Jun 28, 2009

Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid

Lebih Jauh Dengan : Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid
Pewawancara : Sarie Febriane dan Ninuk Mardiana Pambudy

TANGGAL 20 April lalu di Jakarta berlangsung peluncuran buku Kembang Setaman Perkawinan, Analisis Kritis Kitab ’Uqud Al- Lujjayn’. Buku ini adalah kajian kritis atas kitab ’Uqud Al-Lujjayn’, kitab fikih tentang hubungan suami-istri karya Syekh Nawawi al-Bantani (lahir 1813 M) yang masih diajarkan di pesantren.

YANG menarik, kajian kritis ini dilakukan Forum Kajian Kitab Kuning yang didirikan dan diketuai Ny Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid sejak tahun 1997. Dalam peluncuran buku itu, Abdurrahman Wahid, mantan Presiden RI, hadir memberi sambutan kunci sekaligus mendukung apa yang dilakukan istrinya.

Buku ini adalah versi akademis setelah tiga tahun sebelumnya diluncurkan versi populer dan versi bahasa Arab dari kajian yang sama. Sedang direncanakan untuk menerbitkan versi bahasa Inggris dan versi komik. "Masih mencari penyandang dana," papar Sinta Nuriyah.

Buku itu secara kritis mengupas setiap dalil dan interpretasi pemuka agama kelahiran Banten tersebut. Tantangannya tidak sedikit karena Kembang Setaman membongkar ajaran agama yang telanjur diyakini banyak orang selama lebih satu abad.

Sampai awal tahun 1990-an tidak banyak orang mendengar kegiatan Sinta Nuriyah yang memberi pengaruh begitu luas. Namanya seperti tertelan kiprah suaminya yang amat aktif memimpin Nahdlatul Ulama. Perubahan terjadi ketika Sinta melanjutkan pendidikan ke Program Kajian Wanita Universitas Indonesia, Program Pascasarjana Universitas Indonesia (selesai tahun 1997) dengan tesis "Perkawinan Usia Muda dan Kesehatan Reproduksi".

Di sana, Sinta Nuriyah yang menamatkan pendidikan S1-nya dari Fakultas Syariah IAIN Yogyakarta, terbuka cakrawalanya mengenai ketidaksetaraan relasi perempuan dan laki-laki yang merugikan perempuan. Dalam masa menyusun tesis terjawab pula pertanyaan yang dia pendam saat belajar di Pesantren Putri Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur, selulus sekolah dasar, mengapa ada perlakuan tidak adil pada perempuan dalam relasi suami-istri.

Setelah itu, aktivitas publik perempuan kelahiran Jombang, 8 Maret 1948, itu tak terbendung lagi, terutama yang berhubungan dengan isu perempuan. Ibu empat anak, yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh (Lisa), Zanuba Arifah Chafsoh (Yeni), Anita Hayatunufus (Nita), dan Inayah Wulandari (Ina), ini melakukan kerja dalam dua tataran sekaligus: membongkar fikih yang tidak lagi sesuai zaman dan aksi lapangan dengan mendirikan Yayasan Pesantren untuk Pemberdayaan Perempuan (Puan) Amal Hayati bekerja sama dengan sejumlah pesantren.

Percakapan berikut dilakukan di rumah pasangan Abdurrahman Wahid-Sinta Nuriyah di Ciganjur, di selatan Jakarta, akhir April. Siang itu, Sinta Nuriyah yang ingin melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang S3 itu tampak cerah dalam balutan baju tradisional Korea warna merah jambu. Kecelakaan mobil pada tahun 1993 yang memaksanya duduk di kursi roda tidak mampu melumpuhkan semangat baja perempuan bersuara lembut yang kini mampu berjalan 2-3 langkah ini.

APA sebenarnya yang melatarbelakangi pendirian Forum Kajian Kitab Kuning?

Forum Kajian Kitab Kuning (FK3) itu berawal ketika saya menulis tesis S2 tentang pernikahan usia muda dikaitkan dengan kesehatan reproduksi. Respondennya dari yang pendidikannya pesantren dan nonpesantren. Ternyata ada pengaruh dari Kitab Kuning. Pembimbing saya, Ibu Saparinah Sadli dan Ibu Atas Hendartini Habsyah, menganjurkan untuk meneliti kitab itu. Tetapi, saya belum tahu harus mulai dari mana dan bagaimana. Mereka bicara dengan Ford Foundation minta dibiayai. Ford setuju, tetapi syaratnya saya jadi ketua.

Saya bikin FK3 tahun 1997, tetapi belum tahu formatnya seperti apa. Akhirnya setelah 2,5 tahun saya diperkenalkan oleh Mbak Badriyah Fayumi (dari Nahdlatul Ulama) pada ahli hadis, orang Indonesia, Dr Luthfi Fathullah, yang belajar di Siria (dan membantu di dalam FK3).

Kenapa memilih kitab ’Uqud Al-Lujjayn?

Tadinya saya sudah belajar kitab itu di pesantren. Saat itu hanya bertanya sendiri, "Kok begini jadi perempuan?" Kemudian hilang begitu saja karena saya masih kecil.

Yang saya jadikan responden (tesis) adalah teman di pesantren dulu karena mereka punya banyak anak, ada yang 9 orang, ada yang 18 anak. Itu terungkap saat saya diajak ke sana oleh Mas Dur. Kebetulan ada pengajian Muslimat dan saya diminta ceramah. Saya mengamati dua hal yang saling terkait: Pendidikan dan perkawinan usia muda. Perkawinan usia muda menyebabkan pendidikan tidak bisa tinggi karena masih muda sudah dikawinkan. Akibat berikutnya anak-anak menjadi banyak. Itu yang menarik saya untuk dibahas dalam tesis, dan ternyata ada kaitan keadaan itu dengan kitab ’Uqud Al-Lujjayn’.

Tidak semua pihak bisa menerima kajian kritis tersebut?

Memang ada yang marah. Di Jember ada kiai muda bertanya, apa kedatangan Puan Amal Hayati dan FK3 itu seperti Yahudi yang mau menghancurkan Islam. Ketika itu darah saya rasanya naik sampai di sini (sambil menunjuk ubun-ubun), rasanya marah sekali. Akhirnya saya minta kiai pengasuh Puan di sana menjelaskan. Saya takut karena marah nanti saya jadi salah bicara.

Risiko seperti itu sudah disadari?

Karena itu saya melakukannya dalam satu tim, banyak ahli yang bukan orang sembarangan di dalamnya.

Dukungan dari Gus Dur?

Sangat penting, tokoh itu masih sangat dibutuhkan. Tanpa dukungan itu, kiai-kiai sudah langsung menolak. Bahkan waktu saya melakukan safari (untuk sosialisasi) dari Jember sampai Situbondo, satu hari di tujuh tempat, saya bicara poligami walau disarankan tidak bicara poligami. Menurut Ibu Khofifah (Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan ketika itu), kalau bukan Ibu (Sinta) yang bicara sudah langsung disambet oleh kiai-kiai.

Poligami isu sensitif?

Justru di kitab itu tidak ada masalah poligami karena dianggap poligami sudah wajar. Kitab ini hanya membicarakan hubungan suami dengan istri atau istri-istrinya. Kami tidak membongkar masalah poligami di situ.

Dalam kitab kuning itu relasi itu antara lain seperti ini. Kalau seorang istri dipanggil suami untuk melayani (hubungan intim dengan) suami dan tidak bergegas-gegas datang, dia akan dilaknat malaikat. Itu yg harus diluruskan. Bahkan ada yang lucu, seperti harus bisa melihat ke mana mata suami melihat, ke mana arah hidungnya jatuh, semacam itu. Lucu-lucu.

Pendapat Anda tentang poligami?

Dalam setiap dialog publik atau bedah buku saya selalu mengatakan itu kesalahan interpretasi atas ajaran agama. Salah pemahaman.

Tercermin antara lain ketika Anda menolak kebijakan panitia Muktamar NU di Boyolali November lalu yang memakai jasa katering Wong Solo dengan membuat dapur antipoligami?

Tidak langsung dalam kaitan penolakan terhadap poligami, tetapi dalam kaitan organisasi besar kenapa harus menghidangkan makanan dari yang menganjurkan poligami. Organisasi besar seperti NU itu kan harus memberi contoh yang baik kepada masyarakat luas.

Setelah kajian kitab kuning, apa lagi?

Kami akan melakukan revisi terhadap kitab fikih yang dipakai di pesantren dari tingkat ibtidaiyah hingga aliyah. Untuk itu kami butuh riset ke pesantren di seluruh Indonesia. Kami harus tahu bagaimana kitab fikih itu diajarkan dan bagaimana penerimaannya. Materinya sangat bias jender.

Keberhasilan ini tergantung dari para kiai. Bagaimanapun kiai itu yang akan memberi ceramah, sampai ke desa-desa. Bila isi ceramah itu bias jender, maka akan sangat berpengaruh.

Kalau begitu, kiai memang perlu didekati?

Karena itu kami mendirikan Puan Amal Hayati, bermitra dengan pesantren (ada di 11 tempat). Tidak semua pesantren bisa kami terima menjadi mitra, ada persyaratan yang harus dipenuhi. Misalnya, di tempat itu tidak ada yang melecehkan perempuan.

Sejauh mana upaya melalui Puan dan FK3 dapat memperbaiki situasi perempuan?

Dengan melakukan terobosan, mendirikan Puan Amal Hayati di daerah-daerah, otomatis kami memperkenalkan juga kesetaraan jender di sana. Bila mereka sudah bisa menerima kesadaran jender, maka saat mereka memberi ceramah atau ada orang datang minta nasihat, bisa diberikan secara berkeadilan jender.

Karena itu kami dirikan Puspita, Pusat Perlindungan bagi Wanita. Bahasa Inggrisnya, WCC, woman crisis center. Nah karena kita orang Indonesia saya menggantinya dengan bahasa Indonesia. Lho, sama kan, malah lebih cantik.

Dikaitkan dengan Hari Kartini, setelah 100 tahun kepergian Kartini, tantangan apa yang dihadapi saat ini?

Antara lain seperti itu tadi, juga dari perempuan sendiri. Apalagi yang namanya ibu nyai. Mereka menganggap yang benar seperti itu, boleh dimadu, boleh diperlakukan sebagai orang kedua (the other-Red). Resistensi justru datang dari para perempuan sendiri yang sejak lahir sudah dicekoki dengan pandangan bahwa diskriminasi sebagai sesuatu yang terberi. Misalnya, akikah untuk anak laki-laki adalah dua kambing sedangkan anak perempuan satu kambing. Apa dengan begitu artinya perempuan sama dengan setengah kambing dan laki-laki satu kambing?

KETIKA Reformasi bergulir pada tahun 1998, Sinta Nuriyah bersama sejumlah perempuan bergabung dalam Forum Seruan Perempuan untuk Perdamaian. Salah satu kegiatan forum ini adalah berdemonstrasi setiap Jumat menolak kekerasan yang terjadi di berbagai tempat. Tahun 1999 dia menggelar forum Mendengar Perempuan Bicara yang memberi ruang kepada korban kerusuhan Mei 1998 memaparkan pengalaman mereka. Untuk semua kegiatannya itu, Sinta Nuriyah mendapat penghargaan khusus dari Pemerintah Jepang pada bulan Desember 2000.

Apakah masih aktif dalam gerakan untuk perdamaian?

Tidak lagi. Kegiatan yang masih saya jalani setiap bulan puasa adalah sahur keliling. Sekarang tidak hanya di Jawa, tetapi juga di Banjarmasin, Bali, Lombok. Itu ternyata menarik minat orang. Saat itu saya jadikan ajang forum kerukunan antarumat beragama. Kepanitiaannya perwakilan dari semua agama.

Pernah ada rasa capai mendampingi Gus Dur yang sekarang bahkan aktif sekali dalam dunia politik?

Ya saya ikuti, santai-santai saja. Politik kan tidak boleh diikuti dengan tegang. Patah nanti… jadi dengan santai…

Orang melihat Gus Dur kadang emosional dalam berbicara. Di rumah bagaimana?

Kadang-kadang suka terbawa. Kalau sudah begitu jangan dekat-dekat… menyapanya dengan yang lembut-lembut yang tidak ada sangkut pautnya dengan itu semua.

Mesti banyak sabar?

Oh iya, berlipat-lipat.

Dalam tulisan di berbagai media, Gus Dur menyebut mengagumi dan menghormati Anda?

Masak sih? Ya, rumah tangga, apalagi bila sudah ada anak-anak, kalau sampai terjadi clash atau kepatahan dalam rumah tangga, yang jadi korban bukan hanya suami dan istri, tetapi juga anak-anak. Jadi, bukan karena saya perempuan lalu harus mengalah, tetapi mengalah untuk membangun rumah tangga yang baik, menjaga kelangsungan rumah tangga.

Buat kebanyakan perempuan mengalah itu diartikan diapakan saja manut?

Untuk saya, dia bicara apa saja saya dengarkan, saya ingat-ingat, enggak usah dijawab, enggak usah dibantah. Nanti suatu saat kalau ada apa, saya bilang dulu kan omong begini-begini… Nah, enggak bisa bantah kan? Jadi, enggak usah dibantah dulu.

Sepanjang pengalaman saya rasanya laki-laki itu memang enggak mau dijawab (ditimpali), apalagi dibantah.... Mungkin itu sifat laki-laki. Kalau begitu kita kan harus punya strategi. Saya catat saja omongan dia dalam hati, nanti suatu saat kita lempar balik.

Dengan cara itu pernikahan jadi langgeng?

Insya Allah, September tahun ini akan 34 tahun. Dulu memang sebagai orang muda, darah muda, kalau suami omong rasanya ingin marah. Tetapi, saya menyadari perempuan itu kalau sudah omong (berselisih dengan suami) pasti sambil nangis. Kalau sudah begitu enggak bisa semua keluar kan?

Untuk menghindari itu, semua unek-unek saya tulis, lalu saya taruh di tumpukan baju Bapak paling atas. Nanti kalau datang ambil baju, dia lihat ada surat. Itu untuk menghindari konfrontasi yang hebat tetapi unek-unek kita enggak sampai. Alhamdulillah, efektif. Nanti dia menjelaskan begini, begini. Kan dia membacanya sudah dengan kepala dingin. Ya begitulah perempuan memang harus punya strategi jitu.

Gus Dur romantis?

Kadang, kalau ingat, he-he-he. Kalau ingat, mau pergi cium mata saya. Kalau lagi enggak ingat, aduhhh… pamit saja enggak… Itu dari dulu, paling enggak sejak jadi Ketua PB NU. Kalau waktu pertama kali menikah ya tidak.

Gus Dur berbeda dari kebanyakan laki-laki di pesantren. Gus Dur mau mengganti popok anak-anaknya?

Waktu melahirkan anak kedua, kami sudah di rumah sendiri. Kalau malam bayi nangis dia mengganti popoknya. Bayinya diangkat, dikasih ke saya, saya tinggal menyusui. Kalau bayinya sudah tidur, Bapak yang mengangkat lagi si bayi, dipindahkan ke boks.

Itu karena kemauan sendiri?

Iya, kesadaran sendiri. Saat awal-awal berumah tangga, kalau tidak ada pembantu, Bapak bantu-bantu pekerjaan rumah yang ada unsur airnya karena Bapak gemuk. Jadi, Bapak mencuci, saya menyetrika. Kalau saya masak, Bapak yang cuci piring. Saya yang menyapu, dia mengepel. Tetapi, di kalangan pesantren itu dinilai merendahkan martabat laki-laki.

Kenapa Gus Dur mau?

Itu kesadarannya sendiri. Sekolahnya kan di luar negeri. Di sana semua pekerjaan rumah tangga dikerjakan laki-laki.

Di Indonesia saja semua ajaran agama salah dipahami. Semua urusan rumah tangga, urusan anak, suami, mengatur rumah, mencuci, menjadi kewajiban istri. Kalau tidak dilakukan akan dosa dan masuk neraka, iya kan? Padahal di Arab, justru laki-laki yang melakukan, enggak ada perempuan bekerja. Itu budaya saja. Perempuan di sana seperti ratu lebah, hanya beranak.

Kalau begitu, Gus Dur bisa disebut feminis?

Saya rasa bisa. Itu saya rasa karena pengaruh keluarga. Keluarga Bapak kan ditinggal ayahnya pada waktu anak-anak masih kecil. Jadi, mereka melihat figur ibu sebagai orangtua tunggal di mana ibu itu melakukan segala-galanya. Saya kira itu juga sangat berpengaruh.

Dalam pernikahan ada pasang-surut, termasuk ketika ada kasus Aryanti (2000)?

Yang saya lihat, ya enggak. Sudah enggak bisa dipercaya (berita itu). Sudah mudah terlihat kebohongannya (kabar itu). Kok, seleranya seperti itu?

Sempat tanya kepada Gus Dur?

Ya enggak, wong sudah mudah terlihat enggak benar (berita itu). Wong datang ke Kantor PB NU ya hanya sekali, kok langsung begitu.

Bagaimana bila Anda disebut feminis?

Asalkan feminis itu tidak dilihat seperti yang di Barat. Bila ada yang tanya selalu saya tekankan, apakah penggunaan istilah feminis itu berarti jalan pikiran Anda mengarah ke Barat. Di sana, feminisme itu perjuangan untuk fight dengan laki-laki, berebut kekuasaan. Di sini adalah kesetaraan, laki-laki adalah mitra sejajar perempuan, bukan saling mengalahkan, memperebutkan. Bersama-sama membangun bangsa, rumah tangga. Dan itu memang yang dianjurkan agama.

Pilihan belajar kajian wanita di Universitas Indonesia karena sadar ada ketimpangan di masyarakat?

Saya tidak sengaja masuk Program Kajian Wanita. Tetapi, karena waktu itu yang masih membuka pendaftaran jurusan itu, ya saya coba saja. Jadi, itu kebetulan. Saya rasa itu dituntun Tuhan.

Kunci (kesetaraan) menurut saya adalah pendidikan. Perempuan dengan pendidikan tinggi akan meminimalisir kekerasan terhadap dirinya karena tahu hak-haknya, kewajibannya. Kalau mengalami kekerasan dia tahu bagaimana membela dirinya apakah di rumah tangga, di tempat kerja, atau karena tafsir agama.

Saya sering bilang kepada perempuan jangan menikah dengan orang yang kamu cintai, tetapi dengan orang yang mencintai dirimu karena akan di-eman-eman (disayang).

Berdasarkan pengalaman sendiri?

Saya kira…

Kalau anak-anak yang tiga orang nanti akan menikah, apa akan disaring dulu calon suami mereka? Harus punya pemahaman jender yang baik?

Selama dia orang baik, bertanggung jawab. Pokoknya saya hanya mengatakan, saya tidak ingin dia menyakiti hati anak saya. Itu saja. Itu artinya banyak, kan?

Sumber : Kompas, Minggu, 8 Mei 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks