Showing posts with label H. Show all posts
Showing posts with label H. Show all posts
Harjanto Halim, dari Agen Minuman Mineral ke Marimas
Jun 28, 2009
Harjanto Halim, dari Agen Minuman Mineral ke Marimas
Oleh : SN Wargatjie
SEKALIPUN orangtua adalah pengusaha sukses, belum tentu anaknya akan menjadi pengusaha sukses juga. Banyak faktor untuk menjadi sukses mengikuti jejak orangtua, antara lain pendidikan, finansial, dan interaksi sang anak terhadap stimulans dari luar.
ADA satu faktor lagi, yaitu faktor timing," kata Harjanto Halim (40) ketika ditemui di kediamannya di kawasan Telomoyo, Semarang. Minuman serbuk Marimas hasil produksinya berhasil menembus pasaran nasional. Kini dia mengeluarkan produk baru berupa minuman serbuk teh hijau, Maritea.
Menurut penuturan Harjanto, ketika minuman serbuk Marimas diluncurkan pertama kali pada akhir tahun 1994, pasaran minuman sejenis masih memiliki peluang besar untuk tampilnya minuman serbuk baru.
HARJANTO mengakui, istri juga mempunyai pengaruh cukup besar atas keberhasilan karier suami. "Saya senang, selama ini istri saya mendukung. Apa pun yang saya lakukan dalam usaha, dia mendukung. Bahkan, kemudian dia juga percaya dan mau susah. Pernah saya dibelikan rumah gedung besar oleh ayahnya sewaktu kami baru menikah, tetapi saya merasa tidak nyaman karena penghasilan saya waktu itu belum klop dengan rumah itu. Akhirnya rumah tersebut saya jual untuk kemudian saya belikan rumah lebih sederhana. Setelah itu saya bisa bekerja lebih tenang, dan istri saya mendukung keputusan itu," ungkap suami dari Lisa Ambarwati Dharmawan ini.
Sebelum berhasil dengan Marimas, Harjanto pernah jatuh bangun dengan macam-macam produk. Antara lain, dia pernah membuat minuman serbuk campuran susu-telur-madu-jahe, tetapi hanya bertahan sekitar satu tahun saja.
"Memang paling berat adalah saat menghadapi kegagalan. Untungnya waktu itu orangtua dan kakak-kakak saya cukup mendukung. Mereka mengatakan gagal tidak masalah dan mereka menganjurkan saya untuk mencoba lagi saja," ungkap anak kelima dari delapan anak pasangan Liem Liang Peng-So Sioe Dwan itu.
"Ayah tidak marah ketika saya mengalami kegagalan. Sebaliknya, Ayah memberi semangat untuk terus berusaha. Ayah mengatakan, belum tentu orang yang kelihatannya berhasil itu betul-betul berhasil karena mungkin saja utangnya banyak. Kata Ayah, ’Hao kan bu hao ce’, pepatah Mandarin yang artinya ’indah dipandang dari luar, tetapi tidak enak sebenarnya’. Memang pada saat mengalami kegagalan siapa yang mendampingi kita juga menentukan, bukan diri kita saja," tutur Harjanto.
HARJANTO Halim tidak mengandalkan kredit bank ketika dia memulai usahanya. Modal pertama berasal dari pemberian sang ayah. Ketika usahanya gagal dan modal ludes, dia tidak cari pinjaman bank, apalagi minta lagi modal dari orangtuanya.
Dia bekerja sebagai agen minuman mineral dan aneka snack dengan modal nama ayahnya yang sudah dikenal di kalangan pengusaha. Keuntungan dari usaha agen ini dia kumpulkan untuk modal usaha lagi, ditambah pinjaman modal tanpa bunga dari teman-teman.
"Asal punya jaringan cukup dan personal character yang bagus, teman-teman pasti mau bantu," kata ayah dari Dian Ekaputri (11) dan Bing Dimasputra (9) ini. Reputasi dan nama baik itu penting sekali, katanya menandaskan.
Ketika menjadi agen minuman mineral, dia sering terjun ke pasar-pasar di Jawa Tengah. Dari hasil komunikasi dengan pedagang di pasar dan didukung pengamatannya sendiri, dia melihat peluang pada pangsa minuman serbuk.
Saat itu di pasaran banyak beredar minuman serbuk panas, seperti jahe dan bandrek, dengan pelbagai merek. Sedangkan minuman serbuk yang dingin pada waktu itu hanya ada satu merek dan harganya relatif mahal sehingga hanya beredar di toko besar dan swalayan.
"Dari situ timbul ide membuat minuman serbuk dingin dengan harga terjangkau banyak orang," ungkap Harjanto yang segera mencoba mewujudkan idenya dengan serentetan percobaan.
"Percobaannya sederhana dengan peralatan yang juga sederhana. Untuk mendapat rasa yang cocok, saya cicipi sendiri, juga istri ikut mencicipi," ungkap lulusan teknologi pangan University of California, Davis, Amerika Serikat, tahun 1990 ini.
Marimas diluncurkan akhir tahun 1994. Namanya sederhana, tetapi persuasif. Produk pertama 500.000 kantong (sachet) yang dia sebarkan langsung ke pasar-pasar di Jawa Tengah. Pengalamannya sekitar empat tahun sebagai agen minuman mineral dan aneka snack banyak membantu dirinya dalam memasarkan produknya itu.
Pada awal pemasaran Marimas, dia tidak menggunakan iklan di media cetak maupun elektronik untuk promosi, melainkan hanya melalui pengeras suara di pasar yang dia kunjungi. "Waktu itu promosi yang saya lakukan konvensional dan distribusinya juga konvensional, yaitu dengan menitipkan produk saya kepada orang-orang yang saya kenal," tutur Harjanto yang kini menggunakan manajemen modern dengan merekrut tenaga profesional dan karyawannya dari 20 orang meningkat menjadi 300 orang.
Sekarang produksi Marimas mencapai 10 juta kantong per bulan. Omzet yang pada awal usaha sekitar Rp 100 juta sekarang Rp 2 miliar-Rp 3 miliar per bulan.
"Saya melihat prospek minuman serbuk masih cukup bagus. Memang mungkin nanti akan bersaing dengan minuman lain yang siap saji dalam bentuk botol. Tetapi, produk saya tetap lebih praktis, bisa dikantongi, dan untuk sajian di kantor-kantor tidak makan tempat," kata Harjanto.
DALAM kesibukannya mengelola Marimas, Haryanto masih menyediakan waktu untuk menjadi dosen paruh waktu teknologi pangan di Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang. Lelaki yang gemar olahraga renang dan membaca buku filsafat ini juga aktif sebagai Ketua Paguyuban Kopi Semawis (Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata), yang bertujuan antara lain menggali potensi ekonomi dan pariwisata di kawasan pecinan Semarang. (SN Wargatjie)
Sumber : Kompas, Jumat, 13 Mei 2005
Oleh : SN Wargatjie
SEKALIPUN orangtua adalah pengusaha sukses, belum tentu anaknya akan menjadi pengusaha sukses juga. Banyak faktor untuk menjadi sukses mengikuti jejak orangtua, antara lain pendidikan, finansial, dan interaksi sang anak terhadap stimulans dari luar.
ADA satu faktor lagi, yaitu faktor timing," kata Harjanto Halim (40) ketika ditemui di kediamannya di kawasan Telomoyo, Semarang. Minuman serbuk Marimas hasil produksinya berhasil menembus pasaran nasional. Kini dia mengeluarkan produk baru berupa minuman serbuk teh hijau, Maritea.
Menurut penuturan Harjanto, ketika minuman serbuk Marimas diluncurkan pertama kali pada akhir tahun 1994, pasaran minuman sejenis masih memiliki peluang besar untuk tampilnya minuman serbuk baru.
HARJANTO mengakui, istri juga mempunyai pengaruh cukup besar atas keberhasilan karier suami. "Saya senang, selama ini istri saya mendukung. Apa pun yang saya lakukan dalam usaha, dia mendukung. Bahkan, kemudian dia juga percaya dan mau susah. Pernah saya dibelikan rumah gedung besar oleh ayahnya sewaktu kami baru menikah, tetapi saya merasa tidak nyaman karena penghasilan saya waktu itu belum klop dengan rumah itu. Akhirnya rumah tersebut saya jual untuk kemudian saya belikan rumah lebih sederhana. Setelah itu saya bisa bekerja lebih tenang, dan istri saya mendukung keputusan itu," ungkap suami dari Lisa Ambarwati Dharmawan ini.
Sebelum berhasil dengan Marimas, Harjanto pernah jatuh bangun dengan macam-macam produk. Antara lain, dia pernah membuat minuman serbuk campuran susu-telur-madu-jahe, tetapi hanya bertahan sekitar satu tahun saja.
"Memang paling berat adalah saat menghadapi kegagalan. Untungnya waktu itu orangtua dan kakak-kakak saya cukup mendukung. Mereka mengatakan gagal tidak masalah dan mereka menganjurkan saya untuk mencoba lagi saja," ungkap anak kelima dari delapan anak pasangan Liem Liang Peng-So Sioe Dwan itu.
"Ayah tidak marah ketika saya mengalami kegagalan. Sebaliknya, Ayah memberi semangat untuk terus berusaha. Ayah mengatakan, belum tentu orang yang kelihatannya berhasil itu betul-betul berhasil karena mungkin saja utangnya banyak. Kata Ayah, ’Hao kan bu hao ce’, pepatah Mandarin yang artinya ’indah dipandang dari luar, tetapi tidak enak sebenarnya’. Memang pada saat mengalami kegagalan siapa yang mendampingi kita juga menentukan, bukan diri kita saja," tutur Harjanto.
HARJANTO Halim tidak mengandalkan kredit bank ketika dia memulai usahanya. Modal pertama berasal dari pemberian sang ayah. Ketika usahanya gagal dan modal ludes, dia tidak cari pinjaman bank, apalagi minta lagi modal dari orangtuanya.
Dia bekerja sebagai agen minuman mineral dan aneka snack dengan modal nama ayahnya yang sudah dikenal di kalangan pengusaha. Keuntungan dari usaha agen ini dia kumpulkan untuk modal usaha lagi, ditambah pinjaman modal tanpa bunga dari teman-teman.
"Asal punya jaringan cukup dan personal character yang bagus, teman-teman pasti mau bantu," kata ayah dari Dian Ekaputri (11) dan Bing Dimasputra (9) ini. Reputasi dan nama baik itu penting sekali, katanya menandaskan.
Ketika menjadi agen minuman mineral, dia sering terjun ke pasar-pasar di Jawa Tengah. Dari hasil komunikasi dengan pedagang di pasar dan didukung pengamatannya sendiri, dia melihat peluang pada pangsa minuman serbuk.
Saat itu di pasaran banyak beredar minuman serbuk panas, seperti jahe dan bandrek, dengan pelbagai merek. Sedangkan minuman serbuk yang dingin pada waktu itu hanya ada satu merek dan harganya relatif mahal sehingga hanya beredar di toko besar dan swalayan.
"Dari situ timbul ide membuat minuman serbuk dingin dengan harga terjangkau banyak orang," ungkap Harjanto yang segera mencoba mewujudkan idenya dengan serentetan percobaan.
"Percobaannya sederhana dengan peralatan yang juga sederhana. Untuk mendapat rasa yang cocok, saya cicipi sendiri, juga istri ikut mencicipi," ungkap lulusan teknologi pangan University of California, Davis, Amerika Serikat, tahun 1990 ini.
Marimas diluncurkan akhir tahun 1994. Namanya sederhana, tetapi persuasif. Produk pertama 500.000 kantong (sachet) yang dia sebarkan langsung ke pasar-pasar di Jawa Tengah. Pengalamannya sekitar empat tahun sebagai agen minuman mineral dan aneka snack banyak membantu dirinya dalam memasarkan produknya itu.
Pada awal pemasaran Marimas, dia tidak menggunakan iklan di media cetak maupun elektronik untuk promosi, melainkan hanya melalui pengeras suara di pasar yang dia kunjungi. "Waktu itu promosi yang saya lakukan konvensional dan distribusinya juga konvensional, yaitu dengan menitipkan produk saya kepada orang-orang yang saya kenal," tutur Harjanto yang kini menggunakan manajemen modern dengan merekrut tenaga profesional dan karyawannya dari 20 orang meningkat menjadi 300 orang.
Sekarang produksi Marimas mencapai 10 juta kantong per bulan. Omzet yang pada awal usaha sekitar Rp 100 juta sekarang Rp 2 miliar-Rp 3 miliar per bulan.
"Saya melihat prospek minuman serbuk masih cukup bagus. Memang mungkin nanti akan bersaing dengan minuman lain yang siap saji dalam bentuk botol. Tetapi, produk saya tetap lebih praktis, bisa dikantongi, dan untuk sajian di kantor-kantor tidak makan tempat," kata Harjanto.
DALAM kesibukannya mengelola Marimas, Haryanto masih menyediakan waktu untuk menjadi dosen paruh waktu teknologi pangan di Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang. Lelaki yang gemar olahraga renang dan membaca buku filsafat ini juga aktif sebagai Ketua Paguyuban Kopi Semawis (Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata), yang bertujuan antara lain menggali potensi ekonomi dan pariwisata di kawasan pecinan Semarang. (SN Wargatjie)
Sumber : Kompas, Jumat, 13 Mei 2005
Hotman Siahaan
Lebih Jauh Dengan : Prof Dr Hotman Siahaan
Pewawancara : Maria Hartiningsih
Ekspresif. Tanpa basa-basi. Itu cirinya yang khas. Pertemuan suatu malam pekan lalu di rumahnya di bilangan Mulyosari, Surabaya, dibuka dengan tawanya, ditingkahi celoteh manja putri bungsunya, Isara Sondang Ranggapuri (4).
Ucapan selamat atas pengukuhannya sebagai guru besar dalam bidang Ilmu Teori Sosial Modern pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) diterima dengan "ha-ha-ha-ha…". Tawa yang terbahak, lepas.
"Akhirnya saya ikuti yang formal itu," ujar Prof Dr Hotman Siahaan (54), setelah menyilakan tamunya duduk di ruang tamu. Katanya, surat keputusan pengangkatan itu sudah diterima tiga tahun lalu, tetapi ia terus menghindari upacara pengukuhan formal. Alasannya adalah pertanyaan, "Untuk apa?"
Padahal, sebagai Dekan FISIP Unair, ia seharusnya memberi contoh. "Mosok nggak mau jadi contoh," lanjutnya, dengan nada kelakar. Hanya saja, ia tidak mau ombyokan-istilah dalam bahasa Jawa untuk acara yang diperuntukkan bagi beberapa orang sekaligus. "Kalau mau pidato 10 menit, untuk apa? Pidato, bagi saya, adalah ikrar, komitmen saya secara intelektual," ujarnya. Permintaan itu akhirnya dipenuhi oleh Rektor.
Hotman mengaku "meminjam" momentum itu karena pilkadal-ia menyebut akronim pemilihan kepala daerah langsung sebagai pilkadal-segera dimulai. Banyak kerisauan yang ingin ia sampaikan.
Jadilah sebuah upacara pengukuhan yang unik karena yang hadir macam-macam kelompok yang dalam kehidupan politik tak selalu mudah bertemu. Mulai dari sesepuh Jawa Timur H Moh Noer, para pejabat tinggi di Jawa Timur, kiai terkemuka di Surabaya Gus Ali, mahasiswa, sampai rombongan bersarung dari Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Dan, tentu saja, para sahabat dan dosennya di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Mereka semua menyimak pidato pengukuhan berjudul Gerakan Sosial Politik Rakyat, Ontran-ontran Demokrasi, yang ia bacakan selama hampir 50 menit pada hari Sabtu, 14 Mei 2005.
Ketika ditanya mengapa menggunakan istilah "ontran-ontran", ia menjawab dengan potongan puisi bahasa Jawa dalam logat Batak.
"Ana wong edan nganggo montor sedan/ ana wong edan nganggo kursi jabatan/ ana maneh wong edan nganggo buku piulang/ nanging aku edan mergo wetengku keroncongan/ edan kuwi sewaliking kahanan/ dadi wong urip kudu wani blingsatan/ mergo weteng ora tau sing jenenge wareg tenan/ saiki kumpul ora kumpul pokoke ngedan".
(Ada orang edan naik mobil sedan/ ada orang edan mengendarai kursi jabatan/ ada orang edan menggunakan buku pelajaran/ tetapi aku edan karena perutku keroncongan/ edan itu keadaan yang terbalik-balik/ orang hidup harus berani jatuh bangun/ karena perut belum merasa benar-benar kenyang / sekarang kumpul enggak kumpul asal main gila).
"Itu potongan puisinya Emha Ainun Najib, dibaca waktu dia diminta memberi kuliah di FISIP Unair tahun 1984. Judulnya Pantun Mocopat. Puisinya panjang," kata Hotman. Ia membacakannya, "Dengan segala permintaan maaf kepada almarhum Raden Ngabehi Ronggowarsito. Beliau menggunakan bahasa Jawa yang sangat halus untuk mendeskripsikan ciri-ciri zaman edan."
MENGAPA Anda memilih puisi itu?
Saya menganggap itu cocok dengan tema saya. Ontran-ontran dalam bahasa Inggris adalah disturbance, kekacauan. Dalam bahasa Jawa ada geger yang paling tinggi, namanya geger kepati-pati, suatu situasi di mana orang saling membunuh. Di bawah itu ada geger, rerusuh. Baru ontran-ontran. Semua orang kacau. Enggak tahu mau ke mana. Dalam bahasa sosiologis, anomali. Situasi saat ini agak lebih keras dari anomali. Orang tidak sekadar bingung karena tidak ada standar dalam perilaku, tetapi orang mencari peluang dari situasi seperti ini.
Anda diangkat menjadi Guru Besar Teori Sosial Modern, tetapi memulai dengan cerita tentang zaman edannya Ronggowarsito…
Itu refleksi keadaan sekarang. Saya terinspirasi oleh laporan Sindhunata mengenai Konferensi Masyarakat Lali Jiwo di Yogyakarta. Ada pameran dan performing art, yang mengangkat Sumanto sebagai presiden dari Partai Republik Tulang Belulang. Sumanto itu kan orang yang makan orang. Ini sasmita betul. Wong ciak wong. Tanpa disadari, kita sudah saling memakan.
Bisa lebih dijelaskan?
Delapan tahun lalu, dunia politik adalah dunia risiko. Sekarang dunia itu memberikan surplus ekonomi yang luar biasa. Orang menjadi aktivis partai hanya beberapa saat tiba-tiba mendapat jabatan dan posisi yang sangat menentukan. Orang yang tahun lalu masih jadi tambal ban tiba-tiba mendapat take home pay Rp 40 juta sebulan karena menjadi anggota DPRD.
Di Kalimantan ada satu kabupaten yang konon jalan aspalnya hanya 27 kilometer, tetapi mempunyai 35 Landcruiser karena anggota DPRD-nya 35? Ini moralitas seperti apa? Kenapa pengalaman penindasan politik pada zaman Orde Baru tidak dijadikan pelajaran moral supaya tidak mengulang? Kenapa malah kembali dalam bentuk lain dan lebih sistemis?
Ini terjadi karena legislatif punya anggaran. Mereka berhak menentukan anggaran mana untuk mereka sebelum dijalankan eksekutif. UU kita memungkinkan itu terjadi. Ini yang menyebabkan seorang anggota DPRD bisa mendapat uang reses Rp 40 juta per minggu, yang harus dihabiskan untuk menemui konstituennya karena pengeluaran harus berbasis kinerja. Bagaimana mengeceknya?
Saya selalu bertanya, ke mana ribuan mahasiswa yang datang ke Senayan tahun 1998. Memang ada beberapa yang direkrut parpol. Tapi gambaran saya, sebagian besar lainnya mengepit map lusuh keluar masuk kantor dan jawabannya, "Tidak ada lowongan". Yang menikmati keuntungan politik sekarang ini adalah free riders, penunggang bebas, yang menikmati paling banyak, tapi datang paling akhir. Seperti pilkadal inilah.
(Menurut Hotman, biaya pilkada jauh lebih besar dari pemilihan presiden dan wakil presiden. Semua harus dibayar di tengah krisis. Sampai tahun 2008 akan dilakukan pemilihan 440 kepala daerah, sementara tahun 2009 sudah pemilu nasional lagi. Pilkada juga penuh risiko karena jarak antara yang dipilih dan pemilihnya lebih dekat dibandingkan dengan pilpres sehingga lebih rentan terjadi gesekan antarpendukung, apalagi social trust juga sudah dihancurkan. Petunjuknya adalah konflik horizontal di berbagai wilayah. Pada saat yang sama, kedewasaan berdemokrasi belum dibangun di dalam partai)
Seharusnya bagaimana pilkada itu?
Seharusnya menjadi batu ujian bagi peran-peran strategis masyarakat karena ini peluang pertama. Tapi, itu tidak muncul karena pilkadal pun hanya bagian dari demokrasi formal, tidak menjamin rakyat mengambil keputusan secara otonom.
Mengapa?
Rakyat dimarjinalkan. Terjadi subjective dissatisfaction. Rakyat disuruh memilih hasil pilihan parpol karena UU-nya tidak memungkinkan adanya calon independen. Jadi harus ikut "bis kota" dan itu tidak gratis. Akibatnya, bisa terjadi political efficacy karena pertanyaannya, apakah kalau kita ikut, partisipasi itu bisa mengubah keadaan. Yang diperlukan adalah political trust, kepercayaan bahwa pemilihan ini akan memberikan harapan yang lebih baik. Tapi, saat ini kepercayaan rakyat terhadap komponen-komponen sistem politik jauh menurun, apakah kepada eksekutif, legislatif, yudikatif, parpol, Komisi Pemilihan Umum, rekrutmen calon bupati, wali kota, dan sebagainya.
(Rendahnya kepercayaan rakyat, menurut Hotman, berpotensi mendorong lahirnya gerakan-gerakan sosial politik rakyat. Gerakan yang digerakkan oleh harapan-harapan baru dan keinginan untuk berubah itu biasanya muncul kalau disadari bahwa moralitas kekuasaan sudah tidak bisa ditoleransi).
Sekarang apa mengajarkan politik...
Ontran-ontran itu he-he-he…. Panggung politik mencerminkan segala sesuatu di masyarakat. Yang dipertontonkan di panggung politik kita, lebih-lebih dalam lima-enam tahun terakhir ini, mencerminkan apa yang disebut sebagai "kere munggah bale". Orang mendapat kenikmatan luar biasa tanpa perjuangan yang benar.
Ini terjadi karena social recruitment kita gagal di semua segi. Parpol yang muncul tak jelas platform dan ideologinya, berarti manajemen politik organisasi juga tidak jelas. Karena itu, seleksi kader yang benar juga tidak ada.
Dunia birokrasi mengalami masalah karena pada dasarnya yang tersisa adalah birokrasi zaman Orba. Seluruh mekanisme rekrutmen, kinerjanya masih Orba. Kita gagal melakukan reformasi di bidang administrasi negara.
Seluruh instrumen politik dalam mereformasi negara pada dasarnya hanya melahirkan proses demokrasi yang formal. Bukan kultur demokrasi. Jadi tidak ada substansi kesetaraan. Penghargaan terhadap keragaman tidak dibangun. Pragmatisme berkembang, bukannya pendidikan politik yang benar. Daya kritis masyarakat tidak terbangun dan pendidikan kesadaran kita terhadap sebuah nation juga tidak jalan.
Kenapa?
Karena sejak negara ini berdiri, yang dibangun bukan nation building, tetapi state building. Kalaupun ada, nation building versi negara, bukan versi masyarakat yang diberikan atas dasar pluralisme. Tak banyak yang menyadari, ketika state building menggurita, kekuatan rakyat sama sekali tak bisa dibangun. Kekuatan rakyat pada zaman Orba tidak terpelihara untuk melakukan bentuk-bentuk perlawanan atas dasar kesadaran sehingga kekosongan kekuasaan negara waktu itu diisi oleh eforia demokrasi. Parpol yang mengisi, sementara parpol adalah bagian dari pragmatisme untuk mendapatkan keuntungan dari situasi itu.
Bagaimana Anda memahami semua ini?
Sebagai time of trouble, menurut Toynbee. Toynbee juga menyebutnya senuisse iam saeculum. Suatu situasi di mana tiba- tiba zaman menjadi sangat tua. Ada tiga tandanya.
Pertama, terjadi krisis keteladanan. Siapa yang kita anggap teladan yang bersih dari KKN? Yang suka teriak-teriak itu pun kita tidak tahu.
Kedua, krisis tanggung jawab. Tak ada orang yang merasa bertanggung jawab padahal kita berada dalam krisis seperti ini Yang bertanggung jawab pun melemparkan tanggung jawabnya pada orang lain. Ketiga, kebohongan menjadi sarana berkomunikasi. Orang tahu satu sama lain dalam kebohongan. Bahasa yang dipakai juga bahasa kebohongan. Kalau tidak begitu, mereka tidak akan mendapat apa-apa. Kebohongan menjadi banal.
Ada yang bilang ini proses yang harus dilewati dalam demokrasi?
Ya, tapi berapa lama? Berapa biaya sosial yang harus dibayar? Siapa yang menyadari bahwa kita mengalami counter productive terhadap peradaban bangsa atas nama nasionalisme, atas nama perdamaian bangsa, dan melakukan sesuatu terhadapnya? Konflik terbuka terjadi di mana-mana dan tidak ada solusi apa pun karena akarnya tidak diselesaikan. Bagaimana kalau institusi yang bertanggung jawab untuk membangun kekuatan-kekuatan itu juga korup dan tidak ada yang mengontrol?
SUNGGUH tidak mudah menurunkan "tensi" pembicaraan kepada dunia yang paling dekat dengannya: kehidupan pribadinya. Suaranya yang terus meninggi menunjukkan kegelisahan dan mungkin kemarahannya kepada keadaan.
Sebagai ilmuwan ia merasa terusik oleh gambaran keserbaserakahan dan ketidakpedulian yang berkembang menjadi gaya hidup dominan. Ketulusan menjadi "barang" mahal karena kepentingan politik selalu memimpin di depan.
Kepedulian. Dalam kata itu terkandung prinsip yang tak bisa diusik karena dibangun oleh pengalaman yang paling personal. "Saya anak ketiga dari 11 bersaudara," papar laki-laki yang dilahirkan di Lumban Gorat, Balige, Sumatera Utara, 26 November 1951, ini dengan suara melembut. Sejak kecil ia memang bercita- cita menjadi guru. "Sekarang pun dan sampai kapan pun, saya tetap seorang guru," katanya.
Pencapaian sesungguhnya dari ayah tiga anak perempuan ini bukanlah gelar guru besar itu, tetapi kecintaan, keyakinan, dan ketangguhannya pada hidup dan kehidupan. Masa kecilnya tidak manis, tetapi seluruh pengalamannya itulah yang mengantar dia sampai ke tempatnya sekarang.
"Orangtua saya kuli perkebunan," ungkapnya.
Keluarganya pindah ke Simalungun pada zaman pemberontakan PRRI karena merasa tidak aman. Di lingkungan kerja ayahnya ia merasakan ketidakadilan atas dasar kelas sosial yang sangat menekan di semua lingkup kehidupan. "Anak-anak para asisten perkebunan sinder naik bus kalau ke sekolah. Kami anak buruh naik kereta api yang sering terlambat berangkatnya."
Pada hari Kamis, pukul 07.00, 31 Juli 1969, ia nekat loncat ke atas kereta api karena ujian dimulai pukul 07.15, dan… satu kakinya terlindas. Ia diselamatkan abangnya dan teman-temannya di kereta api itu, yang membawanya ke rumah sakit dengan naik truk. Seorang dokter Belanda menolongnya, tetapi tidak mampu mengembalikan kakinya seperti semula.
Bagi Hotman, luka batin akibat peristiwa di SMA Nommensen itu tak mudah disembuhkan. Namun, yang kemudian berkembang bukanlah dendam kelas, melainkan transformasi dari seluruh pengalaman menjadi semangat untuk berempati pada penderitaan dan menolak penindasan atas dasar kekuasaan dan perbedaan kelas sosial. Tentu dalam kapasitasnya sebagai ilmuwan.
Ia masuk UGM dengan perasaan minder, terutama karena pergulatan intelektual yang luar biasa di antara para mahasiswa kakak kelasnya. Ia memandang Parakitri, Daniel Dhakidae, dan Ashadi Siregar dengan penuh kekaguman.
Selama di Yogya, orangtuanya praktis tidak mengirim biaya yang berarti karena secara ekonomi memang tidak mampu. Namun, banyak teman membantu, di antaranya, Rizal Siregar, adik dari Ashadi Siregar, yang sering berusaha supaya Hotman bisa ikut makan. Bajunya hanya satu, diberi oleh Rizal, yang dipakai pagi, dicuci malam, dipakai lagi keesokan harinya.
Kalau malam ia ikut ngumpul di Kelenteng Gondomanan untuk ikut diskusi. "Kepala suku"-nya Ashadi. Pengarang buku Cintaku di Kampus Biru yang waktu itu sudah menjadi asisten dosen, dikatakan Hotman, sebagai orang yang paling berjasa dalam hidupnya.
Meski tinggal di Surabaya selama puluhan tahun, hubungan batinnya dengan kota Yogyakarta sangat kuat. Kehidupan di kota itulah yang membentuk dirinya dan meneguhkan prinsip hidupnya. Dosen pembimbing skripsinya di FISIP UGM, Dr Nasikun, tak pernah melihat Hotman berubah dalam soal itu.
Setelah lulus dari UGM sebenarnya ia ingin ke Irian, tetapi keburu "diambil" oleh Prof Sutandyo Wignyosoebroto untuk mendirikan Fakultas Ilmu-ilmu Sosial (ketentuan pemerintah menjadikannya sebagai FISIP dengan dua jurusan) di Unair.
Hotman membangun kariernya di Unair, hanya sempat "nyambi" tiga tahun di universitas swasta karena ingin berhenti menjadi "kontraktor", selalu menyewa-kontrak rumah.
Selama bertahun-tahun ia diminta menatar para sinder perkebunan yang akan naik pangkat dan secara rutin ia diminta Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) di Yogya memberi kuliah kepada semua asisten PTP yang akan naik pangkat. Dari pengalamannya, ia melihat tak ada yang berubah dalam sistem di perkebunan setelah perkebunan itu dinasionalisasi.
Beberapa tahun terakhir ini ia bolak- balik ke perkebunan teh di Simalungun untuk penelitian. "Penindasan yang luar biasa terjadi pada perempuan buruh perkebunan di situ. Kemarin melahirkan, hari ini sudah harus kerja. Kalau menolak, dipecat," katanya.
Kedekatannya dengan Prof Sartono Kartodirdjo dan Prof Umar Khayam membuat kebudayaan Jawa merembes ke alam bawah sadarnya, membuatnya mampu menangkap beragam condro dan sasmita. Dari tokoh pers Toeti Azis ia belajar memahami bahwa kekayaan sosial jauh lebih berharga bagi kehidupan yang lebih bermartabat.
Upacara perkawinannya dengan Dra Joice Cecilia Rorimpandey pada tahun 1984 disimpannya sebagai peristiwa yang paling berkesan karena pemberkatannya di gereja diantar oleh sahabat dan orang- orang terdekat yang agamanya berbeda.
Istri dan ketiga anak perempuannya itulah tungku cinta yang memberikan kekuatan saat ia mengalami kegalauan dan kebekuan jiwa. Pada mereka, ia menemukan arti hidup dan berkehidupan. Tidak berlebihan kalau, katanya, "Saya ingin selalu menemani mereka." Begitulah Hotman, yang suara kerasnya ditelan kelembutan saat menyapa, "Jo, Deang, Rea, Isara...".
Sumber : Kompas, Minggu, 22 Mei 2005
Pewawancara : Maria Hartiningsih
Ekspresif. Tanpa basa-basi. Itu cirinya yang khas. Pertemuan suatu malam pekan lalu di rumahnya di bilangan Mulyosari, Surabaya, dibuka dengan tawanya, ditingkahi celoteh manja putri bungsunya, Isara Sondang Ranggapuri (4).
Ucapan selamat atas pengukuhannya sebagai guru besar dalam bidang Ilmu Teori Sosial Modern pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) diterima dengan "ha-ha-ha-ha…". Tawa yang terbahak, lepas.
"Akhirnya saya ikuti yang formal itu," ujar Prof Dr Hotman Siahaan (54), setelah menyilakan tamunya duduk di ruang tamu. Katanya, surat keputusan pengangkatan itu sudah diterima tiga tahun lalu, tetapi ia terus menghindari upacara pengukuhan formal. Alasannya adalah pertanyaan, "Untuk apa?"
Padahal, sebagai Dekan FISIP Unair, ia seharusnya memberi contoh. "Mosok nggak mau jadi contoh," lanjutnya, dengan nada kelakar. Hanya saja, ia tidak mau ombyokan-istilah dalam bahasa Jawa untuk acara yang diperuntukkan bagi beberapa orang sekaligus. "Kalau mau pidato 10 menit, untuk apa? Pidato, bagi saya, adalah ikrar, komitmen saya secara intelektual," ujarnya. Permintaan itu akhirnya dipenuhi oleh Rektor.
Hotman mengaku "meminjam" momentum itu karena pilkadal-ia menyebut akronim pemilihan kepala daerah langsung sebagai pilkadal-segera dimulai. Banyak kerisauan yang ingin ia sampaikan.
Jadilah sebuah upacara pengukuhan yang unik karena yang hadir macam-macam kelompok yang dalam kehidupan politik tak selalu mudah bertemu. Mulai dari sesepuh Jawa Timur H Moh Noer, para pejabat tinggi di Jawa Timur, kiai terkemuka di Surabaya Gus Ali, mahasiswa, sampai rombongan bersarung dari Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Dan, tentu saja, para sahabat dan dosennya di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Mereka semua menyimak pidato pengukuhan berjudul Gerakan Sosial Politik Rakyat, Ontran-ontran Demokrasi, yang ia bacakan selama hampir 50 menit pada hari Sabtu, 14 Mei 2005.
Ketika ditanya mengapa menggunakan istilah "ontran-ontran", ia menjawab dengan potongan puisi bahasa Jawa dalam logat Batak.
"Ana wong edan nganggo montor sedan/ ana wong edan nganggo kursi jabatan/ ana maneh wong edan nganggo buku piulang/ nanging aku edan mergo wetengku keroncongan/ edan kuwi sewaliking kahanan/ dadi wong urip kudu wani blingsatan/ mergo weteng ora tau sing jenenge wareg tenan/ saiki kumpul ora kumpul pokoke ngedan".
(Ada orang edan naik mobil sedan/ ada orang edan mengendarai kursi jabatan/ ada orang edan menggunakan buku pelajaran/ tetapi aku edan karena perutku keroncongan/ edan itu keadaan yang terbalik-balik/ orang hidup harus berani jatuh bangun/ karena perut belum merasa benar-benar kenyang / sekarang kumpul enggak kumpul asal main gila).
"Itu potongan puisinya Emha Ainun Najib, dibaca waktu dia diminta memberi kuliah di FISIP Unair tahun 1984. Judulnya Pantun Mocopat. Puisinya panjang," kata Hotman. Ia membacakannya, "Dengan segala permintaan maaf kepada almarhum Raden Ngabehi Ronggowarsito. Beliau menggunakan bahasa Jawa yang sangat halus untuk mendeskripsikan ciri-ciri zaman edan."
MENGAPA Anda memilih puisi itu?
Saya menganggap itu cocok dengan tema saya. Ontran-ontran dalam bahasa Inggris adalah disturbance, kekacauan. Dalam bahasa Jawa ada geger yang paling tinggi, namanya geger kepati-pati, suatu situasi di mana orang saling membunuh. Di bawah itu ada geger, rerusuh. Baru ontran-ontran. Semua orang kacau. Enggak tahu mau ke mana. Dalam bahasa sosiologis, anomali. Situasi saat ini agak lebih keras dari anomali. Orang tidak sekadar bingung karena tidak ada standar dalam perilaku, tetapi orang mencari peluang dari situasi seperti ini.
Anda diangkat menjadi Guru Besar Teori Sosial Modern, tetapi memulai dengan cerita tentang zaman edannya Ronggowarsito…
Itu refleksi keadaan sekarang. Saya terinspirasi oleh laporan Sindhunata mengenai Konferensi Masyarakat Lali Jiwo di Yogyakarta. Ada pameran dan performing art, yang mengangkat Sumanto sebagai presiden dari Partai Republik Tulang Belulang. Sumanto itu kan orang yang makan orang. Ini sasmita betul. Wong ciak wong. Tanpa disadari, kita sudah saling memakan.
Bisa lebih dijelaskan?
Delapan tahun lalu, dunia politik adalah dunia risiko. Sekarang dunia itu memberikan surplus ekonomi yang luar biasa. Orang menjadi aktivis partai hanya beberapa saat tiba-tiba mendapat jabatan dan posisi yang sangat menentukan. Orang yang tahun lalu masih jadi tambal ban tiba-tiba mendapat take home pay Rp 40 juta sebulan karena menjadi anggota DPRD.
Di Kalimantan ada satu kabupaten yang konon jalan aspalnya hanya 27 kilometer, tetapi mempunyai 35 Landcruiser karena anggota DPRD-nya 35? Ini moralitas seperti apa? Kenapa pengalaman penindasan politik pada zaman Orde Baru tidak dijadikan pelajaran moral supaya tidak mengulang? Kenapa malah kembali dalam bentuk lain dan lebih sistemis?
Ini terjadi karena legislatif punya anggaran. Mereka berhak menentukan anggaran mana untuk mereka sebelum dijalankan eksekutif. UU kita memungkinkan itu terjadi. Ini yang menyebabkan seorang anggota DPRD bisa mendapat uang reses Rp 40 juta per minggu, yang harus dihabiskan untuk menemui konstituennya karena pengeluaran harus berbasis kinerja. Bagaimana mengeceknya?
Saya selalu bertanya, ke mana ribuan mahasiswa yang datang ke Senayan tahun 1998. Memang ada beberapa yang direkrut parpol. Tapi gambaran saya, sebagian besar lainnya mengepit map lusuh keluar masuk kantor dan jawabannya, "Tidak ada lowongan". Yang menikmati keuntungan politik sekarang ini adalah free riders, penunggang bebas, yang menikmati paling banyak, tapi datang paling akhir. Seperti pilkadal inilah.
(Menurut Hotman, biaya pilkada jauh lebih besar dari pemilihan presiden dan wakil presiden. Semua harus dibayar di tengah krisis. Sampai tahun 2008 akan dilakukan pemilihan 440 kepala daerah, sementara tahun 2009 sudah pemilu nasional lagi. Pilkada juga penuh risiko karena jarak antara yang dipilih dan pemilihnya lebih dekat dibandingkan dengan pilpres sehingga lebih rentan terjadi gesekan antarpendukung, apalagi social trust juga sudah dihancurkan. Petunjuknya adalah konflik horizontal di berbagai wilayah. Pada saat yang sama, kedewasaan berdemokrasi belum dibangun di dalam partai)
Seharusnya bagaimana pilkada itu?
Seharusnya menjadi batu ujian bagi peran-peran strategis masyarakat karena ini peluang pertama. Tapi, itu tidak muncul karena pilkadal pun hanya bagian dari demokrasi formal, tidak menjamin rakyat mengambil keputusan secara otonom.
Mengapa?
Rakyat dimarjinalkan. Terjadi subjective dissatisfaction. Rakyat disuruh memilih hasil pilihan parpol karena UU-nya tidak memungkinkan adanya calon independen. Jadi harus ikut "bis kota" dan itu tidak gratis. Akibatnya, bisa terjadi political efficacy karena pertanyaannya, apakah kalau kita ikut, partisipasi itu bisa mengubah keadaan. Yang diperlukan adalah political trust, kepercayaan bahwa pemilihan ini akan memberikan harapan yang lebih baik. Tapi, saat ini kepercayaan rakyat terhadap komponen-komponen sistem politik jauh menurun, apakah kepada eksekutif, legislatif, yudikatif, parpol, Komisi Pemilihan Umum, rekrutmen calon bupati, wali kota, dan sebagainya.
(Rendahnya kepercayaan rakyat, menurut Hotman, berpotensi mendorong lahirnya gerakan-gerakan sosial politik rakyat. Gerakan yang digerakkan oleh harapan-harapan baru dan keinginan untuk berubah itu biasanya muncul kalau disadari bahwa moralitas kekuasaan sudah tidak bisa ditoleransi).
Sekarang apa mengajarkan politik...
Ontran-ontran itu he-he-he…. Panggung politik mencerminkan segala sesuatu di masyarakat. Yang dipertontonkan di panggung politik kita, lebih-lebih dalam lima-enam tahun terakhir ini, mencerminkan apa yang disebut sebagai "kere munggah bale". Orang mendapat kenikmatan luar biasa tanpa perjuangan yang benar.
Ini terjadi karena social recruitment kita gagal di semua segi. Parpol yang muncul tak jelas platform dan ideologinya, berarti manajemen politik organisasi juga tidak jelas. Karena itu, seleksi kader yang benar juga tidak ada.
Dunia birokrasi mengalami masalah karena pada dasarnya yang tersisa adalah birokrasi zaman Orba. Seluruh mekanisme rekrutmen, kinerjanya masih Orba. Kita gagal melakukan reformasi di bidang administrasi negara.
Seluruh instrumen politik dalam mereformasi negara pada dasarnya hanya melahirkan proses demokrasi yang formal. Bukan kultur demokrasi. Jadi tidak ada substansi kesetaraan. Penghargaan terhadap keragaman tidak dibangun. Pragmatisme berkembang, bukannya pendidikan politik yang benar. Daya kritis masyarakat tidak terbangun dan pendidikan kesadaran kita terhadap sebuah nation juga tidak jalan.
Kenapa?
Karena sejak negara ini berdiri, yang dibangun bukan nation building, tetapi state building. Kalaupun ada, nation building versi negara, bukan versi masyarakat yang diberikan atas dasar pluralisme. Tak banyak yang menyadari, ketika state building menggurita, kekuatan rakyat sama sekali tak bisa dibangun. Kekuatan rakyat pada zaman Orba tidak terpelihara untuk melakukan bentuk-bentuk perlawanan atas dasar kesadaran sehingga kekosongan kekuasaan negara waktu itu diisi oleh eforia demokrasi. Parpol yang mengisi, sementara parpol adalah bagian dari pragmatisme untuk mendapatkan keuntungan dari situasi itu.
Bagaimana Anda memahami semua ini?
Sebagai time of trouble, menurut Toynbee. Toynbee juga menyebutnya senuisse iam saeculum. Suatu situasi di mana tiba- tiba zaman menjadi sangat tua. Ada tiga tandanya.
Pertama, terjadi krisis keteladanan. Siapa yang kita anggap teladan yang bersih dari KKN? Yang suka teriak-teriak itu pun kita tidak tahu.
Kedua, krisis tanggung jawab. Tak ada orang yang merasa bertanggung jawab padahal kita berada dalam krisis seperti ini Yang bertanggung jawab pun melemparkan tanggung jawabnya pada orang lain. Ketiga, kebohongan menjadi sarana berkomunikasi. Orang tahu satu sama lain dalam kebohongan. Bahasa yang dipakai juga bahasa kebohongan. Kalau tidak begitu, mereka tidak akan mendapat apa-apa. Kebohongan menjadi banal.
Ada yang bilang ini proses yang harus dilewati dalam demokrasi?
Ya, tapi berapa lama? Berapa biaya sosial yang harus dibayar? Siapa yang menyadari bahwa kita mengalami counter productive terhadap peradaban bangsa atas nama nasionalisme, atas nama perdamaian bangsa, dan melakukan sesuatu terhadapnya? Konflik terbuka terjadi di mana-mana dan tidak ada solusi apa pun karena akarnya tidak diselesaikan. Bagaimana kalau institusi yang bertanggung jawab untuk membangun kekuatan-kekuatan itu juga korup dan tidak ada yang mengontrol?
SUNGGUH tidak mudah menurunkan "tensi" pembicaraan kepada dunia yang paling dekat dengannya: kehidupan pribadinya. Suaranya yang terus meninggi menunjukkan kegelisahan dan mungkin kemarahannya kepada keadaan.
Sebagai ilmuwan ia merasa terusik oleh gambaran keserbaserakahan dan ketidakpedulian yang berkembang menjadi gaya hidup dominan. Ketulusan menjadi "barang" mahal karena kepentingan politik selalu memimpin di depan.
Kepedulian. Dalam kata itu terkandung prinsip yang tak bisa diusik karena dibangun oleh pengalaman yang paling personal. "Saya anak ketiga dari 11 bersaudara," papar laki-laki yang dilahirkan di Lumban Gorat, Balige, Sumatera Utara, 26 November 1951, ini dengan suara melembut. Sejak kecil ia memang bercita- cita menjadi guru. "Sekarang pun dan sampai kapan pun, saya tetap seorang guru," katanya.
Pencapaian sesungguhnya dari ayah tiga anak perempuan ini bukanlah gelar guru besar itu, tetapi kecintaan, keyakinan, dan ketangguhannya pada hidup dan kehidupan. Masa kecilnya tidak manis, tetapi seluruh pengalamannya itulah yang mengantar dia sampai ke tempatnya sekarang.
"Orangtua saya kuli perkebunan," ungkapnya.
Keluarganya pindah ke Simalungun pada zaman pemberontakan PRRI karena merasa tidak aman. Di lingkungan kerja ayahnya ia merasakan ketidakadilan atas dasar kelas sosial yang sangat menekan di semua lingkup kehidupan. "Anak-anak para asisten perkebunan sinder naik bus kalau ke sekolah. Kami anak buruh naik kereta api yang sering terlambat berangkatnya."
Pada hari Kamis, pukul 07.00, 31 Juli 1969, ia nekat loncat ke atas kereta api karena ujian dimulai pukul 07.15, dan… satu kakinya terlindas. Ia diselamatkan abangnya dan teman-temannya di kereta api itu, yang membawanya ke rumah sakit dengan naik truk. Seorang dokter Belanda menolongnya, tetapi tidak mampu mengembalikan kakinya seperti semula.
Bagi Hotman, luka batin akibat peristiwa di SMA Nommensen itu tak mudah disembuhkan. Namun, yang kemudian berkembang bukanlah dendam kelas, melainkan transformasi dari seluruh pengalaman menjadi semangat untuk berempati pada penderitaan dan menolak penindasan atas dasar kekuasaan dan perbedaan kelas sosial. Tentu dalam kapasitasnya sebagai ilmuwan.
Ia masuk UGM dengan perasaan minder, terutama karena pergulatan intelektual yang luar biasa di antara para mahasiswa kakak kelasnya. Ia memandang Parakitri, Daniel Dhakidae, dan Ashadi Siregar dengan penuh kekaguman.
Selama di Yogya, orangtuanya praktis tidak mengirim biaya yang berarti karena secara ekonomi memang tidak mampu. Namun, banyak teman membantu, di antaranya, Rizal Siregar, adik dari Ashadi Siregar, yang sering berusaha supaya Hotman bisa ikut makan. Bajunya hanya satu, diberi oleh Rizal, yang dipakai pagi, dicuci malam, dipakai lagi keesokan harinya.
Kalau malam ia ikut ngumpul di Kelenteng Gondomanan untuk ikut diskusi. "Kepala suku"-nya Ashadi. Pengarang buku Cintaku di Kampus Biru yang waktu itu sudah menjadi asisten dosen, dikatakan Hotman, sebagai orang yang paling berjasa dalam hidupnya.
Meski tinggal di Surabaya selama puluhan tahun, hubungan batinnya dengan kota Yogyakarta sangat kuat. Kehidupan di kota itulah yang membentuk dirinya dan meneguhkan prinsip hidupnya. Dosen pembimbing skripsinya di FISIP UGM, Dr Nasikun, tak pernah melihat Hotman berubah dalam soal itu.
Setelah lulus dari UGM sebenarnya ia ingin ke Irian, tetapi keburu "diambil" oleh Prof Sutandyo Wignyosoebroto untuk mendirikan Fakultas Ilmu-ilmu Sosial (ketentuan pemerintah menjadikannya sebagai FISIP dengan dua jurusan) di Unair.
Hotman membangun kariernya di Unair, hanya sempat "nyambi" tiga tahun di universitas swasta karena ingin berhenti menjadi "kontraktor", selalu menyewa-kontrak rumah.
Selama bertahun-tahun ia diminta menatar para sinder perkebunan yang akan naik pangkat dan secara rutin ia diminta Lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) di Yogya memberi kuliah kepada semua asisten PTP yang akan naik pangkat. Dari pengalamannya, ia melihat tak ada yang berubah dalam sistem di perkebunan setelah perkebunan itu dinasionalisasi.
Beberapa tahun terakhir ini ia bolak- balik ke perkebunan teh di Simalungun untuk penelitian. "Penindasan yang luar biasa terjadi pada perempuan buruh perkebunan di situ. Kemarin melahirkan, hari ini sudah harus kerja. Kalau menolak, dipecat," katanya.
Kedekatannya dengan Prof Sartono Kartodirdjo dan Prof Umar Khayam membuat kebudayaan Jawa merembes ke alam bawah sadarnya, membuatnya mampu menangkap beragam condro dan sasmita. Dari tokoh pers Toeti Azis ia belajar memahami bahwa kekayaan sosial jauh lebih berharga bagi kehidupan yang lebih bermartabat.
Upacara perkawinannya dengan Dra Joice Cecilia Rorimpandey pada tahun 1984 disimpannya sebagai peristiwa yang paling berkesan karena pemberkatannya di gereja diantar oleh sahabat dan orang- orang terdekat yang agamanya berbeda.
Istri dan ketiga anak perempuannya itulah tungku cinta yang memberikan kekuatan saat ia mengalami kegalauan dan kebekuan jiwa. Pada mereka, ia menemukan arti hidup dan berkehidupan. Tidak berlebihan kalau, katanya, "Saya ingin selalu menemani mereka." Begitulah Hotman, yang suara kerasnya ditelan kelembutan saat menyapa, "Jo, Deang, Rea, Isara...".
Sumber : Kompas, Minggu, 22 Mei 2005
Hanafi, Sungai, dan Pajalan Kemalaman
Hanafi, Sungai, dan Pejalan Kemalaman
Oleh : Dahono Fitrianto dan Putu Fajar Arcana
DULU, tahun 1996, ketika perupa Hanafi (45) membangun studionya di Desa Maruyung, Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Kota Depok, Jawa Barat, di atas hamparan alang-alang dan bebatuan, ia bercita-cita menyepi. Lokasi ini sampai kini pun rada sulit dijangkau. Lalu ia bayangkan menggambar di tepian Sungai Sanggrahan, pastilah mendatangkan bergulung-gulung inspirasi. Apalagi dilengkapi kolam dengan angsa- angsa yang tampak bersahabat karib dengan puluhan ekor ikan mas. Pokoknya itu bayangan ketenangan dan romantisme berkesenian yang mirip-mirip laku para empu.
KENYATAAN dan cita-cita bisa saja dua hal yang tidak harus saling menyetujui. Dan keluarga Hanafi, istrinya bernama Adinda Lufvianti (41) dan anaknya, Rizki Asasi (9), belakangan menyadari bahwa menyepi adalah pilihan egois di tengah begitu banyak para "pejalan" yang kemalaman. Mereka berjalan dengan berbagai motivasi, terutama dengan alasan "menimba" ilmu dari Hanafi, sehingga menjadi perupa yang dianggap "sukses".
Di luar itu ada pula yang datang sekadar mencari tempuh berteduh dari hujan dan terik, dari haus dan kelaparan. Lainnya datang hanya ingin ngobrol semalaman....
PARA pengamen dari Stasiun Kereta Api Depok pernah tinggal di rumahnya sampai jumlahnya mencapai 50 orang. "Semua mereka tinggal di sini dulu, di studio saya...," tutur Hanafi suatu siang, yang tentu saja berkesan karena obrolan berlangsung di sebuah gazebo, yang terletak di tepi kolam dengan ikan dan angsa yang berenang hilir mudik. Sedikit ke utara, ada suara gemericik air di sungai.
Adinda sebagai ibu rumah tangga mendapatkan pekerjaan tambahan. "Saya setiap saat mengontrol karung beras dan persediaan mi untuk mereka," tuturnya.
Memang kemudian cerita mengurusi anak-anak jalanan ini berakhir dengan ending yang kurang menyenangkan. Hanafi harus berurusan dengan polisi gara-gara di antara pengamen itu terlibat dalam kasus kriminal pemalsuan uang. "Padahal uang itu minta dari saya karena ia bilang neneknya sakit keras," tutur perupa bertubuh kecil ini.
Namun, rupanya penerimaan Hanafi yang begitu terbuka terhadap para tetamunya itu dengan cepat tersiar. Ketika seluruh gugusan rumahnya, selain rumah juga ada perpustakaan, studio, guest house, dan mushala, yang berdiri di atas tanah seluas 3.400 meter persegi, selesai dibangun, para tamu datang dan pergi tanpa henti.
"Bahkan ada yang tinggal di sini sampai tahunan untuk belajar melukis," kata perupa lulusan SSRI Yogyakarta ini. Pernah pula rumah Hanafi-Adinda harus menampung seniman asal Kanada yang jumlahnya lebih dari 10 orang atau para seniman bawaan Inisisri sampai 20 orang.
"Praktis seluruh keperluan mereka kami siapkan.... Dan itu sudah kami budget...," timpal Adinda. Ia menambahkan, saat ini rumahnya sedang kedatangan koreografer asal Kanada, Maxine Heppner. "Sudah dua minggu ini di rumah," kata Adinda yang menikah dengan Hanafi tahun 1994.
Gilanya lagi, para tamu itu datang seperti tak kenal waktu. "Ada yang selalu datang subuh-subuh dengan menggedor pintu... ya kami harus terima," kata Hanafi.
TERPAKSA pada saat-saat kehadiran tamu, Hanafi merelakan studionya dimanfaatkan para tamunya. "Tapi kadang kita berbagi. Prinsipnya saya senang kedatangan mereka. Saya bisa dialog, tangkap inspirasi, dan filosofi dari mereka," kata putra ketiga dari pasangan almarhum Muchtarom dan Umi Hani itu.
Sebagai orang yang dilahirkan di tepi sebuah sungai di Purworejo, Jawa Tengah, Hanafi memang tak bisa lepas dari kultur pedesaan. Oleh karena itulah ia memilih membangun studionya di tengah-tengah perkampungan, tetapi dengan semangat yang berbeda. "Saya sengaja menjadikan rumah ini sebagai ruang terbuka dan siapa saja boleh datang. Itu makanya ada perpustakaan, di mana penduduk sekitar bisa membaca sepuasnya," ujar Hanafi.
Keterbukaan itu, lanjutnya, tidak hanya pergaulan, tetapi lebih-lebih energi untuk bekerja. "Kasarnya sih saya dapatkan sesuatu dari kesenian, saya harus kembalikan lagi untuk kesenian," kata Hanafi.
Barangkali itu pula yang membuat karya-karya Hanafi seperti mengalir, seperti air di Sungai Sanggrahan. Lukisan-lukisan abstraknya seperti menyimpan kedalaman, di mana mata air kultur desanya membayang.
Sudah pasti pencapaian ini tidak mudah. Semasa SSRI dulu, untuk meneruskan sekolah Hanafi mesti pasrah menjadi pelukis potret dan bahkan perajin mebel. Dan ketika mencoba mengadu untung ke Jakarta, ia malah terlempar menjadi pencuci piring di sebuah hotel.
"Sampai-sampai ia dicari temannya agar mau ikut ujian," tutur Adinda. Hanafi hanya senyum kecil. Barangkali ia membayangkan, jika bukan karena "jasa" teman, perjalanannya sebagai perupa belum tentu sampai seperti saat ini.
Berbagai pengalaman pahit itulah yang mewarnai sikap terbuka Hanafi terhadap kesulitan orang lain. Karena itu, (ini bukan undangan) bagi siapa saja yang kemalaman di Jakarta, pintu rumah keluarga Hanafi senantiasa terbuka. Dan para pejalan itu tak hanya akan mendapatkan tempat berteduh, tetapi juga ilmu dari hasil berdiskusi, bila perlu semalaman, dengan Hanafi.
"Dulu ada mahasiswa dari Bandung tinggal di sini tahunan, mau belajar melukis dari Hanafi, kami terima...," kata Adinda.
MUNGKIN pada satu sisi Hanafi adalah seseorang romantis. Ia ingin mendapatkan energi penciptaan dari berbagai kenyataan alam desa, seperti sungai yang asri sebagaimana dahulu juga ada di Purworejo. Namun, pada sisi lain ia tak bisa lari dari kenyataan seni rupa sekarang, yang mesti terus-menerus digeluti dengan pembaruan pemikiran. Di situ bisa dimengerti mengapa ia membuka lebar-lebar rumahnya untuk dikunjungi, bahkan oleh mereka yang bukan seniman.
"Setiap sore warga sekitar datang untuk membaca majalah, koran, atau buku- buku di perpustakaan kami," kata Hanafi. Keterbukaan itu tidak semata bentuk-bentuk sosialisasi, tetapi lebih-lebih sebuah dobrakan terhadap kesan seniman yang "angker dan tidak gaul" itu.
"Semua yang kita dapat dari alam, kita kembalikan kepada alam, apa yang saya nikmati dari kesenian, harus saya kembalikan untuk kesenian...," tegas Hanafi. Itu prinsip keseimbangan untuk tetap eksis di dunia seni rupa yang makin riuh rendah ini.... (DAHONO FITRIANTO/ PUTU FAJAR ARCANA)
Sumber : Kompas, Kamis, 26 Mei 2005
Oleh : Dahono Fitrianto dan Putu Fajar Arcana
DULU, tahun 1996, ketika perupa Hanafi (45) membangun studionya di Desa Maruyung, Kelurahan Rangkapan Jaya Baru, Kota Depok, Jawa Barat, di atas hamparan alang-alang dan bebatuan, ia bercita-cita menyepi. Lokasi ini sampai kini pun rada sulit dijangkau. Lalu ia bayangkan menggambar di tepian Sungai Sanggrahan, pastilah mendatangkan bergulung-gulung inspirasi. Apalagi dilengkapi kolam dengan angsa- angsa yang tampak bersahabat karib dengan puluhan ekor ikan mas. Pokoknya itu bayangan ketenangan dan romantisme berkesenian yang mirip-mirip laku para empu.
KENYATAAN dan cita-cita bisa saja dua hal yang tidak harus saling menyetujui. Dan keluarga Hanafi, istrinya bernama Adinda Lufvianti (41) dan anaknya, Rizki Asasi (9), belakangan menyadari bahwa menyepi adalah pilihan egois di tengah begitu banyak para "pejalan" yang kemalaman. Mereka berjalan dengan berbagai motivasi, terutama dengan alasan "menimba" ilmu dari Hanafi, sehingga menjadi perupa yang dianggap "sukses".
Di luar itu ada pula yang datang sekadar mencari tempuh berteduh dari hujan dan terik, dari haus dan kelaparan. Lainnya datang hanya ingin ngobrol semalaman....
PARA pengamen dari Stasiun Kereta Api Depok pernah tinggal di rumahnya sampai jumlahnya mencapai 50 orang. "Semua mereka tinggal di sini dulu, di studio saya...," tutur Hanafi suatu siang, yang tentu saja berkesan karena obrolan berlangsung di sebuah gazebo, yang terletak di tepi kolam dengan ikan dan angsa yang berenang hilir mudik. Sedikit ke utara, ada suara gemericik air di sungai.
Adinda sebagai ibu rumah tangga mendapatkan pekerjaan tambahan. "Saya setiap saat mengontrol karung beras dan persediaan mi untuk mereka," tuturnya.
Memang kemudian cerita mengurusi anak-anak jalanan ini berakhir dengan ending yang kurang menyenangkan. Hanafi harus berurusan dengan polisi gara-gara di antara pengamen itu terlibat dalam kasus kriminal pemalsuan uang. "Padahal uang itu minta dari saya karena ia bilang neneknya sakit keras," tutur perupa bertubuh kecil ini.
Namun, rupanya penerimaan Hanafi yang begitu terbuka terhadap para tetamunya itu dengan cepat tersiar. Ketika seluruh gugusan rumahnya, selain rumah juga ada perpustakaan, studio, guest house, dan mushala, yang berdiri di atas tanah seluas 3.400 meter persegi, selesai dibangun, para tamu datang dan pergi tanpa henti.
"Bahkan ada yang tinggal di sini sampai tahunan untuk belajar melukis," kata perupa lulusan SSRI Yogyakarta ini. Pernah pula rumah Hanafi-Adinda harus menampung seniman asal Kanada yang jumlahnya lebih dari 10 orang atau para seniman bawaan Inisisri sampai 20 orang.
"Praktis seluruh keperluan mereka kami siapkan.... Dan itu sudah kami budget...," timpal Adinda. Ia menambahkan, saat ini rumahnya sedang kedatangan koreografer asal Kanada, Maxine Heppner. "Sudah dua minggu ini di rumah," kata Adinda yang menikah dengan Hanafi tahun 1994.
Gilanya lagi, para tamu itu datang seperti tak kenal waktu. "Ada yang selalu datang subuh-subuh dengan menggedor pintu... ya kami harus terima," kata Hanafi.
TERPAKSA pada saat-saat kehadiran tamu, Hanafi merelakan studionya dimanfaatkan para tamunya. "Tapi kadang kita berbagi. Prinsipnya saya senang kedatangan mereka. Saya bisa dialog, tangkap inspirasi, dan filosofi dari mereka," kata putra ketiga dari pasangan almarhum Muchtarom dan Umi Hani itu.
Sebagai orang yang dilahirkan di tepi sebuah sungai di Purworejo, Jawa Tengah, Hanafi memang tak bisa lepas dari kultur pedesaan. Oleh karena itulah ia memilih membangun studionya di tengah-tengah perkampungan, tetapi dengan semangat yang berbeda. "Saya sengaja menjadikan rumah ini sebagai ruang terbuka dan siapa saja boleh datang. Itu makanya ada perpustakaan, di mana penduduk sekitar bisa membaca sepuasnya," ujar Hanafi.
Keterbukaan itu, lanjutnya, tidak hanya pergaulan, tetapi lebih-lebih energi untuk bekerja. "Kasarnya sih saya dapatkan sesuatu dari kesenian, saya harus kembalikan lagi untuk kesenian," kata Hanafi.
Barangkali itu pula yang membuat karya-karya Hanafi seperti mengalir, seperti air di Sungai Sanggrahan. Lukisan-lukisan abstraknya seperti menyimpan kedalaman, di mana mata air kultur desanya membayang.
Sudah pasti pencapaian ini tidak mudah. Semasa SSRI dulu, untuk meneruskan sekolah Hanafi mesti pasrah menjadi pelukis potret dan bahkan perajin mebel. Dan ketika mencoba mengadu untung ke Jakarta, ia malah terlempar menjadi pencuci piring di sebuah hotel.
"Sampai-sampai ia dicari temannya agar mau ikut ujian," tutur Adinda. Hanafi hanya senyum kecil. Barangkali ia membayangkan, jika bukan karena "jasa" teman, perjalanannya sebagai perupa belum tentu sampai seperti saat ini.
Berbagai pengalaman pahit itulah yang mewarnai sikap terbuka Hanafi terhadap kesulitan orang lain. Karena itu, (ini bukan undangan) bagi siapa saja yang kemalaman di Jakarta, pintu rumah keluarga Hanafi senantiasa terbuka. Dan para pejalan itu tak hanya akan mendapatkan tempat berteduh, tetapi juga ilmu dari hasil berdiskusi, bila perlu semalaman, dengan Hanafi.
"Dulu ada mahasiswa dari Bandung tinggal di sini tahunan, mau belajar melukis dari Hanafi, kami terima...," kata Adinda.
MUNGKIN pada satu sisi Hanafi adalah seseorang romantis. Ia ingin mendapatkan energi penciptaan dari berbagai kenyataan alam desa, seperti sungai yang asri sebagaimana dahulu juga ada di Purworejo. Namun, pada sisi lain ia tak bisa lari dari kenyataan seni rupa sekarang, yang mesti terus-menerus digeluti dengan pembaruan pemikiran. Di situ bisa dimengerti mengapa ia membuka lebar-lebar rumahnya untuk dikunjungi, bahkan oleh mereka yang bukan seniman.
"Setiap sore warga sekitar datang untuk membaca majalah, koran, atau buku- buku di perpustakaan kami," kata Hanafi. Keterbukaan itu tidak semata bentuk-bentuk sosialisasi, tetapi lebih-lebih sebuah dobrakan terhadap kesan seniman yang "angker dan tidak gaul" itu.
"Semua yang kita dapat dari alam, kita kembalikan kepada alam, apa yang saya nikmati dari kesenian, harus saya kembalikan untuk kesenian...," tegas Hanafi. Itu prinsip keseimbangan untuk tetap eksis di dunia seni rupa yang makin riuh rendah ini.... (DAHONO FITRIANTO/ PUTU FAJAR ARCANA)
Sumber : Kompas, Kamis, 26 Mei 2005
Henk van Mastrigt : Bruder Henk, saudara Alam Semesta
Bruder Henk, Saudara Alam Semesta
Oleh : Gesit Ariyanto
BRUDER Henk (59) tiba-tiba memutus pembicaraan dan batal menyuap nasi. Sorot matanya tajam mengikuti gerakan benda mungil tak beraturan di sela-sela pepohonan taman di belakang sebuah rumah di kawasan Jakarta Selatan. "Itu kupu-kupu pendatang di Papua," kata dia menelisik. Bruder kelahiran Heerlen, Belanda, itu selain seorang misionaris juga dikenal sebagai pencinta serangga sejati, khususnya kupu-kupu.
KETAJAMAN matanya mengidentifikasi kupu-kupu sebaran Papua terasah sejak tahun 1974, awal pertama kali tiba di pulau tersebut. Sejak itu, seakan tiada hari tanpa observasi kupu-kupu. Hingga kini, jumlah koleksinya berkisar 40.000 ekor dengan 4.000-an jenis. Semua disimpan di ruangan khusus; gelap dan berpendingin udara.
Di sana, deretan lemari berisi ribuan rak berpenutup kaca. Semua ia tangani sendiri. Baru sekitar dua tahun lalu dua dosen dan satu mahasiswa Universitas Cenderawasih (Uncen) membantu komputerisasi data. "Awalnya saya minta kiriman alat pengawet dari ayah," kata bruder yang berayah peminat serangga amatir itu.
Minat yang ditularkan sang ayah itulah yang katanya membuat dirinya tak bisa berjauhan dari dunia seputar serangga, khususnya kupu-kupu. Dan, hutan-hutan Papua pun menjadi "laboratorium" alam yang tak habis-habis ia jelajahi. Beberapa seminar pun ia ikuti.
Intensitas penjelajahan di pedalaman Papua membuatnya kagum atas pengetahuan masyarakat adat terhadap fenomena alam. Pengetahuan mereka terhadap jenis serangga riang ria (serangga hutan yang berbunyi) ternyata sama persis dengan data ilmiah pakar serangga di Amsterdam, Belanda. Beda penamaan saja. "Mata alam suku-suku Papua sungguh sangat mengagumkan," tutur dia.
Kini, ia sangat senang karena menemukan beberapa anak muda yang mencintai ilmu dengan hati, bukan sekadar rutinitas.
PERTEMUAN dengan bruder ramah itu bersamaan dengan peluncuran buku panduan lapangan setebal 126 halaman berjudul Kupu-kupu untuk Wilayah Mamberamo sampai Pegunungan Cyclops, yang ia tulis bersama sarjana lulusan Fakultas Pertanian Uncen yang pernah ia bimbing pengerjaan skripsinya, Edy Michelis Riyanto. Buku dengan sponsor Conservation International Indonesia itu merupakan satu-satunya buku kupu-kupu daerah Papua di Indonesia. Bahkan, dunia.
Sebelum menjadi buku, di sela-sela kesibukannya sebagai ekonom Keuskupan Agung Jayapura-kini bruder Henk menjabat sebagai Delegate Keuangan dan Harta Benda-dibantu beberapa dosen dan mahasiswa Jurusan Biologi dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Uncen, ia keluar masuk hutan untuk observasi lapangan. Itu dilakukan mulai Mamberamo hingga pulau-pulau di pantai Timur, Ubrub, serta di kaki pegunungan Cyclops, Yongshu. Tarekatnya memberinya keleluasaan selama tanggung jawabnya lancar.
Tak pelak, hari-hari sibuknya mengurus harta milik umat semakin dipadati observasi, membaca literatur, serta wawancara dengan para ahli serangga dari Inggris, Belanda, Jerman, dan Jepang. Asal tahu saja, identifikasi biologis bukan pekerjaan ringan.
Akhirnya, setelah efektif bekerja lima tahun, buku yang didedikasikan bagi mahasiswa, akademisi, peneliti, dan pencinta kupu-kupu itu pun terbit. Bruder Henk puas karena para peminat kupu-kupu dapat memperoleh referensi lebih baik. Gratis lagi.
Sebelumnya, para peneliti di lapangan umumnya harus membawa buku tebal dengan berat hingga satu kilogram. Selain berbahasa asing, harga buku-buku itu ada yang mencapai 1.500 euro. "Saya punya, tapi tidak saya kasih pinjam. Maaf ya," kata bruder yang tinggal di biara St Fransiskus, Jayapura, itu sambil tertawa.
Meski memuaskan, lemahnya inventarisasi kekayaan keanekaragaman hayati Papua merupakan fakta lain. Khusus kupu-kupu, masih banyak yang belum bernama atau terdata. Beberapa di antaranya terpublikasi dalam skripsi mahasiswa bimbingannya.
Bagi bruder Henk, terbitnya buku serupa hanya soal waktu seiring tumbuhnya api semangat meneliti. Sebagai indikator mutu lingkungan, hilangnya satu jenis kupu-kupu pada kurun waktu tertentu di suatu kawasan mengindikasikan terjadinya degradasi lingkungan.
Di Inggris, misalnya, kepunahan satu jenis kupu-kupu ternyata disebabkan punahnya satu jenis semut yang menjadi kunci siklus hidup kupu-kupu tersebut. Para petani memusnahkan jenis semut itu karena menganggapnya musuh. "Itu hanya bisa dihindari bila sebelumnya ada informasi detail saling keterkaitan sesama penghuni alam," kata dia.
BRUDER Henk merupakan anak kedua pasangan Eef van Mastrigt, seorang arsitek dan ahli serangga (entomolog) amatir Belanda, dengan An van Doorn. Ia bernama asli Henk van Mastrigt.
Ia tiba di Indonesia setelah tamat sekolah di Sekolah Tinggi Ekonomi Rotterdam tahun 1973. Ada dua pilihan pengabdian, Brasil atau Papua. "Keduanya memiliki hutan dan kekayaan alam anugerah Tuhan yang luar biasa," kata bruder yang pernah bercita-cita menjadi polisi hutan itu.
Papua menjadi pilihan karena banyak masukan dari rekannya yang pernah bertugas di sana.
Keseriusan, kecintaan, dan dedikasi membuat dirinya dipercaya membimbing skripsi mahasiswa Uncen sejak tahun 1996. Dan, makin intensif empat tahun kemudian.
Rencananya, tahun ini ia akan melepaskan jabatannya di keuskupan dan berkonsentrasi membimbing dosen serta mahasiswa. Bila di keuskupan ia memiliki kader, di bidang penelitian kupu-kupu ia mengaku belum menemukan kader yang siap menggantikannya. "Kegiatan meneliti kupu-kupu merupakan salah satu alasan kenapa saya masih bertahan di Papua," kata dia.
Ia menerima tawaran membimbing dengan syarat tidak hanya sebatas mendampingi penelitian di Jayapura. Semua mahasiswa yang ingin ia bimbing pun harus berpengalaman dua tahun meneliti di lapangan. Alasannya, menghindari kesamaan obyek penelitian. Ia menghindari meneliti sesuatu yang pernah diteliti.
Bersama besarnya minat meneliti kupu-kupu dan serangga lain, hatinya gundah melihat langsung eksploitasi kekayaan alam Papua habis-habisan.
Kegundahan hatinya ia tunjukkan ketika menutup pidato dalam peluncuran bukunya. Di sana ia berujar, "Syukur dan pujian kepada Tuhan semoga nyata dalam memelihara alam." Amin, bruder. (GESIT ARIYANTO)
Sumber : Kompas, Senin, 30 Mei 2005
Oleh : Gesit Ariyanto
BRUDER Henk (59) tiba-tiba memutus pembicaraan dan batal menyuap nasi. Sorot matanya tajam mengikuti gerakan benda mungil tak beraturan di sela-sela pepohonan taman di belakang sebuah rumah di kawasan Jakarta Selatan. "Itu kupu-kupu pendatang di Papua," kata dia menelisik. Bruder kelahiran Heerlen, Belanda, itu selain seorang misionaris juga dikenal sebagai pencinta serangga sejati, khususnya kupu-kupu.
KETAJAMAN matanya mengidentifikasi kupu-kupu sebaran Papua terasah sejak tahun 1974, awal pertama kali tiba di pulau tersebut. Sejak itu, seakan tiada hari tanpa observasi kupu-kupu. Hingga kini, jumlah koleksinya berkisar 40.000 ekor dengan 4.000-an jenis. Semua disimpan di ruangan khusus; gelap dan berpendingin udara.
Di sana, deretan lemari berisi ribuan rak berpenutup kaca. Semua ia tangani sendiri. Baru sekitar dua tahun lalu dua dosen dan satu mahasiswa Universitas Cenderawasih (Uncen) membantu komputerisasi data. "Awalnya saya minta kiriman alat pengawet dari ayah," kata bruder yang berayah peminat serangga amatir itu.
Minat yang ditularkan sang ayah itulah yang katanya membuat dirinya tak bisa berjauhan dari dunia seputar serangga, khususnya kupu-kupu. Dan, hutan-hutan Papua pun menjadi "laboratorium" alam yang tak habis-habis ia jelajahi. Beberapa seminar pun ia ikuti.
Intensitas penjelajahan di pedalaman Papua membuatnya kagum atas pengetahuan masyarakat adat terhadap fenomena alam. Pengetahuan mereka terhadap jenis serangga riang ria (serangga hutan yang berbunyi) ternyata sama persis dengan data ilmiah pakar serangga di Amsterdam, Belanda. Beda penamaan saja. "Mata alam suku-suku Papua sungguh sangat mengagumkan," tutur dia.
Kini, ia sangat senang karena menemukan beberapa anak muda yang mencintai ilmu dengan hati, bukan sekadar rutinitas.
PERTEMUAN dengan bruder ramah itu bersamaan dengan peluncuran buku panduan lapangan setebal 126 halaman berjudul Kupu-kupu untuk Wilayah Mamberamo sampai Pegunungan Cyclops, yang ia tulis bersama sarjana lulusan Fakultas Pertanian Uncen yang pernah ia bimbing pengerjaan skripsinya, Edy Michelis Riyanto. Buku dengan sponsor Conservation International Indonesia itu merupakan satu-satunya buku kupu-kupu daerah Papua di Indonesia. Bahkan, dunia.
Sebelum menjadi buku, di sela-sela kesibukannya sebagai ekonom Keuskupan Agung Jayapura-kini bruder Henk menjabat sebagai Delegate Keuangan dan Harta Benda-dibantu beberapa dosen dan mahasiswa Jurusan Biologi dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Uncen, ia keluar masuk hutan untuk observasi lapangan. Itu dilakukan mulai Mamberamo hingga pulau-pulau di pantai Timur, Ubrub, serta di kaki pegunungan Cyclops, Yongshu. Tarekatnya memberinya keleluasaan selama tanggung jawabnya lancar.
Tak pelak, hari-hari sibuknya mengurus harta milik umat semakin dipadati observasi, membaca literatur, serta wawancara dengan para ahli serangga dari Inggris, Belanda, Jerman, dan Jepang. Asal tahu saja, identifikasi biologis bukan pekerjaan ringan.
Akhirnya, setelah efektif bekerja lima tahun, buku yang didedikasikan bagi mahasiswa, akademisi, peneliti, dan pencinta kupu-kupu itu pun terbit. Bruder Henk puas karena para peminat kupu-kupu dapat memperoleh referensi lebih baik. Gratis lagi.
Sebelumnya, para peneliti di lapangan umumnya harus membawa buku tebal dengan berat hingga satu kilogram. Selain berbahasa asing, harga buku-buku itu ada yang mencapai 1.500 euro. "Saya punya, tapi tidak saya kasih pinjam. Maaf ya," kata bruder yang tinggal di biara St Fransiskus, Jayapura, itu sambil tertawa.
Meski memuaskan, lemahnya inventarisasi kekayaan keanekaragaman hayati Papua merupakan fakta lain. Khusus kupu-kupu, masih banyak yang belum bernama atau terdata. Beberapa di antaranya terpublikasi dalam skripsi mahasiswa bimbingannya.
Bagi bruder Henk, terbitnya buku serupa hanya soal waktu seiring tumbuhnya api semangat meneliti. Sebagai indikator mutu lingkungan, hilangnya satu jenis kupu-kupu pada kurun waktu tertentu di suatu kawasan mengindikasikan terjadinya degradasi lingkungan.
Di Inggris, misalnya, kepunahan satu jenis kupu-kupu ternyata disebabkan punahnya satu jenis semut yang menjadi kunci siklus hidup kupu-kupu tersebut. Para petani memusnahkan jenis semut itu karena menganggapnya musuh. "Itu hanya bisa dihindari bila sebelumnya ada informasi detail saling keterkaitan sesama penghuni alam," kata dia.
BRUDER Henk merupakan anak kedua pasangan Eef van Mastrigt, seorang arsitek dan ahli serangga (entomolog) amatir Belanda, dengan An van Doorn. Ia bernama asli Henk van Mastrigt.
Ia tiba di Indonesia setelah tamat sekolah di Sekolah Tinggi Ekonomi Rotterdam tahun 1973. Ada dua pilihan pengabdian, Brasil atau Papua. "Keduanya memiliki hutan dan kekayaan alam anugerah Tuhan yang luar biasa," kata bruder yang pernah bercita-cita menjadi polisi hutan itu.
Papua menjadi pilihan karena banyak masukan dari rekannya yang pernah bertugas di sana.
Keseriusan, kecintaan, dan dedikasi membuat dirinya dipercaya membimbing skripsi mahasiswa Uncen sejak tahun 1996. Dan, makin intensif empat tahun kemudian.
Rencananya, tahun ini ia akan melepaskan jabatannya di keuskupan dan berkonsentrasi membimbing dosen serta mahasiswa. Bila di keuskupan ia memiliki kader, di bidang penelitian kupu-kupu ia mengaku belum menemukan kader yang siap menggantikannya. "Kegiatan meneliti kupu-kupu merupakan salah satu alasan kenapa saya masih bertahan di Papua," kata dia.
Ia menerima tawaran membimbing dengan syarat tidak hanya sebatas mendampingi penelitian di Jayapura. Semua mahasiswa yang ingin ia bimbing pun harus berpengalaman dua tahun meneliti di lapangan. Alasannya, menghindari kesamaan obyek penelitian. Ia menghindari meneliti sesuatu yang pernah diteliti.
Bersama besarnya minat meneliti kupu-kupu dan serangga lain, hatinya gundah melihat langsung eksploitasi kekayaan alam Papua habis-habisan.
Kegundahan hatinya ia tunjukkan ketika menutup pidato dalam peluncuran bukunya. Di sana ia berujar, "Syukur dan pujian kepada Tuhan semoga nyata dalam memelihara alam." Amin, bruder. (GESIT ARIYANTO)
Sumber : Kompas, Senin, 30 Mei 2005
Handrawan Nadesul, Dokter "Spesialis Umum"
Jun 27, 2009
Handrawan Nadesul, Dokter "Spesialis Umum"
Oleh : FX Puniman
DOKTER Handrawan Nadesul (57) dijuluki oleh teman-teman sejawatnya sebagai dokter "spesialis umum". Olok-olok itu muncul karena dia menulis dengan topik apa saja di berbagai media massa- sampai mungkin orang tak tahu apa sebetulnya spesialisasinya selain "spesialis umum" tadi.
DIA menulis artikel atau opini menyangkut apa saja, mulai dari kesehatan, bahkan sampai cerita anak-anak dan yang juga dikenal orang, dia menulis puisi. Terhitung sejak masih mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya (FK UAJ) Jakarta tahun 1970-an sampai sekarang, lebih dari 1.000 artikelnya dimuat di berbagai harian, tabloid, majalah wanita, dan majalah keluarga. Dengan tulisan-tulisan itu pulalah dia dulu membiayai kuliahnya.
KELAHIRAN Karawang, Jawa Barat, 31 Desember 1948, dia mengenang, bagaimana dia menghidupi diri dan membiayai kuliah. Masa-masa itu dia berkuliah dengan naik sepeda, pergi pulang dari Jalan Hayam Wuruk tempat dia menumpang di rumah kerabat, ke tempat kuliah di bilangan Salemba (waktu itu FK UAJ berafiliasi dengan FK Universitas Indonesia), serta tempat kuliah yang lain, yakni Rumah Sakit St Carolus.
Untuk kuliah dan uang saku, dia mengaku mendapatkan dari FK UAJ. "Karena ongkos yang diberi Yayasan AJ tidak cukup, saya harus lebih banyak menulis apa saja," ujarnya. "Honor puisi hanya cukup buat ongkos transpor seminggu."
Menulis puisi, katanya, diawali oleh semacam "kecelakaan". Ia punya teman sebangku semasa sekolah di SMA Negeri II Bogor, Eddy Lie, yang gemar sekali membaca dan menulis. Padahal, keduanya sebetulnya di jurusan ilmu pasti dan alam. "Bersama dia, hari-hari bisa panjang berdiskusi sastra. Besok ulangan Kimia, sorenya masih membincangkan Anton Chekov, penulis Rusia yang dokter, dan Utuy Tatang Sontani," kata Handrawan mengenang masa-masa remajanya. Ia, katanya, lebih rajin menulis puisi daripada menyelesaikan pekerjaan rumah.
LULUS SMA, ia masuk ke FK UAJ Jakarta, yang tahun 1968 membuka fakultas kedokteran. Pilihan ke fakultas kedokteran pun katanya dipengaruhi Anton Chekov. "Fakultas kedokteran saya pilih karena saya terinspirasi oleh Anton Chekov, sastrawan yang juga dokter. Saya beranggapan, dengan menjadi dokter memetik inspirasi dari segala kalangan," katanya.
Studi di Jakarta berarti berpisah dengan Eddy Lie dan keluar dari Bintang Harapan, klub sepak bola flamboyan sejak di SMP Budi Mulia. Hanya saja, kegiatan menulis dan bersastra terus berlanjut. "Selama kuliah, semua rubrik sastra koran dan majalah Ibu Kota mati-matian saya singgahi. Termasuk majalah ilmiah populer Ragi Buana," cerita Handrawan. Waktu itu dia sudah nekat mengasuh rubrik kesehatan di harian dan majalah meski statusnya masih calon dokter.
Dari kerabatnya, pada awalnya dia memang mendapatkan bantuan untuk studinya. Namun, anak kedua dari pensiunan pegawai negeri ini berjuang sekuat tenaga untuk menyelesaikan studinya secara mandiri.
Bagaimana usaha untuk mandiri itu? Dengan menulis untuk media massa tadi. Dia perlu bergadang untuk menulis lebih produktif. Kadang bolos kuliah, untuk urusan tulisan, mengambil honor, atau mengirim naskah baru. Apa saja dia tulis. Tulisan ilmiah populer kesehatan honornya bisa empat kali lipat honor puisi.
Di fakultasnya, katanya, dia dianggap mahasiswa aneh. Selesai kuliah, dia hampir selalu langsung berlari ke kantor-kantor redaksi, baik untuk mengambil honor maupun mengirim naskah baru. Dia pernah diskors karena membolos. Ia terpaksa membolos kuliah karena ada proyek yang dianggapnya cukup penting, yakni menandatangani kontrak bukunya yang diterima proyek inpres.
Ia ungkapkan pula bagaimana dia merasa berutang budi pada sejumlah penerbitan di Jakarta. Dia menyebut beberapa nama majalah yang dianggapnya berjasa mengantarnya sampai lulus kuliah.
"Saya pernah mengebon sebesar Rp 250.000 untuk 10 tulisan yang saya serahkan sekaligus. Mereka semua telah berjasa mengantar saya jadi mahasiswa yang selain tercukupi ongkos hariannya, honornya pun masih berlebih kendati makan siangnya sudah memilih soto betawi, menu mewah saat itu, nyaris tiap hari," kata Handrawan.
Ia pernah merasa nelangsa ketika ditolak untuk ikut masuk kepaniteraan, jadi dokter muda di rumah sakit karena belum punya baju dokter dan stetoskop. "Dalam kondisi demikian, puji syukur, mendadak saya mendapat hadiah TTS dari Kompas. Selain mendapat hadiah selimut dan handuk, mendapat uang tunai juga. Uang itu langsung saya ambil cukup untuk bikin jas dokter dan beli stetoskop," kenang Handrawan mengungkapkan salah satu pengalamannya.
Dia mengungkapkan, beberapa naskah buku inpres saat itu terus digarap supaya mendapat uang lebih banyak lagi. Untuk itu, dia harus melupakan tidur malam. Upaya ini tidak sia-sia, akhirnya beberapa judul buku dibeli pemerintah lagi. Kenyataan ini yang menambah rasa optimisnya dalam menempuh kerasnya sekolah dokter yang tidak pendek itu.
"Sekarang saya merasa yakin, ternyata dengan menulis (apa saja) bisa juga menopang proses menjadi dokter, selain memetik kenikmatan menulis puisi,"’ kata Handrawan yang menyebutkan, menulis puisi memberi kenikmatan batin melebihi menulis apa pun lainnya kendati honornya sering bikin dia membatin, bahkan dibandingkan dengan honor puisi yang pernah diperolehnya dari Malaysia. Penderitaan juga agaknya yang menambah tajam penanya menulis puisi.
SETELAH lulus, selama tiga tahun (1981-1984) Handrawan bekerja di Dinas Kesehatan Kota (DKK) Bogor dan memegang tiga puskesmas. Lalu ia menjabat di Seksi Penyuluhan DKK sebelum pindah ke Kanwil Kesehatan DKI Jakarta.
Di Bogor dia sempat membentuk Dokter Kecil yang beranggotakan 400-an murid SD yang berprestasi di sekolah masing-masing, dan juga menggerakkan kader Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD) di tingkat kelurahan. "Sayang kegiatan ini tak berlanjut," kata Handrawan yang menikah dengan Belinda Chritina, teman kuliahnya yang kini menjadi dosen FK UAJ, pada tahun 1980. Mereka kini dikaruniai dua anak, Minetta Roselani (19) dan Millardi Nadesul (17).
Dia bertekad untuk menulis terus sampai akhir hayatnya. Karena kegiatan menulis itu pula, kini dia hanya praktik dengan perjanjian. Ia juga berencana menerbitkan puisinya yang ditulis sejak tahun 1967-2004, dengan judul Sajak-sajak Pergi Berjalan Jauh: Sekolahnya Dokter, Menulisnya Puisi. (FX Puniman)
Sumber : Kompas, Jumat, 17 Juni 2005
Oleh : FX Puniman
DOKTER Handrawan Nadesul (57) dijuluki oleh teman-teman sejawatnya sebagai dokter "spesialis umum". Olok-olok itu muncul karena dia menulis dengan topik apa saja di berbagai media massa- sampai mungkin orang tak tahu apa sebetulnya spesialisasinya selain "spesialis umum" tadi.
DIA menulis artikel atau opini menyangkut apa saja, mulai dari kesehatan, bahkan sampai cerita anak-anak dan yang juga dikenal orang, dia menulis puisi. Terhitung sejak masih mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya (FK UAJ) Jakarta tahun 1970-an sampai sekarang, lebih dari 1.000 artikelnya dimuat di berbagai harian, tabloid, majalah wanita, dan majalah keluarga. Dengan tulisan-tulisan itu pulalah dia dulu membiayai kuliahnya.
KELAHIRAN Karawang, Jawa Barat, 31 Desember 1948, dia mengenang, bagaimana dia menghidupi diri dan membiayai kuliah. Masa-masa itu dia berkuliah dengan naik sepeda, pergi pulang dari Jalan Hayam Wuruk tempat dia menumpang di rumah kerabat, ke tempat kuliah di bilangan Salemba (waktu itu FK UAJ berafiliasi dengan FK Universitas Indonesia), serta tempat kuliah yang lain, yakni Rumah Sakit St Carolus.
Untuk kuliah dan uang saku, dia mengaku mendapatkan dari FK UAJ. "Karena ongkos yang diberi Yayasan AJ tidak cukup, saya harus lebih banyak menulis apa saja," ujarnya. "Honor puisi hanya cukup buat ongkos transpor seminggu."
Menulis puisi, katanya, diawali oleh semacam "kecelakaan". Ia punya teman sebangku semasa sekolah di SMA Negeri II Bogor, Eddy Lie, yang gemar sekali membaca dan menulis. Padahal, keduanya sebetulnya di jurusan ilmu pasti dan alam. "Bersama dia, hari-hari bisa panjang berdiskusi sastra. Besok ulangan Kimia, sorenya masih membincangkan Anton Chekov, penulis Rusia yang dokter, dan Utuy Tatang Sontani," kata Handrawan mengenang masa-masa remajanya. Ia, katanya, lebih rajin menulis puisi daripada menyelesaikan pekerjaan rumah.
LULUS SMA, ia masuk ke FK UAJ Jakarta, yang tahun 1968 membuka fakultas kedokteran. Pilihan ke fakultas kedokteran pun katanya dipengaruhi Anton Chekov. "Fakultas kedokteran saya pilih karena saya terinspirasi oleh Anton Chekov, sastrawan yang juga dokter. Saya beranggapan, dengan menjadi dokter memetik inspirasi dari segala kalangan," katanya.
Studi di Jakarta berarti berpisah dengan Eddy Lie dan keluar dari Bintang Harapan, klub sepak bola flamboyan sejak di SMP Budi Mulia. Hanya saja, kegiatan menulis dan bersastra terus berlanjut. "Selama kuliah, semua rubrik sastra koran dan majalah Ibu Kota mati-matian saya singgahi. Termasuk majalah ilmiah populer Ragi Buana," cerita Handrawan. Waktu itu dia sudah nekat mengasuh rubrik kesehatan di harian dan majalah meski statusnya masih calon dokter.
Dari kerabatnya, pada awalnya dia memang mendapatkan bantuan untuk studinya. Namun, anak kedua dari pensiunan pegawai negeri ini berjuang sekuat tenaga untuk menyelesaikan studinya secara mandiri.
Bagaimana usaha untuk mandiri itu? Dengan menulis untuk media massa tadi. Dia perlu bergadang untuk menulis lebih produktif. Kadang bolos kuliah, untuk urusan tulisan, mengambil honor, atau mengirim naskah baru. Apa saja dia tulis. Tulisan ilmiah populer kesehatan honornya bisa empat kali lipat honor puisi.
Di fakultasnya, katanya, dia dianggap mahasiswa aneh. Selesai kuliah, dia hampir selalu langsung berlari ke kantor-kantor redaksi, baik untuk mengambil honor maupun mengirim naskah baru. Dia pernah diskors karena membolos. Ia terpaksa membolos kuliah karena ada proyek yang dianggapnya cukup penting, yakni menandatangani kontrak bukunya yang diterima proyek inpres.
Ia ungkapkan pula bagaimana dia merasa berutang budi pada sejumlah penerbitan di Jakarta. Dia menyebut beberapa nama majalah yang dianggapnya berjasa mengantarnya sampai lulus kuliah.
"Saya pernah mengebon sebesar Rp 250.000 untuk 10 tulisan yang saya serahkan sekaligus. Mereka semua telah berjasa mengantar saya jadi mahasiswa yang selain tercukupi ongkos hariannya, honornya pun masih berlebih kendati makan siangnya sudah memilih soto betawi, menu mewah saat itu, nyaris tiap hari," kata Handrawan.
Ia pernah merasa nelangsa ketika ditolak untuk ikut masuk kepaniteraan, jadi dokter muda di rumah sakit karena belum punya baju dokter dan stetoskop. "Dalam kondisi demikian, puji syukur, mendadak saya mendapat hadiah TTS dari Kompas. Selain mendapat hadiah selimut dan handuk, mendapat uang tunai juga. Uang itu langsung saya ambil cukup untuk bikin jas dokter dan beli stetoskop," kenang Handrawan mengungkapkan salah satu pengalamannya.
Dia mengungkapkan, beberapa naskah buku inpres saat itu terus digarap supaya mendapat uang lebih banyak lagi. Untuk itu, dia harus melupakan tidur malam. Upaya ini tidak sia-sia, akhirnya beberapa judul buku dibeli pemerintah lagi. Kenyataan ini yang menambah rasa optimisnya dalam menempuh kerasnya sekolah dokter yang tidak pendek itu.
"Sekarang saya merasa yakin, ternyata dengan menulis (apa saja) bisa juga menopang proses menjadi dokter, selain memetik kenikmatan menulis puisi,"’ kata Handrawan yang menyebutkan, menulis puisi memberi kenikmatan batin melebihi menulis apa pun lainnya kendati honornya sering bikin dia membatin, bahkan dibandingkan dengan honor puisi yang pernah diperolehnya dari Malaysia. Penderitaan juga agaknya yang menambah tajam penanya menulis puisi.
SETELAH lulus, selama tiga tahun (1981-1984) Handrawan bekerja di Dinas Kesehatan Kota (DKK) Bogor dan memegang tiga puskesmas. Lalu ia menjabat di Seksi Penyuluhan DKK sebelum pindah ke Kanwil Kesehatan DKI Jakarta.
Di Bogor dia sempat membentuk Dokter Kecil yang beranggotakan 400-an murid SD yang berprestasi di sekolah masing-masing, dan juga menggerakkan kader Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD) di tingkat kelurahan. "Sayang kegiatan ini tak berlanjut," kata Handrawan yang menikah dengan Belinda Chritina, teman kuliahnya yang kini menjadi dosen FK UAJ, pada tahun 1980. Mereka kini dikaruniai dua anak, Minetta Roselani (19) dan Millardi Nadesul (17).
Dia bertekad untuk menulis terus sampai akhir hayatnya. Karena kegiatan menulis itu pula, kini dia hanya praktik dengan perjanjian. Ia juga berencana menerbitkan puisinya yang ditulis sejak tahun 1967-2004, dengan judul Sajak-sajak Pergi Berjalan Jauh: Sekolahnya Dokter, Menulisnya Puisi. (FX Puniman)
Sumber : Kompas, Jumat, 17 Juni 2005
Herdiana Kiehl : Naik Ojek Keluar Masuk Desa
Jun 25, 2009
Naik Ojek Keluar Masuk Desa
Oleh : FX Puniman
Bila sebelumnya lebih dari 10 tahun ia hidup enak, segala keperluannya terpenuhi tanpa harus bersusah payah, mengikuti tugas suaminya di berbagai negara, kini ia keluar masuk desa naik ojek di Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.
Dengan ojek itu dia melihat sekolah dasar (SD) yang rusak parah, bahkan ambruk, tetapi belum diperbaiki Pemerintah Kabupaten Bogor karena dananya belum dialokasikan. Dia mengupayakan perbaikan dan mengontrol sejauh mana bangunan yang dananya diupayakan dengan susah payah itu dipelihara dengan baik.
Itulah yang dilakukan mantan pengacara lulusan Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 1988, Herdiana Kiehl (42), saat ini. Kegiatan golfnya dikurangi, demikian pula kegiatan renangnya. Ia mengaku, ketika usianya mencapai 40 tahun dan telah lebih dari 10 tahun mendampingi suaminya, Michael Kiehl, yang menjadi General Manager Hotel Hyatt International di berbagai negara, baru kini ia merasakan hidup bahagia.
Kebahagiaan itu bukan karena kehidupannya serba berkecukupan bersama suami dan anak tunggalnya, Cinta Kiehl (11), dan tinggal di perumahan mewah Rancamaya, Bogor.
”Saya merasa bahagia karena bisa mulai berupaya memperbaiki dan membangun gedung sekolah yang rusak dan roboh agar proses belajar anak-anak berlangsung nyaman, membantu meningkatkan kesejahteraan guru honor, dan memberi bea- siswa murid-murid dari golongan tak mampu,” kata Herdiana yang lahir di Subang, 11 September 1963. Hal itu dikemukakan Herdiana seusai mendatangi sebuah SD yang akan dibangun setelah lebih dari dua tahun rusak parah.
Anak ketiga dari empat bersaudara yang semuanya perempuan dari pasangan Marsekal Pertama Herman Yoseph Soekarsono (almarhum) dan Rusminah ini lahir di daerah tempat tugas ayahnya yang terakhir, saat menjabat sebagai Komandan Jenderal Komando Pasukan Khas TNI AU, yang kemudian gugur akibat kecelakaan di Sanggabuana pada tahun 1980.
Uang pribadi
Dua tahun lalu ketika jalan-jalan di pedesaan, Herdiana terenyuh melihat kenyataan di seputar tempat tinggalnya. Sejumlah sekolah rusak parah, bahkan ada yang sudah rubuh bertahun-tahun. Murid-murid terpaksa belajar secara bergiliran menggunakan lokal kelas yang masih utuh. Ada pula bangunan sekolah yang membuat cemas para murid karena sewaktu-waktu langit-langit kelas itu dapat ambruk.
Tanpa menyalahkan siapa pun, termasuk pihak Pemerintah Kabupaten Bogor yang belum mampu mengalokasikan dana, Herdiana mulai berkiprah dengan mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat Peduli Pendidikan. Dana kegiatan semula berasal dari uang tabungannya ketika bekerja menjadi pengacara. Kini ia sudah mendapat mitra, yakni Rotary Club International Menteng Jakarta. Sebelumnya, kelompok Harley Davidson ikut juga mendukung kegiatannya.
Sampai pertengahan Juni lalu, Herdiana yang menjadi Koordinator Peduli Pendidikan ini mengemukakan telah membangun tujuh bangunan sekolah (satu SMP dan enam SD) berikut bangku sekolah yang bernilai sekitar Rp 120 juta per sekolah.
Di desa tetangganya, Herdiana, mengutip keterangan aparat Kecamatan Cijeruk, menyebutkan, sekitar 50 persen dari 38 SD perlu diperbaiki.
”Kami memprioritaskan SD yang paling parah yang akan diperbaiki. Kini dua donatur di luar Rotary Club, yakni Pemerintah Australia dan Kanada melalui kedutaannya di Jakarta, siap membantu kegiatan kami. Bukan hanya di dunia pendidikan, tetapi kedua pemerintah itu juga akan membantu di bidang kesehatan,” kata Herdiana. Dia juga berniat akan membangun balai kesehatan di pedesaan yang banyak anak balitanya menderita gizi buruk.
Herdiana—menikah dengan Kiehl yang berkebangsaan Jerman pada tahun 1988 di Jakarta—berangan-angan memperbaiki SD yang rusak dan ambruk se-Kabupaten Bogor.
”Suami saya semula meragukan kemampuan saya dan tidak mendukung kegiatan saya. Namun, begitu saya buktikan saya mampu bekerja, dia mendukung dan membantu dana juga,” kata Herdiana seraya menambahkan, suaminya kini berusaha mandiri sebagai konsultan hotel tingkat internasional. Sementara ibu Herdiana kini menjalani masa tuanya di perumahan pensiunan AURI Cendrawasih Bandung sebagai pengurus yayasan janda-janda AURI dan yayasan kematian Sekar Kenanga.
Sumber : Kompas, Rabu, 3 Agustus 2005
Oleh : FX Puniman
Bila sebelumnya lebih dari 10 tahun ia hidup enak, segala keperluannya terpenuhi tanpa harus bersusah payah, mengikuti tugas suaminya di berbagai negara, kini ia keluar masuk desa naik ojek di Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.
Dengan ojek itu dia melihat sekolah dasar (SD) yang rusak parah, bahkan ambruk, tetapi belum diperbaiki Pemerintah Kabupaten Bogor karena dananya belum dialokasikan. Dia mengupayakan perbaikan dan mengontrol sejauh mana bangunan yang dananya diupayakan dengan susah payah itu dipelihara dengan baik.
Itulah yang dilakukan mantan pengacara lulusan Fakultas Hukum Universitas Katolik Parahyangan Bandung tahun 1988, Herdiana Kiehl (42), saat ini. Kegiatan golfnya dikurangi, demikian pula kegiatan renangnya. Ia mengaku, ketika usianya mencapai 40 tahun dan telah lebih dari 10 tahun mendampingi suaminya, Michael Kiehl, yang menjadi General Manager Hotel Hyatt International di berbagai negara, baru kini ia merasakan hidup bahagia.
Kebahagiaan itu bukan karena kehidupannya serba berkecukupan bersama suami dan anak tunggalnya, Cinta Kiehl (11), dan tinggal di perumahan mewah Rancamaya, Bogor.
”Saya merasa bahagia karena bisa mulai berupaya memperbaiki dan membangun gedung sekolah yang rusak dan roboh agar proses belajar anak-anak berlangsung nyaman, membantu meningkatkan kesejahteraan guru honor, dan memberi bea- siswa murid-murid dari golongan tak mampu,” kata Herdiana yang lahir di Subang, 11 September 1963. Hal itu dikemukakan Herdiana seusai mendatangi sebuah SD yang akan dibangun setelah lebih dari dua tahun rusak parah.
Anak ketiga dari empat bersaudara yang semuanya perempuan dari pasangan Marsekal Pertama Herman Yoseph Soekarsono (almarhum) dan Rusminah ini lahir di daerah tempat tugas ayahnya yang terakhir, saat menjabat sebagai Komandan Jenderal Komando Pasukan Khas TNI AU, yang kemudian gugur akibat kecelakaan di Sanggabuana pada tahun 1980.
Uang pribadi
Dua tahun lalu ketika jalan-jalan di pedesaan, Herdiana terenyuh melihat kenyataan di seputar tempat tinggalnya. Sejumlah sekolah rusak parah, bahkan ada yang sudah rubuh bertahun-tahun. Murid-murid terpaksa belajar secara bergiliran menggunakan lokal kelas yang masih utuh. Ada pula bangunan sekolah yang membuat cemas para murid karena sewaktu-waktu langit-langit kelas itu dapat ambruk.
Tanpa menyalahkan siapa pun, termasuk pihak Pemerintah Kabupaten Bogor yang belum mampu mengalokasikan dana, Herdiana mulai berkiprah dengan mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat Peduli Pendidikan. Dana kegiatan semula berasal dari uang tabungannya ketika bekerja menjadi pengacara. Kini ia sudah mendapat mitra, yakni Rotary Club International Menteng Jakarta. Sebelumnya, kelompok Harley Davidson ikut juga mendukung kegiatannya.
Sampai pertengahan Juni lalu, Herdiana yang menjadi Koordinator Peduli Pendidikan ini mengemukakan telah membangun tujuh bangunan sekolah (satu SMP dan enam SD) berikut bangku sekolah yang bernilai sekitar Rp 120 juta per sekolah.
Di desa tetangganya, Herdiana, mengutip keterangan aparat Kecamatan Cijeruk, menyebutkan, sekitar 50 persen dari 38 SD perlu diperbaiki.
”Kami memprioritaskan SD yang paling parah yang akan diperbaiki. Kini dua donatur di luar Rotary Club, yakni Pemerintah Australia dan Kanada melalui kedutaannya di Jakarta, siap membantu kegiatan kami. Bukan hanya di dunia pendidikan, tetapi kedua pemerintah itu juga akan membantu di bidang kesehatan,” kata Herdiana. Dia juga berniat akan membangun balai kesehatan di pedesaan yang banyak anak balitanya menderita gizi buruk.
Herdiana—menikah dengan Kiehl yang berkebangsaan Jerman pada tahun 1988 di Jakarta—berangan-angan memperbaiki SD yang rusak dan ambruk se-Kabupaten Bogor.
”Suami saya semula meragukan kemampuan saya dan tidak mendukung kegiatan saya. Namun, begitu saya buktikan saya mampu bekerja, dia mendukung dan membantu dana juga,” kata Herdiana seraya menambahkan, suaminya kini berusaha mandiri sebagai konsultan hotel tingkat internasional. Sementara ibu Herdiana kini menjalani masa tuanya di perumahan pensiunan AURI Cendrawasih Bandung sebagai pengurus yayasan janda-janda AURI dan yayasan kematian Sekar Kenanga.
Sumber : Kompas, Rabu, 3 Agustus 2005
Herman Ferdinand Marie Munninghoff : Mgr Munninghoff Menabur Nilai HAM di Papua
Mgr Munninghoff Menabur Nilai HAM di Papua
Oleh : Kornelis Kewa Ama
Sejak pengungkapan kasus pelanggaran hak asasi manusia di sekitar PT Freeport Indonesia tahun 1994 menjadi sorotan banyak pihak, keberanian seperti meluncur tak terbendung. Sejak itu, orang Papua mulai bicara tentang pelanggaran HAM di daerah mereka.
Tokoh utama di balik pengungkapan kasus itu adalah Uskup Jayapura Mgr Herman Ferdinand Marie Munninghoff OFM. Warga Indonesia kelahiran Belanda itu, setelah 51 tahun mengabdi, pekan lalu kembali ke Belanda.
Uskup Munninghoff memulai karier sebagai pastor di Arso, Jayapura, tahun 1954. Arso, daerah di perbatasan RI-PNG, terkenal dengan kemiskinan, kebodohan, ketertindasan, dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Daerah itu juga dijadikan basis pertahanan kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Puluhan tahun ia berjalan kaki dari kampung ke kampung. Menyeberangi sungai, mendaki gunung, menuruni tebing, dan menyusuri lembah membawa pesan kemanusiaan. Dia seakan tak peduli ketika malaria menyergapnya atau saat digigit lintah. Munninghoff seakan tak hirau dengan pekerjaan berat walau tenaga terbatas.
Perubahan pun terjadi. Masyarakat mulai memahami ajaran moral, etika bermasyarakat, dan mengalami kehidupan modern. Masyarakat tidak lagi saling bunuh, perang suku, tidak melakukan hubungan seks bebas, dan tidak merampas harta orang. Sampai hari ini tidak pernah terjadi kekerasan berlatar belakang agama atau suku. Penduduk asli sangat santun menerima sesama masyarakat beragama lain, seperti Muslim, Hindu, dan Buddha.
Secara bersamaan, terjadi kekerasan sebagai ekses operasi militer sejak tahun 1970-an untuk memberantas kelompok OPM. Operasi itu cenderung di luar prosedur hukum dan nilai-nilai kemanusiaan.
Sebagai kepala gereja di Keuskupan Jayapura, Munninghoff terus bergulat dengan situasi penuh kekerasan. Semasa Orde Baru, pelanggaran HAM terjadi di mana-mana. Setiap hari selalu ada laporan kekerasan, pembunuhan, teror, intimidasi, dan perusakan rumah penduduk di beberapa tempat.
Tahun 1994 Munninghoff angkat bicara. Ia mulai mengungkap kasus kekerasan militer di sekitar perusahaan PT Freeport Indonesia. Ia mengumpulkan data dari korban kekerasan militer di Timika, seperti dari ”Mama” Yosepha Alomang dan rekan-rekannya. Munninghoff merupakan orang pertama yang mendorong gereja di Papua agar melawan kekerasan itu dengan suara ”kenabian”. Begitu juga dalam kasus penyanderaan aktivis lingkungan di Taman Nasional Laurentz, 1996. Munninghoff tidak percaya kasus penyanderaan itu murni oleh OPM.
Tahun 1997 Munninghoff bersama Uskup Pembantu Mgr Leo Laba Ladjar OFM—kini menjadi uskup definitif—mendirikan lembaga advokasi kemanusiaan, yakni Sekretariat Keadilan dan Perdamaian (SKP) di Keuskupan Jayapura.
Meski begitu, ia tidak pernah membenci TNI. Sebaliknya, dia sangat akrab dengan anggota dan pejabat TNI di Papua, seperti Panglima Kodam XVII/Trikora—saat itu—Mayjen TNI Amir Sembiring dan pejabat lainnya.
”Kami selalu berkomunikasi bila ada kejadian antara TNI dan OPM di lapangan, seperti kasus penculikan, pembunuhan, dan seterusnya. Ternyata, pimpinan TNI sangat menghormati hukum dan kebenaran. Mereka terus melakukan koordinasi dan kerja sama dengan semua pihak. Hanya kasus-kasus sering terjadi di lapangan karena kesalahan anak buah,” katanya.
Berkat dorongan Uskup Munninghoff, orang asli Papua pun mulai berani bicara mengenai tindak pelanggaran HAM dan kekerasan oleh oknum TNI/Polri. Mereka berani mengadukan sejumlah kasus kekerasan terhadap warga sipil ke lembaga HAM dan pengadilan umum.
Pemberdayaan warga asli
Semboyan ”menjadi tuan di negeri sendiri” dalam membangun masyarakat, yang dikumandangkan Pemerintah Provinsi Papua, sebetulnya telah lama disuarakan Munninghoff. Menurut dia, warga asli Papua harus diberdayakan menjadi pemilik tanah di tempat kelahiran sendiri.
Memang pendiri Sekolah Teologi Filsafat Katolik Fajar Timur Abepura, Jayapura, ini sejak tahun 1960-an khawatir akan nasib warga asli Papua. Ketika ribuan warga pendatang dengan modal besar menguasai Kota Jayapura dan membangun perekonomian yang kuat, penduduk asli mulai tergeser ke hutan dan tidak memiliki apa pun.
”Menanamkan nilai-nilai dasar untuk melindungi harkat dan martabat, hak-hak dasar, dan perlindungan terhadap hukum di kalangan orang Papua seperti itu tidak mudah. Butuh waktu dan proses panjang melalui berbagai kegiatan, termasuk pendidikan formal,” tutur Munninghoff.
Munninghoff juga mensponsori kerja sama antaratokoh agama se-Papua guna menciptakan suasana aman dan tertib di masyarakat yang melahirkan komunike bersama tentang ”Papua sebagai tanah damai”. Semestinya jejak-jejak warisan Munninghoff menjadi pengetahuan abadi di Papua meski dia telah kembali ke Belanda.
Sumber : Kompas, Senin, 29 Agustus 2005
Oleh : Kornelis Kewa Ama
Sejak pengungkapan kasus pelanggaran hak asasi manusia di sekitar PT Freeport Indonesia tahun 1994 menjadi sorotan banyak pihak, keberanian seperti meluncur tak terbendung. Sejak itu, orang Papua mulai bicara tentang pelanggaran HAM di daerah mereka.
Tokoh utama di balik pengungkapan kasus itu adalah Uskup Jayapura Mgr Herman Ferdinand Marie Munninghoff OFM. Warga Indonesia kelahiran Belanda itu, setelah 51 tahun mengabdi, pekan lalu kembali ke Belanda.
Uskup Munninghoff memulai karier sebagai pastor di Arso, Jayapura, tahun 1954. Arso, daerah di perbatasan RI-PNG, terkenal dengan kemiskinan, kebodohan, ketertindasan, dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM). Daerah itu juga dijadikan basis pertahanan kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Puluhan tahun ia berjalan kaki dari kampung ke kampung. Menyeberangi sungai, mendaki gunung, menuruni tebing, dan menyusuri lembah membawa pesan kemanusiaan. Dia seakan tak peduli ketika malaria menyergapnya atau saat digigit lintah. Munninghoff seakan tak hirau dengan pekerjaan berat walau tenaga terbatas.
Perubahan pun terjadi. Masyarakat mulai memahami ajaran moral, etika bermasyarakat, dan mengalami kehidupan modern. Masyarakat tidak lagi saling bunuh, perang suku, tidak melakukan hubungan seks bebas, dan tidak merampas harta orang. Sampai hari ini tidak pernah terjadi kekerasan berlatar belakang agama atau suku. Penduduk asli sangat santun menerima sesama masyarakat beragama lain, seperti Muslim, Hindu, dan Buddha.
Secara bersamaan, terjadi kekerasan sebagai ekses operasi militer sejak tahun 1970-an untuk memberantas kelompok OPM. Operasi itu cenderung di luar prosedur hukum dan nilai-nilai kemanusiaan.
Sebagai kepala gereja di Keuskupan Jayapura, Munninghoff terus bergulat dengan situasi penuh kekerasan. Semasa Orde Baru, pelanggaran HAM terjadi di mana-mana. Setiap hari selalu ada laporan kekerasan, pembunuhan, teror, intimidasi, dan perusakan rumah penduduk di beberapa tempat.
Tahun 1994 Munninghoff angkat bicara. Ia mulai mengungkap kasus kekerasan militer di sekitar perusahaan PT Freeport Indonesia. Ia mengumpulkan data dari korban kekerasan militer di Timika, seperti dari ”Mama” Yosepha Alomang dan rekan-rekannya. Munninghoff merupakan orang pertama yang mendorong gereja di Papua agar melawan kekerasan itu dengan suara ”kenabian”. Begitu juga dalam kasus penyanderaan aktivis lingkungan di Taman Nasional Laurentz, 1996. Munninghoff tidak percaya kasus penyanderaan itu murni oleh OPM.
Tahun 1997 Munninghoff bersama Uskup Pembantu Mgr Leo Laba Ladjar OFM—kini menjadi uskup definitif—mendirikan lembaga advokasi kemanusiaan, yakni Sekretariat Keadilan dan Perdamaian (SKP) di Keuskupan Jayapura.
Meski begitu, ia tidak pernah membenci TNI. Sebaliknya, dia sangat akrab dengan anggota dan pejabat TNI di Papua, seperti Panglima Kodam XVII/Trikora—saat itu—Mayjen TNI Amir Sembiring dan pejabat lainnya.
”Kami selalu berkomunikasi bila ada kejadian antara TNI dan OPM di lapangan, seperti kasus penculikan, pembunuhan, dan seterusnya. Ternyata, pimpinan TNI sangat menghormati hukum dan kebenaran. Mereka terus melakukan koordinasi dan kerja sama dengan semua pihak. Hanya kasus-kasus sering terjadi di lapangan karena kesalahan anak buah,” katanya.
Berkat dorongan Uskup Munninghoff, orang asli Papua pun mulai berani bicara mengenai tindak pelanggaran HAM dan kekerasan oleh oknum TNI/Polri. Mereka berani mengadukan sejumlah kasus kekerasan terhadap warga sipil ke lembaga HAM dan pengadilan umum.
Pemberdayaan warga asli
Semboyan ”menjadi tuan di negeri sendiri” dalam membangun masyarakat, yang dikumandangkan Pemerintah Provinsi Papua, sebetulnya telah lama disuarakan Munninghoff. Menurut dia, warga asli Papua harus diberdayakan menjadi pemilik tanah di tempat kelahiran sendiri.
Memang pendiri Sekolah Teologi Filsafat Katolik Fajar Timur Abepura, Jayapura, ini sejak tahun 1960-an khawatir akan nasib warga asli Papua. Ketika ribuan warga pendatang dengan modal besar menguasai Kota Jayapura dan membangun perekonomian yang kuat, penduduk asli mulai tergeser ke hutan dan tidak memiliki apa pun.
”Menanamkan nilai-nilai dasar untuk melindungi harkat dan martabat, hak-hak dasar, dan perlindungan terhadap hukum di kalangan orang Papua seperti itu tidak mudah. Butuh waktu dan proses panjang melalui berbagai kegiatan, termasuk pendidikan formal,” tutur Munninghoff.
Munninghoff juga mensponsori kerja sama antaratokoh agama se-Papua guna menciptakan suasana aman dan tertib di masyarakat yang melahirkan komunike bersama tentang ”Papua sebagai tanah damai”. Semestinya jejak-jejak warisan Munninghoff menjadi pengetahuan abadi di Papua meski dia telah kembali ke Belanda.
Sumber : Kompas, Senin, 29 Agustus 2005
Husin Abdullah, Pahlawan Kebersihan
Husin Abdullah, Pahlawan Kebersihan
Oleh : Khaerul Anwar
Penampilannya sangat sederhana, bahkan barangkali ada yang menganggapnya ”gila”. Hanya saja, sikap spartannya terhadap kebersihan mungkin membuatnya berhak menyandang gelar ”pahlawan kebersihan”. Itulah Husin Abdullah (64), warga Desa Batu Layar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
"Saya sering kali dicemooh dan dikira gila karena pekerjaan saya ngurus sampah dan kotoran saja,” ujar Husin yang nama aslinya Gavin Birch.
”Kegilaan” lelaki asal Selandia Baru terhadap kebersihan itu bisa dibuktikan di jalan-jalan Kota Mataram. Dia berhenti di bak penampungan sampah, lalu mengumpulkan daun-daun, botol dan gelas plastik bekas, sampai kotoran kuda dan sapi. Dia pun akan memberikan penyuluhan kepada pejalan kaki yang melintas saat dia tengah mengumpulkan sampah.
Kawasan pesisir dan sungai seputar kawasan obyek wisata Senggigi dan Kota Mataram juga menjadi tempat ”bermain” Husin karena di situ banyak sekali sampah rumah tangga yang tergerus air sungai dari hulu. Sampah itu berceceran di pasir, selain mengapung digoyang ombak laut yang membuat kawasan itu tampak kotor.
”Bagaimana turis mau senang mandi dan berbaring kalau air laut dan pasirnya kotor,” ucapnya. ”Mengapa ada penyakit malaria, diare, dan demam di Lombok, sampah-sampah inilah sumbernya,” ujarnya.
Sampah plastik itu dibawa dengan mobil Isuzu pick up, kemudian dibakar, sedangkan sampah dedaunan diolahnya dengan mesin penghancur sampah, kemudian dicampur dengan kotoran ternak, diendapkan selama dua hari. Limbah-limbah yang semula tidak berharga menjelma menjadi pupuk kompos yang sangat baik bagi tanaman, terutama tanaman sayuran/hortikultura.
Alat penghancur sampah yang digerakkan mesin diesel 8 HP (tenaga kuda) itu dibuatnya sendiri, modifikasi dari mesin buatan Selandia Baru, yang juga dilengkapi 15-18 cutting (pisau) dan blower (kipas). Bahan organik kaya akan sumber hayati (bokashi) seperti jerami, daun, dan ranting dimasukkan ke bak penampungan, diproses sampai hancur jadi bubur, yang nantinya dijadikan bahan pupuk kompos.
Setidaknya sudah 12 mesin penghancur sampah bikinannya dibeli sejumlah instansi dengan harga jual Rp 7 juta per unit. Berkat mesin itu pula Husin Abdullah meraih Anugerah Teknologi Tepat Guna Kategori Pengembang dari Pemerintah Provinsi NTB, 17 Desember 2004, berikut hadiah Rp 2,5 juta. Malah dengan peralatan bikinannya itu, kian lengkaplah julukan ”pahlawan kebersihan” yang diberikan banyak kalangan di Mataram.
Ia membiayai pembangunan 46 jamban di Desa Kediri, Lombok Barat. Sejumlah gerobak sampah juga disumbangkan kepada warga Desa Banyumulek, yang merupakan sentra industri kerajinan gerabah di Lombok Barat. Beberapa sumur gali dibiayainya, antara lain di desa-desa yang kondisi lingkungannya kumuh, seperti Desa Batu Layar, Melase, atau di Kelurahan Ampenan, Mataram.
Kepedulian Husin yang kemudian mendirikan Yayasan Cinta Lingkungan Lombok itu mengundang perhatian pengusaha hotel dan restoran di kawasan wisata Senggigi, selain bantuan rekan-rekan seasal dengannya yang tergabung dalam Rotary Club New Zealand. Warga Selandia Baru itu ikut menyokong aktivitas Husin, setelah menyetujui proposal yang diajukan berupa kegiatan pembinaan kebersihan lingkungan pada beberapa desa di Lombok
Hidup bersih dan sehat juga tercermin di rumahnya, berlokasi di pinggir Pantai Desa Batu Layar. Di atas tanah 33 are, halaman rumahnya ditanami berbagai pohon buah-buahan, bunga dan tanaman konservasi, sehingga suasana rumahnya terasa sejuk. Dia juga menyewakan enam homestay bagi wisatawan dengan tarif relatif murah, Rp 30.000 semalam.
Ada juga ruangan khusus yang digunakan sebagai bengkel kerja untuk membuat pupuk kompos. Dengan alat pengolah sampah itu, Husin bisa memproduksi satu ton per bulan, yang dijual Rp 10.000 ter tiga kantong. Dari penjualan kompos, sewa homestay, honor sebagai konsultan, dan hasil sewa setrum aki, Husin membiayai hidup keluarganya.
Terpikat hatinya
Kiprah Husin dalam dunia kebersihan di Lombok dimulai tahun 1985. Setamat Sekolah Guru di Selandia Baru tahun 1972, Gavin Birch berkunjung ke beberapa wilayah di Indonesia, seperti Pulau Flores (Nusa Tenggara Timur), Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, dan Lombok. Lombok yang membuat hatinya terpikat.
”Allah-lah yang menunjukkan dan membawa saya ke Lombok,” tuturnya tentang keberadaannya di Lombok.
Di Lombok pula Husin menemukan jodohnya, Siti Hawa, yang dinikahinya pada 17 November 1986. Kini suami-istri itu dikaruniai dua anak, Abdul Aziz Husin (17) dan Abdul Reza Zulmi Husin (16).
Sampai kapan akan menangani sampah? ”Sampai orang mau diajak hidup bersih dan sehat,” jawabnya.
Sumber : Kompas, Kamis, 15 September 2005
Oleh : Khaerul Anwar
Penampilannya sangat sederhana, bahkan barangkali ada yang menganggapnya ”gila”. Hanya saja, sikap spartannya terhadap kebersihan mungkin membuatnya berhak menyandang gelar ”pahlawan kebersihan”. Itulah Husin Abdullah (64), warga Desa Batu Layar, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
"Saya sering kali dicemooh dan dikira gila karena pekerjaan saya ngurus sampah dan kotoran saja,” ujar Husin yang nama aslinya Gavin Birch.
”Kegilaan” lelaki asal Selandia Baru terhadap kebersihan itu bisa dibuktikan di jalan-jalan Kota Mataram. Dia berhenti di bak penampungan sampah, lalu mengumpulkan daun-daun, botol dan gelas plastik bekas, sampai kotoran kuda dan sapi. Dia pun akan memberikan penyuluhan kepada pejalan kaki yang melintas saat dia tengah mengumpulkan sampah.
Kawasan pesisir dan sungai seputar kawasan obyek wisata Senggigi dan Kota Mataram juga menjadi tempat ”bermain” Husin karena di situ banyak sekali sampah rumah tangga yang tergerus air sungai dari hulu. Sampah itu berceceran di pasir, selain mengapung digoyang ombak laut yang membuat kawasan itu tampak kotor.
”Bagaimana turis mau senang mandi dan berbaring kalau air laut dan pasirnya kotor,” ucapnya. ”Mengapa ada penyakit malaria, diare, dan demam di Lombok, sampah-sampah inilah sumbernya,” ujarnya.
Sampah plastik itu dibawa dengan mobil Isuzu pick up, kemudian dibakar, sedangkan sampah dedaunan diolahnya dengan mesin penghancur sampah, kemudian dicampur dengan kotoran ternak, diendapkan selama dua hari. Limbah-limbah yang semula tidak berharga menjelma menjadi pupuk kompos yang sangat baik bagi tanaman, terutama tanaman sayuran/hortikultura.
Alat penghancur sampah yang digerakkan mesin diesel 8 HP (tenaga kuda) itu dibuatnya sendiri, modifikasi dari mesin buatan Selandia Baru, yang juga dilengkapi 15-18 cutting (pisau) dan blower (kipas). Bahan organik kaya akan sumber hayati (bokashi) seperti jerami, daun, dan ranting dimasukkan ke bak penampungan, diproses sampai hancur jadi bubur, yang nantinya dijadikan bahan pupuk kompos.
Setidaknya sudah 12 mesin penghancur sampah bikinannya dibeli sejumlah instansi dengan harga jual Rp 7 juta per unit. Berkat mesin itu pula Husin Abdullah meraih Anugerah Teknologi Tepat Guna Kategori Pengembang dari Pemerintah Provinsi NTB, 17 Desember 2004, berikut hadiah Rp 2,5 juta. Malah dengan peralatan bikinannya itu, kian lengkaplah julukan ”pahlawan kebersihan” yang diberikan banyak kalangan di Mataram.
Ia membiayai pembangunan 46 jamban di Desa Kediri, Lombok Barat. Sejumlah gerobak sampah juga disumbangkan kepada warga Desa Banyumulek, yang merupakan sentra industri kerajinan gerabah di Lombok Barat. Beberapa sumur gali dibiayainya, antara lain di desa-desa yang kondisi lingkungannya kumuh, seperti Desa Batu Layar, Melase, atau di Kelurahan Ampenan, Mataram.
Kepedulian Husin yang kemudian mendirikan Yayasan Cinta Lingkungan Lombok itu mengundang perhatian pengusaha hotel dan restoran di kawasan wisata Senggigi, selain bantuan rekan-rekan seasal dengannya yang tergabung dalam Rotary Club New Zealand. Warga Selandia Baru itu ikut menyokong aktivitas Husin, setelah menyetujui proposal yang diajukan berupa kegiatan pembinaan kebersihan lingkungan pada beberapa desa di Lombok
Hidup bersih dan sehat juga tercermin di rumahnya, berlokasi di pinggir Pantai Desa Batu Layar. Di atas tanah 33 are, halaman rumahnya ditanami berbagai pohon buah-buahan, bunga dan tanaman konservasi, sehingga suasana rumahnya terasa sejuk. Dia juga menyewakan enam homestay bagi wisatawan dengan tarif relatif murah, Rp 30.000 semalam.
Ada juga ruangan khusus yang digunakan sebagai bengkel kerja untuk membuat pupuk kompos. Dengan alat pengolah sampah itu, Husin bisa memproduksi satu ton per bulan, yang dijual Rp 10.000 ter tiga kantong. Dari penjualan kompos, sewa homestay, honor sebagai konsultan, dan hasil sewa setrum aki, Husin membiayai hidup keluarganya.
Terpikat hatinya
Kiprah Husin dalam dunia kebersihan di Lombok dimulai tahun 1985. Setamat Sekolah Guru di Selandia Baru tahun 1972, Gavin Birch berkunjung ke beberapa wilayah di Indonesia, seperti Pulau Flores (Nusa Tenggara Timur), Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, dan Lombok. Lombok yang membuat hatinya terpikat.
”Allah-lah yang menunjukkan dan membawa saya ke Lombok,” tuturnya tentang keberadaannya di Lombok.
Di Lombok pula Husin menemukan jodohnya, Siti Hawa, yang dinikahinya pada 17 November 1986. Kini suami-istri itu dikaruniai dua anak, Abdul Aziz Husin (17) dan Abdul Reza Zulmi Husin (16).
Sampai kapan akan menangani sampah? ”Sampai orang mau diajak hidup bersih dan sehat,” jawabnya.
Sumber : Kompas, Kamis, 15 September 2005
Hendarmin Susilo : H Susilo, Patriotisme dari Seberang
Jun 21, 2009
H Susilo, Patriotisme dari Seberang
Oleh : Theodore KS* dan Tonny D Widiastono
Hâ luó hâ luó wà n lóng, huâ bân jiâoli de shân chéng,
Hâ luó hâ luó wà n long, qún shân huÔn bà o duÓ mi rén
Ketika mendengar melodi lagu itu, orang segera tersadarkan, itu adalah lagu perjuangan yang tidak asing bagi telinga masyarakat Indonesia.
Namun, ketika dicermati, kita akan terkaget-kaget saat mencermati lirik yang dibawakan, ternyata itu adalah lagu Halo-halo Bandung karya Ismail Marzuki versi Mandarin, yang dibawakan oleh Shanghai Opera Academy Chorus, diiringi Yogyakarta Academy Orchestra.
Coba simak lagu yang lain.
Yìn dù ni xi yà xiân hóng de rè xiê, xuê bai de zhÓng gú, Róng hé chéng wÓ yi pià n à i guó de rè chén.
Itulah lagu Kebyar-kebyar ciptaan Gombloh.
”Ada dua album yang sengaja dikeluarkan memperingati HUT ke-60 RI. Yang pertama, Lagu Cinta Tanah Air Bagimu Neg’ri oleh Harry dan Iin serta Paduan Suara Paguyuban Meizhou Indonesia dan Paduan Suara Overseas Chinese Commerce High School/Panitia Pengawas Sekolah-I yang disingkat OCCHS/ PPS-1. Yang kedua Lagu Cinta Tanah Air Halo Halo Bandung oleh Shanghai Opera Academy Chorus dan Yogyakarta Academy Orchestra. Bersama Kelompok Kerja Seni Musik kami, lebih dari satu tahun, dua album itu dikerjakan,” ujar Hendarmin Susilo, pimpinan PT Gema Nada Pertiwi (GNP) kepada Kompas.
Diakui, lagu-lagu perjuangan versi Mandarin memerlukan tambahan kata di sana-sini agar pas dengan notasinya. Coba simak lagu Halo-halo Bandung yang dimandarinkan. Di sana lirik yang ada tidak bisa begitu saja diterjemahkan. Ada penambahan kata-kata sehingga bila versi Mandarin itu diterjemahkan lagi ke bahasa Indonesia, akan menjadi, ”Halo-halo Bandung, kotanya indah bagaikan bunga. Halo-halo Bandung, dikelilingi pegunungan betapa memesona”.
”Saya berharap dari lagu-lagu perjuangan versi Mandarin ini muncul rasa cinta tanah air pada etnis Tionghoa. Selain itu, ini adalah upaya memperbaiki citra baik negara di masyarakat Tionghoa di luar Indonesia. Sejauh ini, mereka menilai Indonesia sebagai negara rasialis, anti-Tionghoa. Itu kita alami bersama. Selama 32 tahun, bahasa, adat-istiadat, dan tradisi etnis Tionghoa dilarang di Indonesia,” lanjut Hendarmin Susilo.
Hendarmin mengakui, seluruh upaya itu banyak dibantu oleh Moordiana dari ISI Yogyakarta. ”Akibatnya, masyarakat Shanghai yang semula sudah tertarik dengan lagu-lagu dari Indonesia menjadi semakin mengerti makna lagu yang dibawakan. Mereka amat menyukai lagu Pak Gesang, Bengawan Solo,” lanjut Hendarmin.
Lahir di Jakarta, 3 Desember 1945, sebagai anak pertama dari lima bersaudara, Hendarmin mengenal musik klasik opera China dari piringan hitam koleksi ayahnya. Peran orangtuanya pula yang kemudian membuatnya berani memulai sebuah usaha rekam-merekam lagu di pusat hiburan Prinsen Park (kini Lokasari), Mangga Besar, Jakarta, pada awal 1970-an. Di emper restoran ayahnya, Hendarmin membawa tape-recorder Akai lengkap dengan piringan hitam koleksinya, menerima pesanan merekam lagu-lagu dari piringan hitam. Itulah awal perusahaan rekaman lagu-lagu Barat, Hins Collection.
”Ketika saya tahu bahwa itu melanggar hak cipta, saya berhenti,” lanjut Hendarmin, yang kemudian mendirikan Penerbit Karya Musik Pertiwi mengurusi royalti hak-cipta lagu-lagu keroncong di seluruh dunia dari ciptaan Gesang, Andjar Any (Yen Ing Tawang Ana Lintang), Abdul Ajib (Warung Pojok), Ucin Nurhasyim (Dewi Murni), hingga pencipta lagu lainnya yang bukan keroncong.
GNP didirikan
Tahun 1985, GNP didirikan. Nama GNP diberikan oleh Idris Sardi. Idris Sardi sendiri merekam seluruh album solo biolanya di situ. Untuk operasional GNP, Hendarmin dibantu dua dari tiga anaknya, Sufeni dan Jakawinata, yang bisa ”nyetel” dengan ayahnya dalam berbagai jenis musik yang mereka produksi.
”Sejak dulu saya memang suka keroncong. Maka, album-album yang saya produksi kebanyakan keroncong dan lagu-lagu daerah. Teman-teman sering menilai saya gila. Memang, kalau dihitung secara bisnis, jenis musik ini tidak memberi keuntungan besar,” ujarnya.
Sebagai contoh, Album Emas Gesang yang diproduksi tahun 1999 hanya terjual 7.000 kaset dan 1.000 CD. Memang untuk mencapai break-even-point penjualannya membutuhkan waktu satu hingga dua tahun. Pada tahun ketiga atau mungkin keempat, ia baru bisa menikmati hasilnya.
Melalui Penerbit Karya Musik Pertiwi, Hendarmin juga menerbitkan buku, Gesang. Belum lama ini Hendarmin mendapat penghargaan dari Perpustakaan Nasional karena selama 15 tahun terus-menerus mengirimkan contoh dua copy produksinya. ”Saya sedang menyiapkan buku tentang Koesbini. Siapa yang punya foto-fotonya ya?” tambah Hendarmin.
*Theodore KS Penulis Lepas Khusus Musik
Sumber : Kompas, Sabtu, 1 Oktober 2005
Oleh : Theodore KS* dan Tonny D Widiastono
Hâ luó hâ luó wà n lóng, huâ bân jiâoli de shân chéng,
Hâ luó hâ luó wà n long, qún shân huÔn bà o duÓ mi rén
Ketika mendengar melodi lagu itu, orang segera tersadarkan, itu adalah lagu perjuangan yang tidak asing bagi telinga masyarakat Indonesia.
Namun, ketika dicermati, kita akan terkaget-kaget saat mencermati lirik yang dibawakan, ternyata itu adalah lagu Halo-halo Bandung karya Ismail Marzuki versi Mandarin, yang dibawakan oleh Shanghai Opera Academy Chorus, diiringi Yogyakarta Academy Orchestra.
Coba simak lagu yang lain.
Yìn dù ni xi yà xiân hóng de rè xiê, xuê bai de zhÓng gú, Róng hé chéng wÓ yi pià n à i guó de rè chén.
Itulah lagu Kebyar-kebyar ciptaan Gombloh.
”Ada dua album yang sengaja dikeluarkan memperingati HUT ke-60 RI. Yang pertama, Lagu Cinta Tanah Air Bagimu Neg’ri oleh Harry dan Iin serta Paduan Suara Paguyuban Meizhou Indonesia dan Paduan Suara Overseas Chinese Commerce High School/Panitia Pengawas Sekolah-I yang disingkat OCCHS/ PPS-1. Yang kedua Lagu Cinta Tanah Air Halo Halo Bandung oleh Shanghai Opera Academy Chorus dan Yogyakarta Academy Orchestra. Bersama Kelompok Kerja Seni Musik kami, lebih dari satu tahun, dua album itu dikerjakan,” ujar Hendarmin Susilo, pimpinan PT Gema Nada Pertiwi (GNP) kepada Kompas.
Diakui, lagu-lagu perjuangan versi Mandarin memerlukan tambahan kata di sana-sini agar pas dengan notasinya. Coba simak lagu Halo-halo Bandung yang dimandarinkan. Di sana lirik yang ada tidak bisa begitu saja diterjemahkan. Ada penambahan kata-kata sehingga bila versi Mandarin itu diterjemahkan lagi ke bahasa Indonesia, akan menjadi, ”Halo-halo Bandung, kotanya indah bagaikan bunga. Halo-halo Bandung, dikelilingi pegunungan betapa memesona”.
”Saya berharap dari lagu-lagu perjuangan versi Mandarin ini muncul rasa cinta tanah air pada etnis Tionghoa. Selain itu, ini adalah upaya memperbaiki citra baik negara di masyarakat Tionghoa di luar Indonesia. Sejauh ini, mereka menilai Indonesia sebagai negara rasialis, anti-Tionghoa. Itu kita alami bersama. Selama 32 tahun, bahasa, adat-istiadat, dan tradisi etnis Tionghoa dilarang di Indonesia,” lanjut Hendarmin Susilo.
Hendarmin mengakui, seluruh upaya itu banyak dibantu oleh Moordiana dari ISI Yogyakarta. ”Akibatnya, masyarakat Shanghai yang semula sudah tertarik dengan lagu-lagu dari Indonesia menjadi semakin mengerti makna lagu yang dibawakan. Mereka amat menyukai lagu Pak Gesang, Bengawan Solo,” lanjut Hendarmin.
Lahir di Jakarta, 3 Desember 1945, sebagai anak pertama dari lima bersaudara, Hendarmin mengenal musik klasik opera China dari piringan hitam koleksi ayahnya. Peran orangtuanya pula yang kemudian membuatnya berani memulai sebuah usaha rekam-merekam lagu di pusat hiburan Prinsen Park (kini Lokasari), Mangga Besar, Jakarta, pada awal 1970-an. Di emper restoran ayahnya, Hendarmin membawa tape-recorder Akai lengkap dengan piringan hitam koleksinya, menerima pesanan merekam lagu-lagu dari piringan hitam. Itulah awal perusahaan rekaman lagu-lagu Barat, Hins Collection.
”Ketika saya tahu bahwa itu melanggar hak cipta, saya berhenti,” lanjut Hendarmin, yang kemudian mendirikan Penerbit Karya Musik Pertiwi mengurusi royalti hak-cipta lagu-lagu keroncong di seluruh dunia dari ciptaan Gesang, Andjar Any (Yen Ing Tawang Ana Lintang), Abdul Ajib (Warung Pojok), Ucin Nurhasyim (Dewi Murni), hingga pencipta lagu lainnya yang bukan keroncong.
GNP didirikan
Tahun 1985, GNP didirikan. Nama GNP diberikan oleh Idris Sardi. Idris Sardi sendiri merekam seluruh album solo biolanya di situ. Untuk operasional GNP, Hendarmin dibantu dua dari tiga anaknya, Sufeni dan Jakawinata, yang bisa ”nyetel” dengan ayahnya dalam berbagai jenis musik yang mereka produksi.
”Sejak dulu saya memang suka keroncong. Maka, album-album yang saya produksi kebanyakan keroncong dan lagu-lagu daerah. Teman-teman sering menilai saya gila. Memang, kalau dihitung secara bisnis, jenis musik ini tidak memberi keuntungan besar,” ujarnya.
Sebagai contoh, Album Emas Gesang yang diproduksi tahun 1999 hanya terjual 7.000 kaset dan 1.000 CD. Memang untuk mencapai break-even-point penjualannya membutuhkan waktu satu hingga dua tahun. Pada tahun ketiga atau mungkin keempat, ia baru bisa menikmati hasilnya.
Melalui Penerbit Karya Musik Pertiwi, Hendarmin juga menerbitkan buku, Gesang. Belum lama ini Hendarmin mendapat penghargaan dari Perpustakaan Nasional karena selama 15 tahun terus-menerus mengirimkan contoh dua copy produksinya. ”Saya sedang menyiapkan buku tentang Koesbini. Siapa yang punya foto-fotonya ya?” tambah Hendarmin.
*Theodore KS Penulis Lepas Khusus Musik
Sumber : Kompas, Sabtu, 1 Oktober 2005
Harold Pinter : Jejak Sastra dan Jerit Antiperang Harold Pinter
Jejak Sastra dan Jerit Antiperang Harold Pinter
Oleh : Dahono Fitrianto
Hadiah Nobel terakhir yang diumumkan tahun ini adalah Nobel untuk sastra. Pemenangnya adalah penulis naskah drama asal Inggris, Harold Pinter (75), yang membuatnya menjadi orang Inggris kedelapan yang memperoleh penghargaan tertinggi ini.
Pinter yang lahir di London, 10 Oktober 1930, saat ini dianggap sebagai penulis drama terbesar di Inggris yang masih hidup. Sebelum mendapatkan Nobel, Pinter telah mengoleksi beberapa penghargaan prestisius di bidang sastra, antara lain Shakespeare Prize, The European Prize for Literature, Pirandello Prize, David Cohen British Literature Prize, Laurence Olivier Award, dan Moliere D’Honneur.
Pinter menciptakan sebuah gaya khas dalam dunia drama dan teater. Pentas-pentas teater karyanya banyak menampilkan adegan diam dan sunyi yang menjadi kekuatan utama untuk menampilkan atmosfer artistik.
Begitu melekatnya Pinter dengan gaya khas tersebut, sampai ada istilah dalam bahasa Inggris untuknya, yakni ”pinteresque”. Itu kata sifat untuk menggambarkan suasana teater yang penuh keheningan dan pesan-pesan yang disampaikan secara tidak langsung.
Drama-drama karya Pinter biasanya bernuansa suram dan sedih, berisi karakter-karakter yang penuh teka-teki. Ceritanya mengangkat hal-hal tentang hubungan antarmanusia yang berisi dominasi dan kepasrahan, ancaman dan ketidakadilan, dibumbui berbagai fantasi dan obsesi seksual yang aneh dan menyiksa. Para kritikus menyebut beberapa mahakarya Pinter sebagai sebuah pertunjukan kegelisahan (the theatre of insecurity).
Para juri dari Akademi Swedia (Swedish Academy) yang menentukan pemenang Nobel sastra menyebut karya-karya Pinter ”membuka jurang dan tebing-tebing terjal yang ada di balik kehidupan sehari-hari dan membawa kita ke dalam ruangan tertutup sebuah penindasan”.
”Pinter telah mengembalikan unsur-unsur dasar dalam teater: sebuah ruangan tertutup dan dialog yang tak bisa ditebak, di mana orang saling mengasihani dan tidak ada kepura-puraan lagi,” ujar juru bicara Akademi Swedia, Horace Engdahl, di Stockholm.
Pengakuan ini disertai prestasi dan kiprah nyatanya di dunia teater dan sastra Inggris selama 50 tahun terakhir diharapkan tidak akan mengulang munculnya kontroversi penganugerahan Nobel dalam bidang sastra. Terpilihnya pemenang tahun lalu, penulis dan tokoh feminis asal Austria, Elfriede Jelinek, memunculkan kontroversi.
Antiperang
Harold Pinter lahir dari pasangan Portugis-Yahudi. Ayahnya seorang penjahit yang tinggal di kawasan kumuh di Distrik Hackney, East End, London. Selain dikenal sebagai seorang penulis naskah drama yang hebat, Pinter juga seorang aktivis antiperang sejati.
Dalam biografinya, Pinter mengakui mengalami masa kecil yang sulit. Perlakuan rasialis anti-Semit terhadap warga keturunan Yahudi dan hidup di tengah Kota London yang dihujani bom-bom Jerman pada masa Perang Dunia II turut membentuk pribadinya yang sangat antiperang dan berpandangan politik sayap kiri serta berpengaruh besar terhadap keputusannya menjadi penulis drama.
Sempat mencicipi pendidikan di Royal Academy of Dramatic Art (Rada), tetapi tidak selesai, Pinter mengawali kehidupan sastranya dengan menulis puisi pada tahun 1950. Dua tahun setelah itu, ia menjadi aktor dalam kelompok teater Andrew McMaster dan melakukan pertunjukan keliling Irlandia, memainkan beberapa lakon karya Shakespeare.
Debut naskah dramanya berjudul The Room yang dipentaskan pertama kali di Bristol, Inggris, tahun 1957. Hanya dalam waktu tiga tahun, gaya dan istilah ”pinteresque” telah dikenal luas di seluruh Inggris bersamaan dengan tampilnya beberapa mahakarya Pinter, yakni The Birthday Party, The Caretaker, The Homecoming, dan The Bretayal.
Sejak saat itu, Pinter telah menulis 29 naskah drama, menyutradarai 27 pentas teater, dan menulis beberapa skenario film layar lebar dan film televisi.
Pada saat Inggris membantu AS menginvasi Irak tahun 2003, Pinter secara terbuka dan terang-terangan menyatakan penentangannya. ”Kita telah membawa penyiksaan, bom, uranium, pembunuhan acak yang tak terhitung, penderitaan, dan degradasi kepada warga Irak dan menyebutnya ’membawa kebebasan dan demokrasi ke Timur Tengah’,” tuturnya dalam sebuah pidato antiperang Maret lalu.
Tahun 2002, Pinter mengumumkan dia terkena kanker tenggorokan. Namun, itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berjuang menentang perang dan tindakan ketidakadilan di dunia.
Bahkan, bulan Maret lalu, Pinter mengumumkan pengunduran dirinya dari dunia teater dan drama untuk lebih berkonsentrasi pada dunia puisi dan politik. ”Energiku sekarang kupakai untuk urusan lain, salah satunya (menulis) puisi. Aku sekarang menggunakan sebagian besar energi untuk urusan politik yang semakin hari makin mengkhawatirkan,” tuturnya. (BBC News/AP/AFP/Reuters)
Sumber : Kompas, Sabtu, 15Oktober 2005
Oleh : Dahono Fitrianto
Hadiah Nobel terakhir yang diumumkan tahun ini adalah Nobel untuk sastra. Pemenangnya adalah penulis naskah drama asal Inggris, Harold Pinter (75), yang membuatnya menjadi orang Inggris kedelapan yang memperoleh penghargaan tertinggi ini.
Pinter yang lahir di London, 10 Oktober 1930, saat ini dianggap sebagai penulis drama terbesar di Inggris yang masih hidup. Sebelum mendapatkan Nobel, Pinter telah mengoleksi beberapa penghargaan prestisius di bidang sastra, antara lain Shakespeare Prize, The European Prize for Literature, Pirandello Prize, David Cohen British Literature Prize, Laurence Olivier Award, dan Moliere D’Honneur.
Pinter menciptakan sebuah gaya khas dalam dunia drama dan teater. Pentas-pentas teater karyanya banyak menampilkan adegan diam dan sunyi yang menjadi kekuatan utama untuk menampilkan atmosfer artistik.
Begitu melekatnya Pinter dengan gaya khas tersebut, sampai ada istilah dalam bahasa Inggris untuknya, yakni ”pinteresque”. Itu kata sifat untuk menggambarkan suasana teater yang penuh keheningan dan pesan-pesan yang disampaikan secara tidak langsung.
Drama-drama karya Pinter biasanya bernuansa suram dan sedih, berisi karakter-karakter yang penuh teka-teki. Ceritanya mengangkat hal-hal tentang hubungan antarmanusia yang berisi dominasi dan kepasrahan, ancaman dan ketidakadilan, dibumbui berbagai fantasi dan obsesi seksual yang aneh dan menyiksa. Para kritikus menyebut beberapa mahakarya Pinter sebagai sebuah pertunjukan kegelisahan (the theatre of insecurity).
Para juri dari Akademi Swedia (Swedish Academy) yang menentukan pemenang Nobel sastra menyebut karya-karya Pinter ”membuka jurang dan tebing-tebing terjal yang ada di balik kehidupan sehari-hari dan membawa kita ke dalam ruangan tertutup sebuah penindasan”.
”Pinter telah mengembalikan unsur-unsur dasar dalam teater: sebuah ruangan tertutup dan dialog yang tak bisa ditebak, di mana orang saling mengasihani dan tidak ada kepura-puraan lagi,” ujar juru bicara Akademi Swedia, Horace Engdahl, di Stockholm.
Pengakuan ini disertai prestasi dan kiprah nyatanya di dunia teater dan sastra Inggris selama 50 tahun terakhir diharapkan tidak akan mengulang munculnya kontroversi penganugerahan Nobel dalam bidang sastra. Terpilihnya pemenang tahun lalu, penulis dan tokoh feminis asal Austria, Elfriede Jelinek, memunculkan kontroversi.
Antiperang
Harold Pinter lahir dari pasangan Portugis-Yahudi. Ayahnya seorang penjahit yang tinggal di kawasan kumuh di Distrik Hackney, East End, London. Selain dikenal sebagai seorang penulis naskah drama yang hebat, Pinter juga seorang aktivis antiperang sejati.
Dalam biografinya, Pinter mengakui mengalami masa kecil yang sulit. Perlakuan rasialis anti-Semit terhadap warga keturunan Yahudi dan hidup di tengah Kota London yang dihujani bom-bom Jerman pada masa Perang Dunia II turut membentuk pribadinya yang sangat antiperang dan berpandangan politik sayap kiri serta berpengaruh besar terhadap keputusannya menjadi penulis drama.
Sempat mencicipi pendidikan di Royal Academy of Dramatic Art (Rada), tetapi tidak selesai, Pinter mengawali kehidupan sastranya dengan menulis puisi pada tahun 1950. Dua tahun setelah itu, ia menjadi aktor dalam kelompok teater Andrew McMaster dan melakukan pertunjukan keliling Irlandia, memainkan beberapa lakon karya Shakespeare.
Debut naskah dramanya berjudul The Room yang dipentaskan pertama kali di Bristol, Inggris, tahun 1957. Hanya dalam waktu tiga tahun, gaya dan istilah ”pinteresque” telah dikenal luas di seluruh Inggris bersamaan dengan tampilnya beberapa mahakarya Pinter, yakni The Birthday Party, The Caretaker, The Homecoming, dan The Bretayal.
Sejak saat itu, Pinter telah menulis 29 naskah drama, menyutradarai 27 pentas teater, dan menulis beberapa skenario film layar lebar dan film televisi.
Pada saat Inggris membantu AS menginvasi Irak tahun 2003, Pinter secara terbuka dan terang-terangan menyatakan penentangannya. ”Kita telah membawa penyiksaan, bom, uranium, pembunuhan acak yang tak terhitung, penderitaan, dan degradasi kepada warga Irak dan menyebutnya ’membawa kebebasan dan demokrasi ke Timur Tengah’,” tuturnya dalam sebuah pidato antiperang Maret lalu.
Tahun 2002, Pinter mengumumkan dia terkena kanker tenggorokan. Namun, itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus berjuang menentang perang dan tindakan ketidakadilan di dunia.
Bahkan, bulan Maret lalu, Pinter mengumumkan pengunduran dirinya dari dunia teater dan drama untuk lebih berkonsentrasi pada dunia puisi dan politik. ”Energiku sekarang kupakai untuk urusan lain, salah satunya (menulis) puisi. Aku sekarang menggunakan sebagian besar energi untuk urusan politik yang semakin hari makin mengkhawatirkan,” tuturnya. (BBC News/AP/AFP/Reuters)
Sumber : Kompas, Sabtu, 15Oktober 2005
Haditono : 13 Tahun dengan Jantung Cangkokan
Jun 20, 2009
13 Tahun dengan Jantung Cangkokan
Oleh : Djoko Poernomo
Penderita penyakit jantung koroner yang menjalani operasi bypass dan berhasil jumlahnya cukup banyak. Namun, penderita kelainan jantung yang lalu menerima cangkok jantung, jumlahnya bisa dihitung dengan jari.
Konon orang Indonesia yang pernah menjalani operasi demikian baru dua orang. Yang pertama meninggal dunia setelah tiga bulan. Satunya lagi mampu bertahan hingga sekarang. Dia adalah Dr H Haditono, Presiden Komisaris Golden Rama Express Tours & Travel.
Jika Pak Hadi (demikian ia biasa dipanggil) menjalani operasi cangkok jantung di Stanford University Hospital (SUH), San Francisco, Amerika Serikat, Juni 1992, berarti bapak empat anak ini sudah hidup bersama jantung milik orang lain selama 13 tahun lebih. Usia Pak Hadi sendiri pada 12 Desember 2005 genap 75 tahun.
Mengutip keterangan rumah sakit, Pak Hadi menuturkan, pasien cangkok jantung yang mampu bertahan hidup di bawah satu tahun tercatat 15 persen, kemudian sisanya (85 persen) bisa bertahan hidup lebih lama. Dari jumlah yang disebut terakhir, 65 persen bertahan hidup lebih tiga tahun, 55 persen lebih lima tahun, dan 35 persen harapan hidupnya lebih 10 tahun.
Bersyukur
Saya sendiri bersyukur bisa melewati angka 10 tahun. Malah kini mendekati 14 tahun, tutur pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah, ini pekan lalu. Sekarang ia berharap bisa melewati angka (usia) 75 tahun dan juga melewati 14 Januari 2006, saat menikahkan anak keempatnya, Andrew Markata Haditono (28).
Setelah itu saya bebas, tak ada beban, ujar suami Virginia Herawati Pranatyo. Anak kedua dan ketiga memberi Pak Hadi tiga cucu, sementara anak pertama, Praya Soetama Haditono, meninggal pada usia 27 tahun di Amerika Serikat.
Dalam buku Dr H Haditono Keajaiban Cangkok Jantung (Maharani Press, 2001), Pak Hadi berkisah: Peristiwa itu terjadi tahun 1977. Entah mengapa tiba-tiba jantung terasa berdetak lebih cepat. Sebagai seorang dokter, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Saat didiagnosis, otot jantung ternyata mengalami kerusakan. Setahu saya banyak faktor menjadi penyebab, antara lain oleh masuknya kuman melalui kanal bekas saraf pada akar gigi. Kuman itu masuk ke peredaran darah dan akhirnya merusak katup jantung atau bisa saja organ lain. Dan, penyebab inilah yang mungkin sedang saya hadapi, yaitu kuman yang bersembunyi dan menimbulkan infeksi di akar gigi yang lazim disebut infeksi fokal (focal infection) di mana dapat menjalar ke ginjal dan jantung.
Pada akhir Maret 1980, Pak Hadi menjalani operasi katup jantung di London. Operasi berjalan sukses. Namun, ternyata otot jantung saya telanjur membesar dan otot jantung sebelah kiri melemah. Akibatnya, jantung saya kembali berdetak cepat sekali, 140-160 kali per menit. Padahal, normal hanya 80 kali.
Kecuali operasi katup jantung (1987) disusul cangkok jantung (1992), Pak Hadi pernah menjalani empat operasi lain, berturut-turut hernia, prostat, sinusitis, dan pembungkusan aorta.
Sampai sekarang Pak Hadi tidak mengetahui pemilik jantung yang dicangkokkan kepadanya. Saya hanya tahu, pedonor berusia 27 tahun, kata Pak Hadi lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga tahun 1959.
Kepada dokter yang menangani operasi cangkok jantung, Pak Hadi pernah menyatakan keinginan agar diizinkan membawa pulang jantung yang sudah tidak terpakai. Ya, sekadar untuk mengenang organ tubuh yang berjasa menghidupi selama 60 tahun. Namun, dokter menolak, ujarnya.
Tongkat hidup
Meski dua tahun terakhir harus menggunakan tongkat hidup, yaitu seorang pemuda yang berjalan di depannya untuk dijadikan pegangan, Pak Hadi di usia senja tetap merasa fit. Setiap hari ia masih kuat berkantor di kawasan Tanah Abang, Jakarta, serta mengendalikan 200-an karyawan Golden Rama di berbagai kota.
Kesukaan nonton pertandingan olahraga pun tidak surut. Ia mengaku nonton semua event olimpiade sejak Meksiko (1968) hingga Sydney (2000), kecuali Olimpiade Barcelona (1992) karena bertepatan operasi cangkok jantung.
Tahun 1960-an Pak Hadi muda menyertai Tim Piala Thomas sebagai dokter tim sekaligus pengurus PBSI. Beberapa tahun kemudian diangkat sebagai anggota dewan pengurus Yayasan Trisakti (kemudian mengundurkan diri), dan kini menjadi anggota Dewan Penyantun Universitas Bung Karno.
Wasiat hidup Pak Hadi adalah jangan menyakiti hati, jangan merugikan orang lain, dan berilah kebahagiaan kepada sesama. Yang disebut terakhir diwujudkan dalam bentuk pemberian beasiswa kepada 50-an anak yatim di perguruan tinggi.
Lalu tentang resep ketahanan menggunakan jantung orang lain; menjaga makanan tak banyak lemak, banyak makan sayur dan buah-buahan, olahraga teratur, tidak merokok, serta menghindari stres. Ini yang paling sulit..., selorohnya.
Sumber : Kompas, Rabu, 14 Desember 2005
Oleh : Djoko Poernomo
Penderita penyakit jantung koroner yang menjalani operasi bypass dan berhasil jumlahnya cukup banyak. Namun, penderita kelainan jantung yang lalu menerima cangkok jantung, jumlahnya bisa dihitung dengan jari.
Konon orang Indonesia yang pernah menjalani operasi demikian baru dua orang. Yang pertama meninggal dunia setelah tiga bulan. Satunya lagi mampu bertahan hingga sekarang. Dia adalah Dr H Haditono, Presiden Komisaris Golden Rama Express Tours & Travel.
Jika Pak Hadi (demikian ia biasa dipanggil) menjalani operasi cangkok jantung di Stanford University Hospital (SUH), San Francisco, Amerika Serikat, Juni 1992, berarti bapak empat anak ini sudah hidup bersama jantung milik orang lain selama 13 tahun lebih. Usia Pak Hadi sendiri pada 12 Desember 2005 genap 75 tahun.
Mengutip keterangan rumah sakit, Pak Hadi menuturkan, pasien cangkok jantung yang mampu bertahan hidup di bawah satu tahun tercatat 15 persen, kemudian sisanya (85 persen) bisa bertahan hidup lebih lama. Dari jumlah yang disebut terakhir, 65 persen bertahan hidup lebih tiga tahun, 55 persen lebih lima tahun, dan 35 persen harapan hidupnya lebih 10 tahun.
Bersyukur
Saya sendiri bersyukur bisa melewati angka 10 tahun. Malah kini mendekati 14 tahun, tutur pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah, ini pekan lalu. Sekarang ia berharap bisa melewati angka (usia) 75 tahun dan juga melewati 14 Januari 2006, saat menikahkan anak keempatnya, Andrew Markata Haditono (28).
Setelah itu saya bebas, tak ada beban, ujar suami Virginia Herawati Pranatyo. Anak kedua dan ketiga memberi Pak Hadi tiga cucu, sementara anak pertama, Praya Soetama Haditono, meninggal pada usia 27 tahun di Amerika Serikat.
Dalam buku Dr H Haditono Keajaiban Cangkok Jantung (Maharani Press, 2001), Pak Hadi berkisah: Peristiwa itu terjadi tahun 1977. Entah mengapa tiba-tiba jantung terasa berdetak lebih cepat. Sebagai seorang dokter, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Saat didiagnosis, otot jantung ternyata mengalami kerusakan. Setahu saya banyak faktor menjadi penyebab, antara lain oleh masuknya kuman melalui kanal bekas saraf pada akar gigi. Kuman itu masuk ke peredaran darah dan akhirnya merusak katup jantung atau bisa saja organ lain. Dan, penyebab inilah yang mungkin sedang saya hadapi, yaitu kuman yang bersembunyi dan menimbulkan infeksi di akar gigi yang lazim disebut infeksi fokal (focal infection) di mana dapat menjalar ke ginjal dan jantung.
Pada akhir Maret 1980, Pak Hadi menjalani operasi katup jantung di London. Operasi berjalan sukses. Namun, ternyata otot jantung saya telanjur membesar dan otot jantung sebelah kiri melemah. Akibatnya, jantung saya kembali berdetak cepat sekali, 140-160 kali per menit. Padahal, normal hanya 80 kali.
Kecuali operasi katup jantung (1987) disusul cangkok jantung (1992), Pak Hadi pernah menjalani empat operasi lain, berturut-turut hernia, prostat, sinusitis, dan pembungkusan aorta.
Sampai sekarang Pak Hadi tidak mengetahui pemilik jantung yang dicangkokkan kepadanya. Saya hanya tahu, pedonor berusia 27 tahun, kata Pak Hadi lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga tahun 1959.
Kepada dokter yang menangani operasi cangkok jantung, Pak Hadi pernah menyatakan keinginan agar diizinkan membawa pulang jantung yang sudah tidak terpakai. Ya, sekadar untuk mengenang organ tubuh yang berjasa menghidupi selama 60 tahun. Namun, dokter menolak, ujarnya.
Tongkat hidup
Meski dua tahun terakhir harus menggunakan tongkat hidup, yaitu seorang pemuda yang berjalan di depannya untuk dijadikan pegangan, Pak Hadi di usia senja tetap merasa fit. Setiap hari ia masih kuat berkantor di kawasan Tanah Abang, Jakarta, serta mengendalikan 200-an karyawan Golden Rama di berbagai kota.
Kesukaan nonton pertandingan olahraga pun tidak surut. Ia mengaku nonton semua event olimpiade sejak Meksiko (1968) hingga Sydney (2000), kecuali Olimpiade Barcelona (1992) karena bertepatan operasi cangkok jantung.
Tahun 1960-an Pak Hadi muda menyertai Tim Piala Thomas sebagai dokter tim sekaligus pengurus PBSI. Beberapa tahun kemudian diangkat sebagai anggota dewan pengurus Yayasan Trisakti (kemudian mengundurkan diri), dan kini menjadi anggota Dewan Penyantun Universitas Bung Karno.
Wasiat hidup Pak Hadi adalah jangan menyakiti hati, jangan merugikan orang lain, dan berilah kebahagiaan kepada sesama. Yang disebut terakhir diwujudkan dalam bentuk pemberian beasiswa kepada 50-an anak yatim di perguruan tinggi.
Lalu tentang resep ketahanan menggunakan jantung orang lain; menjaga makanan tak banyak lemak, banyak makan sayur dan buah-buahan, olahraga teratur, tidak merokok, serta menghindari stres. Ini yang paling sulit..., selorohnya.
Sumber : Kompas, Rabu, 14 Desember 2005
Haryono Haryoguritno : Menukar Mercy dengan Keris
Menukar Mercy dengan Keris
Oleh : Jimmy S Harianto
Jika Anda berniat jadi penggemar keris, bersiap-siaplah mengalami gesekan dengan keluarga. Bukan lantaran pengaruh daya magis dari benda pusaka warisan nenek moyang ini, tetapi sebenarnya hanya persoalan yang muncul akibat bergesernya prioritas Anda.
Menekuni hobi, kata Ir Haryono Haryoguritno (74) di kalangannya disebut pakar keris manusia tak pernah bisa adil.
Demi hobi, kita terkadang terpaksa mengorbankan kepentingan lain sehingga membuat ketidakseimbangan sesaat. Gesekan dengan keluarga pun terjadi, kata Haryono yang semasa masih mahasiswa Jurusan Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) adalah penggemar bongkar-pasang motor Harley Davidson.
Sebuah pengalaman spektakuler Haryono berkaitan dengan hobi kerisnya terjadi sekitar tahun 1978. Suatu saat, sepulang dari perjalanannya ke Solo, Jawa Tengah, mobil Mercy 280 S Tiger tahun 1972 warna putih miliknya dia tukar dengan tiga bilah keris milik bangsawan Mangkunegaran.
Saya tentu syok. Pulang-pulang dari Solo, mobilnya ditukar keris, kata Indreswari Radityani, istri Haryono, insinyur sipil air lulusan ITB dan kini pengajar di Universitas Indonesia. Pasangan ini dianugerahi dua putri dan menantikan kehadiran cucu kedua.
Haryono saat itu memang tengah tergila-gila keris sehingga ketika melihat tiga bilah keris pusaka keraton itu langsung jatuh cinta. Tiga keris pusaka yang digandrungi Haryono itu berdapur (model) Parungsari luk (berlekuk) 13 tangguh (masa pembuatan) Pajang, lalu keris luk 13 pamor Ron Genduru (pamor atau motif logam yang muncul di permukaan bilah seperti gambar blarak, daun kelapa) dan keris Tilamupih (dapur keris lurus, kinatah atau bertatahkan emas) berperabot intan milik bangsawan Solo itu.
Salah satunya, Parungsari luk 13, masih saya simpan dan jadi salah satu kesayangan saya, katanya. Seperti halnya dulu ketika menggemari Harley Davidson, Haryono memang dengan sepenuh hati menggemari keris koleksinya.
Mencemburui keris juga pernah dialami Indreswari Guritno. Sampai-sampai mertua Haryono turut campur.
Keris kesayangan saya sempat disita mertua karena lama kami tak punya anak. Bagaimana punya anak kalau saya malah ngelon (tidur bersama) keris? ungkap Haryono berseloroh.
Keris yang disita itu memang indah rupanya. Keris itu berdapur Kalamisani (jenis dapur lurus) bikinan empu Brajasetika pada masa pemerintahan Raja Solo Paku Buwono (PB) IX. Sering Haryono membawa keris ini ke tempat tidur dan menimang-nimangnya di samping istrinya, seperti layaknya istri kedua.
Buku dan usulan keris
Puncak intensitas kecintaan Haryono Haryoguritno pada keris adalah penulisan buku berjudul Keris Jawa, Antara Mistik dan Nalar, buku tebal dan mungkin terlengkap yang pernah ada tentang pengetahuan keris. Buku yang disusun dari akumulasi pengetahuannya lebih dari 30 tahun tentang keris ini sudah naik cetak dan akan diluncurkan awal tahun 2006.
Puncak kecintaan Haryono yang lain adalah ketika ia bersama timnya dari perkumpulan penggemar keris yang pernah dipimpinnya, Damartaji, berhasil meyakinkan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) sehingga keris Indonesia diakui dunia sebagai salah satu warisan budaya manusia yang harus dilestarikan, Oral and Intangible Heritage of Humanity, dalam sidangnya di Paris, 25 November 2005.
Selain benda keris sudah diakui dunia sebagai salah satu hasil seni budaya unik dari Indonesia, UNESCO juga mengakui keris sebagai tradisi Indonesia yang masih mempunyai fungsi sosial di masyarakatnya, merupakan pula manifestasi seni unggul Indonesia, mempunyai falsafah hidup, di samping juga tak diingkari memiliki kandungan mistik.
Keris tidak hanya diukur dari bendanya saja, tetapi juga nilai abstraknya sehingga muncul pengakuan (UNESCO) itu, ungkap Haryono yang pernah menjadi ajudan presiden pertama RI, Soekarno, menggantikan Bambang Widjanarko, pada akhir tahun 1960-an.
Beralih minat
Haryono sendiri mengaku mulai mengalihkan hobinya dari Harley Davidson ke keris sepulang tugas dari Irian Barat pada masa Soekarno, ketika dia memegang pangkalan Angkatan Laut di Manokwari. Sepulang dari Irian, Haryono menjual Harley Davidson-nya yang ketiga bertahun 1952 saat pindah dari Surabaya ke Jakarta. Ketika pindah ke Jakarta, Haryono berusia 36 tahun dan belum menikah.
Meski dalam perjalanan saya pernah konfrontasi dengan istri karena keris. Sekarang tidak lagi. Ia sudah bisa menerima hobi saya, katanya.
Tidak heran jika kini Indreswari sudah bisa menunjukkan keris yang paling ia sukai, yaitu yang bertatahkan emas hampir tiga perempat badan bilah. Dan memang, keris yang diberikan kepada Indreswari itu adalah yang terindah di antara puluhan bahkan ratusan koleksi keris milik Haryono Haryoguritno.
Sumber : Kompas, Selasa, 27 Desember 2005
Oleh : Jimmy S Harianto
Jika Anda berniat jadi penggemar keris, bersiap-siaplah mengalami gesekan dengan keluarga. Bukan lantaran pengaruh daya magis dari benda pusaka warisan nenek moyang ini, tetapi sebenarnya hanya persoalan yang muncul akibat bergesernya prioritas Anda.
Menekuni hobi, kata Ir Haryono Haryoguritno (74) di kalangannya disebut pakar keris manusia tak pernah bisa adil.
Demi hobi, kita terkadang terpaksa mengorbankan kepentingan lain sehingga membuat ketidakseimbangan sesaat. Gesekan dengan keluarga pun terjadi, kata Haryono yang semasa masih mahasiswa Jurusan Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) adalah penggemar bongkar-pasang motor Harley Davidson.
Sebuah pengalaman spektakuler Haryono berkaitan dengan hobi kerisnya terjadi sekitar tahun 1978. Suatu saat, sepulang dari perjalanannya ke Solo, Jawa Tengah, mobil Mercy 280 S Tiger tahun 1972 warna putih miliknya dia tukar dengan tiga bilah keris milik bangsawan Mangkunegaran.
Saya tentu syok. Pulang-pulang dari Solo, mobilnya ditukar keris, kata Indreswari Radityani, istri Haryono, insinyur sipil air lulusan ITB dan kini pengajar di Universitas Indonesia. Pasangan ini dianugerahi dua putri dan menantikan kehadiran cucu kedua.
Haryono saat itu memang tengah tergila-gila keris sehingga ketika melihat tiga bilah keris pusaka keraton itu langsung jatuh cinta. Tiga keris pusaka yang digandrungi Haryono itu berdapur (model) Parungsari luk (berlekuk) 13 tangguh (masa pembuatan) Pajang, lalu keris luk 13 pamor Ron Genduru (pamor atau motif logam yang muncul di permukaan bilah seperti gambar blarak, daun kelapa) dan keris Tilamupih (dapur keris lurus, kinatah atau bertatahkan emas) berperabot intan milik bangsawan Solo itu.
Salah satunya, Parungsari luk 13, masih saya simpan dan jadi salah satu kesayangan saya, katanya. Seperti halnya dulu ketika menggemari Harley Davidson, Haryono memang dengan sepenuh hati menggemari keris koleksinya.
Mencemburui keris juga pernah dialami Indreswari Guritno. Sampai-sampai mertua Haryono turut campur.
Keris kesayangan saya sempat disita mertua karena lama kami tak punya anak. Bagaimana punya anak kalau saya malah ngelon (tidur bersama) keris? ungkap Haryono berseloroh.
Keris yang disita itu memang indah rupanya. Keris itu berdapur Kalamisani (jenis dapur lurus) bikinan empu Brajasetika pada masa pemerintahan Raja Solo Paku Buwono (PB) IX. Sering Haryono membawa keris ini ke tempat tidur dan menimang-nimangnya di samping istrinya, seperti layaknya istri kedua.
Buku dan usulan keris
Puncak intensitas kecintaan Haryono Haryoguritno pada keris adalah penulisan buku berjudul Keris Jawa, Antara Mistik dan Nalar, buku tebal dan mungkin terlengkap yang pernah ada tentang pengetahuan keris. Buku yang disusun dari akumulasi pengetahuannya lebih dari 30 tahun tentang keris ini sudah naik cetak dan akan diluncurkan awal tahun 2006.
Puncak kecintaan Haryono yang lain adalah ketika ia bersama timnya dari perkumpulan penggemar keris yang pernah dipimpinnya, Damartaji, berhasil meyakinkan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) sehingga keris Indonesia diakui dunia sebagai salah satu warisan budaya manusia yang harus dilestarikan, Oral and Intangible Heritage of Humanity, dalam sidangnya di Paris, 25 November 2005.
Selain benda keris sudah diakui dunia sebagai salah satu hasil seni budaya unik dari Indonesia, UNESCO juga mengakui keris sebagai tradisi Indonesia yang masih mempunyai fungsi sosial di masyarakatnya, merupakan pula manifestasi seni unggul Indonesia, mempunyai falsafah hidup, di samping juga tak diingkari memiliki kandungan mistik.
Keris tidak hanya diukur dari bendanya saja, tetapi juga nilai abstraknya sehingga muncul pengakuan (UNESCO) itu, ungkap Haryono yang pernah menjadi ajudan presiden pertama RI, Soekarno, menggantikan Bambang Widjanarko, pada akhir tahun 1960-an.
Beralih minat
Haryono sendiri mengaku mulai mengalihkan hobinya dari Harley Davidson ke keris sepulang tugas dari Irian Barat pada masa Soekarno, ketika dia memegang pangkalan Angkatan Laut di Manokwari. Sepulang dari Irian, Haryono menjual Harley Davidson-nya yang ketiga bertahun 1952 saat pindah dari Surabaya ke Jakarta. Ketika pindah ke Jakarta, Haryono berusia 36 tahun dan belum menikah.
Meski dalam perjalanan saya pernah konfrontasi dengan istri karena keris. Sekarang tidak lagi. Ia sudah bisa menerima hobi saya, katanya.
Tidak heran jika kini Indreswari sudah bisa menunjukkan keris yang paling ia sukai, yaitu yang bertatahkan emas hampir tiga perempat badan bilah. Dan memang, keris yang diberikan kepada Indreswari itu adalah yang terindah di antara puluhan bahkan ratusan koleksi keris milik Haryono Haryoguritno.
Sumber : Kompas, Selasa, 27 Desember 2005
Hadyanto Lim : Pemahaman Baru Penyakit Jantung
Jun 19, 2009
Pemahaman Baru Penyakit Jantung
Oleh : Khaerudin
Penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian utama di Indonesia. Namun, sekarang, penderita gagal jantung mungkin bisa memiliki harapan hidup lebih baik. Penemuan peran molekuler sitokin Transforming Growth Factor-Bheta1 atau TGF-Bheta1 membuka lembaran baru dalam pemahaman penyakit gagal jantung kronis.
Dr Hadyanto Lim berhasil menemukan peran molekuler sitokin TGF-Bheta1 dalam proses pembentukan jaringan fibrosa di otot jantung (myocardial fibrosis). Penemuan ini berawal dari penelitian disertasi program doktor ilmu kedokteran di Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara (USU), Medan.
Menempuh program doktoral di USU, Hadyanto melakukan penelitian di laboratorium farmakologi divisi kardiovaskuler National University of Singapore (NUS) di bawah bimbingan peneliti utama dari NUS dan Fuden University Shanghai China, Profesor Zhu Yi Zhun MD, PhD.
Penemuannya ini mengantarkan Hadyanto meraih gelar doktor dengan predikat summa cum laude. Penelitian yang dia lakukan selama lima bulan (Februari-Juni 2005) itu juga diganjar penghargaan sebagai riset terbaik dari divisi riset kardiovaskuler NUS.
Lantas bagaimana peran molekul TGF-Bheta1 dalam proses komplikasi pada gagal jantung kronis? Menurut Hadyanto, seseorang yang divonis menderita penyakit jantung dan menjalani perawatan, baik lewat metode balonisasi maupun operasi by pass, tetap memiliki risiko kematian yang tinggi seiring berjalannya waktu.
”Fungsi otot jantung penderita tetap tidak akan senormal jantung orang sehat. Pascapengobatan dan operasi, seiring bertambahnya usia, penderita tetap memiliki potensi mengalami pembesaran otot jantung (remodelling). TGF-Bheta1 adalah molekul yang bisa menumbuhkan sel-sel jantung yang beralur pada pembesaran otot jantung. Molekul TGF-Bheta1 akan mengakibatkan penumpukan extra cellular matrix protein, terutama kolagen tipe I dan III,” ujarnya.
Penumpukan jaringan kolagen pada otot jantung akibat peran molekul TGF-Bheta1 inilah yang membentuk jaringan fibrosa di otot jantung. ”Akibatnya, otot jantung menjadi kaku. Fungsi otot jantung sebagai pemompa pun terganggu,” tutur dokter kelahiran Bagansiapi-api, 20 Desember 1961, ini.
Umumnya dipercaya, pembesaran jantung atau remodelling pada penderita jantung koroner dan penyakit jantung lainnya pascapengobatan dan operasi merupakan adaptasi sel miokard (sel otot jantung). ”Namun, fibrosis yang bersifat progresif dapat mengganggu kerja, metabolisme, dan pengangkutan oksigen ke otot jantung sehingga mengakibatkan disfungsi ventrikel atau daya pompa jantung sebelah kiri berkurang. Karena itu, remodelling ventrikel merupakan kejadian parafisiologi dalam gagal jantung kronis,” tutur Hadyanto.
Kesimpulan tersebut diperoleh setelah dia melakukan observasi terhadap dua kelompok tikus. Kelompok pertama merupakan tikus yang mengalami pengikatan pada pembuluh jantungnya. Kelompok kedua merupakan tikus sehat, tanpa pengikatan pada pembuluh jantung. Hasil penelitian itu menunjukkan terjadinya peningkatan ekspresi gen stikon TGF-Bheta1 sebesar 1,4 kali lipat dan ekspresi matriks kolagen tipe I dan tipe III masing-masing sebesar 1,82 dan 1,73 kali lipat.
Hadyanto menuturkan, dia memilih laboratorium kardiovaskuler NUS lebih karena fasilitas pemeliharaan hewan percobaannya yang cermat. ”Penelitian ini menggunakan hewan percobaan, dan kebetulan NUS memiliki animal holding units yang cukup canggih,” ujar dokter yang juga pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Methodist Medan itu.
Menerjemahkan buku
Sebagian besar mahasiswa kedokteran di Indonesia mungkin banyak mengenal namanya. Soalnya, di sela waktu senggangnya, Hadyanto tekun menerjemahkan buku-buku kedokteran ke dalam bahasa Indonesia. Dia mulai menerjemahkan buku-buku kedokteran ketika masih berstatus sebagai mahasiswa kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Methodist. Dia jengah membaca banyak buku kedokteran yang terjemahannya sulit dimengerti.
Iseng-iseng dia mencoba menerjemahkan sebuah buku dan dikirimkan ke penerbit buku kedokteran di Jakarta. ”Penerbit tersebut sempat menguji kemampuan menerjemahkan saya dengan mengirimkan sebuah buku. Ternyata mereka puas hingga saya akhirnya resmi menjadi penerjemah beberapa buku terbitan mereka,” ujar Hadyanto.
Hingga kini Hadyanto telah menerjemahkan tujuh buku kedokteran. Dia berharap buku-buku tersebut membantu pemahaman mahasiswa kedokteran di Indonesia dan orang awam yang ingin mengetahui seluk-beluk dunia kedokteran karena bahasa medis terkadang sulit dimengerti. ”Saya menerjemahkan makna bahasa asing tersebut dalam pemahaman lokal bahasa Indonesia,” tutur ayah dari Vina (12), Steven (10), dan Richard (5) itu.
Sumber : Kompas, Kamis, 5 Januari 2006
Oleh : Khaerudin
Penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian utama di Indonesia. Namun, sekarang, penderita gagal jantung mungkin bisa memiliki harapan hidup lebih baik. Penemuan peran molekuler sitokin Transforming Growth Factor-Bheta1 atau TGF-Bheta1 membuka lembaran baru dalam pemahaman penyakit gagal jantung kronis.
Dr Hadyanto Lim berhasil menemukan peran molekuler sitokin TGF-Bheta1 dalam proses pembentukan jaringan fibrosa di otot jantung (myocardial fibrosis). Penemuan ini berawal dari penelitian disertasi program doktor ilmu kedokteran di Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara (USU), Medan.
Menempuh program doktoral di USU, Hadyanto melakukan penelitian di laboratorium farmakologi divisi kardiovaskuler National University of Singapore (NUS) di bawah bimbingan peneliti utama dari NUS dan Fuden University Shanghai China, Profesor Zhu Yi Zhun MD, PhD.
Penemuannya ini mengantarkan Hadyanto meraih gelar doktor dengan predikat summa cum laude. Penelitian yang dia lakukan selama lima bulan (Februari-Juni 2005) itu juga diganjar penghargaan sebagai riset terbaik dari divisi riset kardiovaskuler NUS.
Lantas bagaimana peran molekul TGF-Bheta1 dalam proses komplikasi pada gagal jantung kronis? Menurut Hadyanto, seseorang yang divonis menderita penyakit jantung dan menjalani perawatan, baik lewat metode balonisasi maupun operasi by pass, tetap memiliki risiko kematian yang tinggi seiring berjalannya waktu.
”Fungsi otot jantung penderita tetap tidak akan senormal jantung orang sehat. Pascapengobatan dan operasi, seiring bertambahnya usia, penderita tetap memiliki potensi mengalami pembesaran otot jantung (remodelling). TGF-Bheta1 adalah molekul yang bisa menumbuhkan sel-sel jantung yang beralur pada pembesaran otot jantung. Molekul TGF-Bheta1 akan mengakibatkan penumpukan extra cellular matrix protein, terutama kolagen tipe I dan III,” ujarnya.
Penumpukan jaringan kolagen pada otot jantung akibat peran molekul TGF-Bheta1 inilah yang membentuk jaringan fibrosa di otot jantung. ”Akibatnya, otot jantung menjadi kaku. Fungsi otot jantung sebagai pemompa pun terganggu,” tutur dokter kelahiran Bagansiapi-api, 20 Desember 1961, ini.
Umumnya dipercaya, pembesaran jantung atau remodelling pada penderita jantung koroner dan penyakit jantung lainnya pascapengobatan dan operasi merupakan adaptasi sel miokard (sel otot jantung). ”Namun, fibrosis yang bersifat progresif dapat mengganggu kerja, metabolisme, dan pengangkutan oksigen ke otot jantung sehingga mengakibatkan disfungsi ventrikel atau daya pompa jantung sebelah kiri berkurang. Karena itu, remodelling ventrikel merupakan kejadian parafisiologi dalam gagal jantung kronis,” tutur Hadyanto.
Kesimpulan tersebut diperoleh setelah dia melakukan observasi terhadap dua kelompok tikus. Kelompok pertama merupakan tikus yang mengalami pengikatan pada pembuluh jantungnya. Kelompok kedua merupakan tikus sehat, tanpa pengikatan pada pembuluh jantung. Hasil penelitian itu menunjukkan terjadinya peningkatan ekspresi gen stikon TGF-Bheta1 sebesar 1,4 kali lipat dan ekspresi matriks kolagen tipe I dan tipe III masing-masing sebesar 1,82 dan 1,73 kali lipat.
Hadyanto menuturkan, dia memilih laboratorium kardiovaskuler NUS lebih karena fasilitas pemeliharaan hewan percobaannya yang cermat. ”Penelitian ini menggunakan hewan percobaan, dan kebetulan NUS memiliki animal holding units yang cukup canggih,” ujar dokter yang juga pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Methodist Medan itu.
Menerjemahkan buku
Sebagian besar mahasiswa kedokteran di Indonesia mungkin banyak mengenal namanya. Soalnya, di sela waktu senggangnya, Hadyanto tekun menerjemahkan buku-buku kedokteran ke dalam bahasa Indonesia. Dia mulai menerjemahkan buku-buku kedokteran ketika masih berstatus sebagai mahasiswa kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Methodist. Dia jengah membaca banyak buku kedokteran yang terjemahannya sulit dimengerti.
Iseng-iseng dia mencoba menerjemahkan sebuah buku dan dikirimkan ke penerbit buku kedokteran di Jakarta. ”Penerbit tersebut sempat menguji kemampuan menerjemahkan saya dengan mengirimkan sebuah buku. Ternyata mereka puas hingga saya akhirnya resmi menjadi penerjemah beberapa buku terbitan mereka,” ujar Hadyanto.
Hingga kini Hadyanto telah menerjemahkan tujuh buku kedokteran. Dia berharap buku-buku tersebut membantu pemahaman mahasiswa kedokteran di Indonesia dan orang awam yang ingin mengetahui seluk-beluk dunia kedokteran karena bahasa medis terkadang sulit dimengerti. ”Saya menerjemahkan makna bahasa asing tersebut dalam pemahaman lokal bahasa Indonesia,” tutur ayah dari Vina (12), Steven (10), dan Richard (5) itu.
Sumber : Kompas, Kamis, 5 Januari 2006
Hariyono, Prestasi di Sarang Lebah
Hariyono, Prestasi di Sarang Lebah
Oleh : JA Noertjahyo*
Prestasi dan usia tidak selalu berjalan seiring. Banyak orang yang sudah lanjut usia (lansia) prestasinya biasa-biasa saja, bahkan mungkin sebagian tanpa prestasi. Sebaliknya, yang umurnya relatif muda justru ada yang bisa mencapai prestasi gemilang. Salah satu contohnya adalah Hariyono (29).
Pada usia 27 tahun Hariyono sudah menerima ASEAN Best Executive Awards 2003-2004, disusul penghargaan Citra Manajemen Eksekutif dan Profesional tahun 2005 dari media Executive di Jakarta. Tahun 2005 untuk kedua kalinya ia menerima The Best Executive Citra Awards 2005-2006 yang diorganisir oleh ASEAN Programme Consultant.
Prestasi Hariyono terukir di atas sarang lebah madu, serangga yang memiliki sengat dan racun. Ia menggeluti peternakan ini sejak tahun 1995. Saat itu ia masih berusia 19 tahun dan belum menyelesaikan studinya. Ia membuat prestasi bukan di kota besar, tetapi di kota Kecamatan Lawang (Malang) dan ladang-ladang penggembalaan lebah di desa-desa pedalaman. Bahkan juga di areal-areal perkebunan yang berimpitan dengan hutan lebat.
Apa prestasi Hariyono? Dalam Surat Keputusan Dewan Redaksi Media Executive tertanggal 28 Agustus 2005 disebutkan, prestasi yang menjadi dasar penghargaan bagi pemuda lajang ini adalah Telah berhasil mengembangkan ide-ide baru, ulet dalam mengelola usaha, menciptakan etos kerja yang pantang menyerah, kreatif dan jujur, serta peduli terhadap lingkungan, sehingga patut untuk diteladani.
Surat itu ditandatangani Pemimpin Redaksi Media Executive, Herman Karsoni MBA. Panitia pemberi penghargaan terdiri dari para duta besar negara sahabat RI, dengan sesepuh Prof Dr Suhardiman SE. Tim Penasihat mencakup 16 menteri Kabinet Indonesia Bersatu ditambah Gubernur DKI Jakarta, Ketua Umum KONI dan Kadin, serta HRS Museno SH.
Cukup berat
Persyaratan untuk penerima The Best Executive Citra Awards 2005-2006 cukup berat. Antara lain, sebagai pembayar pajak yang baik, tidak bermasalah dengan pencemaran lingkungan, hukum, dan perbankan. Calon penerima juga dipersyaratkan memiliki konsep pandangan dan sikap kepedulian terhadap Tanah Air dan bangsa-bangsa di belahan dunia, konsep kesatuan dan persatuan negara, tidak pernah merugikan citra bangsa, serta profesional dalam bidang masing-masing.
Dikaitkan dengan peternakan lebah Hariyono yang diberi nama Rimba Raya itu, banyak karya Hariyono yang memenuhi persyaratan tersebut. Wujud peternakannya sendiri bisa dikatakan cukup unik, berbeda dengan yang lain. Sebagai peternak lebah berskala besar, Hariyono tidak hanya menernakkan lebah impor (Apis mellifera) seperti umumnya peternak lebah lainnya. Tetapi ia juga memelihara lebah lokal (Apis cerana) dan lebah klanceng (Apis florea), dengan jumlah hampir imbang. Pertengahan Desember 2005 terdapat 1.200 kotak/stup lebah impor, 1.000 kotak klanceng, dan 500 kotak lebah lokal. Pada musim bunga memuncak, biasanya September-Oktober, jumlah lebahnya bisa dua kali lipat jumlah di atas.
Diternakkannya tiga jenis lebah tersebut merupakan indikator bahwa Hariyono bukan hanya mementingkan bisnis. Sebab dilihat dari produktivitas madunya, lebah lokal dan klanceng jauh di bawah lebah impor (mellifera) sehingga kurang menguntungkan dalam bisnis madu. Menurut pengalaman Hariyono, mellifera bisa menghasilkan sekitar 30 kilogram madu per tahun, sementara lebah lokal cerana hanya 5-15 kilogram per tahun, dan klanceng 4-5 kilogram per tahun.
Selain untuk memenuhi selera konsumen, diternakkannya kedua jenis lebah yang kurang produktif itu juga untuk melestarikan jenis serangga yang Ć¢€asli IndonesiaĆ¢€ itu. Di sini tersirat idealisme dan kecintaan terhadap Tanah Air, sekaligus pelestarian lingkungan dan sumber hayati. Kedua jenis lebah ini memang lebih diakrabi masyarakat kita meskipun sangat sensitif terhadap semua perubahan alami. Kenyataan ini merupakan risiko tinggi untuk bisnis ternak lebah, tetapi itulah yang dilakukan Hariyono.
Jika iklim berubah secara drastis, mereka bisa kabur. Kekurangan pakan pun mendorongnya untuk minggat, ujar pemuda kelahiran Probolinggo (Jatim) tanggal 27 Januari 1976 itu.
Hariyono yang penampilannya lugas dan polos itu, baru tahun 1995 diberi kepercayaan oleh ayahnya, Gunawan (50), untuk meneruskan usahanya dalam peternakan lebah madu. Awalnya tugas itu dilakukan sambil menyelesaikan studinya sehingga sering mendapat pertanyaan dari rekan-rekannya tentang seluk-beluk serangga tersebut. Inilah yang menjadi cambuk baginya untuk mempelajari perlebahan secara mendalam. Dan ternyata ia mampu mengelola peternakannya dengan baik.
Setelah berhasil memperoleh gelar sarjana akuntansi dari Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya tahun 1999, ia baru bisa sepenuhnya menggulati peternakannya. Dan profesi inilah yang dipilihnya, bukan sebagai akuntan sesuai ijazah yang dikantonginya. Hariyono bukan hanya menjalankan usaha secara konvensional, tetapi juga memunculkan ide-ide baru dalam memasarkan produk lebah. Di antaranya produk yang dinamai Cuka Madu Propolis dan Madu Propolis Infeksi.
Basis peternakan Hariyono dengan areal sekitar satu hektar di Lawang, juga digunakan untuk penjualan produk-produk lebah, memproduksi peralatan beternak, penjualan bibit lebah, dan pelatihan-pelatihan bagi mereka yang ingin menjadi peternak lebah. Bahkan di areal tersebut juga dilestarikan berbagai tanaman potensial untuk pakan lebah, serta uji coba tanaman baru yang diperkirakan lebih potensial. Medan peternakan yang berbentuk lembah itu memang memiliki faktor-faktor penunjang bagi kehidupan lebah. Sementara ladang penggembalaannya, selain daerah Jawa Timur juga merambah ke Jawa Tengah, antara lain Magelang (lengkeng) dan Pati-Jepara (kapuk).
Selain di sentra peternakannya, Hariyono juga menangani langsung pemasaran produknya ke beberapa kota. Saat berkunjung ke tokonya di Lawang, penulis bertemu pembeli yang mengaku berasal dari Brunai Darussalam, Surabaya, dan Malang. Sebagian mereka adalah pelanggan lama, namun sebagian juga baru. Banyak pembeli yang mengetahui usaha Hariyono melalui berita dari mulut ke mulut, terutama dari mereka yang merasa puas terhadap kualitas madunya.
*JA Noertjahyo Wartawan tinggal di Malang
Sumber : Kompas, Jumat, 13 Januari 2006
Oleh : JA Noertjahyo*
Prestasi dan usia tidak selalu berjalan seiring. Banyak orang yang sudah lanjut usia (lansia) prestasinya biasa-biasa saja, bahkan mungkin sebagian tanpa prestasi. Sebaliknya, yang umurnya relatif muda justru ada yang bisa mencapai prestasi gemilang. Salah satu contohnya adalah Hariyono (29).
Pada usia 27 tahun Hariyono sudah menerima ASEAN Best Executive Awards 2003-2004, disusul penghargaan Citra Manajemen Eksekutif dan Profesional tahun 2005 dari media Executive di Jakarta. Tahun 2005 untuk kedua kalinya ia menerima The Best Executive Citra Awards 2005-2006 yang diorganisir oleh ASEAN Programme Consultant.
Prestasi Hariyono terukir di atas sarang lebah madu, serangga yang memiliki sengat dan racun. Ia menggeluti peternakan ini sejak tahun 1995. Saat itu ia masih berusia 19 tahun dan belum menyelesaikan studinya. Ia membuat prestasi bukan di kota besar, tetapi di kota Kecamatan Lawang (Malang) dan ladang-ladang penggembalaan lebah di desa-desa pedalaman. Bahkan juga di areal-areal perkebunan yang berimpitan dengan hutan lebat.
Apa prestasi Hariyono? Dalam Surat Keputusan Dewan Redaksi Media Executive tertanggal 28 Agustus 2005 disebutkan, prestasi yang menjadi dasar penghargaan bagi pemuda lajang ini adalah Telah berhasil mengembangkan ide-ide baru, ulet dalam mengelola usaha, menciptakan etos kerja yang pantang menyerah, kreatif dan jujur, serta peduli terhadap lingkungan, sehingga patut untuk diteladani.
Surat itu ditandatangani Pemimpin Redaksi Media Executive, Herman Karsoni MBA. Panitia pemberi penghargaan terdiri dari para duta besar negara sahabat RI, dengan sesepuh Prof Dr Suhardiman SE. Tim Penasihat mencakup 16 menteri Kabinet Indonesia Bersatu ditambah Gubernur DKI Jakarta, Ketua Umum KONI dan Kadin, serta HRS Museno SH.
Cukup berat
Persyaratan untuk penerima The Best Executive Citra Awards 2005-2006 cukup berat. Antara lain, sebagai pembayar pajak yang baik, tidak bermasalah dengan pencemaran lingkungan, hukum, dan perbankan. Calon penerima juga dipersyaratkan memiliki konsep pandangan dan sikap kepedulian terhadap Tanah Air dan bangsa-bangsa di belahan dunia, konsep kesatuan dan persatuan negara, tidak pernah merugikan citra bangsa, serta profesional dalam bidang masing-masing.
Dikaitkan dengan peternakan lebah Hariyono yang diberi nama Rimba Raya itu, banyak karya Hariyono yang memenuhi persyaratan tersebut. Wujud peternakannya sendiri bisa dikatakan cukup unik, berbeda dengan yang lain. Sebagai peternak lebah berskala besar, Hariyono tidak hanya menernakkan lebah impor (Apis mellifera) seperti umumnya peternak lebah lainnya. Tetapi ia juga memelihara lebah lokal (Apis cerana) dan lebah klanceng (Apis florea), dengan jumlah hampir imbang. Pertengahan Desember 2005 terdapat 1.200 kotak/stup lebah impor, 1.000 kotak klanceng, dan 500 kotak lebah lokal. Pada musim bunga memuncak, biasanya September-Oktober, jumlah lebahnya bisa dua kali lipat jumlah di atas.
Diternakkannya tiga jenis lebah tersebut merupakan indikator bahwa Hariyono bukan hanya mementingkan bisnis. Sebab dilihat dari produktivitas madunya, lebah lokal dan klanceng jauh di bawah lebah impor (mellifera) sehingga kurang menguntungkan dalam bisnis madu. Menurut pengalaman Hariyono, mellifera bisa menghasilkan sekitar 30 kilogram madu per tahun, sementara lebah lokal cerana hanya 5-15 kilogram per tahun, dan klanceng 4-5 kilogram per tahun.
Selain untuk memenuhi selera konsumen, diternakkannya kedua jenis lebah yang kurang produktif itu juga untuk melestarikan jenis serangga yang Ć¢€asli IndonesiaĆ¢€ itu. Di sini tersirat idealisme dan kecintaan terhadap Tanah Air, sekaligus pelestarian lingkungan dan sumber hayati. Kedua jenis lebah ini memang lebih diakrabi masyarakat kita meskipun sangat sensitif terhadap semua perubahan alami. Kenyataan ini merupakan risiko tinggi untuk bisnis ternak lebah, tetapi itulah yang dilakukan Hariyono.
Jika iklim berubah secara drastis, mereka bisa kabur. Kekurangan pakan pun mendorongnya untuk minggat, ujar pemuda kelahiran Probolinggo (Jatim) tanggal 27 Januari 1976 itu.
Hariyono yang penampilannya lugas dan polos itu, baru tahun 1995 diberi kepercayaan oleh ayahnya, Gunawan (50), untuk meneruskan usahanya dalam peternakan lebah madu. Awalnya tugas itu dilakukan sambil menyelesaikan studinya sehingga sering mendapat pertanyaan dari rekan-rekannya tentang seluk-beluk serangga tersebut. Inilah yang menjadi cambuk baginya untuk mempelajari perlebahan secara mendalam. Dan ternyata ia mampu mengelola peternakannya dengan baik.
Setelah berhasil memperoleh gelar sarjana akuntansi dari Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya tahun 1999, ia baru bisa sepenuhnya menggulati peternakannya. Dan profesi inilah yang dipilihnya, bukan sebagai akuntan sesuai ijazah yang dikantonginya. Hariyono bukan hanya menjalankan usaha secara konvensional, tetapi juga memunculkan ide-ide baru dalam memasarkan produk lebah. Di antaranya produk yang dinamai Cuka Madu Propolis dan Madu Propolis Infeksi.
Basis peternakan Hariyono dengan areal sekitar satu hektar di Lawang, juga digunakan untuk penjualan produk-produk lebah, memproduksi peralatan beternak, penjualan bibit lebah, dan pelatihan-pelatihan bagi mereka yang ingin menjadi peternak lebah. Bahkan di areal tersebut juga dilestarikan berbagai tanaman potensial untuk pakan lebah, serta uji coba tanaman baru yang diperkirakan lebih potensial. Medan peternakan yang berbentuk lembah itu memang memiliki faktor-faktor penunjang bagi kehidupan lebah. Sementara ladang penggembalaannya, selain daerah Jawa Timur juga merambah ke Jawa Tengah, antara lain Magelang (lengkeng) dan Pati-Jepara (kapuk).
Selain di sentra peternakannya, Hariyono juga menangani langsung pemasaran produknya ke beberapa kota. Saat berkunjung ke tokonya di Lawang, penulis bertemu pembeli yang mengaku berasal dari Brunai Darussalam, Surabaya, dan Malang. Sebagian mereka adalah pelanggan lama, namun sebagian juga baru. Banyak pembeli yang mengetahui usaha Hariyono melalui berita dari mulut ke mulut, terutama dari mereka yang merasa puas terhadap kualitas madunya.
*JA Noertjahyo Wartawan tinggal di Malang
Sumber : Kompas, Jumat, 13 Januari 2006
Handoko Wibowo : Handoko, "Guru" Petani Batang
Handoko, "Guru" Petani Batang
Oleh : Subur Tjahjono
Sulit untuk tidak mengaitkan gerakan petani di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, dengan pria lajang bernama Handoko Wibowo (44) ini.
Oleh kalangan aktivis demokrasi ia disebut aktor dominan atau aktor eksternal dalam proses demokratisasi di Batang. Oleh rezim yang berkuasa, ia mungkin disebut ”provokator” karena ikut menggerakkan berbagai unjuk rasa petani.
Namun, pengacara kelahiran Pekalongan 9 November 1962 itu lebih suka disebut guru gerakan petani di Batang. Rumahnya di Dukuh Cepoko, Desa Tumbrep, Kecamatan Bandar, Batang, adalah tempat persinggahan berbagai kalangan.
Beragam orang seperti petani, aktivis lembaga swadaya masyarakat, politikus, dan mahasiswa, datang ke rumahnya. Umumnya untuk urusan politik, tetapi kadang sekadar mendengar laporan Mbah Umar Said yang menunjukkan jahitan di selangkangannya sehabis operasi karena tidak bisa kencing seperti yang terjadi Selasa (24/1).
Handoko adalah kontradiksi. Ia berlatar belakang etnis China dan seorang Kristiani di tengah mayoritas Muslim petani pantai utara Jawa itu. Rumahnya—warisan orangtua—berdiri di atas tanah delapan hektar, di tengah petani penggarap yang rata-rata tidak punya tanah.
Kontradiksi ini pula yang sempat dipertanyakan aktivis Partai Rakyat Demokratik ketika berkunjung ke rumahnya beberapa waktu lalu. Aktivis itu mempersoalkan kondisi borjuasi Handoko yang kontradiktif dengan kelompok petani yang dia perjuangkan. ”Sulit menjelaskannya, tetapi itulah misteri kehidupan,” kata putra sulung pasangan Teguh Budi Wibowo (almarhum) dan Lena Indriana itu.
Keputusannya bertahan sejak tahun 1998 hingga sekarang mendampingi petani Batang merupakan perpotongan pengalaman masa lalu ayahnya, pergaulan masa kecilnya dengan anak petani, serta rasa belas kasihan terhadap nasib petani penggarap Batang.
Ayahnya—orang terkaya di Batang periode 1960-an—ditahan tiga bulan karena diindikasikan anggota Partai Komunis Indonesia oleh orang China sendiri hanya karena aktif di Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki).
Ayahnya juga menjadi korban pemerasan pejabat, sehingga selalu ingin dekat penguasa dan jenderal. ”Karena itu Ayah mendorong saya belajar hukum, supaya tidak dikurangajari,” tuturnya.
Eksperimen politik
Sekembalinya ke Bandar tahun 1987 seusai menamatkan kuliah hukum di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, ia mendapati perusahaan cengkeh ibunya bangkrut dan menjadi korban pemerasan. Setelah ikut membantu membereskan utang, tahun 1991 Handoko mendapat izin pengacaranya. Kasus pertama yang dia tangani adalah kasus ibunya sendiri menghadapi gugatan berhubungan dengan bisnisnya.
Kasus keduanya adalah menjadi anggota tim hukum Arief Budiman yang dipecat UKSW pada 31 Oktober 1994. Dari situ ia berkenalan dan belajar dari sejumlah advokat senior yang juga anggota tim, seperti Adnan Buyung Nasution dan Nursyahbani Katjasungkana.
Kasus publik yang akhirnya membuatnya ikut gerakan petani Batang adalah saat menjadi pengacara Keluarga Korban Limbah Kali Banger Pekalongan. Di Pengadilan Negeri Pekalongan dua tahun lalu kasus ini menang, kecuali ganti rugi yang dianulir dari Rp 750 juta menjadi Rp 50 juta.
Sejak itu ia didatangi warga yang berkonflik tanah. ”Kerja reformasi ini seperti kerja di sarang laba-laba. Makin kita berusaha keluar, makin ditarik,” ujarnya.
Pernah ada suatu fase, yaitu 17 Agustus 2001, ia sempat berpikir bekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat. Ia sempat berpamitan kepada teman petaninya. Namun, besoknya rumahnya didatangi petani yang memintanya tidak pergi. ”Dengan berat hati tidak saya teruskan, tetapi tetap tinggal di sini,” katanya.
Mbah Mardjukan (77), petani yang pernah tinggal 15 tahun di Pulau Buru karena dituduh terlibat Barisan Tani Indonesia tahun 1965, terkesan oleh pidato Handoko yang dinilainya ”progresif revolusioner”. ”Ia berpidato agar petani segera sadar menuntut haknya atas tanah. Kata-kata ’menuntut hak’ itu kan politis,” ujar Mbah Mardjukan.
Ketua Komisi Pemilihan Umum Batang Jakub Widodo menyebut Handoko sebagai orang ketiga di peta perpolitikan lokal Batang setelah Bambang Bintoro, Bupati Batang dari PDI-P, dan Agus Tjondro Prayitno, anggota DPR dari Fraksi PDI-P. ”Handoko adalah kekuatan penyeimbang antara Bambang Bintoro dan Agus Tjondro,” ujar Jakub.
Meskipun demikian, Handoko sama sekali tidak tertarik masuk ke dunia politik. Berangan- angan pun tidak. ”Ini bagian dari inkonsistensi gerakan kalau saya masuk politik,” ujarnya.
Kini bersama Forum Paguyuban Petani Nelayan Batang Pekalongan (FP2NBP), Handoko ”bereksperimen” mengubah gerakan mereka dari gerakan sosial menjadi gerakan politik. Mereka berupaya merebut jabatan politik di pemerintahan desa dan DPRD Batang dengan memperkuat basis dan representasi. Dengan demikian calon yang diperoleh benar-benar berakar.
Handoko mengaku sedang belajar bagaimana mengubah orang-orang ini menjadi orang yang demokratis. ”Harapan saya, mereka menjadi petani yang bermartabat,” katanya.
Sumber : Kompas, Senin, 6 Februari 2006
Oleh : Subur Tjahjono
Sulit untuk tidak mengaitkan gerakan petani di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, dengan pria lajang bernama Handoko Wibowo (44) ini.
Oleh kalangan aktivis demokrasi ia disebut aktor dominan atau aktor eksternal dalam proses demokratisasi di Batang. Oleh rezim yang berkuasa, ia mungkin disebut ”provokator” karena ikut menggerakkan berbagai unjuk rasa petani.
Namun, pengacara kelahiran Pekalongan 9 November 1962 itu lebih suka disebut guru gerakan petani di Batang. Rumahnya di Dukuh Cepoko, Desa Tumbrep, Kecamatan Bandar, Batang, adalah tempat persinggahan berbagai kalangan.
Beragam orang seperti petani, aktivis lembaga swadaya masyarakat, politikus, dan mahasiswa, datang ke rumahnya. Umumnya untuk urusan politik, tetapi kadang sekadar mendengar laporan Mbah Umar Said yang menunjukkan jahitan di selangkangannya sehabis operasi karena tidak bisa kencing seperti yang terjadi Selasa (24/1).
Handoko adalah kontradiksi. Ia berlatar belakang etnis China dan seorang Kristiani di tengah mayoritas Muslim petani pantai utara Jawa itu. Rumahnya—warisan orangtua—berdiri di atas tanah delapan hektar, di tengah petani penggarap yang rata-rata tidak punya tanah.
Kontradiksi ini pula yang sempat dipertanyakan aktivis Partai Rakyat Demokratik ketika berkunjung ke rumahnya beberapa waktu lalu. Aktivis itu mempersoalkan kondisi borjuasi Handoko yang kontradiktif dengan kelompok petani yang dia perjuangkan. ”Sulit menjelaskannya, tetapi itulah misteri kehidupan,” kata putra sulung pasangan Teguh Budi Wibowo (almarhum) dan Lena Indriana itu.
Keputusannya bertahan sejak tahun 1998 hingga sekarang mendampingi petani Batang merupakan perpotongan pengalaman masa lalu ayahnya, pergaulan masa kecilnya dengan anak petani, serta rasa belas kasihan terhadap nasib petani penggarap Batang.
Ayahnya—orang terkaya di Batang periode 1960-an—ditahan tiga bulan karena diindikasikan anggota Partai Komunis Indonesia oleh orang China sendiri hanya karena aktif di Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki).
Ayahnya juga menjadi korban pemerasan pejabat, sehingga selalu ingin dekat penguasa dan jenderal. ”Karena itu Ayah mendorong saya belajar hukum, supaya tidak dikurangajari,” tuturnya.
Eksperimen politik
Sekembalinya ke Bandar tahun 1987 seusai menamatkan kuliah hukum di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, ia mendapati perusahaan cengkeh ibunya bangkrut dan menjadi korban pemerasan. Setelah ikut membantu membereskan utang, tahun 1991 Handoko mendapat izin pengacaranya. Kasus pertama yang dia tangani adalah kasus ibunya sendiri menghadapi gugatan berhubungan dengan bisnisnya.
Kasus keduanya adalah menjadi anggota tim hukum Arief Budiman yang dipecat UKSW pada 31 Oktober 1994. Dari situ ia berkenalan dan belajar dari sejumlah advokat senior yang juga anggota tim, seperti Adnan Buyung Nasution dan Nursyahbani Katjasungkana.
Kasus publik yang akhirnya membuatnya ikut gerakan petani Batang adalah saat menjadi pengacara Keluarga Korban Limbah Kali Banger Pekalongan. Di Pengadilan Negeri Pekalongan dua tahun lalu kasus ini menang, kecuali ganti rugi yang dianulir dari Rp 750 juta menjadi Rp 50 juta.
Sejak itu ia didatangi warga yang berkonflik tanah. ”Kerja reformasi ini seperti kerja di sarang laba-laba. Makin kita berusaha keluar, makin ditarik,” ujarnya.
Pernah ada suatu fase, yaitu 17 Agustus 2001, ia sempat berpikir bekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat. Ia sempat berpamitan kepada teman petaninya. Namun, besoknya rumahnya didatangi petani yang memintanya tidak pergi. ”Dengan berat hati tidak saya teruskan, tetapi tetap tinggal di sini,” katanya.
Mbah Mardjukan (77), petani yang pernah tinggal 15 tahun di Pulau Buru karena dituduh terlibat Barisan Tani Indonesia tahun 1965, terkesan oleh pidato Handoko yang dinilainya ”progresif revolusioner”. ”Ia berpidato agar petani segera sadar menuntut haknya atas tanah. Kata-kata ’menuntut hak’ itu kan politis,” ujar Mbah Mardjukan.
Ketua Komisi Pemilihan Umum Batang Jakub Widodo menyebut Handoko sebagai orang ketiga di peta perpolitikan lokal Batang setelah Bambang Bintoro, Bupati Batang dari PDI-P, dan Agus Tjondro Prayitno, anggota DPR dari Fraksi PDI-P. ”Handoko adalah kekuatan penyeimbang antara Bambang Bintoro dan Agus Tjondro,” ujar Jakub.
Meskipun demikian, Handoko sama sekali tidak tertarik masuk ke dunia politik. Berangan- angan pun tidak. ”Ini bagian dari inkonsistensi gerakan kalau saya masuk politik,” ujarnya.
Kini bersama Forum Paguyuban Petani Nelayan Batang Pekalongan (FP2NBP), Handoko ”bereksperimen” mengubah gerakan mereka dari gerakan sosial menjadi gerakan politik. Mereka berupaya merebut jabatan politik di pemerintahan desa dan DPRD Batang dengan memperkuat basis dan representasi. Dengan demikian calon yang diperoleh benar-benar berakar.
Handoko mengaku sedang belajar bagaimana mengubah orang-orang ini menjadi orang yang demokratis. ”Harapan saya, mereka menjadi petani yang bermartabat,” katanya.
Sumber : Kompas, Senin, 6 Februari 2006
Hermawan, Tak Ingin Disebut Bos Batu Fosil
Jun 18, 2009
Hermawan, Tak Ingin Disebut Bos Batu Fosil
Oleh : d03
Debu mengepul dari sebuah bangunan tanpa dinding di dekat jembatan Sungai Cicareuh, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi. Tertiup angin, debu itu menempel di semua media yang dilewatinya, tak terkecuali sejumlah orang yang sedang sibuk bekerja.
Rambut mereka tak lagi hitam, tetapi menjadi putih kecoklatan tertutup debu. Mereka adalah orang-orang yang sedang mengerjakan pesanan suvenir batu fosil, batuan yang berasal dari pohon-pohon yang terpendam selama ribuan tahun.
Saat pengunjung menanyakan siapa pemilik atau bosnya, mereka justru saling tunjuk sambil tersenyum. Mereka bukannya mau melecehkan pengunjung yang bertanya, tetapi memang itu kebiasaan yang sudah mereka sepakati.
Pemilik atau bos kerajinan batu fosil itu sebenarnya berada di antara mereka. Penampilannya sama seperti pekerja lainnya. Dia tak terusik dengan pertanyaan itu, tangannya justru sibuk menggosokkan alat penghalus ke permukaan batu fosil berbentuk lonjong.
Saya memang tidak ingin disebut bos karena memang saya bukan bos. Kalau saya bos, mereka yang bekerja di sini berarti anak buah. Mereka bukan anak buah, tetapi teman-teman saya, ujar Om Hermawan (46), pemilik sentra kerajinan batu fosil itu.
Ada yang janggal sebenarnya menyaksikan Hermawan berada di antara debu-debu bekas penggosokan dan berbagi minum dengan para pekerjanya. Bagi kebanyakan pemilik bisnis, terjun langsung menangani pekerjaan mungkin hanya akan dilakukan saat tahun-tahun pertama saja.
Setelah cukup mapan, mereka akan memercayakan pekerjaan-pekerjaan itu kepada orang-orang yang membantunya. Tidak demikian dengan Hermawan. Tak ada kosakata berhenti menggosok batu fosil itu walaupun dia sudah memiliki 20 pekerja.
Bukan tanpa alasan kenapa Hermawan tetap menjadi bagian dari gelak tawa dan canda para penggosok batu fosil itu saat bekerja. Kesulitan hidup saat kecil hingga tiba saatnya membangun bahtera keluarga membuat Hermawan tak bisa lepas dari pekerjaan kasar itu.
Kesulitan hidup itu lebih pas kalau dikatakan sebagai kemiskinan. Saat menikah tahun 1982, Hermawan yang hanya bisa menyelesaikan pendidikan sampai kelas V madrasah ibtidaiyah atau setaraf dengan sekolah dasar tak punya modal sama sekali.
Jangankan modal untuk membangun keluarga, penghasilannya sebagai kuli angkut batu dari sungai pun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, bahkan sering juga tak cukup.
Kedua orangtuanya sebenarnya menawari mereka untuk tetap tinggal bersama mereka setelah Hermawan menikah. Namun, Hermawan dan istrinya, Ai Sopiah (45), bersikeras untuk berpisah dengan orangtua.
Dengan meminjam sana-sini berdirilah sebuah rumah berdinding anyaman bambu berukuran 3 x 3 meter.Ya memang hanya cukup untuk tempat tidur saja, ujar Hermawan. Sambil menjadi kuli angkut batu, Hermawan sedikit demi sedikit mengumpulkan batu-batu berwarna dari sungai dan dipajang di depan rumahnya yang berada di pinggir jalan raya menuju Palabuhanratu, Sukabumi.
Setiap akhir pekan, ternyata batu-batu sungai yang hanya mendapatkan sedikit gosokan itu selalu laku. Idenya membuat suvenir dari batu kemudian muncul. Hermawan pun mulai keluar dari Sukabumi untuk mencari batu-batu yang strukturnya unik dan memungkinkan untuk dipoles.
Hermawan kemudian menemukan batu fosil yang dapat dipoles sehingga menghasilkan tekstur yang menarik. Tahun 1994, setelah mendapatkan batu-batu antik untuk persediaan, Hermawan membuka sendiri kios suvenir tak jauh dari rumah kecilnya.
Suvenir dari batu fosil itu ternyata disukai para turis asing yang melewati depan kiosnya saat menuju Pantai Palabuhanratu. Selera turis mancanegara itu ternyata sama dengan ide Hermawan. Semakin lama, turis yang memesan suvenirnya semakin banyak.
Mereka berasal dari Australia, Korea, Amerika Serikat, dan sejumlah negara Eropa. Tahun 1996, Hermawan berani mengambil kredit empat mobil bak terbuka selama satu tahun saja untuk mengangkut batu itu. Rumah kecilnya pun tergantikan oleh rumah permanen yang layak huni.
Kendati tahun 1997 dihantam badai krisis moneter, bisnis yang ditekuni Hermawan masih tetap bisa bertahan. Kini setiap bulan, 10 hingga 20 ton batu fosilnya bisa terjual. Dengan harga Rp 3.000 hingga Rp 15.000 per kilogram tergantung pada jenis dan kondisi batu, omzet penjualan Hermawan lebih dari Rp 60 juta setiap bulan.
Bukan kebetulan saja ayah enam anak ini bisa merasakan semilirnya angin kesuksesan. Sejak awal, saya sudah bertekad untuk menjadi perajin yang jujur dan menepati janji kepada konsumen. Setiap janji yang saya ucapkan kepada konsumen berusaha saya tepati, baik ukuran batu atau ketepatan pengiriman. Ternyata itu mampu membuat konsumen lain tertarik dan ini akan saya pertahankan terus, ujar Hermawan.
Hermawan juga selalu yakin akan apa yang dibuatnya. Saya terus-menerus berlatih mengenal batu yang kira-kira disukai konsumen. Dari situ, saya juga harus kreatif untuk membuat motif yang harus selalu mengikuti keinginan konsumen, ujar Hermawan.
Hermawan pun sebenarnya tak menyangka bahwa kerja kerasnya akan membuahkan hasil yang menggembirakan. Hampir tak terbayang di benak Hermawan kecil yang dikenal sangat nakal dan berasal dari keluarga tidak mampu bahwa sekarang bisa memiliki tiga mobil dan rumah tingkat yang luas.
Untuk menghentikan kenakalan anak tertuanya yang kurang serius kuliah di Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, Hermawan memintanya untuk keluar saja dan menekuni bisnis batu fosil yang dirintisnya itu. Kini, Hermawan pun menuai batu-batu kesuksesan yang masih terus dicarinya. (d03)
Sumber : Kompas, Jumat, 10 Maret 2006
Oleh : d03
Debu mengepul dari sebuah bangunan tanpa dinding di dekat jembatan Sungai Cicareuh, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi. Tertiup angin, debu itu menempel di semua media yang dilewatinya, tak terkecuali sejumlah orang yang sedang sibuk bekerja.
Rambut mereka tak lagi hitam, tetapi menjadi putih kecoklatan tertutup debu. Mereka adalah orang-orang yang sedang mengerjakan pesanan suvenir batu fosil, batuan yang berasal dari pohon-pohon yang terpendam selama ribuan tahun.
Saat pengunjung menanyakan siapa pemilik atau bosnya, mereka justru saling tunjuk sambil tersenyum. Mereka bukannya mau melecehkan pengunjung yang bertanya, tetapi memang itu kebiasaan yang sudah mereka sepakati.
Pemilik atau bos kerajinan batu fosil itu sebenarnya berada di antara mereka. Penampilannya sama seperti pekerja lainnya. Dia tak terusik dengan pertanyaan itu, tangannya justru sibuk menggosokkan alat penghalus ke permukaan batu fosil berbentuk lonjong.
Saya memang tidak ingin disebut bos karena memang saya bukan bos. Kalau saya bos, mereka yang bekerja di sini berarti anak buah. Mereka bukan anak buah, tetapi teman-teman saya, ujar Om Hermawan (46), pemilik sentra kerajinan batu fosil itu.
Ada yang janggal sebenarnya menyaksikan Hermawan berada di antara debu-debu bekas penggosokan dan berbagi minum dengan para pekerjanya. Bagi kebanyakan pemilik bisnis, terjun langsung menangani pekerjaan mungkin hanya akan dilakukan saat tahun-tahun pertama saja.
Setelah cukup mapan, mereka akan memercayakan pekerjaan-pekerjaan itu kepada orang-orang yang membantunya. Tidak demikian dengan Hermawan. Tak ada kosakata berhenti menggosok batu fosil itu walaupun dia sudah memiliki 20 pekerja.
Bukan tanpa alasan kenapa Hermawan tetap menjadi bagian dari gelak tawa dan canda para penggosok batu fosil itu saat bekerja. Kesulitan hidup saat kecil hingga tiba saatnya membangun bahtera keluarga membuat Hermawan tak bisa lepas dari pekerjaan kasar itu.
Kesulitan hidup itu lebih pas kalau dikatakan sebagai kemiskinan. Saat menikah tahun 1982, Hermawan yang hanya bisa menyelesaikan pendidikan sampai kelas V madrasah ibtidaiyah atau setaraf dengan sekolah dasar tak punya modal sama sekali.
Jangankan modal untuk membangun keluarga, penghasilannya sebagai kuli angkut batu dari sungai pun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, bahkan sering juga tak cukup.
Kedua orangtuanya sebenarnya menawari mereka untuk tetap tinggal bersama mereka setelah Hermawan menikah. Namun, Hermawan dan istrinya, Ai Sopiah (45), bersikeras untuk berpisah dengan orangtua.
Dengan meminjam sana-sini berdirilah sebuah rumah berdinding anyaman bambu berukuran 3 x 3 meter.Ya memang hanya cukup untuk tempat tidur saja, ujar Hermawan. Sambil menjadi kuli angkut batu, Hermawan sedikit demi sedikit mengumpulkan batu-batu berwarna dari sungai dan dipajang di depan rumahnya yang berada di pinggir jalan raya menuju Palabuhanratu, Sukabumi.
Setiap akhir pekan, ternyata batu-batu sungai yang hanya mendapatkan sedikit gosokan itu selalu laku. Idenya membuat suvenir dari batu kemudian muncul. Hermawan pun mulai keluar dari Sukabumi untuk mencari batu-batu yang strukturnya unik dan memungkinkan untuk dipoles.
Hermawan kemudian menemukan batu fosil yang dapat dipoles sehingga menghasilkan tekstur yang menarik. Tahun 1994, setelah mendapatkan batu-batu antik untuk persediaan, Hermawan membuka sendiri kios suvenir tak jauh dari rumah kecilnya.
Suvenir dari batu fosil itu ternyata disukai para turis asing yang melewati depan kiosnya saat menuju Pantai Palabuhanratu. Selera turis mancanegara itu ternyata sama dengan ide Hermawan. Semakin lama, turis yang memesan suvenirnya semakin banyak.
Mereka berasal dari Australia, Korea, Amerika Serikat, dan sejumlah negara Eropa. Tahun 1996, Hermawan berani mengambil kredit empat mobil bak terbuka selama satu tahun saja untuk mengangkut batu itu. Rumah kecilnya pun tergantikan oleh rumah permanen yang layak huni.
Kendati tahun 1997 dihantam badai krisis moneter, bisnis yang ditekuni Hermawan masih tetap bisa bertahan. Kini setiap bulan, 10 hingga 20 ton batu fosilnya bisa terjual. Dengan harga Rp 3.000 hingga Rp 15.000 per kilogram tergantung pada jenis dan kondisi batu, omzet penjualan Hermawan lebih dari Rp 60 juta setiap bulan.
Bukan kebetulan saja ayah enam anak ini bisa merasakan semilirnya angin kesuksesan. Sejak awal, saya sudah bertekad untuk menjadi perajin yang jujur dan menepati janji kepada konsumen. Setiap janji yang saya ucapkan kepada konsumen berusaha saya tepati, baik ukuran batu atau ketepatan pengiriman. Ternyata itu mampu membuat konsumen lain tertarik dan ini akan saya pertahankan terus, ujar Hermawan.
Hermawan juga selalu yakin akan apa yang dibuatnya. Saya terus-menerus berlatih mengenal batu yang kira-kira disukai konsumen. Dari situ, saya juga harus kreatif untuk membuat motif yang harus selalu mengikuti keinginan konsumen, ujar Hermawan.
Hermawan pun sebenarnya tak menyangka bahwa kerja kerasnya akan membuahkan hasil yang menggembirakan. Hampir tak terbayang di benak Hermawan kecil yang dikenal sangat nakal dan berasal dari keluarga tidak mampu bahwa sekarang bisa memiliki tiga mobil dan rumah tingkat yang luas.
Untuk menghentikan kenakalan anak tertuanya yang kurang serius kuliah di Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, Hermawan memintanya untuk keluar saja dan menekuni bisnis batu fosil yang dirintisnya itu. Kini, Hermawan pun menuai batu-batu kesuksesan yang masih terus dicarinya. (d03)
Sumber : Kompas, Jumat, 10 Maret 2006
Subscribe to:
Posts (Atom)

