Showing posts with label wargadunia. Show all posts
Showing posts with label wargadunia. Show all posts
Terrence B Adamson : Terry dan Jendela Kuning "National Geographic"
Jun 29, 2009
Terry dan Jendela Kuning "National Geographic"
Oleh : Edna C Pattisina
Berbicara tentang majalah National Geographic, kita tidak bisa lepas dari Terrence B Adamson, Executive Vice President National Geographic Society. Pria yang biasa dipanggil Terry ini berperan dalam membuat edisi-edisi lokal yang kini berjumlah 27 edisi, selain edisi internasionalnya yang berbahasa Inggris.
BERDIRI sejak tahun 1888, National Geographic Society yang didirikan sebagai organisasi nirlaba untuk menyebarluaskan pengetahuan yang bersifat geografis mengeluarkan publikasinya dalam bentuk majalah National Geographic.
Terry bercerita, majalah National Geographic adalah jendela untuk melihat dunia. Persis filosofi dari bingkai kuning yang menjadi ciri khas karena selalu memagari sampul majalah tersebut. "Warna kuning itu berarti jendela dunia, di mana kita bisa orang dan tempat yang jauh lewat majalah ini," katanya.
Berasal dari keluarga sederhana yang memiliki toko kecil di daerah pedesaan Georgia, Amerika Serikat, Terry berusia sembilan tahun saat mendapat hadiah Natal berlangganan majalah National Geographic dari neneknya.
Setiap bulan Terry kecil bisa melakukan "perjalanan intelektual" ke tempat-tempat yang sangat jauh dan menurut dia hampir tidak mungkin bisa ia datangi secara fisik sepanjang hidupnya. "Saya ingat, saya paling suka membaca tentang China dan Indonesia," kata Terry.
TAK disangka, saat untuk pertama kali ke luar negeri ia mendapat kesempatan untuk datang ke Indonesia. Ia dan 14 pemuda yang mendapat beasiswa dari yayasan Henry Luce Scholar magang di Jepang. Dari sana mereka memilih ke Indonesia, tempat yang sudah lama ada di benak Terry. Rombongan orang muda berbakat ini sempat menghabiskan waktu selama seminggu di Yogyakarta. "Itu tahun 1976, saya sempat ke Candi Borobudur, pengalaman yang tidak akan saya lupakan," kata pria yang lahir di Rome, Georgia, 13 November 1946, ini.
Karier di bidang hukum menjadi jalan yang dipilihnya. Lulus sebagai sarjana sejarah dari Universitas Emory, Atlanta, tahun 1968, ia melanjutkan ke jurusan hukum di universitas yang sama. Terry menyelesaikan pendidikan sarjana hukumnya dengan predikat cum laude tahun 1973.
Setelah itu, selama bertahun-tahun ia dekat dengan dunia politik dan hukum. Tidak hanya menjadi partner di biro hukum ternama di New York, ayah dari Kate (16) dan Elizabeth (13) ini juga bekerja sama dalam dunia birokrasi AS. Beberapa jabatan formal penting sempat disandangnya, seperti Juru Bicara Departemen Kehakiman AS (1978-1979) dan tiga kali menjadi anggota Dewan Pengawas State Justice Institute.
Di organisasi nonpemerintah, Terry menjadi anggota Dewan Pengawas di Asia Foundation tahun 1994-1999. Ia juga aktif dalam Carter Center, sebuah organisasi nirlaba yang didirikan Jimmy Carter. Selain bersahabat dekat, Terry juga menjadi pengacara pribadi mantan presiden AS itu. Carter meminta Terry mendampinginya saat tokoh itu menerima Nobel Perdamaian tahun 2002. "Saya tidak pernah mengira akan punya sahabat yang menerima Nobel Perdamaian, " kata suami Ede Holiday ini.
Lalu apa yang dicarinya di majalah National Geographic? "Bukan uang tentunya ya," kata Terry sambil tersenyum.
Bagi Terry, adalah sebuah keberuntungan dan kesempatan besar bagi dirinya untuk terlibat dalam usaha pendidikan dan penyebarluasan pengetahuan ke seluruh dunia. "Saya percaya, pengetahuan tentang orang lain, kebudayaan lain, dan tempat lain di dunia penting untuk menyatukan kita semua," katanya.
MULAI menjadi tenaga sukarela tahun 1995, ia menjadi tenaga aktif untuk majalah yang dibaca sekitar 50 juta orang sedunia ini tahun 1998. Terrylah yang merealisasikan rencana pembentukan National Geographic Channel, memperbanyak edisi-edisi lokal yang dimulai di Jepang tahun 1995, dan menjalankan berbagai macam publikasi dari National Geographic Society, mulai dari majalah hingga buku.
Ia juga anggota Corporate Secretary dari Educational Foundation Board National Geographic Society yang mendanai berbagai kegiatan pendidikan geografi untuk anak sekolah. "Saya merasakan sendiri bagaimana mendapat berbagai pengetahuan dari majalah ini, maka saya ingin sebanyak mungkin orang mengalami hal yang sama," katanya.
Hingga kini, dengan jumlah uang ratusan juta dollar AS dari berbagai sumber, National Geographic tetap menjadi organisasi nonprofit. Sembilan puluh persen uang digunakan untuk dana pendidikan dan riset di seluruh dunia.
Dukungan tidak hanya datang dari 10 juta anggota National Geographic Society, tetapi juga dari pemerintah dan perusahaan di berbagai penjuru dunia. "Dana untuk penelitian di Indonesia pertama kali tahun 1936, sementara majalah National Geographic telah menulis tentang Indonesia sejak tahun 1898, tentang Sumatera," katanya.
MAJALAH ilmiah ini mendasari tulisannya pada hasil-hasil riset yang dilakukan para ahli rekanan. Menurut Editorial Director International Editions Amy Kolczak, yang membuat National Geographic bisa bertahan hingga sekitar 125 tahun adalah akurasi dari tulisan yang dihadirkan. Totalitas menjadi cara hidup di majalah ini. Untuk membuat sebuah foto atau sebuah tulisan, misalnya, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk riset. "Fotografer Jodi Cobb menghabiskan waktu empat tahun di berbagai negara untuk meliput perdagangan manusia," cerita Terry.
Harapannya, majalah National Geographic bisa menjadi perekat yang menghubungkan masyarakat dunia dan berbagai kebudayaan yang ada di dalamnya. Bayangkan, saat orang- orang di Indonesia membaca tentang kebudayaan dan segala hal yang berkaitan dengan negara antah-berantah seperti Skandinavia, Armenia, dan Turki, sementara mereka juga membaca tentang Indonesia.
"Dari pengetahuan tentang kebudayaan, kebiasaan, dan kepercayaan orang lain, kita bisa menemukan persamaan dan merayakan perbedaan," katanya.
Jendela kuning itu membawa dunia ke depan kita untuk dikenal dan diterima.... (EDNA C PATTISINA)
Sumber : Kompas, Sabtu, 2 April 2005
Oleh : Edna C Pattisina
Berbicara tentang majalah National Geographic, kita tidak bisa lepas dari Terrence B Adamson, Executive Vice President National Geographic Society. Pria yang biasa dipanggil Terry ini berperan dalam membuat edisi-edisi lokal yang kini berjumlah 27 edisi, selain edisi internasionalnya yang berbahasa Inggris.
BERDIRI sejak tahun 1888, National Geographic Society yang didirikan sebagai organisasi nirlaba untuk menyebarluaskan pengetahuan yang bersifat geografis mengeluarkan publikasinya dalam bentuk majalah National Geographic.
Terry bercerita, majalah National Geographic adalah jendela untuk melihat dunia. Persis filosofi dari bingkai kuning yang menjadi ciri khas karena selalu memagari sampul majalah tersebut. "Warna kuning itu berarti jendela dunia, di mana kita bisa orang dan tempat yang jauh lewat majalah ini," katanya.
Berasal dari keluarga sederhana yang memiliki toko kecil di daerah pedesaan Georgia, Amerika Serikat, Terry berusia sembilan tahun saat mendapat hadiah Natal berlangganan majalah National Geographic dari neneknya.
Setiap bulan Terry kecil bisa melakukan "perjalanan intelektual" ke tempat-tempat yang sangat jauh dan menurut dia hampir tidak mungkin bisa ia datangi secara fisik sepanjang hidupnya. "Saya ingat, saya paling suka membaca tentang China dan Indonesia," kata Terry.
TAK disangka, saat untuk pertama kali ke luar negeri ia mendapat kesempatan untuk datang ke Indonesia. Ia dan 14 pemuda yang mendapat beasiswa dari yayasan Henry Luce Scholar magang di Jepang. Dari sana mereka memilih ke Indonesia, tempat yang sudah lama ada di benak Terry. Rombongan orang muda berbakat ini sempat menghabiskan waktu selama seminggu di Yogyakarta. "Itu tahun 1976, saya sempat ke Candi Borobudur, pengalaman yang tidak akan saya lupakan," kata pria yang lahir di Rome, Georgia, 13 November 1946, ini.
Karier di bidang hukum menjadi jalan yang dipilihnya. Lulus sebagai sarjana sejarah dari Universitas Emory, Atlanta, tahun 1968, ia melanjutkan ke jurusan hukum di universitas yang sama. Terry menyelesaikan pendidikan sarjana hukumnya dengan predikat cum laude tahun 1973.
Setelah itu, selama bertahun-tahun ia dekat dengan dunia politik dan hukum. Tidak hanya menjadi partner di biro hukum ternama di New York, ayah dari Kate (16) dan Elizabeth (13) ini juga bekerja sama dalam dunia birokrasi AS. Beberapa jabatan formal penting sempat disandangnya, seperti Juru Bicara Departemen Kehakiman AS (1978-1979) dan tiga kali menjadi anggota Dewan Pengawas State Justice Institute.
Di organisasi nonpemerintah, Terry menjadi anggota Dewan Pengawas di Asia Foundation tahun 1994-1999. Ia juga aktif dalam Carter Center, sebuah organisasi nirlaba yang didirikan Jimmy Carter. Selain bersahabat dekat, Terry juga menjadi pengacara pribadi mantan presiden AS itu. Carter meminta Terry mendampinginya saat tokoh itu menerima Nobel Perdamaian tahun 2002. "Saya tidak pernah mengira akan punya sahabat yang menerima Nobel Perdamaian, " kata suami Ede Holiday ini.
Lalu apa yang dicarinya di majalah National Geographic? "Bukan uang tentunya ya," kata Terry sambil tersenyum.
Bagi Terry, adalah sebuah keberuntungan dan kesempatan besar bagi dirinya untuk terlibat dalam usaha pendidikan dan penyebarluasan pengetahuan ke seluruh dunia. "Saya percaya, pengetahuan tentang orang lain, kebudayaan lain, dan tempat lain di dunia penting untuk menyatukan kita semua," katanya.
MULAI menjadi tenaga sukarela tahun 1995, ia menjadi tenaga aktif untuk majalah yang dibaca sekitar 50 juta orang sedunia ini tahun 1998. Terrylah yang merealisasikan rencana pembentukan National Geographic Channel, memperbanyak edisi-edisi lokal yang dimulai di Jepang tahun 1995, dan menjalankan berbagai macam publikasi dari National Geographic Society, mulai dari majalah hingga buku.
Ia juga anggota Corporate Secretary dari Educational Foundation Board National Geographic Society yang mendanai berbagai kegiatan pendidikan geografi untuk anak sekolah. "Saya merasakan sendiri bagaimana mendapat berbagai pengetahuan dari majalah ini, maka saya ingin sebanyak mungkin orang mengalami hal yang sama," katanya.
Hingga kini, dengan jumlah uang ratusan juta dollar AS dari berbagai sumber, National Geographic tetap menjadi organisasi nonprofit. Sembilan puluh persen uang digunakan untuk dana pendidikan dan riset di seluruh dunia.
Dukungan tidak hanya datang dari 10 juta anggota National Geographic Society, tetapi juga dari pemerintah dan perusahaan di berbagai penjuru dunia. "Dana untuk penelitian di Indonesia pertama kali tahun 1936, sementara majalah National Geographic telah menulis tentang Indonesia sejak tahun 1898, tentang Sumatera," katanya.
MAJALAH ilmiah ini mendasari tulisannya pada hasil-hasil riset yang dilakukan para ahli rekanan. Menurut Editorial Director International Editions Amy Kolczak, yang membuat National Geographic bisa bertahan hingga sekitar 125 tahun adalah akurasi dari tulisan yang dihadirkan. Totalitas menjadi cara hidup di majalah ini. Untuk membuat sebuah foto atau sebuah tulisan, misalnya, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk riset. "Fotografer Jodi Cobb menghabiskan waktu empat tahun di berbagai negara untuk meliput perdagangan manusia," cerita Terry.
Harapannya, majalah National Geographic bisa menjadi perekat yang menghubungkan masyarakat dunia dan berbagai kebudayaan yang ada di dalamnya. Bayangkan, saat orang- orang di Indonesia membaca tentang kebudayaan dan segala hal yang berkaitan dengan negara antah-berantah seperti Skandinavia, Armenia, dan Turki, sementara mereka juga membaca tentang Indonesia.
"Dari pengetahuan tentang kebudayaan, kebiasaan, dan kepercayaan orang lain, kita bisa menemukan persamaan dan merayakan perbedaan," katanya.
Jendela kuning itu membawa dunia ke depan kita untuk dikenal dan diterima.... (EDNA C PATTISINA)
Sumber : Kompas, Sabtu, 2 April 2005
Avril Lavigne : Lagu Pembebasan Avril Lavigne
Lagu Pembebasan Avril Lavigne
Oleh : Frans Sartono
SEKITAR 3.000 penonton yang didominasi remaja belasan tahun berjingkrak-jingkrak mengikuti lagu Sk8er Boi-dibaca Skater Boy-yang dibawakan Avril Lavigne. Itulah yang terjadi pada penampilan penyanyi Kanada, Avril Lavigne (20), yang menggelar konser Bonez Tour 2005 di Stadion Tenis Tertutup, Senayan, Jakarta, Senin (4/4/2005) malam.
Avril tampil dengan celana blue jeans dan kaus hitam. Keempat personel band pendukung mengenakan kostum serupa, jeans dan kaus hitam. Ia menenteng gitar elektrik dengan body kotak-kotak hitam-putih. Strap atau tali selempang gitar bergambar deretan tengkorak di atas tulang bersilang. Gambar itu menjadi ikon resmi konser Bonez Tour 2005.
Di pentas yang diterangi lampu berkekuatan 200.000 watt, ia tampak kurang komunikatif. Ia tidak banyak bicara untuk menjalin komunikasi dengan penonton kecuali sekadar ucapan thank you. Boleh jadi ia memang tak suka basa-basi. Persona Avril di atas pentas terkesan nyaris dingin, tidak ramah. Di panggung ia hanya menjadi sekadar tontonan. Kebetulan lagu-lagu Avril dikenal baik oleh penggemarnya dan itulah yang menghidupkan konser.
Avril memuncaki konser dengan lagu Sk8er Boi. Usai lagu tersebut panggung gelap dan penonton memanggil Avril untuk manggung lagi. Muncullah kembali Avril menabuh drum untuk sebuah lagu. Ia kemudian maju ke depan dan menyanyikan lagu Complicated sebagai gong konser yang disambut koor seru dari penonton.
LIRIK lagu Avril bertutur soal kehidupan sehari-hari kaum muda. Sk8er Boi bertutur tentang gadis yang menolak cinta seorang lelaki penggemar skate board. Belakangan cowok itu menjadi bintang rock yang sering muncul di MTV. Avril yang lahir pada 27 September 1984 itu memang tumbuh dan besar di era MTV, sebuah era ketika rock menjadi santapan harian remaja.
Pada peta belantika musik pop dunia, jika diukur dari zaman Michael Jackson, Avril terbilang sebagai "anak kemarin sore". Ia lahir ketika Michael Jackson sedang bertakhta di belantika musik sebagai King of Pop.
Akan tetapi, belantika musik tidak mengenal senioritas. Yang lebih penting adalah daya jual. Avril yang hadir di jagat musik pada tahun 2000 itu mampu menjual hampir 20 juta kopi album di seluruh dunia. Di Indonesia, album Avril yang berada di bawah label Sony-BMG terjual sebanyak 420.000 kopi dengan perincian, 320.000 untuk album pertama Let Go dan 100.000 untuk Under My Skin, album keduanya keluaran tahun 2004. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah. Dari dua albumnya, ia juga mendapat delapan unggulan Grammy.
Avril yang datang dari Napnee, kota kecil di Ontario, Kanada, itu datang ke belantika musik yang sedang diramaikan oleh musik jenis pop rock, atau ada yang menyebutnya sebagai pop alternatif. Anak kedua dari tiga bersaudara itu tumbuh dari lingkungan yang dekat dengan musik country dan folk.
"Waktu saya masih kecil, setiap ada kesempatan, ibu selalu mengajak saya untuk tampil di acara nyanyi. Entah itu di acara gereja atau di pasar malam di kota kami. Saat itu saya nyanyi lagu apa saja yang bisa. Seperti anak-anak sebaya, saya juga nyanyi lagu country atau folk," tutur Avril menjawab pertanyaan Kompas dalam jumpa pers Senin siang di Hilton Executive Club, Jakarta.
"Waktu mendapat kesempatan rekaman, saya mengembangkan kemampuan dalam menulis lagu dan kemudian yang muncul musik seperti yang saya bawakan sekarang, yaitu pop rock," kata Avril yang mulai belajar gitar pada usia 12 tahun.
AVRIL hadir di belantika musik hampir bersamaan dengan Michelle Branch, Norah Jones, atau juga Vanessa Carlton. Mereka masing-masing mempunyai jalur musik tersendiri. Norah Jones, misalnya, cenderung dekat dengan gaya jazz dan country.
Avril memilih jalur pop rock-ada yang menyebutnya sebagai alt(ernative) rock dan adult alternative. Menjelang tahun 2000-an, slot atau celah pasar untuk alt rock yang pernah diramaikan Alanis Morissette memang terbuka lebar. Avril muncul sebagai bintang muda pop rock-setidaknya Avril sepuluh tahun lebih muda dari Alanis. Akan tetapi, Avril menolak jika dikatakan bahwa keberadaannya merupakan hasil fabrikasi para pelaku bisnis musik.
"Saya bukan hasil fabrikasi. Saya menulis lagu saya sendiri," katanya.
Seperti banyak artis lain, Avril pun merasa tidak membakukan diri ke satu jenis musik tertentu, termasuk punk.
"Saya sama sekali tidak pernah mengklaim sebagai artis punk. Medialah yang memberi label pada saya sebagai penyanyi punk atau apa. Itu semata karena saya gadis remaja dan bukan tipikal artis pop yang manis," kata Avril yang bertinggi tubuh 160 cm.
Cara berpakaian Avril memang mengingatkan pada gaya artis punk. Setidaknya Avril lebih banyak tampil apa adanya, dalam pengertian santai, tidak formal. Dalam konser-konsernya dia lebih sering mengenakan blue jeans dan tank top. Jangan kaget jika pada konser Avril di Jakarta tampak gadis-gadis muda mengenakan tank top mengekor artis yang mereka tonton.
DALAM wawancara dengan majalah Rolling Stone, Avril pernah mengatakan tidak betah jika harus berpakaian seperti Britney Spears yang serba cantik dengan sepatu hak tinggi atau celana ketat hingga membuatnya tidak bisa duduk. Dia memang tidak tunduk pada protokoler belantika musik yang kadang mengasingkan artis dari jatidirinya.
"Saya ungkapkan apa yang ingin saya ungkapkan. Saya membuat keputusan sendiri. Orang tidak bisa mendiktekan apa yang harus saya lakukan, atau mengatur ke mana saya harus pergi. Saya melakukan apa yang ingin saya lakukan," kata Avril menanggapi anggapan bahwa dia hanyalah produk industri musik.
Boleh jadi itu bagian dari "ideologi" pembebasan Avril. Persis kata yang tertera pada bagian dada di kaus Avril yang dikenakan dalam konser: "Freedom". (Frans Sartono)
Sumber : Kompas, Rabu, 6 April 2005
Oleh : Frans Sartono
SEKITAR 3.000 penonton yang didominasi remaja belasan tahun berjingkrak-jingkrak mengikuti lagu Sk8er Boi-dibaca Skater Boy-yang dibawakan Avril Lavigne. Itulah yang terjadi pada penampilan penyanyi Kanada, Avril Lavigne (20), yang menggelar konser Bonez Tour 2005 di Stadion Tenis Tertutup, Senayan, Jakarta, Senin (4/4/2005) malam.
Avril tampil dengan celana blue jeans dan kaus hitam. Keempat personel band pendukung mengenakan kostum serupa, jeans dan kaus hitam. Ia menenteng gitar elektrik dengan body kotak-kotak hitam-putih. Strap atau tali selempang gitar bergambar deretan tengkorak di atas tulang bersilang. Gambar itu menjadi ikon resmi konser Bonez Tour 2005.
Di pentas yang diterangi lampu berkekuatan 200.000 watt, ia tampak kurang komunikatif. Ia tidak banyak bicara untuk menjalin komunikasi dengan penonton kecuali sekadar ucapan thank you. Boleh jadi ia memang tak suka basa-basi. Persona Avril di atas pentas terkesan nyaris dingin, tidak ramah. Di panggung ia hanya menjadi sekadar tontonan. Kebetulan lagu-lagu Avril dikenal baik oleh penggemarnya dan itulah yang menghidupkan konser.
Avril memuncaki konser dengan lagu Sk8er Boi. Usai lagu tersebut panggung gelap dan penonton memanggil Avril untuk manggung lagi. Muncullah kembali Avril menabuh drum untuk sebuah lagu. Ia kemudian maju ke depan dan menyanyikan lagu Complicated sebagai gong konser yang disambut koor seru dari penonton.
LIRIK lagu Avril bertutur soal kehidupan sehari-hari kaum muda. Sk8er Boi bertutur tentang gadis yang menolak cinta seorang lelaki penggemar skate board. Belakangan cowok itu menjadi bintang rock yang sering muncul di MTV. Avril yang lahir pada 27 September 1984 itu memang tumbuh dan besar di era MTV, sebuah era ketika rock menjadi santapan harian remaja.
Pada peta belantika musik pop dunia, jika diukur dari zaman Michael Jackson, Avril terbilang sebagai "anak kemarin sore". Ia lahir ketika Michael Jackson sedang bertakhta di belantika musik sebagai King of Pop.
Akan tetapi, belantika musik tidak mengenal senioritas. Yang lebih penting adalah daya jual. Avril yang hadir di jagat musik pada tahun 2000 itu mampu menjual hampir 20 juta kopi album di seluruh dunia. Di Indonesia, album Avril yang berada di bawah label Sony-BMG terjual sebanyak 420.000 kopi dengan perincian, 320.000 untuk album pertama Let Go dan 100.000 untuk Under My Skin, album keduanya keluaran tahun 2004. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah. Dari dua albumnya, ia juga mendapat delapan unggulan Grammy.
Avril yang datang dari Napnee, kota kecil di Ontario, Kanada, itu datang ke belantika musik yang sedang diramaikan oleh musik jenis pop rock, atau ada yang menyebutnya sebagai pop alternatif. Anak kedua dari tiga bersaudara itu tumbuh dari lingkungan yang dekat dengan musik country dan folk.
"Waktu saya masih kecil, setiap ada kesempatan, ibu selalu mengajak saya untuk tampil di acara nyanyi. Entah itu di acara gereja atau di pasar malam di kota kami. Saat itu saya nyanyi lagu apa saja yang bisa. Seperti anak-anak sebaya, saya juga nyanyi lagu country atau folk," tutur Avril menjawab pertanyaan Kompas dalam jumpa pers Senin siang di Hilton Executive Club, Jakarta.
"Waktu mendapat kesempatan rekaman, saya mengembangkan kemampuan dalam menulis lagu dan kemudian yang muncul musik seperti yang saya bawakan sekarang, yaitu pop rock," kata Avril yang mulai belajar gitar pada usia 12 tahun.
AVRIL hadir di belantika musik hampir bersamaan dengan Michelle Branch, Norah Jones, atau juga Vanessa Carlton. Mereka masing-masing mempunyai jalur musik tersendiri. Norah Jones, misalnya, cenderung dekat dengan gaya jazz dan country.
Avril memilih jalur pop rock-ada yang menyebutnya sebagai alt(ernative) rock dan adult alternative. Menjelang tahun 2000-an, slot atau celah pasar untuk alt rock yang pernah diramaikan Alanis Morissette memang terbuka lebar. Avril muncul sebagai bintang muda pop rock-setidaknya Avril sepuluh tahun lebih muda dari Alanis. Akan tetapi, Avril menolak jika dikatakan bahwa keberadaannya merupakan hasil fabrikasi para pelaku bisnis musik.
"Saya bukan hasil fabrikasi. Saya menulis lagu saya sendiri," katanya.
Seperti banyak artis lain, Avril pun merasa tidak membakukan diri ke satu jenis musik tertentu, termasuk punk.
"Saya sama sekali tidak pernah mengklaim sebagai artis punk. Medialah yang memberi label pada saya sebagai penyanyi punk atau apa. Itu semata karena saya gadis remaja dan bukan tipikal artis pop yang manis," kata Avril yang bertinggi tubuh 160 cm.
Cara berpakaian Avril memang mengingatkan pada gaya artis punk. Setidaknya Avril lebih banyak tampil apa adanya, dalam pengertian santai, tidak formal. Dalam konser-konsernya dia lebih sering mengenakan blue jeans dan tank top. Jangan kaget jika pada konser Avril di Jakarta tampak gadis-gadis muda mengenakan tank top mengekor artis yang mereka tonton.
DALAM wawancara dengan majalah Rolling Stone, Avril pernah mengatakan tidak betah jika harus berpakaian seperti Britney Spears yang serba cantik dengan sepatu hak tinggi atau celana ketat hingga membuatnya tidak bisa duduk. Dia memang tidak tunduk pada protokoler belantika musik yang kadang mengasingkan artis dari jatidirinya.
"Saya ungkapkan apa yang ingin saya ungkapkan. Saya membuat keputusan sendiri. Orang tidak bisa mendiktekan apa yang harus saya lakukan, atau mengatur ke mana saya harus pergi. Saya melakukan apa yang ingin saya lakukan," kata Avril menanggapi anggapan bahwa dia hanyalah produk industri musik.
Boleh jadi itu bagian dari "ideologi" pembebasan Avril. Persis kata yang tertera pada bagian dada di kaus Avril yang dikenakan dalam konser: "Freedom". (Frans Sartono)
Sumber : Kompas, Rabu, 6 April 2005
Jalal Talabani, Orang Kurdi yang Jadi Presiden Irak
Oleh : Musthafa Abd Rahman
SETIAP berakhirnya sebuah rezim di Irak ibarat suatu anugerah yang jatuh dari langit bagi Jalal Talabani. Puncak anugerah itu adalah tumbangnya rezim Saddam Hussein yang kini mengantarkannya ke kursi presiden.
TATKALA berakhir sistem monarki Irak tahun 1958, Talabani dibebaskan dari penjara yang didiaminya sejak tahun 1956 lantaran aktivitas politiknya yang antimonarki. Jatuhnya rezim Presiden Abdel Karim Kasim tahun 1962 membuka jalan pula bagi Talabani menjadi juru runding tangguh dengan presiden baru Irak, Abdel Salam Arif.
Era baru di Irak ternyata selalu memihak Talabani. Majelis Nasional Irak (parlemen) hari Rabu (6/4/2005) menggores sejarah dengan memilih Talabani, seorang pemimpin Kurdi, sebagai presiden di negeri yang mengusung atribut negara Arab. Memang kedengaran aneh, seorang Kurdi bisa menjadi presiden di negara Arab.
Seorang analis politik asal Irak, Mustafa Kadhimi, dalam artikelnya pada harian Asharq Al Awsat edisi Sabtu (2/4/2005), mengatakan, fenomena tampilnya tokoh-tokoh Kurdi pada posisi strategis di Irak, seperti Hoshyar Zebari sebagai menteri luar negeri dan Jalal Talabani sebagai presiden, memberi kesan positif bagi kehidupan demokrasi di negeri itu.
"Tampilnya Talabani sebagai presiden adalah sebuah era baru bagi negeri Irak yang ditandai oleh semakin kuatnya prinsip persamaan hak antara warga negaranya, tanpa melihat latar belakang etnis, agama, dan mazhab agama. Prinsip itu bisa berandil memperkuat persatuan Irak," kata Kadhimi.
MENURUT Kadhimi, terpilihnya Talabani sebagai presiden akan berandil besar mengurangi kecenderungan sektarianisme di Irak yang semakin mencemaskan karena sudah terhapus stigma bahwa presiden harus dari Sunni, perdana menteri dari Syiah, dan ketua parlemen dari Kurdi.
Talabani dilahirkan tahun 1933 di Desa Kelkan dekat Danau Dokan. Ia menjalani sekolahnya, dari SD sampai SMP, di kota Koy Sanjak. Kemudian dia pindah ke Erbil dan Kirkuk untuk melanjutkan ke SMA. Pada masa SMA, Talabani sudah dipercaya sebagai pengarah organisasi bawah tanah pelajar Kurdi di Irak yang misinya membangkitkan nasionalisme kaum Kurdi.
Seusai SMA, Talabani bergabung dengan Partai Demokrasi Kurdistan pimpinan Mulla Mustafa Barzani. Pada tahun 1951 ia terpilih sebagai anggota komite pusat partai tersebut.
Mungkin karena aktivitas politiknya, Talabani ditolak masuk pada sebuah fakultas bergengsi meskipun nilainya lebih dari mencukupi. Pada tahun 1953 Talabani diterima pada Fakultas Hukum Universitas Baghdad.
Semasa mahasiswa, Talabani menjadi sekretaris umum persatuan mahasiswa Kurdi di Baghdad. Pada tahun 1956 aparat keamanan menangkap Talabani karena aktivitas politiknya yang membuat studinya terhenti.
Seusai kudeta tahun 1958 yang mengakhiri sistem monarki di Irak, Talabani melanjutkan studinya. Ia sempat menjabat pemimpin redaksi dua koran terkemuka Kurdi yang menjadi corong sosialisasi misi Partai Demokrasi Kurdistan.
Lepas dari perguruan tinggi pada tahun 1959, ia menjalani latihan kemiliteran yang membuka jalan ke arah bergabungnya dengan Peshmerga (milisi bersenjata Kurdistan-Red). Ambruknya koalisi antara Kurdistan dan rezim Abdel Karim Kasim pada akhir tahun 1960 memaksa Talabani hengkang ke wilayah Kurdistan.
Pada bulan September 1961 meletus pertempuran antara pasukan pemerintah Irak dan Peshmerga. Talabani menjadi komandan militer di front Kirkuk dan Sulaimaniyah, melawan pasukan pemerintah Baghdad. Pada bulan Maret 1962 ia memimpin serangan balik untuk mengembalikan wilayah Sharbazhar dari tangan pasukan pemerintah Baghdad.
PERTEMPURAN kedua belah pihak berlanjut hingga jatuhnya rezim Abdel Karim Kasim. Pada masa pemerintahan Presiden Abdel Salam Arif tercapai kesepakatan gencatan senjata. Di tahun 1963 Talabani memimpin perundingan dengan Presiden Abdel Salam Arif, namun juga mengalami kegagalan.
Ketika Partai Baath kembali berkuasa di Baghdad pada tahun 1968, partai yang berbasis pada ideologi nasionalisme Arab itu berhasil memecah belah kesatuan Kurdi, antara kubu Talabani dan kubu Barzani, dalam tubuh Partai Demokrasi Kurdistan.
Perundingan antara pemerintah Baghdad dan Barzani menghasilkan kesepakatan pemberian otonomi pada kaum Kurdi. Kesepakatan itu ditolak oleh Talabani yang menilainya merugikan pihak Kurdi karena tidak memasukkan kota Kirkuk ke dalam wilayah otonomi.
Talabani lalu membentuk organisasi baru dengan nama Uni Patriot Kurdistan pada tahun 1975. Pecahnya Perang Iran-Irak tahun 1980-1988 memberi peluang kepada Talabani yang berbasis di wilayah perbatasan dengan Iran untuk membangun kembali kekuatan militer Kurdi, guna melawan pasukan Pemerintah Irak yang sedang sibuk berperang dengan Iran.
Ia memanfaatkan Perang Iran-Irak itu untuk berunding dengan Baghdad, namun pemerintah Baghdad tetap menolak memberi konsesi kepada kaum Kurdi. Pasca-Perang Teluk I tahun 1991 dan didirikannya zona aman di wilayah Kurdistan menaikkan kembali bintang Talabani.
Pada pemilu parlemen pertama di wilayah Kurdistan Mei 1992, ia terpilih sebagai anggota parlemen serta juru bicara Kurdi pada forum regional dan internasional.
Pada tahun 1994 meletup konflik berdarah antara dua kekuatan utama Kurdi, yakni Partai Demokrasi Kurdistan di bawah pimpinan Masoud Barzani dan Uni Patriot Kurdistan di bawah pimpinan Jalal Talabani, menewaskan sekitar 3.000 orang. Keduanya mencapai gencatan senjata pada tahun 1998 di Washington dan setuju membagi wilayah Kurdistan menjadi dua bagian, dengan Barzani bermarkas besar di kota Erbil dan Talabani di Sulaimaniyah.
PADA tahun 2000 mereka sepakat melakukan normalisasi hubungan dan mengaktifkan kembali parlemen Kurdi yang beku total selama enam tahun. Perkembangan politik di Irak pascatumbangnya rezim Saddam Hussein semakin memuluskan rekonsiliasi Talabani-Barzani. Puncaknya menjelang pemilu 30 Januari lalu, ketika terbentuk Daftar Koalisi Kurdistan yang berintikan dari dua faksi utama Kurdistan tersebut.
Bersatunya dua kekuatan utama Kurdi itu mengantarkan mereka menduduki urutan kedua pada pemilu lalu dengan meraih 75 kursi parlemen dan membentangkan jalan terpilihnya Talabani sebagai presiden Irak. (MUSTHAFA ABD RAHMAN, dari Cairo)
Sumber : Kompas, Kamis, 7 April 2005
Oleh : Musthafa Abd Rahman
SETIAP berakhirnya sebuah rezim di Irak ibarat suatu anugerah yang jatuh dari langit bagi Jalal Talabani. Puncak anugerah itu adalah tumbangnya rezim Saddam Hussein yang kini mengantarkannya ke kursi presiden.
TATKALA berakhir sistem monarki Irak tahun 1958, Talabani dibebaskan dari penjara yang didiaminya sejak tahun 1956 lantaran aktivitas politiknya yang antimonarki. Jatuhnya rezim Presiden Abdel Karim Kasim tahun 1962 membuka jalan pula bagi Talabani menjadi juru runding tangguh dengan presiden baru Irak, Abdel Salam Arif.
Era baru di Irak ternyata selalu memihak Talabani. Majelis Nasional Irak (parlemen) hari Rabu (6/4/2005) menggores sejarah dengan memilih Talabani, seorang pemimpin Kurdi, sebagai presiden di negeri yang mengusung atribut negara Arab. Memang kedengaran aneh, seorang Kurdi bisa menjadi presiden di negara Arab.
Seorang analis politik asal Irak, Mustafa Kadhimi, dalam artikelnya pada harian Asharq Al Awsat edisi Sabtu (2/4/2005), mengatakan, fenomena tampilnya tokoh-tokoh Kurdi pada posisi strategis di Irak, seperti Hoshyar Zebari sebagai menteri luar negeri dan Jalal Talabani sebagai presiden, memberi kesan positif bagi kehidupan demokrasi di negeri itu.
"Tampilnya Talabani sebagai presiden adalah sebuah era baru bagi negeri Irak yang ditandai oleh semakin kuatnya prinsip persamaan hak antara warga negaranya, tanpa melihat latar belakang etnis, agama, dan mazhab agama. Prinsip itu bisa berandil memperkuat persatuan Irak," kata Kadhimi.
MENURUT Kadhimi, terpilihnya Talabani sebagai presiden akan berandil besar mengurangi kecenderungan sektarianisme di Irak yang semakin mencemaskan karena sudah terhapus stigma bahwa presiden harus dari Sunni, perdana menteri dari Syiah, dan ketua parlemen dari Kurdi.
Talabani dilahirkan tahun 1933 di Desa Kelkan dekat Danau Dokan. Ia menjalani sekolahnya, dari SD sampai SMP, di kota Koy Sanjak. Kemudian dia pindah ke Erbil dan Kirkuk untuk melanjutkan ke SMA. Pada masa SMA, Talabani sudah dipercaya sebagai pengarah organisasi bawah tanah pelajar Kurdi di Irak yang misinya membangkitkan nasionalisme kaum Kurdi.
Seusai SMA, Talabani bergabung dengan Partai Demokrasi Kurdistan pimpinan Mulla Mustafa Barzani. Pada tahun 1951 ia terpilih sebagai anggota komite pusat partai tersebut.
Mungkin karena aktivitas politiknya, Talabani ditolak masuk pada sebuah fakultas bergengsi meskipun nilainya lebih dari mencukupi. Pada tahun 1953 Talabani diterima pada Fakultas Hukum Universitas Baghdad.
Semasa mahasiswa, Talabani menjadi sekretaris umum persatuan mahasiswa Kurdi di Baghdad. Pada tahun 1956 aparat keamanan menangkap Talabani karena aktivitas politiknya yang membuat studinya terhenti.
Seusai kudeta tahun 1958 yang mengakhiri sistem monarki di Irak, Talabani melanjutkan studinya. Ia sempat menjabat pemimpin redaksi dua koran terkemuka Kurdi yang menjadi corong sosialisasi misi Partai Demokrasi Kurdistan.
Lepas dari perguruan tinggi pada tahun 1959, ia menjalani latihan kemiliteran yang membuka jalan ke arah bergabungnya dengan Peshmerga (milisi bersenjata Kurdistan-Red). Ambruknya koalisi antara Kurdistan dan rezim Abdel Karim Kasim pada akhir tahun 1960 memaksa Talabani hengkang ke wilayah Kurdistan.
Pada bulan September 1961 meletus pertempuran antara pasukan pemerintah Irak dan Peshmerga. Talabani menjadi komandan militer di front Kirkuk dan Sulaimaniyah, melawan pasukan pemerintah Baghdad. Pada bulan Maret 1962 ia memimpin serangan balik untuk mengembalikan wilayah Sharbazhar dari tangan pasukan pemerintah Baghdad.
PERTEMPURAN kedua belah pihak berlanjut hingga jatuhnya rezim Abdel Karim Kasim. Pada masa pemerintahan Presiden Abdel Salam Arif tercapai kesepakatan gencatan senjata. Di tahun 1963 Talabani memimpin perundingan dengan Presiden Abdel Salam Arif, namun juga mengalami kegagalan.
Ketika Partai Baath kembali berkuasa di Baghdad pada tahun 1968, partai yang berbasis pada ideologi nasionalisme Arab itu berhasil memecah belah kesatuan Kurdi, antara kubu Talabani dan kubu Barzani, dalam tubuh Partai Demokrasi Kurdistan.
Perundingan antara pemerintah Baghdad dan Barzani menghasilkan kesepakatan pemberian otonomi pada kaum Kurdi. Kesepakatan itu ditolak oleh Talabani yang menilainya merugikan pihak Kurdi karena tidak memasukkan kota Kirkuk ke dalam wilayah otonomi.
Talabani lalu membentuk organisasi baru dengan nama Uni Patriot Kurdistan pada tahun 1975. Pecahnya Perang Iran-Irak tahun 1980-1988 memberi peluang kepada Talabani yang berbasis di wilayah perbatasan dengan Iran untuk membangun kembali kekuatan militer Kurdi, guna melawan pasukan Pemerintah Irak yang sedang sibuk berperang dengan Iran.
Ia memanfaatkan Perang Iran-Irak itu untuk berunding dengan Baghdad, namun pemerintah Baghdad tetap menolak memberi konsesi kepada kaum Kurdi. Pasca-Perang Teluk I tahun 1991 dan didirikannya zona aman di wilayah Kurdistan menaikkan kembali bintang Talabani.
Pada pemilu parlemen pertama di wilayah Kurdistan Mei 1992, ia terpilih sebagai anggota parlemen serta juru bicara Kurdi pada forum regional dan internasional.
Pada tahun 1994 meletup konflik berdarah antara dua kekuatan utama Kurdi, yakni Partai Demokrasi Kurdistan di bawah pimpinan Masoud Barzani dan Uni Patriot Kurdistan di bawah pimpinan Jalal Talabani, menewaskan sekitar 3.000 orang. Keduanya mencapai gencatan senjata pada tahun 1998 di Washington dan setuju membagi wilayah Kurdistan menjadi dua bagian, dengan Barzani bermarkas besar di kota Erbil dan Talabani di Sulaimaniyah.
PADA tahun 2000 mereka sepakat melakukan normalisasi hubungan dan mengaktifkan kembali parlemen Kurdi yang beku total selama enam tahun. Perkembangan politik di Irak pascatumbangnya rezim Saddam Hussein semakin memuluskan rekonsiliasi Talabani-Barzani. Puncaknya menjelang pemilu 30 Januari lalu, ketika terbentuk Daftar Koalisi Kurdistan yang berintikan dari dua faksi utama Kurdistan tersebut.
Bersatunya dua kekuatan utama Kurdi itu mengantarkan mereka menduduki urutan kedua pada pemilu lalu dengan meraih 75 kursi parlemen dan membentangkan jalan terpilihnya Talabani sebagai presiden Irak. (MUSTHAFA ABD RAHMAN, dari Cairo)
Sumber : Kompas, Kamis, 7 April 2005
Nane Annan-Lagergren : Nane Annan dan Dukungan Hadapi AIDS
Jun 28, 2009
Nane Annan dan Dukungan Hadapi AIDS
Oleh : Agnes Aristiarini
KONFERENSI Asia-Afrika (KAA) baru saja usai. Tak ada perubahan berarti dalam pertemuan para pemimpin dunia yang kebanyakan dari negara berkembang itu karena bahasan utamanya tak jauh dari politik dan ekonomi. Nyaris tak terdengar adanya upaya kerja sama di bidang pendidikan, kesehatan, apalagi pemberdayaan perempuan.
PADAHAL, Human Development Index (HDI) yang mengukur keberhasilan suatu negara menyejahterakan rakyatnya justru menggunakan tingkat pendidikan, kesehatan, maupun kesetaraan jender sebagai bagian dari parameter utamanya. Lebih ironis lagi, banyak negara Afrika dan Asia yang peringkat HDI-nya rendah, termasuk Indonesia.
Kalaupun ada perhatian ke bidang-bidang yang masih marjinal tersebut, itu lebih ke minat pribadi yang belum dikaitkan dengan agenda KAA secara keseluruhan. Demikian pulalah yang terjadi dengan kunjungan Nane Annan, istri Sekjen PBB Kofi Annan, yang Sabtu (23/4/2005) siang sempat menengok Spiritia. Ini suatu lembaga nonpemerintah yang memberi dukungan kepada mereka yang hidup dengan HIV/AIDS secara luas, termasuk keluarga, pasangan, maupun teman-temannya.
Kunjungannya sungguh singkat karena harus diselipkan di antara acara protokoler, termasuk jamuan makan siang yang molor hingga dua jam. Dalam pertemuan yang "sepi"-jauh dari sorotan media dan hanya didampingi lembaga PBB untuk menanggulangi AIDS (UNAIDS)-Nane menyebut Spiritia sebagai rumah yang sarat warna dan spirit dalam perjuangan antidiskriminasi.
Lalu matanya mendadak berkaca-kaca dan suaranya tersekat ketika menceritakan pertemuannya dengan orangtua Suzana Murni, pendiri Spiritia yang menutup mata tahun 2002 pada usia 30 tahun. "Sungguh mengagumkan melihat bagaimana mereka mendukung penuh putrinya, termasuk saat Suzana membuka status dirinya di depan publik. Saya selalu terharu kalau ingat mereka bilang bahwa putrinya selalu bisa pulang ke rumah setiap saat, apa pun yang terjadi," katanya.
NANE Annan-Lagergren, yang menikah dengan Kofi Annan tahun 1984, memang tertarik dengan isu-isu kemanusiaan, terutama perempuan, anak-anak, dan HIV/AIDS. Perempuan Swedia yang tadinya adalah pengacara komisi tinggi PBB untuk pengungsi (UNHCR) ini hidupnya berubah drastis sejak suaminya diangkat menjadi Sekjen PBB tahun 1996.
Ia berhenti dari pekerjaannya dan melupakan hobi melukisnya karena sering bepergian mendampingi Annan dan mengunjungi proyek-proyek PBB di berbagai negara. Namun, semua tak sia-sia.
Pertemuannya dengan berbagai kegiatan kemanusiaan membuka matanya akan berbagai ketimpangan yang masih terjadi, dari kemiskinan hingga ketidakadilan terhadap hak-hak perempuan dan anak-anak. Ketika mengunjungi rumah sakit yang merawat pasien HIV/AIDS dan bertemu dengan mereka yang terinfeksi, ia menyadari bahwa masalah kesehatan pun bisa memicu stigmatisasi dan diskriminasi.
Maka Nane pun belajar mengupayakan berbagai cara untuk mendukung perjuangan mereka yang hidup dengan HIV/AIDS. "Saya sadar posisi saya sebagai istri Sekjen PBB. Mungkin saya bisa membantu dengan memberi perhatian, bertemu dengan para istri pemimpin negara yang saya temui untuk mengingatkan masalah itu," kata ibu tiga anak ini.
Sabtu sore, dalam pertemuannya dengan media yang terbatas, ia menceritakan keprihatinannya atas meningkatnya kasus-kasus HIV/AIDS pada perempuan, terutama di kawasan Asia dan Afrika. "Saya memahami bahwa perempuan terinfeksi karena posisi mereka yang belum setara. Perempuan belum dilihat sebagai orang yang paling rentan di seluruh dunia," jelasnya.
Karena itu, Nane senang sekali ketika berbincang dengan Ny Kristiani Yudhoyono dan menemukan bahwa istri Presiden Indonesia itu menyadari adanya permasalahan serupa di negerinya. Ia berharap kesadaran ini bisa memicu berbagai implementasi yang mempercepat penghapusan stigma dan diskriminasi bagi yang terinfeksi HIV/AIDS.
"Perempuan juga manusia, baik yang tertular maupun tidak. Adalah tugas kita bersama untuk mendukung mereka mendapatkan hak-haknya dan menanggulangi masalahnya. Mengutip ucapan suami saya, maka pemberdayaan perempuan adalah strategi terbaik untuk memperbaiki masa depan dunia," tegas Nane yang didampingi penasihat program UNAIDS untuk Indonesia Jane S Wilson PhD dan Frika Iskandar dari Asia Pacific Network of People Living with HIV/AIDS.
DATA UNAIDS menunjukkan, jumlah perempuan yang terinfeksi HIV/AIDS terus meningkat di berbagai kawasan. Kalau pada awal epidemi ini jumlah laki- laki yang terinfeksi jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan, maka sejak tahun 1998 proporsi perempuan dengan HIV/AIDS meningkat menjadi 41 persen.
Sejak tahun 2002, peningkatan paling tajam terjadi di kawasan Asia Timur yang selama dua tahun telah naik 56 persen, diikuti kawasan Eropa Timur dan Asia Tengah dengan 48 persen. Kini perempuan dewasa yang terinfeksi HIV/AIDS hampir 50 persen, bahkan di Sub-Sahara Afrika mendekati 60 persen.
Masalah ini masih ditambah lagi dengan jutaan kaum muda yang masuk periode seksual aktif namun tidak memiliki akses untuk upaya pencegahannya. Tidaklah mengherankan bila di kawasan Sub-Sahara Afrika saja, 76 persen remaja perempuan berusia 15-24 tahun yang terinfeksi HIV/AIDS. Penelitian sudah membuktikan bahwa remaja perempuan tiga kali lebih rentan tertular HIV/AIDS dibandingkan dengan remaja laki-laki pasangannya.
Maka Nane terus mengajak para perempuan di seluruh dunia untuk memberdayakan kaumnya. "Tidak ada jalan lain. Anak perempuan harus terus bersekolah, mampu memutuskan sendiri apa yang mereka inginkan, bisa mengatakan tidak bila diperlukan, dan tahu cara menyiasati lingkungan yang belum mendukung," tuturnya.
Sebagai istri Kofi Annan, barangkali dalam pertemuan-pertemuan internasional selanjutnya Nane juga bisa menyarankan kepada pihak protokoler untuk memasukkan kunjungan ke berbagai kegiatan kemanusiaan dalam "ladies program" para istri pemimpin negara-yang lebih sering diisi acara belanja. Sebagai ahli hukum yang biasa bernegosiasi, ini tentu bukan tugas sulit baginya. (Agnes Aristiarini)
Sumber : Kompas, Selasa, 26 April 2005
Oleh : Agnes Aristiarini
KONFERENSI Asia-Afrika (KAA) baru saja usai. Tak ada perubahan berarti dalam pertemuan para pemimpin dunia yang kebanyakan dari negara berkembang itu karena bahasan utamanya tak jauh dari politik dan ekonomi. Nyaris tak terdengar adanya upaya kerja sama di bidang pendidikan, kesehatan, apalagi pemberdayaan perempuan.
PADAHAL, Human Development Index (HDI) yang mengukur keberhasilan suatu negara menyejahterakan rakyatnya justru menggunakan tingkat pendidikan, kesehatan, maupun kesetaraan jender sebagai bagian dari parameter utamanya. Lebih ironis lagi, banyak negara Afrika dan Asia yang peringkat HDI-nya rendah, termasuk Indonesia.
Kalaupun ada perhatian ke bidang-bidang yang masih marjinal tersebut, itu lebih ke minat pribadi yang belum dikaitkan dengan agenda KAA secara keseluruhan. Demikian pulalah yang terjadi dengan kunjungan Nane Annan, istri Sekjen PBB Kofi Annan, yang Sabtu (23/4/2005) siang sempat menengok Spiritia. Ini suatu lembaga nonpemerintah yang memberi dukungan kepada mereka yang hidup dengan HIV/AIDS secara luas, termasuk keluarga, pasangan, maupun teman-temannya.
Kunjungannya sungguh singkat karena harus diselipkan di antara acara protokoler, termasuk jamuan makan siang yang molor hingga dua jam. Dalam pertemuan yang "sepi"-jauh dari sorotan media dan hanya didampingi lembaga PBB untuk menanggulangi AIDS (UNAIDS)-Nane menyebut Spiritia sebagai rumah yang sarat warna dan spirit dalam perjuangan antidiskriminasi.
Lalu matanya mendadak berkaca-kaca dan suaranya tersekat ketika menceritakan pertemuannya dengan orangtua Suzana Murni, pendiri Spiritia yang menutup mata tahun 2002 pada usia 30 tahun. "Sungguh mengagumkan melihat bagaimana mereka mendukung penuh putrinya, termasuk saat Suzana membuka status dirinya di depan publik. Saya selalu terharu kalau ingat mereka bilang bahwa putrinya selalu bisa pulang ke rumah setiap saat, apa pun yang terjadi," katanya.
NANE Annan-Lagergren, yang menikah dengan Kofi Annan tahun 1984, memang tertarik dengan isu-isu kemanusiaan, terutama perempuan, anak-anak, dan HIV/AIDS. Perempuan Swedia yang tadinya adalah pengacara komisi tinggi PBB untuk pengungsi (UNHCR) ini hidupnya berubah drastis sejak suaminya diangkat menjadi Sekjen PBB tahun 1996.
Ia berhenti dari pekerjaannya dan melupakan hobi melukisnya karena sering bepergian mendampingi Annan dan mengunjungi proyek-proyek PBB di berbagai negara. Namun, semua tak sia-sia.
Pertemuannya dengan berbagai kegiatan kemanusiaan membuka matanya akan berbagai ketimpangan yang masih terjadi, dari kemiskinan hingga ketidakadilan terhadap hak-hak perempuan dan anak-anak. Ketika mengunjungi rumah sakit yang merawat pasien HIV/AIDS dan bertemu dengan mereka yang terinfeksi, ia menyadari bahwa masalah kesehatan pun bisa memicu stigmatisasi dan diskriminasi.
Maka Nane pun belajar mengupayakan berbagai cara untuk mendukung perjuangan mereka yang hidup dengan HIV/AIDS. "Saya sadar posisi saya sebagai istri Sekjen PBB. Mungkin saya bisa membantu dengan memberi perhatian, bertemu dengan para istri pemimpin negara yang saya temui untuk mengingatkan masalah itu," kata ibu tiga anak ini.
Sabtu sore, dalam pertemuannya dengan media yang terbatas, ia menceritakan keprihatinannya atas meningkatnya kasus-kasus HIV/AIDS pada perempuan, terutama di kawasan Asia dan Afrika. "Saya memahami bahwa perempuan terinfeksi karena posisi mereka yang belum setara. Perempuan belum dilihat sebagai orang yang paling rentan di seluruh dunia," jelasnya.
Karena itu, Nane senang sekali ketika berbincang dengan Ny Kristiani Yudhoyono dan menemukan bahwa istri Presiden Indonesia itu menyadari adanya permasalahan serupa di negerinya. Ia berharap kesadaran ini bisa memicu berbagai implementasi yang mempercepat penghapusan stigma dan diskriminasi bagi yang terinfeksi HIV/AIDS.
"Perempuan juga manusia, baik yang tertular maupun tidak. Adalah tugas kita bersama untuk mendukung mereka mendapatkan hak-haknya dan menanggulangi masalahnya. Mengutip ucapan suami saya, maka pemberdayaan perempuan adalah strategi terbaik untuk memperbaiki masa depan dunia," tegas Nane yang didampingi penasihat program UNAIDS untuk Indonesia Jane S Wilson PhD dan Frika Iskandar dari Asia Pacific Network of People Living with HIV/AIDS.
DATA UNAIDS menunjukkan, jumlah perempuan yang terinfeksi HIV/AIDS terus meningkat di berbagai kawasan. Kalau pada awal epidemi ini jumlah laki- laki yang terinfeksi jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan, maka sejak tahun 1998 proporsi perempuan dengan HIV/AIDS meningkat menjadi 41 persen.
Sejak tahun 2002, peningkatan paling tajam terjadi di kawasan Asia Timur yang selama dua tahun telah naik 56 persen, diikuti kawasan Eropa Timur dan Asia Tengah dengan 48 persen. Kini perempuan dewasa yang terinfeksi HIV/AIDS hampir 50 persen, bahkan di Sub-Sahara Afrika mendekati 60 persen.
Masalah ini masih ditambah lagi dengan jutaan kaum muda yang masuk periode seksual aktif namun tidak memiliki akses untuk upaya pencegahannya. Tidaklah mengherankan bila di kawasan Sub-Sahara Afrika saja, 76 persen remaja perempuan berusia 15-24 tahun yang terinfeksi HIV/AIDS. Penelitian sudah membuktikan bahwa remaja perempuan tiga kali lebih rentan tertular HIV/AIDS dibandingkan dengan remaja laki-laki pasangannya.
Maka Nane terus mengajak para perempuan di seluruh dunia untuk memberdayakan kaumnya. "Tidak ada jalan lain. Anak perempuan harus terus bersekolah, mampu memutuskan sendiri apa yang mereka inginkan, bisa mengatakan tidak bila diperlukan, dan tahu cara menyiasati lingkungan yang belum mendukung," tuturnya.
Sebagai istri Kofi Annan, barangkali dalam pertemuan-pertemuan internasional selanjutnya Nane juga bisa menyarankan kepada pihak protokoler untuk memasukkan kunjungan ke berbagai kegiatan kemanusiaan dalam "ladies program" para istri pemimpin negara-yang lebih sering diisi acara belanja. Sebagai ahli hukum yang biasa bernegosiasi, ini tentu bukan tugas sulit baginya. (Agnes Aristiarini)
Sumber : Kompas, Selasa, 26 April 2005
Joseph Deiss, Perlunya Berpihak pada UKM
Joseph Deiss, Perlunya Berpihak pada UKM
Oleh : ppg/DI
BAGI kebanyakan orang di Indonesia, saat menyinggung soal Swiss (Switzerland), maka bayangan yang muncul adalah negara yang menjadi pusat dari beberapa kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Juga identik dengan sebuah negara kecil dan netral, tempat liburan bersalju. Swiss juga acap kali dituding tempat aman para koruptor menyimpan hasil "jarahan" mereka.
Pria kelahiran 18 Januari 1946 di Fribourg, Swiss, ini tahu secara rinci karena posisinya sebagai Menteri Perekonomian Swiss. Deiss berada di Jakarta awal bulan April lalu, dalam misi membawa belasan pimpinan perusahaan (chief executive officer/CEO) asal Swiss yang menjajaki investasi dan kerja sama bisnis di Indonesia.
"Sekarang ini bukan identitas nasabah saja yang diminta, tetapi juga harus disampaikan asal uang yang disimpan di bank-bank Swiss," ujar Deiss menjawab soal Swiss sebagai tempat "berlabuh" uang korupsi.
"Jika tidak bisa membuktikan, uang akan diblokir, bahkan dikembalikan ke negara asal," ujarnya seraya menyebutkan beberapa contoh yang dikembalikan ke negara asal.
Dan Swiss bukan sekadar bayangan di atas. Deiss juga berkisah, sekalipun Swiss kecil dengan tujuh juta penduduk, dengan 20 persennya orang asing, negara ini cukup punya peran dalam bisnis dunia. "Swiss punya peran besar dalam perdagangan global, yakni posisi lima dalam jasa dan posisi sembilan dalam perdagangan barang," ujarnya lantang meyakinkan.
Dan biar orang Indonesia lebih yakin soal Swiss, Deiss mengatakan bahwa negaranya masuk dalam 20 besar investor asing terbesar di Indonesia. Ada lebih dari 100 perusahaan Swiss di Indonesia dengan nilai investasi di atas 1,5 miliar dollar AS. "Nestle (pangan), Roche dan Novartis (farmasi), serta Clariant (kimia) adalah perusahaan asal Swiss," katanya.
Apa hanya sampai di situ?
DEISS, ayah dari tiga anak dan kakek dari empat cucu ini, memang perlu meyakinkan orang Indonesia soal Swiss, terutama dalam usaha kecil dan menengah (UKM). "Karena, di Swiss, UKM praktis menampung sekitar 60 persen dari angkatan kerja yang ada di sana," ujarnya. Itu sebabnya, UKM di Swiss selalu mendapat perhatian pemerintah.
"Demikian pula yang harus dilakukan Pemerintah Indonesia bila dikaitkan dengan upaya penyerapan tenaga kerja," ujarnya. Perusahaan besar tidak perlu dibantu karena mereka punya nama, pengetahuan, dan akses ke pasar dan dana. "Kalau UKM harus dibantu," ujarnya.
Suami dari Elizabeth Deiss ini sangat tahu betul posisi lemah UKM karena dia banyak bersinggungan dengan ilmu ekonomi dan kondisi di lapangan bukan hanya karena posisinya sebagai menteri urusan ekonomi.
Deiss sendiri menyandang gelar S3 dalam ilmu ekonomi dan sosial dari Universitas Fribourg sekaligus juga menjadi pengajar di sana. Dia kemudian menyandang profesor ekonomi dan kebijakan ekonomi dari universitas yang sama.
Dalam kehidupan politik, Deiss juga dekat dengan kehidupan UKM. Dia pernah menjadi wali kota di Barbereche, konselor nasional, dan pengawas harga nasional. Kemudian Deiss menjabat Kepala Departemen Urusan Ekonomi Federal, yang tentu saja penekanannya jelas pada urusan UKM di negeri ini.
"Pokoknya UKM ini harus dibantu, terutama untuk ekspor. Mereka ini punya keterbatasan dalam bahasa, pengetahuan, serta dalam memperoleh pasar di luar negeri," ujarnya. Hal yang sama, menurut Deiss, juga dihadapi UKM di Indonesia.
Oleh karena itu, kehadiran Deiss antara lain ingin berbuat yang sama bagi UKM di Indonesia, sebagaimana yang telah dilakukan di Swiss. Bantuan teknis dan insentif bagi UKM tak perlu yang luar biasa, misalnya dalam modifikasi dan penyempurnaan prosedur kredit. Atau soal sistem penjualan dan pemasaran, dukungan teknologi informasi, serta penerapan kebijakan lingkungan.
"Untuk ini kami ikut serta dalam pengadaan dana 8 juta-10 juta dollar AS guna membantu sesama UKM di Indonesia. Pelaksanaan dari bantuan teknis dan insentif ini terserah kepada pihak IFC (International Finance Corporation) dari Bank Dunia," ujarnya menjelaskan.
Deiss yang sudah melihat lokasi bencana tsunami lantas memberikan perlakuan khusus dalam penyediaan bantuan bagi UKM di lokasi bencana. "Bukan apa-apa, bencana itu suatu hal yang sangat luar biasa. Saya tidak menyangka begitu hebat kerusakan yang ada," ujarnya. Dan membantu UKM di daerah bencana merupakan cara jitu untuk memulihkan kondisi perekonomian di sana.
Membantu soal akses ke pendanaan juga tidak keliru karena lebih dari 64 persen usaha kecil dan 82 persen usaha menengah di Indonesia mengaku membutuhkan pembiayaan dari bank. Ini belum soal bagaimana memenuhi prosedur perkreditan dan masalah lainnya. Jangan dulu bicara soal ekspor atau menemukan mitra di luar negeri.
Tetapi, bicara soal Indonesia tak lepas dari bicara soal korupsi dan birokrasi yang kronis. "Ya hal itu juga telah saya bicarakan dengan para pejabat negara Anda. Mereka bilang akan memperbaiki dengan menekan panjang birokrasi dari 150 hari menjadi 30 hari. Saya harap mereka bisa lakukan itu," ujar Deiss, kali ini dengan nada serius.
Deiss hanya berpesan, saat ini banyak negara lainnya yang cukup menarik untuk menjadi target investasi, khususnya dari Swiss. "Jadi ini persoalan dari pemerintah dan negara ini apakah mau memperbaiki diri untuk itu," ujarnya.
Misalnya soal menghadapi persaingan, Deiss berpandangan untuk tidak pernah takut menghadapi persaingan. "Kami menjual mesin-mesin, dan negara lain juga menjual produk yang sama dengan harga lebih murah. Tetapi kami tidak takut karena kualitas kami jauh lebih baik," ujarnya meyakinkan.
Deiss memang tak perlu takut. Bicaranya meyakinkan. Persoalan menjadi sangat lain apabila pria ini menjadi bagian dari warga masyarakat di negeri ini. Sudah tak berkualitas, harganya pun mahal, antara lain karena korup, birokrasi, berbagai pungutan, dan...! (ppg/di)
Sumber : Kompas, Senin, 2 Mei 2005
Oleh : ppg/DI
BAGI kebanyakan orang di Indonesia, saat menyinggung soal Swiss (Switzerland), maka bayangan yang muncul adalah negara yang menjadi pusat dari beberapa kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Juga identik dengan sebuah negara kecil dan netral, tempat liburan bersalju. Swiss juga acap kali dituding tempat aman para koruptor menyimpan hasil "jarahan" mereka.
Pria kelahiran 18 Januari 1946 di Fribourg, Swiss, ini tahu secara rinci karena posisinya sebagai Menteri Perekonomian Swiss. Deiss berada di Jakarta awal bulan April lalu, dalam misi membawa belasan pimpinan perusahaan (chief executive officer/CEO) asal Swiss yang menjajaki investasi dan kerja sama bisnis di Indonesia.
"Sekarang ini bukan identitas nasabah saja yang diminta, tetapi juga harus disampaikan asal uang yang disimpan di bank-bank Swiss," ujar Deiss menjawab soal Swiss sebagai tempat "berlabuh" uang korupsi.
"Jika tidak bisa membuktikan, uang akan diblokir, bahkan dikembalikan ke negara asal," ujarnya seraya menyebutkan beberapa contoh yang dikembalikan ke negara asal.
Dan Swiss bukan sekadar bayangan di atas. Deiss juga berkisah, sekalipun Swiss kecil dengan tujuh juta penduduk, dengan 20 persennya orang asing, negara ini cukup punya peran dalam bisnis dunia. "Swiss punya peran besar dalam perdagangan global, yakni posisi lima dalam jasa dan posisi sembilan dalam perdagangan barang," ujarnya lantang meyakinkan.
Dan biar orang Indonesia lebih yakin soal Swiss, Deiss mengatakan bahwa negaranya masuk dalam 20 besar investor asing terbesar di Indonesia. Ada lebih dari 100 perusahaan Swiss di Indonesia dengan nilai investasi di atas 1,5 miliar dollar AS. "Nestle (pangan), Roche dan Novartis (farmasi), serta Clariant (kimia) adalah perusahaan asal Swiss," katanya.
Apa hanya sampai di situ?
DEISS, ayah dari tiga anak dan kakek dari empat cucu ini, memang perlu meyakinkan orang Indonesia soal Swiss, terutama dalam usaha kecil dan menengah (UKM). "Karena, di Swiss, UKM praktis menampung sekitar 60 persen dari angkatan kerja yang ada di sana," ujarnya. Itu sebabnya, UKM di Swiss selalu mendapat perhatian pemerintah.
"Demikian pula yang harus dilakukan Pemerintah Indonesia bila dikaitkan dengan upaya penyerapan tenaga kerja," ujarnya. Perusahaan besar tidak perlu dibantu karena mereka punya nama, pengetahuan, dan akses ke pasar dan dana. "Kalau UKM harus dibantu," ujarnya.
Suami dari Elizabeth Deiss ini sangat tahu betul posisi lemah UKM karena dia banyak bersinggungan dengan ilmu ekonomi dan kondisi di lapangan bukan hanya karena posisinya sebagai menteri urusan ekonomi.
Deiss sendiri menyandang gelar S3 dalam ilmu ekonomi dan sosial dari Universitas Fribourg sekaligus juga menjadi pengajar di sana. Dia kemudian menyandang profesor ekonomi dan kebijakan ekonomi dari universitas yang sama.
Dalam kehidupan politik, Deiss juga dekat dengan kehidupan UKM. Dia pernah menjadi wali kota di Barbereche, konselor nasional, dan pengawas harga nasional. Kemudian Deiss menjabat Kepala Departemen Urusan Ekonomi Federal, yang tentu saja penekanannya jelas pada urusan UKM di negeri ini.
"Pokoknya UKM ini harus dibantu, terutama untuk ekspor. Mereka ini punya keterbatasan dalam bahasa, pengetahuan, serta dalam memperoleh pasar di luar negeri," ujarnya. Hal yang sama, menurut Deiss, juga dihadapi UKM di Indonesia.
Oleh karena itu, kehadiran Deiss antara lain ingin berbuat yang sama bagi UKM di Indonesia, sebagaimana yang telah dilakukan di Swiss. Bantuan teknis dan insentif bagi UKM tak perlu yang luar biasa, misalnya dalam modifikasi dan penyempurnaan prosedur kredit. Atau soal sistem penjualan dan pemasaran, dukungan teknologi informasi, serta penerapan kebijakan lingkungan.
"Untuk ini kami ikut serta dalam pengadaan dana 8 juta-10 juta dollar AS guna membantu sesama UKM di Indonesia. Pelaksanaan dari bantuan teknis dan insentif ini terserah kepada pihak IFC (International Finance Corporation) dari Bank Dunia," ujarnya menjelaskan.
Deiss yang sudah melihat lokasi bencana tsunami lantas memberikan perlakuan khusus dalam penyediaan bantuan bagi UKM di lokasi bencana. "Bukan apa-apa, bencana itu suatu hal yang sangat luar biasa. Saya tidak menyangka begitu hebat kerusakan yang ada," ujarnya. Dan membantu UKM di daerah bencana merupakan cara jitu untuk memulihkan kondisi perekonomian di sana.
Membantu soal akses ke pendanaan juga tidak keliru karena lebih dari 64 persen usaha kecil dan 82 persen usaha menengah di Indonesia mengaku membutuhkan pembiayaan dari bank. Ini belum soal bagaimana memenuhi prosedur perkreditan dan masalah lainnya. Jangan dulu bicara soal ekspor atau menemukan mitra di luar negeri.
Tetapi, bicara soal Indonesia tak lepas dari bicara soal korupsi dan birokrasi yang kronis. "Ya hal itu juga telah saya bicarakan dengan para pejabat negara Anda. Mereka bilang akan memperbaiki dengan menekan panjang birokrasi dari 150 hari menjadi 30 hari. Saya harap mereka bisa lakukan itu," ujar Deiss, kali ini dengan nada serius.
Deiss hanya berpesan, saat ini banyak negara lainnya yang cukup menarik untuk menjadi target investasi, khususnya dari Swiss. "Jadi ini persoalan dari pemerintah dan negara ini apakah mau memperbaiki diri untuk itu," ujarnya.
Misalnya soal menghadapi persaingan, Deiss berpandangan untuk tidak pernah takut menghadapi persaingan. "Kami menjual mesin-mesin, dan negara lain juga menjual produk yang sama dengan harga lebih murah. Tetapi kami tidak takut karena kualitas kami jauh lebih baik," ujarnya meyakinkan.
Deiss memang tak perlu takut. Bicaranya meyakinkan. Persoalan menjadi sangat lain apabila pria ini menjadi bagian dari warga masyarakat di negeri ini. Sudah tak berkualitas, harganya pun mahal, antara lain karena korup, birokrasi, berbagai pungutan, dan...! (ppg/di)
Sumber : Kompas, Senin, 2 Mei 2005
Albert Alexandre Louis Pierre Grimaldi : Albert dari Monako, Selebriti "Tak Dikenal"
Albert dari Monako, Selebriti "Tak Dikenal"
Oleh : Pieter P Gero
KALAU bisa memilih, Pangeran Albert pasti tidak menghendaki kematian ayahnya, Pangeran Rainier III dari Monako, hanya berselang tiga hari setelah kematian Paus Yohanes Paulus II. Kematian sang ayah, yang sudah 55 tahun memimpin Monako, dan penobatan Albert praktis hilang di balik berita kematian Paus yang sangat menyita pers dan perhatian dunia itu.
Kenyataan yang tak bisa ditampik. Pangeran Rainier meninggal 6 April lalu pada usia 81 tahun dan Albert Alexandre Louis Pierre Grimaldi otomatis menjadi penerus takhta kerajaan kecil di tepian Laut Tengah itu. Tak ada ramai- ramai layaknya kisah-kisah kerajaan. Padahal, Monako yang berpenduduk 32.000 orang itu selalu penuh dengan dunia glamour.
"Selebriti tak dikenal," tulis sebuah surat kabar Perancis edisi bulan lalu soal Pangeran Albert. Albert memang lain dibandingkan dengan ayah dan ibunya, Grace Kelly, yang bintang film tenar Hollywood itu. Pernikahan mereka pada 18 April 1956 menjadi salah satu pernikahan dunia.
Pangeran Albert mendapat sorotan pers lebih banyak pada soal status bujangannya hingga usia 47 tahun meski tak pernah lepas dari kehidupan wanita cantik di sekitarnya. Kedua saudarinya, Putri Caroline (48) dan Putri Stephanie (40), lazim menjadi sorotan pers karena kehidupan asmara mereka.
"Albert memang pemalu dan lebih pendiam dibandingkan dengan kakaknya, Caroline," ujar sejumlah orang dalam Istana. Berpostur tinggi dan agak botak, Albert ganteng serta selalu tampil rapi dan menarik. Dengan statusnya sebagai pangeran dan putra mahkota, sebenarnya dia menjadi incaran banyak wanita. Belum lama ini, seorang mantan pramugari mengaku mempunyai anak perempuan dari Albert, tetapi segera dibantah.
Status lajangnya ini membuat ayahnya merombak konstitusi Monako pada tahun 2002, yang memungkinkan seorang pangeran yang memerintah dan tak punya keturunan bisa menyerahkan kekuasaan kepada saudarinya. Ada pendapat, amandemen ini muncul setelah Albert tanpa alasan yang jelas lebih ingin melajang.
Pangeran Albert lebih sensitif kepada orang lain, padahal orangtua dan saudarinya begitu cepat akrab. Sejak sekolah dasar, dia sudah bergabung dengan sekolah lokal di Monako. Sebagai pelajar dia lumayan, tetapi cenderung menutup diri dan sangat hati-hati dengan posisinya sebagai putra mahkota.
Di dalam istana, Albert juga diatur dan dipengaruhi oleh kedua orangtuanya yang memang tidak pernah menyerahkan anak-anaknya ke tangan pengasuh. Albert diajarkan sopan santun, prihatin kepada yang orang lain, dan tidak pernah memanfaatkan status kerajaannya.
KELIRU kalau menganggap Pangeran Albert tetap lajang karena kurang gaul. Dengan bersekolah di sekolah lokal, dia bisa mengatasi rasa malunya. Sejak remaja dia juga sering ke Amerika Serikat mengunjungi keluarga ibunya. Ia gemar berolahraga dan meraih medali dalam bidang renang dan pancing saat remaja.
Dia anggota tim kereta luncur Monako dalam lima Olimpiade Musim Dingin terakhir. Tenis, berlayar, ski, dan skuas juga merupakan olahraga kegemarannya. Dia menyandang ban hitam dalam seni bela diri yudo. Dia pejabat di sejumlah perkumpulan olahraga di Monako.
Dalam bidang keilmuan, Pangeran Albert belajar di Amherts College, Massachusetts (AS), dan sangat aktif dalam kegiatan mahasiswa. Praktis tak ada kesan bahwa ia seorang pangeran. Dia belajar politik, ekonomi, psikologi, sejarah seni, antropologi, geologi, dan sosiologi. Gelar sarjana ilmu politik diraihnya pada tahun 1981.
Albert juga harus belajar militer. Karena itu, dia bergabung dengan Angkatan Laut Perancis dan ikut dalam kapal induk helikopter Jeanne d’Arc dengan pangkat letnan dua. Dari sana, ia bergabung di perbankan. Ia terpaksa pulang ketika ibunya tewas dalam kecelakaan mobil tahun 1983. Dia begitu terpukul karena sangat dekat dengan sang ibu. Masa depannya seakan sirna.
Namun, dia harus menghadapi kenyataan. Apalagi keceriaan ayahnya juga berlalu. Albert lantas mulai mengambil alih tugas ayahnya di dunia internasional, seperti anggota delegasi Monako ke Perserikatan Bangsa-Bangsa, Komite Olimpiade, dan berbagai kegiatan sosial lainnya. Dia juga harus bersama ayahnya dalam mengatur pemerintahan.
Meski demikian, Albert tetap saja berada di bawah bayangan sang ayah. "Memang dia sering dilibatkan dalam rapat kabinet, tetapi dia tidak diberi kesempatan berbicara," tulis harian Le Parisien. Karena itu, posisi dia sebagai penguasa Monako kini mulai memperlihatkan Pangeran Albert yang sesungguhnya. Bagaimana dia bisa keluar dari bayang-bayang sang ayah.
Beberapa pihak berspekulasi, Pangeran Albert selalu berhati-hati karena statusnya sebagai putra mahkota. Hal serupa juga terjadi dalam memilih pacar atau istri. Banyak warga Monako berharap sebentar lagi Albert akan menikah untuk mendampinginya saat berkuasa. "Lebih baik bagi Monako kalau dia punya penerus," ujar mereka.
SEBAGAI penerus takhta dari sebuah kerajaan seluas dua kilometer persegi, Pangeran Albert jelas hanya akan meneruskan apa yang dilakukan sang ayah yang dikenal dengan "pangeran pembangun" itu. Namun, seperti sang ayah yang dulu menjadikan Monako dikenal setelah menikah Grace Kelly, Albert juga bisa melakukan hal serupa.
Ketika tampil di televisi mengenang sang ayah, Pangeran Albert tidak banyak berbicara hal lain kecuali soal ayahnya. "Saatnya kita berdoa dan mengenang pangeran besar, yang begitu mencintai negerinya dan rakyatnya," ujar Albert. "Kini kita semua menjadi yatim karena pria hebat ini."
Pangeran Albert tidak sedikit pun menyinggung soal politik, soal perannya, dan kekuasaannya mendatang. Dengan setelan pakaian warna hitam, dia hanya meminta kepada warga Monako agar kesedihan dan kematian ini membuat mereka kian dekat dan semakin akrab sebagaimana yang sudah-sudah.
Pangeran Albert praktis sangat tertutup. Dari semua sumber berita yang dilacak, tak ada kalimat-kalimatnya yang langsung menyinggung soal asmara, soal tipe wanita macam apa yang diminatinya. Albert yang religius-sebagai pemeluk Katolik setiap pekan ke gereja-memang sangat berhati-hati soal skandal.
Namun, kini sebagai pemegang takhta, asmara justru mendongkrak citra Monako. Albert mungkin juga akan berbuat yang sama sebagaimana ayahnya. (Pieter P Gero)
Sumber : Kompas, Selasa, 10 Mei 2005
Oleh : Pieter P Gero
KALAU bisa memilih, Pangeran Albert pasti tidak menghendaki kematian ayahnya, Pangeran Rainier III dari Monako, hanya berselang tiga hari setelah kematian Paus Yohanes Paulus II. Kematian sang ayah, yang sudah 55 tahun memimpin Monako, dan penobatan Albert praktis hilang di balik berita kematian Paus yang sangat menyita pers dan perhatian dunia itu.
Kenyataan yang tak bisa ditampik. Pangeran Rainier meninggal 6 April lalu pada usia 81 tahun dan Albert Alexandre Louis Pierre Grimaldi otomatis menjadi penerus takhta kerajaan kecil di tepian Laut Tengah itu. Tak ada ramai- ramai layaknya kisah-kisah kerajaan. Padahal, Monako yang berpenduduk 32.000 orang itu selalu penuh dengan dunia glamour.
"Selebriti tak dikenal," tulis sebuah surat kabar Perancis edisi bulan lalu soal Pangeran Albert. Albert memang lain dibandingkan dengan ayah dan ibunya, Grace Kelly, yang bintang film tenar Hollywood itu. Pernikahan mereka pada 18 April 1956 menjadi salah satu pernikahan dunia.
Pangeran Albert mendapat sorotan pers lebih banyak pada soal status bujangannya hingga usia 47 tahun meski tak pernah lepas dari kehidupan wanita cantik di sekitarnya. Kedua saudarinya, Putri Caroline (48) dan Putri Stephanie (40), lazim menjadi sorotan pers karena kehidupan asmara mereka.
"Albert memang pemalu dan lebih pendiam dibandingkan dengan kakaknya, Caroline," ujar sejumlah orang dalam Istana. Berpostur tinggi dan agak botak, Albert ganteng serta selalu tampil rapi dan menarik. Dengan statusnya sebagai pangeran dan putra mahkota, sebenarnya dia menjadi incaran banyak wanita. Belum lama ini, seorang mantan pramugari mengaku mempunyai anak perempuan dari Albert, tetapi segera dibantah.
Status lajangnya ini membuat ayahnya merombak konstitusi Monako pada tahun 2002, yang memungkinkan seorang pangeran yang memerintah dan tak punya keturunan bisa menyerahkan kekuasaan kepada saudarinya. Ada pendapat, amandemen ini muncul setelah Albert tanpa alasan yang jelas lebih ingin melajang.
Pangeran Albert lebih sensitif kepada orang lain, padahal orangtua dan saudarinya begitu cepat akrab. Sejak sekolah dasar, dia sudah bergabung dengan sekolah lokal di Monako. Sebagai pelajar dia lumayan, tetapi cenderung menutup diri dan sangat hati-hati dengan posisinya sebagai putra mahkota.
Di dalam istana, Albert juga diatur dan dipengaruhi oleh kedua orangtuanya yang memang tidak pernah menyerahkan anak-anaknya ke tangan pengasuh. Albert diajarkan sopan santun, prihatin kepada yang orang lain, dan tidak pernah memanfaatkan status kerajaannya.
KELIRU kalau menganggap Pangeran Albert tetap lajang karena kurang gaul. Dengan bersekolah di sekolah lokal, dia bisa mengatasi rasa malunya. Sejak remaja dia juga sering ke Amerika Serikat mengunjungi keluarga ibunya. Ia gemar berolahraga dan meraih medali dalam bidang renang dan pancing saat remaja.
Dia anggota tim kereta luncur Monako dalam lima Olimpiade Musim Dingin terakhir. Tenis, berlayar, ski, dan skuas juga merupakan olahraga kegemarannya. Dia menyandang ban hitam dalam seni bela diri yudo. Dia pejabat di sejumlah perkumpulan olahraga di Monako.
Dalam bidang keilmuan, Pangeran Albert belajar di Amherts College, Massachusetts (AS), dan sangat aktif dalam kegiatan mahasiswa. Praktis tak ada kesan bahwa ia seorang pangeran. Dia belajar politik, ekonomi, psikologi, sejarah seni, antropologi, geologi, dan sosiologi. Gelar sarjana ilmu politik diraihnya pada tahun 1981.
Albert juga harus belajar militer. Karena itu, dia bergabung dengan Angkatan Laut Perancis dan ikut dalam kapal induk helikopter Jeanne d’Arc dengan pangkat letnan dua. Dari sana, ia bergabung di perbankan. Ia terpaksa pulang ketika ibunya tewas dalam kecelakaan mobil tahun 1983. Dia begitu terpukul karena sangat dekat dengan sang ibu. Masa depannya seakan sirna.
Namun, dia harus menghadapi kenyataan. Apalagi keceriaan ayahnya juga berlalu. Albert lantas mulai mengambil alih tugas ayahnya di dunia internasional, seperti anggota delegasi Monako ke Perserikatan Bangsa-Bangsa, Komite Olimpiade, dan berbagai kegiatan sosial lainnya. Dia juga harus bersama ayahnya dalam mengatur pemerintahan.
Meski demikian, Albert tetap saja berada di bawah bayangan sang ayah. "Memang dia sering dilibatkan dalam rapat kabinet, tetapi dia tidak diberi kesempatan berbicara," tulis harian Le Parisien. Karena itu, posisi dia sebagai penguasa Monako kini mulai memperlihatkan Pangeran Albert yang sesungguhnya. Bagaimana dia bisa keluar dari bayang-bayang sang ayah.
Beberapa pihak berspekulasi, Pangeran Albert selalu berhati-hati karena statusnya sebagai putra mahkota. Hal serupa juga terjadi dalam memilih pacar atau istri. Banyak warga Monako berharap sebentar lagi Albert akan menikah untuk mendampinginya saat berkuasa. "Lebih baik bagi Monako kalau dia punya penerus," ujar mereka.
SEBAGAI penerus takhta dari sebuah kerajaan seluas dua kilometer persegi, Pangeran Albert jelas hanya akan meneruskan apa yang dilakukan sang ayah yang dikenal dengan "pangeran pembangun" itu. Namun, seperti sang ayah yang dulu menjadikan Monako dikenal setelah menikah Grace Kelly, Albert juga bisa melakukan hal serupa.
Ketika tampil di televisi mengenang sang ayah, Pangeran Albert tidak banyak berbicara hal lain kecuali soal ayahnya. "Saatnya kita berdoa dan mengenang pangeran besar, yang begitu mencintai negerinya dan rakyatnya," ujar Albert. "Kini kita semua menjadi yatim karena pria hebat ini."
Pangeran Albert tidak sedikit pun menyinggung soal politik, soal perannya, dan kekuasaannya mendatang. Dengan setelan pakaian warna hitam, dia hanya meminta kepada warga Monako agar kesedihan dan kematian ini membuat mereka kian dekat dan semakin akrab sebagaimana yang sudah-sudah.
Pangeran Albert praktis sangat tertutup. Dari semua sumber berita yang dilacak, tak ada kalimat-kalimatnya yang langsung menyinggung soal asmara, soal tipe wanita macam apa yang diminatinya. Albert yang religius-sebagai pemeluk Katolik setiap pekan ke gereja-memang sangat berhati-hati soal skandal.
Namun, kini sebagai pemegang takhta, asmara justru mendongkrak citra Monako. Albert mungkin juga akan berbuat yang sama sebagaimana ayahnya. (Pieter P Gero)
Sumber : Kompas, Selasa, 10 Mei 2005
George Alan O'Dowd : Boy George, Saya Bukan Penyanyi!
Boy George: Saya Bukan Penyanyi!
Oleh : XAR
Karma karma karma karma karma chameleon
You come and go, you come and go
Loving would be easy if your colors were like my dream
Red gold and green, red gold and green...
***
ITU adalah refrein lagu Karma Chameleon yang dipopulerkan Boy George (43) bersama band asal Inggris, Culture Club, pada awal era 1980-an. Boy George pada Kamis (12/5/2005) lalu datang ke Jakarta tidak dalam kapasitasnya sebagai penyanyi. Kali ini ia tampil sebagai disc jockey (DJ). Pria kelahiran Kent, Inggris, 14 Juni 1961, itu tampil dalam acara Grand Opening Hard Rock Cafe Jakarta, yang kini berpindah tempat baru di Plaza Indonesia Entertainment X’nter, yang lebih dikenal sebagai EX-dibaca i-eks.
Kepada media yang hendak melakukan wawancara khusus, pihak manajemen Boy George meminta daftar pertanyaan terlebih dahulu. Termasuk sederet pertanyaan yang diajukan Kompas yang kemudian ada dua biji yang tercoret. Pertanyaan tersebut sebenarnya termasuk "wajib", yaitu menyangkut ihwal cara berpakaian dan dandanan Boy George yang mirip perempuan.
Penyanyi bernama asli George Alan O’Dowd itu sejak remaja memang suka bereksperimen dengan apa yang disebut cross-dressing, atau penampilan mirip-mirip perempuan, termasuk busana, tata rambut, alis mata, bedak, sampai pemerah bibir. Gaya androgynous semacam itulah yang ikut mengangkat nama kelompok Culture Club, di mana Boy George menjadi vokalis utama. Penampilan George menjadi sorotan media massa, terutama majalah mode era 1980-an.
Di Jakarta, Boy George tidak tampil "ayu" seperti di zaman Culture Club. Lelaki bertinggi 183 sentimeter itu malah tampak kekar dan terkesan sangar dengan tato di belakang telinga dan seputar tengkuk. Sebagai DJ, dia tampil di belakang turntables, meja pemutar piringan hitam, untuk menyemangati massa berjoget.
Ber-DJ bukanlah aktivitas baru bagi George. Sejak umur tujuh belas tahun, atau jauh hari sebelum dikenal sebagai vokalis Culture Club, George telah berkarier sebagai DJ di London, Inggris. Aktivitas itu menyurut seturut kiprah George sebagai personel Culture Club sejak tahun 1981. Grup yang kini telah bubar itu mampu menjual jutaan album.
KARIER Boy George di belantika musik adalah perjalanan seorang penyuka musik yang mengalir tanpa beban. Bagi Boy George, menjadi DJ, penyanyi, atau penulis lagu bukanlah suatu karier. Bagi dia, itu semua merupakan aliran hidup yang dijalani dengan rasa sukacita.
"Saya tidak mempunyai karier. Saya bukan penyanyi, bukan DJ. Saya hanya melakukan sesuatu yang saya sukai. Saya beruntung karena mendapat bayaran dari kesenangan yang saya lakukan itu. Saya tidak melihat DJ atau menyanyi itu sebagai job atau karier," kata Boy George yang ditemui di Plaza Indonesia.
Jika kemudian dengan gaya mengalir dalam kesenangan itu menjadikan dia terkenal, maka itu bukan sesuatu yang dirancang atau dicita-citakan sejak awal. Ia menceritakan tentang orang- orang terkenal yang sukses karena kehidupan mereka berputar pada suatu kesenangan. Begitu juga apa yang dilakukan George tak lebih dari menekuni sesuatu yang ia sukai, yang kebetulan berupa kegiatan bermusik. Sebagai remaja, pada era akhir 1970-an George sekadar menuruti kata hati ingin main band. Ia dan kelompoknya lalu ingin rekaman.
"Jika kemudian saya dikenal orang, maka sebenarnya itu benar-benar suatu accident, kecelakaan, ha-ha...," kata George. "Ini berbeda dengan apa yang terjadi saat ini seperti pada acara American Idol atau acara pencarian bakat (talent show) lain. Dari awal mereka sudah mempunyai ekspektasi yang lebih besar ketimbang saya dulu. Mereka mempunyai langkah-langkah yang jelas untuk menjadi terkenal, sukses, dan kaya. Sedangkan kami hanyalah orang yang menjalani kesenangan tanpa harapan muluk," lanjut George.
"Kami tidak pernah punya bayangan akan membuat rekaman yang kata orang berhasil seperti It’s A Miracle. Kami hanya berniat membuat rekaman semampu kami, tapi yang terjadi setelah itu benar-benar suatu kejutan," kata George.
Dalam perjalanan sederhana yang menyenangkan itu, George tidak mengenal istilah seperti sukses, puncak karier, masa jaya, ataupun ke-superstar-an, lengser, dan sejenisnya. Sebutan-sebutan semacam itu tercipta dari kerangka pemikiran komersial di mana sukses diukur dengan angka; di mana popularitas ditakar dengan liputan media. Sedangkan kesenangan dan kecintaan bermusik itu tidak mengenal istilah jaya atau sukses. Kesenangan dan kecintaan pada musik itu tidak pernah pensiun.
"Banyak orang hanya ingin terkenal tanpa memahami mengapa mereka ingin terkenal," George.
Ia teringat ketika Culture Club mulai sangat terkenal pada album ketiga. Media tidak lagi membicarakan musik mereka saja, tapi juga kehidupan pribadi. George memetik pelajaran bahwa ketenaran bisa membuat orang mengabdi pada ketenaran itu sendiri dan lupa pada hakikat berkarya.
MENJADI DJ bagi George bukanlah perpindahan karier. Ia tidak melihat aktivitas menyanyi dan men-DJ sebagai sesuatu yang berlawanan. Keduanya sama-sama berada dalam wilayah musik. Yang berbeda, kata George, hanyalah distribusi emosi. Sebagai penyanyi, ia bisa langsung mengungkapkan emosi dalam lagu. Dalam konser, ia bisa memainkan beragam emosi massa. Di konser ia bisa membuat orang menangis, tertawa, atau nyanyi bersama.
Sebagai DJ, emosi itu tersalur lewat medium di luar pita suara. Ia pun hanya terbatas untuk membuat orang terus-menerus menari, berlonjak-lonjak, atau sekadar bergoyang-goyang ringan.
"Tapi masih ada ruang untuk berekspresi dalam DJ. Apa yang saya lakukan dalam ber-DJ itu merupakan ekspresi tentang siapa saya. Pilihan sound yang saya mainkan itu adalah ekspresi saya dan akan tersambung ke orang lain yang menikmati di lantai dansa," katanya.
Apa pun posisinya, sejauh itu berkaitan dengan musik, Boy George bisa menjalani dengan penuh sukacita.
"Musik itu medium yang mengagumkan untuk mengekspresikan rasa gembira, sedih, optimisme, dan banyak lagi. Ia merupakan komunikator universal yang tidak dibatasi bahasa atau kebangsaan. Rentak, lagu, dan melodi akan menyatukan orang di mana pun yang mendengarnya," ujar Boy George. (XAR)
Sumber : Kompas, Sabtu, 14 Mei 2005
Oleh : XAR
Karma karma karma karma karma chameleon
You come and go, you come and go
Loving would be easy if your colors were like my dream
Red gold and green, red gold and green...
***
ITU adalah refrein lagu Karma Chameleon yang dipopulerkan Boy George (43) bersama band asal Inggris, Culture Club, pada awal era 1980-an. Boy George pada Kamis (12/5/2005) lalu datang ke Jakarta tidak dalam kapasitasnya sebagai penyanyi. Kali ini ia tampil sebagai disc jockey (DJ). Pria kelahiran Kent, Inggris, 14 Juni 1961, itu tampil dalam acara Grand Opening Hard Rock Cafe Jakarta, yang kini berpindah tempat baru di Plaza Indonesia Entertainment X’nter, yang lebih dikenal sebagai EX-dibaca i-eks.
Kepada media yang hendak melakukan wawancara khusus, pihak manajemen Boy George meminta daftar pertanyaan terlebih dahulu. Termasuk sederet pertanyaan yang diajukan Kompas yang kemudian ada dua biji yang tercoret. Pertanyaan tersebut sebenarnya termasuk "wajib", yaitu menyangkut ihwal cara berpakaian dan dandanan Boy George yang mirip perempuan.
Penyanyi bernama asli George Alan O’Dowd itu sejak remaja memang suka bereksperimen dengan apa yang disebut cross-dressing, atau penampilan mirip-mirip perempuan, termasuk busana, tata rambut, alis mata, bedak, sampai pemerah bibir. Gaya androgynous semacam itulah yang ikut mengangkat nama kelompok Culture Club, di mana Boy George menjadi vokalis utama. Penampilan George menjadi sorotan media massa, terutama majalah mode era 1980-an.
Di Jakarta, Boy George tidak tampil "ayu" seperti di zaman Culture Club. Lelaki bertinggi 183 sentimeter itu malah tampak kekar dan terkesan sangar dengan tato di belakang telinga dan seputar tengkuk. Sebagai DJ, dia tampil di belakang turntables, meja pemutar piringan hitam, untuk menyemangati massa berjoget.
Ber-DJ bukanlah aktivitas baru bagi George. Sejak umur tujuh belas tahun, atau jauh hari sebelum dikenal sebagai vokalis Culture Club, George telah berkarier sebagai DJ di London, Inggris. Aktivitas itu menyurut seturut kiprah George sebagai personel Culture Club sejak tahun 1981. Grup yang kini telah bubar itu mampu menjual jutaan album.
KARIER Boy George di belantika musik adalah perjalanan seorang penyuka musik yang mengalir tanpa beban. Bagi Boy George, menjadi DJ, penyanyi, atau penulis lagu bukanlah suatu karier. Bagi dia, itu semua merupakan aliran hidup yang dijalani dengan rasa sukacita.
"Saya tidak mempunyai karier. Saya bukan penyanyi, bukan DJ. Saya hanya melakukan sesuatu yang saya sukai. Saya beruntung karena mendapat bayaran dari kesenangan yang saya lakukan itu. Saya tidak melihat DJ atau menyanyi itu sebagai job atau karier," kata Boy George yang ditemui di Plaza Indonesia.
Jika kemudian dengan gaya mengalir dalam kesenangan itu menjadikan dia terkenal, maka itu bukan sesuatu yang dirancang atau dicita-citakan sejak awal. Ia menceritakan tentang orang- orang terkenal yang sukses karena kehidupan mereka berputar pada suatu kesenangan. Begitu juga apa yang dilakukan George tak lebih dari menekuni sesuatu yang ia sukai, yang kebetulan berupa kegiatan bermusik. Sebagai remaja, pada era akhir 1970-an George sekadar menuruti kata hati ingin main band. Ia dan kelompoknya lalu ingin rekaman.
"Jika kemudian saya dikenal orang, maka sebenarnya itu benar-benar suatu accident, kecelakaan, ha-ha...," kata George. "Ini berbeda dengan apa yang terjadi saat ini seperti pada acara American Idol atau acara pencarian bakat (talent show) lain. Dari awal mereka sudah mempunyai ekspektasi yang lebih besar ketimbang saya dulu. Mereka mempunyai langkah-langkah yang jelas untuk menjadi terkenal, sukses, dan kaya. Sedangkan kami hanyalah orang yang menjalani kesenangan tanpa harapan muluk," lanjut George.
"Kami tidak pernah punya bayangan akan membuat rekaman yang kata orang berhasil seperti It’s A Miracle. Kami hanya berniat membuat rekaman semampu kami, tapi yang terjadi setelah itu benar-benar suatu kejutan," kata George.
Dalam perjalanan sederhana yang menyenangkan itu, George tidak mengenal istilah seperti sukses, puncak karier, masa jaya, ataupun ke-superstar-an, lengser, dan sejenisnya. Sebutan-sebutan semacam itu tercipta dari kerangka pemikiran komersial di mana sukses diukur dengan angka; di mana popularitas ditakar dengan liputan media. Sedangkan kesenangan dan kecintaan bermusik itu tidak mengenal istilah jaya atau sukses. Kesenangan dan kecintaan pada musik itu tidak pernah pensiun.
"Banyak orang hanya ingin terkenal tanpa memahami mengapa mereka ingin terkenal," George.
Ia teringat ketika Culture Club mulai sangat terkenal pada album ketiga. Media tidak lagi membicarakan musik mereka saja, tapi juga kehidupan pribadi. George memetik pelajaran bahwa ketenaran bisa membuat orang mengabdi pada ketenaran itu sendiri dan lupa pada hakikat berkarya.
MENJADI DJ bagi George bukanlah perpindahan karier. Ia tidak melihat aktivitas menyanyi dan men-DJ sebagai sesuatu yang berlawanan. Keduanya sama-sama berada dalam wilayah musik. Yang berbeda, kata George, hanyalah distribusi emosi. Sebagai penyanyi, ia bisa langsung mengungkapkan emosi dalam lagu. Dalam konser, ia bisa memainkan beragam emosi massa. Di konser ia bisa membuat orang menangis, tertawa, atau nyanyi bersama.
Sebagai DJ, emosi itu tersalur lewat medium di luar pita suara. Ia pun hanya terbatas untuk membuat orang terus-menerus menari, berlonjak-lonjak, atau sekadar bergoyang-goyang ringan.
"Tapi masih ada ruang untuk berekspresi dalam DJ. Apa yang saya lakukan dalam ber-DJ itu merupakan ekspresi tentang siapa saya. Pilihan sound yang saya mainkan itu adalah ekspresi saya dan akan tersambung ke orang lain yang menikmati di lantai dansa," katanya.
Apa pun posisinya, sejauh itu berkaitan dengan musik, Boy George bisa menjalani dengan penuh sukacita.
"Musik itu medium yang mengagumkan untuk mengekspresikan rasa gembira, sedih, optimisme, dan banyak lagi. Ia merupakan komunikator universal yang tidak dibatasi bahasa atau kebangsaan. Rentak, lagu, dan melodi akan menyatukan orang di mana pun yang mendengarnya," ujar Boy George. (XAR)
Sumber : Kompas, Sabtu, 14 Mei 2005
Anthony Charles Lynton Blair
Persona : Anthony Charles Lynton Blair
Oleh : L Sastra Wijaya*
"Melihat suara-suara yang meminta Tony Blair mengundurkan diri, suasana ini seolah-olah seperti Partai Buruh kalah di pemilihan parlemen," demikian suara dari kubu Tony Blair mempertanyakan logika yang ditampilkan oleh media dan musuh politiknya.
Padahal kenyataannya, sebenarnya sangat terbalik. Tony Blair baru saja membawa Partai Buruh menciptakan sejarah sebagai perdana menteri pertama Inggris dari partai tersebut yang berkuasa tiga kali berturut-turut.
Inilah politik Inggris, yang serba kompleks, dan sekaligus dinamis.
Apakah Tony Blair yang membawa Partai Buruh menang? Sebagian mengatakan justru dialah penyebab Partai Buruh kehilangan mayoritas dari 160 kursi menjadi 67 kursi saja.
Sebelum pemilu dimulai, semua jajak pendapat meramal bahwa Partai Buruh akan memenangi pemilu.
Faktor Perang Irak pada akhirnya menjadi satu-satunya faktor yang memisahkan antarpartai, dan bagi Partai Buruh, kredibilitas Tony Blair-lah yang dipertaruhkan karena dia secara pribadi mendukung perang Irak.
"Irak menjadi faktor, namun ini adalah bagian lebih luas atas hilangnya kepercayaan terhadap Blair," kata anggota parlemen dari Liberal Demokrat, Sarah Teather.
Pemilu 2005 ini seperti menjadi referendum bagi kepemimpinan Tony Blair, dan itu sebabnya banyak kalangan Partai Buruh sendiri meminta dia agar segera mundur atau paling tidak menentukan jadwal pasti kapan dia akan mundur.
Sejak memerintah pertama kali pada tahun 1997, sampai delapan tahun kemudian, Tony Blair perlahan namun pasti membuat "permusuhan" dengan para anggota parlemennya sendiri.
Penentangan dari kalangan dalam lebih membuat masalah bagi Blair dibandingkan dengan tantangan dari kubu oposisi. Semasa menjabat, Blair sudah melihat empat kali pergantian Ketua Partai Konservatif, yaitu John Major, William Hague, Ian Duncan Smith, dan Michael Howard.
Partai oposisi utama ini juga dilanda masalah internal, pertikaian antarpara anggota, kebanyakan pada garis apakah mereka harus berintegrasi dengan Eropa atau tidak.
Di Inggris dikenal sebutan back benchers, yang arti sebenarnya adalah kursi belakang. Sebutan ini merujuk pada para anggota parlemen yang duduk di bagian belakang, anggota parlemen yang tidak mendapat jabatan apa pun dalam pemerintahan. Mereka menjadi penting kalau ada pemungutan suara yang memerlukan mayoritas. Namun, suara mereka sulit dipegang dan banyak yang tidak menyukai gaya pemerintahan Blair.
Di antara mereka terdapat nama-nama "kelas berat" seperti mantan Menteri Luar Negeri Robin Cook, mantan Menteri Olahraga Kate Hoey, mantan Menteri Pembangunan Internasional Clare Short, dan mantan Menteri Kesehatan Frank Dobson.
Belum lagi tentangan dari para anggota parlemen yang sudah lebih lama menjabat dari Blair. Mereka yang tidak mendapatkan kesempatan menjadi anggota kabinet karena terlalu tua, namun sangat populer di daerah pemilihan masing-masing.
Dengan suara mayoritas yang tinggal 67, diperlukan pembelotan sekitar 35 anggota parlemen saja untuk membuat pemerintah kalah dalam meloloskan undang-undang.
Sebagian besar "musuh" Tony Blair ini berasal dari Perang Irak.
Sebagian mundur, membelot, atau dipecat, termasuk George Galloway yang memenangi suara di daerah pemilihan di London Bethnal Green dan Bow, mengalahkan calon dari Partai Buruh sendiri.
Kalangan yang lain berasal dari apa yang disebut old labour (buruh lama). Banyak di antara mereka sudah menjadi anggota parlemen lebih lama daripada Tony Blair.
Mereka mewakili nilai-nilai yang ditinggalkan oleh Tony Blair dan generasinya yang kemudian menyebut diri mereka dan partai sebagai Buruh yang baru (New Labour).
Anthony Charles Lynton Blair lahir 6 Mei 1953 di Edinburgh (Skotlandia), namun dia dibesarkan di kota Durham, yang tidak jauh dari perbatasan dengan Skotlandia.
Kota besar terdekat dengan Durham adalah Newcastle sehingga tidak mengherankan ketika tumbuh Blair mendukung tim bola Newcastle United.
Salah satu gambar yang paling terkenal adalah ketika Blair saling menanduk bola dengan Pelatih Newcastle United-saat itu Kevin Keegan-ketika Blair baru menjadi perdana menteri di tahun 1997.
Blair lulus di bidang hukum dari salah satu universitas paling bergengsi di Inggris, Oxford. Pada masa kuliah ia membentuk sebuah band bernama Ugly Rumours, di mana dia main sebagai gitaris.
Di sinilah dia bertemu dengan calon istrinya, Cheerie Booth-mereka menikah pada tahun 1980-yang juga menempuh pendidikan di bidang yang sama. Cheerie sampai sekarang masih berkedudukan sebagai pengacara di bidang hukum hak asasi manusia, dan satu-satunya istri perdana menteri yang bekerja penuh waktu saat suaminya menjabat.
Mereka memiliki empat putra, Euan, Nicky, Kathryn, dan Leo. Keluarga Blair mencetak rekor baru sebagai perdana menteri pertama dalam 150 tahun terakhir yang memiliki putra saat menjabat. Leo lahir pada tahun 2000 di saat Tony Blair menduduki jabatan di masa kedua.
Walaupun keduanya bekerja penuh waktu dan tinggal di kediaman resmi Downing Street No 10, keluarga Blair tak mendapatkan banyak liputan dari media, dari sisi skandal. Yang paling "menarik" hanyalah ketika putra sulungnya, Euan, ditemukan tertidur di sebuah taman karena mabuk selepas menghadiri pesta perpisahan teman sekolahnya.
Blair menjadi anggota parlemen pertama kali pada tahun 1983. Ini adalah usahanya yang kedua setelah sebelumnya dalam pemilihan sela di Beaconfields, Blair tidak mendapatkan kursi.
Blair masuk dalam pemilihan tahun 1983 dari daerah pemilihan Sedgefield, tidak jauh dari daerah di mana dia dibesarkan di Durham.
Tahun 1983 itu Margaret Thatcher baru saja memenangi pemilu yang kedua bagi Partai Konservatif. Ketika berkuasa kemudian, Blair dituduh dijalankan oleh Thatcher.
Kenaikan Blair ke tampuk pemimpin Partai Buruh baru tercapai 11 tahun kemudian pada tahun 1994, menyusul meninggalnya pemimpin Partai Buruh John Smith secara mendadak.
Dalam pemilihan ketua yang baru, Blair mengalahkan dua calon lainnya, John Prescott yang sekarang menjadi Wakil Perdana Menteri dan Margaret Beckett, Menteri Lingkungan.
Prescott dan Beckett ketika itu sudah dianggap tokoh tua, dan dari kalangan muda calon yang kuat adalah Blair dan Menteri Keuangan saat ini, Gordon Brown.
Yang menarik di periode ini adalah hubungan antara Blair, Brown, dan Peter Mandelson, yang sekarang menjadi Komisioner Uni Eropa Urusan Perdagangan.
Mandelson ketika itu adalah salah seorang pembantu dekat Gordon Brown, namun bergabung dengan kubu Blair yang lebih punya peluang. Guna mendapatkan dukungan dari kubu Brown, Blair dan Brown bertemu secara pribadi di sebuah restoran Italia di London. Blair menjanjikan Brown jabatan Menteri Keuangan.
Isi dari pertemuan tersebut sampai sekarang terus menjadi spekulasi, yang sampai pernah dijadikan film televisi, dan berbagai buku yang membahas politik Inggris.
Apa kebijakan utama Tony Blair yang membuatnya terpilih pertama kali pada tahun 1997?
Sebagian pihak mengatakan kemenangan mutlak Partai Buruh ketika itu dengan mayoritas 190 kursi lebih disebabkan oleh kejenuhan warga dengan pemerintah Partai Konservatif.
Saat itu dalam pemerintahan pimpinan Perdana Menteri John Major banyak terjadi perseteruan antarsesama anggota parlemen.
Sebenarnya dua pemimpin Partai Buruh sebelum Blair, Neil Kinnock dan John Smith, sudah mulai membawa partai tersebut dari berhaluan kiri ke tengah.
Namun Blair bersama pembaru partai seperti Brown dan Mandelson yang secara tegas menyebut partai mereka sebagai New Labour (Buruh Baru).
Salah satu pencapaian besar New Labour adalah menghapus Klausa IV dalam konstitusi partai tersebut, yang membuat partai tersebut tidak menentang kepemilikan publik. Ini sama seperti yang dilakukan oleh Margaret Thatcher ketika dia menswastanisasikan banyak perusahaan negara di awal masa pemerintahannya. Usaha itu menandai matinya serikat buruh yang sebelumnya amat "berkuasa".
Tony Blair memastikan lagi bahwa ketika Partai Buruh kembali berkuasa, mereka tidak lagi kembali ke model-model seperti tahun 1970-an.
Dalam masalah transportasi, khususnya kereta api, masalah kepemilikan swasta ini tidaklah membuat keadaan jadi lebih baik. Banyak keluhan misalnya kereta masih penuh sesak pada saat jam sibuk, sering tiba terlambat, sementara harga karcis tiap tahun terus naik menjadikannya salah satu yang termahal di Eropa.
Dalam tahun-tahun awal masa pemerintahan, Blair lebih banyak berkonsentrasi di dalam negeri.
Namun, peristiwa 11 September 2001 mengubah Blair menjadi politisi dunia. Serangan terhadap Menara Kembar di New York dan di Pentagon bagi Blair adalah serangan teroris terhadap dunia secara keseluruhan.
Peristiwa 11 September juga membuat Blair semakin mendekat dengan Presiden Amerika Serikat George Bush. Persekutuan seorang pemimpin Partai Buruh di Inggris dengan seorang presiden dari Partai Republik di Amerika Serikat boleh disebut hal yang tidak biasa.
Selain kedekatan karena peristiwa 11 September, hubungan yang dekat antara Blair dan Bush bisa dijelaskan dari sisi yang sederhana, usia.
Keduanya ada dalam usia yang hampir sebaya.
Amerika Serikat juga menjadi satu-satunya "mitra strategis" yang tersedia bagi Blair. Dengan keterlibatan mereka dengan Uni Eropa, terutama soal mata uang Euro, masih belum pasti, dan perbedaan usia dengan Kanselir Jerman Gerhard Schroeder dan Presiden Perancis Jacques Chirac, Blair menemukan teman yang bisa diajak bicara dalam diri Presiden Bush.
Dari sisi praktis kebijakan, Blair yang lebih dulu berkuasa memiliki kepentingan strategis. Dengan menjadi "tangan kanan" Bush, Blair berharap dia bisa memberikan masukan penting dalam kebijakan Amerika Serikat, satu-satunya kekuatan adidaya. Bagi Blair adalah lebih baik berada di lingkar dekat sehingga bisa memengaruhi kebijakan mereka.
Akan tetapi, karena kedekatan dan ketidakberdayaan Blair memengaruhi Bush, Blair menjadi santapan empuk para karikaturis. Ia sering digambarkan sebagai tokoh "yang seperti dicocok hidungnya" oleh Bush.
Blair mengharap dukungan dari Bush untuk masalah yang dipentingkan oleh Blair, namun dukungan tersebut tidak juga muncul.
Sebagai ganti mendukung kebijakan Irak, Blair misalnya menghendaki dukungan soal penyelesaian masalah Palestina dengan memberikan tekanan lebih keras kepada Perdana Menteri Israel Ariel Sharon.
Amerika Serikat tidak terlalu antusias dalam masalah ini. Walaupun situasi di Palestina tampak mengalami kemajuan, itu bukanlah karena jasa Blair, tetapi adalah karena meninggalnya Yasser Arafat.
Yang ironis bagi Blair adalah bahwa Perang Irak menjadi masalah politik yang besar baginya dibandingkan dengan Bush di Amerika Serikat, padahal dia adalah tokoh pendamping, bukan tokoh utama.
Para pendukung Buruh secara tradisional bukanlah mereka yang gila perang dan demonstrasi antiperang di Inggris pada tahun 2003 termasuk salah satu yang terbesar di dunia.
Sistem pemerintahan juga berbeda antara Inggris dan Amerika Serikat. Di Inggris, keputusan apa pun yang diambil pemerintah selalu diambil dengan berhati-hati dan dibicarakan dengan saksama di parlemen.
Masuknya pasukan Amerika Serikat ke Irak, jatuhnya Saddam Hussein, dan berbagai persoalan yang ditimbulkannya lebih menimbulkan persoalan bagi Blair.
Terlepas dari Perang Irak, karakter apa yang membuat Blair mampu bertahan sebagai Perdana Menteri untuk masa jabatan ketiga?
Secara umum, bagi para pengkritiknya, Blair dan pemerintahannya paling diingat karena kemampuannya menguasai media. Spin dan PR (public relations) menjadi dua kata kunci yang sering disebut-sebut.
Mantan Direktur Komunikasi Downing Street, Alistair Campbell, dikenal paling agresif untuk memastikan bahwa media mengikuti garis ataupun arah pemberitaan yang dikehendaki oleh Blair. Maka, popularitas Blair sebagai pemimpin sebelum Perang Irak, rata-rata tinggi.
Dari sisi kebijakan, Blair walaupun mendelegasikan perekonomian sepenuhnya di tangan Menteri Keuangan Gordon Brown, berhasil mempertahankan ekonomi dengan stabil.
Ketika mengambil alih kekuasaan pada tahun 1997 dari John Major, ekonomi Inggris memang membaik, dan itu tetap dipertahankan. Gordon Brown dikenal sebagai Iron Chancelor (Menteri Keuangan Bertangan Besi) dengan kebijakan fiskal yang ketat.
Brown dengan ketat mengawasi pengeluaran yang dilakukan oleh berbagai kementerian dan dalam banyak hal Blair memberikan kekuasaan sepenuhnya kepada Brown untuk membuat kebijakan. Blair campur tangan hanya pada kebijakan penting saja.
Keberhasilan utama Blair di dalam negeri adalah kesuksesannya melakukan devolusi, dengan terbentuknya parlemen di Skotlandia dan Wales.
Devolusi ini dengan cepat mematikan aspirasi dari kedua bagian dari Inggris Raya ini untuk merdeka. Mereka mendapatkan kesempatan untuk mengurus masalah di daerah mereka sendiri.
Hal lain adalah menempatkan banyak anggota parlemen wanita. Ketika menang pada tahun 1997, Blair memecahkan rekor menempatkan lebih dari 100 anggota parlemen wanita dari sekitar 646 anggota parlemen.
Keuntungan dari para anggota parlemen wanita ini yang kemudian disebut sebagai Blair’s Babes adalah mereka sangat setia kepada garis pemerintah. Ini sekaligus juga mengubah wajah parlemen, di mana sidang-sidang yang sebelumnya berlangsung sampai malam hari akhirnya diubah sehingga lebih berorientasi kepada jam normal keluarga.
Diskriminasi positif Partai Buruh ini banyak dipuji, walaupun juga banyak yang mengkritik. Jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan anggota parlemen dari Partai Konservatif, yang dalam pemilu tahun 2005, tidak lebih dari 10 orang. Padahal, Partai Buruh menambah jumlah anggota wanitanya menjadi 130 orang.
Namun di salah satu daerah pemilihan di Wales, Blair mendapatkan tamparan karena calon yang menang-seorang laki-laki-membelot dari Partai Buruh karena menentang calon wanita dari partai tersebut.
Keberhasilan Blair terbesar adalah membawa Buruh ke posisi kiri tengah, seperti yang dikatakannya kepada para anggota parlemen baru hari Kamis (12/5/2005).
"Kita menang dari posisi kiri tengah, dan saya sepenuhnya yakin bahwa kita harus tetap berada di sana. Dengan tetap berada di sana, kita akan bisa memaksa Liberal Demokrat dan Konservatif untuk memilih. Konservatif harus memilih apakah mereka akan ke tengah atau ke posisi seperti Thatcher."
"Saya adalah orang yang ingin memberi ruang bergerak bagi Liberal Demokrat, namun sekarang tidak lagi. Liberal Demokrat harus memutuskan apakah mereka ingin suara Buruh atau suara Konservatif," katanya.
Dengan mayoritas lebih sedikit, pemberontakan dari dalam lebih mungkin terjadi. Akankah Blair mengalami nasib yang sama dengan Margaret Thatcher yang praktis "dikudeta" oleh partainya sendiri pada tahun 1991 ?
Banyak faktor yang menentukan masa depan Blair di masa jabatan ketiga ini berada di luar kendalinya. Irak akan tetap jadi masalah dominan, sepanjang keadaan di negeri itu tidak membaik. Referendum Uni Eropa masih harus dijalankan. Berbagai reformasi di dalam negeri, seperti sistem pendidikan dan sistem kesehatan, belum sepenuhnya berhasil.
Banyak pengamat mengatakan Blair akan mengundurkan diri kalau semangatnya untuk menjadi pemimpin sudah tidak ada lagi. Yang lain mengatakan di dalam benaknya dia akan mengincar rekor Thatcher yang memerintah selama 11 tahun.
Blair akan melampaui rekor tersebut bila dia bertahan sampai tahun 2008, hanya setahun sebelum pemilihan umum berikutnya. Bila itu terjadi, pemimpin Partai Buruh berikutnya akan memantapkan posisinya.
"Saya tidak harus menjadi pemimpin yang disukai dan dipuja. Menjadi pemimpin yang dihormati saja sudah cukup," itulah mantra yang disampaikan Blair kepada kalangan dekatnya.
*L Sastra Wijaya, Pembantu Kompas/ Wartawan BBC di London
Sumber : Kompas, Minggu, 15 Mei 2005
Oleh : L Sastra Wijaya*
"Melihat suara-suara yang meminta Tony Blair mengundurkan diri, suasana ini seolah-olah seperti Partai Buruh kalah di pemilihan parlemen," demikian suara dari kubu Tony Blair mempertanyakan logika yang ditampilkan oleh media dan musuh politiknya.
Padahal kenyataannya, sebenarnya sangat terbalik. Tony Blair baru saja membawa Partai Buruh menciptakan sejarah sebagai perdana menteri pertama Inggris dari partai tersebut yang berkuasa tiga kali berturut-turut.
Inilah politik Inggris, yang serba kompleks, dan sekaligus dinamis.
Apakah Tony Blair yang membawa Partai Buruh menang? Sebagian mengatakan justru dialah penyebab Partai Buruh kehilangan mayoritas dari 160 kursi menjadi 67 kursi saja.
Sebelum pemilu dimulai, semua jajak pendapat meramal bahwa Partai Buruh akan memenangi pemilu.
Faktor Perang Irak pada akhirnya menjadi satu-satunya faktor yang memisahkan antarpartai, dan bagi Partai Buruh, kredibilitas Tony Blair-lah yang dipertaruhkan karena dia secara pribadi mendukung perang Irak.
"Irak menjadi faktor, namun ini adalah bagian lebih luas atas hilangnya kepercayaan terhadap Blair," kata anggota parlemen dari Liberal Demokrat, Sarah Teather.
Pemilu 2005 ini seperti menjadi referendum bagi kepemimpinan Tony Blair, dan itu sebabnya banyak kalangan Partai Buruh sendiri meminta dia agar segera mundur atau paling tidak menentukan jadwal pasti kapan dia akan mundur.
Sejak memerintah pertama kali pada tahun 1997, sampai delapan tahun kemudian, Tony Blair perlahan namun pasti membuat "permusuhan" dengan para anggota parlemennya sendiri.
Penentangan dari kalangan dalam lebih membuat masalah bagi Blair dibandingkan dengan tantangan dari kubu oposisi. Semasa menjabat, Blair sudah melihat empat kali pergantian Ketua Partai Konservatif, yaitu John Major, William Hague, Ian Duncan Smith, dan Michael Howard.
Partai oposisi utama ini juga dilanda masalah internal, pertikaian antarpara anggota, kebanyakan pada garis apakah mereka harus berintegrasi dengan Eropa atau tidak.
Di Inggris dikenal sebutan back benchers, yang arti sebenarnya adalah kursi belakang. Sebutan ini merujuk pada para anggota parlemen yang duduk di bagian belakang, anggota parlemen yang tidak mendapat jabatan apa pun dalam pemerintahan. Mereka menjadi penting kalau ada pemungutan suara yang memerlukan mayoritas. Namun, suara mereka sulit dipegang dan banyak yang tidak menyukai gaya pemerintahan Blair.
Di antara mereka terdapat nama-nama "kelas berat" seperti mantan Menteri Luar Negeri Robin Cook, mantan Menteri Olahraga Kate Hoey, mantan Menteri Pembangunan Internasional Clare Short, dan mantan Menteri Kesehatan Frank Dobson.
Belum lagi tentangan dari para anggota parlemen yang sudah lebih lama menjabat dari Blair. Mereka yang tidak mendapatkan kesempatan menjadi anggota kabinet karena terlalu tua, namun sangat populer di daerah pemilihan masing-masing.
Dengan suara mayoritas yang tinggal 67, diperlukan pembelotan sekitar 35 anggota parlemen saja untuk membuat pemerintah kalah dalam meloloskan undang-undang.
Sebagian besar "musuh" Tony Blair ini berasal dari Perang Irak.
Sebagian mundur, membelot, atau dipecat, termasuk George Galloway yang memenangi suara di daerah pemilihan di London Bethnal Green dan Bow, mengalahkan calon dari Partai Buruh sendiri.
Kalangan yang lain berasal dari apa yang disebut old labour (buruh lama). Banyak di antara mereka sudah menjadi anggota parlemen lebih lama daripada Tony Blair.
Mereka mewakili nilai-nilai yang ditinggalkan oleh Tony Blair dan generasinya yang kemudian menyebut diri mereka dan partai sebagai Buruh yang baru (New Labour).
Anthony Charles Lynton Blair lahir 6 Mei 1953 di Edinburgh (Skotlandia), namun dia dibesarkan di kota Durham, yang tidak jauh dari perbatasan dengan Skotlandia.
Kota besar terdekat dengan Durham adalah Newcastle sehingga tidak mengherankan ketika tumbuh Blair mendukung tim bola Newcastle United.
Salah satu gambar yang paling terkenal adalah ketika Blair saling menanduk bola dengan Pelatih Newcastle United-saat itu Kevin Keegan-ketika Blair baru menjadi perdana menteri di tahun 1997.
Blair lulus di bidang hukum dari salah satu universitas paling bergengsi di Inggris, Oxford. Pada masa kuliah ia membentuk sebuah band bernama Ugly Rumours, di mana dia main sebagai gitaris.
Di sinilah dia bertemu dengan calon istrinya, Cheerie Booth-mereka menikah pada tahun 1980-yang juga menempuh pendidikan di bidang yang sama. Cheerie sampai sekarang masih berkedudukan sebagai pengacara di bidang hukum hak asasi manusia, dan satu-satunya istri perdana menteri yang bekerja penuh waktu saat suaminya menjabat.
Mereka memiliki empat putra, Euan, Nicky, Kathryn, dan Leo. Keluarga Blair mencetak rekor baru sebagai perdana menteri pertama dalam 150 tahun terakhir yang memiliki putra saat menjabat. Leo lahir pada tahun 2000 di saat Tony Blair menduduki jabatan di masa kedua.
Walaupun keduanya bekerja penuh waktu dan tinggal di kediaman resmi Downing Street No 10, keluarga Blair tak mendapatkan banyak liputan dari media, dari sisi skandal. Yang paling "menarik" hanyalah ketika putra sulungnya, Euan, ditemukan tertidur di sebuah taman karena mabuk selepas menghadiri pesta perpisahan teman sekolahnya.
Blair menjadi anggota parlemen pertama kali pada tahun 1983. Ini adalah usahanya yang kedua setelah sebelumnya dalam pemilihan sela di Beaconfields, Blair tidak mendapatkan kursi.
Blair masuk dalam pemilihan tahun 1983 dari daerah pemilihan Sedgefield, tidak jauh dari daerah di mana dia dibesarkan di Durham.
Tahun 1983 itu Margaret Thatcher baru saja memenangi pemilu yang kedua bagi Partai Konservatif. Ketika berkuasa kemudian, Blair dituduh dijalankan oleh Thatcher.
Kenaikan Blair ke tampuk pemimpin Partai Buruh baru tercapai 11 tahun kemudian pada tahun 1994, menyusul meninggalnya pemimpin Partai Buruh John Smith secara mendadak.
Dalam pemilihan ketua yang baru, Blair mengalahkan dua calon lainnya, John Prescott yang sekarang menjadi Wakil Perdana Menteri dan Margaret Beckett, Menteri Lingkungan.
Prescott dan Beckett ketika itu sudah dianggap tokoh tua, dan dari kalangan muda calon yang kuat adalah Blair dan Menteri Keuangan saat ini, Gordon Brown.
Yang menarik di periode ini adalah hubungan antara Blair, Brown, dan Peter Mandelson, yang sekarang menjadi Komisioner Uni Eropa Urusan Perdagangan.
Mandelson ketika itu adalah salah seorang pembantu dekat Gordon Brown, namun bergabung dengan kubu Blair yang lebih punya peluang. Guna mendapatkan dukungan dari kubu Brown, Blair dan Brown bertemu secara pribadi di sebuah restoran Italia di London. Blair menjanjikan Brown jabatan Menteri Keuangan.
Isi dari pertemuan tersebut sampai sekarang terus menjadi spekulasi, yang sampai pernah dijadikan film televisi, dan berbagai buku yang membahas politik Inggris.
Apa kebijakan utama Tony Blair yang membuatnya terpilih pertama kali pada tahun 1997?
Sebagian pihak mengatakan kemenangan mutlak Partai Buruh ketika itu dengan mayoritas 190 kursi lebih disebabkan oleh kejenuhan warga dengan pemerintah Partai Konservatif.
Saat itu dalam pemerintahan pimpinan Perdana Menteri John Major banyak terjadi perseteruan antarsesama anggota parlemen.
Sebenarnya dua pemimpin Partai Buruh sebelum Blair, Neil Kinnock dan John Smith, sudah mulai membawa partai tersebut dari berhaluan kiri ke tengah.
Namun Blair bersama pembaru partai seperti Brown dan Mandelson yang secara tegas menyebut partai mereka sebagai New Labour (Buruh Baru).
Salah satu pencapaian besar New Labour adalah menghapus Klausa IV dalam konstitusi partai tersebut, yang membuat partai tersebut tidak menentang kepemilikan publik. Ini sama seperti yang dilakukan oleh Margaret Thatcher ketika dia menswastanisasikan banyak perusahaan negara di awal masa pemerintahannya. Usaha itu menandai matinya serikat buruh yang sebelumnya amat "berkuasa".
Tony Blair memastikan lagi bahwa ketika Partai Buruh kembali berkuasa, mereka tidak lagi kembali ke model-model seperti tahun 1970-an.
Dalam masalah transportasi, khususnya kereta api, masalah kepemilikan swasta ini tidaklah membuat keadaan jadi lebih baik. Banyak keluhan misalnya kereta masih penuh sesak pada saat jam sibuk, sering tiba terlambat, sementara harga karcis tiap tahun terus naik menjadikannya salah satu yang termahal di Eropa.
Dalam tahun-tahun awal masa pemerintahan, Blair lebih banyak berkonsentrasi di dalam negeri.
Namun, peristiwa 11 September 2001 mengubah Blair menjadi politisi dunia. Serangan terhadap Menara Kembar di New York dan di Pentagon bagi Blair adalah serangan teroris terhadap dunia secara keseluruhan.
Peristiwa 11 September juga membuat Blair semakin mendekat dengan Presiden Amerika Serikat George Bush. Persekutuan seorang pemimpin Partai Buruh di Inggris dengan seorang presiden dari Partai Republik di Amerika Serikat boleh disebut hal yang tidak biasa.
Selain kedekatan karena peristiwa 11 September, hubungan yang dekat antara Blair dan Bush bisa dijelaskan dari sisi yang sederhana, usia.
Keduanya ada dalam usia yang hampir sebaya.
Amerika Serikat juga menjadi satu-satunya "mitra strategis" yang tersedia bagi Blair. Dengan keterlibatan mereka dengan Uni Eropa, terutama soal mata uang Euro, masih belum pasti, dan perbedaan usia dengan Kanselir Jerman Gerhard Schroeder dan Presiden Perancis Jacques Chirac, Blair menemukan teman yang bisa diajak bicara dalam diri Presiden Bush.
Dari sisi praktis kebijakan, Blair yang lebih dulu berkuasa memiliki kepentingan strategis. Dengan menjadi "tangan kanan" Bush, Blair berharap dia bisa memberikan masukan penting dalam kebijakan Amerika Serikat, satu-satunya kekuatan adidaya. Bagi Blair adalah lebih baik berada di lingkar dekat sehingga bisa memengaruhi kebijakan mereka.
Akan tetapi, karena kedekatan dan ketidakberdayaan Blair memengaruhi Bush, Blair menjadi santapan empuk para karikaturis. Ia sering digambarkan sebagai tokoh "yang seperti dicocok hidungnya" oleh Bush.
Blair mengharap dukungan dari Bush untuk masalah yang dipentingkan oleh Blair, namun dukungan tersebut tidak juga muncul.
Sebagai ganti mendukung kebijakan Irak, Blair misalnya menghendaki dukungan soal penyelesaian masalah Palestina dengan memberikan tekanan lebih keras kepada Perdana Menteri Israel Ariel Sharon.
Amerika Serikat tidak terlalu antusias dalam masalah ini. Walaupun situasi di Palestina tampak mengalami kemajuan, itu bukanlah karena jasa Blair, tetapi adalah karena meninggalnya Yasser Arafat.
Yang ironis bagi Blair adalah bahwa Perang Irak menjadi masalah politik yang besar baginya dibandingkan dengan Bush di Amerika Serikat, padahal dia adalah tokoh pendamping, bukan tokoh utama.
Para pendukung Buruh secara tradisional bukanlah mereka yang gila perang dan demonstrasi antiperang di Inggris pada tahun 2003 termasuk salah satu yang terbesar di dunia.
Sistem pemerintahan juga berbeda antara Inggris dan Amerika Serikat. Di Inggris, keputusan apa pun yang diambil pemerintah selalu diambil dengan berhati-hati dan dibicarakan dengan saksama di parlemen.
Masuknya pasukan Amerika Serikat ke Irak, jatuhnya Saddam Hussein, dan berbagai persoalan yang ditimbulkannya lebih menimbulkan persoalan bagi Blair.
Terlepas dari Perang Irak, karakter apa yang membuat Blair mampu bertahan sebagai Perdana Menteri untuk masa jabatan ketiga?
Secara umum, bagi para pengkritiknya, Blair dan pemerintahannya paling diingat karena kemampuannya menguasai media. Spin dan PR (public relations) menjadi dua kata kunci yang sering disebut-sebut.
Mantan Direktur Komunikasi Downing Street, Alistair Campbell, dikenal paling agresif untuk memastikan bahwa media mengikuti garis ataupun arah pemberitaan yang dikehendaki oleh Blair. Maka, popularitas Blair sebagai pemimpin sebelum Perang Irak, rata-rata tinggi.
Dari sisi kebijakan, Blair walaupun mendelegasikan perekonomian sepenuhnya di tangan Menteri Keuangan Gordon Brown, berhasil mempertahankan ekonomi dengan stabil.
Ketika mengambil alih kekuasaan pada tahun 1997 dari John Major, ekonomi Inggris memang membaik, dan itu tetap dipertahankan. Gordon Brown dikenal sebagai Iron Chancelor (Menteri Keuangan Bertangan Besi) dengan kebijakan fiskal yang ketat.
Brown dengan ketat mengawasi pengeluaran yang dilakukan oleh berbagai kementerian dan dalam banyak hal Blair memberikan kekuasaan sepenuhnya kepada Brown untuk membuat kebijakan. Blair campur tangan hanya pada kebijakan penting saja.
Keberhasilan utama Blair di dalam negeri adalah kesuksesannya melakukan devolusi, dengan terbentuknya parlemen di Skotlandia dan Wales.
Devolusi ini dengan cepat mematikan aspirasi dari kedua bagian dari Inggris Raya ini untuk merdeka. Mereka mendapatkan kesempatan untuk mengurus masalah di daerah mereka sendiri.
Hal lain adalah menempatkan banyak anggota parlemen wanita. Ketika menang pada tahun 1997, Blair memecahkan rekor menempatkan lebih dari 100 anggota parlemen wanita dari sekitar 646 anggota parlemen.
Keuntungan dari para anggota parlemen wanita ini yang kemudian disebut sebagai Blair’s Babes adalah mereka sangat setia kepada garis pemerintah. Ini sekaligus juga mengubah wajah parlemen, di mana sidang-sidang yang sebelumnya berlangsung sampai malam hari akhirnya diubah sehingga lebih berorientasi kepada jam normal keluarga.
Diskriminasi positif Partai Buruh ini banyak dipuji, walaupun juga banyak yang mengkritik. Jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan anggota parlemen dari Partai Konservatif, yang dalam pemilu tahun 2005, tidak lebih dari 10 orang. Padahal, Partai Buruh menambah jumlah anggota wanitanya menjadi 130 orang.
Namun di salah satu daerah pemilihan di Wales, Blair mendapatkan tamparan karena calon yang menang-seorang laki-laki-membelot dari Partai Buruh karena menentang calon wanita dari partai tersebut.
Keberhasilan Blair terbesar adalah membawa Buruh ke posisi kiri tengah, seperti yang dikatakannya kepada para anggota parlemen baru hari Kamis (12/5/2005).
"Kita menang dari posisi kiri tengah, dan saya sepenuhnya yakin bahwa kita harus tetap berada di sana. Dengan tetap berada di sana, kita akan bisa memaksa Liberal Demokrat dan Konservatif untuk memilih. Konservatif harus memilih apakah mereka akan ke tengah atau ke posisi seperti Thatcher."
"Saya adalah orang yang ingin memberi ruang bergerak bagi Liberal Demokrat, namun sekarang tidak lagi. Liberal Demokrat harus memutuskan apakah mereka ingin suara Buruh atau suara Konservatif," katanya.
Dengan mayoritas lebih sedikit, pemberontakan dari dalam lebih mungkin terjadi. Akankah Blair mengalami nasib yang sama dengan Margaret Thatcher yang praktis "dikudeta" oleh partainya sendiri pada tahun 1991 ?
Banyak faktor yang menentukan masa depan Blair di masa jabatan ketiga ini berada di luar kendalinya. Irak akan tetap jadi masalah dominan, sepanjang keadaan di negeri itu tidak membaik. Referendum Uni Eropa masih harus dijalankan. Berbagai reformasi di dalam negeri, seperti sistem pendidikan dan sistem kesehatan, belum sepenuhnya berhasil.
Banyak pengamat mengatakan Blair akan mengundurkan diri kalau semangatnya untuk menjadi pemimpin sudah tidak ada lagi. Yang lain mengatakan di dalam benaknya dia akan mengincar rekor Thatcher yang memerintah selama 11 tahun.
Blair akan melampaui rekor tersebut bila dia bertahan sampai tahun 2008, hanya setahun sebelum pemilihan umum berikutnya. Bila itu terjadi, pemimpin Partai Buruh berikutnya akan memantapkan posisinya.
"Saya tidak harus menjadi pemimpin yang disukai dan dipuja. Menjadi pemimpin yang dihormati saja sudah cukup," itulah mantra yang disampaikan Blair kepada kalangan dekatnya.
*L Sastra Wijaya, Pembantu Kompas/ Wartawan BBC di London
Sumber : Kompas, Minggu, 15 Mei 2005
Frank Lampard, Gelandang Haus Gol
Frank Lampard, Gelandang Haus Gol
Oleh : Pieter P Gero
SEPERTI biasa, inilah Frank Lampard. Dingin dan minim ekspresi. Setelah mencetak gol, dia acapkali dengan tampang dingin berlari sambil mencium jari tangan kirinya, kemudian meloncat dan mengacungkan telunjuk. Sesekali dia berteriak sekeras-kerasnya.
BEGITU pula ekspresinya saat dia terpilih sebagai Pemain Terbaik Tahun ini (Footballer of The Year) oleh kalangan penulis sepak bola pada bulan Mei ini. "Ini sangat prestisius," ujarnya singkat. "Saya sangat percaya diri dan saya bangga dengan apa yang telah saya capai."
Lampard adalah pemain gelandang pada kesebelasan Chelsea. Ia di posisi yang sama pada kesebelasan Inggris. Terpilihnya anak muda kelahiran Romford, Essex, Inggris, 20 Juni 1978, ini bukan semata karena dia ikut membawa Chelsea sebagai juara Liga Inggris musim 2004/ 2005, setelah setengah abad menunggu. Juga bukan sekadar membawa Chelsea merebut Piala Liga atau mencapai semifinal Piala Champions. Asosiasi wartawan sepak bola tadi menilai prestasinya spektakuler.
"Saya bekerja keras untuk semua ini dengan memanfaatkan setiap waktu yang ada. Saya menikmati sepak bola, terutama saat mengenang orang-orang yang meragukan kemampuan saya," ujarnya. Keraguan justru mendorongnya untuk tampil tuntas dan meyakinkan.
Tak hanya wartawan sepak bola, Michael Owen, penyerang Inggris yang kini main di Real Madrid (Spanyol), juga mengakui kinerja luar biasa Lampard. "Sangat mengagumkan. Saya belum pernah melihat seorang pemain yang mencatat kemajuan yang begitu cepat sebagaimana yang diperlihatkan Lampard," ujar Owen.
Pelatih kesebelasan nasional Azerbaijan, Carlos Alberto yang juga kapten Kesebelasan Brasil yang memenangi Piala Dunia 1970, menggambarkan Lampard sebagai seorang gelandang terbaik di dunia. Pujian ini muncul begitu Inggris menundukkan Azerbaijan, 2-0, bulan Maret lalu. Inggris beruntung memiliki seorang Frank Lampard.
BERMAIN sepak bola bagi Frank Lampard tak lepas dari pengaruh lingkup keluarganya. Ayahnya, Frank Lampard Sr, adalah pemain sepak bola pada klub West Ham United yang membawa klubnya dua kali merebut Piala FA. Sementara pamannya, Harry Redknapp, juga pemain dan kini pelatih di kesebelasan Southampton
Lampard bergabung sebagai pemain profesional di West Ham United saat pamannya Redknapp menjadi asisten pelatih tahun 1992. Ayahnya bergabung ke sana sebagai asisten pelatih saat sang paman menjadi pelatih tahun 1994. Frank Lampard mulai berkiprah sebagai gelandang dengan tampil sebanyak 184 kali dan mencetak 39 gol.
Kinerjanya sebagai pemain gelandang yang haus gol terus terlihat. Di Chelsea posisinya sebagai pemain gelandang di belakang penyerang Didier Drogba dan Eidur Gudjohnsen, namun dalam daftar top scorer Lampard berada di atas dengan 18 gol musim ini. Itu hanya terpaut empat gol dari Thierry Henry (Arsenal) di puncak dengan 22 gol. Dua gol Lampard saat menghadapi Bolton Wanderers memastikan gelar juara musim ini bagi Chelsea.
Sejak bergabung dengan Kesebelasan Chelsea tahun 2001 dengan nilai transfer 11 juta poundsterling, Lampard terus mencetak gol. Musim 2002/2003, dia mencetak 13 gol dan mengantar Chelsea masuk ke zona Piala Champions. Di zona pertarungan antarkesebelasan Eropa ini Lampard juga mencetak gol-gol indah bagi Chelsea.
Saat menjamu Bayern Muechen, Lampard mempersembahkan dua dari empat gol Chelsea yang lantas unggul, 4-2. Salah satunya gol indah, ketika Lampard menahan bola dengan dada di kotak penalti dan sekali kontrol dengan kaki kiri menendang melewati penjaga gawang Oliver Kahn. Bola meluncur bak peluru ke pojok jala gawang. Gol.
Sepak terjangnya dalam kesebelasan nasional diawali tahun 1999 dengan penampilan pertama saat menjamu Belgia. Penampilannya yang ngotot dan apa adanya saat bertahan atau ketika berlari ke gawang lawan membuatnya terpilih.
Dengan posisi gelandang Lampard harus berbagi kesempatan dengan Steven Gerrard. Meski begitu, ia tetap haus gol. Sejak tahun 2003 dari 32 pertandingan internasional yang diikutinya, ia membubuhkan delapan gol. Dalam Piala Eropa tahun 2004 di Portugal, ia malah mencetak tiga gol dari empat pertandingan. Dalam 14 pertandingan internasional terakhir membela Inggris, ia mencetak tujuh gol.
Sukses dalam membela panji Inggris ini yang menjadi salah satu alasan Lampard dipilih sebagai pemain terbaik tahun ini. Ia menjadi pemain internasional Inggris yang kedua yang meraih penghargaan ini setelah Teddy Sheringham tahun 2001. Di Chelsea dia orang kedua setelah Gianfranco Zola tahun 1997.
Kesuksesan pada Lampard tidak hanya datang dari pada pelatih, sesama pemain, atau wartawan sepak bola. Penampilan yang bersahaja, apa adanya, membuat para penggemar kesebelasan Inggris memilihnya sebagai Pemain Sepak Bola Inggris Tahun 2004.
Bagi penggemar Chelsea, ia merupakan idola di samping sang kapten John Terry yang sebelumnya juga terpilih sebagai Pemain Sepak Bola Tahun ini versi serikat pemain sepak bola. Semasa pelatih Claudio Ranieri, Lampard adalah salah seorang pemain yang bisa meneruskan apa yang diinginkan sang pelatih kepada sesama pemain lainnya.
Lampard muncul sebagai Pemain Terbaik setelah mengungguli Terry. Gerry Cox, sang ketua asosiasi, mengatakan, keduanya bersaing namun akhirnya Lampard unggul telak. "Terry memang hebat, namun Lampard bisa meyakinkan kami bahwa dia pemain terbaik di Inggris dan bahkan bisa menjadi pemain terbaik dunia," ujar Cox.
"Sepanjang permainan, dia tetap hebat. Daya tahan dan kebugarannya fenomenal dan 18 gol yang ia buat selama musim ini membuatnya sebagai seorang pemain hebat bagi tim mana pun," demikian penilaian para wartawan sepak bola itu. Lampard termasuk pemain Chelsea yang paling sering bermain penuh, 90 menit.
Bagaimana rencana Lampard ke depan?
"Kami tetap saja lapar dengan berbagai sukses lainnya dan dengan tim yang sekarang ada di Stamford Bridge (markas Chelsea), kami jelas tidak akan hanya puas dengan gelar-gelar yang ada," ujarnya.
Jelas, Lampard bersama Chelsea akan meraup gelar-gelar persepakbolaan lainnya. (PIETER P GERO)
Sumber : Kompas, Senin, 16 MEi 2005
Oleh : Pieter P Gero
SEPERTI biasa, inilah Frank Lampard. Dingin dan minim ekspresi. Setelah mencetak gol, dia acapkali dengan tampang dingin berlari sambil mencium jari tangan kirinya, kemudian meloncat dan mengacungkan telunjuk. Sesekali dia berteriak sekeras-kerasnya.
BEGITU pula ekspresinya saat dia terpilih sebagai Pemain Terbaik Tahun ini (Footballer of The Year) oleh kalangan penulis sepak bola pada bulan Mei ini. "Ini sangat prestisius," ujarnya singkat. "Saya sangat percaya diri dan saya bangga dengan apa yang telah saya capai."
Lampard adalah pemain gelandang pada kesebelasan Chelsea. Ia di posisi yang sama pada kesebelasan Inggris. Terpilihnya anak muda kelahiran Romford, Essex, Inggris, 20 Juni 1978, ini bukan semata karena dia ikut membawa Chelsea sebagai juara Liga Inggris musim 2004/ 2005, setelah setengah abad menunggu. Juga bukan sekadar membawa Chelsea merebut Piala Liga atau mencapai semifinal Piala Champions. Asosiasi wartawan sepak bola tadi menilai prestasinya spektakuler.
"Saya bekerja keras untuk semua ini dengan memanfaatkan setiap waktu yang ada. Saya menikmati sepak bola, terutama saat mengenang orang-orang yang meragukan kemampuan saya," ujarnya. Keraguan justru mendorongnya untuk tampil tuntas dan meyakinkan.
Tak hanya wartawan sepak bola, Michael Owen, penyerang Inggris yang kini main di Real Madrid (Spanyol), juga mengakui kinerja luar biasa Lampard. "Sangat mengagumkan. Saya belum pernah melihat seorang pemain yang mencatat kemajuan yang begitu cepat sebagaimana yang diperlihatkan Lampard," ujar Owen.
Pelatih kesebelasan nasional Azerbaijan, Carlos Alberto yang juga kapten Kesebelasan Brasil yang memenangi Piala Dunia 1970, menggambarkan Lampard sebagai seorang gelandang terbaik di dunia. Pujian ini muncul begitu Inggris menundukkan Azerbaijan, 2-0, bulan Maret lalu. Inggris beruntung memiliki seorang Frank Lampard.
BERMAIN sepak bola bagi Frank Lampard tak lepas dari pengaruh lingkup keluarganya. Ayahnya, Frank Lampard Sr, adalah pemain sepak bola pada klub West Ham United yang membawa klubnya dua kali merebut Piala FA. Sementara pamannya, Harry Redknapp, juga pemain dan kini pelatih di kesebelasan Southampton
Lampard bergabung sebagai pemain profesional di West Ham United saat pamannya Redknapp menjadi asisten pelatih tahun 1992. Ayahnya bergabung ke sana sebagai asisten pelatih saat sang paman menjadi pelatih tahun 1994. Frank Lampard mulai berkiprah sebagai gelandang dengan tampil sebanyak 184 kali dan mencetak 39 gol.
Kinerjanya sebagai pemain gelandang yang haus gol terus terlihat. Di Chelsea posisinya sebagai pemain gelandang di belakang penyerang Didier Drogba dan Eidur Gudjohnsen, namun dalam daftar top scorer Lampard berada di atas dengan 18 gol musim ini. Itu hanya terpaut empat gol dari Thierry Henry (Arsenal) di puncak dengan 22 gol. Dua gol Lampard saat menghadapi Bolton Wanderers memastikan gelar juara musim ini bagi Chelsea.
Sejak bergabung dengan Kesebelasan Chelsea tahun 2001 dengan nilai transfer 11 juta poundsterling, Lampard terus mencetak gol. Musim 2002/2003, dia mencetak 13 gol dan mengantar Chelsea masuk ke zona Piala Champions. Di zona pertarungan antarkesebelasan Eropa ini Lampard juga mencetak gol-gol indah bagi Chelsea.
Saat menjamu Bayern Muechen, Lampard mempersembahkan dua dari empat gol Chelsea yang lantas unggul, 4-2. Salah satunya gol indah, ketika Lampard menahan bola dengan dada di kotak penalti dan sekali kontrol dengan kaki kiri menendang melewati penjaga gawang Oliver Kahn. Bola meluncur bak peluru ke pojok jala gawang. Gol.
Sepak terjangnya dalam kesebelasan nasional diawali tahun 1999 dengan penampilan pertama saat menjamu Belgia. Penampilannya yang ngotot dan apa adanya saat bertahan atau ketika berlari ke gawang lawan membuatnya terpilih.
Dengan posisi gelandang Lampard harus berbagi kesempatan dengan Steven Gerrard. Meski begitu, ia tetap haus gol. Sejak tahun 2003 dari 32 pertandingan internasional yang diikutinya, ia membubuhkan delapan gol. Dalam Piala Eropa tahun 2004 di Portugal, ia malah mencetak tiga gol dari empat pertandingan. Dalam 14 pertandingan internasional terakhir membela Inggris, ia mencetak tujuh gol.
Sukses dalam membela panji Inggris ini yang menjadi salah satu alasan Lampard dipilih sebagai pemain terbaik tahun ini. Ia menjadi pemain internasional Inggris yang kedua yang meraih penghargaan ini setelah Teddy Sheringham tahun 2001. Di Chelsea dia orang kedua setelah Gianfranco Zola tahun 1997.
Kesuksesan pada Lampard tidak hanya datang dari pada pelatih, sesama pemain, atau wartawan sepak bola. Penampilan yang bersahaja, apa adanya, membuat para penggemar kesebelasan Inggris memilihnya sebagai Pemain Sepak Bola Inggris Tahun 2004.
Bagi penggemar Chelsea, ia merupakan idola di samping sang kapten John Terry yang sebelumnya juga terpilih sebagai Pemain Sepak Bola Tahun ini versi serikat pemain sepak bola. Semasa pelatih Claudio Ranieri, Lampard adalah salah seorang pemain yang bisa meneruskan apa yang diinginkan sang pelatih kepada sesama pemain lainnya.
Lampard muncul sebagai Pemain Terbaik setelah mengungguli Terry. Gerry Cox, sang ketua asosiasi, mengatakan, keduanya bersaing namun akhirnya Lampard unggul telak. "Terry memang hebat, namun Lampard bisa meyakinkan kami bahwa dia pemain terbaik di Inggris dan bahkan bisa menjadi pemain terbaik dunia," ujar Cox.
"Sepanjang permainan, dia tetap hebat. Daya tahan dan kebugarannya fenomenal dan 18 gol yang ia buat selama musim ini membuatnya sebagai seorang pemain hebat bagi tim mana pun," demikian penilaian para wartawan sepak bola itu. Lampard termasuk pemain Chelsea yang paling sering bermain penuh, 90 menit.
Bagaimana rencana Lampard ke depan?
"Kami tetap saja lapar dengan berbagai sukses lainnya dan dengan tim yang sekarang ada di Stamford Bridge (markas Chelsea), kami jelas tidak akan hanya puas dengan gelar-gelar yang ada," ujarnya.
Jelas, Lampard bersama Chelsea akan meraup gelar-gelar persepakbolaan lainnya. (PIETER P GERO)
Sumber : Kompas, Senin, 16 MEi 2005
Chris Lowney, Semangat Membidik Tinggi
Chris Lowney, Semangat Membidik Tinggi
Oleh : Simon Saragih dan FX Sularto
SEBAGAI penulis buku-buku manajemen, nama Chris Lowney (47) belum setenar Stephen Covey, misalnya. Dari tangannya baru terbit satu buku. Judulnya: Heroic Leadership: Best Practices from a 450-Year-Old Company That Changed the World, terbit tahun 2003 di New York, setebal 330 halaman. Sekarang pun dia malah sedang siapkan buku kedua tentang semangat dan budaya multikultural, bukan buku manajemen.
TETAPI, buku itu hingga pertengahan tahun ini sudah terjual lebih dari 400.000 eksemplar. Bandingkan dengan buku Bill Clinton satu juta eksemplar! Buku Heroic Leadership sudah diterjemahkan dalam delapan bahasa di luar Inggris, termasuk dalam bahasa Indonesia yang akan diluncurkan besok, Rabu, 18 Mei 2005, di Jakarta. Lowney akan hadir dalam peluncuran buku (sekaligus seminar) yang dilangsungkan mulai pukul 09.00 di Hotel Grand Hyatt Jakarta itu. Bukunya menduduki ranking pertama di Amerika Serikat dan menjadi finalis dalam Book of the Year Award Majalah Foreward.
"Saya terkesan kepemimpinan dalam Serikat Jesus (SJ). Coba sebutkan perusahaan, organisasi, atau lembaga yang mendapat kriteria sebagai organisasi paling sukses dan bisa bertahan selama 465 tahun atau hingga sekarang? Tidak banyak untuk tidak mengatakan tidak ada, kecuali SJ. Di antara organisasi keagamaan sesama Katolik, Jesuit adalah champion," kata Lowney kepada Kompas di Jakarta, Minggu (15/5).
Buku Lowney mengasyikkan tidak saja oleh uraian mendalam dan luas tentang SJ, sebuah kongregasi yang didirikan oleh Santo Ignatius dari Loyola tahun 1540. Buku itu menarik justru oleh konsep alternatif kepemimpinan yang ditawarkan. Dia seolah-olah membalikkan opini umum tentang manajemen, know how to....
Ada empat prinsip yang ditawarkan Lowney. Keempat prinsip itu ialah kita semua memimpin sepanjang waktu; kepemimpinan timbul dari dalam; kepemimpinan adalah cara hidup; menjadi pemimpin adalah proses pengembangan diri terus-menerus. Temuan itu, katanya, berkat masa formatio dalam Serikat Jesus selama tujuh tahun (mundur tahun 1983) dan pengalaman beberapa tahun sebagai eksekutif muda perusahaan multinasional, JP Morgan International.
Keberhasilan kelompok ini, menurut Lowney-secara tak sadar dia jadi promotornya-tidak hanya terlihat dari eksistensi "perusahaan" dengan 21.000 personel yang mengelola 2.000 lembaga (terutama pendidikan) yang berada di lebih kurang 112 negara, tetapi juga keberhasilannya mencetak banyak tokoh dunia, sekitar 300 di antaranya ada di Indonesia.
MENGAPA mereka berhasil? Pertanyaan itulah yang diuraikan dan dijawab sebagai alternatif pembinaan kepemimpinan dalam Heroic Leadership. Lowney tidak memfokuskan uraian pada apa yang seharusnya dilakukan pemimpin, tetapi siapa itu seorang pemimpin. Kepemimpinan tidak dibatasi oleh luasnya kesempatan, tetapi oleh mutu respons seseorang.
Lowney juga tidak membahas figur seorang pemimpin yang mengomando sebuah organisasi. Bahkan sistem komando dan kontrol dalam sebuah organisasi justru menjadi persoalan jika hanya itu andalannya.
Menurut Lowney, berdasarkan analisis historis tentang sepak terjang Jesuit, keberhasilan Jesuit disebabkan mereka mampu memancarkan sinar yang jelas soal kepemimpinan. Kelompok ini memiliki corporate culture (kultur perusahaan) yang jelas, yang oleh Jesuit disebut sebagai nuestro modo de proceder atau cara "kita melakukan banyak hal" (the way we do things).
Lembaga yang sukses hanyalah lembaga yang memiliki corporate culture, yang memiliki kekhasan tersendiri, sesuatu yang sulit ditandingi pihak lain. "Budaya itu mengena serta bertahan seiring dengan berjalannya waktu."
Menurut Lowney, sukses Jesuit terletak pada empat pilar, meliputi sadar diri (self-awareness), ingenuitas sebagai buah sikap lepas-bebas (ingenuity), cinta kasih kepada diri dan sesama (love), heroisme (heroism) atau semangat membidik tinggi.
Dengan model kepemimpinan yang disebut corporate culture, organisasi berjalan tidak atas dasar atau tidak terletak pada komando dari orang yang duduk di puncak perusahaan. Sistem komando terpusat justru memiliki persoalan dengan sulitnya mengontrol cabang-cabang yang begitu banyak dan tersebar dengan jarak yang berjauhan.
Kepemimpinan, dalam pandangan Lowney, justru terletak di setiap perorangan yang berada di dalam sebuah organisasi. Teori kepemimpinan baku, yang merujuk pada keberadaan seorang pemimpin puncak untuk memengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu, dia buang jauh.
Keempat pilar itu ada pada setiap orang, sebagai pribadi dan sebagai profesional, berakar pada ide bahwa kita semua adalah pemimpin. Ignatius Loyola dan rekan-rekannya menemukan lingkungan yang diwarnai "cinta yang lebih hebat ketimbang ketakutan". Mereka menempatkan harapan pada talenta setiap orang, memperlihatkan bahwa sukses berasal dari komitmen banyak orang, bukan dari komitmen seorang pemimpin tertinggi semata.
CHRIS Lowney lahir di Qeens, New York, 2 Maret 1958, dari keluarga imigran Irlandia. Pada usia 18 tahun, setelah lulus SMA, masuk seminari (sekolah calon pastor), novisiat SJ, dan pada tahun 1983 mundur. Dia langsung bekerja pada JP Morgan dan pernah menjadi Direktur Pelaksana JP Morgan & Co dan menduduki jabatan senior di New York, Tokyo, Singapura, dan London.
JP Morgan adalah sebuah lembaga yang melayani jasa perbankan di Eropa, Asia, dan Amerika. Perusahaan ini duduk di urutan pertama perusahaan yang dikagumi di AS menurut peringkat Majalah Fortune.
Lulus dari Fordham University, kini di almamater yang dikelola pastor-pastor Jesuit itu Lowney tengah menyelesaikan gelar MA. Ia memperoleh gelar doktor kehormatan dari Marymount Manhattan University dan University of Great Falls.
Kini Lowney-belum menikah-tinggal di New York. Selain aktif dalam kegiatan intelektual, Lowney aktif pula dalam kegiatan sosial lewat The Catholic Medical Mission Board, yayasan berbasis di AS yang memberi program kesehatan dan jasa kepada orang miskin di dunia. "Dua puluh persen dari royalti buku saya edisi AS saya sumbangkan ke yayasan," ujar Chris Lowney. (SIMON SARAGIH/ST SULARTO)
Sumber : Kompas, Selasa, 17 Mei 2005
Oleh : Simon Saragih dan FX Sularto
SEBAGAI penulis buku-buku manajemen, nama Chris Lowney (47) belum setenar Stephen Covey, misalnya. Dari tangannya baru terbit satu buku. Judulnya: Heroic Leadership: Best Practices from a 450-Year-Old Company That Changed the World, terbit tahun 2003 di New York, setebal 330 halaman. Sekarang pun dia malah sedang siapkan buku kedua tentang semangat dan budaya multikultural, bukan buku manajemen.
TETAPI, buku itu hingga pertengahan tahun ini sudah terjual lebih dari 400.000 eksemplar. Bandingkan dengan buku Bill Clinton satu juta eksemplar! Buku Heroic Leadership sudah diterjemahkan dalam delapan bahasa di luar Inggris, termasuk dalam bahasa Indonesia yang akan diluncurkan besok, Rabu, 18 Mei 2005, di Jakarta. Lowney akan hadir dalam peluncuran buku (sekaligus seminar) yang dilangsungkan mulai pukul 09.00 di Hotel Grand Hyatt Jakarta itu. Bukunya menduduki ranking pertama di Amerika Serikat dan menjadi finalis dalam Book of the Year Award Majalah Foreward.
"Saya terkesan kepemimpinan dalam Serikat Jesus (SJ). Coba sebutkan perusahaan, organisasi, atau lembaga yang mendapat kriteria sebagai organisasi paling sukses dan bisa bertahan selama 465 tahun atau hingga sekarang? Tidak banyak untuk tidak mengatakan tidak ada, kecuali SJ. Di antara organisasi keagamaan sesama Katolik, Jesuit adalah champion," kata Lowney kepada Kompas di Jakarta, Minggu (15/5).
Buku Lowney mengasyikkan tidak saja oleh uraian mendalam dan luas tentang SJ, sebuah kongregasi yang didirikan oleh Santo Ignatius dari Loyola tahun 1540. Buku itu menarik justru oleh konsep alternatif kepemimpinan yang ditawarkan. Dia seolah-olah membalikkan opini umum tentang manajemen, know how to....
Ada empat prinsip yang ditawarkan Lowney. Keempat prinsip itu ialah kita semua memimpin sepanjang waktu; kepemimpinan timbul dari dalam; kepemimpinan adalah cara hidup; menjadi pemimpin adalah proses pengembangan diri terus-menerus. Temuan itu, katanya, berkat masa formatio dalam Serikat Jesus selama tujuh tahun (mundur tahun 1983) dan pengalaman beberapa tahun sebagai eksekutif muda perusahaan multinasional, JP Morgan International.
Keberhasilan kelompok ini, menurut Lowney-secara tak sadar dia jadi promotornya-tidak hanya terlihat dari eksistensi "perusahaan" dengan 21.000 personel yang mengelola 2.000 lembaga (terutama pendidikan) yang berada di lebih kurang 112 negara, tetapi juga keberhasilannya mencetak banyak tokoh dunia, sekitar 300 di antaranya ada di Indonesia.
MENGAPA mereka berhasil? Pertanyaan itulah yang diuraikan dan dijawab sebagai alternatif pembinaan kepemimpinan dalam Heroic Leadership. Lowney tidak memfokuskan uraian pada apa yang seharusnya dilakukan pemimpin, tetapi siapa itu seorang pemimpin. Kepemimpinan tidak dibatasi oleh luasnya kesempatan, tetapi oleh mutu respons seseorang.
Lowney juga tidak membahas figur seorang pemimpin yang mengomando sebuah organisasi. Bahkan sistem komando dan kontrol dalam sebuah organisasi justru menjadi persoalan jika hanya itu andalannya.
Menurut Lowney, berdasarkan analisis historis tentang sepak terjang Jesuit, keberhasilan Jesuit disebabkan mereka mampu memancarkan sinar yang jelas soal kepemimpinan. Kelompok ini memiliki corporate culture (kultur perusahaan) yang jelas, yang oleh Jesuit disebut sebagai nuestro modo de proceder atau cara "kita melakukan banyak hal" (the way we do things).
Lembaga yang sukses hanyalah lembaga yang memiliki corporate culture, yang memiliki kekhasan tersendiri, sesuatu yang sulit ditandingi pihak lain. "Budaya itu mengena serta bertahan seiring dengan berjalannya waktu."
Menurut Lowney, sukses Jesuit terletak pada empat pilar, meliputi sadar diri (self-awareness), ingenuitas sebagai buah sikap lepas-bebas (ingenuity), cinta kasih kepada diri dan sesama (love), heroisme (heroism) atau semangat membidik tinggi.
Dengan model kepemimpinan yang disebut corporate culture, organisasi berjalan tidak atas dasar atau tidak terletak pada komando dari orang yang duduk di puncak perusahaan. Sistem komando terpusat justru memiliki persoalan dengan sulitnya mengontrol cabang-cabang yang begitu banyak dan tersebar dengan jarak yang berjauhan.
Kepemimpinan, dalam pandangan Lowney, justru terletak di setiap perorangan yang berada di dalam sebuah organisasi. Teori kepemimpinan baku, yang merujuk pada keberadaan seorang pemimpin puncak untuk memengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu, dia buang jauh.
Keempat pilar itu ada pada setiap orang, sebagai pribadi dan sebagai profesional, berakar pada ide bahwa kita semua adalah pemimpin. Ignatius Loyola dan rekan-rekannya menemukan lingkungan yang diwarnai "cinta yang lebih hebat ketimbang ketakutan". Mereka menempatkan harapan pada talenta setiap orang, memperlihatkan bahwa sukses berasal dari komitmen banyak orang, bukan dari komitmen seorang pemimpin tertinggi semata.
CHRIS Lowney lahir di Qeens, New York, 2 Maret 1958, dari keluarga imigran Irlandia. Pada usia 18 tahun, setelah lulus SMA, masuk seminari (sekolah calon pastor), novisiat SJ, dan pada tahun 1983 mundur. Dia langsung bekerja pada JP Morgan dan pernah menjadi Direktur Pelaksana JP Morgan & Co dan menduduki jabatan senior di New York, Tokyo, Singapura, dan London.
JP Morgan adalah sebuah lembaga yang melayani jasa perbankan di Eropa, Asia, dan Amerika. Perusahaan ini duduk di urutan pertama perusahaan yang dikagumi di AS menurut peringkat Majalah Fortune.
Lulus dari Fordham University, kini di almamater yang dikelola pastor-pastor Jesuit itu Lowney tengah menyelesaikan gelar MA. Ia memperoleh gelar doktor kehormatan dari Marymount Manhattan University dan University of Great Falls.
Kini Lowney-belum menikah-tinggal di New York. Selain aktif dalam kegiatan intelektual, Lowney aktif pula dalam kegiatan sosial lewat The Catholic Medical Mission Board, yayasan berbasis di AS yang memberi program kesehatan dan jasa kepada orang miskin di dunia. "Dua puluh persen dari royalti buku saya edisi AS saya sumbangkan ke yayasan," ujar Chris Lowney. (SIMON SARAGIH/ST SULARTO)
Sumber : Kompas, Selasa, 17 Mei 2005
Pascal Lamy : Dirjen WTO Harus Adil
Pascal Lamy: Dirjen WTO Harus Adil
Oleh : Simon Saragih
ISU perdagangan dunia dalam beberapa tahun terakhir ini sarat dengan tudingan bahwa negara maju mengeksploitasi negara-negara berkembang. Negara maju memaksa negara berkembang membuka pasar, sementara negara maju sendiri tidak mau membuka pasarnya bagi produk negara berkembang. Muncullah gelombang demonstrasi yang seakan tidak ada hentinya.
Muncul tekanan agar negara maju mengurangi subsidi ratusan miliar dollar AS untuk melindungi petani di Eropa dan AS. Subsidi itu telah membuat petani di negara maju bisa menjual produk murah dan menutup kesempatan bagi produk negara berkembang. Produk kapas di Botswana, yang punya kualitas serupa dengan Eropa, tidak bisa memasuki pasar negara maju.
Oleh karena itu, Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/ WTO) ditantang untuk menyeimbangkannya.
Menurut Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan, selain memberi bantuan dana kepada negara berkembang, salah satu cara untuk menolong warga miskin di negara berkembang adalah dengan membuat pasar negara maju bagi produk negara miskin.
"Bukan a free trade but a fair trade (bukan perdagangan bebas, tetapi perdagangan yang adil)!" demikian teriak para aktivis perdagangan adil di dunia. Karena itu, negara berkembang menaruh harapan pada seorang Direktur Jenderal (Dirjen) WTO. Mulai 1 September 2005 mendatang Pascal Lamy (58) menjabat sebagai dirjen menggantikan posisi Supachai Panitchpakdi asal Thailand. Bisakah Lamy diandalkan oleh negara berkembang?
Lamy sadar, rekam jejaknya sebagai pembela subsidi pertanian Uni Eropa (UE) selama lima tahun menjabat Ketua Komisi Perdagangan UE (1999-2004) merupakan catatan yang jelas bagi banyak orang.
"Itu adalah masa lalu. Kali ini saya berpindah ke sebuah posisi berbeda," kata Lamy, yang suka tenis, joging, dan maraton. "Seberapa banyak saya beranjak ke posisi baru masih semacam rahasia dapur yang belum bisa saya utarakan ke publik," ujarnya lebih lanjut.
Lamy tampil sebagai Dirjen WTO setelah pesaing terakhirnya Carlos Perez del Castillo (asal Uruguay, yang sudah lama malang melintang di WTO) mengundurkan diri, Jumat (13/5/2005). Ia mendengar Lamy unggul di dalam konsensus di ruang tertutup di Kantor WTO di Geneva.
Harap maklum, pemilihan dirjen di WTO bukan bergantung pada voting, bahkan hal itu sebisa mungkin dihindari. Pilihan dirjen didasarkan pada opini atas seorang calon bahwa seorang calon sebaiknya tidak saja diterima di negara atau kawasan, tetapi juga oleh negara maju.
Terkesan tidak adil memang mengingat negara maju memainkan lobi yang kuat dengan pengaruh uang dan juga janji- janji akan membuka pasar pada negara yang mendukung calon negara maju. Tidak heran jika Lamy unggul karena dia juga didukung Afrika dan Karibia, yang dijanjikan akan mendapatkan akses ke pasar UE.
Lepas dari itu, meski mengatakan bersedia berubah, Lamy tetap dicurigai karena tidak melakukan upaya keras mengurangi subsidi pertanian. Di sisi lain dia dituduh negara asalnya memberi konsesi terlalu banyak.
LEPAS dari kontroversi tentang Lamy, secara pribadi ia adalah orang yang mempunyai pengalaman dan kompeten untuk menduduki posisi dirjen. Lamy adalah produk dari elite pemerintah Perancis. Dia meniti karier di belakang meja sebagai ahli strategi dan pendorong perkembangan UE selama dua dekade.
Dia dekat dengan mantan Ketua Komisi UE Jacques Delors dan dijuluki sebagai "mesin yang brilian". Dia dipandang sebagai pekerja keras, pengagum permainan kekuasaan.
Ia lahir di dekat kota Paris, persisnya di Levallois-Perret, pada 8 April 1947. Pada 1972 ia menikahi seorang pengacara bernama Married Genevieve Luchaire dan dikaruniai tiga anak bernama Julien, David, dan Quentin.
Dia lulus dari sekolah elite Perancis bernama National School of Public Administration (ENA), setelah lulus dari sekolah-sekolah top Perancis di bidang ekonomi dan politik. Lamy adalah orang kepercayaan dari mantan PM Pierre Mauroy, 1983-1984.
Sebelumnya ia adalah penasihat Delors sejak 1981 hingga 1983, saat Delors menjabat Menteri Perekonomian Perancis. Dia tetap mengikuti Delors ke UE dengan menjadi anggota Komite Eksekutif UE. Pada posisi ini dia bekerja di balik layar sebagai Kepala Staf Komisi UE selama 10 tahun. Lepas dari sana ia bergabung dengan manajemen Credit Lyonnais (sebuah bank milik Perancis), 1994-1999.
Selepas itu ia menjadi Ketua Komisi Perdagangan UE (1999-2004). Dalam lima tahun terakhir ini dia selalu bertemu dan berurusan dengan WTO, dalam perannya sebagai Ketua Komisi Perdagangan UE, 1999-2004.
Lamy adalah tokoh yang mengupayakan sebuah globalisasi yang terkontrol, tidak liar. Sebuah globalisasi yang terlalu bebas bukan sesuatu yang menguntungkan.
PADA Januari 2005, saat melakukan presentasi di Dewan Umum WTO dalam rangka penyeleksian, ia berjanji menjembatani perbedaan antara negara-negara maju dan negara-negara miskin di WTO yang beranggotakan 148 negara. Pada masa-masa terakhir sebagai Ketua Komisi Perdagangan UE, Lamy memang berjuang bersama negara berkembang untuk mengurangi subsidi pertanian di negara maju.
Itulah yang membuat dia dikecam di negara asalnya. Namun, di sisi lain dia mendapatkan simpati dari negara maju karena dalam pertemuan WTO di Singapura, dia berperan melahirkan Isu Singapura, liberalisasi lebih jauh sektor investasi, transparansi pembelian barang-barang untuk keperluan pemerintahan, dan pentingnya undang-udang yang menjamin kebijakan persaingan.
Dalam hal ini Lamy berbeda dengan kepentingan negara berkembang, yang menuduh Isu Singapura adalah bentuk lain dari tikaman pisau negara maju, yang di sisi lain tidak serius mengurangi subsidi pertanian. Namun, dia tetap dinilai sebagai orang yang tepat sebagai Dirjen WTO.
Dia sebenarnya penganut perdagangan bebas yang berarti akan dibenci oleh kelompok antiglobalisasi dan sebagian sayap kiri Perancis meskipun dia beraliran kiri.
Saat melakukan pemaparan pada Januari lalu dia mengatakan, pembukaan pasar dan pengurangan hambatan pasar merupakan hal terpenting untuk mempercepat pertumbuhan dan pembangunan. "Saya akan menjadi broker yang harus adil," katanya, merujuk pada penyeimbangan kepentingan negara maju dan negara miskin. (SIMON SARAGIH)
Sumber : Kompas, Rabu, 18 Mei 2005
Oleh : Simon Saragih
ISU perdagangan dunia dalam beberapa tahun terakhir ini sarat dengan tudingan bahwa negara maju mengeksploitasi negara-negara berkembang. Negara maju memaksa negara berkembang membuka pasar, sementara negara maju sendiri tidak mau membuka pasarnya bagi produk negara berkembang. Muncullah gelombang demonstrasi yang seakan tidak ada hentinya.
Muncul tekanan agar negara maju mengurangi subsidi ratusan miliar dollar AS untuk melindungi petani di Eropa dan AS. Subsidi itu telah membuat petani di negara maju bisa menjual produk murah dan menutup kesempatan bagi produk negara berkembang. Produk kapas di Botswana, yang punya kualitas serupa dengan Eropa, tidak bisa memasuki pasar negara maju.
Oleh karena itu, Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/ WTO) ditantang untuk menyeimbangkannya.
Menurut Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan, selain memberi bantuan dana kepada negara berkembang, salah satu cara untuk menolong warga miskin di negara berkembang adalah dengan membuat pasar negara maju bagi produk negara miskin.
"Bukan a free trade but a fair trade (bukan perdagangan bebas, tetapi perdagangan yang adil)!" demikian teriak para aktivis perdagangan adil di dunia. Karena itu, negara berkembang menaruh harapan pada seorang Direktur Jenderal (Dirjen) WTO. Mulai 1 September 2005 mendatang Pascal Lamy (58) menjabat sebagai dirjen menggantikan posisi Supachai Panitchpakdi asal Thailand. Bisakah Lamy diandalkan oleh negara berkembang?
Lamy sadar, rekam jejaknya sebagai pembela subsidi pertanian Uni Eropa (UE) selama lima tahun menjabat Ketua Komisi Perdagangan UE (1999-2004) merupakan catatan yang jelas bagi banyak orang.
"Itu adalah masa lalu. Kali ini saya berpindah ke sebuah posisi berbeda," kata Lamy, yang suka tenis, joging, dan maraton. "Seberapa banyak saya beranjak ke posisi baru masih semacam rahasia dapur yang belum bisa saya utarakan ke publik," ujarnya lebih lanjut.
Lamy tampil sebagai Dirjen WTO setelah pesaing terakhirnya Carlos Perez del Castillo (asal Uruguay, yang sudah lama malang melintang di WTO) mengundurkan diri, Jumat (13/5/2005). Ia mendengar Lamy unggul di dalam konsensus di ruang tertutup di Kantor WTO di Geneva.
Harap maklum, pemilihan dirjen di WTO bukan bergantung pada voting, bahkan hal itu sebisa mungkin dihindari. Pilihan dirjen didasarkan pada opini atas seorang calon bahwa seorang calon sebaiknya tidak saja diterima di negara atau kawasan, tetapi juga oleh negara maju.
Terkesan tidak adil memang mengingat negara maju memainkan lobi yang kuat dengan pengaruh uang dan juga janji- janji akan membuka pasar pada negara yang mendukung calon negara maju. Tidak heran jika Lamy unggul karena dia juga didukung Afrika dan Karibia, yang dijanjikan akan mendapatkan akses ke pasar UE.
Lepas dari itu, meski mengatakan bersedia berubah, Lamy tetap dicurigai karena tidak melakukan upaya keras mengurangi subsidi pertanian. Di sisi lain dia dituduh negara asalnya memberi konsesi terlalu banyak.
LEPAS dari kontroversi tentang Lamy, secara pribadi ia adalah orang yang mempunyai pengalaman dan kompeten untuk menduduki posisi dirjen. Lamy adalah produk dari elite pemerintah Perancis. Dia meniti karier di belakang meja sebagai ahli strategi dan pendorong perkembangan UE selama dua dekade.
Dia dekat dengan mantan Ketua Komisi UE Jacques Delors dan dijuluki sebagai "mesin yang brilian". Dia dipandang sebagai pekerja keras, pengagum permainan kekuasaan.
Ia lahir di dekat kota Paris, persisnya di Levallois-Perret, pada 8 April 1947. Pada 1972 ia menikahi seorang pengacara bernama Married Genevieve Luchaire dan dikaruniai tiga anak bernama Julien, David, dan Quentin.
Dia lulus dari sekolah elite Perancis bernama National School of Public Administration (ENA), setelah lulus dari sekolah-sekolah top Perancis di bidang ekonomi dan politik. Lamy adalah orang kepercayaan dari mantan PM Pierre Mauroy, 1983-1984.
Sebelumnya ia adalah penasihat Delors sejak 1981 hingga 1983, saat Delors menjabat Menteri Perekonomian Perancis. Dia tetap mengikuti Delors ke UE dengan menjadi anggota Komite Eksekutif UE. Pada posisi ini dia bekerja di balik layar sebagai Kepala Staf Komisi UE selama 10 tahun. Lepas dari sana ia bergabung dengan manajemen Credit Lyonnais (sebuah bank milik Perancis), 1994-1999.
Selepas itu ia menjadi Ketua Komisi Perdagangan UE (1999-2004). Dalam lima tahun terakhir ini dia selalu bertemu dan berurusan dengan WTO, dalam perannya sebagai Ketua Komisi Perdagangan UE, 1999-2004.
Lamy adalah tokoh yang mengupayakan sebuah globalisasi yang terkontrol, tidak liar. Sebuah globalisasi yang terlalu bebas bukan sesuatu yang menguntungkan.
PADA Januari 2005, saat melakukan presentasi di Dewan Umum WTO dalam rangka penyeleksian, ia berjanji menjembatani perbedaan antara negara-negara maju dan negara-negara miskin di WTO yang beranggotakan 148 negara. Pada masa-masa terakhir sebagai Ketua Komisi Perdagangan UE, Lamy memang berjuang bersama negara berkembang untuk mengurangi subsidi pertanian di negara maju.
Itulah yang membuat dia dikecam di negara asalnya. Namun, di sisi lain dia mendapatkan simpati dari negara maju karena dalam pertemuan WTO di Singapura, dia berperan melahirkan Isu Singapura, liberalisasi lebih jauh sektor investasi, transparansi pembelian barang-barang untuk keperluan pemerintahan, dan pentingnya undang-udang yang menjamin kebijakan persaingan.
Dalam hal ini Lamy berbeda dengan kepentingan negara berkembang, yang menuduh Isu Singapura adalah bentuk lain dari tikaman pisau negara maju, yang di sisi lain tidak serius mengurangi subsidi pertanian. Namun, dia tetap dinilai sebagai orang yang tepat sebagai Dirjen WTO.
Dia sebenarnya penganut perdagangan bebas yang berarti akan dibenci oleh kelompok antiglobalisasi dan sebagian sayap kiri Perancis meskipun dia beraliran kiri.
Saat melakukan pemaparan pada Januari lalu dia mengatakan, pembukaan pasar dan pengurangan hambatan pasar merupakan hal terpenting untuk mempercepat pertumbuhan dan pembangunan. "Saya akan menjadi broker yang harus adil," katanya, merujuk pada penyeimbangan kepentingan negara maju dan negara miskin. (SIMON SARAGIH)
Sumber : Kompas, Rabu, 18 Mei 2005
Kyoko Funada : Bahasa Indonesia Lebih Maju
Kyoko Funada: Bahasa Indonesia Lebih Maju
Oleh : TD Asmadi*
SUDAH empat kali ini dia mengikuti Pertemuan Majelis Bahasa Brunei, Indonesia, dan Malaysia. Pertama di Makassar tahun 2002, lalu di Brunei Darussalam tahun 2003, kemudian di Kuala Lumpur tahun 2004, dan terakhir bulan Maret lalu di Mataram, Lombok. Tidak jarang dia mengikuti pertemuan lain, yang berkaitan dengan bahasa di kawasan Asia Tenggara ini.
KYOKO Funada, perempuan separuh baya itu, aktif mencatat apa saja yang dilontarkan pembicara. Katanya, "Saya sedang menyusun disertasi tentang bahasa Melayu dan bahasa Indonesia."
Dia sedang berusaha memperoleh gelar doktor dari Universitas Waseda di Jepang. Topiknya berkaitan dengan hubungan Indonesia dan Malaysia dalam bidang bahasa, dengan kajian utamanya sosiolinguistik.
Yang akan ia bahas dalam disertasi itu antara lain tentang peralihan ejaan bahasa Indonesia dan Malaysia yang terjadi tahun 1972. Juga tentang Kongres Bahasa Indonesia I, II, dan III, yang ia nilai telah memberi sumbangan yang besar terhadap perkembangan bahasa Indonesia. Dia juga akan membahas pekerjaan lembaga bahasa resmi yang ada di kedua negara, serta peran Majelis Bahasa Brunei, Indonesia, dan Malaysia atau Mabbim.
Untuk tujuan itu, dia kadang-kadang berada di Malaysia, menimba ilmu di University of Malaya, universitas tertua di negeri jiran ini. Di sana dia memperoleh gelar masternya. Tentang mengapa sosiolinguistik, Kyoko menerangkan dia tertarik dengan bidang itu karena ketika di Universitas Indonesia dia belajar di bawah Prof Dr Harimurti Kridalaksana. "Pengaruh beliau sangat besar pada saya," katanya menambahkan.
PERGAULANNYA dengan bahasa Indonesia sudah lebih dari seperempat abad. Atas saran sang ayah, Zuichi Kitano-seorang bekas tentara Jepang yang pernah bertugas di Indonesia-selepas sekolah menengah tahun 1972 ia memilih Jurusan Bahasa Indonesia. Ia menjalaninya di Universitas Bahasa Asing Tokyo atau Tokyo Gaikokugo Daigaku.
Lulus tahun 1976 ia ke Jakarta menjadi mahasiswa pendengar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, sampai tahun 1977. Tahun 1980 dia kembali ke Jakarta dan menjadi mahasiswa penuh.
Dia tinggal di Jalan Ophir, Mayestik, Kebayoran Baru. Dia pun mulai menyukai makanan Indonesia meski yang paling disukainya tetap saja yang ada "hubungannya" dengan makanan di Jepang: bakso. "Ya, itulah makanan kesukaan saya waktu mahasiswa," ujarnya.
Sampai kini ia masih menjalin hubungan baik dengan sejumlah teman karib semasa mahasiswa, seperti Emma Madjid (wartawan Nirwana), Mujizah (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional), Alma Mandjusuri (copy writer), Sri Yuniasih Rahayu (ibu rumah tangga), atau Cucu (Balai Pustaka).
Kembali ke Jepang dia mulai mengajar bahasa Indonesia. Tahun 1984 dia mengajar di Nihon University (Nihon Daigaku) dan setahun kemudian di Asia University (Asia Daigaku). Beberapa tahun kemudian dia mengajar di Keio University (Keio Daigaku). Kini dia menjadi dosen tetap di Kanda University of International Studies (Kanda Gaigo Daigaku), Asia University, dan Waseda University (Waseda Daigaku).
Dia juga mengarang buku-buku bahasa Indonesia. Lima judul telah dihasilkannya, yaitu Yasashii Shoho no Indonesia-go (Bahasa Indonesia yang Mudah Dipelajari untuk Pemula), Yasashii Indonesia-go no Kimarimonku (Idiom Bahasa Indonesia yang Mudah Dipelajari), Hajimete Manabu Indonesia-go (Bahasa Indonesia yang Baru Pertama Kali Dipelajari), Asean no Gengo to Bunka (Bahasa dan Kebudayaan di Negara ASEAN), Indonesia-go Jooyoo Kaiwa Jiten (Kamus Percakapan Bahasa Indonesia yang Sering Digunakan). Menurut Kyoko, kecuali Asean no Gengo to Bunka, semua buku masih laku di pasar. Buku Yasashii Shoho no Indonesia-go bahkan sudah dicetak 16 kali.
MENURUT Kyoko, bahasa Indonesia sekarang sudah maju dan modern. "Bahasa Indonesia lebih modern dibandingkan dengan bahasa Malaysia atau bahasa Brunei," ujar ibu dari dua anak yang berusia 20 tahun (Yuichi Funada) dan 12 tahun (Koji Funada) ini.
Kata dia, kemajuan ini tidak terlepas dari kerja keras ahli-ahli bahasa Indonesia sejak merdeka untuk menjadikan bahasa Indonesia bahasa yang modern. Mereka bekerja tanpa imbalan yang besar karena rasa nasionalisme yang tinggi.
Tidak heran jika bahasa Indonesia lebih cepat berkembang dan lebih maju daripada bahasa Malaysia maupun Brunei. Dia mengibaratkan bahasa Indonesia sudah pada tingkat perguruan tinggi, dua bahasa lainnya masih di bawah itu. Dia juga mencatat, Indonesia berusaha mengembangkan bahasanya sendiri, sedangkan Malaysia dan Brunei lari ke bahasa Inggris.
Dia pun mengenang semasa pendidikannya di UI dulu. Para dosen rajin memberi pelajaran. "Semua rajin mengajar, kecuali satu orang," katanya.
Di Malaysia dia mendapatkan ada dosen yang rajin maupun malas. "Saya pikir kalau gaji dosennya besar, mereka tidak mau bekerja di tempat lain dan rajin mengajar di universitas sendiri. Gaji dosen di Malaysia cukup untuk hidup dan mereka takut kehilangan tempat pekerjaan," tuturnya. Mungkin ini untuk menyindir keadaan di Indonesia yang gaji dosennya tak mencukupi untuk hidup dan karena itu banyak mencari tambahan di luar.
Kyoko menikah pada usia 26 tahun dengan Kenichi Funada, rekannya sesama mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia. Ada manfaat langsung dari perkawinan dengan suami yang sama-sama mengerti bahasa Indonesia. "Kalau mau membicarakan anak-anak, kami memakai bahasa Indonesia," katanya. Mereka berdua leluasa membicarakan apa pun tanpa anak-anak memahaminya.
Sang suami kini bertugas di sebuah perusahaan yang bekerja sama dengan Pertamina menangani gas alam cair (LNG). Mereka bertemu ketika keduanya sama-sama mengambil Jurusan Bahasa Indonesia.
Meski pandai berbahasa Indonesia, dia kini mengalami kesulitan membaca media massa berbahasa Indonesia.
"Banyak yang sekarang tidak saya mengerti," katanya terus terang. Salah satunya adalah banyaknya singkatan, yang kadang-kadang banyak sekali dalam satu berita. "Saya membaca Jakarta Post saja agar lebih mudah," katanya.
*TD ASMADI Wartawan, Tinggal di Jakarta
Sumber : Kompas, Jumat, 20 Mei 2005
Oleh : TD Asmadi*
SUDAH empat kali ini dia mengikuti Pertemuan Majelis Bahasa Brunei, Indonesia, dan Malaysia. Pertama di Makassar tahun 2002, lalu di Brunei Darussalam tahun 2003, kemudian di Kuala Lumpur tahun 2004, dan terakhir bulan Maret lalu di Mataram, Lombok. Tidak jarang dia mengikuti pertemuan lain, yang berkaitan dengan bahasa di kawasan Asia Tenggara ini.
KYOKO Funada, perempuan separuh baya itu, aktif mencatat apa saja yang dilontarkan pembicara. Katanya, "Saya sedang menyusun disertasi tentang bahasa Melayu dan bahasa Indonesia."
Dia sedang berusaha memperoleh gelar doktor dari Universitas Waseda di Jepang. Topiknya berkaitan dengan hubungan Indonesia dan Malaysia dalam bidang bahasa, dengan kajian utamanya sosiolinguistik.
Yang akan ia bahas dalam disertasi itu antara lain tentang peralihan ejaan bahasa Indonesia dan Malaysia yang terjadi tahun 1972. Juga tentang Kongres Bahasa Indonesia I, II, dan III, yang ia nilai telah memberi sumbangan yang besar terhadap perkembangan bahasa Indonesia. Dia juga akan membahas pekerjaan lembaga bahasa resmi yang ada di kedua negara, serta peran Majelis Bahasa Brunei, Indonesia, dan Malaysia atau Mabbim.
Untuk tujuan itu, dia kadang-kadang berada di Malaysia, menimba ilmu di University of Malaya, universitas tertua di negeri jiran ini. Di sana dia memperoleh gelar masternya. Tentang mengapa sosiolinguistik, Kyoko menerangkan dia tertarik dengan bidang itu karena ketika di Universitas Indonesia dia belajar di bawah Prof Dr Harimurti Kridalaksana. "Pengaruh beliau sangat besar pada saya," katanya menambahkan.
PERGAULANNYA dengan bahasa Indonesia sudah lebih dari seperempat abad. Atas saran sang ayah, Zuichi Kitano-seorang bekas tentara Jepang yang pernah bertugas di Indonesia-selepas sekolah menengah tahun 1972 ia memilih Jurusan Bahasa Indonesia. Ia menjalaninya di Universitas Bahasa Asing Tokyo atau Tokyo Gaikokugo Daigaku.
Lulus tahun 1976 ia ke Jakarta menjadi mahasiswa pendengar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, sampai tahun 1977. Tahun 1980 dia kembali ke Jakarta dan menjadi mahasiswa penuh.
Dia tinggal di Jalan Ophir, Mayestik, Kebayoran Baru. Dia pun mulai menyukai makanan Indonesia meski yang paling disukainya tetap saja yang ada "hubungannya" dengan makanan di Jepang: bakso. "Ya, itulah makanan kesukaan saya waktu mahasiswa," ujarnya.
Sampai kini ia masih menjalin hubungan baik dengan sejumlah teman karib semasa mahasiswa, seperti Emma Madjid (wartawan Nirwana), Mujizah (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional), Alma Mandjusuri (copy writer), Sri Yuniasih Rahayu (ibu rumah tangga), atau Cucu (Balai Pustaka).
Kembali ke Jepang dia mulai mengajar bahasa Indonesia. Tahun 1984 dia mengajar di Nihon University (Nihon Daigaku) dan setahun kemudian di Asia University (Asia Daigaku). Beberapa tahun kemudian dia mengajar di Keio University (Keio Daigaku). Kini dia menjadi dosen tetap di Kanda University of International Studies (Kanda Gaigo Daigaku), Asia University, dan Waseda University (Waseda Daigaku).
Dia juga mengarang buku-buku bahasa Indonesia. Lima judul telah dihasilkannya, yaitu Yasashii Shoho no Indonesia-go (Bahasa Indonesia yang Mudah Dipelajari untuk Pemula), Yasashii Indonesia-go no Kimarimonku (Idiom Bahasa Indonesia yang Mudah Dipelajari), Hajimete Manabu Indonesia-go (Bahasa Indonesia yang Baru Pertama Kali Dipelajari), Asean no Gengo to Bunka (Bahasa dan Kebudayaan di Negara ASEAN), Indonesia-go Jooyoo Kaiwa Jiten (Kamus Percakapan Bahasa Indonesia yang Sering Digunakan). Menurut Kyoko, kecuali Asean no Gengo to Bunka, semua buku masih laku di pasar. Buku Yasashii Shoho no Indonesia-go bahkan sudah dicetak 16 kali.
MENURUT Kyoko, bahasa Indonesia sekarang sudah maju dan modern. "Bahasa Indonesia lebih modern dibandingkan dengan bahasa Malaysia atau bahasa Brunei," ujar ibu dari dua anak yang berusia 20 tahun (Yuichi Funada) dan 12 tahun (Koji Funada) ini.
Kata dia, kemajuan ini tidak terlepas dari kerja keras ahli-ahli bahasa Indonesia sejak merdeka untuk menjadikan bahasa Indonesia bahasa yang modern. Mereka bekerja tanpa imbalan yang besar karena rasa nasionalisme yang tinggi.
Tidak heran jika bahasa Indonesia lebih cepat berkembang dan lebih maju daripada bahasa Malaysia maupun Brunei. Dia mengibaratkan bahasa Indonesia sudah pada tingkat perguruan tinggi, dua bahasa lainnya masih di bawah itu. Dia juga mencatat, Indonesia berusaha mengembangkan bahasanya sendiri, sedangkan Malaysia dan Brunei lari ke bahasa Inggris.
Dia pun mengenang semasa pendidikannya di UI dulu. Para dosen rajin memberi pelajaran. "Semua rajin mengajar, kecuali satu orang," katanya.
Di Malaysia dia mendapatkan ada dosen yang rajin maupun malas. "Saya pikir kalau gaji dosennya besar, mereka tidak mau bekerja di tempat lain dan rajin mengajar di universitas sendiri. Gaji dosen di Malaysia cukup untuk hidup dan mereka takut kehilangan tempat pekerjaan," tuturnya. Mungkin ini untuk menyindir keadaan di Indonesia yang gaji dosennya tak mencukupi untuk hidup dan karena itu banyak mencari tambahan di luar.
Kyoko menikah pada usia 26 tahun dengan Kenichi Funada, rekannya sesama mahasiswa Jurusan Bahasa Indonesia. Ada manfaat langsung dari perkawinan dengan suami yang sama-sama mengerti bahasa Indonesia. "Kalau mau membicarakan anak-anak, kami memakai bahasa Indonesia," katanya. Mereka berdua leluasa membicarakan apa pun tanpa anak-anak memahaminya.
Sang suami kini bertugas di sebuah perusahaan yang bekerja sama dengan Pertamina menangani gas alam cair (LNG). Mereka bertemu ketika keduanya sama-sama mengambil Jurusan Bahasa Indonesia.
Meski pandai berbahasa Indonesia, dia kini mengalami kesulitan membaca media massa berbahasa Indonesia.
"Banyak yang sekarang tidak saya mengerti," katanya terus terang. Salah satunya adalah banyaknya singkatan, yang kadang-kadang banyak sekali dalam satu berita. "Saya membaca Jakarta Post saja agar lebih mudah," katanya.
*TD ASMADI Wartawan, Tinggal di Jakarta
Sumber : Kompas, Jumat, 20 Mei 2005
Tu Weiming, Panduan Hidup Konfusian Itu...
Tu Weiming, Panduan Hidup Konfusian Itu...
Oleh : Nasru Alam Aziz
MEMPELAJARI tradisi penganut Konfusian di Asia Timur bukan hanya merupakan sebuah komitmen akademis dalam posisi sebagai sejarawan intelektual profesional, tetapi juga merupakan penelusuran pribadi dari sebuah refleksi seorang manusia. Ungkapan itu terucap oleh Prof Tu Weiming, seorang ahli sejarah China dan filsafat Konfusianisme dari Harvard University, Amerika Serikat. Ia pengikut aliran politik sosialisme humanistik, dan tentu saja ia penganut tradisi spiritual Konfusian.
MENURUT Weiming, cara terbaik menggambarkan Konfusianisme adalah sebagai cara pembelajaran menjadi manusia. "Tidak seperti hewan, manusia terus-menerus membentuk dirinya melalui pembelajaran, melalui interaksi dengan sesama manusia," ujarnya.
Ia menyebutkan, proses menjadi manusia mengandung empat dimensi pertanyaan yang harus dijawab. Pertama, pertanyaan dalam diri kita sendiri, bagaimana mengintegrasikan hati dan pikiran dengan tubuh dan jiwa.
Kedua, bagaimana sebagai individu dapat berinteraksi secara bermanfaat di tengah komunitas, baik dengan keluarga, masyarakat, bangsa, hingga komunitas global. Ketiga, bagaimana menjalin hubungan berkelanjutan dan bermanfaat atau hubungan harmonis dengan alam dalam arti luas. Keempat, bagaimana membangun kebersamaan antara jiwa dan pikiran dengan alam surgawi.
"Keempat dimensi itu memberi pemahaman kepada pandangan humanistik Konfusian. Pandangan humanistik Konfusian ini bukan humanisme sekular, melainkan agama dalam pemahaman yang mendalam. Bisa dikatakan sebagai panduan hidup dan tentu saja sebagai etika sosial," tuturnya.
Ia mengemukakan bahwa Konfusian adalah sebuah tradisi panjang, bahkan sudah ada ribuan tahun sebelum Konfusius lahir pada 1551 sebelum masehi. "Tradisi Konfusian tetap relevan hingga hari ini dan terus membawa spirit bagaikan arus yang mengalir tanpa henti," ujar Weiming.
Ia mulai mendalami tradisi Konfusian sejak berusia 14 tahun. Ia begitu terkesan dengan cara gurunya menguraikan tentang ajaran Konfusius. Dari situ ia menyadari apa yang dipaparkan gurunya di kelas bukan semata sebuah mata pelajaran, melainkan suatu nilai-nilai kehidupan, suatu panduan kehidupan.
WEIMING lahir pada Februari 1940 di Kunming, sebuah kota di bagian barat daya China, tidak jauh dari perbatasan Vietnam. Kehidupan yang multi-etnik di kampung halamannya itu turut membentuk pribadinya menjadi orang yang sangat menghargai perbedaan.
Berbekal keinginan yang kuat untuk memperdalam ilmu kechinaannya, ia berangkat ke Taiwan dan berhasil meraih gelar sarjana muda (BA) pada Tunghai University pada tahun 1961. Sedangkan gelar magister dalam bidang kajian regional dan doktor dalam bidang sejarah dan bahasa Asia Timur, keduanya ia peroleh dari Harvard University masing-masing pada tahun 1963 dan 1968.
Sambil memperdalam ilmunya di Harvard University, Weiming memberi kuliah tentang humanitas di almamaternya, Tunghai University, Taiwan. Pada usia 38 tahun, ia mencapai gelar profesor penuh pada University of California di Berkeley.
Hingga akhirnya ia diundang menjadi profesor dalam bidang sejarah dan filsafat China di Harvard University pada tahun 1981. Berkaitan dengan bidang ilmu yang digelutinya, ia pernah dipercaya memimpin Komite Kajian Agama dan Departemen Bahasa dan Peradaban Asia Timur di Harvard University.
Sejak tahun 1996 ia menjabat sebagai Direktur Harvard-Yenching Institute. Pada tahun 1999, Harvard-Yenching menganugerahinya gelar profesor sejarah dan filsafat China sekaligus sebagai profesor dalam bidang kajian Konfusian.
Ini adalah kali pertama seseorang menyandang gelar profesor kajian Konfusian di belahan bumi penutur bahasa Inggris. Jabatan dan gelar profesornya pada Harvard-Yenching itulah yang hingga kini tertera dalam kartu namanya.
Di luar lingkungan Harvard University, ia pernah menjabat sebagai direktur pada Institut Komunikasi dan Budaya, East-West Center, Hawaii, (1990-1991), dan sebagai Group of Eminent Person pada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk memfasilitasi dialog antarperadaban (2001).
SEBAGAI seorang ilmuwan, tentu saja Weiming terbilang sangat produktif. Bahkan ketika masih menempuh jenjang S1 di Tunghai University, ia telah menghasilkan sejumlah karya tulis berupa artikel dalam jurnal dan beberapa buku.
Hingga kini 19 bukunya diterbitkan dalam bahasa Inggris dan sekitar 15 buku dalam bahasa China, serta ratusan artikel yang tersebar dalam berbagai penerbitan dengan fokus pada transformasi modern atas humanisme Konfusianisme.
Salah satu yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia adalah Etika Konfusianisme (Confucian Ethics Today, The Singapore Challenge). Buku itu merupakan bagian dari Seri Dialog Peradaban yang diterbitkan Teraju dan Center for Spirituality & Leadership.
Di samping kesibukannya di kampus Harvard, ia mengajar humanisme Konfusian dan ajaran neo-Konfusian di Peking University, Taiwan University, Chinese University (Hongkong), dan L’Ecole Pratique des Haute E’tudes (Paris). Ia juga juga memberi kuliah umum pada berbagai perguruan tinggi di Amerika Serikat, Asia Timur, dan Asia Tenggara.
Selama 10 hari, sejak Rabu (18/5/2005) hingga Sabtu (28/5/2005), Weiming berada di Indonesia atas undangan Komunitas Pemerhati Budaya dan Filsafat Timur guna serangkaian dialog di sejumlah perguruan tinggi di Jakarta, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya.
"Sebagai profesor saya harus bekerja pada empat wilayah, yaitu riset, pengajaran, administrasi, dan pelayanan akademik," jawabnya tentang apa yang ia lakukan sehari-hari.
Di luar itu, ia juga mendirikan dan aktif dalam sebuah organisasi nonpemerintah (NGO), Trigrav, dengan fokus kegiatan pada dimensi etik dan spiritual dalam pembangunan.
Sebelum berangkat bekerja ke kantornya, Weiming mengalokasikan waktunya empat jam untuk membaca dan menulis. "Selama empat jam itu saya juga membuka e-mail, tetapi biasanya tidak menjawab telepon," ungkapnya. Rutinitas itu ia jalani setiap hari, tak terkecuali Sabtu dan Minggu. (Nasru Alam Aziz)
Sumber : Kompas, Sabtu, 21 Mei 2005
Oleh : Nasru Alam Aziz
MEMPELAJARI tradisi penganut Konfusian di Asia Timur bukan hanya merupakan sebuah komitmen akademis dalam posisi sebagai sejarawan intelektual profesional, tetapi juga merupakan penelusuran pribadi dari sebuah refleksi seorang manusia. Ungkapan itu terucap oleh Prof Tu Weiming, seorang ahli sejarah China dan filsafat Konfusianisme dari Harvard University, Amerika Serikat. Ia pengikut aliran politik sosialisme humanistik, dan tentu saja ia penganut tradisi spiritual Konfusian.
MENURUT Weiming, cara terbaik menggambarkan Konfusianisme adalah sebagai cara pembelajaran menjadi manusia. "Tidak seperti hewan, manusia terus-menerus membentuk dirinya melalui pembelajaran, melalui interaksi dengan sesama manusia," ujarnya.
Ia menyebutkan, proses menjadi manusia mengandung empat dimensi pertanyaan yang harus dijawab. Pertama, pertanyaan dalam diri kita sendiri, bagaimana mengintegrasikan hati dan pikiran dengan tubuh dan jiwa.
Kedua, bagaimana sebagai individu dapat berinteraksi secara bermanfaat di tengah komunitas, baik dengan keluarga, masyarakat, bangsa, hingga komunitas global. Ketiga, bagaimana menjalin hubungan berkelanjutan dan bermanfaat atau hubungan harmonis dengan alam dalam arti luas. Keempat, bagaimana membangun kebersamaan antara jiwa dan pikiran dengan alam surgawi.
"Keempat dimensi itu memberi pemahaman kepada pandangan humanistik Konfusian. Pandangan humanistik Konfusian ini bukan humanisme sekular, melainkan agama dalam pemahaman yang mendalam. Bisa dikatakan sebagai panduan hidup dan tentu saja sebagai etika sosial," tuturnya.
Ia mengemukakan bahwa Konfusian adalah sebuah tradisi panjang, bahkan sudah ada ribuan tahun sebelum Konfusius lahir pada 1551 sebelum masehi. "Tradisi Konfusian tetap relevan hingga hari ini dan terus membawa spirit bagaikan arus yang mengalir tanpa henti," ujar Weiming.
Ia mulai mendalami tradisi Konfusian sejak berusia 14 tahun. Ia begitu terkesan dengan cara gurunya menguraikan tentang ajaran Konfusius. Dari situ ia menyadari apa yang dipaparkan gurunya di kelas bukan semata sebuah mata pelajaran, melainkan suatu nilai-nilai kehidupan, suatu panduan kehidupan.
WEIMING lahir pada Februari 1940 di Kunming, sebuah kota di bagian barat daya China, tidak jauh dari perbatasan Vietnam. Kehidupan yang multi-etnik di kampung halamannya itu turut membentuk pribadinya menjadi orang yang sangat menghargai perbedaan.
Berbekal keinginan yang kuat untuk memperdalam ilmu kechinaannya, ia berangkat ke Taiwan dan berhasil meraih gelar sarjana muda (BA) pada Tunghai University pada tahun 1961. Sedangkan gelar magister dalam bidang kajian regional dan doktor dalam bidang sejarah dan bahasa Asia Timur, keduanya ia peroleh dari Harvard University masing-masing pada tahun 1963 dan 1968.
Sambil memperdalam ilmunya di Harvard University, Weiming memberi kuliah tentang humanitas di almamaternya, Tunghai University, Taiwan. Pada usia 38 tahun, ia mencapai gelar profesor penuh pada University of California di Berkeley.
Hingga akhirnya ia diundang menjadi profesor dalam bidang sejarah dan filsafat China di Harvard University pada tahun 1981. Berkaitan dengan bidang ilmu yang digelutinya, ia pernah dipercaya memimpin Komite Kajian Agama dan Departemen Bahasa dan Peradaban Asia Timur di Harvard University.
Sejak tahun 1996 ia menjabat sebagai Direktur Harvard-Yenching Institute. Pada tahun 1999, Harvard-Yenching menganugerahinya gelar profesor sejarah dan filsafat China sekaligus sebagai profesor dalam bidang kajian Konfusian.
Ini adalah kali pertama seseorang menyandang gelar profesor kajian Konfusian di belahan bumi penutur bahasa Inggris. Jabatan dan gelar profesornya pada Harvard-Yenching itulah yang hingga kini tertera dalam kartu namanya.
Di luar lingkungan Harvard University, ia pernah menjabat sebagai direktur pada Institut Komunikasi dan Budaya, East-West Center, Hawaii, (1990-1991), dan sebagai Group of Eminent Person pada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk memfasilitasi dialog antarperadaban (2001).
SEBAGAI seorang ilmuwan, tentu saja Weiming terbilang sangat produktif. Bahkan ketika masih menempuh jenjang S1 di Tunghai University, ia telah menghasilkan sejumlah karya tulis berupa artikel dalam jurnal dan beberapa buku.
Hingga kini 19 bukunya diterbitkan dalam bahasa Inggris dan sekitar 15 buku dalam bahasa China, serta ratusan artikel yang tersebar dalam berbagai penerbitan dengan fokus pada transformasi modern atas humanisme Konfusianisme.
Salah satu yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia adalah Etika Konfusianisme (Confucian Ethics Today, The Singapore Challenge). Buku itu merupakan bagian dari Seri Dialog Peradaban yang diterbitkan Teraju dan Center for Spirituality & Leadership.
Di samping kesibukannya di kampus Harvard, ia mengajar humanisme Konfusian dan ajaran neo-Konfusian di Peking University, Taiwan University, Chinese University (Hongkong), dan L’Ecole Pratique des Haute E’tudes (Paris). Ia juga juga memberi kuliah umum pada berbagai perguruan tinggi di Amerika Serikat, Asia Timur, dan Asia Tenggara.
Selama 10 hari, sejak Rabu (18/5/2005) hingga Sabtu (28/5/2005), Weiming berada di Indonesia atas undangan Komunitas Pemerhati Budaya dan Filsafat Timur guna serangkaian dialog di sejumlah perguruan tinggi di Jakarta, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya.
"Sebagai profesor saya harus bekerja pada empat wilayah, yaitu riset, pengajaran, administrasi, dan pelayanan akademik," jawabnya tentang apa yang ia lakukan sehari-hari.
Di luar itu, ia juga mendirikan dan aktif dalam sebuah organisasi nonpemerintah (NGO), Trigrav, dengan fokus kegiatan pada dimensi etik dan spiritual dalam pembangunan.
Sebelum berangkat bekerja ke kantornya, Weiming mengalokasikan waktunya empat jam untuk membaca dan menulis. "Selama empat jam itu saya juga membuka e-mail, tetapi biasanya tidak menjawab telepon," ungkapnya. Rutinitas itu ia jalani setiap hari, tak terkecuali Sabtu dan Minggu. (Nasru Alam Aziz)
Sumber : Kompas, Sabtu, 21 Mei 2005
Eddie Bloom : Eddie
Eddie
Oleh : Linda Christanty
KAMPUS Universitas Michigan. Suatu malam di bulan Oktober 1960. John Fitzgerald Kennedy, calon presiden Amerika ke-35, bercerita tentang impiannya.
Dia ingin generasi muda Amerika terlibat dalam perdamaian dan pembangunan di seluruh dunia. Dia mengajak mereka melawan tirani, kemiskinan, wabah penyakit, dan perang.
Kennedy meresmikan Peace Corps pada 1 Maret 1961.
Seorang pemuda Chicago bernama Eddie Bloom bergabung dengan Peace Corps, karena terkesan pada misi organisasi itu. Dia sarjana muda psikologi lulusan Western Illinois University. Dia mudah tersentuh melihat penderitaan orang lain. Eddie tak ingin hanya memikirkan diri sendiri, meski hidupnya penuh kesulitan.
Dia anak ke-12 dari 16 bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai salesman. Mereka tinggal di rumah milik pemerintah di Oak Lawn, di pinggiran Chicago, dan pindah dari sana menjelang dia masuk sekolah menengah. Eddie menyebut tempat itu “ghetto”. Mayoritas warga berkulit hitam. Perkelahian rasial sering terjadi si situ. Sekelompok pemuda kulit hitam dan kulit putih saling serang. Namun, Eddie punya banyak teman kulit hitam dan bergaul akrab dengan mereka.
“Waktu saya taman kanak-kanak, dari tiga puluh anak di kelas, hanya dua yang berkulit putih, yaitu saya dan seorang lagi,” kenangnya.
Dia melihat ketidakadilan berlangsung di negerinya. Orang kulit hitam sangat sedikit memperoleh pendidikan dan hidup layak. Diskriminasi menumbuhkan sikap anti-ras.
“Macam-macam diskriminasi masih terjadi di Amerika sampai hari, diskriminasi rasial, diskriminasi terhadap perempuan, banyak lagi…”
Peace Corps mengirim Eddie ke Afghanistan pada 1977. Masa tugas dua tahun tanpa jeda. Usianya 22 tahun ketika itu.
Afghanistan dalam konflik politik. Sardar Mohammed Daoud berkuasa setelah menggulingkan saudara tirinya Zahir Shah pada 1973. Masa pemerintahan Daoud diwarnai pertumpahan darah. Klimaksnya, Daoud dan seluruh keluarganya tewas dalam aksi kekerasan pada 1978. Pemerintahan terpecah dua; kubu sipil dan militer. Pemerintah Uni Soviet mendukung kubu militer, sedang pemerintah Amerika mendukung seterunya. Muhammad Taraki, “orang Moskow” yang menggantikan Daoud, juga tewas dieksekusi akibat perselisihan dua faksi kiri. Kematian Taraki membuat Uni Soviet marah.
Eddie ada di Kabul, ibu kota Afghanistan, saat peristiwa itu terjadi. Dia mengajar Bahasa Inggris di Universitas Kabul dan mengembangkan kurikulum untuk membaca serta menulis dalam Bahasa Inggris. Pihak intelijen selalu hadir di kelasnya, mendengar dan menunggu apakah dia melontarkan kata-kata yang bersifat politis.
“Seorang teman saya, juga anggota Peace Corps ditangkap militer, dijebloskan ke penjara, diinterogasi selama tiga hari dengan tuduhan sebagai mata-mata CIA,” kisah Eddie.
CIA atau Central Intelligence Agency merupakan lembaga intelijen pemerintah Amerika.
Huru-hara berdarah terus berlangsung. Tank-tank Uni Soviet mulai datang. Pesawat-pesawat jet tempur membelah langit Afghanistan, memekakkan telinga. Warga yang mengenal Eddie sering mampir ke rumahnya dan memohon padanya agar membawa mereka keluar dari wilayah yang makin terpuruk dalam konflik itu.
“Ketika suara tembakan datang, saya bersembunyi dalam rumah. Saat keadaan berangsur sepi, saya diam-diam mencoba mengintai di jendela, ingin mengetahui apa yang terjadi di luar sana. Tiba-tiba tentara sudah di depan jendela dan mengarahkan moncong senjatanya pada saya, saya langsung merunduk lagi,” kisahnya.
Pembantaian terhadap Adolf “Spike” Dubbs, duta besar Amerika untuk Afghanistan, pada Juli 1979 membuat pemerintah Amerika memutuskan mengevakuasi warganya dari sana. Sebelum serbuan Uni Soviet ke negeri tersebut pada Desember 1979, Eddie sudah hengkang.
“Tapi Afghanistan sangat kuat. Sejak masa Jenghis Khan, Afghanistan tak bisa dikuasai. Seluruh Asia nyaris jadi taklukan Jenghis Khan, tapi tidak Afghanistan. Inggris berhasil menjajah India, Pakistan, dan menjadikan mereka daerah berbahasa Inggris, tapi tak bisa menaklukkan Afghanistan. Sepuluh tahun Rusia menginvasi Afghanistan dan lagi-lagi gagal, sama seperti Amerika kehilangan Vietnam.”
Masa-masa penuh ketegangan usai. Eddie pun melanjutkan kuliah di Ohio University. Dia belajar ilmu politik dan kajian internasional dengan Indonesia sebagai fokus.
Setelah lulus kuliah, Eddie bekerja di Texas Rehabilitation Commission atau disingkat TRC, lembaga milik pemerintah federal yang mengurus berbagai kepentingan warga, mulai dari pendirian sekolah untuk orang buta sampai pemberian tunjangan untuk pengangguran.
Eddie bekerja selama 23 tahun di TRC, menduduki berbagai posisi. Dia membawahi 900 staf saat menjabat Deputy Commissioner TRC. Ini jabatan terakhirnya sebelum minta berhenti.
“Teman-teman saya bilang, saya benar-benar gila, karena saya punya pekerjaan yang sangat baik, menghasilkan banyak uang, dan sekarang saya tidak menyukainya,” katanya, tersenyum.
Kini Eddie Vice President Austin International Rescue Operations (AIRO), sebuah yayasan yang membuat perahu dan jaring untuk nelayan Aceh pasca-tsunami.
“Di AIRO saya digaji sedikit,” katanya, seraya memamerkan jarak sempit antara jempol dan telunjuknya, “Saya justru banyak menghabiskan uang pribadi saya di sini,” lanjutnya, tersenyum lagi.
Meskipun hidup tak semapan dulu, Eddie bahagia bisa melakukan sesuatu untuk orang lain.
Saya berkenalan dengan Eddie di sebuah kedai kopi di Ulee Kareng, Banda Aceh, pada 15 Januari lalu. Eddie biasa minum kopi di situ sambil membaca suratkabar The Jakarta Post. Penampilannya sederhana. Kaos oblong, celana jins, sepatu sandal. Bicara cepat, bersemangat.
Selain saya, tak seorang perempuan pun tampak di kedai itu.
“Coba kamu lihat! Semua laki-laki. Saya tidak bisa duduk atau bebas ngobrol dengan kamu di Afghanistan, tapi di sini kamu bisa sendirian bersama saya, kamu tidak mengenakan kerudung, tidak memakai baju lengan panjang. Islam di Aceh lebih fleksibel, lebih terbuka. Di Afghanistan kamu harus jadi muslim. Kamu harus patuh pada hukum Islam. Saya harus mengenakan pakaian muslim di sana,” kata Eddie.
Namun, tak berapa lama, dengan suara rendah, Eddie berkisah tentang pria yang sering mondar-mandir di depan kantornya.
Pria ini suatu ketika menegur Eddie, “Apa kamu muslim?”
Eddie menjawab, “Saya Katolik.”
“Kamu harus belajar agama Islam dan masuk Islam. Kalau muslim, kamu masuk surga. Kalau tidak, kamu masuk neraka,” balas si pria.
Perasaan Eddie jadi kecut.
“Tahu nggak, wajahnya serius sekali. Dan itu bukan becanda,” kata Eddie pada saya.
Hukum Islam mulai diterapkan di Aceh. Pada Jumat, 27 Januari lalu, sepasang kekasih dihukum cambuk di pelataran masjid Jamiek Lueng Bata, Banda Aceh. Mereka dituduh melanggar qanun tentang khalwat atau berduaan dengan lawan jenis yang bukan muhrim. Qanun adalah aturan administrasi pemerintahan daerah Aceh. Serambi Indonesia, suratkabar dengan oplag terbesar di Aceh, pada 1 Februari 2006, memuat berita pelaksanaan hukum cambuk atas 14 pemuda yang berjudi. Dua di antaranya masuk rumah sakit, karena tak sanggup menahan sakit luka cambuk.
RUMAH merangkap kantor Eddie terletak di Jalan Hasan Krueng Kalee No.25, Lampulo, tepat di depan pasar Peunayong. Di belakang bangunan ini mengalir Krueng Aceh atau Kali Aceh yang hitam keruh. Warga membuang bangkai ayam, bebek, bahkan biawak serta sampah rumah tangga mereka ke dalamnya.
Bau busuk dan amis daging langsung menyerbu rongga hidung ketika saya melangkah di lorong sempit di muka jajaran toko dan kios itu.
Meja-meja kayu memenuhi jalan. Ayam hidup. Ayam mati. Daging sapi. Ikan tongkol. Ikan mata merah. Udang... Tanah becek. Air menggenang. Lalat-lalat hinggap, terbang, mendengung. Orang lalu-lalang, tawar-menawar. Pasar riuh.
Seorang perempuan berjilbab menunggu di muka pintu bangunan tiga lantai itu. Dia mempersilahkan saya masuk. Namanya, Diana. Dia sekretaris merangkap bagian keuangan AIRO.
“Nama kantor ini Big Fish. Kamu pernah nonton film Big Fish? Di film itu ada tokoh bernama Edward Bloom. Nama saya sebenarnya Edward, kemudian lebih sering dipanggil Eddie. Ini kebetulan. Edward Bloom dan Big Fish,” kata Eddie, bernada riang.
Big Fish, film yang disutradarai Tim Burton, mengisahkan hubungan ayah dan anak laki-lakinya, Edward Bloom dan Will Bloom. Ketika ayahnya meninggal, Will tertarik menyelidiki kebenaran dalam cerita hidup sang ayah yang fantastis. Dia ingin memilah fakta dari fiksi.
Lantai bawah bangunan ini relatif kosong. Ada sebuah kursi panjang kayu dekat pintu masuk. Di tengah ruang teronggok semacam peti kayu yang belum selesai. Lantai dua berfungsi sebagai kantor. Seperangkat komputer, meja tulis, dan beberapa kursi mengisi ruangan ini. Foto-foto kegiatan AIRO terpampang di salah satu dinding.
“Perahu pertama AIRO,” ujar Eddie, menunjuk potret tiga perahu biru berjajar.
AIRO punya tiga proyek di Banda Aceh, yaitu pembuatan perahu di Krueng Raya, rehabilitasi perahu di Lampulo, dan pembuatan jaring yang juga di Lampulo.
“Sudah 32 perahu yang jalan. Sekarang AIRO akan bikin 50 perahu lagi, kerja sama dengan LDS, dan bikin 30 perahu untuk kerja sama dengan UN-FAO. Di Lampulo, kami memperbaiki 6 perahu besar, panjangnya masing-masing 23 meter, terus… kami juga membuat 6 jaring untuk perahu nelayan di Lampulo,” jelasnya, panjang lebar.
LDS singkatan dari Latter-Day Saint Charities. Lembaga ini badan amal milik Gereja Mormon. UN-FAO atau United Nation-Food and Agriculture Organization adalah salah satu lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani masalah pangan dan pertanian.
Lampulo, berjarak sekitar 2,5 kilometer dari pasar Peunayong, adalah sentra ikan penting sebelum tsunami. Sirkulasi uang di situ hampir Rp 500 juta tiap hari.
“Pedagang kecil, pedagang besar, dari boat es, boat minyak, itu sirkulasi keuangan, jadi hiduplah orang itu, itu lebih kurang untuk muge… pedagang kecilnya aja lebih kurang 3000,” kata Yusrizal, salah seorang nelayan.
Menurut Yusrizal, dia pernah meminta bantuan perahu dari lembaga-lembaga besar, tapi mereka tak menanggapinya. Padahal seringkali bantuan itu mubazir dan salah sasaran.
“Misalnya, jumlah nelayan 40 orang, jumlah bantuan 60 boat, jadi 20 lagi yang terima terpaksa tukang becak atau yang jual kelontong di kedai, syukur-syukurlah mereka, apalagi itu bantuan pre (gratis) jadi kan diterima.”
Empat bulan lalu Eddie datang menemui panglima laut Lampulo dan menawarkan bantuan untuk nelayan di situ.
USIA AIRO baru setahun. Pembentukannya bersifat dadakan.
Pada Januari 2005, Eddie cuti kantor selama sebulan. Tapi cuti kali ini tidak untuk bersenang-senang. Dia dan dua teman akrabnya, kakak beradik Aaron dan Eric Lyman, memutuskan pergi ke Aceh yang dilanda tsunami pada 26 Desember 2004. Mereka nekad jadi relawan.
“Saya transit di Singapura tepat pada hari ulang tahun saya, 25 Januari 2005. Pada 26 Januari saya tiba di Jakarta, terus ke Aceh. Ketika pertama kali datang ke sini, keadaannya sangat parah, banyak mayat, di Krueng Raya, di Ulee Lheue, contohnya. Sebagian bahkan masih berada di air… Benar-benar menyedihkan dan itu membuat seluruh tenaga saya lenyap. Sesudah dua minggu, saya pikir mungkin lebih baik saya pulang saja. Saya beritahu teman saya, ‘tahu nggak, kita tidak akan bisa melakukan apa-apa di sini, bencananya terlalu besar’, “ kata Eddie.
Eddie sampai lebih dulu di Banda Aceh. Penyakit hernia Aaron kumat dan dia harus dioperasi di Jakarta, sehingga Eric harus menemani kakaknya. Mereka juga sempat mengalami musibah di bandar udara Jakarta. Aaron kehilangan tas berisi pompa air canggih yang sengaja dibawanya untuk Aceh.
Eddie menumpang tidur di kantor Islamic Relief selama 4 minggu. Islamic Relief adalah sebuah lembaga internasional yang mendukung pengembangan sosial dan ekonomi masyarakat lokal, tanpa peduli ras, agama, dan gender. Lembaga ini datang ke Aceh sehari sesudah tsunami. Mereka membangun rumah dan sekolah.
Seminggu kemudian, Eric menyusul Eddie. Aaron tetap di Jakarta untuk pemulihan pasca operasi.
“Saya bilang pada Aaron agar dia jangan ke sini dulu. Risiko terinfeksi sangat tinggi. Di sini kotor sekali.”
Dalam situasi tak menentu, Eddie dan Eric ikut pertemuan dengan berbagai organisasi dan pemerintah di media center. Mereka ingin membantu nelayan, tapi orang-orang yang hadir ingin data. Mereka diminta kembali minggu berikutnya setelah data terkumpul. Eddie tak menyerah.
Dia melihat Alwi Shihab, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, hadir di situ. Eddie langsung menemui Alwi Shihab dan mengungkapkan keinginannya membantu nelayan di Krueng Raya.
“Saya bilang kami di sini sudah empat minggu, saat dia pergi kami harus tinggal, kami tidak punya organisasi, kami tidak punya birokrasi, Alwi Shihab bilang, oke, kemudian dia menelepon orang untuk ke Krueng Raya. Kami kemudian mengajak pak khecik, panglima laut, setiap orang duduk menunggu dan kami mulai mencatat semua informasi demografi, populasi, mata pencarian, berapa jumlah orang yang hilang, berapa banyak orang yang tinggal di kamp pengungsian, sangat mudah,” kenang Eddie.
Namun, hambatan lain masih ada. Tiap mereka ikut pertemuan, orang bertanya mereka dari mana dan dengan ‘siapa’.
“Kami di sini tidak dengan siapapun, tidak dengan siapa-siapa, kami hanya tiga cowok, tapi mereka tidak menanggapi kami… sehingga kami menelepon Aaron. Aaron, kita harus jadi sebuah organisasi, kita tidak bisa hanya jadi tiga cowok begini. Kami berpikir soal nama… Aaron bilang bagaimana kalau AIRO, oke.”
Di Jakarta Aaron pun sibuk membuat kartu nama, kop surat, dan rompi. Eddie membeli stempel. Mereka kini punya organisasi.
“Waktu kami datang ke pertemuan yang sama di media center dan mereka tanya kami dengan siapa, kami bilang kami dengan AIRO, mereka bilang, Oh, AIRO, bagus, Bagaimana kami bisa membantu kamu?... Oh, kami perlu 10 perahu, oke di sini… kami perlu generator, oke pakai generator…kami perlu alat, oke, di sini, di sini, di sini… “
Setelah itu Eddie pulang ke Amerika. Dia kembali masuk kantor, sibuk, dan mengurus hal-hal rutin. Tapi hanya dua bulan. Dia gelisah. Dia ingin kembali lagi ke Aceh. Setelah menulis surat pengunduran diri dari TRC, dia langsung terbang ke Aceh.
“Saya menyukai tempat ini. Nggak tahu kenapa,” katanya, termenung-menung.
Dia kemudian bercerita bahwa banyak pedagang di depan kantornya tak bisa berbahasa Indonesia. Mereka menatapnya heran saat dia menyapa, “Apakabar?” Namun, mereka berubah ramah begitu Eddie mengucap, “Pu haba?” ‘Pu haba’ sama dengan ‘apakabar’. Mereka justru membalasnya dalam Bahasa Inggris. Good morning!
KATA favorit Eddie yang selalu muncul dalam percakapan kami adalah ‘perahu’. Sore itu dia mengajak saya pergi ke tempat pembuatan perahu di Krueng Raya, sekitar 45 menit perjalanan mobil dari Banda Aceh. Seminggu sekali dia datang untuk melihat tukang-tukang bekerja, memperhatikan perahu-perahu dibuat.
“Tukang yang bekerja ada 14 orang, terikat kontrak, keahliannya dipelajari dari UN FAO. Tentang proyek Krueng Raya, baru pertama kali di Aceh, sebagai proyek percontohan. UN FAO mungkin baca koran atau tahu dari media, bahwa banyak bantuan yang tak bisa diserap karena mutu daripada kapal sendiri yang tidak bagus,” kata Bambang Irawan, salah seorang staf Eddie, yang ikut serta.
Bambang hampir setahun bekerja di kantor Eddie. “Dengan Eddie semua urusan jadi mudah, nggak rumit,” katanya. Bambang asal Malang, Jawa Timur. Ketika darurat militer di Aceh, dia memboyong anak dan istrinya ke Jawa.
Bangsal pembuatan perahu berada di tepi laut. Di belakang bangsal terdapat bangunan untuk menyimpan kayu. Kayu-kayu yang masih basah tak boleh disatukan dengan yang kering. Tiap balok kayu diberi tanda sesuai masa penjemuran.
Lima perahu berjajar dalam bangsal. Belum rampung pembuatannya. Dibutuhkan waktu 6 minggu untuk menyelesaikan lima perahu ini.
“Ini perahu Cadillac. Mahal. Tapi tahan lama. Perahu tradisional cuma tahan 3 tahun. Perahu ini tahan sampai 15 tahun,” kata Eddie, bangga.
Cadillac adalah merek mobil mewah buatan Amerika.
Paku untuk perahu terbuat dari baja, tahan karat. Kayu harus benar-benar kering agar tak mudah bocor. Perahu AIRO punya lebih banyak pasak penyangga di bagian dalam ketimbang perahu tradisional, sehingga dinding-dindingnya lebih kuat terhadap tekanan air. Bentuk perahu lebih ramping dan membuat lajunya lebih cepat. Perahu tradisional hanya punya satu lunas, sedang perahu AIRO tiga lunas.
“Lunas tiga membuat kapal kokoh dan kuat, awet dan tahan hempasan gelombang,” kata Bambang.
Balok memanjang di dasar perahu disebut lunas.
Sore itu Tengku Abdulhadi dari Langkah Raseuki, sebuah lembaga pemberdayaan ekonomi masyarakat, juga datang ke lokasi pembuatan perahu, langsung dari Lhokseumawe. Jarak Lhokseumawe-Banda Aceh sekitar 6 jam. Dia ingin AIRO menyumbangkan perahu untuk nelayan-nelayan di Lhokseumawe. Dia sudah mendengar tentang kualitas perahu Eddie.
“Tapi saya mau dibuat perjanjian hukumnya. Jadi nelayan tidak boleh menjual perahu ini. Barangsiapa yang menjual terkena sanksi. Mbak tahu sendirilah, kalau nelayan itu berhutang, terus dia bingung membayarnya, dia bisa bilang… ya sudah ambil saja itu perahu,” kata Abdulhadi.
Eddie tampak senang. Dia mondar-mandir menjelaskan ini itu pada Abdulhadi.
SABTU, 22 Januari 2006, dia mengundang saya makan malam. “Saya akan masak untuk kamu. Kamu suka apa? Udang? Oke, saya akan masak udang. Kamu harus datang sekitar jam setengah enam… untuk melihat matahari terbenam di atas Krueng Aceh, indah sekali.”
Saya melewati pasar yang ramai itu lagi, menyusuri lorong sempit, mencium aroma lumpur bercampur amis.
Sore itu saya memotret Eddie satu kali di tempat jemuran. Klik. Langit hitam, kelabu, jingga jadi latar belakang. Air Krueng Aceh berkilau di lensa.
“Dulu di sini berantakan sekali. Sampah tinggi sekali…” Eddie mengenang saat tsunami.
Malam itu dia memasak cap cay. Irisan jahe, bawang putih, kembang kol, wortel, udang… ditumis dalam kuali. Tak berapa lama nasi cap cay tersaji di meja.
“Kamu suka musik apa?”
“Hoobastank, Switchtoot, Finn Brothers,” kata saya.
Dia meraih iPod, mencari lagu grup musik kesayangan saya. Dia menggeleng putus asa. Tak ada. Dia suka Ray Charles dan Willie Nelson. Tapi akhirnya kami mendengar Eric Clapton.
Kami bercakap-cakap sambil makan. Ternyata warga biasa di Amerika ikut menyumbang dana untuk AIRO. Itu pula yang membuat dia dan kakak beradik Lyman, memilih yayasan sebagai bentuk organisasi mereka. “Bukan untuk bisnis, karena ada dana publik di situ,” katanya.
Dia bercerai dari istrinya sepuluh tahun lalu. Anak laki-lakinya, 19 tahun, baru kuliah tahun pertama di universitas di Amerika. Dia benci George Bush, presiden Amerika sekarang.
“Bush menciptakan banyak terorisme, mencipta kekerasan di mana-mana, karena kebijakannya. Tujuh puluh persen perlawanan rakyat di Irak karena melawan pendudukan tentara Amerika, tidak ada kaitan dengan Al Qaeda. Mengapa Hamas menang? Mengapa Iran membuat proyek nuklir? Mengapa di mana-mana muncul seperti ini?”
Tiba-tiba dia berhenti bicara. “Saya terlalu banyak bicara, ya?”
Dia juga cemas Aceh akan mengalami masa sulit setelah lembaga-lembaga bantuan asing pergi. Gelembung ekonomi pecah. Rakyat sengsara. Dia akan tinggal 18 bulan lagi di sini, setelah itu mungkin terbang ke Vietnam atau Australia. Dia suka mengelana.
“Meskipun saya sudah tidak di sini lagi. Nelayan-nelayan sudah pulih lagi kehidupannya, punya bisnis yang bagus, bisa membuat perahu yang bagus… Mereka akan ingat perahu Eddie, “ katanya.*
Sumber : Aceh Feature, 2 Februari 2006
Oleh : Linda Christanty
KAMPUS Universitas Michigan. Suatu malam di bulan Oktober 1960. John Fitzgerald Kennedy, calon presiden Amerika ke-35, bercerita tentang impiannya.
Dia ingin generasi muda Amerika terlibat dalam perdamaian dan pembangunan di seluruh dunia. Dia mengajak mereka melawan tirani, kemiskinan, wabah penyakit, dan perang.
Kennedy meresmikan Peace Corps pada 1 Maret 1961.
Seorang pemuda Chicago bernama Eddie Bloom bergabung dengan Peace Corps, karena terkesan pada misi organisasi itu. Dia sarjana muda psikologi lulusan Western Illinois University. Dia mudah tersentuh melihat penderitaan orang lain. Eddie tak ingin hanya memikirkan diri sendiri, meski hidupnya penuh kesulitan.
Dia anak ke-12 dari 16 bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai salesman. Mereka tinggal di rumah milik pemerintah di Oak Lawn, di pinggiran Chicago, dan pindah dari sana menjelang dia masuk sekolah menengah. Eddie menyebut tempat itu “ghetto”. Mayoritas warga berkulit hitam. Perkelahian rasial sering terjadi si situ. Sekelompok pemuda kulit hitam dan kulit putih saling serang. Namun, Eddie punya banyak teman kulit hitam dan bergaul akrab dengan mereka.
“Waktu saya taman kanak-kanak, dari tiga puluh anak di kelas, hanya dua yang berkulit putih, yaitu saya dan seorang lagi,” kenangnya.
Dia melihat ketidakadilan berlangsung di negerinya. Orang kulit hitam sangat sedikit memperoleh pendidikan dan hidup layak. Diskriminasi menumbuhkan sikap anti-ras.
“Macam-macam diskriminasi masih terjadi di Amerika sampai hari, diskriminasi rasial, diskriminasi terhadap perempuan, banyak lagi…”
Peace Corps mengirim Eddie ke Afghanistan pada 1977. Masa tugas dua tahun tanpa jeda. Usianya 22 tahun ketika itu.
Afghanistan dalam konflik politik. Sardar Mohammed Daoud berkuasa setelah menggulingkan saudara tirinya Zahir Shah pada 1973. Masa pemerintahan Daoud diwarnai pertumpahan darah. Klimaksnya, Daoud dan seluruh keluarganya tewas dalam aksi kekerasan pada 1978. Pemerintahan terpecah dua; kubu sipil dan militer. Pemerintah Uni Soviet mendukung kubu militer, sedang pemerintah Amerika mendukung seterunya. Muhammad Taraki, “orang Moskow” yang menggantikan Daoud, juga tewas dieksekusi akibat perselisihan dua faksi kiri. Kematian Taraki membuat Uni Soviet marah.
Eddie ada di Kabul, ibu kota Afghanistan, saat peristiwa itu terjadi. Dia mengajar Bahasa Inggris di Universitas Kabul dan mengembangkan kurikulum untuk membaca serta menulis dalam Bahasa Inggris. Pihak intelijen selalu hadir di kelasnya, mendengar dan menunggu apakah dia melontarkan kata-kata yang bersifat politis.
“Seorang teman saya, juga anggota Peace Corps ditangkap militer, dijebloskan ke penjara, diinterogasi selama tiga hari dengan tuduhan sebagai mata-mata CIA,” kisah Eddie.
CIA atau Central Intelligence Agency merupakan lembaga intelijen pemerintah Amerika.
Huru-hara berdarah terus berlangsung. Tank-tank Uni Soviet mulai datang. Pesawat-pesawat jet tempur membelah langit Afghanistan, memekakkan telinga. Warga yang mengenal Eddie sering mampir ke rumahnya dan memohon padanya agar membawa mereka keluar dari wilayah yang makin terpuruk dalam konflik itu.
“Ketika suara tembakan datang, saya bersembunyi dalam rumah. Saat keadaan berangsur sepi, saya diam-diam mencoba mengintai di jendela, ingin mengetahui apa yang terjadi di luar sana. Tiba-tiba tentara sudah di depan jendela dan mengarahkan moncong senjatanya pada saya, saya langsung merunduk lagi,” kisahnya.
Pembantaian terhadap Adolf “Spike” Dubbs, duta besar Amerika untuk Afghanistan, pada Juli 1979 membuat pemerintah Amerika memutuskan mengevakuasi warganya dari sana. Sebelum serbuan Uni Soviet ke negeri tersebut pada Desember 1979, Eddie sudah hengkang.
“Tapi Afghanistan sangat kuat. Sejak masa Jenghis Khan, Afghanistan tak bisa dikuasai. Seluruh Asia nyaris jadi taklukan Jenghis Khan, tapi tidak Afghanistan. Inggris berhasil menjajah India, Pakistan, dan menjadikan mereka daerah berbahasa Inggris, tapi tak bisa menaklukkan Afghanistan. Sepuluh tahun Rusia menginvasi Afghanistan dan lagi-lagi gagal, sama seperti Amerika kehilangan Vietnam.”
Masa-masa penuh ketegangan usai. Eddie pun melanjutkan kuliah di Ohio University. Dia belajar ilmu politik dan kajian internasional dengan Indonesia sebagai fokus.
Setelah lulus kuliah, Eddie bekerja di Texas Rehabilitation Commission atau disingkat TRC, lembaga milik pemerintah federal yang mengurus berbagai kepentingan warga, mulai dari pendirian sekolah untuk orang buta sampai pemberian tunjangan untuk pengangguran.
Eddie bekerja selama 23 tahun di TRC, menduduki berbagai posisi. Dia membawahi 900 staf saat menjabat Deputy Commissioner TRC. Ini jabatan terakhirnya sebelum minta berhenti.
“Teman-teman saya bilang, saya benar-benar gila, karena saya punya pekerjaan yang sangat baik, menghasilkan banyak uang, dan sekarang saya tidak menyukainya,” katanya, tersenyum.
Kini Eddie Vice President Austin International Rescue Operations (AIRO), sebuah yayasan yang membuat perahu dan jaring untuk nelayan Aceh pasca-tsunami.
“Di AIRO saya digaji sedikit,” katanya, seraya memamerkan jarak sempit antara jempol dan telunjuknya, “Saya justru banyak menghabiskan uang pribadi saya di sini,” lanjutnya, tersenyum lagi.
Meskipun hidup tak semapan dulu, Eddie bahagia bisa melakukan sesuatu untuk orang lain.
Saya berkenalan dengan Eddie di sebuah kedai kopi di Ulee Kareng, Banda Aceh, pada 15 Januari lalu. Eddie biasa minum kopi di situ sambil membaca suratkabar The Jakarta Post. Penampilannya sederhana. Kaos oblong, celana jins, sepatu sandal. Bicara cepat, bersemangat.
Selain saya, tak seorang perempuan pun tampak di kedai itu.
“Coba kamu lihat! Semua laki-laki. Saya tidak bisa duduk atau bebas ngobrol dengan kamu di Afghanistan, tapi di sini kamu bisa sendirian bersama saya, kamu tidak mengenakan kerudung, tidak memakai baju lengan panjang. Islam di Aceh lebih fleksibel, lebih terbuka. Di Afghanistan kamu harus jadi muslim. Kamu harus patuh pada hukum Islam. Saya harus mengenakan pakaian muslim di sana,” kata Eddie.
Namun, tak berapa lama, dengan suara rendah, Eddie berkisah tentang pria yang sering mondar-mandir di depan kantornya.
Pria ini suatu ketika menegur Eddie, “Apa kamu muslim?”
Eddie menjawab, “Saya Katolik.”
“Kamu harus belajar agama Islam dan masuk Islam. Kalau muslim, kamu masuk surga. Kalau tidak, kamu masuk neraka,” balas si pria.
Perasaan Eddie jadi kecut.
“Tahu nggak, wajahnya serius sekali. Dan itu bukan becanda,” kata Eddie pada saya.
Hukum Islam mulai diterapkan di Aceh. Pada Jumat, 27 Januari lalu, sepasang kekasih dihukum cambuk di pelataran masjid Jamiek Lueng Bata, Banda Aceh. Mereka dituduh melanggar qanun tentang khalwat atau berduaan dengan lawan jenis yang bukan muhrim. Qanun adalah aturan administrasi pemerintahan daerah Aceh. Serambi Indonesia, suratkabar dengan oplag terbesar di Aceh, pada 1 Februari 2006, memuat berita pelaksanaan hukum cambuk atas 14 pemuda yang berjudi. Dua di antaranya masuk rumah sakit, karena tak sanggup menahan sakit luka cambuk.
RUMAH merangkap kantor Eddie terletak di Jalan Hasan Krueng Kalee No.25, Lampulo, tepat di depan pasar Peunayong. Di belakang bangunan ini mengalir Krueng Aceh atau Kali Aceh yang hitam keruh. Warga membuang bangkai ayam, bebek, bahkan biawak serta sampah rumah tangga mereka ke dalamnya.
Bau busuk dan amis daging langsung menyerbu rongga hidung ketika saya melangkah di lorong sempit di muka jajaran toko dan kios itu.
Meja-meja kayu memenuhi jalan. Ayam hidup. Ayam mati. Daging sapi. Ikan tongkol. Ikan mata merah. Udang... Tanah becek. Air menggenang. Lalat-lalat hinggap, terbang, mendengung. Orang lalu-lalang, tawar-menawar. Pasar riuh.
Seorang perempuan berjilbab menunggu di muka pintu bangunan tiga lantai itu. Dia mempersilahkan saya masuk. Namanya, Diana. Dia sekretaris merangkap bagian keuangan AIRO.
“Nama kantor ini Big Fish. Kamu pernah nonton film Big Fish? Di film itu ada tokoh bernama Edward Bloom. Nama saya sebenarnya Edward, kemudian lebih sering dipanggil Eddie. Ini kebetulan. Edward Bloom dan Big Fish,” kata Eddie, bernada riang.
Big Fish, film yang disutradarai Tim Burton, mengisahkan hubungan ayah dan anak laki-lakinya, Edward Bloom dan Will Bloom. Ketika ayahnya meninggal, Will tertarik menyelidiki kebenaran dalam cerita hidup sang ayah yang fantastis. Dia ingin memilah fakta dari fiksi.
Lantai bawah bangunan ini relatif kosong. Ada sebuah kursi panjang kayu dekat pintu masuk. Di tengah ruang teronggok semacam peti kayu yang belum selesai. Lantai dua berfungsi sebagai kantor. Seperangkat komputer, meja tulis, dan beberapa kursi mengisi ruangan ini. Foto-foto kegiatan AIRO terpampang di salah satu dinding.
“Perahu pertama AIRO,” ujar Eddie, menunjuk potret tiga perahu biru berjajar.
AIRO punya tiga proyek di Banda Aceh, yaitu pembuatan perahu di Krueng Raya, rehabilitasi perahu di Lampulo, dan pembuatan jaring yang juga di Lampulo.
“Sudah 32 perahu yang jalan. Sekarang AIRO akan bikin 50 perahu lagi, kerja sama dengan LDS, dan bikin 30 perahu untuk kerja sama dengan UN-FAO. Di Lampulo, kami memperbaiki 6 perahu besar, panjangnya masing-masing 23 meter, terus… kami juga membuat 6 jaring untuk perahu nelayan di Lampulo,” jelasnya, panjang lebar.
LDS singkatan dari Latter-Day Saint Charities. Lembaga ini badan amal milik Gereja Mormon. UN-FAO atau United Nation-Food and Agriculture Organization adalah salah satu lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menangani masalah pangan dan pertanian.
Lampulo, berjarak sekitar 2,5 kilometer dari pasar Peunayong, adalah sentra ikan penting sebelum tsunami. Sirkulasi uang di situ hampir Rp 500 juta tiap hari.
“Pedagang kecil, pedagang besar, dari boat es, boat minyak, itu sirkulasi keuangan, jadi hiduplah orang itu, itu lebih kurang untuk muge… pedagang kecilnya aja lebih kurang 3000,” kata Yusrizal, salah seorang nelayan.
Menurut Yusrizal, dia pernah meminta bantuan perahu dari lembaga-lembaga besar, tapi mereka tak menanggapinya. Padahal seringkali bantuan itu mubazir dan salah sasaran.
“Misalnya, jumlah nelayan 40 orang, jumlah bantuan 60 boat, jadi 20 lagi yang terima terpaksa tukang becak atau yang jual kelontong di kedai, syukur-syukurlah mereka, apalagi itu bantuan pre (gratis) jadi kan diterima.”
Empat bulan lalu Eddie datang menemui panglima laut Lampulo dan menawarkan bantuan untuk nelayan di situ.
USIA AIRO baru setahun. Pembentukannya bersifat dadakan.
Pada Januari 2005, Eddie cuti kantor selama sebulan. Tapi cuti kali ini tidak untuk bersenang-senang. Dia dan dua teman akrabnya, kakak beradik Aaron dan Eric Lyman, memutuskan pergi ke Aceh yang dilanda tsunami pada 26 Desember 2004. Mereka nekad jadi relawan.
“Saya transit di Singapura tepat pada hari ulang tahun saya, 25 Januari 2005. Pada 26 Januari saya tiba di Jakarta, terus ke Aceh. Ketika pertama kali datang ke sini, keadaannya sangat parah, banyak mayat, di Krueng Raya, di Ulee Lheue, contohnya. Sebagian bahkan masih berada di air… Benar-benar menyedihkan dan itu membuat seluruh tenaga saya lenyap. Sesudah dua minggu, saya pikir mungkin lebih baik saya pulang saja. Saya beritahu teman saya, ‘tahu nggak, kita tidak akan bisa melakukan apa-apa di sini, bencananya terlalu besar’, “ kata Eddie.
Eddie sampai lebih dulu di Banda Aceh. Penyakit hernia Aaron kumat dan dia harus dioperasi di Jakarta, sehingga Eric harus menemani kakaknya. Mereka juga sempat mengalami musibah di bandar udara Jakarta. Aaron kehilangan tas berisi pompa air canggih yang sengaja dibawanya untuk Aceh.
Eddie menumpang tidur di kantor Islamic Relief selama 4 minggu. Islamic Relief adalah sebuah lembaga internasional yang mendukung pengembangan sosial dan ekonomi masyarakat lokal, tanpa peduli ras, agama, dan gender. Lembaga ini datang ke Aceh sehari sesudah tsunami. Mereka membangun rumah dan sekolah.
Seminggu kemudian, Eric menyusul Eddie. Aaron tetap di Jakarta untuk pemulihan pasca operasi.
“Saya bilang pada Aaron agar dia jangan ke sini dulu. Risiko terinfeksi sangat tinggi. Di sini kotor sekali.”
Dalam situasi tak menentu, Eddie dan Eric ikut pertemuan dengan berbagai organisasi dan pemerintah di media center. Mereka ingin membantu nelayan, tapi orang-orang yang hadir ingin data. Mereka diminta kembali minggu berikutnya setelah data terkumpul. Eddie tak menyerah.
Dia melihat Alwi Shihab, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, hadir di situ. Eddie langsung menemui Alwi Shihab dan mengungkapkan keinginannya membantu nelayan di Krueng Raya.
“Saya bilang kami di sini sudah empat minggu, saat dia pergi kami harus tinggal, kami tidak punya organisasi, kami tidak punya birokrasi, Alwi Shihab bilang, oke, kemudian dia menelepon orang untuk ke Krueng Raya. Kami kemudian mengajak pak khecik, panglima laut, setiap orang duduk menunggu dan kami mulai mencatat semua informasi demografi, populasi, mata pencarian, berapa jumlah orang yang hilang, berapa banyak orang yang tinggal di kamp pengungsian, sangat mudah,” kenang Eddie.
Namun, hambatan lain masih ada. Tiap mereka ikut pertemuan, orang bertanya mereka dari mana dan dengan ‘siapa’.
“Kami di sini tidak dengan siapapun, tidak dengan siapa-siapa, kami hanya tiga cowok, tapi mereka tidak menanggapi kami… sehingga kami menelepon Aaron. Aaron, kita harus jadi sebuah organisasi, kita tidak bisa hanya jadi tiga cowok begini. Kami berpikir soal nama… Aaron bilang bagaimana kalau AIRO, oke.”
Di Jakarta Aaron pun sibuk membuat kartu nama, kop surat, dan rompi. Eddie membeli stempel. Mereka kini punya organisasi.
“Waktu kami datang ke pertemuan yang sama di media center dan mereka tanya kami dengan siapa, kami bilang kami dengan AIRO, mereka bilang, Oh, AIRO, bagus, Bagaimana kami bisa membantu kamu?... Oh, kami perlu 10 perahu, oke di sini… kami perlu generator, oke pakai generator…kami perlu alat, oke, di sini, di sini, di sini… “
Setelah itu Eddie pulang ke Amerika. Dia kembali masuk kantor, sibuk, dan mengurus hal-hal rutin. Tapi hanya dua bulan. Dia gelisah. Dia ingin kembali lagi ke Aceh. Setelah menulis surat pengunduran diri dari TRC, dia langsung terbang ke Aceh.
“Saya menyukai tempat ini. Nggak tahu kenapa,” katanya, termenung-menung.
Dia kemudian bercerita bahwa banyak pedagang di depan kantornya tak bisa berbahasa Indonesia. Mereka menatapnya heran saat dia menyapa, “Apakabar?” Namun, mereka berubah ramah begitu Eddie mengucap, “Pu haba?” ‘Pu haba’ sama dengan ‘apakabar’. Mereka justru membalasnya dalam Bahasa Inggris. Good morning!
KATA favorit Eddie yang selalu muncul dalam percakapan kami adalah ‘perahu’. Sore itu dia mengajak saya pergi ke tempat pembuatan perahu di Krueng Raya, sekitar 45 menit perjalanan mobil dari Banda Aceh. Seminggu sekali dia datang untuk melihat tukang-tukang bekerja, memperhatikan perahu-perahu dibuat.
“Tukang yang bekerja ada 14 orang, terikat kontrak, keahliannya dipelajari dari UN FAO. Tentang proyek Krueng Raya, baru pertama kali di Aceh, sebagai proyek percontohan. UN FAO mungkin baca koran atau tahu dari media, bahwa banyak bantuan yang tak bisa diserap karena mutu daripada kapal sendiri yang tidak bagus,” kata Bambang Irawan, salah seorang staf Eddie, yang ikut serta.
Bambang hampir setahun bekerja di kantor Eddie. “Dengan Eddie semua urusan jadi mudah, nggak rumit,” katanya. Bambang asal Malang, Jawa Timur. Ketika darurat militer di Aceh, dia memboyong anak dan istrinya ke Jawa.
Bangsal pembuatan perahu berada di tepi laut. Di belakang bangsal terdapat bangunan untuk menyimpan kayu. Kayu-kayu yang masih basah tak boleh disatukan dengan yang kering. Tiap balok kayu diberi tanda sesuai masa penjemuran.
Lima perahu berjajar dalam bangsal. Belum rampung pembuatannya. Dibutuhkan waktu 6 minggu untuk menyelesaikan lima perahu ini.
“Ini perahu Cadillac. Mahal. Tapi tahan lama. Perahu tradisional cuma tahan 3 tahun. Perahu ini tahan sampai 15 tahun,” kata Eddie, bangga.
Cadillac adalah merek mobil mewah buatan Amerika.
Paku untuk perahu terbuat dari baja, tahan karat. Kayu harus benar-benar kering agar tak mudah bocor. Perahu AIRO punya lebih banyak pasak penyangga di bagian dalam ketimbang perahu tradisional, sehingga dinding-dindingnya lebih kuat terhadap tekanan air. Bentuk perahu lebih ramping dan membuat lajunya lebih cepat. Perahu tradisional hanya punya satu lunas, sedang perahu AIRO tiga lunas.
“Lunas tiga membuat kapal kokoh dan kuat, awet dan tahan hempasan gelombang,” kata Bambang.
Balok memanjang di dasar perahu disebut lunas.
Sore itu Tengku Abdulhadi dari Langkah Raseuki, sebuah lembaga pemberdayaan ekonomi masyarakat, juga datang ke lokasi pembuatan perahu, langsung dari Lhokseumawe. Jarak Lhokseumawe-Banda Aceh sekitar 6 jam. Dia ingin AIRO menyumbangkan perahu untuk nelayan-nelayan di Lhokseumawe. Dia sudah mendengar tentang kualitas perahu Eddie.
“Tapi saya mau dibuat perjanjian hukumnya. Jadi nelayan tidak boleh menjual perahu ini. Barangsiapa yang menjual terkena sanksi. Mbak tahu sendirilah, kalau nelayan itu berhutang, terus dia bingung membayarnya, dia bisa bilang… ya sudah ambil saja itu perahu,” kata Abdulhadi.
Eddie tampak senang. Dia mondar-mandir menjelaskan ini itu pada Abdulhadi.
SABTU, 22 Januari 2006, dia mengundang saya makan malam. “Saya akan masak untuk kamu. Kamu suka apa? Udang? Oke, saya akan masak udang. Kamu harus datang sekitar jam setengah enam… untuk melihat matahari terbenam di atas Krueng Aceh, indah sekali.”
Saya melewati pasar yang ramai itu lagi, menyusuri lorong sempit, mencium aroma lumpur bercampur amis.
Sore itu saya memotret Eddie satu kali di tempat jemuran. Klik. Langit hitam, kelabu, jingga jadi latar belakang. Air Krueng Aceh berkilau di lensa.
“Dulu di sini berantakan sekali. Sampah tinggi sekali…” Eddie mengenang saat tsunami.
Malam itu dia memasak cap cay. Irisan jahe, bawang putih, kembang kol, wortel, udang… ditumis dalam kuali. Tak berapa lama nasi cap cay tersaji di meja.
“Kamu suka musik apa?”
“Hoobastank, Switchtoot, Finn Brothers,” kata saya.
Dia meraih iPod, mencari lagu grup musik kesayangan saya. Dia menggeleng putus asa. Tak ada. Dia suka Ray Charles dan Willie Nelson. Tapi akhirnya kami mendengar Eric Clapton.
Kami bercakap-cakap sambil makan. Ternyata warga biasa di Amerika ikut menyumbang dana untuk AIRO. Itu pula yang membuat dia dan kakak beradik Lyman, memilih yayasan sebagai bentuk organisasi mereka. “Bukan untuk bisnis, karena ada dana publik di situ,” katanya.
Dia bercerai dari istrinya sepuluh tahun lalu. Anak laki-lakinya, 19 tahun, baru kuliah tahun pertama di universitas di Amerika. Dia benci George Bush, presiden Amerika sekarang.
“Bush menciptakan banyak terorisme, mencipta kekerasan di mana-mana, karena kebijakannya. Tujuh puluh persen perlawanan rakyat di Irak karena melawan pendudukan tentara Amerika, tidak ada kaitan dengan Al Qaeda. Mengapa Hamas menang? Mengapa Iran membuat proyek nuklir? Mengapa di mana-mana muncul seperti ini?”
Tiba-tiba dia berhenti bicara. “Saya terlalu banyak bicara, ya?”
Dia juga cemas Aceh akan mengalami masa sulit setelah lembaga-lembaga bantuan asing pergi. Gelembung ekonomi pecah. Rakyat sengsara. Dia akan tinggal 18 bulan lagi di sini, setelah itu mungkin terbang ke Vietnam atau Australia. Dia suka mengelana.
“Meskipun saya sudah tidak di sini lagi. Nelayan-nelayan sudah pulih lagi kehidupannya, punya bisnis yang bagus, bisa membuat perahu yang bagus… Mereka akan ingat perahu Eddie, “ katanya.*
Sumber : Aceh Feature, 2 Februari 2006
Subscribe to:
Posts (Atom)

