Jun 28, 2009

Roy Budhianto Handoko : Roy, Bisnis dan Sosial Harus Seimbang...

Roy, Bisnis dan Sosial Harus Seimbang...
Oleh : P Bambang Wisudo dan Rien Kuntari

KULIT wajahnya yang terang kini sedikit kehitaman. Maklum, selama satu tahun terakhir, pria kelahiran Salatiga, 13 November 1953, ini harus bolak-balik antara Salatiga dan Nglelo yang penuh tanjakan dan liku. Nglelo adalah sebuah desa terpencil di leher Gunung Merbabu, Jawa Tengah, yang hampir selalu berselimut kabut.

DI desa sunyi nan dingin itu, Ir Roy Budhianto Handoko, begitu pria itu disebut, adalah seorang guru matematika di SLTP alternatif Candi Laras. Meski hanya memiliki lima siswa, sekolah alternatif Candi Laras adalah sekolah terbuka pertama yang memiliki fasilitas on-line selama 24 jam penuh di puncak gunung. Dunia pendidikan adalah salah satu komitmen sekaligus keprihatinannya selama ini.

"Saya rasa hampir 50 persen hasil didikan tidak berprofesi sesuai dengan pendidikan yang dikenyam. Misalnya, ada sarjana yang bersedia menjadi pegawai biasa. Ini kan namanya orang berpendidikan merampas hak rakyat kecil. Jika tidak diatasi, mereka akan semakin tersisihkan. Persoalannya, bagaimana kita mengangkat rakyat kecil agar memiliki kemampuan yang tak kalah dengan para sarjana…," katanya.

Ia pun prihatin dengan kesempatan pendidikan yang tidak merata. Di Desa Nglelo, misalnya, anak usia sekolah terpaksa harus ke sawah di usia cukup dini karena biaya pendidikan yang semakin tak terjangkau. Kondisi desa semakin parah seiring dengan runtuhnya "kerajaan" tembakau. Roy bersama paguyuban petani setempat lalu mendirikan sekolah alternatif Candi Laras tersebut.

Gaya pengajaran Roy memang di luar kebiasaan. Ketika mengajarkan masalah gravitasi, misalnya, ia cukup menuliskan kata "gravitasi" dan sedikit kata pengantar. Ia membiarkan para siswa mendalami sendiri masalah gravitasi dengan menjelajah dunia maya yang kini disebut internet.

Ketika ia membekali para siswa dengan pengetahuan tentang pertanian, ia membebaskan para siswa untuk menjelajah dunia maya itu guna menemukan teknik mutakhir tentang bercocok tanam.

Sistem yang ia terapkan membuahkan hasil. Anak didik Roy yang seluruhnya anak mantan petani tembakau, kini memiliki pengetahuan cukup, bahkan lebih maju dibandingkan dengan orangtua mereka. Kelima anak didiknya berhasil menduduki ranking pertama dalam ujian nasional yang diselenggarakan SLTP induk di Salatiga.

Kini, hal terpenting baginya adalah membimbing para siswa untuk menggunakan internet dengan benar. Di matanya, sekolah menengah pertama merupakan ajang terbaik mengenalkan dunia internet bagi para siswa.

"Pikiran mereka masih jernih," ujarnya memberi alasan.

"Karena itu, kalau sejak dini sudah dibiasakan menggunakan internet dengan benar, sampai dewasa nanti mereka terbiasa menggunakan fasilitas itu untuk kepentingan yang bermanfaat, tetapi kalau dunia internet baru dikenalkan pada masa sekolah menengah atas akan terlambat. Pada usia itu, pikiran siswa kan mulai "ngeres", nah di sini bahayanya…," lanjut lulusan Fakultas Teknik Sipil Universitas Diponegoro, Semarang, ini sambil tertawa.

Pesatnya perkembangan teknologi, kata Roy, seharusnya diantisipasi oleh bidang pendidikan. Dalam arti, sudah selayaknya jika kurikulum pendidikan disesuaikan dengan kemajuan tersebut. Menurut dia, sangatlah pantas jika pendidikan masa kini menyertakan pula teknologi internet sebagai salah satu sarana pembelajaran. Kenyataannya, dunia internet lebih memberikan ruang kebebasan kepada para siswa untuk mendapatkan pemahaman akan satu bahan pelajaran dengan lebih baik.

Karena itu, ia membentuk jaringan pendidikan Salatiga. Roy yang memiliki jabatan resmi sebagai Direktur Utama Indonet Salatiga membangun jaringan dan memberikan fasilitas on-line gratis kepada seluruh SLTP di Salatiga. Dengan senang hati ia membangun fasilitas tersebut hingga puncak gunung.

Ia mengakui ada unsur bisnis yang mendasari langkah tersebut, yaitu keuntungan jangka panjang.

Pada rentang waktu lima hingga 10 tahun mendatang, 80 persen pengguna utama internet adalah para siswa yang kini duduk di bangku sekolah dasar dan menengah. Baginya, mereka adalah generasi perantara ke zaman yang menjadikan teknologi bagai aliran darah kehidupan.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya Indonesia memiliki server sendiri. "Misalnya, jika mereka membuat website dengan alamat dari luar negeri, berapa biaya yang harus dikeluarkan. Kalau cuma satu anak tidak masalah, tetapi kalau jutaan, berapa devisa kita yang berkurang karena mereka harus lari dulu ke server di luar negeri, baru kemudian ke sini lagi. Ini sebenarnya pemborosan sangat besar yang tanpa disadari. Coba bayangkan, kalau seluruh anak SMP punya homepage di luar, dan mereka setiap hari men-down-load, berapa bandwith yang harus dikeluarkan," ujarnya.

"Apalagi, dengan sistem lisensi. Sekarang kita ini dijajah Microsoft. Apa-apa harus bayar. Ini harus diusahakan jalur atau sistem sendiri. Karena itu, Indonesia harus punya server sendiri sehingga bisa men-down-load tanpa biaya…. Tetapi yang paling penting, di seluruh Indonesia sudah harus ada Indonesia Internet Exchange, mesin yang memungkinkan adanya intranet, misalnya di Salatiga. Karena, sekarang ini kita harus melalui jalur dari Yogyakarta lalu ke Jakarta, baru kemudian ke Salatiga," jelas pemilik Hotel Beringin, Salatiga, ini.

TIDAK mengherankan jika ia memiliki komitmen tinggi pada pendidikan. Jiwa nasionalisme telah mendarah daging di dalam dirinya. Ia terlahir dalam keluarga yang aktif pada perjuangan PNI. Semangat itu pula yang membuatnya tak hanya mementingkan keuntungan semata.

"Harus ada keseimbangan antara keuntungan bisnis dengan kepentingan sosial," tegas ayah Tania Handoko (17), buah cintanya dengan Ratna Kirana, bunga Kota Kudus yang ia petik ketika kuliah di Universitas Satyawacana, Salatiga.

Yah, semuanya memang harus seimbang. (P BAMBANG WISUDO/RIEN KUNTARI)

Sumber : Kompas, Senin, 23 Mei 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks