Showing posts with label R. Show all posts
Showing posts with label R. Show all posts
Raisa Aurora, Menulis dengan Penuh Perasaan
Jun 29, 2009
Raisa Aurora, Menulis dengan Penuh Perasaan
Oleh : Elok Dyah Messwati
USIANYA masih 13 tahun, tetapi kemampuan berpikir dan menulisnya melebihi teman-teman seusianya. Tak heran jika Raisa Aurora, siswa Kelas II SMP Negeri 12 Bekasi, Jawa Barat, mendapatkan penghargaan untuk penulis muda Indonesia bersama dengan Pratitou Arafat (siswa SMA Negeri 3 Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam).
PADA Lomba Penulisan Esai Remaja yang diselenggarakan oleh Unicef dan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI), Raisa mengirim esai berjudul "Dari Temanku Asih, Aku Belajar Banyak".
Esainya bertutur tentang pengalamannya bergaul dengan Asih, teman sekelasnya saat kelas I SMP yang menderita down syndrom. Asih dipaksa bersekolah di sekolah umum, padahal kemampuannya mencerna pelajaran jauh di bawah rata-rata.
"Betapa ingin aku mengatakan padanya bahwa engkau punya hak untuk dimengerti, engkau punya hak untuk mendapat perawatan, pengasuhan, kasih sayang, dan pendidikan yang dibutuhkan seorang anak ’istimewa’ sepertimu," demikian cuplikan esainya.
Perasaan Raisa memang tertumpah dalam tulisannya. Bahkan ketika menerima penghargaan pekan lalu, ia sempat berhenti sejenak saat bertutur tentang Asih. Matanya berkaca-kaca. Beberapa juri menitikkan air mata ketika membaca karyanya.
Raisa mengaku, ia berusaha menulis dengan penuh perasaan, pengaruh dari tulisan Pramoedya Ananta Toer dan Lemony Snicket yang menulis A Series of Unfortunate Events.
Ketika hendak mengikuti lomba esai, sebenarnya Raisa ingin menulis mengenai hak anak-anak jalanan. Namun, saat ia memikirkan ide itu, ia bertemu dengan Asih. Asih bercerita tentang keluarganya, teman-temannya, dan apa yang ia rasakan. Muncullah keinginan Raisa untuk menulis kehidupan Asih.
Anak tunggal pasangan Abubakar Soeis (54) dan Jenny Rianita (40) ini kemudian membuat poin-poin tulisan per paragraf, lalu ia kembangkan saat mengetik di komputer-yang sudah ia kuasai sejak kelas III SD.
RAISA gemar menulis sejak kelas I SD. Saat itu ia minta dibelikan buku harian di mana ia bisa menuliskan semua perasaannya. Sejak kecil ia juga membuat puisi. Prestasi pertamanya diraih saat kelas III SD sebagai juara ketiga lomba mengarang "Andai Aku Punya Sayap" yang diselenggarakan sebuah restoran waralaba.
Kelas IV SD Raisa mengikuti lomba Konferensi Anak tentang Lingkungan Hidup yang diselenggarakan majalah Bobo dan Kementerian Negara Lingkungan Hidup tahun 2001. Ia menjadi salah satu dari 25 anggota delegasi terpilih. Itu pengalaman yang sangat menyenangkan baginya. Seluruh delegasi dikarantina selama tiga hari di Hotel Santika Jakarta. Mereka belajar tentang lingkungan dengan suasana yang fun.
"Saya bertemu dengan Pak Emil Salim, Pak Sonny Keraf (Menteri Negara LH saat itu-Red), saya dapat kenang-kenangan pohon matoa. Kami diajar banyak hal tentang lingkungan hidup," kata Raisa, yang mengisi kesehariannya dengan kursus bahasa Inggris, berenang, dan gitar.
Berbagai prestasi ia raih. Ia, antara lain, menjadi pemenang harapan kedua Lomba "Menulis Surat untuk Presiden" tahun 2000, pemenang kedua Lomba Mengarang Esai tingkat SMP yang diselenggarakan oleh IKAP DKI Jaya tahun 2003.
Tahun 2004, tulisannya terpilih pada lomba yang sama yang diselenggarakan YKAI-Unicef. Ia pun menjadi pemenang pertama Lomba Membalas Surat Pramoedya Ananta Toer dalam buku "Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer". Total 20 penghargaan ia dapatkan.
Menurut ibunya, Raisa bisa menulis puisi dengan unik. "Yang aneh, saat dia menulis puisi, puisinya tidak seperti puisi anak-anak. Kata-katanya tidak seperti anak-anak. Saya tidak mengerti dari mana ia mendapatkan kata-kata untuk puisinya," kata Jenny.
Raisa mengaku mendapatkan kata-kata untuk puisinya dari buku-buku yang ia baca. Saat kecil, selain berlangganan majalah Bobo, ia juga membaca buku dongeng yang halamannya tebal-tebal. Raisa memang suka sekali menulis karena melalui tulisan ia bisa mengungkapkan jalan pikirannya.
"Menulis itu sangat menyenangkan dan saya jadi lebih dewasa. Teman-teman sekelas saya bilang saya sok tua," tutur Raisa.
Kalau bicara dengan teman sebayanya, Raisa dianggap berbeda. Cara bicaranya seperti orang dewasa. "Padahal saya bicara biasa saja, tapi dianggap berbeda. Mungkin karena saya banyak membaca," kata Raisa, yang koleksi bukunya sampai empat lemari.
MENULIS tentu berkaitan dengan mengarang. Namun anehnya, Raisa tak terlalu menyukai cara pengajaran mengarang (pelajaran Bahasa Indonesia) di sekolah. Jika diminta mengarang, biasanya tema sudah ditentukan oleh guru, termasuk paragraf-paragrafnya.
"Kalau seperti itu caranya, isi paragraf sudah ditentukan, saya merasa terkekang. Mau nulis apa saya? Dari awalnya sudah tidak enak menulis kalau semua sudah ditentukan, tidak sesuai dengan jalan pikiran saya," kata Raisa.
Menurut Raisa, seharusnya pelajaran mengarang itu memberikan keleluasaan kepada murid. Murid cukup diberi tema yang menarik. Dengan demikian, minat untuk mengarang bisa bertumbuh.
Ia mengkritik pelajaran mengarang yang hanya menekankan pada teori dan jarang mengajarkan materi mengarang. "Padahal kalau menulis sendiri, kita bisa berkembang sendiri tanpa harus menggunakan teori," ucap Raisa.
Raisa juga mengungkapkan keprihatinannya atas isi majalah dinding (mading) di sekolahnya yang jarang diisi artikel yang bermanfaat untuk remaja, tetapi justru diisi dengan artikel seputar percintaan remaja. "Saya pikir itu karena pengaruh sinetron, sesuatu yang tidak nyata dan kita membuatnya menjadi kenyataan. Saya buat puisi dan artikel di mading, tidak ada yang baca. Saya tersiksa sekali menghadapi hal seperti itu," keluhnya.
Pengetahuannya yang demikian luas membuatnya kadang tak "nyambung" jika berbicara dengan temannya. "Saya bilang, ’Kemarin aku menang lomba membalas surat kepada Pramoedya lho.’ Teman saya balik tanya, ’Pramoedya itu siapa?’" tutur Raisa.
Raisa bercita-cita menjadi dokter hewan sekaligus penulis seperti James Herriot. Ia memiliki 15 kucing di rumahnya. "Saya sayang pada binatang, jadi saya tergerak jadi dokter hewan. Tapi saya juga ingin jadi wartawan BBC, bisa merambah ke mana-mana, subyeknya mendunia," kata Raisa Aurora yang bertekad terus menulis.
Sumber : Kompas, Sabtu, 9 April 2005
Oleh : Elok Dyah Messwati
USIANYA masih 13 tahun, tetapi kemampuan berpikir dan menulisnya melebihi teman-teman seusianya. Tak heran jika Raisa Aurora, siswa Kelas II SMP Negeri 12 Bekasi, Jawa Barat, mendapatkan penghargaan untuk penulis muda Indonesia bersama dengan Pratitou Arafat (siswa SMA Negeri 3 Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam).
PADA Lomba Penulisan Esai Remaja yang diselenggarakan oleh Unicef dan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI), Raisa mengirim esai berjudul "Dari Temanku Asih, Aku Belajar Banyak".
Esainya bertutur tentang pengalamannya bergaul dengan Asih, teman sekelasnya saat kelas I SMP yang menderita down syndrom. Asih dipaksa bersekolah di sekolah umum, padahal kemampuannya mencerna pelajaran jauh di bawah rata-rata.
"Betapa ingin aku mengatakan padanya bahwa engkau punya hak untuk dimengerti, engkau punya hak untuk mendapat perawatan, pengasuhan, kasih sayang, dan pendidikan yang dibutuhkan seorang anak ’istimewa’ sepertimu," demikian cuplikan esainya.
Perasaan Raisa memang tertumpah dalam tulisannya. Bahkan ketika menerima penghargaan pekan lalu, ia sempat berhenti sejenak saat bertutur tentang Asih. Matanya berkaca-kaca. Beberapa juri menitikkan air mata ketika membaca karyanya.
Raisa mengaku, ia berusaha menulis dengan penuh perasaan, pengaruh dari tulisan Pramoedya Ananta Toer dan Lemony Snicket yang menulis A Series of Unfortunate Events.
Ketika hendak mengikuti lomba esai, sebenarnya Raisa ingin menulis mengenai hak anak-anak jalanan. Namun, saat ia memikirkan ide itu, ia bertemu dengan Asih. Asih bercerita tentang keluarganya, teman-temannya, dan apa yang ia rasakan. Muncullah keinginan Raisa untuk menulis kehidupan Asih.
Anak tunggal pasangan Abubakar Soeis (54) dan Jenny Rianita (40) ini kemudian membuat poin-poin tulisan per paragraf, lalu ia kembangkan saat mengetik di komputer-yang sudah ia kuasai sejak kelas III SD.
RAISA gemar menulis sejak kelas I SD. Saat itu ia minta dibelikan buku harian di mana ia bisa menuliskan semua perasaannya. Sejak kecil ia juga membuat puisi. Prestasi pertamanya diraih saat kelas III SD sebagai juara ketiga lomba mengarang "Andai Aku Punya Sayap" yang diselenggarakan sebuah restoran waralaba.
Kelas IV SD Raisa mengikuti lomba Konferensi Anak tentang Lingkungan Hidup yang diselenggarakan majalah Bobo dan Kementerian Negara Lingkungan Hidup tahun 2001. Ia menjadi salah satu dari 25 anggota delegasi terpilih. Itu pengalaman yang sangat menyenangkan baginya. Seluruh delegasi dikarantina selama tiga hari di Hotel Santika Jakarta. Mereka belajar tentang lingkungan dengan suasana yang fun.
"Saya bertemu dengan Pak Emil Salim, Pak Sonny Keraf (Menteri Negara LH saat itu-Red), saya dapat kenang-kenangan pohon matoa. Kami diajar banyak hal tentang lingkungan hidup," kata Raisa, yang mengisi kesehariannya dengan kursus bahasa Inggris, berenang, dan gitar.
Berbagai prestasi ia raih. Ia, antara lain, menjadi pemenang harapan kedua Lomba "Menulis Surat untuk Presiden" tahun 2000, pemenang kedua Lomba Mengarang Esai tingkat SMP yang diselenggarakan oleh IKAP DKI Jaya tahun 2003.
Tahun 2004, tulisannya terpilih pada lomba yang sama yang diselenggarakan YKAI-Unicef. Ia pun menjadi pemenang pertama Lomba Membalas Surat Pramoedya Ananta Toer dalam buku "Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer". Total 20 penghargaan ia dapatkan.
Menurut ibunya, Raisa bisa menulis puisi dengan unik. "Yang aneh, saat dia menulis puisi, puisinya tidak seperti puisi anak-anak. Kata-katanya tidak seperti anak-anak. Saya tidak mengerti dari mana ia mendapatkan kata-kata untuk puisinya," kata Jenny.
Raisa mengaku mendapatkan kata-kata untuk puisinya dari buku-buku yang ia baca. Saat kecil, selain berlangganan majalah Bobo, ia juga membaca buku dongeng yang halamannya tebal-tebal. Raisa memang suka sekali menulis karena melalui tulisan ia bisa mengungkapkan jalan pikirannya.
"Menulis itu sangat menyenangkan dan saya jadi lebih dewasa. Teman-teman sekelas saya bilang saya sok tua," tutur Raisa.
Kalau bicara dengan teman sebayanya, Raisa dianggap berbeda. Cara bicaranya seperti orang dewasa. "Padahal saya bicara biasa saja, tapi dianggap berbeda. Mungkin karena saya banyak membaca," kata Raisa, yang koleksi bukunya sampai empat lemari.
MENULIS tentu berkaitan dengan mengarang. Namun anehnya, Raisa tak terlalu menyukai cara pengajaran mengarang (pelajaran Bahasa Indonesia) di sekolah. Jika diminta mengarang, biasanya tema sudah ditentukan oleh guru, termasuk paragraf-paragrafnya.
"Kalau seperti itu caranya, isi paragraf sudah ditentukan, saya merasa terkekang. Mau nulis apa saya? Dari awalnya sudah tidak enak menulis kalau semua sudah ditentukan, tidak sesuai dengan jalan pikiran saya," kata Raisa.
Menurut Raisa, seharusnya pelajaran mengarang itu memberikan keleluasaan kepada murid. Murid cukup diberi tema yang menarik. Dengan demikian, minat untuk mengarang bisa bertumbuh.
Ia mengkritik pelajaran mengarang yang hanya menekankan pada teori dan jarang mengajarkan materi mengarang. "Padahal kalau menulis sendiri, kita bisa berkembang sendiri tanpa harus menggunakan teori," ucap Raisa.
Raisa juga mengungkapkan keprihatinannya atas isi majalah dinding (mading) di sekolahnya yang jarang diisi artikel yang bermanfaat untuk remaja, tetapi justru diisi dengan artikel seputar percintaan remaja. "Saya pikir itu karena pengaruh sinetron, sesuatu yang tidak nyata dan kita membuatnya menjadi kenyataan. Saya buat puisi dan artikel di mading, tidak ada yang baca. Saya tersiksa sekali menghadapi hal seperti itu," keluhnya.
Pengetahuannya yang demikian luas membuatnya kadang tak "nyambung" jika berbicara dengan temannya. "Saya bilang, ’Kemarin aku menang lomba membalas surat kepada Pramoedya lho.’ Teman saya balik tanya, ’Pramoedya itu siapa?’" tutur Raisa.
Raisa bercita-cita menjadi dokter hewan sekaligus penulis seperti James Herriot. Ia memiliki 15 kucing di rumahnya. "Saya sayang pada binatang, jadi saya tergerak jadi dokter hewan. Tapi saya juga ingin jadi wartawan BBC, bisa merambah ke mana-mana, subyeknya mendunia," kata Raisa Aurora yang bertekad terus menulis.
Sumber : Kompas, Sabtu, 9 April 2005
Rita Widagdo
Jun 28, 2009
Persona : Rita Widagdo
Pewawancara : Efix Mulyadi dan Putu Fajar Arcana
NAMA Rita Widagdo tak bisa dilepaskan dari kehadiran patung-patung modern abstrak di Indonesia. Oleh kritikus Sanento Yuliman (alm), Rita "dinobatkan" sebagai pematung yang pertama kali membawa seni patung abstrak, dalam pengertian tidak representasional, masuk ke Indonesia. Pamerannya bersama para seniman Bandung tahun 1966 di Balai Budaya Jakarta dianggap sebagai "kelahiran" patung abstrak "murni" dan terpampangnya masa depan baru seni ini di Tanah Air.
Selama kesibukannya sebagai akademisi di Institut Teknologi Bandung (ITB), nama Rita tak pernah dicatat secara gegap- gempita oleh media. Namanya hanya dikaitkan dengan sejumlah karya open space-nya di beberapa sudut Kota Jakarta. Pamerannya di Galeri Nasional Jakarta 15-25 April 2005 dalam judul Rita Widagdo Marking the 1965-2005 Journey menunjukkan bahwa ia tak pernah berhenti berkarya.
Perempuan dengan nama asli Rita Wizemann ini lahir 26 November 1938 di Rottweil, Jerman. Setelah menikah dengan Profesor Widagdo yang belajar desain interior di Jerman, ia lebih populer dengan nama Rita Widagdo dan mengikuti suaminya yang pulang ke Indonesia. Keluarga ini dikaruniai dua anak lelaki, yaitu Marc Wasistha dan Paul Gunawan. Rita menempuh pendidikan di Sttatliche Akademie del Bildenden Kunste, Stuttgart, Jerman, sekolah seni yang dikenal dengan metode pendidikan membangun inisiatif para mahasiswanya.
Berikut perbincangan dengan Rita Widagdo sesaat sebelum pembukaan pamerannya.
Abstrak itu seperti apa?
Abstrak selalu mulai dari sesuatu, mesti ada titik berangkat. Dan, titik berangkat ini sering sekali sesuatu yang nyata. Tetapi, dari sesuatu yang nyata ini, kita berusaha keras untuk lepaskan penampilan realistik ini dan maju ke sesuatu yang hanya asosiatif saja dengan asal- usulnya. Tidak meniru lagi, tetapi ambil beberapa sifat esensial saja.
Abstraksi itu mencari sari pati?
Ya. Sifat khasnya. Sebenarnya begitu. Ada juga pengertian abstraksi yang memanfaatkan unsur geometrik, misalnya. Ada yang mulai dari bola yang dipotong atau piramid yang dibelah, dibuka. Itu juga abstrak, itu abstrak murni. Kalau saya, sebenarnya masih ada kaitan dengan sesuatu yang nyata. Tetapi, diolah, dibawa dalam renungan agak lama sampai yang tersisa yang paling tipikal.
Semacam "gen" makhluk hidup? Nanti wujudnya bisa macam-macam?
Ya. Cukup bebas ya. Bisa saja asal-usulnya sama, tetapi yang keluar bisa begini atau begini, jadi satu tema, katakanlah soal famili ya nanti akan keluar beberapa varian, sama benar, sama juga ngambil intinya, tetapi mungkin hari ini dan esok beda.
Apakah mungkin sebuah karya dengan ide yang sama oleh seniman yang sama menjadi karya-karya yang berbeda?
Ehm, tidak bisa jauh sekali karena dalam hal patung untuk open space yang sangat ikut menentukan adalah lingkungan itu sendiri... patung ini (secara umum) harus bisa dilihat dari semua sudut. Dan, kalau patung yang bagus, dari setiap sudut dia lain. Tetapi, dalam keseluruhan, karakternya tetap sama.
Ide awal seperti apa lahirnya? Anda pernah mengikuti sayembara, itu kan dipicu orang lain?
Ya, kalau yang ini (menunjuk salah satu karyanya yang dipamerkan di Galeri Nasional), semuanya dari diri sendiri. Tetapi, kalau saya masuk ke lingkungan arsitektur atau lingkungan kota, saya tidak bebas, saya malah mulai dari membaca lingkungan untuk menyesuaikan diri. Saya senang bahwa oleh karena situasinya tiap kali beda, saya juga diantar ke ide yang tadi saya belum punya. Saya suka sekali bikin karya open space karena banyak sekali tantangan. Kadang-kadang cahayanya jelek, kadang-kadang ini suka keramik, ini suka marmer....
Dalam sayembara Anda merasa didikte?
Saya tidak pernah merasa terhalang, saya malah dipaksa untuk berpikir lain dari jalur sehari-hari. Saya keluar dari rel, saya senang sekali.
Kata kuncinya keluar dari rel?
Ya, itu... (diam sejenak). Itu juga kadang-kadang terjadi karena ada bahan yang memaksa saya untuk berpikir lain. Pengalaman kemarin tidak berguna sama sekali untuk teknik itu. Saya bisa belajar sambil bekerja, bisa berubah, dan saya mengharapkan saya selalu berubah, tak pernah ulang.
Patung indoor lebih bebas?
Ya. Yang masih menghalangi ya bahan dan tekniknya.
Apakah di sini jauh lebih puas?
Sebetulnya saya jauh lebih puas kalau bekerja dalam lingkungan yang ditentukan oleh orang lain.... Saya ingin menemukan bentuk yang tadi saya tidak bisa bayangkan. Saya diantar ke sesuatu di luar saya. Saya bisa berubah, singkatnya.
(Rita Widagdo beberapa kali memenangi sayembara pembangunan patung open space di beberapa kota. Tahun 1972 ia memenangi kompetisi perancangan monumen di Slipi, Jakarta; tahun 1973 monumen youth center di Kuningan, Jakarta. Bahkan, tahun 2001, ia memenangi kompetisi patung monumental di Ancol, Jakarta.)
Dalam studi akademis ada pelajaran tentang teknik konstruksi?
Waktu saya di sekolah sebenarnya tidak sejauh itu. Tetapi, saya dua kali membantu profesor saya waktu beliau bikin patung besar. Di situ saya belajar.
Anda selalu memakai maket?
Ya. Saya tidak pernah datang dengan gambar. Dengan maket sebenarnya saya belajar sungguhan. Itu selalu saya bikin sendiri, saya tahu di mana harus dilas. Kalau maket selesai, saya siap untuk sebuah pekerjaan.... Prinsipnya, patung yang besar harus persis seperti maket, enggak ada kompromi. Paling bisa beda tiga sentimeter.
Untuk karya open space, kemampuan mematung itu hanya satu unsur saja?
Ya, di situ ada arsitektur dan teknik konstruksi. Ini tidak mudah. Saya harus punya tukang juga. Tukang-tukang saya sudah ikut 10-20 tahun. Mereka sudah mengerti bahasa saya.... Tahun-tahun pertama saya bekerja sendirian.
Patung di Slipi itu juga pakai insinyur?
Sudah. Saya pakai tukang, insinyur, kadang-kadang saya juga minta tolong kepada mahasiswa untuk kontrol bentuk. Sekarang saya sedang bikin karya yang cukup besar di tengah-tengah Jakarta..., sudah lima bulan kita kerja.
Di mana itu?
Ah, itu masih rahasia. Abstrak juga.
Waktu patung air di Slipi itu dibongkar, gimana perasaan Anda?
Saya tidak pernah mengatakan ini tidak boleh dipindahkan (Rita lalu minta ceritanya seputar pembongkaran patung Duta Wangsa di Slipi tidak ditulis. Patung berbahan aluminium setinggi delapan meter dengan aliran air itu mengolah bentuk-bentuk geometris yang mengesankan harmoni antara kelembutan dan ketegasan. Berdiri tahun 1973 dan dibongkar Pemda DKI Jakarta tahun 1987 dengan alasan pelebaran ruas jalan layang).
Anda tentu concern...
Saya hanya concern bahwa seni modern di Kota Jakarta belum diberi ruang yang layak. Saya setuju ada patung pahlawan, tetapi seharusnya juga ada yang modern. Saya punya satu di Semanggi, tetapi tertutup pohon-pohon. Itu aja enggak diurus. Ada punya Pak Sidharta.... Tetapi, kurang itu untuk kota sebesar ini.
Masih ada berapa titik yang bisa dipasangi patung?
Banyak. Kira-kira ada 10 titik. Tetapi, no follow up....
Apa yang diberikan patung (modern) kepada sebuah kota?
Sebetulnya setiap orang suka dengan sesuatu yang indah ya, sampai orang yang sederhana orang kecil. Kalau ada yang bagus, mereka suka. Di Palembang, setiap malam ada orang foto di situ (di sekitar patung karyanya). Ada yang dagang... lingkungan sekitar sana jadi hidup setelah ada patung. Ada sesuatu yang bagus, mereka kira-kira bisa menangkap sesuatu dari sebuah patung.... Umumnya mereka mengerti, oh ya itu bunga... atau ekor ikan paus....
Selain keindahan?
Tentu message, yang bisa ditangkap oleh siapa saja. Kalau ada patung kuda, ya semua orang bisa bilang itu kuda, tetapi berhenti sampai di situ. Kalau ada seperti sesuatu yang mekar, atau yang lain, orang merasakan ini, oh garis ini dinamis sekali, dan ini cukup sebagai message. Jadi di lingkungan ini ada tanda yang mewakili dinamika hidup. Nilai abstrak ini menjadi visual.
Studi sosial apa selalu dilakukan untuk meletakkan sebuah patung di sebuah kota tertentu?
Dalam hal ini sebetulnya hanya sejauh optimisme bahwa mereka akan bisa maju, mereka bisa berharap hidup besok bisa lebih baik, bisa berkembang, lambang optimisme sebenarnya. Ini kan sambung dengan siapa saja yang ada di Palembang.
(Patung di Palembang itu patung yang terbesar yang pernah dikerjakan Rita Widagdo. Diselesaikan di Bandung dengan sekitar 50 bagian dan disambung-sambung di Palembang. Patung itu tingginya 17,8 meter.)
Abstrak Anda selalu berangkat dari sesuatu yang nyata. Apakah itu berarti kemungkinan kita untuk menemukan sebuah kejutan jadi semakin kecil?
Ya ya.., tetapi acuan ini kan hanya menjadi titik berangkat. Kita justru berupaya keras dalam proses berkarya melepaskan diri dari wujud semula. Yang kita pertahankan karakternya. Katakanlah kita melihat buah mangga, bentuknya begitu perfect ada yang gendut, agak runcing, ada yang melengkung sedikit. Andai kata ada mahasiswa yang pegang mangga ini, dan dia ingin pindahkan mangga ini ke batu marmer, misalnya. Tetapi, dia tidak (boleh) bikin mangga besar dari batu, itu bodoh... dia harus cari akal lagi... apakah mangga ini dia ambil satu iris, ditambah daun, dia harus berupaya keras untuk menyembunyikan asal-usulnya. Dia harus tetap pertahankan plastisitasnya, kencengnya, dan lembutnya waktu dia mengecil menjadi runcing ya, sifat ini harus dipertahankan. Tetapi, bentuk akhir dari patung ini harus cukup jauh dari titik berangkat awalnya....
Faktor tak terduganya di mana?
Itu harus ada, itu tuntutan, penemuan sesuatu yang inovatif. Inovasi menjadi unsur utama di dalam menilai sebuah karya, berhasil atau tidak, harus ada sesuatu yang surprising, aneh, asing, di situ kreativitas seniman kelihatan. Dia harus original, tidak saja dengan orang lain, tetapi beda dengan karya yang kemarin. Seniman tidak boleh ulang.
Anda menghindari duplikasi?
Jangan sampai. Kita hanya tahu duplikasi dalam arti, satu patung dicor lima kali, tetapi itu harus selalu ditulis (misalnya) nomor dua dari seri lima. Kalau di perunggu memang agak biasa.... Kalau saya, umumnya single pieces....
Apakah seni modern akan terus bertahan, karena selalu harus terjadi pembaruan?
Seperti pendulum, dari abstrak kembali ke sekitar tahun 70-an, foto realisme. Kemungkinan besar 10 tahun (nanti) muncul lagi naturalisme. Sekarang lagi model instalasi...., tetapi nanti akan redup cari problem lagi....
Instalasi akan terus karena terkait problem sehari-hari?
Seni lain juga selalu berkaitan dengan manusia. Seni mengolah dunia manusia, pikiran, perasaan. Tidak mungkin salah satu aliran akan bertahan selama-lamanya. Ada periodenya. Ada satu problem yang diolah dipikirkan sampai habis. Kalau habis, ya cari problem lain. Dalam seni, tidak ada yang usang. Pada teknik, yang usang ditinggalkan.
Pendapat Anda tentang seni yang dimanfaatkan di luar konteks kesenian?
Seni jangan dipakai untuk sesuatu yang bukan seni. Harusnya seni tetap bebas. Jangan terlalu dibebani dengan pesan yang sebetulnya bisa diurus orang lain... boleh menunjuk pada problem yang ada, tetapi jangan ikut teriak-teriak. Seni harus menghadirkan bentuk visual yang positif yang optimistis.... Kadang-kadang saya iri dengan musik. Mereka bisa bebas dari segalanya.... Kalau lagu cengeng jangan disebut ya, ini bukan musik lagi.
Apa yang membuat sebuah karya dinilai baik?
Ah, that’s a big question.... Kita sering mengatakan ada bobotnya. Karya ini memberikan bobot, strength, ada power, meaningfull. Sebelum mengerti (sebuah karya) sudah ada kesan yang kuat.
Sebelum nalar bekerja, dia sudah "sampai"?
Ya, sudah ada itu. Ia komprehensif, sebelum kita menganalisa komprehensif, kita melihat ini oh... lalu kita analisa yang pertama ya bahannya, bentuknya, it’s mean atau meaning.... Ada orang yang macet hanya sampai di situ. Tetapi, umumnya justru di seni abstrak semua pengamat bisa bereaksi sendiri, justru tidak dibatasi. Dengan pengalaman batin mereka, mereka bisa artikan sendiri, ada freedom yang luar biasa dalam seni abstrak, ada celah... (untuk ditafsir).
Semua karya Anda itu perfect sekali ya. Itu taste pribadi atau semacam keharusan di dalam seni abstrak?
Ya, semua begitu. Tidak harus di dalam seni abstrak. Ini memang kepribadian saya. Saya ingin sekali paling sedikit di dalam setiap karya yang mendekati sempurna. Kalau di dalam kehidupan sehari-hari hampir tidak mungkin, kita berusaha keras tetapi ternyata jarang dapat hasil yang utuh. Tetapi, dalam karya saya bisa pikir dan pikir lagi sampai....
Itu yang membuat Anda selalu ketagihan bekerja?
Ehm, ya... kadang-kadang saya pikir apakah saya melarikan diri sesungguhnya di dalam seni, supaya dapat sesuatu yang lebih sempurna....
Boleh enggak disebutkan di dalam berkarya semua ada di tangan Anda, kalau hidup sehari-hari tidak?
Oh ya betul. Saya bertanggung jawab penuh, kalau gagal ya.... Tetapi, di patung tidak boleh gagal. Materialnya terlalu mahal. Saya enggak boleh salah potong. Satu lembar kuningan itu Rp 800 ribu. (Rita menunjuk sebuah karyanya yang menghabiskan biaya untuk bahan senilai Rp 26 juta). Jadi enggak boleh gagal.
Selama 30-an tahun mengajar, bagaimana membagi waktu dengan jadi seniman?
Saya berhasil karena pandai membagi waktu. Keluarga nomor satu, lalu karya saya, lalu mengajar. Saya berani mengajar karena saya berkarya. Kalau saya tidak berkarya, enggak boleh omong. Orang yang tidak berkarya mau bilang apa sama mahasiswanya. Pengalaman berkarya itu harus dibawa ke sekolah. Mahasiswa bisa tanya apa saja kepada saya.
Dosen seni harus seniman?
Saya kira ya, kecuali untuk sejarah seni, pengetahuan bahan.
Apa yang Anda amati dari para mahasiswa di sini?
Orang Indonesia terus terang pada umumnya lebih berbakat dibandingkan dengan orang lain. Kalau saya bayangkan dengan sekolah saya dulu (di Jerman), mahasiswa sini sangat berbakat. Tetapi, karena sangat berbakat, kadang-kadang terlalu easy going.... Itu masalah utama. Relatif mudah untuk mendapatkan yang baik, mereka tidak menuju ke yang lebih baik. Itu sering saya lihat dengan sedih hati (Rita bercerita ada lima orang mahasiswa yang sangat berbakat, tetapi akhirnya tidak jadi).
Karena apa ini?
Terlalu yakin. Yang lemah, yang susah, yang harus berjuang keras, kadang-kadang keluarkan ide yang jauh lebih istimewa. Jadi, kalau susah, malah bagus gitu ya. Nah, lalu kalau mereka sudah lulus umur 26 atau 27 mertua tanya, kamu bisa kasi makan anak saya? Mereka memilih untuk kerja apa saja. Lalu enggak pernah kembali lagi.
Kalau pelukis hanya perlu satu kanvas, sedikit cat, ruang kecil bisa kerja. Kalau pematung perlu berbagai mesin, ruang cukup besar, untuk start pematung itu sangat mahal sangat berat. Karena itu, dari sekian banyak mahasiswa yang sangat berbakat, hasil nyatanya sedikit. Banyak yang hilang karena tidak kuat memikul beban finansialnya. Harusnya ada kesempatan, misalnya Kota Bandung menyediakan satu gudang untuk mereka kerja, kalau bisa ada orang atau pabrik sumbang mesin-mesin.... Jadi, kelompok- kelompok seniman bisa bersama-sama gunakan itu. Mungkin akan lain hasilnya. Tetapi, tidak ada dukungan apa-apa....
Tetapi, jumlah anggota API (Asosiasi Pematung Indonesia) lebih dari seratus?
Ya ya, tetapi yang benar-benar bisa hidup dari pekerjaannya berapa? Sedikit sekali. Mereka banyak bekerja di bidang lain. Kalau saya tidak bikin publik space, saya tidak bisa mengongkosi karya saya. Tabungan saya selalu untuk patung, jarang saya bisa jual.
Apa selama ini Anda hidup dari mengajar?
Oh enggak, (dari) mengajar hanya untuk bayar sopir... he-he-he... (Rita lalu cerita beberapa kali ia mengerjakan patung public space yang sama sekali tidak mempertimbangkan fee. Ia bahkan beberapa kali harus mengeluarkan uang dari kantong pribadinya).
Tetapi, saya bekerja dengan sungguh-sungguh. Untuk saya, saya mau berkarya. Kalau ada uang, ya senang ya.... Selama tukang-tukang saya dibayar it’s okay... saya berusaha keras supaya tukang-tukang dapat kerjaan. Ada beberapa orang di belakang mereka. Saya punya tukang kira-kira 35 orang. Ini harus diurus duluan, baru saya memikirkan diri sendiri.
Artinya selalu harus ada proyek?
Seharusnya begitu. Kalau sampai satu bulan mereka menganggur, itu sudah susah.
Sumber : Kompas, Minggu, 24 April 2005
Pewawancara : Efix Mulyadi dan Putu Fajar Arcana
NAMA Rita Widagdo tak bisa dilepaskan dari kehadiran patung-patung modern abstrak di Indonesia. Oleh kritikus Sanento Yuliman (alm), Rita "dinobatkan" sebagai pematung yang pertama kali membawa seni patung abstrak, dalam pengertian tidak representasional, masuk ke Indonesia. Pamerannya bersama para seniman Bandung tahun 1966 di Balai Budaya Jakarta dianggap sebagai "kelahiran" patung abstrak "murni" dan terpampangnya masa depan baru seni ini di Tanah Air.
Selama kesibukannya sebagai akademisi di Institut Teknologi Bandung (ITB), nama Rita tak pernah dicatat secara gegap- gempita oleh media. Namanya hanya dikaitkan dengan sejumlah karya open space-nya di beberapa sudut Kota Jakarta. Pamerannya di Galeri Nasional Jakarta 15-25 April 2005 dalam judul Rita Widagdo Marking the 1965-2005 Journey menunjukkan bahwa ia tak pernah berhenti berkarya.
Perempuan dengan nama asli Rita Wizemann ini lahir 26 November 1938 di Rottweil, Jerman. Setelah menikah dengan Profesor Widagdo yang belajar desain interior di Jerman, ia lebih populer dengan nama Rita Widagdo dan mengikuti suaminya yang pulang ke Indonesia. Keluarga ini dikaruniai dua anak lelaki, yaitu Marc Wasistha dan Paul Gunawan. Rita menempuh pendidikan di Sttatliche Akademie del Bildenden Kunste, Stuttgart, Jerman, sekolah seni yang dikenal dengan metode pendidikan membangun inisiatif para mahasiswanya.
Berikut perbincangan dengan Rita Widagdo sesaat sebelum pembukaan pamerannya.
Abstrak itu seperti apa?
Abstrak selalu mulai dari sesuatu, mesti ada titik berangkat. Dan, titik berangkat ini sering sekali sesuatu yang nyata. Tetapi, dari sesuatu yang nyata ini, kita berusaha keras untuk lepaskan penampilan realistik ini dan maju ke sesuatu yang hanya asosiatif saja dengan asal- usulnya. Tidak meniru lagi, tetapi ambil beberapa sifat esensial saja.
Abstraksi itu mencari sari pati?
Ya. Sifat khasnya. Sebenarnya begitu. Ada juga pengertian abstraksi yang memanfaatkan unsur geometrik, misalnya. Ada yang mulai dari bola yang dipotong atau piramid yang dibelah, dibuka. Itu juga abstrak, itu abstrak murni. Kalau saya, sebenarnya masih ada kaitan dengan sesuatu yang nyata. Tetapi, diolah, dibawa dalam renungan agak lama sampai yang tersisa yang paling tipikal.
Semacam "gen" makhluk hidup? Nanti wujudnya bisa macam-macam?
Ya. Cukup bebas ya. Bisa saja asal-usulnya sama, tetapi yang keluar bisa begini atau begini, jadi satu tema, katakanlah soal famili ya nanti akan keluar beberapa varian, sama benar, sama juga ngambil intinya, tetapi mungkin hari ini dan esok beda.
Apakah mungkin sebuah karya dengan ide yang sama oleh seniman yang sama menjadi karya-karya yang berbeda?
Ehm, tidak bisa jauh sekali karena dalam hal patung untuk open space yang sangat ikut menentukan adalah lingkungan itu sendiri... patung ini (secara umum) harus bisa dilihat dari semua sudut. Dan, kalau patung yang bagus, dari setiap sudut dia lain. Tetapi, dalam keseluruhan, karakternya tetap sama.
Ide awal seperti apa lahirnya? Anda pernah mengikuti sayembara, itu kan dipicu orang lain?
Ya, kalau yang ini (menunjuk salah satu karyanya yang dipamerkan di Galeri Nasional), semuanya dari diri sendiri. Tetapi, kalau saya masuk ke lingkungan arsitektur atau lingkungan kota, saya tidak bebas, saya malah mulai dari membaca lingkungan untuk menyesuaikan diri. Saya senang bahwa oleh karena situasinya tiap kali beda, saya juga diantar ke ide yang tadi saya belum punya. Saya suka sekali bikin karya open space karena banyak sekali tantangan. Kadang-kadang cahayanya jelek, kadang-kadang ini suka keramik, ini suka marmer....
Dalam sayembara Anda merasa didikte?
Saya tidak pernah merasa terhalang, saya malah dipaksa untuk berpikir lain dari jalur sehari-hari. Saya keluar dari rel, saya senang sekali.
Kata kuncinya keluar dari rel?
Ya, itu... (diam sejenak). Itu juga kadang-kadang terjadi karena ada bahan yang memaksa saya untuk berpikir lain. Pengalaman kemarin tidak berguna sama sekali untuk teknik itu. Saya bisa belajar sambil bekerja, bisa berubah, dan saya mengharapkan saya selalu berubah, tak pernah ulang.
Patung indoor lebih bebas?
Ya. Yang masih menghalangi ya bahan dan tekniknya.
Apakah di sini jauh lebih puas?
Sebetulnya saya jauh lebih puas kalau bekerja dalam lingkungan yang ditentukan oleh orang lain.... Saya ingin menemukan bentuk yang tadi saya tidak bisa bayangkan. Saya diantar ke sesuatu di luar saya. Saya bisa berubah, singkatnya.
(Rita Widagdo beberapa kali memenangi sayembara pembangunan patung open space di beberapa kota. Tahun 1972 ia memenangi kompetisi perancangan monumen di Slipi, Jakarta; tahun 1973 monumen youth center di Kuningan, Jakarta. Bahkan, tahun 2001, ia memenangi kompetisi patung monumental di Ancol, Jakarta.)
Dalam studi akademis ada pelajaran tentang teknik konstruksi?
Waktu saya di sekolah sebenarnya tidak sejauh itu. Tetapi, saya dua kali membantu profesor saya waktu beliau bikin patung besar. Di situ saya belajar.
Anda selalu memakai maket?
Ya. Saya tidak pernah datang dengan gambar. Dengan maket sebenarnya saya belajar sungguhan. Itu selalu saya bikin sendiri, saya tahu di mana harus dilas. Kalau maket selesai, saya siap untuk sebuah pekerjaan.... Prinsipnya, patung yang besar harus persis seperti maket, enggak ada kompromi. Paling bisa beda tiga sentimeter.
Untuk karya open space, kemampuan mematung itu hanya satu unsur saja?
Ya, di situ ada arsitektur dan teknik konstruksi. Ini tidak mudah. Saya harus punya tukang juga. Tukang-tukang saya sudah ikut 10-20 tahun. Mereka sudah mengerti bahasa saya.... Tahun-tahun pertama saya bekerja sendirian.
Patung di Slipi itu juga pakai insinyur?
Sudah. Saya pakai tukang, insinyur, kadang-kadang saya juga minta tolong kepada mahasiswa untuk kontrol bentuk. Sekarang saya sedang bikin karya yang cukup besar di tengah-tengah Jakarta..., sudah lima bulan kita kerja.
Di mana itu?
Ah, itu masih rahasia. Abstrak juga.
Waktu patung air di Slipi itu dibongkar, gimana perasaan Anda?
Saya tidak pernah mengatakan ini tidak boleh dipindahkan (Rita lalu minta ceritanya seputar pembongkaran patung Duta Wangsa di Slipi tidak ditulis. Patung berbahan aluminium setinggi delapan meter dengan aliran air itu mengolah bentuk-bentuk geometris yang mengesankan harmoni antara kelembutan dan ketegasan. Berdiri tahun 1973 dan dibongkar Pemda DKI Jakarta tahun 1987 dengan alasan pelebaran ruas jalan layang).
Anda tentu concern...
Saya hanya concern bahwa seni modern di Kota Jakarta belum diberi ruang yang layak. Saya setuju ada patung pahlawan, tetapi seharusnya juga ada yang modern. Saya punya satu di Semanggi, tetapi tertutup pohon-pohon. Itu aja enggak diurus. Ada punya Pak Sidharta.... Tetapi, kurang itu untuk kota sebesar ini.
Masih ada berapa titik yang bisa dipasangi patung?
Banyak. Kira-kira ada 10 titik. Tetapi, no follow up....
Apa yang diberikan patung (modern) kepada sebuah kota?
Sebetulnya setiap orang suka dengan sesuatu yang indah ya, sampai orang yang sederhana orang kecil. Kalau ada yang bagus, mereka suka. Di Palembang, setiap malam ada orang foto di situ (di sekitar patung karyanya). Ada yang dagang... lingkungan sekitar sana jadi hidup setelah ada patung. Ada sesuatu yang bagus, mereka kira-kira bisa menangkap sesuatu dari sebuah patung.... Umumnya mereka mengerti, oh ya itu bunga... atau ekor ikan paus....
Selain keindahan?
Tentu message, yang bisa ditangkap oleh siapa saja. Kalau ada patung kuda, ya semua orang bisa bilang itu kuda, tetapi berhenti sampai di situ. Kalau ada seperti sesuatu yang mekar, atau yang lain, orang merasakan ini, oh garis ini dinamis sekali, dan ini cukup sebagai message. Jadi di lingkungan ini ada tanda yang mewakili dinamika hidup. Nilai abstrak ini menjadi visual.
Studi sosial apa selalu dilakukan untuk meletakkan sebuah patung di sebuah kota tertentu?
Dalam hal ini sebetulnya hanya sejauh optimisme bahwa mereka akan bisa maju, mereka bisa berharap hidup besok bisa lebih baik, bisa berkembang, lambang optimisme sebenarnya. Ini kan sambung dengan siapa saja yang ada di Palembang.
(Patung di Palembang itu patung yang terbesar yang pernah dikerjakan Rita Widagdo. Diselesaikan di Bandung dengan sekitar 50 bagian dan disambung-sambung di Palembang. Patung itu tingginya 17,8 meter.)
Abstrak Anda selalu berangkat dari sesuatu yang nyata. Apakah itu berarti kemungkinan kita untuk menemukan sebuah kejutan jadi semakin kecil?
Ya ya.., tetapi acuan ini kan hanya menjadi titik berangkat. Kita justru berupaya keras dalam proses berkarya melepaskan diri dari wujud semula. Yang kita pertahankan karakternya. Katakanlah kita melihat buah mangga, bentuknya begitu perfect ada yang gendut, agak runcing, ada yang melengkung sedikit. Andai kata ada mahasiswa yang pegang mangga ini, dan dia ingin pindahkan mangga ini ke batu marmer, misalnya. Tetapi, dia tidak (boleh) bikin mangga besar dari batu, itu bodoh... dia harus cari akal lagi... apakah mangga ini dia ambil satu iris, ditambah daun, dia harus berupaya keras untuk menyembunyikan asal-usulnya. Dia harus tetap pertahankan plastisitasnya, kencengnya, dan lembutnya waktu dia mengecil menjadi runcing ya, sifat ini harus dipertahankan. Tetapi, bentuk akhir dari patung ini harus cukup jauh dari titik berangkat awalnya....
Faktor tak terduganya di mana?
Itu harus ada, itu tuntutan, penemuan sesuatu yang inovatif. Inovasi menjadi unsur utama di dalam menilai sebuah karya, berhasil atau tidak, harus ada sesuatu yang surprising, aneh, asing, di situ kreativitas seniman kelihatan. Dia harus original, tidak saja dengan orang lain, tetapi beda dengan karya yang kemarin. Seniman tidak boleh ulang.
Anda menghindari duplikasi?
Jangan sampai. Kita hanya tahu duplikasi dalam arti, satu patung dicor lima kali, tetapi itu harus selalu ditulis (misalnya) nomor dua dari seri lima. Kalau di perunggu memang agak biasa.... Kalau saya, umumnya single pieces....
Apakah seni modern akan terus bertahan, karena selalu harus terjadi pembaruan?
Seperti pendulum, dari abstrak kembali ke sekitar tahun 70-an, foto realisme. Kemungkinan besar 10 tahun (nanti) muncul lagi naturalisme. Sekarang lagi model instalasi...., tetapi nanti akan redup cari problem lagi....
Instalasi akan terus karena terkait problem sehari-hari?
Seni lain juga selalu berkaitan dengan manusia. Seni mengolah dunia manusia, pikiran, perasaan. Tidak mungkin salah satu aliran akan bertahan selama-lamanya. Ada periodenya. Ada satu problem yang diolah dipikirkan sampai habis. Kalau habis, ya cari problem lain. Dalam seni, tidak ada yang usang. Pada teknik, yang usang ditinggalkan.
Pendapat Anda tentang seni yang dimanfaatkan di luar konteks kesenian?
Seni jangan dipakai untuk sesuatu yang bukan seni. Harusnya seni tetap bebas. Jangan terlalu dibebani dengan pesan yang sebetulnya bisa diurus orang lain... boleh menunjuk pada problem yang ada, tetapi jangan ikut teriak-teriak. Seni harus menghadirkan bentuk visual yang positif yang optimistis.... Kadang-kadang saya iri dengan musik. Mereka bisa bebas dari segalanya.... Kalau lagu cengeng jangan disebut ya, ini bukan musik lagi.
Apa yang membuat sebuah karya dinilai baik?
Ah, that’s a big question.... Kita sering mengatakan ada bobotnya. Karya ini memberikan bobot, strength, ada power, meaningfull. Sebelum mengerti (sebuah karya) sudah ada kesan yang kuat.
Sebelum nalar bekerja, dia sudah "sampai"?
Ya, sudah ada itu. Ia komprehensif, sebelum kita menganalisa komprehensif, kita melihat ini oh... lalu kita analisa yang pertama ya bahannya, bentuknya, it’s mean atau meaning.... Ada orang yang macet hanya sampai di situ. Tetapi, umumnya justru di seni abstrak semua pengamat bisa bereaksi sendiri, justru tidak dibatasi. Dengan pengalaman batin mereka, mereka bisa artikan sendiri, ada freedom yang luar biasa dalam seni abstrak, ada celah... (untuk ditafsir).
Semua karya Anda itu perfect sekali ya. Itu taste pribadi atau semacam keharusan di dalam seni abstrak?
Ya, semua begitu. Tidak harus di dalam seni abstrak. Ini memang kepribadian saya. Saya ingin sekali paling sedikit di dalam setiap karya yang mendekati sempurna. Kalau di dalam kehidupan sehari-hari hampir tidak mungkin, kita berusaha keras tetapi ternyata jarang dapat hasil yang utuh. Tetapi, dalam karya saya bisa pikir dan pikir lagi sampai....
Itu yang membuat Anda selalu ketagihan bekerja?
Ehm, ya... kadang-kadang saya pikir apakah saya melarikan diri sesungguhnya di dalam seni, supaya dapat sesuatu yang lebih sempurna....
Boleh enggak disebutkan di dalam berkarya semua ada di tangan Anda, kalau hidup sehari-hari tidak?
Oh ya betul. Saya bertanggung jawab penuh, kalau gagal ya.... Tetapi, di patung tidak boleh gagal. Materialnya terlalu mahal. Saya enggak boleh salah potong. Satu lembar kuningan itu Rp 800 ribu. (Rita menunjuk sebuah karyanya yang menghabiskan biaya untuk bahan senilai Rp 26 juta). Jadi enggak boleh gagal.
Selama 30-an tahun mengajar, bagaimana membagi waktu dengan jadi seniman?
Saya berhasil karena pandai membagi waktu. Keluarga nomor satu, lalu karya saya, lalu mengajar. Saya berani mengajar karena saya berkarya. Kalau saya tidak berkarya, enggak boleh omong. Orang yang tidak berkarya mau bilang apa sama mahasiswanya. Pengalaman berkarya itu harus dibawa ke sekolah. Mahasiswa bisa tanya apa saja kepada saya.
Dosen seni harus seniman?
Saya kira ya, kecuali untuk sejarah seni, pengetahuan bahan.
Apa yang Anda amati dari para mahasiswa di sini?
Orang Indonesia terus terang pada umumnya lebih berbakat dibandingkan dengan orang lain. Kalau saya bayangkan dengan sekolah saya dulu (di Jerman), mahasiswa sini sangat berbakat. Tetapi, karena sangat berbakat, kadang-kadang terlalu easy going.... Itu masalah utama. Relatif mudah untuk mendapatkan yang baik, mereka tidak menuju ke yang lebih baik. Itu sering saya lihat dengan sedih hati (Rita bercerita ada lima orang mahasiswa yang sangat berbakat, tetapi akhirnya tidak jadi).
Karena apa ini?
Terlalu yakin. Yang lemah, yang susah, yang harus berjuang keras, kadang-kadang keluarkan ide yang jauh lebih istimewa. Jadi, kalau susah, malah bagus gitu ya. Nah, lalu kalau mereka sudah lulus umur 26 atau 27 mertua tanya, kamu bisa kasi makan anak saya? Mereka memilih untuk kerja apa saja. Lalu enggak pernah kembali lagi.
Kalau pelukis hanya perlu satu kanvas, sedikit cat, ruang kecil bisa kerja. Kalau pematung perlu berbagai mesin, ruang cukup besar, untuk start pematung itu sangat mahal sangat berat. Karena itu, dari sekian banyak mahasiswa yang sangat berbakat, hasil nyatanya sedikit. Banyak yang hilang karena tidak kuat memikul beban finansialnya. Harusnya ada kesempatan, misalnya Kota Bandung menyediakan satu gudang untuk mereka kerja, kalau bisa ada orang atau pabrik sumbang mesin-mesin.... Jadi, kelompok- kelompok seniman bisa bersama-sama gunakan itu. Mungkin akan lain hasilnya. Tetapi, tidak ada dukungan apa-apa....
Tetapi, jumlah anggota API (Asosiasi Pematung Indonesia) lebih dari seratus?
Ya ya, tetapi yang benar-benar bisa hidup dari pekerjaannya berapa? Sedikit sekali. Mereka banyak bekerja di bidang lain. Kalau saya tidak bikin publik space, saya tidak bisa mengongkosi karya saya. Tabungan saya selalu untuk patung, jarang saya bisa jual.
Apa selama ini Anda hidup dari mengajar?
Oh enggak, (dari) mengajar hanya untuk bayar sopir... he-he-he... (Rita lalu cerita beberapa kali ia mengerjakan patung public space yang sama sekali tidak mempertimbangkan fee. Ia bahkan beberapa kali harus mengeluarkan uang dari kantong pribadinya).
Tetapi, saya bekerja dengan sungguh-sungguh. Untuk saya, saya mau berkarya. Kalau ada uang, ya senang ya.... Selama tukang-tukang saya dibayar it’s okay... saya berusaha keras supaya tukang-tukang dapat kerjaan. Ada beberapa orang di belakang mereka. Saya punya tukang kira-kira 35 orang. Ini harus diurus duluan, baru saya memikirkan diri sendiri.
Artinya selalu harus ada proyek?
Seharusnya begitu. Kalau sampai satu bulan mereka menganggur, itu sudah susah.
Sumber : Kompas, Minggu, 24 April 2005
Felicitas Rudiyanto Asapa : Felicitas dan Razia Orang Sakit
Felicitas dan Razia Orang Sakit
Oleh : Andi Suruji
ORANG miskin sekabupaten mendapat pelayanan kesehatan gratis hanya omong kosong? Tidak. Pemerintah Daerah Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, telah membuktikannya. Badan Pelaksana Jaminan Kesehatan Daerah Sinjai benar-benar menggratiskan pelayanan kesehatan masyarakat miskin yang jumlahnya sekitar 30 persen dari 276.000 jiwa total populasi.
DI balik kerja itu adalah dr Felicitas Rudiyanto Asapa (46). Dialah Kepala Badan Pelaksana Jaminan Kesehatan Daerah (Bapel Jamkesda), yang juga Direktur Rumah Sakit Sinjai, sejak tahun 1999.
Dengan subsidi Rp 1,9 miliar dari pemda, Jamkesda Sinjai mampu melayani penduduknya tanpa biaya sepeser pun pada tahun 2004. Mulai dari fasilitas rawat inap puskesmas pembantu sampai rumah sakit tipe D, jasa dokter, obat, laboratorium, radiologi, rontgen, ruang rawat intensif. Sementara daerah lain baru memberikan pelayanan gratis sampai puskesmas.
Pengalaman mengabdi sebagai Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat Galesong Utara, daerah tertinggal di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, selama sembilan tahun sebelumnya membuat dia prihatin akan kondisi masyarakat dalam hal kesehatan. "Tidak orang miskin, tidak kaya, semua mengeluh biaya pengobatan mahal. Ini yang memotivasi saya, bagaimana supaya orang yang berobat itu membayar murah," kata ibu dua anak ini.
NIAT baik nan tulus memang sering kali mendapat dengan kemudahan. Tak pernah dibayangkan bahwa suaminya, Andi Rudiyanto Asapa, yang pengacara terkemuka di Makassar, kelak terpilih menjadi Bupati Sinjai, Agustus 2003. Maka program yang diyakini dr Sita, panggilan akrabnya, sangat besar manfaatnya untuk masyarakat miskin itu diterima pemda.
Program pun langsung dijalankan setelah terbit SK Bupati sebagai landasan hukum operasional Bapel Jamkesda. Pengelolanya tidak banyak, hanya 16 orang. Sita sebagai kepalanya, sekretarisnya dari lembaga swadaya masyarakat (LSM), dibantu empat kepala biro (biro keuangan untuk membayar klaim, biro umum mengatur administrasi, pelayanan medis mengecek pelayanan rumah sakit dan puskesmas, serta biro verifikasi mengecek harga obat, ketepatan dosis), dan sejumlah staf.
Dalam struktur organisasi Jamkesda ada pula dewan pengawas dari kalangan DPR, pemimpin tradisional masyarakat, LSM, dan dinas kesehatan. Bupati hanya pembina.
Sesuai dengan proposal, hanya dibutuhkan Rp 3 miliar untuk membuat orang miskin di daerah itu bisa berobat gratis. Berani, sebab Pendapatan Asli Daerah Sinjai tahun 2003 hanya Rp 7 miliar. "Tahun pertama dana yang terpakai cuma Rp 1,9 miliar. Sebenarnya kalau ada kemauan, derajat kesehatan orang miskin itu bisa mudah kita perbaiki," ujar Sita.
Manfaatnya besar sekali. Masyarakat miskin menjadi lebih sehat, produktivitas kerja dan kesejahteraannya meningkat karena mereka bisa bekerja lebih baik. "Kalau pendapatan per kapita masyarakat Sinjai secara keseluruhan tahun 2004 meningkat signifikan, ya di situ adalah kontribusi dokter, perawat, dan pegawai kesehatan," ujar Sita.
AWALNYA tidak mudah meyakinkan semua pihak bahwa pengobatan gratis bagi orang miskin itu bisa diselenggarakan. Kalangan anggota DPRD pun banyak yang sangsi. Berbagai cara dan media digunakan. Dari Bupati, DPR, aparat kesehatan, guru mengaji, sampai ceramah di masjid. Hasilnya tidak memuaskan karena masyarakat skeptis.
"Sampai-sampai dilakukan razia. Orang sakit dirazia di rumahnya, diangkut ke rumah sakit untuk berobat. Kak Rudi (Bupati-Red) sempat didemo. Masyarakat bilang orang sakit pun ditangkapi, gila Pak Bupati. Ha-ha-ha…," Sita tertawa mengenang "perjuangan" itu.
Ternyata cara ini membuahkan sukses. Setelah orang sakit yang dirazia itu pulang ke rumahnya, berceritalah mereka kepada tetangga dan kerabatnya bahwa ia dirawat sampai sembuh dan tanpa biaya sepeser pun. "Alhamdulillah… promosi dari mulut ke mulut inilah yang sangat berguna," ujarnya.
Awalnya tidak ada perbedaan antara orang miskin dan yang bukan. Siapa saja bisa mengambil kartu miskin sebagai "paspor" untuk berobat gratis. Yang kaya pun kalau mau ambil kartu miskin (seperti kartu tanda penduduk dengan foto) boleh, tetapi kartunya distempel kata-kata "miskin".
"Dua atau tiga kali saja datang berobat menggunakan kartu bercap miskin, sudah malu dia. Akhirnya banyak yang minta supaya kartu miskin itu ditukar dengan kartu tanpa cap miskin. Membayarlah mereka," ujar Sita diiringi tawa.
Kini orang yang tidak tergolong miskin pun hanya membayar iuran Rp 10.000 per keluarga setiap bulan ke Bapel Jamkesda. Dengan iuran itu, berapa pun anggota keluarganya harus dilayani. Sementara orang yang memang benar-benar miskin tetap gratis. Tidak ada perbedaan pelayanan.
Cara pengawasannya dibuat sistem agar semua pihak yang terlibat saling mengontrol. Puskesmas dan rumah sakit membuat klaim yang diteken pasien, dan petugas Bapel Jamkesda mengecek ke lapangan sebelum membayar. Jadi tidak ada kongkalikong.
"Manajemennya terbuka, siapa saja bisa mengetahui aliran masuk dan keluar dana, mengontrol, termasuk pemeriksaan dari Tim Percepatan Pemberantasan Korupsi yang sudah dibentuk," ujar Sita.
DENGAN niat baik dan tulus, serta adanya sistem yang andal, memang banyak hal kreatif dapat dilakukan pemda untuk kesejahteraan masyarakat. Kalau semakin banyak orang mampu dan mau membayar iuran, kelak program ini bisa mandiri. Pemda tidak perlu lagi mengucurkan subsidi.
Kini keberadaan Bapel Jamkesda sudah ditetapkan dengan peraturan daerah. Eksistensinya semakin mengakar. Ke depan, harap Sita, sembari berupaya meningkatkan kapasitas rumah sakit tipe D yang baru 30 tempat tidur itu untuk bisa menampung 200 pasien serta menambah peralatan, pihaknya berupaya mendatangkan dokter-dokter ahli dari Makassar untuk melakukan operasi di Sinjai.
"Cuma kami kerepotan juga sekarang karena banyak sekali tamu yang datang untuk studi banding. Pemda kedodoran menjamu mereka karena acap kali didampingi pejabatnya," ujar Pak Bupati. (Andi Suruji)
Sumber : Kompas, Rabu, 11 Mei 2005
Oleh : Andi Suruji
ORANG miskin sekabupaten mendapat pelayanan kesehatan gratis hanya omong kosong? Tidak. Pemerintah Daerah Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, telah membuktikannya. Badan Pelaksana Jaminan Kesehatan Daerah Sinjai benar-benar menggratiskan pelayanan kesehatan masyarakat miskin yang jumlahnya sekitar 30 persen dari 276.000 jiwa total populasi.
DI balik kerja itu adalah dr Felicitas Rudiyanto Asapa (46). Dialah Kepala Badan Pelaksana Jaminan Kesehatan Daerah (Bapel Jamkesda), yang juga Direktur Rumah Sakit Sinjai, sejak tahun 1999.
Dengan subsidi Rp 1,9 miliar dari pemda, Jamkesda Sinjai mampu melayani penduduknya tanpa biaya sepeser pun pada tahun 2004. Mulai dari fasilitas rawat inap puskesmas pembantu sampai rumah sakit tipe D, jasa dokter, obat, laboratorium, radiologi, rontgen, ruang rawat intensif. Sementara daerah lain baru memberikan pelayanan gratis sampai puskesmas.
Pengalaman mengabdi sebagai Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat Galesong Utara, daerah tertinggal di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, selama sembilan tahun sebelumnya membuat dia prihatin akan kondisi masyarakat dalam hal kesehatan. "Tidak orang miskin, tidak kaya, semua mengeluh biaya pengobatan mahal. Ini yang memotivasi saya, bagaimana supaya orang yang berobat itu membayar murah," kata ibu dua anak ini.
NIAT baik nan tulus memang sering kali mendapat dengan kemudahan. Tak pernah dibayangkan bahwa suaminya, Andi Rudiyanto Asapa, yang pengacara terkemuka di Makassar, kelak terpilih menjadi Bupati Sinjai, Agustus 2003. Maka program yang diyakini dr Sita, panggilan akrabnya, sangat besar manfaatnya untuk masyarakat miskin itu diterima pemda.
Program pun langsung dijalankan setelah terbit SK Bupati sebagai landasan hukum operasional Bapel Jamkesda. Pengelolanya tidak banyak, hanya 16 orang. Sita sebagai kepalanya, sekretarisnya dari lembaga swadaya masyarakat (LSM), dibantu empat kepala biro (biro keuangan untuk membayar klaim, biro umum mengatur administrasi, pelayanan medis mengecek pelayanan rumah sakit dan puskesmas, serta biro verifikasi mengecek harga obat, ketepatan dosis), dan sejumlah staf.
Dalam struktur organisasi Jamkesda ada pula dewan pengawas dari kalangan DPR, pemimpin tradisional masyarakat, LSM, dan dinas kesehatan. Bupati hanya pembina.
Sesuai dengan proposal, hanya dibutuhkan Rp 3 miliar untuk membuat orang miskin di daerah itu bisa berobat gratis. Berani, sebab Pendapatan Asli Daerah Sinjai tahun 2003 hanya Rp 7 miliar. "Tahun pertama dana yang terpakai cuma Rp 1,9 miliar. Sebenarnya kalau ada kemauan, derajat kesehatan orang miskin itu bisa mudah kita perbaiki," ujar Sita.
Manfaatnya besar sekali. Masyarakat miskin menjadi lebih sehat, produktivitas kerja dan kesejahteraannya meningkat karena mereka bisa bekerja lebih baik. "Kalau pendapatan per kapita masyarakat Sinjai secara keseluruhan tahun 2004 meningkat signifikan, ya di situ adalah kontribusi dokter, perawat, dan pegawai kesehatan," ujar Sita.
AWALNYA tidak mudah meyakinkan semua pihak bahwa pengobatan gratis bagi orang miskin itu bisa diselenggarakan. Kalangan anggota DPRD pun banyak yang sangsi. Berbagai cara dan media digunakan. Dari Bupati, DPR, aparat kesehatan, guru mengaji, sampai ceramah di masjid. Hasilnya tidak memuaskan karena masyarakat skeptis.
"Sampai-sampai dilakukan razia. Orang sakit dirazia di rumahnya, diangkut ke rumah sakit untuk berobat. Kak Rudi (Bupati-Red) sempat didemo. Masyarakat bilang orang sakit pun ditangkapi, gila Pak Bupati. Ha-ha-ha…," Sita tertawa mengenang "perjuangan" itu.
Ternyata cara ini membuahkan sukses. Setelah orang sakit yang dirazia itu pulang ke rumahnya, berceritalah mereka kepada tetangga dan kerabatnya bahwa ia dirawat sampai sembuh dan tanpa biaya sepeser pun. "Alhamdulillah… promosi dari mulut ke mulut inilah yang sangat berguna," ujarnya.
Awalnya tidak ada perbedaan antara orang miskin dan yang bukan. Siapa saja bisa mengambil kartu miskin sebagai "paspor" untuk berobat gratis. Yang kaya pun kalau mau ambil kartu miskin (seperti kartu tanda penduduk dengan foto) boleh, tetapi kartunya distempel kata-kata "miskin".
"Dua atau tiga kali saja datang berobat menggunakan kartu bercap miskin, sudah malu dia. Akhirnya banyak yang minta supaya kartu miskin itu ditukar dengan kartu tanpa cap miskin. Membayarlah mereka," ujar Sita diiringi tawa.
Kini orang yang tidak tergolong miskin pun hanya membayar iuran Rp 10.000 per keluarga setiap bulan ke Bapel Jamkesda. Dengan iuran itu, berapa pun anggota keluarganya harus dilayani. Sementara orang yang memang benar-benar miskin tetap gratis. Tidak ada perbedaan pelayanan.
Cara pengawasannya dibuat sistem agar semua pihak yang terlibat saling mengontrol. Puskesmas dan rumah sakit membuat klaim yang diteken pasien, dan petugas Bapel Jamkesda mengecek ke lapangan sebelum membayar. Jadi tidak ada kongkalikong.
"Manajemennya terbuka, siapa saja bisa mengetahui aliran masuk dan keluar dana, mengontrol, termasuk pemeriksaan dari Tim Percepatan Pemberantasan Korupsi yang sudah dibentuk," ujar Sita.
DENGAN niat baik dan tulus, serta adanya sistem yang andal, memang banyak hal kreatif dapat dilakukan pemda untuk kesejahteraan masyarakat. Kalau semakin banyak orang mampu dan mau membayar iuran, kelak program ini bisa mandiri. Pemda tidak perlu lagi mengucurkan subsidi.
Kini keberadaan Bapel Jamkesda sudah ditetapkan dengan peraturan daerah. Eksistensinya semakin mengakar. Ke depan, harap Sita, sembari berupaya meningkatkan kapasitas rumah sakit tipe D yang baru 30 tempat tidur itu untuk bisa menampung 200 pasien serta menambah peralatan, pihaknya berupaya mendatangkan dokter-dokter ahli dari Makassar untuk melakukan operasi di Sinjai.
"Cuma kami kerepotan juga sekarang karena banyak sekali tamu yang datang untuk studi banding. Pemda kedodoran menjamu mereka karena acap kali didampingi pejabatnya," ujar Pak Bupati. (Andi Suruji)
Sumber : Kompas, Rabu, 11 Mei 2005
Robert Manurung, Memerdekan Desa dari Ketergantungan BBM
Dr Robert Manurung, Memerdekakan Desa dari Ketergantungan BBM
Oleh : Y09 dan Ninuk M Pambudy
HARGA minyak bumi yang terus berkisar pada angka 50 dollar AS per barrel menyebabkan Indonesia yang importir neto minyak bumi kerepotan. Subsidi bahan bakar dicabut tanpa pemerintah sebelumnya mempersiapkan masyarakat dengan teknologi yang dapat memerdekakan mereka dari ketergantungan pada bahan bakar minyak fosil (BBM).
DALAM situasi seperti itu, keteguhan Dr Ir Robert Manurung MEng (50), Lektor Kepala Departemen Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), untuk konsisten meneliti pirolisa biomassa-usaha mencairkan bahan bakar padat (biomassa) secara termal untuk menghasilkan bahan bakar cair, gas yang bisa terbakar, dan padatan berupa arang-seperti cahaya terang di ujung terowongan. Ketekunannya berangkat dari pemikiran bagaimana membuat potensi alam Indonesia menjadi berkah yang berguna untuk masyarakatnya.
PENELITIANNYA dengan jarak pagar (Jatropha curcas L) memperlihatkan secara teknologi sederhana dan ekonomis memungkinkan mengutip minyak jarak untuk menggantikan solar. Prospek hasil penelitian ini jelas: masyarakat desa dapat mengadakan minyak jarak dan menggunakannya untuk membangkitkan listrik memakai mesin generator kecil (genset).
Penelitian minyak jarak dilakukan laki-laki kelahiran Onan Ganjang, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, itu sejak tahun 1997 bersama teman-temannya di ITB dengan fokus pengutipan (ekstraksi) minyak kelapa dan jarak. Sayangnya, penelitian tersebut dianggap tidak menarik oleh pemberi dana sehingga dana Hibah Bersaing yang awalnya dianggarkan tiga tahun hanya diberikan untuk dua tahun.
“Padahal, rancangan ekstraksi itu sempat dipamerkan tahun 1998 di Istana Negara karena juga dapat dipakai mengutip minyak kelapa untuk mengatasi kelangkaan minyak goreng saat itu," papar Manurung.
Pada periode itu, Manurung yang menyelesaikan S-1-nya di Teknik Kimia ITB, S-2 di Technology Asian Institute of Technology (Bangkok) dan S-3 di Rijksuniversiteit Groningen (RuG, Belanda) ini mendalami struktur berbagai minyak tumbuhan. Sayangnya, dia gagal mendapat dana Riset Unggulan Terpadu karena dianggap tidak relevan. Yang tertarik membiayainya justru RuG, Belanda.
“Penelitian yang diperlukan bukan lagi pada minyak jaraknya karena minyaknya dapat digunakan langsung sebagai bio-diesel tanpa campuran metanol atau bahan lain, tetapi bagaimana mengutip minyak itu seefisein mungkin. Yang lebih penting lagi, bagaimana memanfaatkan limbah padatannya," papar Manurung yang tengah meneliti pengutipan minyak dari limbah jarak untuk mendapat pengganti minyak tanah, bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengkajian Teknologi.
KETERTARIKAN Manurung pada pirolisa dipicu pengalamannya di kampung. Sampai usia 14 tahun sebelum melanjutkan pendidikan SMA ke Bandung tahun 1970, Manurung dan saudara-saudara lelakinya harus mencari kayu bakar untuk digunakan ibunya memasak.
“Sekembali dari luar negeri di kampung kami BBM bukan lagi barang mewah, tetapi di berbagai pelosok Indonesia apa yang saya rasakan 30-40 tahun lalu di kampung masih mereka alami. Padahal, saya sudah menjelajah berbagai negeri turut mengembangkan teknologi limbah pertanian menjadi energi," kata ayah Christy Sondang Nauli (8), Efraim Partogi Nahotasi (6), dan Gamaliel Adaran Nadiuarihon (4) dari pernikahannya dengan Desi Indira Chaer yang juga lulusan Teknik Kimia ITB.
Sejak belum lulus dari ITB, pada tahun 1977 Manurung sudah dilibatkan Prof Dr Saswinadi Samojo dalam penelitian bahan bakar terbarukan yaitu pirolisa sekam padi. Pada tahun 1976, ITB berkerja sama dengan TH Twente dan TH Delft, (keduanya dari Belanda), dalam penelitian energi baru dari biomassa melalui proses gasifikasi.
Dalam kerja sama TH Twente-ITB, Prof Dr Ir AACM Beenackers tahun 1982 mengunjungi ITB untuk menjajagi pengembangan gasifikasi sekam padi skala kecil. Dalam sebuah desertasi doktor di Jerman dikatakan, karena sifat fisik sekam padi dan kandungan silikanya yang tinggi tidak mungkin gasifikasi dibuat dalam skala kecil.
Di depan tamunya Manurung mengambil potongan seng. Dengan meniru tungku sekam padi di pedesaan Yogyakarta, tiga jam kemudian alat yang dimodifikasi dengan menambah penyalur udara dan kompresor serta berisolasi itu siap. Manurung mendapat biaya penelitian doktor dan dia dipromosikan di Rijksuniversiteit Groningen pada tahun 1993.
“Promosi itu menjadi kenangan indah pertama sebagai peneliti karena yang saya katakan 10 tahun sebelumnya terbukti kebenarannya secara ilmiah dalam desertasi doktor saya," papar Manurung yang langsung mendapat kesempatan melanjutkan penelitian post-doctoral selama setahun di Massachusetts Institute of Technology (MIT) di AS.
SEPULANG dari MIT dia terobsesi pada penelitian pirolisis minyak tumbuhan karena teknologi saat itu memungkinkan pengutipan sampai 70 persen berat biomassa serta penggunaannya menggantikan BBM.
Karena itu ketika Mitsubishi Research Institute (Miri) dan New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) dari Jepang mengajak bekerja sama, Manurung menekankan penggunaan langsung minyak jarak tanpa campuran bahan lain dan pengolahan lebih lanjut limbahnya. Tahun depan, dia optimis teknologi pengutipan minyak jarak ini dapat disebarkan ke masyarakat.
Jarak dipilih karena bisa tumbuh di tanah tandus. Kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, serta sejumlah pesantren di Jawa Barat memperlihatkan produktivitas buah sampai 30 kg/pohon/tahun sehingga keekonomisan juga bisa dicapai.
“Menariknya, ada rekan yang tidak percaya, ada pesimis, tetapi ada juga yang mengatakan “nothing new". Nothing is perfect di dunia. Karena itu perlu penelitian dan pengembangan lebih jauh," kata staf ahli bidang keahlian energi baru Himpunan Kerukunan Tani Indonesia ini.
Namun, dengan memulai teknologi yang memungkinkan penggunaan langsung minyak jarak menggantikan solar ada misi memerdekakan masyarakat pedesaan dari ketergantung BBM sehingga mereka dapat subsiten dalam energi dan itu memberi dampak ikutan yaitu air bersih, tumbuhnya ekonomi perdesaan, dan kesejahteraan masyarakat desa. (y09/Ninuk M Pambudy)
Sumber : Kompas, Kamis, 12 Mei 2005
Oleh : Y09 dan Ninuk M Pambudy
HARGA minyak bumi yang terus berkisar pada angka 50 dollar AS per barrel menyebabkan Indonesia yang importir neto minyak bumi kerepotan. Subsidi bahan bakar dicabut tanpa pemerintah sebelumnya mempersiapkan masyarakat dengan teknologi yang dapat memerdekakan mereka dari ketergantungan pada bahan bakar minyak fosil (BBM).
DALAM situasi seperti itu, keteguhan Dr Ir Robert Manurung MEng (50), Lektor Kepala Departemen Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), untuk konsisten meneliti pirolisa biomassa-usaha mencairkan bahan bakar padat (biomassa) secara termal untuk menghasilkan bahan bakar cair, gas yang bisa terbakar, dan padatan berupa arang-seperti cahaya terang di ujung terowongan. Ketekunannya berangkat dari pemikiran bagaimana membuat potensi alam Indonesia menjadi berkah yang berguna untuk masyarakatnya.
PENELITIANNYA dengan jarak pagar (Jatropha curcas L) memperlihatkan secara teknologi sederhana dan ekonomis memungkinkan mengutip minyak jarak untuk menggantikan solar. Prospek hasil penelitian ini jelas: masyarakat desa dapat mengadakan minyak jarak dan menggunakannya untuk membangkitkan listrik memakai mesin generator kecil (genset).
Penelitian minyak jarak dilakukan laki-laki kelahiran Onan Ganjang, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, itu sejak tahun 1997 bersama teman-temannya di ITB dengan fokus pengutipan (ekstraksi) minyak kelapa dan jarak. Sayangnya, penelitian tersebut dianggap tidak menarik oleh pemberi dana sehingga dana Hibah Bersaing yang awalnya dianggarkan tiga tahun hanya diberikan untuk dua tahun.
“Padahal, rancangan ekstraksi itu sempat dipamerkan tahun 1998 di Istana Negara karena juga dapat dipakai mengutip minyak kelapa untuk mengatasi kelangkaan minyak goreng saat itu," papar Manurung.
Pada periode itu, Manurung yang menyelesaikan S-1-nya di Teknik Kimia ITB, S-2 di Technology Asian Institute of Technology (Bangkok) dan S-3 di Rijksuniversiteit Groningen (RuG, Belanda) ini mendalami struktur berbagai minyak tumbuhan. Sayangnya, dia gagal mendapat dana Riset Unggulan Terpadu karena dianggap tidak relevan. Yang tertarik membiayainya justru RuG, Belanda.
“Penelitian yang diperlukan bukan lagi pada minyak jaraknya karena minyaknya dapat digunakan langsung sebagai bio-diesel tanpa campuran metanol atau bahan lain, tetapi bagaimana mengutip minyak itu seefisein mungkin. Yang lebih penting lagi, bagaimana memanfaatkan limbah padatannya," papar Manurung yang tengah meneliti pengutipan minyak dari limbah jarak untuk mendapat pengganti minyak tanah, bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengkajian Teknologi.
KETERTARIKAN Manurung pada pirolisa dipicu pengalamannya di kampung. Sampai usia 14 tahun sebelum melanjutkan pendidikan SMA ke Bandung tahun 1970, Manurung dan saudara-saudara lelakinya harus mencari kayu bakar untuk digunakan ibunya memasak.
“Sekembali dari luar negeri di kampung kami BBM bukan lagi barang mewah, tetapi di berbagai pelosok Indonesia apa yang saya rasakan 30-40 tahun lalu di kampung masih mereka alami. Padahal, saya sudah menjelajah berbagai negeri turut mengembangkan teknologi limbah pertanian menjadi energi," kata ayah Christy Sondang Nauli (8), Efraim Partogi Nahotasi (6), dan Gamaliel Adaran Nadiuarihon (4) dari pernikahannya dengan Desi Indira Chaer yang juga lulusan Teknik Kimia ITB.
Sejak belum lulus dari ITB, pada tahun 1977 Manurung sudah dilibatkan Prof Dr Saswinadi Samojo dalam penelitian bahan bakar terbarukan yaitu pirolisa sekam padi. Pada tahun 1976, ITB berkerja sama dengan TH Twente dan TH Delft, (keduanya dari Belanda), dalam penelitian energi baru dari biomassa melalui proses gasifikasi.
Dalam kerja sama TH Twente-ITB, Prof Dr Ir AACM Beenackers tahun 1982 mengunjungi ITB untuk menjajagi pengembangan gasifikasi sekam padi skala kecil. Dalam sebuah desertasi doktor di Jerman dikatakan, karena sifat fisik sekam padi dan kandungan silikanya yang tinggi tidak mungkin gasifikasi dibuat dalam skala kecil.
Di depan tamunya Manurung mengambil potongan seng. Dengan meniru tungku sekam padi di pedesaan Yogyakarta, tiga jam kemudian alat yang dimodifikasi dengan menambah penyalur udara dan kompresor serta berisolasi itu siap. Manurung mendapat biaya penelitian doktor dan dia dipromosikan di Rijksuniversiteit Groningen pada tahun 1993.
“Promosi itu menjadi kenangan indah pertama sebagai peneliti karena yang saya katakan 10 tahun sebelumnya terbukti kebenarannya secara ilmiah dalam desertasi doktor saya," papar Manurung yang langsung mendapat kesempatan melanjutkan penelitian post-doctoral selama setahun di Massachusetts Institute of Technology (MIT) di AS.
SEPULANG dari MIT dia terobsesi pada penelitian pirolisis minyak tumbuhan karena teknologi saat itu memungkinkan pengutipan sampai 70 persen berat biomassa serta penggunaannya menggantikan BBM.
Karena itu ketika Mitsubishi Research Institute (Miri) dan New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) dari Jepang mengajak bekerja sama, Manurung menekankan penggunaan langsung minyak jarak tanpa campuran bahan lain dan pengolahan lebih lanjut limbahnya. Tahun depan, dia optimis teknologi pengutipan minyak jarak ini dapat disebarkan ke masyarakat.
Jarak dipilih karena bisa tumbuh di tanah tandus. Kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat, serta sejumlah pesantren di Jawa Barat memperlihatkan produktivitas buah sampai 30 kg/pohon/tahun sehingga keekonomisan juga bisa dicapai.
“Menariknya, ada rekan yang tidak percaya, ada pesimis, tetapi ada juga yang mengatakan “nothing new". Nothing is perfect di dunia. Karena itu perlu penelitian dan pengembangan lebih jauh," kata staf ahli bidang keahlian energi baru Himpunan Kerukunan Tani Indonesia ini.
Namun, dengan memulai teknologi yang memungkinkan penggunaan langsung minyak jarak menggantikan solar ada misi memerdekakan masyarakat pedesaan dari ketergantung BBM sehingga mereka dapat subsiten dalam energi dan itu memberi dampak ikutan yaitu air bersih, tumbuhnya ekonomi perdesaan, dan kesejahteraan masyarakat desa. (y09/Ninuk M Pambudy)
Sumber : Kompas, Kamis, 12 Mei 2005
Muslikun, Ahmad, PArjono, Sulipin, Maftuhin, Rohmat, dan Sumali : Toedjoeh Koeli Djawa di Tanah Rentjong
Toedjoeh Koeli Djawa di Tanah Rentjong
Oleh : Samiaji Bintang
TELEPON berdering di rumah Muslikun di Dusun Tirem. Ketika itu Senin siang di akhir bulan Maret. Sebagian besar warga sibuk bekerja di ladang, tetapi Muslikun memilih istirahat di rumah.
Bapak dua anak ini belum genap sepekan pulang kampung. Selama berbulan-bulan dia jadi tukang batu dan kuli bangunan di Jakarta. Anaknya yang bungsu juga turut mengadu nasib di ibukota republik itu, jadi buruh konveksi di Pejagalan, Jakarta Utara.
Dusun Tirem terletak di kecamatan Mbrati, Grobogan, Jawa Tengah. Tirem bukan dusun yang kaya sumberdaya alam. Tak banyak aktivitas ekonomi yang berkembang di situ. Sebagian anak muda memilih pergi ke kota-kota besar di Jawa, macam Semarang, Surabaya, atau Jakarta. Mereka yang tinggal di kampung umumnya bekerja sebagai buruh tani.
“Muslikun, kamu mau berangkat ke Aceh ndak?” tanya lelaki di seberang sana.
Lelaki itu tetangga dan sahabat Muslikun. Namanya, Marzuki. Dia sudah beberapa hari berada di Aceh. Marzuki menjadi kuli bangunan untuk proyek pemukiman korban tsunami.
“Kalau kamu ndak kerja, kamu ndak punya modal. Ngapain kamu di kampung?” desak Marzuki di telepon.
Marzuki kemudian mengungkap nikmatnya pengalaman jadi kuli di daerah yang porak-poranda dilanda tsunami itu. Jika memilih menjadi tukang, upah bersih sehari Rp 45 ribu. Lembur sampai jam 10 malam, dihitung kerja sehari. Jadi dalam sehari kerja, dari pagi hingga malam, sudah bisa mengantongi uang Rp 90 ribu.
Mendengar cerita Marzuki, Muslikun segera membayangkan bakal kerja enak di Aceh. Bak kalkulator, otaknya segera menghitung jumlah uang yang didapat dalam sebulan kerja: Rp 2,7 juta. Nilai ini belum pernah didapat Muslikun selama sebulan jadi kuli bangunan di Pulo Gadung, Slipi, Cililitan, Grogol, Bintaro atau tempat lain di Jakarta.
“Iya, aku mau ke sana,” sahut Muslikun.
Hari itu juga Muslikun mengundang beberapa tetangga untuk berkumpul di rumahnya. Agenda utama pertemuan tersebut adalah membahas tawaran Marzuki. Perhitungan upah yang bakal diterima juga diungkap. Empat belas tamu datang, termasuk Ahmad, Sulipin, Sumali, Parjono, Rohmat dan Maftuhin. Sulipin peserta rapat termuda. Usianya belum 20.
Kesimpulan rapat hari itu sudah bulat. Mereka sepakat menyusul Marzuki ke Serambi Mekkah.
Namun, ganjalan lain masih ada. Pasalnya, tiap orang harus menyediakan sendiri ongkos pesawat. Minimal Rp 1 juta per orang.
“Saya terpaksa gadaikan BPKB motor bebek saya untuk ongkos,” kisah Muslikun kepada saya. Selain itu, dia juga merasa beruntung, karena sempat menabung ketika jadi kuli di Jakarta. Surat kepemilikan kendaraan dihargai Rp 1,5 juta. Sebanyak satu juta digunakan buat ongkos ke Aceh. Sisanya untuk keluarga di rumah selama ia tinggalkan.
“Kalau saya terpaksa pinjam duit di bank BRI,” ujar Ahmad.
Parjono menempuh cara lain, “Saya keliling cari pinjaman ke teman-teman tetangga.”
Sulipin, Maftuhin, Rohmat, dan Sumali melakukan hal serupa, mulai dari pinjam ke teman sampai ke bank.
Kini masalah ongkos beres. Tujuh orang positif berangkat. Perbekalan pun disiapkan. Hari Kamis, selang tiga hari setelah rapat di rumah Muslikun, mereka naik bus dari terminal bus Purwodadi ke Jakarta. Jumat tujuh lelaki itu tiba di Jakarta. Ongkos mereka selanjutnya hanya cukup untuk beli tiket pesawat.
“Kami numpang menginap semalam di rumah teman, dan cari pinjaman ke teman-teman di Jakarta,” tutur Sumali.
Nasib mereka mujur. Pinjaman segera diperoleh. Sabtu pagi di awal April, mereka berangkat dari bandar udara Soekarno-Hatta menuju Aceh.
BAYANGAN bakal kerja enak, upah lembur tinggi, dan gaji lancar pupus begitu tiga pekan bekerja di PT BJM, sebuah subkontraktor lokal yang membangun pemukiman korban tsunami di daerah Bitai, Banda Aceh. Saat saya menanyakan nama lengkap perusahaan tersebut, tak seorang pun dari mereka yang tahu! Upah yang semula dijanjikan bakal dibayar tiap dua pekan sekali pada hari Selasa ternyata omong kosong.
“Mundur terus, kata orang BJM dimundurkan jadi Jumat. Pas hari Jumat, bilangnya Selasa. Selasa-Jumat, begitu terus,” ungkap Ahmad.
Parjono menimpali, “Memang dapat makan. Tapi gaji kami ndak dibayar.”
“Rombongan kami tidak ada yang dibayar. Saya mandornya di BJM. Sebelum terlalu banyak persoalan di situ, saya dan teman-teman langsung kabur dari situ,” kata Muslikun.
Kendati ada surat perjanjian kerja, itu tak menjamin para kuli bangunan akan menerima haknya sesuai isi perjanjian.
“Saya langsung sobek-sobek. Saya jengkel, buat apa (surat perjanjian) itu… Kami merasa dibohongi.” Dahi Muslikun berkerut. Ujung-ujung alisnya ikut naik.
Tujuh kuli itu pun memilih angkat kaki dari bedeng tempat mereka menginap ketimbang bekerja tanpa upah.
Soal subkontraktor nakal juga dikeluhkan Syaiful. Dia kepala tukang alias mandor proyek untuk pembangunan tepi pembatas jalan di ruas jalan Lampeneureut, Aceh Besar. Di samping itu Syaiful bersama sejumlah anak buahnya juga tengah menyelesaikan beberapa unit rumah bantuan.
Meski antara sesama orang Aceh, tidak berarti bebas dari kecurangan. Syaiful asli Aceh, kelahiran Banda Aceh. Dia kemudian menguraikan modus yang jamak dilakukan, “Jika pemborong A dapat proyek, dia akan cari sub lagi. Lalu kasih tawaran harga proyek lebih rendah dari yang dia dapat sebelumnya ke pemborong B. Ujung-ujungnya upah yang di bawah sampai ke kuli jadi ikut rendah. Padahal kebutuhan hidup di Aceh sudah makin mahal. Makanya saya tidak mau menerima tawaran kalau harga penyelesaian per unitnya sudah di bawah standar.”
Menurut Syaiful, harga standar penyelesaian satu unit rumah senilai Rp 15 juta. Namun angka itu masih bisa ditawar hingga Rp 12 juta. Di bawah angka tadi, jangan harap kehidupan layak bisa didapat para kuli.
“Tapi ada kontraktor dari Medan atau dari Jawa yang berani memasang harga Rp 8 juta. Kulinya diambil dari Jawa. Mereka pikir biaya hidup di Aceh sama dengan di Jawa, yang sepiring nasi bisa dapat Rp 3.000?”
Hendra, mandor yang saya temui di Lampuuk, Aceh Besar, membenarkan adanya pemborong curang. Untuk menjamin kesejahteraan anak buahnya yang umumnya orang Jawa kelahiran Medan, Hendra selalu meminta surat perjanjian, lengkap dengan alamat jelas masing-masing pihak.
“Biar jelas. Kalau ada apa-apa masing-masing bisa menuntut,” katanya.
Muslikun dan kawan-kawan sudah jadi korban. Tapi tujuh kuli itu tak putus asa. Mereka segera melamar ke Waskita Karya, kontraktor pelat merah alias Badan Usaha Milik Negara, yang membangun pemukiman dengan dana Turkish Red Cross Society.
Waskita Karya tengah membutuhkan banyak kuli bangunan. Mereka memperoleh proyek miliaran rupiah untuk membangun ratusan unit rumah. Di Bitai, Banda Aceh, mereka menggarap 350 unit rumah tipe 45. Total anggaran lebih dari Rp 30 miliar. Di Lampuuk, Aceh Besar, Waskita Karya kebagian mengerjakan 200 unit rumah bertipe sama. Pembangunan rumah-rumah itu juga didanai Turkish Red Cross Society. Beberapa waktu lalu, Waskita Karya pernah masuk daftar hitam Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi Aceh-Nias, karena jumlah rumah yang dibangun jauh di bawah target dan tenggat waktu. Padahal dana sudah keburu diberikan.
LAMPUUK adalah satu dari ratusan kampung yang paling parah dilanda tsunami. Ratusan rumah rata tanah, kecuali Masjid Rahmatullah yang memiliki tiang dan pondasi kokoh. Letak gampong ini sekitar satu kilometer dari pantai.
Ratusan pekerja tampak sibuk. Rencananya akan dibangun 700 unit rumah tipe 45 di sini. Rumah yang sudah selesai dibangun 200 unit. Sisanya akan dikerjakan subkontraktor Waskita Karya.
Seperti juga di Bitai, rata-rata kuli dari Jawa. Waskita sengaja memilih kuli dari Jawa. Mereka mendatangkan secara khusus kuli-kuli asal Jawa Tengah, Jawa Timur, Jakarta, hingga Jawa Barat. Sebanyak 400 orang. Di Bitai, lebih banyak lagi, 1.500 orang. Para kuli secara bertahap dipulangkan begitu target unit rumah dipenuhi.
“Pertama karena kemauan kerja. Mereka lebih bisa dipacu, karena mereka ‘kan kerja di rantau. Kalau yang lokal, mereka ‘kan bisa cepat pulang setelah bekerja, apa yang bisa dipacu. Kedua karena ketrampilan mereka sedikit di atas daripada orang lokal,” ujar Muchdir Arrys kepada saya. Muchdir kepala lapangan Waskita Karya untuk proyek pemukiman di Lampuuk.
“Tapi itu bukan berarti kami tidak mementingkan orang lokal. Kami juga mempekerjakan orang lokal kok,” lanjutnya.
Bukan hanya Waskita yang mengirim kuli dari Jawa untuk proyek di Lampuuk. Beberapa kontraktor di Lampuuk juga mempekerjakan kuli Jawa. Bedanya, kuli-kuli itu didatangkan dari Medan, Sumatera Utara.
Meski lahir dan hidup di Medan, nenek moyang mereka dari Jawa. Marsidi, contohnya. Lelaki 36 tahun yang kini bekerja di PT Kuala Batee Ind itu punya orangtua asli Wonosobo, Jawa Tengah. Di Medan dia sempat bekerja sebagai buruh tani. Namun penghasilan buruh tani amat rendah. Itu sebabnya Marsidi mengangguk saja ketika ada teman yang menawarinya kerja di Aceh.
Contoh lain, Priadi, 19 tahun. Nenek, kakek hingga paman dan bibi pemuda yang baru lulus sekolah menengah atas di Medan ini berasal dari Ponorogo, Jawa Timur.
Mereka juga masih menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari. Akibatnya, kawasan Lampuuk tak ubah perkampungan orang Jawa.
Mereka tinggal di bedeng-bedeng berdinding anyaman rumbia, beratap seng. Ada juga yang berdinding tripleks. Beberapa. Atap seng membuat terik matahari siang bakal “merebus” siapa pun yang berada dalam bangunan itu.
Luas bedeng sekitar 6 x 4 meter persegi. Daya tampung satu bedeng bisa mencapai 20 orang, seperti bedeng yang dihuni Marsidi. Baju, celana, dan handuk bergelantungan di seluruh dinding!
“Kalau tidur, ya jempol jumpa jempol.” Marsidi terkekeh. Belum lagi keringat beradu keringat, pikir saya.
Muslikun dan enam kawannya juga merasakan kondisi yang sama di Bitai. Baru beberapa hari ini mereka memilih pindah dari bedeng ke rumah yang hampir selesai dibangun. Alasan mereka, bedeng itu dihuni terlalu banyak orang. Jarak bedeng ke tempat kerja pun lumayan jauh.
Meski berada di bangunan yang lebih baik, tujuh kuli itu tetap tidur dengan alas seadanya, seperti tikar plastik, tripleks, terpal, atau kardus bekas.
Ketika malam datang, yang ada cuma gelap. Letak warung cukup jauh dari tempat mereka menginap. Jika mereka lapar, maka terpaksa masak sendiri ketimbang pergi ke warung.
Program berhemat dijalankan. Ongkos berangkat ke Aceh yang dihimpun dengan cara berutang kiri-kanan itu belum lunas. Bahkan, di hari Minggu atau hari libur mereka tetap bekerja untuk mengumpulkan uang lebih banyak agar utang terbayar.
“Kalau libur ya rugi. Kalau ndak sakit, ya lebih baik kerja saja. Buat apa libur, sudah datang jauh-jauh, ya rugi tho,” kata Muslikun, dengan logat Jawa Tengahan yang kental.
Mereka benar-benar seperti pekerja rodi atau kuli kontrak Jawa di masa penjajahan Belanda. Bedanya, mereka dibayar dan bekerja tak kenal waktu atas keinginan sendiri.
“Kalau di Waskita sudah tidak ada kerja, kita mau cari di tempat lain. Rencananya mau Lebaran baru kami pulang ke Jawa, setelah duit terkumpul.” Muslikun mengungkap impiannya.
PADA 1863, kapal Josephine melego jangkar di pelabuhan Sumatra Timur. Kapal itu mengangkut ratusan kuli kontrak asal Jawa yang didatangkan Jacobus Nienhuijs. Dia pengusaha Belanda yang membuka perkebunan tembakau di Deli.
Keharuman tembakau Deli sudah tersohor di pasar Eropa. Nienhuijs berencana memperluas lahan kebunnya agar produksi tembakau Deli bertambah dan menghasilkan keuntungan berlipat ganda.
Semula Nienhuijs hanya memakai tenaga orang Tionghoa dari Penang yang disebut laukeh. Tapi kemudian dia juga mempekerjakan puluhan kuli harian asal Melayu.
Pasokan kuli dari Tiongkok tersendat, ketika pemerintah negeri itu mempersulit warganya ke Deli. Di lain pihak, pemerintah Inggris di India juga mengajukan berbagai syarat bagi pekerja Tamil yang hendak ke Deli. Namun, calo buruh kebun di Penang dan Singapura tak kekurangan akal. Mereka mendatangkan kuli ke Deli, dengan dalih hendak mempekerjakan mereka di Johor.
Bagi tuan-tuan kebun, penduduk setempat, seperti orang Melayu dan Karo, dianggap tidak cocok jadi kuli. Mereka suka melawan.
“Tenaga kuli bangsa-bangsa Sumatera tidak laku dan tidak diterima di Deli, sebab mereka tidak patuh dan taat seperti kuli-kuli kontrak Jawa. Begitu pula mereka meminta gaji lebih dari kuli-kuli Jawa. Jika kuli-kuli Jawa tidak mau bekerja, mereka akan dimasukkan dalam penjara, siapa yang membantu mereka untuk lari akan dikenakan hukuman juga,” ungkap Nienhuijs dalam Oos-Indische Spiegel, yang terbit di Amsterdam pada 1876.
Istilah resmi Koelie-Ordonnantie atau Contract-Koelie yang disebut juga kuli kontrak muncul pada 1889. Aturan ini hanya berlaku bagi kuli asal luar negeri (Tiongkok dan Tamil) serta orang Indonesia dari luar Sumatra Timur. Karena itu jumlah kuli asal Jawa terus bertambah setelah Nienhuijs membawa mereka ke Deli. Jumlah tersebut mengalahkan jumlah buruh kebun asal Tiongkok dan Tamil.
Kata “koelie” diperkirakan berasal dari bahasa Inggris “cooli” yang mengadopsi kata “kuli” dari bahasa Tamil, yang artinya orang upahan untuk pekerjaan kasar. Kuli kontrak adalah sebutan bagi orang-orang miskin di Jawa yang kemudian mengikatkan diri pada perjanjian kerja. Tapi hidup yang mereka dapat di kebun jauh dari sejahtera. Banyak yang menderita berkepanjangan. Dalam Capitalism and Confrontation in Sumatra's Plantation Belt 1870-1979, Ann Laura Stoler menulis, “kuli adalah binatang yang harus dijinakkan, karena kuli adalah modern slavery.” Kuli sama dengan budak!
Saat perkebunan tembakau beralih ke karet pada 1926, kuli kontrak laki-laki Jawa terus bertambah hingga berjumlah 142.000 orang, sedangkan buruh perempuan asal Jawa 52.400 orang. Menurut catatan pemerintah Belanda, pada tahun 1920 jumlah orang Jawa di Sumatra Timur mencapai 353.551 orang, melebihi jumlah orang Melayu yang tercatat 285.553 orang.
Sama seperti kuli-kuli Jawa di Aceh masa kini, para kuli kebun ini pun tinggal di bedeng-bedeng. Tak sedikit yang disiksa dengan kejam ketika terjadi perkelahian atau pemberontakan atau pembunuhan di kebun. Sejarah masa lalu terus berlanjut. Pulau Jawa tak hanya pusat kekuasaan, melainkan juga pulau pemasok kuli atau orang upahan terbesar sampai ke milenium ini.
SENJA turun di Lampuuk awal Juni lalu. Pertanda gelap bakal menyelimuti perkampungan kuli. Saya mendengar dentam house music dari deretan warung.
Sebagian warung sudah menyalakan televisi dan memacak antena parabola yang akan menayangkan pertandingan sepak bola di ajang Piala Dunia di Jerman. Siaran itu menjadi obat lelah ratusan kuli di malam hari. Tapi tontonan tadi baru bisa disaksikan selepas sholat Isya.
“Sejak Maghrib sampai Isya, tidak ada warung yang buka. Setelah itu baru ada tontonan bola,” kata Hendra, salah seorang mandor.
Sebaliknya di Bitai, ketujuh kuli asal tanah Jawa tak banyak menikmati gempita Piala Dunia yang disaksikan jutaan pemirsa. Lewat jam 10 malam, mereka memilih mendekam di bangunan yang belum selesai. Beristirahat setelah lembur.
“Capek Mas,” kata Ahmad. Sulipin malah sudah rebah di lantai.
“Warung yang punya TV juga sudah tutup. Jadi mendingan istirahat saja. Besok ‘kan mesti kerja lagi,” imbuh Muslikun, sebelum saya berpamitan.
*) Samiaji Bintang adalah kontributor Aceh Feature di Banda Aceh.
Sumber : Aceh Feature, 27 Juni 2006
Oleh : Samiaji Bintang
TELEPON berdering di rumah Muslikun di Dusun Tirem. Ketika itu Senin siang di akhir bulan Maret. Sebagian besar warga sibuk bekerja di ladang, tetapi Muslikun memilih istirahat di rumah.
Bapak dua anak ini belum genap sepekan pulang kampung. Selama berbulan-bulan dia jadi tukang batu dan kuli bangunan di Jakarta. Anaknya yang bungsu juga turut mengadu nasib di ibukota republik itu, jadi buruh konveksi di Pejagalan, Jakarta Utara.
Dusun Tirem terletak di kecamatan Mbrati, Grobogan, Jawa Tengah. Tirem bukan dusun yang kaya sumberdaya alam. Tak banyak aktivitas ekonomi yang berkembang di situ. Sebagian anak muda memilih pergi ke kota-kota besar di Jawa, macam Semarang, Surabaya, atau Jakarta. Mereka yang tinggal di kampung umumnya bekerja sebagai buruh tani.
“Muslikun, kamu mau berangkat ke Aceh ndak?” tanya lelaki di seberang sana.
Lelaki itu tetangga dan sahabat Muslikun. Namanya, Marzuki. Dia sudah beberapa hari berada di Aceh. Marzuki menjadi kuli bangunan untuk proyek pemukiman korban tsunami.
“Kalau kamu ndak kerja, kamu ndak punya modal. Ngapain kamu di kampung?” desak Marzuki di telepon.
Marzuki kemudian mengungkap nikmatnya pengalaman jadi kuli di daerah yang porak-poranda dilanda tsunami itu. Jika memilih menjadi tukang, upah bersih sehari Rp 45 ribu. Lembur sampai jam 10 malam, dihitung kerja sehari. Jadi dalam sehari kerja, dari pagi hingga malam, sudah bisa mengantongi uang Rp 90 ribu.
Mendengar cerita Marzuki, Muslikun segera membayangkan bakal kerja enak di Aceh. Bak kalkulator, otaknya segera menghitung jumlah uang yang didapat dalam sebulan kerja: Rp 2,7 juta. Nilai ini belum pernah didapat Muslikun selama sebulan jadi kuli bangunan di Pulo Gadung, Slipi, Cililitan, Grogol, Bintaro atau tempat lain di Jakarta.
“Iya, aku mau ke sana,” sahut Muslikun.
Hari itu juga Muslikun mengundang beberapa tetangga untuk berkumpul di rumahnya. Agenda utama pertemuan tersebut adalah membahas tawaran Marzuki. Perhitungan upah yang bakal diterima juga diungkap. Empat belas tamu datang, termasuk Ahmad, Sulipin, Sumali, Parjono, Rohmat dan Maftuhin. Sulipin peserta rapat termuda. Usianya belum 20.
Kesimpulan rapat hari itu sudah bulat. Mereka sepakat menyusul Marzuki ke Serambi Mekkah.
Namun, ganjalan lain masih ada. Pasalnya, tiap orang harus menyediakan sendiri ongkos pesawat. Minimal Rp 1 juta per orang.
“Saya terpaksa gadaikan BPKB motor bebek saya untuk ongkos,” kisah Muslikun kepada saya. Selain itu, dia juga merasa beruntung, karena sempat menabung ketika jadi kuli di Jakarta. Surat kepemilikan kendaraan dihargai Rp 1,5 juta. Sebanyak satu juta digunakan buat ongkos ke Aceh. Sisanya untuk keluarga di rumah selama ia tinggalkan.
“Kalau saya terpaksa pinjam duit di bank BRI,” ujar Ahmad.
Parjono menempuh cara lain, “Saya keliling cari pinjaman ke teman-teman tetangga.”
Sulipin, Maftuhin, Rohmat, dan Sumali melakukan hal serupa, mulai dari pinjam ke teman sampai ke bank.
Kini masalah ongkos beres. Tujuh orang positif berangkat. Perbekalan pun disiapkan. Hari Kamis, selang tiga hari setelah rapat di rumah Muslikun, mereka naik bus dari terminal bus Purwodadi ke Jakarta. Jumat tujuh lelaki itu tiba di Jakarta. Ongkos mereka selanjutnya hanya cukup untuk beli tiket pesawat.
“Kami numpang menginap semalam di rumah teman, dan cari pinjaman ke teman-teman di Jakarta,” tutur Sumali.
Nasib mereka mujur. Pinjaman segera diperoleh. Sabtu pagi di awal April, mereka berangkat dari bandar udara Soekarno-Hatta menuju Aceh.
BAYANGAN bakal kerja enak, upah lembur tinggi, dan gaji lancar pupus begitu tiga pekan bekerja di PT BJM, sebuah subkontraktor lokal yang membangun pemukiman korban tsunami di daerah Bitai, Banda Aceh. Saat saya menanyakan nama lengkap perusahaan tersebut, tak seorang pun dari mereka yang tahu! Upah yang semula dijanjikan bakal dibayar tiap dua pekan sekali pada hari Selasa ternyata omong kosong.
“Mundur terus, kata orang BJM dimundurkan jadi Jumat. Pas hari Jumat, bilangnya Selasa. Selasa-Jumat, begitu terus,” ungkap Ahmad.
Parjono menimpali, “Memang dapat makan. Tapi gaji kami ndak dibayar.”
“Rombongan kami tidak ada yang dibayar. Saya mandornya di BJM. Sebelum terlalu banyak persoalan di situ, saya dan teman-teman langsung kabur dari situ,” kata Muslikun.
Kendati ada surat perjanjian kerja, itu tak menjamin para kuli bangunan akan menerima haknya sesuai isi perjanjian.
“Saya langsung sobek-sobek. Saya jengkel, buat apa (surat perjanjian) itu… Kami merasa dibohongi.” Dahi Muslikun berkerut. Ujung-ujung alisnya ikut naik.
Tujuh kuli itu pun memilih angkat kaki dari bedeng tempat mereka menginap ketimbang bekerja tanpa upah.
Soal subkontraktor nakal juga dikeluhkan Syaiful. Dia kepala tukang alias mandor proyek untuk pembangunan tepi pembatas jalan di ruas jalan Lampeneureut, Aceh Besar. Di samping itu Syaiful bersama sejumlah anak buahnya juga tengah menyelesaikan beberapa unit rumah bantuan.
Meski antara sesama orang Aceh, tidak berarti bebas dari kecurangan. Syaiful asli Aceh, kelahiran Banda Aceh. Dia kemudian menguraikan modus yang jamak dilakukan, “Jika pemborong A dapat proyek, dia akan cari sub lagi. Lalu kasih tawaran harga proyek lebih rendah dari yang dia dapat sebelumnya ke pemborong B. Ujung-ujungnya upah yang di bawah sampai ke kuli jadi ikut rendah. Padahal kebutuhan hidup di Aceh sudah makin mahal. Makanya saya tidak mau menerima tawaran kalau harga penyelesaian per unitnya sudah di bawah standar.”
Menurut Syaiful, harga standar penyelesaian satu unit rumah senilai Rp 15 juta. Namun angka itu masih bisa ditawar hingga Rp 12 juta. Di bawah angka tadi, jangan harap kehidupan layak bisa didapat para kuli.
“Tapi ada kontraktor dari Medan atau dari Jawa yang berani memasang harga Rp 8 juta. Kulinya diambil dari Jawa. Mereka pikir biaya hidup di Aceh sama dengan di Jawa, yang sepiring nasi bisa dapat Rp 3.000?”
Hendra, mandor yang saya temui di Lampuuk, Aceh Besar, membenarkan adanya pemborong curang. Untuk menjamin kesejahteraan anak buahnya yang umumnya orang Jawa kelahiran Medan, Hendra selalu meminta surat perjanjian, lengkap dengan alamat jelas masing-masing pihak.
“Biar jelas. Kalau ada apa-apa masing-masing bisa menuntut,” katanya.
Muslikun dan kawan-kawan sudah jadi korban. Tapi tujuh kuli itu tak putus asa. Mereka segera melamar ke Waskita Karya, kontraktor pelat merah alias Badan Usaha Milik Negara, yang membangun pemukiman dengan dana Turkish Red Cross Society.
Waskita Karya tengah membutuhkan banyak kuli bangunan. Mereka memperoleh proyek miliaran rupiah untuk membangun ratusan unit rumah. Di Bitai, Banda Aceh, mereka menggarap 350 unit rumah tipe 45. Total anggaran lebih dari Rp 30 miliar. Di Lampuuk, Aceh Besar, Waskita Karya kebagian mengerjakan 200 unit rumah bertipe sama. Pembangunan rumah-rumah itu juga didanai Turkish Red Cross Society. Beberapa waktu lalu, Waskita Karya pernah masuk daftar hitam Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi Aceh-Nias, karena jumlah rumah yang dibangun jauh di bawah target dan tenggat waktu. Padahal dana sudah keburu diberikan.
LAMPUUK adalah satu dari ratusan kampung yang paling parah dilanda tsunami. Ratusan rumah rata tanah, kecuali Masjid Rahmatullah yang memiliki tiang dan pondasi kokoh. Letak gampong ini sekitar satu kilometer dari pantai.
Ratusan pekerja tampak sibuk. Rencananya akan dibangun 700 unit rumah tipe 45 di sini. Rumah yang sudah selesai dibangun 200 unit. Sisanya akan dikerjakan subkontraktor Waskita Karya.
Seperti juga di Bitai, rata-rata kuli dari Jawa. Waskita sengaja memilih kuli dari Jawa. Mereka mendatangkan secara khusus kuli-kuli asal Jawa Tengah, Jawa Timur, Jakarta, hingga Jawa Barat. Sebanyak 400 orang. Di Bitai, lebih banyak lagi, 1.500 orang. Para kuli secara bertahap dipulangkan begitu target unit rumah dipenuhi.
“Pertama karena kemauan kerja. Mereka lebih bisa dipacu, karena mereka ‘kan kerja di rantau. Kalau yang lokal, mereka ‘kan bisa cepat pulang setelah bekerja, apa yang bisa dipacu. Kedua karena ketrampilan mereka sedikit di atas daripada orang lokal,” ujar Muchdir Arrys kepada saya. Muchdir kepala lapangan Waskita Karya untuk proyek pemukiman di Lampuuk.
“Tapi itu bukan berarti kami tidak mementingkan orang lokal. Kami juga mempekerjakan orang lokal kok,” lanjutnya.
Bukan hanya Waskita yang mengirim kuli dari Jawa untuk proyek di Lampuuk. Beberapa kontraktor di Lampuuk juga mempekerjakan kuli Jawa. Bedanya, kuli-kuli itu didatangkan dari Medan, Sumatera Utara.
Meski lahir dan hidup di Medan, nenek moyang mereka dari Jawa. Marsidi, contohnya. Lelaki 36 tahun yang kini bekerja di PT Kuala Batee Ind itu punya orangtua asli Wonosobo, Jawa Tengah. Di Medan dia sempat bekerja sebagai buruh tani. Namun penghasilan buruh tani amat rendah. Itu sebabnya Marsidi mengangguk saja ketika ada teman yang menawarinya kerja di Aceh.
Contoh lain, Priadi, 19 tahun. Nenek, kakek hingga paman dan bibi pemuda yang baru lulus sekolah menengah atas di Medan ini berasal dari Ponorogo, Jawa Timur.
Mereka juga masih menggunakan bahasa Jawa dalam percakapan sehari-hari. Akibatnya, kawasan Lampuuk tak ubah perkampungan orang Jawa.
Mereka tinggal di bedeng-bedeng berdinding anyaman rumbia, beratap seng. Ada juga yang berdinding tripleks. Beberapa. Atap seng membuat terik matahari siang bakal “merebus” siapa pun yang berada dalam bangunan itu.
Luas bedeng sekitar 6 x 4 meter persegi. Daya tampung satu bedeng bisa mencapai 20 orang, seperti bedeng yang dihuni Marsidi. Baju, celana, dan handuk bergelantungan di seluruh dinding!
“Kalau tidur, ya jempol jumpa jempol.” Marsidi terkekeh. Belum lagi keringat beradu keringat, pikir saya.
Muslikun dan enam kawannya juga merasakan kondisi yang sama di Bitai. Baru beberapa hari ini mereka memilih pindah dari bedeng ke rumah yang hampir selesai dibangun. Alasan mereka, bedeng itu dihuni terlalu banyak orang. Jarak bedeng ke tempat kerja pun lumayan jauh.
Meski berada di bangunan yang lebih baik, tujuh kuli itu tetap tidur dengan alas seadanya, seperti tikar plastik, tripleks, terpal, atau kardus bekas.
Ketika malam datang, yang ada cuma gelap. Letak warung cukup jauh dari tempat mereka menginap. Jika mereka lapar, maka terpaksa masak sendiri ketimbang pergi ke warung.
Program berhemat dijalankan. Ongkos berangkat ke Aceh yang dihimpun dengan cara berutang kiri-kanan itu belum lunas. Bahkan, di hari Minggu atau hari libur mereka tetap bekerja untuk mengumpulkan uang lebih banyak agar utang terbayar.
“Kalau libur ya rugi. Kalau ndak sakit, ya lebih baik kerja saja. Buat apa libur, sudah datang jauh-jauh, ya rugi tho,” kata Muslikun, dengan logat Jawa Tengahan yang kental.
Mereka benar-benar seperti pekerja rodi atau kuli kontrak Jawa di masa penjajahan Belanda. Bedanya, mereka dibayar dan bekerja tak kenal waktu atas keinginan sendiri.
“Kalau di Waskita sudah tidak ada kerja, kita mau cari di tempat lain. Rencananya mau Lebaran baru kami pulang ke Jawa, setelah duit terkumpul.” Muslikun mengungkap impiannya.
PADA 1863, kapal Josephine melego jangkar di pelabuhan Sumatra Timur. Kapal itu mengangkut ratusan kuli kontrak asal Jawa yang didatangkan Jacobus Nienhuijs. Dia pengusaha Belanda yang membuka perkebunan tembakau di Deli.
Keharuman tembakau Deli sudah tersohor di pasar Eropa. Nienhuijs berencana memperluas lahan kebunnya agar produksi tembakau Deli bertambah dan menghasilkan keuntungan berlipat ganda.
Semula Nienhuijs hanya memakai tenaga orang Tionghoa dari Penang yang disebut laukeh. Tapi kemudian dia juga mempekerjakan puluhan kuli harian asal Melayu.
Pasokan kuli dari Tiongkok tersendat, ketika pemerintah negeri itu mempersulit warganya ke Deli. Di lain pihak, pemerintah Inggris di India juga mengajukan berbagai syarat bagi pekerja Tamil yang hendak ke Deli. Namun, calo buruh kebun di Penang dan Singapura tak kekurangan akal. Mereka mendatangkan kuli ke Deli, dengan dalih hendak mempekerjakan mereka di Johor.
Bagi tuan-tuan kebun, penduduk setempat, seperti orang Melayu dan Karo, dianggap tidak cocok jadi kuli. Mereka suka melawan.
“Tenaga kuli bangsa-bangsa Sumatera tidak laku dan tidak diterima di Deli, sebab mereka tidak patuh dan taat seperti kuli-kuli kontrak Jawa. Begitu pula mereka meminta gaji lebih dari kuli-kuli Jawa. Jika kuli-kuli Jawa tidak mau bekerja, mereka akan dimasukkan dalam penjara, siapa yang membantu mereka untuk lari akan dikenakan hukuman juga,” ungkap Nienhuijs dalam Oos-Indische Spiegel, yang terbit di Amsterdam pada 1876.
Istilah resmi Koelie-Ordonnantie atau Contract-Koelie yang disebut juga kuli kontrak muncul pada 1889. Aturan ini hanya berlaku bagi kuli asal luar negeri (Tiongkok dan Tamil) serta orang Indonesia dari luar Sumatra Timur. Karena itu jumlah kuli asal Jawa terus bertambah setelah Nienhuijs membawa mereka ke Deli. Jumlah tersebut mengalahkan jumlah buruh kebun asal Tiongkok dan Tamil.
Kata “koelie” diperkirakan berasal dari bahasa Inggris “cooli” yang mengadopsi kata “kuli” dari bahasa Tamil, yang artinya orang upahan untuk pekerjaan kasar. Kuli kontrak adalah sebutan bagi orang-orang miskin di Jawa yang kemudian mengikatkan diri pada perjanjian kerja. Tapi hidup yang mereka dapat di kebun jauh dari sejahtera. Banyak yang menderita berkepanjangan. Dalam Capitalism and Confrontation in Sumatra's Plantation Belt 1870-1979, Ann Laura Stoler menulis, “kuli adalah binatang yang harus dijinakkan, karena kuli adalah modern slavery.” Kuli sama dengan budak!
Saat perkebunan tembakau beralih ke karet pada 1926, kuli kontrak laki-laki Jawa terus bertambah hingga berjumlah 142.000 orang, sedangkan buruh perempuan asal Jawa 52.400 orang. Menurut catatan pemerintah Belanda, pada tahun 1920 jumlah orang Jawa di Sumatra Timur mencapai 353.551 orang, melebihi jumlah orang Melayu yang tercatat 285.553 orang.
Sama seperti kuli-kuli Jawa di Aceh masa kini, para kuli kebun ini pun tinggal di bedeng-bedeng. Tak sedikit yang disiksa dengan kejam ketika terjadi perkelahian atau pemberontakan atau pembunuhan di kebun. Sejarah masa lalu terus berlanjut. Pulau Jawa tak hanya pusat kekuasaan, melainkan juga pulau pemasok kuli atau orang upahan terbesar sampai ke milenium ini.
SENJA turun di Lampuuk awal Juni lalu. Pertanda gelap bakal menyelimuti perkampungan kuli. Saya mendengar dentam house music dari deretan warung.
Sebagian warung sudah menyalakan televisi dan memacak antena parabola yang akan menayangkan pertandingan sepak bola di ajang Piala Dunia di Jerman. Siaran itu menjadi obat lelah ratusan kuli di malam hari. Tapi tontonan tadi baru bisa disaksikan selepas sholat Isya.
“Sejak Maghrib sampai Isya, tidak ada warung yang buka. Setelah itu baru ada tontonan bola,” kata Hendra, salah seorang mandor.
Sebaliknya di Bitai, ketujuh kuli asal tanah Jawa tak banyak menikmati gempita Piala Dunia yang disaksikan jutaan pemirsa. Lewat jam 10 malam, mereka memilih mendekam di bangunan yang belum selesai. Beristirahat setelah lembur.
“Capek Mas,” kata Ahmad. Sulipin malah sudah rebah di lantai.
“Warung yang punya TV juga sudah tutup. Jadi mendingan istirahat saja. Besok ‘kan mesti kerja lagi,” imbuh Muslikun, sebelum saya berpamitan.
*) Samiaji Bintang adalah kontributor Aceh Feature di Banda Aceh.
Sumber : Aceh Feature, 27 Juni 2006
Ratno bin Karja : Hikayat Kebo
Hikayat Kebo
Oleh : Linda Christanty
JALAN itu lurus. Berangkal batu, pecahan keramik, kristal semen, melapisi permukaannya. Bias cahaya meriah dari papan reklame dan logo pertokoan memberinya siluet.
Minggu, 20 Mei 2001, pukul 21.00, sebuah taksi biru merayap di sana. Jarum speedometer-nya menunjuk angka 15 kilometer per jam. Setelah melampaui satu tikungan dan disambut sorot neon 40 watt, kendaraan tersebut berhenti. Tepat di muka pemukiman para pemulung.
Enam pria melompat dari dalam taksi, kemudian sibuk menarik tubuh seseorang dari jok belakang. Kedua tangan dan kakinya terikat kawat. Rintihan parau terdengar lemah dari tenggorokan pria itu.
Ia sekarat.
Orang-orang mendekat dengan rasa ingin tahu.
Lima puluh meter dari tempat kejadian, di samping pagar seng yang membatasi pemukiman tersebut dengan perkampungan, ada sebuah jalan kecil. Nama jalan tertera pada papan hijau tua yang terpancang di mulutnya: Jalan Tanjung Palapa.
Faried tinggal di tepi jalan itu. Ia mahasiswa sebuah sekolah tinggi publisistik di Jakarta. Ia baru saja pulang ketika keponakannya memberitahu ada keramaian dekat pemukiman para pemulung. Faried bergegas ke sana.
Massa berkumpul sekitar 50 orang, terdiri dari warga setempat, pemulung, dan tukang ojek. Faried mencoba menerobos kerumunan, mendesak maju. Di tanah menggeletak tubuh seseorang.
"Ini siapa?" tanya Faried pada pria yang berdiri di dekatnya.
"Kebo."
Teriakan terdengar dari tengah massa.
"Buntungin aja tangannya!"
"Ceburin ke kali!"
"Bakar!"
Tiba-tiba seorang pemulung mengguyur tubuh tak berdaya ini dengan minyak tanah.
Massa hanya menonton.
"Tolong jangan di sini. Kalau ingin menghakimi dia itu urusan kalian, tapi
jangan di sini," seru Faried, panik.
Ia khawatir nama kampungnya tercemar akibat tindak kriminal, bukan pada nasib korban.
Seakan menyetujui peringatan tadi, empat pria mengangkat tubuh Kebo, lalu meletakkannya dalam gerobak, bersatu dengan sampah plastik dan ban mobil bekas.
Para pemulung itu mendorong gerobak ke tempat pembakaran sampah sampai berhenti di bawah sebatang pohon mangga. Bagai mengawali seremoni persembahan, salah seorang dari mereka menyalakan korek api.
KARIMUN Usman baru saja selesai sholat Subuh. Rambut mulai memutih di usianya yang menjelang enam puluh. Sang istri, Siti Royamah, tengah sibuk di dapur. Karimun biasa sarapan dengan beberapa iris roti tawar dan secangkir kopi, sebelum berangkat ke gedung parlemen di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Barat, tempat ia melaksanakan tugas sehari-hari. Ia berkantor di sana sejak 1999.
Saat berkunjung ke kebun bunga milik seorang sahabat di Cibodas pada 31 Januari 1999, Karimun bertemu Megawati Soekarnoputri, ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Mereka berbincang-bincang dan ternyata menemukan kecocokan dalam cara pandang terhadap berbagai konflik di Indonesia. Politik memang dunia yang intim dengannya sejak lama. Karimun pernah menjadi ketua anak cabang Partai Nasional Indonesia di Cotgire, Loksukun, Aceh Utara, pada 1966 dan sempat ditahan di penjara Loksukun, karena dituduh komunis.
Buah pikirannya di Cibodas tak sia-sia. Dewan pimpinan cabang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di Aceh mencalonkan Karimun duduk di parlemen. Karimun terpilih sebagai wakil partai berlambang banteng gemuk tadi. Orang Aceh menaruh banyak harapan padanya. Ia punya ruang untuk memperjuangkan kedamaian dan keadilan bagi rakyat di negeri yang masih bergolak itu.
Meski punya rumah dinas di Kalibata, Karimun Usman tetap tinggal di Kompleks Pengairan, milik Departemen Pekerjaan Umum. Ia pensiun dari departemen tersebut pada April 1999. Rumah pribadi Karimun cukup nyaman. Ada garasi mobil, kursi-kursi dengan bantalan beludru di terasnya, dan lantai yang terbuat dari marmer merah bata.
Sidang paripurna akan berlangsung pagi 21 Mei 2001. Tapi, Karimun Usman belum mengganti t-shirt putih dan pantalon warna kremnya dengan setelan resmi, ketika pintu rumahnya diketuk orang pada pukul 06.30.
Norman, salah seorang warga, sudah menunggu di teras. Raut wajahnya menyiratkan kabar buruk. Karimun mafhum. Ia terbiasa menghadapi kabar seburuk apa pun. Karimun menjadi ketua rukun warga (RW) di wilayah itu sejak 1976, sehingga sudah cukup teruji. Kadang-kadang, ia kedatangan tamu tengah malam buta. Kadang-kadang, dini hari.
"Ada mayat terbakar ditemukan di RW kita, Pak," lapor Norman.
Tanpa berpikir panjang, Karimun berangkat bersama Norman. Jarak rumahnya ke tempat kejadian sekitar 300 meter.
Banyak orang berkerumun. Mayat itu hangus bersama gerobaknya di belakang Tower Anggrek Mall, Slipi, Jakarta Barat. Anggrek Mall atau lebih dikenal dengan sebutan Mal Taman Anggrek adalah sebuah pertokoan mewah di Jakarta. Berbagai barang dari merek ternama dijual di sana; dari celana dalam sampai gaun pesta, dari makanan sampai alat olah raga. Di sekitar pertokoan ini berdiri apartemen-apartemen menjulang dengan jendela kaca berkilau.
Karimun diwawancarai reporter dari Patroli, sebuah program tayang di stasiun televisi Indosiar. Polisi belum datang.
"Siskamling itu supaya nggak kenal waktu. Siskamling dibutuhkan bukan untuk orang lain, tapi untuk kita sebagai anggota masyarakat. Jangan sampai terjadi seperti hal yang kita lihat pagi ini," kata Karimun, menatap kamera.
Ia menyesal terlambat mencegah kebiadaban tersebut.
Karimun tercenung dalam ruang kerjanya yang terletak di koridor lantai lima Gedung Nusantara II, salah satu gedung perkantoran dalam kawasan parlemen. Sebuah jendela kaca menghadap jalan raya mengakhiri ujung koridor yang terasa dingin dan sunyi. Halaman gedung terlihat lengang. Barikade kawat berduri membentang di muka pagar besi. Pos penjagaan berisi seorang polisi. Teman-temannya mengaso di atas hamparan rumput hijau di sebelah kanan gedung yang
diteduhi pohon beringin. Tenda besar dan truk tronton milik brigade mobil berada di sekeliling mereka. Setelah ribuan mahasiswa dan rakyat menduduki gedung tersebut untuk menuntut penurunan Presiden Soeharto tiga tahun lalu, aparat keamanan jarang istirahat. Mereka harus menahan aksi-aksi protes yang terus mengalir ke parlemen.
"Menurut saya, apa pun kesalahan orang, tidak perlu kita bakar. Setelah kekesalan dilepaskan, serahkan orang itu kepada polisi, lalu diproses secara hukum," ujar Karimun.
Tapi, Karimun sendiri pesimis terhadap kinerja aparat penegak hukum, "Koruptor kakap lolos, maling ayam ditahan tiga bulan."
Ia menganggap kondisi perekonomian yang buruk memicu tindak kekerasan massa akhir-akhir ini. Masyarakat mengekspresikan kekecewaan dengan membabi-buta, meski yang menjadi sasaran justru sesama rakyat kecil lagi.
"Ternyata setelah hampir dua tahun, yang terjadi justru dalam eksekutif, mengganti menteri dalam sebulan bisa dua kali. Menteri-menteri ditugaskan untuk lobi-lobi. Yang menyangkut tugas dan pokoknya tidak dilakukan. Sehingga apa yang sudah dicanangkan dibangun di daerah ini atau daerah sana, tidak dilakukan. Emosi-emosi kedaerahan bisa timbul dari sini. Akibatnya, kalau ada
satu saja pemicu, orang tidak mau melihat pada keadaan sekarang, walaupun keadaan yang sekarang jauh lebih bagus daripada tiga puluh tahun Soeharto berkuasa."
CEROBONG bangunan tersaput jelaga itu terus-menerus mengeluarkan asap hitam ke langit biru. Bangunan ini bagian dari Mal Taman Anggrek. Tepat di seberang temboknya berdiri bilik-bilik pemulung. Gundukan sampah plastik dan kaleng bekas cat atau minyak oli berada di muka atau sisi bilik mereka. Bau busuk tercium, tapi tak seekor lalat pun terbang atau hinggap. Bunga-bunga liar berkelopak putih dengan sepuhan ungu mendekati putiknya menjalar di atas tanah. Keindahan menjadi sebuah sindiran di sini.
Kebo hampir setahun tinggal di lapak tersebut. Ia seperti para penghuni lain, memiliki sebuah bilik untuk berteduh. Bilik Kebo berdinding tripleks dengan atap seng dan tambalan tripleks pada bagian tertentu. Jarak lantai ke langit-langit 1,5 meter. Luas bilik 2x2,5 meter persegi. Karpet merah darah dari bahan sejenis wol melapisi lantai bilik yang terbuat dari tanah. Tempat tidur kayu tanpa kasur merapat ke salah satu dinding. Kebo menyimpan beberapa potong pakaian dalam tas olahraga warna biru. Semua ini kekayaan yang ia miliki.
Kamar Kebo lebih mirip gua. Tanpa jendela. Di siang hari terasa pengap, sedang di malam hari begitu lembab. Cahaya matahari dan pergantian udara melewati satu-satunya lubang pada dinding; sebuah pintu yang terbuka. Kebo menggunakan kamar tersebut untuk tidur dan seringkali dalam keadaan teler akibat pengaruh alkohol. Ia gemar minum arak atau anggur hitam. Seorang pelacur biasa menemaninya bersenang-senang. Namun, perempuan yang dibawanya silih-berganti. Kebanyakan mereka berusia setengah tua dan seringkali berhubungan atas dasar
suka sama suka.
Bila musim hujan tiba lantai bilik tergenang air dan berlumpur. Penghuni lapak mencoba menimbun lantai bilik mereka dengan puing dan kayu, meski air yang turun dari langit nyaris tak terbendung. Kebo melakukan hal yang sama, lalu menjemur karpet yang basah berlumpur.
Lapak-lapak pemulung ini berdiri di atas lahan seluas lima hektare. Sebelum gerakan reformasi pada 1998, tanah tersebut tercatat sebagai milik Yayasan Bhakti Putra Bangsa. Papan nama yayasan menancap di atas lahan yang gersang. Hutomo Mandala Putra, putra bungsu mantan Presiden Soeharto, orang nomor satu yayasan itu.
Ketika Presiden Soeharto berkuasa, keluarga dan kroninya menguasai sebagian besar aset ekonomi serta perdagangan di Indonesia. Praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme menjadi lumrah.
Menjelang detik-detik kejatuhan Soeharto pada 1998, perekonomian Indonesia mencapai kulminasi paling buruk. Sistem ekonomi dalam negeri yang lama bobrok ditambah krisis mata uang yang melanda negara-negara Asia membawa petaka. Nilai rupiah meluncur dari Rp 2.300 per dolar Amerika pada Juli 1997 ke angka Rp 17 ribu per dolar Amerika pada Januari 1998. Pertumbuhan ekonomi turun 15 persen secara keseluruhan, seiring krisis di sektor-sektor kunci.
Pada Juni 1998, sektor pertanian menurun 2,4 persen, manufaktur 19,3 persen, pertambangan 8,3 persen, dan perdagangan serta jasa 25,2 persen. Jumlah penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan meningkat hampir 50 persen dan kebanyakan terkonsentrasi di wilayah Jawa. Pendapatan per kapita menurun dari 1088 dolar per kapita pada 1997 ke 610 dolar per kapita pada 1998.
Pada situasi krisis ini pula, gubernur Jakarta Sutiyoso memberi kesempatan pada masyarakat kota untuk menggarap lahan-lahan tidur, baik milik pemerintah maupun perusahaan. Akibatnya, orang berbondong-bondong membuat sertifikat atas lahan yang bukan milik sendiri. Bahkan, di antara mereka ada yang menyewakan lahan tersebut pada orang lain.
Seorang demi seorang datang, mengguntingi kawat pembatas, dan mengikat tali rafia pada tiang-tiang kayu untuk bermukim. Kebo termasuk dalam gelombang pendatang. Ia sudah lama menjalani hidup semacam itu, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Baginya itu hanya satu siklus yang biasa, seperti matahari terbit atau terbenam.
Selain mengumpulkan sampah plastik atau kaleng dan menjualnya kepada bos lapak, Kebo menimbun lubang-lubang di sepanjang Jalan Tanjung Palapa. Ia memiliki sebuah gerobak kayu untuk mengangkut bahan baku perbaikan jalan itu.
Kedengarannya mulia.
"Tapi suka minta uang sama orang-orang, kalau nggak dikasih nabok," kata Ismawan, salah seorang pemulung yang tinggal berseberangan dengan Kebo.
"Abis nguruk, dia minta bayar. Terus, suka beler," ujar Sri Utami, istri Ismawan.
Kebo memang bukan jenis yang bisa menimbulkan rasa nyaman. Tubuh Kebo penuh tato. Tato ular kobra di lengan kiri, betis kiri, dan betis kanannya. Pada lengan kanannya ada tato kalajengking. Punggung Kebo berhias tato wajah perempuan berambut panjang.
Namun, cara Kebo berpakaian cukup perlente. Ia gemar mengenakan setelan jaket dan celana jins. Sepatu kulit warna coklat melengkapi penampilannya. Tinggi pria ini sekitar 157 sentimeter, berkulit hitam, dan agak gemuk.
Usia Kebo 40 tahun. Ini usia berdasarkan surat nikahnya dengan Muah binti Sukardi. Di situ nama Kebo tertulis: Ratno bin Karja.
DESA Sisalam berada di Kecamatan Wanasari, bagian selatan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Dari alun-alun kabupaten, angkutan umum berwarna kuning jurusan Jagalumpeni siap mengantar penumpang ke Sisalam dengan ongkos Rp 1.000. Mobil melewati jalan yang tak rata dan berbatu-batu. Perempuan-perempuan desa membawa barang belanjaan dari kota mengisi bangku-bangkunya. Dandanan mereka sederhana. Ada juga yang bertelanjang kaki.
Sisalam tertera dalam daftar desa tertinggal. Belum ada pusat kesehatan masyarakat di sini. Hanya sebuah sekolah dasar milik pemerintah yang melayani kebutuhan pendidikan anak. Listrik baru dua tahun masuk ke desa ini. Kebanyakan penduduk Sisalam bekerja sebagai buruh tani. Tak ada papan nama desa. Jembatan kembar berada di muka jalan masuk yang terbuat dari tanah dan batu kali berwarna hitam. Jejak hujan tertinggal pada ceruk-ceruk jalanan yang tergenang air.
Rumah Muah binti Sukardi masih 500 meter ke dalam. Arsitekturnya amat sederhana. Dua buah jendela dan sebuah pintu di bagian muka. Langit-langit memperlihatkan komposisi kayu yang silang-menyilang, sedang sinar matahari menerobos ke dalam dari celah-celah genteng yang berlumut. Dinding-dinding rumah dikapur putih.
Ia bersimpuh di lantai semen yang dingin pagi itu. Sorot matanya sayu. Wajahnya bundar tanpa riasan. Muah tinggal bersama putri angkatnya, Teti, yang berusia 13 tahun. Kebo dan Muah merawat Teti sejak anak tersebut masih bayi, karena perkawinan mereka tak membuahkan keturunan.
"Rumah ini peninggalan embah saya," tutur Muah, dalam logat Banyumas yang kentara. Konsonan diucapkan dengan tengah lidah pada langit-langit mulut.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mulai bercerita. Pernikahannya dengan Kebo adalah pernikahan kedua. Usia perkawinan pertama Muah hanya bertahan setahun, meski ia dan suaminya saling cinta. Orangtua suami pertamanya, Damat, tidak menyukai Muah yang miskin. Mereka mencarikan istri lagi untuk Damat.
Pertemuan Muah dan Kebo juga kebetulan. Saat itu Muah ikut orangtuanya yang jadi pemulung di Pisangan, Jakarta. Muah berjualan pecel di samping bilik mereka. Kebo baru saja keluar dari penjara, setelah mendekam di sana selama enam bulan. Ia juga tinggal di lapak itu. Kayem, ibu Muah, menegur Kebo yang kebetulan lewat.
"Bo, Kebo kapan lu pulang?" tanya Kayem.
Muah memandangi ibunya heran, "Nama orang kok Kebo, sih Mak?"
"Ya, memang gitu. Dipanggilnya Kebo, Kebo gitu ...."
Suatu hari Kebo membeli pecel dagangan Muah dan hatinya berdesir melihat perempuan ini.
"Tuh cewek boleh juga," kisah Kebo pada sesama pemulung.
Semula Muah tak tertarik, tapi Kebo pantang menyerah. Saat kaki Muah luka tergores kaleng, Kebo membelikannya sandal jepit.
"Kamu mau nggak kawin sama saya?" tanya Kebo.
Muah ragu-ragu.
"Saya pengen jadi orang Jawa, jadi orang tani," rayu Kebo.
"Kalau situ mau sama saya, yang penting situ insaf. Berhenti mabok, asal lu baik, gua nggak apa-apa kawin sama lu," Muah, mengajukan syarat.
Ketika Muah hendak pulang kampung, Kebo memaksa ikut. Mereka sempat kumpul kebo selama enam bulan dan berkali-kali digrebek pemuda setempat. Pada 18 November 1986, Kebo dan Muah menikah di Sisalam. Tak seorang pun dari pihak keluarga Kebo hadir.
Asal-usul Kebo tak jelas.
Saat berpacaran dengan Kebo, Muah sempat bertanya, "Lu kampungnya di mana?
Orangtua lu di mana?"
"Di Dongkal. Cuma waktu kelas satu SD, saya ngikut truk berangkat ke Jakarta, terus bawa sarung sama ayam. Ayamnya nyolong punya orangtua saya. Ayam lagi angkrem (mengerami telur) diambil, buat ongkos. Sejak itu saya nggak pernah pulang," jawab Kebo pada Muah.
Hidup di Jakarta tidak mudah bagi Kebo. Ia tersesat sendirian di sebuah dunia asing, berada di tengah perubahan cuaca dan rasa lapar. Selain itu, berbagai bentuk kekerasan juga mengintai anak-anak jalanan seperti Kebo, termasuk pembunuhan dan penganiayaan seksual.
Pada 1996, media massa sempat menggemparkan masyarakat lantaran memuat berita perkosaan serta pembunuhan anak jalanan. Seorang pelaku yang dibekuk aparat kepolisian bernama Robot Gedek. Sebelum membunuh anak-anak itu, ia menyodomi mereka.
Kehidupan di jalanan mempertemukan Kebo kecil dengan pemungut puntung rokok dari tong-tong sampah kota, pria yang kemudian mengangkatnya sebagai anak. Kenangan Kebo terhadap ayah angkatnya samar-samar.
"Kebo tinggalnya nggak tetap. Semenjak dia di belakang Mal Taman Anggrek saya nggak ikut. Saya disuruh ngurusin anak," kenang Muah.
Kebo menitipkan uang belanja buat Muah melalui saudara atau teman sekampung yang datang ke Jakarta. Kadang-kadang, Kebo datang sendiri mengantarnya.
"Untuk dua bulan kadang Rp 150 ribu, kadang Rp 100 ribu," kata Muah. Ia maklum pekerjaan suaminya tak bisa menghasilkan banyak uang, tapi, "Ini juga diminta lagi, kalau dia mau beli minuman. Rp 10 ribu, Rp 20 ribu ... lama-lama abis," lanjutnya. Pendapatan Kebo bervariasi setiap hari.
"Pernah sehari dapat Rp 7.000, tapi nggak tentu."
Kebo tidak berubah. Dia tetap suka menenggak minuman keras. Bahkan, ia jadi amat pencemburu. Rasa cemburu membuat Kebo tega menyakiti istri sendiri.
"Saya ngasih nasi sama temannya dikiranya saya senang. Kejadiannya di Kampung Sawah, Jakarta, di samping Mal Taman Anggrek. Saya dipanggil, terus É mulut saya sudah bercucuran darah," kata Muah, menerawang.
Kebo boleh cemburu pada istrinya, tapi Muah harus menerima kehadiran perempuan lain dalam rumah tangga mereka. Pada 1988, Muah menengok suaminya di lapak Kemanggisan, Jakarta Barat. Seorang perempuan hamil bernama Yuli berada dalam bilik Kebo. Di malam hari Muah terpaksa membiarkan suami dan kekasihnya itu bercinta.
Akhirnya, Kebo mengutarakan niatnya untuk menikah lagi.
"Situ boleh kawin, asal ceraikan saya," ujar Muah, panas.
"Gua nggak mau ninggalin lu," jawab Kebo.
"Percuma, nggak mau ninggalin, tapi nyakitin terus."
"Nggak apa-apa kalau kamu maunya begitu. Tapi kamu kan punya orangtua, punya saudara." Kebo mengancam.
Muah gemetar.
Dalam keadaan marah, Kebo mengambil golok.
Ia memotong telunjuk tangan kanannya sendiri.
Para tetangga di Sisalam sering mendengar Kebo memukul istrinya. Muah menjerit-jerit, lalu berlari keluar rumah. Muah terpaksa bersembunyi di rumah tetangga untuk menghindari kekejaman Kebo. Tapi, nasib Muah tak selalu baik. Ia pernah pingsan akibat tindakan Kebo dan terkapar berlumuran darah. Kebo malah meninggalkannya, mencari arak, dan mabuk.
Namun, Kebo sangat lembut terhadap anak-anak. Ia senang mengajak anak-anak kampung pergi memancing. Kebo juga tak suka mendengar Muah membentak Teti. Saat mereka bertengkar malam-malam, Kebo tak ingin putrinya tahu. Suatu malam di antara ribuan malam yang menakutkan bagi Muah, Teti terbangun mendengar suara gaduh. Bocah ini melihat kursi sudah jungkir-balik di lantai.
"Ada apa, sih, Pak?" tanya Teti.
"Nggak ada apa-apa, kok, Nok."
Pada 1992, Kebo membuat ulah pertama kali dengan penduduk kampung Sisalam. Dia mengancam seorang pria bernama Soka. Kebo menempelkan golok di leher Soka sambil menggiringnya mondar-mandir di jalan desa. Penduduk menyaksikan, tapi tak berani melerai.
"Soka ini pendatang, sama seperti Kebo. Mungkin, mereka ini ingin menunjukkan siapa yang paling berkuasa," ujar Rodijuro, lurah Sisalam.
"Tapi, hanya sekali itu. Dia nggak pernah bikin keributan lagi dengan warga sini," kata Wage, pertahanan sipil (hansip) Sisalam.
Akibat perbuatannya itu Kebo dikurung lima bulan di tahanan Kepolisian Resort
Brebes.
Angin siang berembus lewat pintu dan jendela yang terbuka. Kenangan pahit menyesakkan dada Muah. Sebentar-bentar terdengar embikan kambing dari kejauhan. Muah meluruskan kedua kakinya yang terasa penat. Perempuan mungil ini menghela napas panjang. Baru saja ia kembali dari memotong padi di sawah. Muah bekerja sebagai buruh tani. Pemilik sawah memberikan seperenam hasil panen untuk upah para buruh. Pekerjaan tersebut bersifat musiman. Ketika beras dari hasil panen sudah habis dan uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari menipis, Muah berharap pada kiriman uang dari suaminya. Namun, Kebo sudah dua bulan tak berkabar berita sejak Mei 2001 itu.
SENJA turun pada Jumat 18 Mei 2001. Dua pelacur, Lina dan Unyil, menemani Kebo yang teler dalam biliknya. Biasanya, Kebo ditemani salah seorang dari mereka. Kali ini agak istimewa.
Pintu bilik Kebo tertutup rapat. Kebo dan dua perempuan ini tenggelam dalam kesenangan mereka. Tiba-tiba Kebo menyuruh Unyil dan Lina melakukan adegan lesbian, seperti dalam film biru.
"Dua perempuan disuruh telanjang. Terus disuruh begituan," tutur Kusni, salah seorang pemulung.
Kedua perempuan tersebut menolak. Kebo marah dan mengancam akan membakar bilik. Dengan langkah sempoyongan ia berjalan ke ambang pintu. Seorang pemulung lewat. Kebo berteriak memintanya membeli minyak tanah.
Pria ini tak bersedia. Kebo lantas menempelkan golok ke leher pria tersebut, yang buru-buru memenuhi permintaan Kebo.
Kebo menyiram tempat tidur kayunya dengan dua liter minyak tanah, lalu menyulut korek api. Lina dan Unyil nekad membuka pintu. Mereka lari tunggang-langgang. Pukul 18.15 api menyala. Bilik Kebo terbakar. Api merembet ke bilik-bilik tetangga.
Kebo kaget. Nalurinya menyuruh kabur. Teriakan panik terdengar santer.
"Kebakaran ... kebakaran!"
"Kebakaran!"
"Kebakaran ...."
Sewaktu orang-orang menyelamatkan diri serta barang-barang mereka dari jilatan api, Kebo telah meninggalkan kawasan tersebut. Sebelas bilik hangus.
"Ada yang sedang tiduran, ada yang baru selesai mandi, dan melihat api sudah membakar, nggak bisa ngapa-ngapain lagi, ada yang belum pulang. Waktu itu saya sedang nonton tivi. Tiba-tiba saja api sudah membesar dan semua orang panik. Semua hangus terbakar. Surat tivi, kartu tanda penduduk, surat nikah, peralatan dapur, pakaian É semua terbakar. Saya hanya bisa menyelamatkan tivi. Pakaian saya hanya ini saja yang nyisa, yang melekat di badan ini. Gubuk terbakar semua, abis. Sekarang kami nggak punya tempat tinggal, numpang-numpang sama
tetangga," kata Wati, tetangga Kebo, dengan wajah memelas.
Penduduk kampung sekitar lapak ikut terkena getahnya.
"Aliran listrik mendadak padam. Telepon aja ikut mati."
Dua hari kemudian, pemulung-pemulung yang membawa besi, golok, dan kayu menemukan Kebo teler di lapak kayu Kedoya Utara, Jakarta Barat. Jumlah mereka, 32 orang. Tentu bukan lawan yang seimbang. Kebo dianiaya beramai-ramai tanpa melakukan perlawanan. Setelah ia jatuh pingsan, para pengeroyok mencegat taksi untuk membawanya kembali ke belakang Mal Taman Anggrek.
ARNOLD Toynbee, sejarawan Inggris terkemuka, mengatakan bahwa menjadi pemimpin bagai berada di antara dua celah sempit. Bila berteguh pada pendirian akan jadi diktator, tapi terlalu mendengarkan rakyat membuatnya terkesan lemah.
Pemerintahan Abdurrahman Wahid mengalami hal itu. Di tengah warisan krisis yang parah dan ancaman disintegrasi di berbagai wilayah, Wahid serba salah. Tawaran bantuan dari International Monetary Fund datang, tapi bukan tanpa pamrih. Syaratnya, antara lain subsidi bahan bakar minyak dan listrik harus dicabut. Padahal, kesulitan ekonomi masih mendera rakyat. Kerusuhan di daerah membuat Wahid terpaksa meminta militer turun tangan dan pelanggaran hak-hak sipil tak bisa dihindari. Hukum kehilangan kekuatan.
Penghakiman massa terhadap pelaku kriminal maupun tersangka kejahatan menjadi fenomena. Rakyat bertindak sendiri untuk mempertahankan milik mereka yang tersisa.
"Tindakan massa itu tidak benar. Itu pembunuhan. Polisi mengeluarkan tembakan peringatan, kalau situasinya demikian," ujar kepala dinas penerangan Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya, Komisaris Besar Anton Bachlul Alam.
Polisi sering gagal meredakan massa yang marah. Korban tewas di depan mata mereka.
"Pada situasi di era reformasi, orang ingin bebas, demokrasi kebablasan, semua hal dihadapi dengan people power. Polisi akan bertindak tegas. Karena ada juga korban yang jadi korban. Ini yang lebih memprihatinkan. Istilahnya, terjadi maling teriak maling. Penjahat itu kan sudah tahu bahwa massa akan menghakimi mereka, sehingga mereka melakukan ini," kata Anton.
Di Indonesia, lebih seribu orang jadi korban kekerasan massa tahun lalu. Harian Kompas memuat 46 peristiwa pengeroyokan yang disertai pembakaran sepanjang Januari 1999 sampai Mei 2000 di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Wilayah Jakarta Barat merupakan peringkat pertama dalam jumlah korban. Masyarakat kawasan ini dikategorikan "tega." Delapan kasus pembakaran orang hidup-hidup berlangsung di sini. Data forensik dari Universitas Indonesia menunjukkan
korban kekerasan massa pada tahun 2001 di Jakarta mencapai 86 kasus dengan 6 kasus pembakaran korban.
Kebo hanya melanjutkan daftar panjang tadi.
Adrianus Meliala, kriminolog dari Universitas Indonesia, mengatakan kekerasan massa sekarang memasuki tahap yang sulit dihentikan. Ia curiga media massa terlibat.
"Media massa harus puasa memberitakan," kata Meliala, serius.
Meliala tak pukul rata terhadap semua media. Internet tidak berpengaruh pada masyarakat kelas bawah, sedang televisi kurang berpotensi.
"Televisi juga terlambat mengambil gambar, mereka tak punya gambar yang bagus.
Misalnya, yang ditayangkan Patroli itu, gambarnya tidak berbicara dan tidak cukup melekat di memori. Media cetak lebih berpengaruh. Pos Kota, misalnya, headline-nya bukan pada perilaku massa yang brutal, tapi mengarah pada korban yang gosong, yang news yang makin gosong itu. Makin sadis berita itu, makin oke. Tidak serta-merta memang. Tapi, kemudian kelompok massa yang marah melihat kok model itu cocok dengan mereka."
Gunawan Eko Prabowo, redaktur pelaksana suratkabar Pos Kota, terbahak-bahak. Ia
batal menyentuh semangkuk bakmi pangsit yang terhidang di meja kami, di salah satu restoran yang bersebelahan dengan kantornya. Sepasang mata pria ini mulai mengerjap-ngerjap. Ia sudah sebelas tahun bekerja di Pos Kota.
"Saya sering mendengarkan pendapat semacam itu. Saya ingin bukti. Berapa persen berita kami mempengaruhi orang untuk melakukan kejahatan? Coba adakan penelitian," ujar Gunawan dengan mimik serius.
"Peniruan langsung atau spontan itu mengada-ada."
Tapi, ia setuju berita bisa menjadi rujukan modus kejahatan terencana.
"Dulu ada kasus Nyonya Diah, mayat dipotong tujuh itu. Setelah kasus Nyonya Diah, berlanjut dengan kasus Kristin. Mayatnya dipotong-potong juga. Pengakuan pamannya yang menjadi pelaku, 'Saya baca koran, Nyonya Diah dipotong. Polisi sangat sulit mengungkap kasus. Jadi saya tiru itu'," tutur Gunawan.
Pos Kota suratkabar yang identik dengan berita kriminal, meski Gunawan membuktikan hanya 25 persen dari keseluruhan halamannya yang memuat berita semacam itu. Oplah Pos Kota fluktuatif. Paling tinggi 700 ribu eksemplar, paling rendah 300 ribu eksemplar.
"Berita seperti itu kami muat, karena paling dekat dengan keseharian masyarakat
pembaca Pos Kota, menengah ke bawah," Gunawan berargumentasi.
Bagaimana dengan pemilihan judul berita dan ungkapan yang vulgar?
"Selagi saya bisa koreksi, saya koreksi. Dulu ada headline yang menceritakan razia terhadap wanita tuna susila. Dalam judulnya ada kalimat berbunyi, 'celana dalamnya ketinggalan.' Saya panggil redakturnya. Kok, bisa menurunkan judul seperti ini? Saya marahi," kilahnya.
Di lain pihak, Gunawan khawatir dengan mengubah gaya penulisan Pos Kota membuat mereka kehilangan pasar. Brand name itu terlanjur melekat. Apalagi sekarang banyak koran yang mengikuti gaya Pos Kota, baik tema maupun penyajian berita. Tingkat persaingan antar media dalam ceruk yang sama makin tinggi. Pos Kota tak ingin berjudi.
Citra Pos Kota sebagai suratkabar berita kriminal membuat harian ini sering berfungsi sebagai pos polisi. Masyarakat datang untuk melaporkan anak yang hilang. Pengusaha mengadukan rekan bisnis yang kabur menggondol sejumlah uang milik bersama.
"Kelihatannya masyarakat lebih percaya pada media ketimbang pada polisi. Seringkali polisi terlambat. Fasilitas mereka nggak memadai. Saya pernah melihat sendiri bagaimana untuk mengejar penjahat saja harus cari motor dulu, beli bensin patungan," kata Gunawan.
Pengalaman produser Patroli Indosiar, Indria Purnama Hadi, menyangkut pengaruh berita pada tindak kejahatan nyaris sama dengan Gunawan. Indria bahkan tak menyangkal pendapat Meliala.
"Sebelumnya saya pernah dengar ada yang berkata bahwa televisi atau media berpengaruh pada perilaku orang. Tapi, ini akhirnya saya alami sendiri. Suatu hari kami mewawancari pelaku pencurian kendaraan bermotor di Sleman, Yogyakarta. Usianya masih muda, sekitar 17 tahun. Dalam sehari ia bisa mencuri dua sampai tiga motor. Kami kaget juga sewaktu ia bilang, untuk mencuri itu dia melihat dari Patroli," kata Indria.
Evaluasi pun dilakukan. Sejak itu ia lebih berhati-hati melakukan penyuntingan.
Patroli tak lagi menampilkan alat-alat yang mendukung pencurian.
Menurut Indria, program tayang tersebut lahir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang tidak terpenuhi stasiun televisi lain. Banyak televisi menyajikan berita politik, yang membuat orang jenuh. Berita-berita Patroli tak melulu menonjolkan sisi kriminal, melainkan mengandung tujuan sosial dan hukum.
"Agar masyarakat makin hati-hati," ujar Indria. "Sebagai peringatan kepada masyarakat yang lain. Misalnya, penghakiman massa itu memberi informasi sekaligus peringatan. Atau tayangan tentang ledakan mercon yang membawa korban di Duri Kepa. Orang yang punya mercon di Depok, misalnya, jadi waspada."
Pada awal masa tayang, Patroli memperoleh informasi dari kepolisian. "Tapi, sekarang masyarakat sendiri yang menelepon kami. Seperti kasus mayat yang dibakar di belakang Mal Taman Anggrek itu," ujar penanggung jawab program Patroli sejak tayang pertama pada April 1999 lalu.
Di luar segala kontroversi pengaruh media, Adrianus Meliala menyisakan satu asumsi lagi.
"Pada dasarnya kita ini sudah punya bibit dan menjadi budaya. Coba datang ke Cengkareng. Ada satu daerah di sana yang memasang pengumuman: di sini tempat orang dibakar pertama kali. Di sini ada semacam glory, pengagungan. Artinya, ketika terjadi di daerah lain, bukan lagi sekadar peniruan, tapi pengagungan," tuturnya, prihatin.
EMPAT pembunuh Kebo masih buron. Sebelum menghilang, mereka mengumumkan kematian Kebo pada pemulung lain sambil tertawa bangga.
Polisi hanya berhasil membekuk delapan tersangka penganiaya Kebo, termasuk SuhariÑpaman Muah, dan Zumadi, adik Muah satu ibu.
Di Sisalam, Muah makin gelisah. Kebo belum juga pulang. Tak tahan menanggung penasaran, ia meminta Wage, hansip Sisalam, mengantarnya ke Jakarta.
Pada 22 Mei 2001, mereka sampai di Terminal Pulogadung. Wage membeli suratkabar
Pos Kota. Jantung pria ini berdetak keras saat menyimak sebuah kolom di kiri halaman muka. Muah yang buta huruf tenang-tenang saja.
"Suamimu lagi ada masalah," kata Wage.
Saat Muah dan Wage menghadap Brigadir Satu Eko Kuswanto di kantor Kepolisian Resort Jakarta Barat, delapan tersangka berkumpul di ruang yang sama.
Suhari dengan wajah letih mengeluh pada Wage, "Saya itu kesal, dimintain duit terus sama dia (Kebo) saban hari, sing tanpa perhitungan."
Eko bertanya pada Muah, "Ibu Muah, suami ibu meninggal dibunuh orang. Apakah ibu mau menuntut?"
Muah tidak ingin menuntut kematian Kebo secara hukum, "Orang dia itu jahat."
Seorang polisi wanita yang ikut hadir terkesima, "Saya juga perempuan, Bu Muah. Masak orang berumah tangga itu nggak ada kasih sayangnya?"
Wage membantu Muah menulis surat pernyataan. Setelah itu Muah membubuhkan cap jempol di atasnya.
"Sekalipun dia itu dibunuh seseorang, tapi dia orang jahat. Saya masih ingat, dulu pemerintah mengadakan misterius itu, pemerintah juga membunuhi orang, kok, orang jahat," kata Wage pada Eko.
Pada 1980-an, pemerintah Soeharto melakukan sebuah operasi yang terkenal dengan sebutan "Petrus" atau penembakan misterius. Ribuan penjahat ditembak, sedang mayatnya ditinggalkan begitu saja. Pers dan forum internasional mengutuk tindakan yang dianggap melanggar prinsip kemanusiaan ini. Dalam biografi Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, Soeharto membela diri, "Itu untuk terapi goncangan. Supaya orang banyak mengerti bahwa terhadap perbuatan jahat masih ada yang bisa bertindak dan mengatasinya."
Di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, salah satu rumah sakit umum di Jakarta, ada bagian yang membiarkan waktu berhenti. Dunia orang-orang mati. Bau busuk mengelana di lantai ruang pendingin. Deretan lemari besi merapat ke dinding. Pada pintunya tertera angka-angka; 1,2,3, dan 4 dari cat biru. Seonggok arang tersimpan di balik pintu nomor 3. Dalam daftar registrasi petugas kamar mayat tercantum catatan: "21/5001/793/9.35/Tanpa Nama/Polsek Tanjung Duren/Luka bakar." Tak ada pihak keluarga datang mengambil mayat itu.
Pada 25 Mei 2001, petugas kamar mayat membawa mayat tanpa nama tadi ke pemakaman massal Tegal Alur, Jakarta Barat. Penggali kubur menimbun tanah di atas lubang. Kebo kembali sendirian.
PERTENGAHAN Juni 2001. Mata Muah kembali menerawang. Berbagai perasaan berkecamuk dalam benak wanita ini.
"Bagaimanapun dia suami saya, ya kadang kangen. Tapi, dia begitu."
Nani, istri lurah Sisalam, menghibur, "Sudahlah, kini kowe sudah bebas. Nanti cari suami yang baik."
Kecemasan Muah masih tertuju pada yang hidup.
"Kasihan adik saya. Anak-anaknya masih kecil."
Surat perpanjangan penahanan Zumadi yang dikeluarkan pihak Kejaksaan Negeri Jakarta Barat menggeletak di lantai semen yang dingin.
Ratusan kilometer dari Sisalam, cerobong bangunan tersaput jelaga terus mengeluarkan asap hitam ke langit biru. Bekas-bekas bilik yang terbakar menyuguhkan pemandangan mengenaskan.
Kerangka kursi panjang teronggok di muka bilik Kebo yang tinggal puing. Karpet merah dari bahan wol miliknya masih tersampir di tali jemuran. Seorang pria berkaus singlet mendorong gerobak di antara sampah kaleng dan plastik. Roda kehidupan berderit lagi, berputar, tiada berhenti. Manusia menjalaninya seperti kutukan, sebagaimana Atlas, dewa dalam mitologi Yunani, memikul bumi pada pundaknya.
Muah termangu memandangi serpihan-serpihan kertas yang berserak di lantai, surat nikahnya dengan Kebo. Kebo merobek surat tersebut saat mereka bertengkar
hebat untuk kesekian kali.
"Akan saya simpan terus kenang-kenangan," ujar Muah, nyaris berbisik.*
Sumber : Aceh Feature, 3 September 2001
Oleh : Linda Christanty
JALAN itu lurus. Berangkal batu, pecahan keramik, kristal semen, melapisi permukaannya. Bias cahaya meriah dari papan reklame dan logo pertokoan memberinya siluet.
Minggu, 20 Mei 2001, pukul 21.00, sebuah taksi biru merayap di sana. Jarum speedometer-nya menunjuk angka 15 kilometer per jam. Setelah melampaui satu tikungan dan disambut sorot neon 40 watt, kendaraan tersebut berhenti. Tepat di muka pemukiman para pemulung.
Enam pria melompat dari dalam taksi, kemudian sibuk menarik tubuh seseorang dari jok belakang. Kedua tangan dan kakinya terikat kawat. Rintihan parau terdengar lemah dari tenggorokan pria itu.
Ia sekarat.
Orang-orang mendekat dengan rasa ingin tahu.
Lima puluh meter dari tempat kejadian, di samping pagar seng yang membatasi pemukiman tersebut dengan perkampungan, ada sebuah jalan kecil. Nama jalan tertera pada papan hijau tua yang terpancang di mulutnya: Jalan Tanjung Palapa.
Faried tinggal di tepi jalan itu. Ia mahasiswa sebuah sekolah tinggi publisistik di Jakarta. Ia baru saja pulang ketika keponakannya memberitahu ada keramaian dekat pemukiman para pemulung. Faried bergegas ke sana.
Massa berkumpul sekitar 50 orang, terdiri dari warga setempat, pemulung, dan tukang ojek. Faried mencoba menerobos kerumunan, mendesak maju. Di tanah menggeletak tubuh seseorang.
"Ini siapa?" tanya Faried pada pria yang berdiri di dekatnya.
"Kebo."
Teriakan terdengar dari tengah massa.
"Buntungin aja tangannya!"
"Ceburin ke kali!"
"Bakar!"
Tiba-tiba seorang pemulung mengguyur tubuh tak berdaya ini dengan minyak tanah.
Massa hanya menonton.
"Tolong jangan di sini. Kalau ingin menghakimi dia itu urusan kalian, tapi
jangan di sini," seru Faried, panik.
Ia khawatir nama kampungnya tercemar akibat tindak kriminal, bukan pada nasib korban.
Seakan menyetujui peringatan tadi, empat pria mengangkat tubuh Kebo, lalu meletakkannya dalam gerobak, bersatu dengan sampah plastik dan ban mobil bekas.
Para pemulung itu mendorong gerobak ke tempat pembakaran sampah sampai berhenti di bawah sebatang pohon mangga. Bagai mengawali seremoni persembahan, salah seorang dari mereka menyalakan korek api.
KARIMUN Usman baru saja selesai sholat Subuh. Rambut mulai memutih di usianya yang menjelang enam puluh. Sang istri, Siti Royamah, tengah sibuk di dapur. Karimun biasa sarapan dengan beberapa iris roti tawar dan secangkir kopi, sebelum berangkat ke gedung parlemen di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Barat, tempat ia melaksanakan tugas sehari-hari. Ia berkantor di sana sejak 1999.
Saat berkunjung ke kebun bunga milik seorang sahabat di Cibodas pada 31 Januari 1999, Karimun bertemu Megawati Soekarnoputri, ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Mereka berbincang-bincang dan ternyata menemukan kecocokan dalam cara pandang terhadap berbagai konflik di Indonesia. Politik memang dunia yang intim dengannya sejak lama. Karimun pernah menjadi ketua anak cabang Partai Nasional Indonesia di Cotgire, Loksukun, Aceh Utara, pada 1966 dan sempat ditahan di penjara Loksukun, karena dituduh komunis.
Buah pikirannya di Cibodas tak sia-sia. Dewan pimpinan cabang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di Aceh mencalonkan Karimun duduk di parlemen. Karimun terpilih sebagai wakil partai berlambang banteng gemuk tadi. Orang Aceh menaruh banyak harapan padanya. Ia punya ruang untuk memperjuangkan kedamaian dan keadilan bagi rakyat di negeri yang masih bergolak itu.
Meski punya rumah dinas di Kalibata, Karimun Usman tetap tinggal di Kompleks Pengairan, milik Departemen Pekerjaan Umum. Ia pensiun dari departemen tersebut pada April 1999. Rumah pribadi Karimun cukup nyaman. Ada garasi mobil, kursi-kursi dengan bantalan beludru di terasnya, dan lantai yang terbuat dari marmer merah bata.
Sidang paripurna akan berlangsung pagi 21 Mei 2001. Tapi, Karimun Usman belum mengganti t-shirt putih dan pantalon warna kremnya dengan setelan resmi, ketika pintu rumahnya diketuk orang pada pukul 06.30.
Norman, salah seorang warga, sudah menunggu di teras. Raut wajahnya menyiratkan kabar buruk. Karimun mafhum. Ia terbiasa menghadapi kabar seburuk apa pun. Karimun menjadi ketua rukun warga (RW) di wilayah itu sejak 1976, sehingga sudah cukup teruji. Kadang-kadang, ia kedatangan tamu tengah malam buta. Kadang-kadang, dini hari.
"Ada mayat terbakar ditemukan di RW kita, Pak," lapor Norman.
Tanpa berpikir panjang, Karimun berangkat bersama Norman. Jarak rumahnya ke tempat kejadian sekitar 300 meter.
Banyak orang berkerumun. Mayat itu hangus bersama gerobaknya di belakang Tower Anggrek Mall, Slipi, Jakarta Barat. Anggrek Mall atau lebih dikenal dengan sebutan Mal Taman Anggrek adalah sebuah pertokoan mewah di Jakarta. Berbagai barang dari merek ternama dijual di sana; dari celana dalam sampai gaun pesta, dari makanan sampai alat olah raga. Di sekitar pertokoan ini berdiri apartemen-apartemen menjulang dengan jendela kaca berkilau.
Karimun diwawancarai reporter dari Patroli, sebuah program tayang di stasiun televisi Indosiar. Polisi belum datang.
"Siskamling itu supaya nggak kenal waktu. Siskamling dibutuhkan bukan untuk orang lain, tapi untuk kita sebagai anggota masyarakat. Jangan sampai terjadi seperti hal yang kita lihat pagi ini," kata Karimun, menatap kamera.
Ia menyesal terlambat mencegah kebiadaban tersebut.
Karimun tercenung dalam ruang kerjanya yang terletak di koridor lantai lima Gedung Nusantara II, salah satu gedung perkantoran dalam kawasan parlemen. Sebuah jendela kaca menghadap jalan raya mengakhiri ujung koridor yang terasa dingin dan sunyi. Halaman gedung terlihat lengang. Barikade kawat berduri membentang di muka pagar besi. Pos penjagaan berisi seorang polisi. Teman-temannya mengaso di atas hamparan rumput hijau di sebelah kanan gedung yang
diteduhi pohon beringin. Tenda besar dan truk tronton milik brigade mobil berada di sekeliling mereka. Setelah ribuan mahasiswa dan rakyat menduduki gedung tersebut untuk menuntut penurunan Presiden Soeharto tiga tahun lalu, aparat keamanan jarang istirahat. Mereka harus menahan aksi-aksi protes yang terus mengalir ke parlemen.
"Menurut saya, apa pun kesalahan orang, tidak perlu kita bakar. Setelah kekesalan dilepaskan, serahkan orang itu kepada polisi, lalu diproses secara hukum," ujar Karimun.
Tapi, Karimun sendiri pesimis terhadap kinerja aparat penegak hukum, "Koruptor kakap lolos, maling ayam ditahan tiga bulan."
Ia menganggap kondisi perekonomian yang buruk memicu tindak kekerasan massa akhir-akhir ini. Masyarakat mengekspresikan kekecewaan dengan membabi-buta, meski yang menjadi sasaran justru sesama rakyat kecil lagi.
"Ternyata setelah hampir dua tahun, yang terjadi justru dalam eksekutif, mengganti menteri dalam sebulan bisa dua kali. Menteri-menteri ditugaskan untuk lobi-lobi. Yang menyangkut tugas dan pokoknya tidak dilakukan. Sehingga apa yang sudah dicanangkan dibangun di daerah ini atau daerah sana, tidak dilakukan. Emosi-emosi kedaerahan bisa timbul dari sini. Akibatnya, kalau ada
satu saja pemicu, orang tidak mau melihat pada keadaan sekarang, walaupun keadaan yang sekarang jauh lebih bagus daripada tiga puluh tahun Soeharto berkuasa."
CEROBONG bangunan tersaput jelaga itu terus-menerus mengeluarkan asap hitam ke langit biru. Bangunan ini bagian dari Mal Taman Anggrek. Tepat di seberang temboknya berdiri bilik-bilik pemulung. Gundukan sampah plastik dan kaleng bekas cat atau minyak oli berada di muka atau sisi bilik mereka. Bau busuk tercium, tapi tak seekor lalat pun terbang atau hinggap. Bunga-bunga liar berkelopak putih dengan sepuhan ungu mendekati putiknya menjalar di atas tanah. Keindahan menjadi sebuah sindiran di sini.
Kebo hampir setahun tinggal di lapak tersebut. Ia seperti para penghuni lain, memiliki sebuah bilik untuk berteduh. Bilik Kebo berdinding tripleks dengan atap seng dan tambalan tripleks pada bagian tertentu. Jarak lantai ke langit-langit 1,5 meter. Luas bilik 2x2,5 meter persegi. Karpet merah darah dari bahan sejenis wol melapisi lantai bilik yang terbuat dari tanah. Tempat tidur kayu tanpa kasur merapat ke salah satu dinding. Kebo menyimpan beberapa potong pakaian dalam tas olahraga warna biru. Semua ini kekayaan yang ia miliki.
Kamar Kebo lebih mirip gua. Tanpa jendela. Di siang hari terasa pengap, sedang di malam hari begitu lembab. Cahaya matahari dan pergantian udara melewati satu-satunya lubang pada dinding; sebuah pintu yang terbuka. Kebo menggunakan kamar tersebut untuk tidur dan seringkali dalam keadaan teler akibat pengaruh alkohol. Ia gemar minum arak atau anggur hitam. Seorang pelacur biasa menemaninya bersenang-senang. Namun, perempuan yang dibawanya silih-berganti. Kebanyakan mereka berusia setengah tua dan seringkali berhubungan atas dasar
suka sama suka.
Bila musim hujan tiba lantai bilik tergenang air dan berlumpur. Penghuni lapak mencoba menimbun lantai bilik mereka dengan puing dan kayu, meski air yang turun dari langit nyaris tak terbendung. Kebo melakukan hal yang sama, lalu menjemur karpet yang basah berlumpur.
Lapak-lapak pemulung ini berdiri di atas lahan seluas lima hektare. Sebelum gerakan reformasi pada 1998, tanah tersebut tercatat sebagai milik Yayasan Bhakti Putra Bangsa. Papan nama yayasan menancap di atas lahan yang gersang. Hutomo Mandala Putra, putra bungsu mantan Presiden Soeharto, orang nomor satu yayasan itu.
Ketika Presiden Soeharto berkuasa, keluarga dan kroninya menguasai sebagian besar aset ekonomi serta perdagangan di Indonesia. Praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme menjadi lumrah.
Menjelang detik-detik kejatuhan Soeharto pada 1998, perekonomian Indonesia mencapai kulminasi paling buruk. Sistem ekonomi dalam negeri yang lama bobrok ditambah krisis mata uang yang melanda negara-negara Asia membawa petaka. Nilai rupiah meluncur dari Rp 2.300 per dolar Amerika pada Juli 1997 ke angka Rp 17 ribu per dolar Amerika pada Januari 1998. Pertumbuhan ekonomi turun 15 persen secara keseluruhan, seiring krisis di sektor-sektor kunci.
Pada Juni 1998, sektor pertanian menurun 2,4 persen, manufaktur 19,3 persen, pertambangan 8,3 persen, dan perdagangan serta jasa 25,2 persen. Jumlah penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan meningkat hampir 50 persen dan kebanyakan terkonsentrasi di wilayah Jawa. Pendapatan per kapita menurun dari 1088 dolar per kapita pada 1997 ke 610 dolar per kapita pada 1998.
Pada situasi krisis ini pula, gubernur Jakarta Sutiyoso memberi kesempatan pada masyarakat kota untuk menggarap lahan-lahan tidur, baik milik pemerintah maupun perusahaan. Akibatnya, orang berbondong-bondong membuat sertifikat atas lahan yang bukan milik sendiri. Bahkan, di antara mereka ada yang menyewakan lahan tersebut pada orang lain.
Seorang demi seorang datang, mengguntingi kawat pembatas, dan mengikat tali rafia pada tiang-tiang kayu untuk bermukim. Kebo termasuk dalam gelombang pendatang. Ia sudah lama menjalani hidup semacam itu, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Baginya itu hanya satu siklus yang biasa, seperti matahari terbit atau terbenam.
Selain mengumpulkan sampah plastik atau kaleng dan menjualnya kepada bos lapak, Kebo menimbun lubang-lubang di sepanjang Jalan Tanjung Palapa. Ia memiliki sebuah gerobak kayu untuk mengangkut bahan baku perbaikan jalan itu.
Kedengarannya mulia.
"Tapi suka minta uang sama orang-orang, kalau nggak dikasih nabok," kata Ismawan, salah seorang pemulung yang tinggal berseberangan dengan Kebo.
"Abis nguruk, dia minta bayar. Terus, suka beler," ujar Sri Utami, istri Ismawan.
Kebo memang bukan jenis yang bisa menimbulkan rasa nyaman. Tubuh Kebo penuh tato. Tato ular kobra di lengan kiri, betis kiri, dan betis kanannya. Pada lengan kanannya ada tato kalajengking. Punggung Kebo berhias tato wajah perempuan berambut panjang.
Namun, cara Kebo berpakaian cukup perlente. Ia gemar mengenakan setelan jaket dan celana jins. Sepatu kulit warna coklat melengkapi penampilannya. Tinggi pria ini sekitar 157 sentimeter, berkulit hitam, dan agak gemuk.
Usia Kebo 40 tahun. Ini usia berdasarkan surat nikahnya dengan Muah binti Sukardi. Di situ nama Kebo tertulis: Ratno bin Karja.
DESA Sisalam berada di Kecamatan Wanasari, bagian selatan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Dari alun-alun kabupaten, angkutan umum berwarna kuning jurusan Jagalumpeni siap mengantar penumpang ke Sisalam dengan ongkos Rp 1.000. Mobil melewati jalan yang tak rata dan berbatu-batu. Perempuan-perempuan desa membawa barang belanjaan dari kota mengisi bangku-bangkunya. Dandanan mereka sederhana. Ada juga yang bertelanjang kaki.
Sisalam tertera dalam daftar desa tertinggal. Belum ada pusat kesehatan masyarakat di sini. Hanya sebuah sekolah dasar milik pemerintah yang melayani kebutuhan pendidikan anak. Listrik baru dua tahun masuk ke desa ini. Kebanyakan penduduk Sisalam bekerja sebagai buruh tani. Tak ada papan nama desa. Jembatan kembar berada di muka jalan masuk yang terbuat dari tanah dan batu kali berwarna hitam. Jejak hujan tertinggal pada ceruk-ceruk jalanan yang tergenang air.
Rumah Muah binti Sukardi masih 500 meter ke dalam. Arsitekturnya amat sederhana. Dua buah jendela dan sebuah pintu di bagian muka. Langit-langit memperlihatkan komposisi kayu yang silang-menyilang, sedang sinar matahari menerobos ke dalam dari celah-celah genteng yang berlumut. Dinding-dinding rumah dikapur putih.
Ia bersimpuh di lantai semen yang dingin pagi itu. Sorot matanya sayu. Wajahnya bundar tanpa riasan. Muah tinggal bersama putri angkatnya, Teti, yang berusia 13 tahun. Kebo dan Muah merawat Teti sejak anak tersebut masih bayi, karena perkawinan mereka tak membuahkan keturunan.
"Rumah ini peninggalan embah saya," tutur Muah, dalam logat Banyumas yang kentara. Konsonan diucapkan dengan tengah lidah pada langit-langit mulut.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mulai bercerita. Pernikahannya dengan Kebo adalah pernikahan kedua. Usia perkawinan pertama Muah hanya bertahan setahun, meski ia dan suaminya saling cinta. Orangtua suami pertamanya, Damat, tidak menyukai Muah yang miskin. Mereka mencarikan istri lagi untuk Damat.
Pertemuan Muah dan Kebo juga kebetulan. Saat itu Muah ikut orangtuanya yang jadi pemulung di Pisangan, Jakarta. Muah berjualan pecel di samping bilik mereka. Kebo baru saja keluar dari penjara, setelah mendekam di sana selama enam bulan. Ia juga tinggal di lapak itu. Kayem, ibu Muah, menegur Kebo yang kebetulan lewat.
"Bo, Kebo kapan lu pulang?" tanya Kayem.
Muah memandangi ibunya heran, "Nama orang kok Kebo, sih Mak?"
"Ya, memang gitu. Dipanggilnya Kebo, Kebo gitu ...."
Suatu hari Kebo membeli pecel dagangan Muah dan hatinya berdesir melihat perempuan ini.
"Tuh cewek boleh juga," kisah Kebo pada sesama pemulung.
Semula Muah tak tertarik, tapi Kebo pantang menyerah. Saat kaki Muah luka tergores kaleng, Kebo membelikannya sandal jepit.
"Kamu mau nggak kawin sama saya?" tanya Kebo.
Muah ragu-ragu.
"Saya pengen jadi orang Jawa, jadi orang tani," rayu Kebo.
"Kalau situ mau sama saya, yang penting situ insaf. Berhenti mabok, asal lu baik, gua nggak apa-apa kawin sama lu," Muah, mengajukan syarat.
Ketika Muah hendak pulang kampung, Kebo memaksa ikut. Mereka sempat kumpul kebo selama enam bulan dan berkali-kali digrebek pemuda setempat. Pada 18 November 1986, Kebo dan Muah menikah di Sisalam. Tak seorang pun dari pihak keluarga Kebo hadir.
Asal-usul Kebo tak jelas.
Saat berpacaran dengan Kebo, Muah sempat bertanya, "Lu kampungnya di mana?
Orangtua lu di mana?"
"Di Dongkal. Cuma waktu kelas satu SD, saya ngikut truk berangkat ke Jakarta, terus bawa sarung sama ayam. Ayamnya nyolong punya orangtua saya. Ayam lagi angkrem (mengerami telur) diambil, buat ongkos. Sejak itu saya nggak pernah pulang," jawab Kebo pada Muah.
Hidup di Jakarta tidak mudah bagi Kebo. Ia tersesat sendirian di sebuah dunia asing, berada di tengah perubahan cuaca dan rasa lapar. Selain itu, berbagai bentuk kekerasan juga mengintai anak-anak jalanan seperti Kebo, termasuk pembunuhan dan penganiayaan seksual.
Pada 1996, media massa sempat menggemparkan masyarakat lantaran memuat berita perkosaan serta pembunuhan anak jalanan. Seorang pelaku yang dibekuk aparat kepolisian bernama Robot Gedek. Sebelum membunuh anak-anak itu, ia menyodomi mereka.
Kehidupan di jalanan mempertemukan Kebo kecil dengan pemungut puntung rokok dari tong-tong sampah kota, pria yang kemudian mengangkatnya sebagai anak. Kenangan Kebo terhadap ayah angkatnya samar-samar.
"Kebo tinggalnya nggak tetap. Semenjak dia di belakang Mal Taman Anggrek saya nggak ikut. Saya disuruh ngurusin anak," kenang Muah.
Kebo menitipkan uang belanja buat Muah melalui saudara atau teman sekampung yang datang ke Jakarta. Kadang-kadang, Kebo datang sendiri mengantarnya.
"Untuk dua bulan kadang Rp 150 ribu, kadang Rp 100 ribu," kata Muah. Ia maklum pekerjaan suaminya tak bisa menghasilkan banyak uang, tapi, "Ini juga diminta lagi, kalau dia mau beli minuman. Rp 10 ribu, Rp 20 ribu ... lama-lama abis," lanjutnya. Pendapatan Kebo bervariasi setiap hari.
"Pernah sehari dapat Rp 7.000, tapi nggak tentu."
Kebo tidak berubah. Dia tetap suka menenggak minuman keras. Bahkan, ia jadi amat pencemburu. Rasa cemburu membuat Kebo tega menyakiti istri sendiri.
"Saya ngasih nasi sama temannya dikiranya saya senang. Kejadiannya di Kampung Sawah, Jakarta, di samping Mal Taman Anggrek. Saya dipanggil, terus É mulut saya sudah bercucuran darah," kata Muah, menerawang.
Kebo boleh cemburu pada istrinya, tapi Muah harus menerima kehadiran perempuan lain dalam rumah tangga mereka. Pada 1988, Muah menengok suaminya di lapak Kemanggisan, Jakarta Barat. Seorang perempuan hamil bernama Yuli berada dalam bilik Kebo. Di malam hari Muah terpaksa membiarkan suami dan kekasihnya itu bercinta.
Akhirnya, Kebo mengutarakan niatnya untuk menikah lagi.
"Situ boleh kawin, asal ceraikan saya," ujar Muah, panas.
"Gua nggak mau ninggalin lu," jawab Kebo.
"Percuma, nggak mau ninggalin, tapi nyakitin terus."
"Nggak apa-apa kalau kamu maunya begitu. Tapi kamu kan punya orangtua, punya saudara." Kebo mengancam.
Muah gemetar.
Dalam keadaan marah, Kebo mengambil golok.
Ia memotong telunjuk tangan kanannya sendiri.
Para tetangga di Sisalam sering mendengar Kebo memukul istrinya. Muah menjerit-jerit, lalu berlari keluar rumah. Muah terpaksa bersembunyi di rumah tetangga untuk menghindari kekejaman Kebo. Tapi, nasib Muah tak selalu baik. Ia pernah pingsan akibat tindakan Kebo dan terkapar berlumuran darah. Kebo malah meninggalkannya, mencari arak, dan mabuk.
Namun, Kebo sangat lembut terhadap anak-anak. Ia senang mengajak anak-anak kampung pergi memancing. Kebo juga tak suka mendengar Muah membentak Teti. Saat mereka bertengkar malam-malam, Kebo tak ingin putrinya tahu. Suatu malam di antara ribuan malam yang menakutkan bagi Muah, Teti terbangun mendengar suara gaduh. Bocah ini melihat kursi sudah jungkir-balik di lantai.
"Ada apa, sih, Pak?" tanya Teti.
"Nggak ada apa-apa, kok, Nok."
Pada 1992, Kebo membuat ulah pertama kali dengan penduduk kampung Sisalam. Dia mengancam seorang pria bernama Soka. Kebo menempelkan golok di leher Soka sambil menggiringnya mondar-mandir di jalan desa. Penduduk menyaksikan, tapi tak berani melerai.
"Soka ini pendatang, sama seperti Kebo. Mungkin, mereka ini ingin menunjukkan siapa yang paling berkuasa," ujar Rodijuro, lurah Sisalam.
"Tapi, hanya sekali itu. Dia nggak pernah bikin keributan lagi dengan warga sini," kata Wage, pertahanan sipil (hansip) Sisalam.
Akibat perbuatannya itu Kebo dikurung lima bulan di tahanan Kepolisian Resort
Brebes.
Angin siang berembus lewat pintu dan jendela yang terbuka. Kenangan pahit menyesakkan dada Muah. Sebentar-bentar terdengar embikan kambing dari kejauhan. Muah meluruskan kedua kakinya yang terasa penat. Perempuan mungil ini menghela napas panjang. Baru saja ia kembali dari memotong padi di sawah. Muah bekerja sebagai buruh tani. Pemilik sawah memberikan seperenam hasil panen untuk upah para buruh. Pekerjaan tersebut bersifat musiman. Ketika beras dari hasil panen sudah habis dan uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari menipis, Muah berharap pada kiriman uang dari suaminya. Namun, Kebo sudah dua bulan tak berkabar berita sejak Mei 2001 itu.
SENJA turun pada Jumat 18 Mei 2001. Dua pelacur, Lina dan Unyil, menemani Kebo yang teler dalam biliknya. Biasanya, Kebo ditemani salah seorang dari mereka. Kali ini agak istimewa.
Pintu bilik Kebo tertutup rapat. Kebo dan dua perempuan ini tenggelam dalam kesenangan mereka. Tiba-tiba Kebo menyuruh Unyil dan Lina melakukan adegan lesbian, seperti dalam film biru.
"Dua perempuan disuruh telanjang. Terus disuruh begituan," tutur Kusni, salah seorang pemulung.
Kedua perempuan tersebut menolak. Kebo marah dan mengancam akan membakar bilik. Dengan langkah sempoyongan ia berjalan ke ambang pintu. Seorang pemulung lewat. Kebo berteriak memintanya membeli minyak tanah.
Pria ini tak bersedia. Kebo lantas menempelkan golok ke leher pria tersebut, yang buru-buru memenuhi permintaan Kebo.
Kebo menyiram tempat tidur kayunya dengan dua liter minyak tanah, lalu menyulut korek api. Lina dan Unyil nekad membuka pintu. Mereka lari tunggang-langgang. Pukul 18.15 api menyala. Bilik Kebo terbakar. Api merembet ke bilik-bilik tetangga.
Kebo kaget. Nalurinya menyuruh kabur. Teriakan panik terdengar santer.
"Kebakaran ... kebakaran!"
"Kebakaran!"
"Kebakaran ...."
Sewaktu orang-orang menyelamatkan diri serta barang-barang mereka dari jilatan api, Kebo telah meninggalkan kawasan tersebut. Sebelas bilik hangus.
"Ada yang sedang tiduran, ada yang baru selesai mandi, dan melihat api sudah membakar, nggak bisa ngapa-ngapain lagi, ada yang belum pulang. Waktu itu saya sedang nonton tivi. Tiba-tiba saja api sudah membesar dan semua orang panik. Semua hangus terbakar. Surat tivi, kartu tanda penduduk, surat nikah, peralatan dapur, pakaian É semua terbakar. Saya hanya bisa menyelamatkan tivi. Pakaian saya hanya ini saja yang nyisa, yang melekat di badan ini. Gubuk terbakar semua, abis. Sekarang kami nggak punya tempat tinggal, numpang-numpang sama
tetangga," kata Wati, tetangga Kebo, dengan wajah memelas.
Penduduk kampung sekitar lapak ikut terkena getahnya.
"Aliran listrik mendadak padam. Telepon aja ikut mati."
Dua hari kemudian, pemulung-pemulung yang membawa besi, golok, dan kayu menemukan Kebo teler di lapak kayu Kedoya Utara, Jakarta Barat. Jumlah mereka, 32 orang. Tentu bukan lawan yang seimbang. Kebo dianiaya beramai-ramai tanpa melakukan perlawanan. Setelah ia jatuh pingsan, para pengeroyok mencegat taksi untuk membawanya kembali ke belakang Mal Taman Anggrek.
ARNOLD Toynbee, sejarawan Inggris terkemuka, mengatakan bahwa menjadi pemimpin bagai berada di antara dua celah sempit. Bila berteguh pada pendirian akan jadi diktator, tapi terlalu mendengarkan rakyat membuatnya terkesan lemah.
Pemerintahan Abdurrahman Wahid mengalami hal itu. Di tengah warisan krisis yang parah dan ancaman disintegrasi di berbagai wilayah, Wahid serba salah. Tawaran bantuan dari International Monetary Fund datang, tapi bukan tanpa pamrih. Syaratnya, antara lain subsidi bahan bakar minyak dan listrik harus dicabut. Padahal, kesulitan ekonomi masih mendera rakyat. Kerusuhan di daerah membuat Wahid terpaksa meminta militer turun tangan dan pelanggaran hak-hak sipil tak bisa dihindari. Hukum kehilangan kekuatan.
Penghakiman massa terhadap pelaku kriminal maupun tersangka kejahatan menjadi fenomena. Rakyat bertindak sendiri untuk mempertahankan milik mereka yang tersisa.
"Tindakan massa itu tidak benar. Itu pembunuhan. Polisi mengeluarkan tembakan peringatan, kalau situasinya demikian," ujar kepala dinas penerangan Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya, Komisaris Besar Anton Bachlul Alam.
Polisi sering gagal meredakan massa yang marah. Korban tewas di depan mata mereka.
"Pada situasi di era reformasi, orang ingin bebas, demokrasi kebablasan, semua hal dihadapi dengan people power. Polisi akan bertindak tegas. Karena ada juga korban yang jadi korban. Ini yang lebih memprihatinkan. Istilahnya, terjadi maling teriak maling. Penjahat itu kan sudah tahu bahwa massa akan menghakimi mereka, sehingga mereka melakukan ini," kata Anton.
Di Indonesia, lebih seribu orang jadi korban kekerasan massa tahun lalu. Harian Kompas memuat 46 peristiwa pengeroyokan yang disertai pembakaran sepanjang Januari 1999 sampai Mei 2000 di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Wilayah Jakarta Barat merupakan peringkat pertama dalam jumlah korban. Masyarakat kawasan ini dikategorikan "tega." Delapan kasus pembakaran orang hidup-hidup berlangsung di sini. Data forensik dari Universitas Indonesia menunjukkan
korban kekerasan massa pada tahun 2001 di Jakarta mencapai 86 kasus dengan 6 kasus pembakaran korban.
Kebo hanya melanjutkan daftar panjang tadi.
Adrianus Meliala, kriminolog dari Universitas Indonesia, mengatakan kekerasan massa sekarang memasuki tahap yang sulit dihentikan. Ia curiga media massa terlibat.
"Media massa harus puasa memberitakan," kata Meliala, serius.
Meliala tak pukul rata terhadap semua media. Internet tidak berpengaruh pada masyarakat kelas bawah, sedang televisi kurang berpotensi.
"Televisi juga terlambat mengambil gambar, mereka tak punya gambar yang bagus.
Misalnya, yang ditayangkan Patroli itu, gambarnya tidak berbicara dan tidak cukup melekat di memori. Media cetak lebih berpengaruh. Pos Kota, misalnya, headline-nya bukan pada perilaku massa yang brutal, tapi mengarah pada korban yang gosong, yang news yang makin gosong itu. Makin sadis berita itu, makin oke. Tidak serta-merta memang. Tapi, kemudian kelompok massa yang marah melihat kok model itu cocok dengan mereka."
Gunawan Eko Prabowo, redaktur pelaksana suratkabar Pos Kota, terbahak-bahak. Ia
batal menyentuh semangkuk bakmi pangsit yang terhidang di meja kami, di salah satu restoran yang bersebelahan dengan kantornya. Sepasang mata pria ini mulai mengerjap-ngerjap. Ia sudah sebelas tahun bekerja di Pos Kota.
"Saya sering mendengarkan pendapat semacam itu. Saya ingin bukti. Berapa persen berita kami mempengaruhi orang untuk melakukan kejahatan? Coba adakan penelitian," ujar Gunawan dengan mimik serius.
"Peniruan langsung atau spontan itu mengada-ada."
Tapi, ia setuju berita bisa menjadi rujukan modus kejahatan terencana.
"Dulu ada kasus Nyonya Diah, mayat dipotong tujuh itu. Setelah kasus Nyonya Diah, berlanjut dengan kasus Kristin. Mayatnya dipotong-potong juga. Pengakuan pamannya yang menjadi pelaku, 'Saya baca koran, Nyonya Diah dipotong. Polisi sangat sulit mengungkap kasus. Jadi saya tiru itu'," tutur Gunawan.
Pos Kota suratkabar yang identik dengan berita kriminal, meski Gunawan membuktikan hanya 25 persen dari keseluruhan halamannya yang memuat berita semacam itu. Oplah Pos Kota fluktuatif. Paling tinggi 700 ribu eksemplar, paling rendah 300 ribu eksemplar.
"Berita seperti itu kami muat, karena paling dekat dengan keseharian masyarakat
pembaca Pos Kota, menengah ke bawah," Gunawan berargumentasi.
Bagaimana dengan pemilihan judul berita dan ungkapan yang vulgar?
"Selagi saya bisa koreksi, saya koreksi. Dulu ada headline yang menceritakan razia terhadap wanita tuna susila. Dalam judulnya ada kalimat berbunyi, 'celana dalamnya ketinggalan.' Saya panggil redakturnya. Kok, bisa menurunkan judul seperti ini? Saya marahi," kilahnya.
Di lain pihak, Gunawan khawatir dengan mengubah gaya penulisan Pos Kota membuat mereka kehilangan pasar. Brand name itu terlanjur melekat. Apalagi sekarang banyak koran yang mengikuti gaya Pos Kota, baik tema maupun penyajian berita. Tingkat persaingan antar media dalam ceruk yang sama makin tinggi. Pos Kota tak ingin berjudi.
Citra Pos Kota sebagai suratkabar berita kriminal membuat harian ini sering berfungsi sebagai pos polisi. Masyarakat datang untuk melaporkan anak yang hilang. Pengusaha mengadukan rekan bisnis yang kabur menggondol sejumlah uang milik bersama.
"Kelihatannya masyarakat lebih percaya pada media ketimbang pada polisi. Seringkali polisi terlambat. Fasilitas mereka nggak memadai. Saya pernah melihat sendiri bagaimana untuk mengejar penjahat saja harus cari motor dulu, beli bensin patungan," kata Gunawan.
Pengalaman produser Patroli Indosiar, Indria Purnama Hadi, menyangkut pengaruh berita pada tindak kejahatan nyaris sama dengan Gunawan. Indria bahkan tak menyangkal pendapat Meliala.
"Sebelumnya saya pernah dengar ada yang berkata bahwa televisi atau media berpengaruh pada perilaku orang. Tapi, ini akhirnya saya alami sendiri. Suatu hari kami mewawancari pelaku pencurian kendaraan bermotor di Sleman, Yogyakarta. Usianya masih muda, sekitar 17 tahun. Dalam sehari ia bisa mencuri dua sampai tiga motor. Kami kaget juga sewaktu ia bilang, untuk mencuri itu dia melihat dari Patroli," kata Indria.
Evaluasi pun dilakukan. Sejak itu ia lebih berhati-hati melakukan penyuntingan.
Patroli tak lagi menampilkan alat-alat yang mendukung pencurian.
Menurut Indria, program tayang tersebut lahir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang tidak terpenuhi stasiun televisi lain. Banyak televisi menyajikan berita politik, yang membuat orang jenuh. Berita-berita Patroli tak melulu menonjolkan sisi kriminal, melainkan mengandung tujuan sosial dan hukum.
"Agar masyarakat makin hati-hati," ujar Indria. "Sebagai peringatan kepada masyarakat yang lain. Misalnya, penghakiman massa itu memberi informasi sekaligus peringatan. Atau tayangan tentang ledakan mercon yang membawa korban di Duri Kepa. Orang yang punya mercon di Depok, misalnya, jadi waspada."
Pada awal masa tayang, Patroli memperoleh informasi dari kepolisian. "Tapi, sekarang masyarakat sendiri yang menelepon kami. Seperti kasus mayat yang dibakar di belakang Mal Taman Anggrek itu," ujar penanggung jawab program Patroli sejak tayang pertama pada April 1999 lalu.
Di luar segala kontroversi pengaruh media, Adrianus Meliala menyisakan satu asumsi lagi.
"Pada dasarnya kita ini sudah punya bibit dan menjadi budaya. Coba datang ke Cengkareng. Ada satu daerah di sana yang memasang pengumuman: di sini tempat orang dibakar pertama kali. Di sini ada semacam glory, pengagungan. Artinya, ketika terjadi di daerah lain, bukan lagi sekadar peniruan, tapi pengagungan," tuturnya, prihatin.
EMPAT pembunuh Kebo masih buron. Sebelum menghilang, mereka mengumumkan kematian Kebo pada pemulung lain sambil tertawa bangga.
Polisi hanya berhasil membekuk delapan tersangka penganiaya Kebo, termasuk SuhariÑpaman Muah, dan Zumadi, adik Muah satu ibu.
Di Sisalam, Muah makin gelisah. Kebo belum juga pulang. Tak tahan menanggung penasaran, ia meminta Wage, hansip Sisalam, mengantarnya ke Jakarta.
Pada 22 Mei 2001, mereka sampai di Terminal Pulogadung. Wage membeli suratkabar
Pos Kota. Jantung pria ini berdetak keras saat menyimak sebuah kolom di kiri halaman muka. Muah yang buta huruf tenang-tenang saja.
"Suamimu lagi ada masalah," kata Wage.
Saat Muah dan Wage menghadap Brigadir Satu Eko Kuswanto di kantor Kepolisian Resort Jakarta Barat, delapan tersangka berkumpul di ruang yang sama.
Suhari dengan wajah letih mengeluh pada Wage, "Saya itu kesal, dimintain duit terus sama dia (Kebo) saban hari, sing tanpa perhitungan."
Eko bertanya pada Muah, "Ibu Muah, suami ibu meninggal dibunuh orang. Apakah ibu mau menuntut?"
Muah tidak ingin menuntut kematian Kebo secara hukum, "Orang dia itu jahat."
Seorang polisi wanita yang ikut hadir terkesima, "Saya juga perempuan, Bu Muah. Masak orang berumah tangga itu nggak ada kasih sayangnya?"
Wage membantu Muah menulis surat pernyataan. Setelah itu Muah membubuhkan cap jempol di atasnya.
"Sekalipun dia itu dibunuh seseorang, tapi dia orang jahat. Saya masih ingat, dulu pemerintah mengadakan misterius itu, pemerintah juga membunuhi orang, kok, orang jahat," kata Wage pada Eko.
Pada 1980-an, pemerintah Soeharto melakukan sebuah operasi yang terkenal dengan sebutan "Petrus" atau penembakan misterius. Ribuan penjahat ditembak, sedang mayatnya ditinggalkan begitu saja. Pers dan forum internasional mengutuk tindakan yang dianggap melanggar prinsip kemanusiaan ini. Dalam biografi Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, Soeharto membela diri, "Itu untuk terapi goncangan. Supaya orang banyak mengerti bahwa terhadap perbuatan jahat masih ada yang bisa bertindak dan mengatasinya."
Di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, salah satu rumah sakit umum di Jakarta, ada bagian yang membiarkan waktu berhenti. Dunia orang-orang mati. Bau busuk mengelana di lantai ruang pendingin. Deretan lemari besi merapat ke dinding. Pada pintunya tertera angka-angka; 1,2,3, dan 4 dari cat biru. Seonggok arang tersimpan di balik pintu nomor 3. Dalam daftar registrasi petugas kamar mayat tercantum catatan: "21/5001/793/9.35/Tanpa Nama/Polsek Tanjung Duren/Luka bakar." Tak ada pihak keluarga datang mengambil mayat itu.
Pada 25 Mei 2001, petugas kamar mayat membawa mayat tanpa nama tadi ke pemakaman massal Tegal Alur, Jakarta Barat. Penggali kubur menimbun tanah di atas lubang. Kebo kembali sendirian.
PERTENGAHAN Juni 2001. Mata Muah kembali menerawang. Berbagai perasaan berkecamuk dalam benak wanita ini.
"Bagaimanapun dia suami saya, ya kadang kangen. Tapi, dia begitu."
Nani, istri lurah Sisalam, menghibur, "Sudahlah, kini kowe sudah bebas. Nanti cari suami yang baik."
Kecemasan Muah masih tertuju pada yang hidup.
"Kasihan adik saya. Anak-anaknya masih kecil."
Surat perpanjangan penahanan Zumadi yang dikeluarkan pihak Kejaksaan Negeri Jakarta Barat menggeletak di lantai semen yang dingin.
Ratusan kilometer dari Sisalam, cerobong bangunan tersaput jelaga terus mengeluarkan asap hitam ke langit biru. Bekas-bekas bilik yang terbakar menyuguhkan pemandangan mengenaskan.
Kerangka kursi panjang teronggok di muka bilik Kebo yang tinggal puing. Karpet merah dari bahan wol miliknya masih tersampir di tali jemuran. Seorang pria berkaus singlet mendorong gerobak di antara sampah kaleng dan plastik. Roda kehidupan berderit lagi, berputar, tiada berhenti. Manusia menjalaninya seperti kutukan, sebagaimana Atlas, dewa dalam mitologi Yunani, memikul bumi pada pundaknya.
Muah termangu memandangi serpihan-serpihan kertas yang berserak di lantai, surat nikahnya dengan Kebo. Kebo merobek surat tersebut saat mereka bertengkar
hebat untuk kesekian kali.
"Akan saya simpan terus kenang-kenangan," ujar Muah, nyaris berbisik.*
Sumber : Aceh Feature, 3 September 2001
Roy Budhianto Handoko : Roy, Bisnis dan Sosial Harus Seimbang...
Roy, Bisnis dan Sosial Harus Seimbang...
Oleh : P Bambang Wisudo dan Rien Kuntari
KULIT wajahnya yang terang kini sedikit kehitaman. Maklum, selama satu tahun terakhir, pria kelahiran Salatiga, 13 November 1953, ini harus bolak-balik antara Salatiga dan Nglelo yang penuh tanjakan dan liku. Nglelo adalah sebuah desa terpencil di leher Gunung Merbabu, Jawa Tengah, yang hampir selalu berselimut kabut.
DI desa sunyi nan dingin itu, Ir Roy Budhianto Handoko, begitu pria itu disebut, adalah seorang guru matematika di SLTP alternatif Candi Laras. Meski hanya memiliki lima siswa, sekolah alternatif Candi Laras adalah sekolah terbuka pertama yang memiliki fasilitas on-line selama 24 jam penuh di puncak gunung. Dunia pendidikan adalah salah satu komitmen sekaligus keprihatinannya selama ini.
"Saya rasa hampir 50 persen hasil didikan tidak berprofesi sesuai dengan pendidikan yang dikenyam. Misalnya, ada sarjana yang bersedia menjadi pegawai biasa. Ini kan namanya orang berpendidikan merampas hak rakyat kecil. Jika tidak diatasi, mereka akan semakin tersisihkan. Persoalannya, bagaimana kita mengangkat rakyat kecil agar memiliki kemampuan yang tak kalah dengan para sarjana…," katanya.
Ia pun prihatin dengan kesempatan pendidikan yang tidak merata. Di Desa Nglelo, misalnya, anak usia sekolah terpaksa harus ke sawah di usia cukup dini karena biaya pendidikan yang semakin tak terjangkau. Kondisi desa semakin parah seiring dengan runtuhnya "kerajaan" tembakau. Roy bersama paguyuban petani setempat lalu mendirikan sekolah alternatif Candi Laras tersebut.
Gaya pengajaran Roy memang di luar kebiasaan. Ketika mengajarkan masalah gravitasi, misalnya, ia cukup menuliskan kata "gravitasi" dan sedikit kata pengantar. Ia membiarkan para siswa mendalami sendiri masalah gravitasi dengan menjelajah dunia maya yang kini disebut internet.
Ketika ia membekali para siswa dengan pengetahuan tentang pertanian, ia membebaskan para siswa untuk menjelajah dunia maya itu guna menemukan teknik mutakhir tentang bercocok tanam.
Sistem yang ia terapkan membuahkan hasil. Anak didik Roy yang seluruhnya anak mantan petani tembakau, kini memiliki pengetahuan cukup, bahkan lebih maju dibandingkan dengan orangtua mereka. Kelima anak didiknya berhasil menduduki ranking pertama dalam ujian nasional yang diselenggarakan SLTP induk di Salatiga.
Kini, hal terpenting baginya adalah membimbing para siswa untuk menggunakan internet dengan benar. Di matanya, sekolah menengah pertama merupakan ajang terbaik mengenalkan dunia internet bagi para siswa.
"Pikiran mereka masih jernih," ujarnya memberi alasan.
"Karena itu, kalau sejak dini sudah dibiasakan menggunakan internet dengan benar, sampai dewasa nanti mereka terbiasa menggunakan fasilitas itu untuk kepentingan yang bermanfaat, tetapi kalau dunia internet baru dikenalkan pada masa sekolah menengah atas akan terlambat. Pada usia itu, pikiran siswa kan mulai "ngeres", nah di sini bahayanya…," lanjut lulusan Fakultas Teknik Sipil Universitas Diponegoro, Semarang, ini sambil tertawa.
Pesatnya perkembangan teknologi, kata Roy, seharusnya diantisipasi oleh bidang pendidikan. Dalam arti, sudah selayaknya jika kurikulum pendidikan disesuaikan dengan kemajuan tersebut. Menurut dia, sangatlah pantas jika pendidikan masa kini menyertakan pula teknologi internet sebagai salah satu sarana pembelajaran. Kenyataannya, dunia internet lebih memberikan ruang kebebasan kepada para siswa untuk mendapatkan pemahaman akan satu bahan pelajaran dengan lebih baik.
Karena itu, ia membentuk jaringan pendidikan Salatiga. Roy yang memiliki jabatan resmi sebagai Direktur Utama Indonet Salatiga membangun jaringan dan memberikan fasilitas on-line gratis kepada seluruh SLTP di Salatiga. Dengan senang hati ia membangun fasilitas tersebut hingga puncak gunung.
Ia mengakui ada unsur bisnis yang mendasari langkah tersebut, yaitu keuntungan jangka panjang.
Pada rentang waktu lima hingga 10 tahun mendatang, 80 persen pengguna utama internet adalah para siswa yang kini duduk di bangku sekolah dasar dan menengah. Baginya, mereka adalah generasi perantara ke zaman yang menjadikan teknologi bagai aliran darah kehidupan.
Untuk itu, ia menekankan pentingnya Indonesia memiliki server sendiri. "Misalnya, jika mereka membuat website dengan alamat dari luar negeri, berapa biaya yang harus dikeluarkan. Kalau cuma satu anak tidak masalah, tetapi kalau jutaan, berapa devisa kita yang berkurang karena mereka harus lari dulu ke server di luar negeri, baru kemudian ke sini lagi. Ini sebenarnya pemborosan sangat besar yang tanpa disadari. Coba bayangkan, kalau seluruh anak SMP punya homepage di luar, dan mereka setiap hari men-down-load, berapa bandwith yang harus dikeluarkan," ujarnya.
"Apalagi, dengan sistem lisensi. Sekarang kita ini dijajah Microsoft. Apa-apa harus bayar. Ini harus diusahakan jalur atau sistem sendiri. Karena itu, Indonesia harus punya server sendiri sehingga bisa men-down-load tanpa biaya…. Tetapi yang paling penting, di seluruh Indonesia sudah harus ada Indonesia Internet Exchange, mesin yang memungkinkan adanya intranet, misalnya di Salatiga. Karena, sekarang ini kita harus melalui jalur dari Yogyakarta lalu ke Jakarta, baru kemudian ke Salatiga," jelas pemilik Hotel Beringin, Salatiga, ini.
TIDAK mengherankan jika ia memiliki komitmen tinggi pada pendidikan. Jiwa nasionalisme telah mendarah daging di dalam dirinya. Ia terlahir dalam keluarga yang aktif pada perjuangan PNI. Semangat itu pula yang membuatnya tak hanya mementingkan keuntungan semata.
"Harus ada keseimbangan antara keuntungan bisnis dengan kepentingan sosial," tegas ayah Tania Handoko (17), buah cintanya dengan Ratna Kirana, bunga Kota Kudus yang ia petik ketika kuliah di Universitas Satyawacana, Salatiga.
Yah, semuanya memang harus seimbang. (P BAMBANG WISUDO/RIEN KUNTARI)
Sumber : Kompas, Senin, 23 Mei 2005
Oleh : P Bambang Wisudo dan Rien Kuntari
KULIT wajahnya yang terang kini sedikit kehitaman. Maklum, selama satu tahun terakhir, pria kelahiran Salatiga, 13 November 1953, ini harus bolak-balik antara Salatiga dan Nglelo yang penuh tanjakan dan liku. Nglelo adalah sebuah desa terpencil di leher Gunung Merbabu, Jawa Tengah, yang hampir selalu berselimut kabut.
DI desa sunyi nan dingin itu, Ir Roy Budhianto Handoko, begitu pria itu disebut, adalah seorang guru matematika di SLTP alternatif Candi Laras. Meski hanya memiliki lima siswa, sekolah alternatif Candi Laras adalah sekolah terbuka pertama yang memiliki fasilitas on-line selama 24 jam penuh di puncak gunung. Dunia pendidikan adalah salah satu komitmen sekaligus keprihatinannya selama ini.
"Saya rasa hampir 50 persen hasil didikan tidak berprofesi sesuai dengan pendidikan yang dikenyam. Misalnya, ada sarjana yang bersedia menjadi pegawai biasa. Ini kan namanya orang berpendidikan merampas hak rakyat kecil. Jika tidak diatasi, mereka akan semakin tersisihkan. Persoalannya, bagaimana kita mengangkat rakyat kecil agar memiliki kemampuan yang tak kalah dengan para sarjana…," katanya.
Ia pun prihatin dengan kesempatan pendidikan yang tidak merata. Di Desa Nglelo, misalnya, anak usia sekolah terpaksa harus ke sawah di usia cukup dini karena biaya pendidikan yang semakin tak terjangkau. Kondisi desa semakin parah seiring dengan runtuhnya "kerajaan" tembakau. Roy bersama paguyuban petani setempat lalu mendirikan sekolah alternatif Candi Laras tersebut.
Gaya pengajaran Roy memang di luar kebiasaan. Ketika mengajarkan masalah gravitasi, misalnya, ia cukup menuliskan kata "gravitasi" dan sedikit kata pengantar. Ia membiarkan para siswa mendalami sendiri masalah gravitasi dengan menjelajah dunia maya yang kini disebut internet.
Ketika ia membekali para siswa dengan pengetahuan tentang pertanian, ia membebaskan para siswa untuk menjelajah dunia maya itu guna menemukan teknik mutakhir tentang bercocok tanam.
Sistem yang ia terapkan membuahkan hasil. Anak didik Roy yang seluruhnya anak mantan petani tembakau, kini memiliki pengetahuan cukup, bahkan lebih maju dibandingkan dengan orangtua mereka. Kelima anak didiknya berhasil menduduki ranking pertama dalam ujian nasional yang diselenggarakan SLTP induk di Salatiga.
Kini, hal terpenting baginya adalah membimbing para siswa untuk menggunakan internet dengan benar. Di matanya, sekolah menengah pertama merupakan ajang terbaik mengenalkan dunia internet bagi para siswa.
"Pikiran mereka masih jernih," ujarnya memberi alasan.
"Karena itu, kalau sejak dini sudah dibiasakan menggunakan internet dengan benar, sampai dewasa nanti mereka terbiasa menggunakan fasilitas itu untuk kepentingan yang bermanfaat, tetapi kalau dunia internet baru dikenalkan pada masa sekolah menengah atas akan terlambat. Pada usia itu, pikiran siswa kan mulai "ngeres", nah di sini bahayanya…," lanjut lulusan Fakultas Teknik Sipil Universitas Diponegoro, Semarang, ini sambil tertawa.
Pesatnya perkembangan teknologi, kata Roy, seharusnya diantisipasi oleh bidang pendidikan. Dalam arti, sudah selayaknya jika kurikulum pendidikan disesuaikan dengan kemajuan tersebut. Menurut dia, sangatlah pantas jika pendidikan masa kini menyertakan pula teknologi internet sebagai salah satu sarana pembelajaran. Kenyataannya, dunia internet lebih memberikan ruang kebebasan kepada para siswa untuk mendapatkan pemahaman akan satu bahan pelajaran dengan lebih baik.
Karena itu, ia membentuk jaringan pendidikan Salatiga. Roy yang memiliki jabatan resmi sebagai Direktur Utama Indonet Salatiga membangun jaringan dan memberikan fasilitas on-line gratis kepada seluruh SLTP di Salatiga. Dengan senang hati ia membangun fasilitas tersebut hingga puncak gunung.
Ia mengakui ada unsur bisnis yang mendasari langkah tersebut, yaitu keuntungan jangka panjang.
Pada rentang waktu lima hingga 10 tahun mendatang, 80 persen pengguna utama internet adalah para siswa yang kini duduk di bangku sekolah dasar dan menengah. Baginya, mereka adalah generasi perantara ke zaman yang menjadikan teknologi bagai aliran darah kehidupan.
Untuk itu, ia menekankan pentingnya Indonesia memiliki server sendiri. "Misalnya, jika mereka membuat website dengan alamat dari luar negeri, berapa biaya yang harus dikeluarkan. Kalau cuma satu anak tidak masalah, tetapi kalau jutaan, berapa devisa kita yang berkurang karena mereka harus lari dulu ke server di luar negeri, baru kemudian ke sini lagi. Ini sebenarnya pemborosan sangat besar yang tanpa disadari. Coba bayangkan, kalau seluruh anak SMP punya homepage di luar, dan mereka setiap hari men-down-load, berapa bandwith yang harus dikeluarkan," ujarnya.
"Apalagi, dengan sistem lisensi. Sekarang kita ini dijajah Microsoft. Apa-apa harus bayar. Ini harus diusahakan jalur atau sistem sendiri. Karena itu, Indonesia harus punya server sendiri sehingga bisa men-down-load tanpa biaya…. Tetapi yang paling penting, di seluruh Indonesia sudah harus ada Indonesia Internet Exchange, mesin yang memungkinkan adanya intranet, misalnya di Salatiga. Karena, sekarang ini kita harus melalui jalur dari Yogyakarta lalu ke Jakarta, baru kemudian ke Salatiga," jelas pemilik Hotel Beringin, Salatiga, ini.
TIDAK mengherankan jika ia memiliki komitmen tinggi pada pendidikan. Jiwa nasionalisme telah mendarah daging di dalam dirinya. Ia terlahir dalam keluarga yang aktif pada perjuangan PNI. Semangat itu pula yang membuatnya tak hanya mementingkan keuntungan semata.
"Harus ada keseimbangan antara keuntungan bisnis dengan kepentingan sosial," tegas ayah Tania Handoko (17), buah cintanya dengan Ratna Kirana, bunga Kota Kudus yang ia petik ketika kuliah di Universitas Satyawacana, Salatiga.
Yah, semuanya memang harus seimbang. (P BAMBANG WISUDO/RIEN KUNTARI)
Sumber : Kompas, Senin, 23 Mei 2005
Rafael "Rafa" Benitez, Sepak Bola adalah Hidupnya
Rafael "Rafa" Benitez, Sepak Bola adalah Hidupnya
Oleh : Yesayas Oktavianus
DIA pernah sangat dibenci, tetapi kemudian amat disanjung. Dua warna kehidupan berbeda yang sempat mewarnai perjalanan hidup dan kariernya membuat Rafael "Rafa" Benitez, pria kelahiran Madrid (Spanyol), 4 April 1960 itu, akhirnya muncul sebagai salah satu sosok pelatih sepak bola tersukses di percaturan sepak bola Eropa.
DI Inggris, musim ini, orang boleh memilih David Moyes sebagai pelatih/manajer terbaik karena prestasinya mengangkat Everton menembus Liga Champions. Atau banyak orang menganggukkan kepala sebagai tanda pujian kepada Jose Mourinho yang menghadirkan dua gelar bagi Chelsea-Piala Liga dan Divisi Utama Liga Inggris.
Akan tetapi, Benitez terlalu pantas untuk melebihi Moyes dan Mourinho. Keberhasilan Liverpool merebut gelar Liga Champions bukan saja menambah perbendaharaan gelarnya menjadi lima kali, tetapi lebih dari itu mengangkat derajat sepak bola Inggris kembali persaingan dengan seteru beratnya dari Italia, Jerman, dan Spanyol.
Kerja setahun di Anfield dengan imbalan gelar Liga Champions tentu merupakan harga sangat mahal dari seorang pelatih. Orang mungkin pula dapat menyebut sukses Liverpool sedikit tertolong faktor keberuntungan. Namun, anggapan itu dengan mudah ditepis dan menjadi tawar jika menengok ke perjalanan seorang Benitez dalam menekuni sepak bola.
SEBAGAI pemain, Benitez jauh dari cemerlang. Bahkan, dia tidak pernah memainkan satu pertandingan penuh-selama 90 menit- ketika menjadi anggota tim Real Madrid selama tujuh tahun.
Keluar dari Real Madrid, Benitez bergabung dengan tim Seri B Liga Spanyol, Linares. Di sini, Benitez juga tidak dianggap dan tetap berada di bangku cadangan.
Keputusan meninggalkan lapangan hijau sebagai pemain diambilnya tahun 1986. Real Madrid, mantan klubnya, kemudian yang dipilih sebagai tempat pertama belajar ilmu melatih.
Keberhasilannya membawa Real Madrid B menempati peringkat ketujuh di Seri B Liga Spanyol menggugah Pelatih Real Madrid Vicente Del Bosque saat itu untuk menggaetnya sebagai asisten. Dari sinilah Benitez sadar bahwa kariernya sebagai pelatih mulai memberikan harapan.
Hanya saja, sebagai seorang yang rendah hati dan selalu merasa belum cukup, Benitez yang timbul tenggelam menangani Real Valladollid, Osasuna, Extremadura, dan Tenerife akhirnya memutuskan untuk berhenti sebentar dari tugasnya di pinggir lapangan. Dia lalu memperkaya dirinya dengan menyeberang ke Inggris dan Italia untuk belajar ilmu melatih.
Sekembalinya dari Inggris dan Italia, Benitez tidak saja mendapat ilmu yang memadai, tetapi juga teman dekatnya yang setia mendampinginya, yaitu sebuah laptop. Gunanya untuk menganalisis pertandingan atau ilmu yang baru saja diterapkannya.
Tahun 2001, Valencia yang tertarik dengan aplikasinya memutuskan memilih Benitez menggantikan Hector Raul Cuper. Penunjukan Benitez ini sempat menimbulkan kemarahan pendukung Valencia yang berujung timbulnya kebencian mereka kepada Benitez. Di mata pendukung Valencia, Hector Cuper masih jauh lebih baik dari Benitez yang belum pernah menghadirkan sebuah gelar pun bagi sebuah klub yang pernah ditanganinya.
Penilaian itu ternyata keliru. Benitez yang sudah sangat terobsesi hidupnya dengan sepak bola langsung membuat lompatan besar. Hanya setahun, Benitez langsung menghadirkan gelar juara La Liga di Mestalla, markas Valencia.
Dua tahun kemudian, dengan materi pemain yang sangat diandalkan, seperti Pablo Aimar, Ruben Baraja, Roberto Ayala, dan kiper Santiago Canizarez, Benitez memberikan dua gelar sekaligus bagi Valencia, juara La Liga dan Piala UEFA.
Kebencian pendukung Valencia kemudian berganti menjadi pujian dan sanjungan. Akan tetapi, mereka tidak lama bersama Benitez.
Keinginan Benitez menambah pemain baru untuk memperkokoh kekuatan timnya tidak dipenuhi manajemen Valencia. "Saya meminta kursi sofa yang empuk, tetapi manajemen memberikan sebuah lampu standar," kata Benitez menyindir keputusan Direktur Olahraga Valencia Jesus Pitarch, yang memilih pemain yang tidak sesuai dengan kemauannya.
LIVERPOOL akhirnya memenangi persaingan dengan Valencia dalam mendapatkan Benitez. Hanya saja, kehadirannya di Anfield tidak mulus karena bertiup rumor bahwa sebagian pelatih lokal merasa terpukul. Alasannya, Alan Curbishley, pelatih Charlton Athletic, lebih pantas ke Anfield.
"Tidak perlu diributkan. Kalau memang ada pelatih asing menangani klub Inggris memiliki reputasi hebat di Eropa, maka dia memang pantas," kata Curbishley.
Pernyataan Curbishley itu bagai air pendingin bagi kerja Benitez kemudian. Kebanyakan orang yang meragukan kemampuannya mengubah gaya permainan Inggris, yang masih belum lepas dari permainan kick and rush, ternyata keliru.
Benitez memang tidak membunuh gaya kick and rush, tetapi dia menambah dengan permainan lebih ofensif, hal yang tidak terjamah oleh pelatih sebelumnya, Gerard Houllier.
Ilmu melatih yang pernah dia gali di Inggris tahun 2000 mulai diterjemahkan secara perlahan-lahan ke permainan Steven Gerrard dan kawan-kawan. Ketekunannya untuk selalu membaca dan mengevaluasi taktik dan strategi permainan lawan maupun tim sendiri membuat Benitez semakin menemukan kelemahan dan kelebihan diri sendiri ataupun lawan-lawannya.
Salah satu kunci kemenangan Liverpool atas AC Milan di final Liga Champions, 25 Mei lalu di Stadion Olimpiade Ataturk, Istanbul, adalah kejelian membaca dan menerapkan strategi. Melihat timnya tak berdaya di babak pertama, Benitez lalu mengubah formasi di babak kedua dengan menggantikan Steve Finnan dengan Dietmar Hamann.
Penggantian ini membuat Liverpool hanya menyisakan tiga pemain belakang, dan sebaliknya menempatkan lima gelandang.
Ternyata, lima gelandang ini selain menambah ketajaman serangan, sekaligus mematikan serta mengunci keandalan pengatur serangan Milan, Andrea Pirlo, yang sebelumnya begitu leluasa mengirim umpan-umpan matang ke Andriy Shevchenko dan Hernan Crespo.
Sebagian besar pendukung "The Reds" dari sekitar 70.000 penonton di stadion pun akhirnya berpesta pora menyambut kemenangan timnya lewat adu penalti, 3-2, setelah dalam 120 menit imbang 3-3.
Benitez really did not walk alone. Dan, Liverpool never walk alone. (YESAYAS OKTOVIANUS)
Sumber : Kompas, Sabtu, 28 Mei 2005
Oleh : Yesayas Oktavianus
DIA pernah sangat dibenci, tetapi kemudian amat disanjung. Dua warna kehidupan berbeda yang sempat mewarnai perjalanan hidup dan kariernya membuat Rafael "Rafa" Benitez, pria kelahiran Madrid (Spanyol), 4 April 1960 itu, akhirnya muncul sebagai salah satu sosok pelatih sepak bola tersukses di percaturan sepak bola Eropa.
DI Inggris, musim ini, orang boleh memilih David Moyes sebagai pelatih/manajer terbaik karena prestasinya mengangkat Everton menembus Liga Champions. Atau banyak orang menganggukkan kepala sebagai tanda pujian kepada Jose Mourinho yang menghadirkan dua gelar bagi Chelsea-Piala Liga dan Divisi Utama Liga Inggris.
Akan tetapi, Benitez terlalu pantas untuk melebihi Moyes dan Mourinho. Keberhasilan Liverpool merebut gelar Liga Champions bukan saja menambah perbendaharaan gelarnya menjadi lima kali, tetapi lebih dari itu mengangkat derajat sepak bola Inggris kembali persaingan dengan seteru beratnya dari Italia, Jerman, dan Spanyol.
Kerja setahun di Anfield dengan imbalan gelar Liga Champions tentu merupakan harga sangat mahal dari seorang pelatih. Orang mungkin pula dapat menyebut sukses Liverpool sedikit tertolong faktor keberuntungan. Namun, anggapan itu dengan mudah ditepis dan menjadi tawar jika menengok ke perjalanan seorang Benitez dalam menekuni sepak bola.
SEBAGAI pemain, Benitez jauh dari cemerlang. Bahkan, dia tidak pernah memainkan satu pertandingan penuh-selama 90 menit- ketika menjadi anggota tim Real Madrid selama tujuh tahun.
Keluar dari Real Madrid, Benitez bergabung dengan tim Seri B Liga Spanyol, Linares. Di sini, Benitez juga tidak dianggap dan tetap berada di bangku cadangan.
Keputusan meninggalkan lapangan hijau sebagai pemain diambilnya tahun 1986. Real Madrid, mantan klubnya, kemudian yang dipilih sebagai tempat pertama belajar ilmu melatih.
Keberhasilannya membawa Real Madrid B menempati peringkat ketujuh di Seri B Liga Spanyol menggugah Pelatih Real Madrid Vicente Del Bosque saat itu untuk menggaetnya sebagai asisten. Dari sinilah Benitez sadar bahwa kariernya sebagai pelatih mulai memberikan harapan.
Hanya saja, sebagai seorang yang rendah hati dan selalu merasa belum cukup, Benitez yang timbul tenggelam menangani Real Valladollid, Osasuna, Extremadura, dan Tenerife akhirnya memutuskan untuk berhenti sebentar dari tugasnya di pinggir lapangan. Dia lalu memperkaya dirinya dengan menyeberang ke Inggris dan Italia untuk belajar ilmu melatih.
Sekembalinya dari Inggris dan Italia, Benitez tidak saja mendapat ilmu yang memadai, tetapi juga teman dekatnya yang setia mendampinginya, yaitu sebuah laptop. Gunanya untuk menganalisis pertandingan atau ilmu yang baru saja diterapkannya.
Tahun 2001, Valencia yang tertarik dengan aplikasinya memutuskan memilih Benitez menggantikan Hector Raul Cuper. Penunjukan Benitez ini sempat menimbulkan kemarahan pendukung Valencia yang berujung timbulnya kebencian mereka kepada Benitez. Di mata pendukung Valencia, Hector Cuper masih jauh lebih baik dari Benitez yang belum pernah menghadirkan sebuah gelar pun bagi sebuah klub yang pernah ditanganinya.
Penilaian itu ternyata keliru. Benitez yang sudah sangat terobsesi hidupnya dengan sepak bola langsung membuat lompatan besar. Hanya setahun, Benitez langsung menghadirkan gelar juara La Liga di Mestalla, markas Valencia.
Dua tahun kemudian, dengan materi pemain yang sangat diandalkan, seperti Pablo Aimar, Ruben Baraja, Roberto Ayala, dan kiper Santiago Canizarez, Benitez memberikan dua gelar sekaligus bagi Valencia, juara La Liga dan Piala UEFA.
Kebencian pendukung Valencia kemudian berganti menjadi pujian dan sanjungan. Akan tetapi, mereka tidak lama bersama Benitez.
Keinginan Benitez menambah pemain baru untuk memperkokoh kekuatan timnya tidak dipenuhi manajemen Valencia. "Saya meminta kursi sofa yang empuk, tetapi manajemen memberikan sebuah lampu standar," kata Benitez menyindir keputusan Direktur Olahraga Valencia Jesus Pitarch, yang memilih pemain yang tidak sesuai dengan kemauannya.
LIVERPOOL akhirnya memenangi persaingan dengan Valencia dalam mendapatkan Benitez. Hanya saja, kehadirannya di Anfield tidak mulus karena bertiup rumor bahwa sebagian pelatih lokal merasa terpukul. Alasannya, Alan Curbishley, pelatih Charlton Athletic, lebih pantas ke Anfield.
"Tidak perlu diributkan. Kalau memang ada pelatih asing menangani klub Inggris memiliki reputasi hebat di Eropa, maka dia memang pantas," kata Curbishley.
Pernyataan Curbishley itu bagai air pendingin bagi kerja Benitez kemudian. Kebanyakan orang yang meragukan kemampuannya mengubah gaya permainan Inggris, yang masih belum lepas dari permainan kick and rush, ternyata keliru.
Benitez memang tidak membunuh gaya kick and rush, tetapi dia menambah dengan permainan lebih ofensif, hal yang tidak terjamah oleh pelatih sebelumnya, Gerard Houllier.
Ilmu melatih yang pernah dia gali di Inggris tahun 2000 mulai diterjemahkan secara perlahan-lahan ke permainan Steven Gerrard dan kawan-kawan. Ketekunannya untuk selalu membaca dan mengevaluasi taktik dan strategi permainan lawan maupun tim sendiri membuat Benitez semakin menemukan kelemahan dan kelebihan diri sendiri ataupun lawan-lawannya.
Salah satu kunci kemenangan Liverpool atas AC Milan di final Liga Champions, 25 Mei lalu di Stadion Olimpiade Ataturk, Istanbul, adalah kejelian membaca dan menerapkan strategi. Melihat timnya tak berdaya di babak pertama, Benitez lalu mengubah formasi di babak kedua dengan menggantikan Steve Finnan dengan Dietmar Hamann.
Penggantian ini membuat Liverpool hanya menyisakan tiga pemain belakang, dan sebaliknya menempatkan lima gelandang.
Ternyata, lima gelandang ini selain menambah ketajaman serangan, sekaligus mematikan serta mengunci keandalan pengatur serangan Milan, Andrea Pirlo, yang sebelumnya begitu leluasa mengirim umpan-umpan matang ke Andriy Shevchenko dan Hernan Crespo.
Sebagian besar pendukung "The Reds" dari sekitar 70.000 penonton di stadion pun akhirnya berpesta pora menyambut kemenangan timnya lewat adu penalti, 3-2, setelah dalam 120 menit imbang 3-3.
Benitez really did not walk alone. Dan, Liverpool never walk alone. (YESAYAS OKTOVIANUS)
Sumber : Kompas, Sabtu, 28 Mei 2005
Subscribe to:
Posts (Atom)

