Jun 1, 2009

Xi Jinping & Li Keqiang, Wajah China Masa Depan

Xi Jinping dan Li Keqiang, Wajah China Masa Depan
Oleh : Fransisca Romana Ninik

Nama Xi Jinping (54) dan Li Keqiang (52) belum dikenal dunia hingga mereka dinyatakan sebagai anggota komite elite pemimpin China, Komite Pelaksana Politbiro, pekan lalu. Namun, sebenarnya Xi dan Li telah lama disebut-sebut sebagai calon potensial pengganti Presiden Hu Jintao dan memimpin China di masa depan.

Perjalanan karier Xi dan Li di Partai Komunis China (PKC) membuat orang menyimpulkan nantinya merekalah yang memegang tampuk kepemimpinan China setelah Hu lengser. Xi menjabat sebagai Ketua PKC Shanghai, sedangkan Li adalah Ketua PKC Liaoning. Bisa dikatakan Xi menduduki posisi nomor enam di jajaran elite PKC dan Li berdiri di posisi ketujuh.

Setelah era Mao Zedong, Deng Xiaoping, Jiang Zemin, serta Hu, Xi dan Li akan menjadi generasi kelima pemimpin China. Meski belum jelas posisi mereka di pemerintahan, Hu menggambarkannya sebagai "kawan muda kita".

Koran The Daily Telegraph menyebutkan, karena namanya disebut pertama oleh Hu, Xi kemungkinan menduduki jabatan utama, yaitu Sekretaris Jenderal PKC dan Presiden China. Adapun Li, yang disebut setelahnya, diperkirakan memegang jabatan perdana menteri.

Batu loncatan

Xi adalah putra veteran revolusi komunis dan mantan Wakil Perdana Menteri Xi Zhongxun (1913-2002). Ini membuatnya menjadi salah satu anggota "pangeran muda (princeling)", sebutan untuk putra-putri pemimpin PKC. Xi lahir di Fuping, Juni 1953, sebagai anak ketiga dari empat bersaudara.

Dia bergabung dengan Liga Pemuda Komunis (CYL) pada 1971 dan bergabung dengan PKC tahun 1974. Xi bertugas di empat provinsi sebagai gubernur atau ketua PKC, yaitu di Shaanxi, Hebei, Fujian, dan Zhejiang.

Saat menjadi Gubernur Fujian tahun 2000, Xi dipuji karena mampu mengubah provinsi itu menjadi magnet bagi investor Taiwan dan mendorong pasar ekonomi. Di Zhejiang, Xi dikenal sangat keras dan terang-terangan melawan korupsi. Di bawah kepemimpinan Xi (2003-2007), Zhejiang menjadi pusat keberhasilan pengembangan ekonomi China dengan pertumbuhan rata-rata 14 persen dalam 20 tahun terakhir.

Xi, lulusan Fakultas Ilmu Kemanusiaan dan Sosial Tsinghua University dalam teori Marxis dan pendidikan ideologi, ditunjuk sebagai Ketua PKC Shanghai, Maret 2007. "Saya berjanji melakukan lebih banyak hal baik bagi rakyat Shanghai," kata Xi seperti dikutip kantor berita Xinhua seusai pelantikan.

Ketua PKC Shanghai dinilai sebagai posisi kepemimpinan regional terpenting di China, juga menjadi sinyal kepercayaan dan penghargaan dari Presiden Hu. Seolah sudah menjadi tradisi, jabatan Ketua PKC Shanghai adalah batu loncatan bagi Xi sebagai pemimpin generasi kelima China. Hu juga naik ke posisi puncak kepemimpinan China setelah menjabat Ketua PKC Shanghai.

Di kalangan media Barat, Xi digambarkan sebagai pekerja keras, probisnis, dan musuh korupsi. Menteri Keuangan Amerika Serikat Henry Paulson, yang pernah bertemu Xi saat menjadi gubernur Zhejiang, menyebut Xi bintang politik yang sedang naik daun.

Anak didik

Media China memosisikan Xi berhadapan dengan Li dalam bursa calon pemimpin China 2012. Li yang lahir di Dingyuan, Juli 1955, menyandang gelar doktor hukum dan ekonomi dari Peking University. Dia bergabung dengan CYL tahun 1974. Sejak saat itu ia bekerja dekat dengan Presiden Hu. Dia telah bergabung dengan PKC pada 1976.

Li menyandang predikat gubernur termuda saat diserahi tanggung jawab memimpin Provinsi Henan, salah satu provinsi terpadat di China, Juni 1998. Usianya saat itu 43 tahun. Dalam biografi yang dimuat Wikipedia disebutkan, Li memilih meninggalkan keluarga di Beijing dan menuju Henan karena beratnya tugas yang dia terima.

Dia dikenal blak-blakan dan menolak hadir dalam jamuan mewah apa pun yang tak ada hubungannya dengan kegiatan pemerintah. Li berhasil dalam memimpin pembangunan ekonomi di provinsi China tengah itu dengan mentransformasi wilayah miskin menjadi daerah yang menarik bagi investasi.

Li rela menyusuri setiap jengkal tanah di Henan guna mencari solusi komprehensif atas persoalan pertumbuhan ekonomi wilayah itu. Di bawah kepemimpinan dia, Henan melompat dalam ranking pendapatan domestik bruto dari urutan ke-28 pada awal 1990 menjadi urutan ke-18 tahun 2004.

Desember 2004, Li, anak didik Hu di CYL, ditunjuk sebagai Ketua PKC Liaoning. Di wilayah barunya, Li dikenal karena proyek "Lima Poin Menuju Satu Garis" yang menghubungkan pelabuhan Dalian, Dandong, dan wilayah di sekitarnya menjadi satu jaringan komprehensif. Li juga merancang berbagai program untuk mengangkat taraf hidup masyarakat Liaoning.

Dia berencana membangun perumahan murah bagi warga dengan akses air bersih dan pemanas sentral yang dimulai tahun ini. Seperti dilaporkan China Daily, keluarga yang pindah dari rumahnya akan memperoleh hunian seluas rumah yang ditinggalkan secara gratis. Jika menginginkan hunian lebih luas, keluarga itu cukup membayar 600 yuan (sekitar Rp 693.000) per meter persegi, jauh lebih rendah dibandingkan harga rata-rata tanah di Liaoning sebesar 2.000 yuan (sekitar Rp 2,3 juta) per meter persegi.

Kawasan kumuh seluas 12 juta meter persegi di Liaoning telah diratakan untuk disulap menjadi kawasan hunian baru seluas 19 juta meter persegi. Kawasan ini bisa menampung 1,2 juta orang atau sekitar 345.000 keluarga. "Kesejahteraan masyarakat, terutama orang miskin, adalah agenda utama kami," kata Li saat menghadiri kongres tahunan PKC di Beijing pekan lalu.

Tantangan

Catatan perjalanan dan prestasi Xi maupun Li sangat menentukan model kepemimpinan mereka di masa mendatang dan seperti apa wajah China pascapemilu 2012. Di hadapan delegasi masing-masing dalam Kongres Ke-17 PKC lalu, keduanya menggaungkan pemikiran Presiden Hu yang disampaikan pada pembukaan kongres.

"Dalam proses menyelenggarakan pembangunan ekonomi, kita harus mendukung masyarakat yang harmonis," kata Li seperti dikutip Reuters. Masyarakat harmonis merujuk pada keyakinan harus ada lebih banyak orang yang menikmati keberhasilan pembangunan ekonomi China.

Xi memilih frase lain yang juga dilontarkan Hu. "Kita sedang melangkah lebih lanjut untuk mengeksplorasi dan menyebarluaskan teori pembangunan ilmiah serta mencapai hasil paling bermanfaat," katanya. Pembangunan ilmiah merujuk pada pembangunan yang ramah lingkungan.

Kendati demikian, Xi dan Li akan menghadapi tantangan zaman yang berbeda dengan era kepemimpinan Hu saat ini. Isu pemanasan global maupun demokratisasi harus diantisipasi kedua calon penerus estafet kepemimpinan China. Sebab, masyarakat dunia semakin sadar untuk tak semata-mata mengejar keuntungan ekonomis. Dengan kesadaran itu, ditambah posisi menguntungkan yang mereka duduki, Xi atau Li bisa membawa China menjadi kekuatan dunia yang disegani.

Sumber : Kompas, Sabtu, 27 Oktober 2007

0 comments:

 
Powered By Blogger
Powered By Blogger
Powered By Blogger

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks