Jun 19, 2009

Sai'in, Pengabdian Selama 45 Tahun

Sai’in, Pengabdian Selama 45 Tahun
Oleh : Aswin Rizal Harahap

Menjadi muazin atau orang yang azan di masjid merupakan hal biasa bagi seorang Muslim. Namun, jika hal itu dilakukan selama 45 tahun berturut-turut di sebuah masjid sarat sejarah, yakni Masjid Sunan Ampel, Surabaya, tentu suatu perkecualian. Itulah yang dilakukan Sai’in (66), lelaki asal Desa Tampingan, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Abdullah, salah seorang warga di sekitar Masjid Ampel, mengatakan, muazin di Masjid Ampel memiliki suara khas dan merdu. ”Alunan cengkoknya sungguh pas di telinga,” ujarnya. Bahkan, suara yang telah didengarnya sejak ia kecil itu hingga kini tidak pernah mengalami perubahan kualitas. Artinya, kualitas suara Sai’in tak memudar seiring bertambahnya usia.

Kemampuannya mempertahankan kualitas suara tak lepas dari kedisiplinan dalam memilih makanan. Sai’in selalu menghindari makanan yang mengandung minyak berlebih dan minuman dingin. Selain itu, ia menjaga kebugaran fisik dengan berjalan kaki setiap pagi. Sebagai muazin selama lima waktu shalat setiap harinya, Sai’in hanya memiliki waktu luang di pagi hari. Dari Masjid Ampel, biasanya ia berjalan kaki ke beberapa wilayah di Surabaya, seperti Pasar Turi, Wonokromo, dan Pasar Blauran.

Biasanya Sai’in telah kembali ke masjid pukul 09.00 untuk beristirahat sebelum menyuarakan azan shalat dzuhur. Kadang, ia tak sempat beristirahat apabila ada jadwal pengajian karena harus mengajar sekitar 40 siswa sejak sepuluh tahun lalu. Bungsu dari tiga bersaudara ini mengaku mulai lelah dengan rutinitas sehari-hari sehingga sempat memutuskan pensiun. Bahkan, niatnya tersebut sudah ia sampaikan kepada pengelola Masjid Ampel, tetapi ditolak dengan alasan belum ada pengganti yang pas.

”Sejujurnya, saya merasa suara saya dalam berazan sudah fals,” tutur lelaki yang telah ditinggal orangtua dan kakak-kakaknya itu.

Ingin pensiun

Nasib baik menyertai keinginan Sai’in untuk pensiun. Pada tahun 2004 seorang pemuda bernama Choiri datang ke Masjid Ampel dengan maksud ingin mengabdikan diri pada agama. Ternyata, Choiri memiliki cengkok suara yang mirip dengan dirinya. Sejak saat itu ia terus-menerus melatih calon pengganti dirinya itu. Setelah dianggap mampu, Choiri diberi kesempatan untuk menjadi muazin pada salah satu langgar di daerah permukiman Ampel setahun kemudian.

Perjalanan Sai’in menjadi muazin sangatlah panjang. Minatnya pada agama telah muncul sejak berusia enam tahun. Ketika anak-anak sebayanya bermain kelereng atau layang-layang, ia lebih suka bermain di langgar dekat rumahnya. Ia mendapat bimbingan mengaji dan azan dari pengelola langgar. Dua tahun kemudian ia melakukan debut untuk mengumandangkan azan dzuhur.

Kecintaannya kepada ajaran agama semakin dalam saat Sai’in tinggal bersama temannya di Purworejo untuk beberapa bulan. Ayah temannya saat itu kerap menceritakan tentang silsilah Wali Sanga kepadanya. Hal itulah yang membuatnya bersikeras untuk mengabdikan diri di pondok pesantren dan masjid, khususnya Sunan Ampel di Surabaya. Motivasi tersebut tak lain karena ia sangat mengagumi sunan tertua dalam sejarah Wali Sanga tersebut.

Namun, karena letak Surabaya yang cukup jauh dari Magelang, ia memutuskan menetap lebih dahulu di beberapa pondok pesantren terdekat. Setelah memperoleh surat jalan dari kepala desa, Sai’in pergi menuju Semarang. Sayangnya, ia yang hanya membawa uang Rp 75 dan sehelai sarung harus mengalami penolakan karena Pondok Pesantren Pranggen di Semarang sudah penuh.

Seusai menginap semalam, ia melanjutkan perjalanan menuju Pondok Pesantren Banyu Urip di Pekalongan. Ternyata, ia mengalami pengalaman yang sama. Akhirnya ia memutuskan kembali ke Semarang. Ongkos perjalanan tersebut cukup menguras kantong Sai’in.

Berbagai penolakan yang dialami Sai’in semakin membulatkan tekadnya untuk meneruskan perjalanan menuju Surabaya dengan berjalan kaki. Perjalanan menuju Pati ia tempuh dalam waktu sehari semalam. Saat beristirahat di sebuah langgar di Dusun Dorokandang, Pati, ia diajak Syamsul, pengelola langgar, untuk membantu mengurus sawah. ”Saya hanya menyanggupi membantu selama sebulan karena ingin segera sampai di Masjid Ampel,” ujar lelaki yang kala itu berusia 19 tahun ini.

Pengabdiannya sebagai muazin hanya terhenti satu bulan saat tangan kirinya patah akibat terjatuh dari pohon jambu pada tahun 1985. Selebihnya, suara azannya terus berkumandang di masjid itu.

Sumber : Kompas, Senin, 30 Januari 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks