Jun 29, 2009

Sunan bin Mariyat : Ustaz Sunan, Kepala Sekolah yang Tak Pernah Bersekolah

Ustaz Sunan, Kepala Sekolah yang Tak Pernah Bersekolah
Oleh : Runik Sri Astuti

MESKI menjadi kepala sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum, Ustaz Sunan (52), duduk di sekolah dasar pun ia belum pernah. Meski demikian, sejak memimpin sekolah itu tahun 1986 tak pernah ada permasalahan yang berarti. Bahkan, para guru yang pendidikannya rata-rata sarjana strata satu itu menaruh hormat padanya.

Salah satu tokoh masyarakat lokal jebolan Pondok Pesantren Attaroqi Sampang ini menangis saat melihat anak- anak yang seharusnya pergi ke sekolah malah berjalan menuju ladang mencari rumput untuk pakan ternak.

Banyak faktor yang membuat keadaan menjadi sulit. Di antaranya, sedikitnya gedung sekolah di daerahnya. Satu-satunya sekolah dasar negeri yang ada lokasinya lebih dari dua kilometer. Padahal, tidak ada kendaraan umum untuk menuju ke sana. Anak-anak yang rata-rata dari keluarga miskin itu juga tidak memiliki sepeda yang bisa dikayuh menuju sekolah.

ORANGTUA mereka rata-rata petani penggarap ladang yang gersang, nelayan, atau pemelihara ternak orang lain dengan sistem gaduh, yakni pemeliharaan yang upahnya didapat dari bagi hasil setelah penjualan. Untuk kehidupan sehari-hari saja susah apalagi menyekolahkan anak.

Di musim paceklik banyak warga yang makan jagung atau ketela pohon yang dikeringkan sebagai pengganti beras. Jarang warga makan dengan lauk-pauk. Ketidakberdayaan masyarakat, yang salah satu faktornya diyakini Sunan akibat kebodohan mereka, telah membangkitkan semangatnya. "Modal saya hanya nekat dan keyakinan yang kuat bahwa Allah pasti memberi jalan," katanya.

Sebagai anak petani yang disegani di desa kecil yang letaknya 45 kilometer dari Kota Sampang, pria yang kenyang hidup susah di Kalimantan ini mendapat warisan sebidang tanah yang luasnya seperempat hektar. Di atas tanah itu berdiri bangunan rumah sederhana milik orangtuanya Mariyat dan Bu Sikin yang letaknya di pojok. Di sebelahnya dibangun masjid. Di atas sisa tanah itulah didirikan sekolah.

Pada tahap awal pembangunan lima gedung sekolah menghabiskan dana Rp 17 juta. Sunan sempat bingung mencari uang karena tabungan hasil bekerjanya di perantauan yang menurut rencana akan digunakan untuk memperbaiki rumah, jumlahnya pas-pasan. Maka ia mengumpulkan warga sekitar, bahkan sampai ke tetangga desa. Dibeberkannya rencana pendirian sekolah gratis.

Ada warga yang memberi uang. Ada yang membantu tenaga. Dibantu beberapa donatur, terkumpullah uang. Biaya operasional sekolah tidak pernah dipikirkan karena Sunan tidak bekerja.

Departemen Agama yang menaungi sekolah dengan status terdaftar itu tidak pernah memberikan bantuan dana operasional. Bahkan, subsidi biaya minimal pendidikan, yakni program bantuan dana untuk siswa miskin yang digembar-gemborkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, tidak pernah sampai. Namun, selalu saja ada orang datang menyumbang. Kebanyakan justru orang-orang yang tidak dikenalnya, yang disebutnya sebagai "kemurahan Tuhan".

Berdirilah lima gedung pada tahap berikutnya. Ia juga mampu membayar gaji guru Rp 17.500 untuk sehari mengajar dan membeli buku serta kapur tulis.

MEMASUKI kompleks Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum Ketabang Daya, Kecamatan Ketabang, Kabupaten Sampang Madura sama sekali tidak tampak adanya aktivitas belajar mengajar. Seluruh bangunan kelas berlantai tanah yang jumlahnya 12 ruang itu tampak berantakan. Tidak ada kaca penutup jendela. Meja dan kursi di ruang kelas tidak teratur.

Di depan bangunan kelas terletak dua buah balai dari bambu sebagai tempat duduk. Di sinilah para guru berdiskusi seusai menunaikan kewajiban mengajarnya. Saat ini jumlah guru 10 orang dengan latar pendidikan berbeda. Ada yang bergelar sarjana pendidikan, sarjana ekonomi, dan guru agama.

Para guru diterima tanpa perekrutan formal. Asalkan mau mengajar dengan ikhlas, pasti diterima. Semua guru merupakan tenaga honorer. Ia pernah mengajukan mendapat guru bantu, tetapi sampai sekarang belum juga diberikan.

Aktivitas belajar dibagi dua kelompok. Pagi hari digunakan untuk sekolah madrasah ibtidaiyah setara dengan pendidikan sdasar. Sore dipakai untuk diniyah, yakni sekolah khusus agama.

Selain sebagai kepala sekolah, Sunan juga mengajar materi pendidikan agama untuk kelas satu dan kelas dua di madrasah ibtidaiyah, yang kurikulumnya ia pelajari secara autodidak. Khusus sekolah diniyah, ia mengajar di semua kelas.

Tidak ada seragam atau sepatu khusus bagi murid Madrasah Ibtidaiyah Darul Ulum. "Mereka mau sekolah saja saya sudah senang. Nanti kalau dipaksa-paksa, malah tidak masuk," ujarnya.

Selain mendirikan sekolah dan menjadi tokoh masyarakat, Sunan juga membantu puskesmas setempat. Ia menjadi leader dalam program pencarian penderita kusta.

DI sela-sela kesibukannya mengajar, Sunan mendatangi rumah-rumah warga. Selain untuk mengajak anak-anak yang belum sekolah agar mau bersekolah, ia mencari informasi tentang penderita kusta yang cenderung mengasingkan diri. Berkat ketekunan dan keuletannya, ada 50 lebih penderita kusta yang berhasil diantarkan berobat ke puskesmas. Setiap bulan ia pula yang mengambil obat yang harus diminum penderita dan mengantarkannya ke rumah.

Sunan bekerja tanpa pamrih. Jika para gurunya setiap hari mengajar pasti menerima gaji Rp 17.500, Sunan tidak menerima sepeser pun. Istrinya, Wasilah (29), yang ia nikahi pada tahun 1990, dan enam anaknya, hidup sederhana. Rumahnya berdinding tembok tanpa kulit luar dan jendelanya hanya tertutup kayu tipis.

Kini Sunan yang tak begitu lancar berbahasa Indonesia ingin mendirikan sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas agar anak-anak di desanya bisa menikmati pendidikan secara gratis. (Runik Sri Astuti)

Sumber : Kompas, Senin, 4 April 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks