saya pasangi karung bekas gabah di kusennya yang bolong, hi-hi-hi," tutur Nasirun. Ia tertawa pahit. Sudah enam puntung rokok yang tak habis diisap tergeletak dalam asbak. Sesekali lelaki berkulit hitam ini mengibaskan rambutnya, lalu menaikkan kedua kakinya di kursi. (Itu juga kebiasaan yang dibawanya sejak di kampung dahulu).

"Saya sampai di Yogya pas saat gerhana Matahari tahun 1983 itu. Nah, di sebuah gang Jalan Malioboro ada gambar Hanoman menelan matahari…" tutur Nasirun.

Sudah pasti bukan lantaran sepotong peristiwa itu yang membuat Nasirun berulang kali menyapukan gerhana di atas kanvasnya. Gerhana bagi Nasirun semacam pralambang hidup yang senantiasa berjalan pada dua sisi: gelap dan terang. Dalam ranah mitologis, ketika Betara Kala ingin menelan rembulan, maka rakyat di pedesaan memukul kentungan dan lesung agar gelap segera berganti terang.

Getah mitologi

Keintiman pada alam inilah yang terus-menerus memberi energi Nasirun untuk bekerja. Ia seperti menyadap "getah" mitologi yang kemudian diolahnya menjadi kekayaan lokal, tetapi bernilai universal. Lukisan Nasirun hampir selalu berangkat dari masa lalu (mitologi) saat-saat ia menjalani kerasnya hidup di kampung. Masa lalu itu kemudian diinterpretasi untuk menemukan nilai universal di dalamnya.

Tahun 1997 lukisan Nasirun begitu banyak diburu kolektor dan para spekulan. Ia menuturkan, "Semua orang antre, kanvas kosong saja sudah diberi nama pemesannya." Nasirun paham, ia sedang berada di puncak pasar.

"Pokoknya prinsip saya dari dulu, jangan mendahului kersaning Gusti. Saya tak mau mendahului kehendak Tuhan," tutur penggemar tanaman hias ini. Selain itu, Nasirun mengaku selalu bekerja atas dasar kegembiraan. Ia merayakan masa lalu dalam kanvas-kanvasnya yang naratif. "Semuanya saya jadikan energi untuk bekerja," tutur dia.

Secara intuitif, tanpa harus menyakiti hati para pemburunya, ia beralih ke kanvas-kanvas besar. "Itu salah satu cara saya untuk mengerem pasar, ritme kerja menjadi lebih lambat untuk menghindar dikte pasar," katanya.

Benar saja sejak itu lukisan-lukisan Nasirun selalu dalam ukuran besar. Terakhir bahkan ia menggarap karya tujuh panel dengan ukuran tak tanggung- tanggung, 2,5 meter x 7 meter. "Istri saya sampai menyerah saat saya minta pelototkan tube cat, hua-hua-hua…," ungkap lelaki kelahiran 1 Oktober 1965 ini diiringi tawanya yang lepas.

Poligami

Belakangan Nasirun malah jarang menyelesaikan satu lukisan yang peminatnya lebih dari satu orang. Ia biarkan saja lukisan setengah jadi itu teronggok begitu saja. "Saya tak tahu kapan jadinya. Pokoknya tugas saya cuma bekerja," ucapnya.

Barangkali sikap ini yang menyelamatkannya dari kemungkinan "dilindas" keganasan pasar. Ia senantiasa berada pada wilayah kreatif. Menurut istilahnya, "Saya poligami dengan lukisan, hua-hua-hua…." Sedangkan istri dan anak-anaknya berada pada wilayah materi.

Nasirun memenuhi seluruh kebutuhan rumah tangga mereka. Bahkan, sampai kini pun Nasirun tak berusaha belajar mengemudikan mobil. Ia ke mana-mana masih menggunakan motor butut yang ia beli dari hasil penjualan lukisannya pertama kali tahun 1993.

Sikap memberi sekat antara ruang materi dan kreativitas ini sebenarnya cara Nasirun untuk menjaga agar ia tetap berada pada wilayah penciptaan. Bahwa di sisi lain ada riuh rendah pasar, memang tak bisa dimungkiri. Namun, dengan pemilahan yang tegas, ia tetap tampil sebagai kreator yang bebas intervensi.

Kalau Nasirun sejak dulu hingga kini melukis seperti "kesetanan" pastilah bukan karena mengejar kepuasan materi. Itu semata-mata karena ia harus menciptakan kanal bagi gelegak energi penciptaan yang seperti menggumpal-gumpal di dalam dada dan kepalanya.

"Kalau diam mungkin saya sakit," tutur Nasirun. Dan untuk menjaga semuanya berjalan dengan baik, setiap saat lelaki berambut panjang ini bernyanyi, "Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir…"

Sumber : Kompas, Jumat, 15 Juni 2007
Read Full 0 comments

Nuraini, Memberi "Kemasan" untuk Kopi Sumbawa

Jun 3, 2009
Nuraini, Memberi "Kemasan" untuk Kopi Sumbawa
Oleh : Khaerul Anwar

Kopi robusta dari Kecamatan Batu Lanteh, Nusa Tenggara Barat, sudah lama menjadi minuman rutin bagi warga setempat. Namun, karena proses pengerjaannya yang relatif sederhana, bagi orang yang tak biasa menyeruputnya seakan meminum arangnya kopi.

Begitulah nasib kopi robusta produksi Desa Tepal, Batu Lanteh, Tangkam Pulit, Bao Desa, dan Batu Dulang di Kecamatan Batu Lanteh, Kabupaten Sumbawa, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Karena itu, tak heran kalau popularitas kopi itu terbatas sampai tingkat kabupaten saja.

Tidak berkembangnya kopi robusta dari Batu Lanteh karena selama ini proses pengerjaan biji kopinya, sebelum menjadi sebuah hidangan, amat sederhana. Biji kopi hanya disangrai sampai gosong dan menghitam. Ini membuat cita rasa kafeinnya hilang.

"Karena disangrai sampai gosong, akibatnya kita seakan minum air arangnya kopi itu," tutur Nuraini setengah berkelakar.

Dialah yang kemudian mencoba memperbarui produk kopi robusta Sumbawa, mulai dari proses pascapanen, pengolahan, hingga bentuk kemasannya, agar konsumen tertarik membeli produk kopi yang tak hanya merangsang bau kopinya, tetapi juga enak diminum.

Ibu dua putra itu mengawali "reformasi" kopi sumbawa tahun 2000. Sasarannya adalah para ibu rumah tangga di Desa Batu Lanteh yang terlibat langsung dalam usaha kopi. Mereka diajari mulai dari bagaimana proses menyortir biji kopi.

"Butiran biji kopi yang warnanya berbeda seperti merah atau coklat disisihkan, kemudian baru disatukan lagi sesuai dengan warna masing-masing. Biji kopi mentah itu lalu dipilah-pilah lagi sesuai denagn ukuran besarnya," ujarnya.

Biji kopi itu dicuci hingga bersih dan dijemur dua-tiga hari agar benar-benar kering. Nyala api tungku atau kompor pun diatur agar stabil, baru kemudian biji kopi itu disangrai selama dua jam. Tiap wajan maksimal diisi dua kilogram biji kopi. Setelah itu, barulah kopi ditumbuk dan diayak dengan alat yang sudah distandarkan.

Tak berhenti sampai di situ, setelah ekstrak kopi dikemas, alumnus Fakultas Peternakan Universitas Mataram itu membantu warga dengan mempromosikan dan memasarkan sendiri kopi bubuk tersebut.

Membagikan gratis

Nuraini ingin penikmat kopi Batu Lanteh tak terbatas hanya masyarakat setempat. Dia berkeliling masuk-keluar toko dan kios di kota Sumbawa Besar, ibu kota Kabupaten Sumbawa, untuk menawarkan kopi itu, atau setidaknya merayu pemilik toko agar mau memajang kopi Batu Lanteh.

Nuraini juga tak segan-segan membagikan kopi itu secara gratis kepada sejumlah karyawan kantor pemerintah dan swasta. Ini sebagai langkah awal memancing konsumen.

Awalnya banyak pedagang menolak kopi yang ditawarkan Nuraini. Alasan mereka, antara lain, sudah ada beragam merek kopi yang beredar di pasaran, baik dalam bentuk bubuk kopi maupun kopi yang telah dicampur dengan susu, ginseng, dan jahe. Sebagian pedagang pun menganggap setiap konsumen sudah punya kopi kesukaan masing-masing.

Akan tetapi, dengan semangat pantang menyerah, perempuan yang semasa kuliah menjadi anggota resimen mahasiswa itu terus berusaha "membujuk" para pedagang agar mau menampung produksi kopi butiran dan kopi bubuk dari Batu Lanteh.

Hasilnya? Kini, ada 38 pedagang yang sudah menjadi langganan menampung dan memasarkan kopi Batu Lanteh. Produksi kopi yang semula hanya dalam hitungan kilogram itu kini dalam sebulan rata-rata mencapai satu ton.

Selain tetap dijual di tingkat lokal, kopi tersebut juga dikirim kepada para pemesan yang tinggal di Mataram dan Surabaya. Malah, kini setiap bulan 30 kilogram-40 kilogram kopi Batu Lanteh dipasarkan ke Jakarta.

"Sebenarnya saya diminta oleh PT Kereta Api di Jakarta untuk mengirim 100 kilogram sebulan, tetapi belum bisa saya penuhi," ujar Nuraini.

Kopi kemasan 200 gram dijual Rp 7.500, kemasan 100 gram Rp 3.500, dan sachet Rp 1.000. Pedagang pengecer menjual tiap kemasan Rp 8.000, Rp 4.000, dan Rp 1.500.

Memakai pupuk organik

Satu hal yang masih menjadi "ganjalan" bagi Nuraini adalah sertifikat bahwa kopi tersebut bebas penggunaan pupuk dan obat-obatan kimia karena budidayanya memakai pupuk organik.

"Sertifikat bebas pupuk kimia, apalagi ada sertifikat halal dari lembaga berwenang, akan membuat produk itu tambah laku," ucapnya. Sayang, sertifikat yang diusulkan kepada dinas terkait sejak tahun 2004 itu tak kunjung keluar.

Bagi para ibu rumah tangga yang menjadi produsen kopi, Nuraini juga mengajarkan tertib manajemen pengolahan dan pemasaran. Sebab, selama ini mereka umumnya menggunakan manajemen tradisional. Artinya, asal kopi laku, mereka merasa sudah puas, tak peduli untung atau rugi.

"Buat ibu-ibu itu yang penting uang hasil penjualan diterima, lalu dibelikan barang yang bersifat konsumtif. Lalu, untuk biaya produksi berikutnya mereka pinjam modal lagi," katanya.

Nuraini lalu mendirikan Koperasi Tani Perkebunan Cahaya Robusta, yang antara lain dihajatkan untuk mendidik, membimbing, dan mengajar anggotanya belajar tertib manajemen administrasi, pengolahan, dan pemasaran.

Hasilnya, mereka mulai punya perhatian terhadap pendidikan dan mau melakukan diversifikasi usaha. Nuraini mengembangkan usaha lain, seperti memproduksi jamu dari kunyit dan jahe serta menghasilkan madu alam. Tercatat ada 192 anggota koperasi yang khusus menangani produksi kopi dan beragam jenis jamu.

Apa yang diusahakan Nuraini tak sia-sia. Apalagi kalau mengingat kondisi masyarakat desa di Kecamatan Batu Lanteh yang umumnya hidup dari hasil perkebunan, di antaranya kopi. Dulu, kopi produk mereka hanya laku Rp 16.000 per kilogram di tingkat petani.

Di sisi lain, petani sulit membawa hasil kebunnya ke kota karena akses informasi dan transportasi desa itu tak memadai. Daerah itu berbukit-bukit, banyak tanjakan tajam, berkelok-kelok, dan harus melewati kawasan hutan.

Dengan menggunakan mobil yang khusus dimodifikasi untuk medan seperti itu, Nuraini menampung produksi kopi petani, lalu menjualnya di Sumbawa Besar. Ia sempat mendapat tanggapan sinis dan penuh curiga dari sebagian pedagang. "Saya dikira pedagang spekulan," katanya.

Ketika mengantar barang itulah dia "mengintip" strategi berdagang dan teknik menyortir butiran kopi. Dengan cara itu, Nuraini jadi tahu bagaimana memilih biji kopi menurut kualitasnya.

Dia juga membuka kios yang diberi nama Cahaya Kopi Robusta. Lewat penghasilan dari kopi itulah Nuraini bisa memberi lapangan kerja meski amat terbatas. Selain itu, dari 10 anak asuhnya, empat di antaranya turut membantu mengelola kios dengan upah sekitar Rp 250.000 hingga Rp 300.000 per orang setiap bulan.

Sumber : Kompas, Senin, 7 Januari 2007
Read Full 0 comments
 
Powered By Blogger
Powered By Blogger
Powered By Blogger

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks