Jun 18, 2009

Petrus Kaseke, Pelestari Kolintang

Petrus Kaseke, Pelestari Kolintang
Oleh : C Wahyu Haryo PS

Kolintang yang merupakan alat musik tradisional rakyat Minahasa sempat dilarang dimainkan pada masa penjajahan Belanda. Pasalnya, kolintang pada awalnya digunakan untuk mengiringi upacara ritual pemujaan arwah leluhur oleh masyarakat setempat.

Selama seabad lebih, eksistensi kolintang semakin terdesak dan hampir punah. Baru setelah Perang Dunia II, sekitar tahun 1952, seorang tunanetra bernama Nelwan Katuuk menghadirkan kembali instrumen musik ini lewat pagelaran musik yang disiarkan RRI Minahasa.

Permainan kolintang dari Nelwan Katuuk ternyata menginspirasi seorang bocah laki-laki berumur 10 tahun dari Ratahan, Minahasa Utara, untuk membuat alat musik kolintang. Cita rasa bermusik dari lingkungan keluarganya yang membentuk kepekaannya terhadap nada berpadu dengan keterampilan menukang kayu yang diperolehnya dari sang kakek.

Hasilnya, pada tahun 1954 sang bocah berhasil membuat kolintang dengan dua setengah oktaf nada diatonis. Dengan petunjuk sejumlah orang tua yang pernah mendengar bunyi alat musik kolintang, ia terus belajar dan mengembangkan instrumen ini hingga bisa menciptakan tangga nada sampai tiga setengah oktaf dalam satu kruis, naturel, serta satu mol pada tahun 1960.

Dialah Petrus Kaseke, putra tunggal Pendeta Yohanes Kaseke dan almarhum Adelina Komalig. Korelasi tingginya kepekaan terhadap nada dengan tingginya tingkat kecerdasan tampaknya terbukti pada diri Petrus Kaseke. Meski hidup dari keluarga kurang mampu, di usianya ke-20, Petrus meraih predikat pelajar berprestasi dan memperoleh beasiswa dari Bupati Minahasa untuk melanjutkan kuliah di Jurusan Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada.

”Beasiswa yang saya terima waktu itu Rp 1.000, hanya cukup untuk biaya kos dan makan selama tiga bulan. Di saat kondisi perekonomian sangat labil, inflasi meningkat tajam hingga ada kebijakan pemotongan uang Rp 1.000 menjadi Rp 1, saya bertahan hidup dengan main musik kolintang di Yogyakarta,” kenang Petrus, saat ditemui di rumahnya di Jalan Osamaliki 4 Salatiga, Jawa Tengah, pekan lalu.

Kala itu kolintang belum banyak dikenal di Pulau Jawa. Di luar dugaan, sambutan publik terhadap kehadiran kolintang yang diiringi gitar, ukulele, dan string bas ini ternyata luar biasa. Bahkan, kolintang saat itu sempat menjadi salah satu media kampanye Partai Kristen Indonesia (Parkindo) sehingga ia dan rekan-rekannya menerima banyak job bermain musik kolintang.

Beban hidup semakin berat, merantau seorang diri di tanah Jawa, sementara beasiswa dari bupati juga diputus. Setelah enam tahun dan baru meraih sarjana muda, Petrus terpaksa tak melanjutkan kuliahnya. Kondisi ini justru membuat Petrus semakin berketetapan hati menggeluti alat musik kolintang. ”Saya memulai usaha membuat kolintang bermodalkan ’dengkul’. Uang yang saya peroleh selama mementaskan kolintang, saya gunakan untuk modal usaha,” kata suami dari Tjio Kioe Giok (62) ini.

Waktu terus berlalu, usaha Petrus semakin berkembang. Ia juga memiliki kelompok musik yang sudah pentas melanglang ke berbagai negara di dunia, seperti Singapura (1970), Australia (1971), Belanda dan sekitarnya, hingga di Jerman Barat (1972), Amerika Serikat dan Inggris (1973), serta Swiss, Denmark, Swedia, dan Norwegia (1974). Pada tahun-tahun itu pula, ia hijrah ke Salatiga dan membangun usahanya di sana.

”Bahan baku kolintang berupa kayu waru mudah didapatkan di sekitar Rawapening sehingga saya memilih membuka usaha di Salatiga. Kayu ini kualitasnya tidak kalah dengan kayu telur, bandaran, wenang, dan kakinik dari Minahasa. Selain ringan, serat kayunya cukup padat dan membentuk garis sejajar sehingga menghasilkan bunyi yang nyaring,” ujar bapak dua anak, Leufrand Kaseke (26) dan Adeline Kaseke (22).

Di era 1989 hingga 1990-an, alat musik kolintang sangat populer bagi masyarakat di dalam negeri maupun luar negeri. Pembuat kolintang pun mulai menjamur. Dalam sebulan Petrus bisa melayani pembuatan alat musik kolintang hingga 10 set. Kala itu ia bisa mempekerjakan sekitar 20 tukang kayu untuk membuat instrumen ini.

Pemesanan dari luar negeri terus mengalir, antara lain dari Australia, China, Korea, Hongkong, Swiss, Kanada, Jerman, Belanda, dan Amerika Serikat. Hampir semua kedutaan besar Indonesia di dunia mengoleksi alat musik kolintang buatannya. Juga Twilite Orchestra pimpinan Addie MS memercayakan penggunaan alat musik kolintang dalam konser yang menggunakan alat musik kolintang.

Era krisis moneter akhir tahun 1990 ternyata juga menandai jatuhnya industri alat musik kolintang. Satu per satu perusahaan alat musik kolintang rontok, bangkrut. Petrus menjadi salah satu dari sekian perajin alat musik kolintang yang masih bertahan meski pemesanan anjlok, hanya berkisar 1-2 set per bulan.

”Dari sisi harga, kolintang yang saya jual memang relatif lebih mahal daripada produksi di pasaran. Harganya mulai dari Rp 6 juta per set kolintang yang dimainkan lima orang serta Rp 25 juta untuk 10 pemain,” katanya. Namun, ketepatan nada dan kualitas bunyi menjadi resep Petrus masih bisa bertahan usahanya hingga saat ini. Bahkan saat ditemui di rumahnya, ia tengah menyelesaikan pesanan dari Australia.

”Ketepatan nada masih bisa tertolong dengan adanya komputer pengukur nada. Tetapi, untuk kualitas bunyi, tetap perlu kepekaan telinga dan keahlian memilih bahan baku. Meski nada sudah tepat, bila kualitas bunyinya tidak baik, batang kayu tersebut langsung saya buang,” kata pria kelahiran Ratahan, 2 Oktober 1942, ini.

Kepiawaian Petrus membuat alat musik tradisional Minahasa yang hampir punah ini memang belum pernah mendapat penghargaan yang sebanding dengan sepak terjangnya selama ini. Ia memang bukan satu-satunya perajin alat musik kolintang yang masih bertahan. Namun, di tangan dia jua, alat musik ini mulai merebak ke Pulau Jawa dan merambah seantero dunia.

Sumber : Kompas, Rabu, 15 Maret 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks