Jun 19, 2009

Sutan Mancayo & Andra : Revolusi Pertanian Hijau di Sumbar

Revolusi Pertanian Hijau di Sumbar
Oleh : Yurnaldi

Alam takambang jadi guru. Begitu filosofi orang Minangkabau. Namun, bagi Sutan Mancayo dan Andra, petani di lahan Institut Pertanian Organik Aia Angek, Kecamatan Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, ada tambahan kalimatnya: Ladang terbentang jadi lautan ilmu.

Sejak beberapa bulan terakhir, tak henti-hentinya berbagai kalangan, baik dari dalam maupun luar Sumatera Barat (Sumbar), berkunjung ke kebun yang dikelola Sutan Mancayo dan Andra di Institut Pertanian Organik (IPO) Aia Angek untuk menyelami lautan ilmu tersebut.

Ada petani, penyuluh pertanian, pejabat dinas pertanian, wakil rakyat, akademisi dan pakar pertanian, guru besar bidang pertanian, peneliti, dan mahasiswa program doktoral (S3), bupati, gubernur, sampai pejabat USAID. Bulan Maret 2006, akan datang rombongan dari Departemen Pertanian, Jakarta.

Dua petani tersebut, Sutan Mancayo dan Andra, dengan konsultan dan inisiator berdirinya IPO, Djoni, telah melakukan lompatan besar di bidang pertanian. Bahkan, mungkin sebuah revolusi di bidang pertanian hijau, revolusi pertanian ramah lingkungan. Pertanian tanpa pupuk kimia anorganik dan pestisida, yang selama ini telah meracuni petani dan masyarakat konsumen.

Sutan Mancayo dan Andra menemukan berbagai ramuan pemberantas hama (agens hayati) dan pupuk yang ramah lingkungan. Inilah wujud partisipasi kami untuk memerdekakan para petani agar tidak terus dijajah oleh permainan mata antara pengusaha dan penguasa. Misalnya soal bibit, pestisida, pupuk kimia, soal harga jual produksi, petani selama puluhan tahun sampai sekarang hanya manarimo se (menerima saja), tanpa bisa berkutik, kata Sutan Mancayo.

Padahal, kata Sutan Mancayo, penggunaan pestisida selama lebih dari 40 tahun terakhir telah meninggalkan warisan berupa 500 spesies hama yang resisten terhadap pestisida, ratusan bahkan ribuan kasus keracunan setiap tahun, dan resurgensi hama-hama.

Target IPO Aia Angek, bagaimana meninggalkan pestisida dan pupuk kimia, lalu menggantikannya dengan ramuan alami dari alam sekitar, kata Andra dan Mancayo.

Mereka memberi contoh tanaman brokoli. Untuk lahan seluas 400 meter persegi atau 0,04 hektar, untuk bibit (1.000 batang) hanya dibutuhkan uang Rp 70.000. Untuk pestisida perlu Rp 400.000, pupuk Rp 225.000. Total pengeluaran sekitar Rp 695.000. Setelah 3,5 bulan, tanah seluas itu hanya dapat memproduksi brokoli 300 kilogram. Jika biaya transportasi Rp 300.000 dan harga jual Rp 4.000 per kg, total uang yang didapat petani Rp 1,2 juta. Dipotong biaya produksi, petani hanya mendapatkan Rp 205.000.

Dengan pertanian ramah lingkungan dan ramuan antihama dan pupuk alami, di lahan yang sama, semua pengeluaran bisa ditiadakan. Ketika brokoli siap panen, pembeli datang dan membeli dengan harga lumayan, bisa Rp 7.500 per kg. Dengan embel-embel produksi pertanian organik, brokoli bisa laku Rp 15.000 per kg.

Dengan harga Rp 7.500 per kg, petani mendapat hasil Rp 2.250.000 per 3,5 bulan. Bandingkan dengan pola anorganik, hanya memperoleh Rp 205.000. Dengan pertanian organik, di lahan yang sama, bisa ditanam tiga-empat macam jenis (tumpang sari), yang hasilnya juga jauh lebih lumayan daripada gunakan pupuk kimia dan pestisida jelas Mancayo di sela-sela panen brokoli, Rabu (1/2/2006).

Andra melukiskan, pemanfaatan agens hayati Bx1-Cb jenis ramuan alami pemberantas hama yang ditemukan pada tanaman kubis dapat menekan serangan ulat krop sekitar 90 persen dan penyelamatan hasil yang hilang sekitar 74 persen.

Banyak temuan

Kalau ada petani yang pantas dapat penghargaan, mungkin Sutan Mancayo dan Andra orangnya. Bayangkan, mereka telah menghasilkan banyak jenis temuan di bidang pertanian, bukan dari uang proyek pemerintah. Paling banter sebagian dibantu dana pribadi dari konsultannya, Djoni, yang sekitar 20 tahun memperjuangkan pertanian organik di Sumbar.

Mancayo (49) baru 13 tahun terjun ke bidang pertanian. Sebelumnya, lulusan STM jurusan mesin ini adalah konsultan pembangunan jalan dan jembatan. Setahun bertani, ia lalu mengikuti sekolah lapangan pengendalian hama terpadu sayuran dataran tinggi. Kemudian magang di Laboratorium Hama di Bukittinggi, sampai sekarang.

Dari setengah hektar lahan sewaan yang ia garap, sejak tahun 1997 sampai 2002 ia telah menemukan lebih kurang 20 jenis agens hayati (musuh hama alami). Setahun kemudian, tahun 2003, ia menemukan pupuk dari bahan urine ditambah tahi kambing (pupuk cikam) dan pupuk cair dari tanaman tithonia.

Sejak 1998 jadi instruktur dan narasumber dalam seminar agens hayati, tampil di kampus sebagai panel diskusi. Saya juga memandu banyak mahasiswa pertanian, bahkan sekarang ada yang sedang ikuti program doktor, tandas Mancayo, yang hampir cerai gara-gara sibuk melakukan penelitian yang menguras uang dapur istrinya. Untung tidak jadi berpisah. Dengan lima anak, petani yang kehebatannya melebihi para akademisi ini hidup rukun dengan istrinya.

Sementara Andra (28), anak mamak Mancayo, tahun 2004 menemukan pupuk cair dari tanaman kecubung. Lalu, pada tanaman cabai, kini ia tengah melakukan uji coba dengan dua perlakuan, dengan hanya pupuk cair kecubung dan pupuk cair kecubung ditambah air kelapa.

Hasilnya jauh lebih bagus dibanding tanaman cabai yang diberi pupuk kimia dan disemprot dengan pestisida. Panen bahkan bisa dua kali, katanya, bangga.

Temuan pupuk cair oleh Mancayo dan Andra merupakan sebuah jawaban untuk pertanian masa depan, pertanian dengan biaya murah karena tidak butuh pestisida dan pupuk kimia hasil melimpah, dan keuntungan berlipat ganda serta pasti sehat dikonsumsi.

Yang jadi pertanyaan, apa gubernur atau menteri pertanian berani ambil kebijakan ini?

Sumber : Kompas, Senin, 13 Februari 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks