Jun 9, 2009

Ryan Leonard Lalisang : Manisnya Emas Ryan Lalisang

Manisnya Emas Ryan Lalisang
Oleh : MH Samsul Hadi

Ketika pertama kali mencoba lintasan Qatar Bowling Centre, Doha, peboling putra Indonesia, Ryan Leonard Lalisang (26), sudah menduga: bakal ada skor tinggi di Asian Games 2006. Ternyata, dia terkejut ketika dirinya pencipta rekor tersebut di Asian Games, Minggu (3/12/2006).

Tidak pernah dia menduga dirinya dapat tampil begitu meyakinkan, mengingat persaingan luar biasa berat. Dia memecahkan rekor enam game pertama di ajang Asian Games 2006 dengan angka tertinggi 1.442 pin di nomor tunggal putra dan angka rata-rata 240,3 pin. Pencapaian itu melampaui rekor lama yang 1.408 pin oleh Kritchawat Jampakao (Thailand) yang tercipta di Asain Games Bangkok 1998.

Dia juga nyaris mencatat nilai sempurna dengan pencapaian 299 pin, hanya satu kurangnya dari 300 pin. Hasil itu dia buat pada game kedua dan mengantarkannya ke puncak peraih angka tertinggi guna merebut emas. Emas pertama bagi bangsa Indonesia.

"Saya senang banget dan tidak menyangka dapat emas. Setelah selesai main, saya sempat merasa tidak bakal tergeser, tetapi persaingan merebut poin sangat tinggi," ujar Ryan dengan wajah berbinar gembira.

Lucunya, Ryan justru belum tahu sudah mendapat emas saat berangkat tidur, Minggu malam. Ia baru tahu dirinya menerima emas setelah bangun tidur, keesokan harinya, melalui manajer tim, Ongky Priyongko.

Bagi si bungsu dari tiga bersaudara pasangan Robert J Lalisang dan Yvonne Kalesaran itu, mencetak angka sempurna tidak ada artinya jika gagal meraih emas. Sepanjang kariernya, dia 14 kali mencatat nilai sempurna. Terakhir, pada Kejuaraan Dunia Boling Qubica AMF di Caracas, Venezuela, November lalu. "Itu tidak ada artinya kalau tidak mendapat emas," katanya.

Maklum, sebelumnya peboling putri Putty Insavilla Armein, yang tampil enam game di tunggal putri, juga memecahkan rekor Asian Games. Namun, medali emas melayang karena poin peboling Malaysia, Mei Lan Esther Cheah, lebih tinggi. Putty harus puas dengan perak, medali pertama Indonesia di Doha.

Selama pertandingan, Ryan mengaku sempat mengalami kendala pada game pertama. Turun di lintasan 13-14, ia kesulitan mengendalikan bola sehingga meraih skor terendah dalam enam game, 200 pin.

"Dua lemparan pertama, bola tidak belok. Baru lima lemparan terakhir saya bisa menyesuaikan diri. Game-game berikutnya, bola mau belok," tuturnya.

Di game kedua, ia mencetak skor tertinggi, yakni 299 pin, sekaligus memecahkan rekor satu game 290 yang dibuat peboling Filipina, Virgilio Sablan, di Asian Games 1998. Namun, skor itu hanya sehari karena Nayef Eqab Al Abadla (Uni Emirat Arab) membukukan nilai sempurna 300 pin di game keenam saat turun di nomor ganda bersama Jamal Ali Mohammad.

"Dengan lintasan yang ada, sudah diprediksi akan menghasilkan skor-skor tinggi. Pelatih meyakinkan kami untuk mencapainya. Tinggal kami bisa membaca situasi atau tidak," papar pemuda kelahiran Balikpapan, 2 Agustus 1980 tersebut.

Medali emas yang disumbangkan Ryan adalah serba yang pertama. Pertama buat Ryan yang baru pertama kali tampil di Asian Games, pertama bagi koleksi medali emas Indonesia di Asian Games 2006, dan juga pertama bagi cabang boling Indonesia di Asian Games. Sebelumnya, pencapaian tertinggi boling Indonesia di Asian Games adalah medali perak, yang diraih Hendro Pratono di Hiroshima 1994, dan perak Putty Armein beberapa jam sebelumnya.

Jam terbang tinggi

Prestasi yang ditorehkan Ryan dari cabang boling, di samping buah dari latihan kerasnya selama ini, juga tak luput pengalaman dan jam terbangnya bertanding di level internasional.

Ryan menyebutkan, atas biaya sponsornya Lintasan Jaya Boling Ancol Jakarta, ia dapat mencicipi berbagai kejuaraan di mancanegara. Satu tahun rata-rata enam kali. Pengalaman bertambah dan mental kian terasah.

"Padahal, lawan-lawan yang dihadapi pun sebenarnya juga itu-itu saja," katanya lugas.

Sebelum menjuarai tunggal putra Asian Games 2006, Ryan adalah juara tunggal putra di Kejuaraan Asia Boling 2006 di Jakarta, Agustus lalu. Ia juga mempersembahkan emas tunggal putra di SEA Games XXIII 2005 Manila. Maka, ia menyarankan agar para peboling Indonesia lebih sering mendapat dukungan dan kesempatan bertanding di luar negeri.

"Mudah-mudahan saja olahraga boling lebih diperhatikan lagi. Lebih banyak bertanding ke luar negeri, lebih baik. Kesempatan itu juga tidak untuk satu-dua orang saja, tetapi pada semua anggota tim agar tim boling kita kuat," ungkapnya yakin.

Menurut pria berkacamata ini, seperti cabang olahraga lainnya, jam terbang di level internasional penting. Kian banyak kompetisi yang diikuti, kian matang mental. Kepercayaan diri meningkat dan kian pandai mengukur kemampuan diri.

Putus kuliah

Ryan merasa beruntung, sebagai peboling putra nomor satu di Tanah Air dia memiliki sponsor sehingga dapat sering berlaga ke banyak negara. Namun, ada pengorbanan dan harga yang harus dibayar.

Kuliahnya di Fakultas Hukum Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta, harus terhenti di semester empat. Sponsor mewajibkan dirinya sering bertanding ke luar negeri. Itu berarti ia harus sering meninggalkan kuliah.

Namun, Ryan sudah tahu ke mana akan melangkah. Sambil mematangkan diri menjadi peboling tangguh, ia tidak ingin melupakan pentingnya pendidikan bagi masa depannya kelak.

"Kalau ada dana, saya mau sekolah boling ke Amerika Serikat (AS). AS masih pusat olahraga boling," ujar lulusan SMA Negeri III Setia Budi, Jakarta, itu.

Sudah 11 tahun dia selalu terpilih sebagai peboling pelatnas, sejak SEA Games XIX 1997. Ketika itu, dia masih remaja dan menjadi yang paling bungsu.

Kini, pengorbanan Ryan terasa manis setelah ia berhasil memboyong emas di Asian Games. Ia belum puas dan masih ingin mengukir prestasi. Setelah Doha, dia membidik Kejuaraan Dunia Antarbenua, yang diikuti delapan peboling terbaik dari Asia, Eropa, dan Amerika.

Sepenuh hati dia memilih jalur olahraga boling sebagai bagian hidupnya. Boling adalah jalan hidupnya. Ryan berharap prestasinya terus menggelinding, seperti gelindingan bola yang dilemparkannya di arena boling. Terima kasih, Ryan…. (TIA)

Sumber : Kompas, Selasa, 5 Desember 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks