Jun 4, 2009

Muniyati dan Pendidikan bagi Anak Autis

Muniyati dan Pendidikan bagi Anak Autis
Oleh : Wisnu Aji Dewabrata

Awalnya memang karena putra bungsunya menyandang autis. Namun, mempunyai anak autis pula yang membuat Muniyati Ismail, seorang dokter di Palembang, kemudian bertekad menerjunkan diri dalam dunia pendidikan.

Karena memiliki anak autis itulah saya tergerak untuk mendirikan sekolah, terutama bagi anak autis. Anak itu mengubah jalan hidup saya. Tanpa dia, mungkin saya tak akan peduli pada anak autis. Saya bersyukur diberi anak autis," kata Muniyati tentang si bungsu, Muhammad Attar Annurillah (10) atau biasa dipanggil Attar.

Sekolah yang didirikan Muniyati tahun 2004 itu bernama SD Khusus Harapan Mandiri. Sekolah tersebut lokasinya satu gedung dengan pusat terapi autis Yayasan Bina Autis Mandiri. Gedung sekolah berlantai tiga itu terletak di Jalan Syuhada, kawasan pusat Kota Palembang.

Sekolah yang didirikan Muniyati berbeda dengan sekolah autis umumnya. Sekolah ini menggabungkan anak-anak normal dan anak-anak autis dalam satu kelas. Anak-anak normal yang bersekolah di sini berasal dari keluarga kurang mampu, seperti anak tukang becak atau buruh cuci.

Anak autis yang kebanyakan berasal dari keluarga berada memberikan subsidi silang, sehingga anak normal yang kurang mampu dapat bersekolah tanpa dipungut biaya sepeser pun.

"Awalnya sekolah ini didirikan karena anak autis sulit diterima di sekolah umum. Saya prihatin dan geram dengan pendidikan kita yang membebani murid. Anak yang baru bisa membaca sudah diajari macam-macam. Jangankan anak autis, anak normal saja kesulitan," tuturnya.

Tahun 1999 Muniyati yang mengikuti suaminya bertugas di Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam, mendirikan tempat rehabilitasi untuk anak autis. Saat itu Aceh dilanda konflik sehingga tak ada dokter dan ahli untuk autis. Terpaksalah Muniyati membawa anaknya bolak-balik dari Lhokseumawe ke Jakarta untuk terapi.

"Saya berusaha supaya anak saya tak perlu terapi ke Jakarta. Sampai ada seorang guru yang mau saya ajak mendirikan tempat terapi," ungkapnya.

Juli 2002, Muniyati pindah ke Palembang, kota tempat dia dibesarkan. Maka, tempat terapi autis di Lhokseumawe ditinggalkan meskipun Muniyati masih mengadakan kontak. Kini, tempat terapi tersebut telah memiliki empat guru.

Setahun kemudian, Muniyati mendirikan pusat terapi autis di Palembang. Tahun 2004 dia ingin mendirikan sekolah, karena resah memikirkan masa depan anak- anak autis yang tidak bisa belajar di sekolah umum.

Muniyati mendirikan sekolah itu bermodal nekat dan secara swadaya. Ia merasa beruntung karena suaminya adalah peneliti lepas yang hasil temuannya antara lain berupa zat pelapis pupuk. Zat temuan untuk pelapis pupuk itu digunakan oleh sejumlah pabrik pupuk di Indonesia. Hak paten zat pelapis pupuk tersebut sangat membantu keluarga untuk menyokong sebagian pendanaan sekolah.

"Pendanaan sekolah ini murni dari kantong sendiri, uang sekolah siswa autis, dan peserta terapi autis. Saya menjalankan subsidi silang. Sedangkan bantuan pemerintah hanya bantuan operasional sekolah (BOS)," ujarnya.

Mungkin karena niatnya tulus, kemudahan pun menyertai. Pemilik rumah tua yang dikontrak Muniyati sebagai sekolah sekaligus tempat terapi autis tak keberatan bangunannya diubah menjadi sekolah berlantai tiga. Bangunan itu rampung pada September 2006.

Pemilik rumah tersebut bahkan bersedia menjualnya kepada Muniyati dengan harga di bawah pasaran. Tak hanya itu, dia juga membantu Muniyati mendapatkan kredit dari bank.

Kejujuran

Muniyati mengatakan, sekolah yang didirikannya mengutamakan kejujuran, tanggung jawab, dan toleransi. Di sini siswa normal maupun penyandang autis dididik dan harus belajar untuk saling menghormati.

"Para siswa maupun guru harus bertanggung jawab pada kebersihan. Anak yang curang, seperti mencontek, dikenai hukuman, karena kejujuran adalah segalanya. Di sini siswa dan guru berasal dari berbagai agama dan suku. Jadi, anak-anak pun belajar toleransi dan menghargai pluralisme," tuturnya.

Gedung sekolah ini tampak bersih. Bahkan para orangtua yang menunggu atau menjemput anak mereka pun diwajibkan menjaga kebersihan sekolah.

Sekolah ini menggunakan kurikulum modifikasi, yaitu gabungan kurikulum Departemen Pendidikan Nasional dan kurikulum Swedia yang disebut sistem inklusi. Dalam kurikulum tersebut, murid penyandang autis dan siswa normal digabung dalam satu kelas. Hanya saja, untuk siswa autis dengan bakat tertentu, ada kelas khusus yang terpisah dengan kelas murid normal.

Muniyati mengakui bahwa kurikulum modifikasi tersebut masih banyak kelemahannya. Akan tetapi, dia menjamin kualitas siswa-siswa sekolah ini tak kalah dengan siswa sekolah umum.

"Saat ini jumlah murid kelas I, II, dan III tercatat 39 anak, 22 di antaranya merupakan penyandang autis dan 17 siswa normal. Selain murid sekolah, ada pula peserta terapi. Jumlah mereka yang aktif sebanyak 65 anak, berusia satu sampai dengan 10 tahun. Jumlah guru kami ada 25 orang," ceritanya.

Hal lain yang membedakan sekolah ini dengan sekolah umum di antaranya pada muatan pelajaran. Siswa kelas I di sini ha- nya diajarkan pelajaran dasar seperti membaca, berhitung, dan akhlak. Sedangkan untuk anak autis pelajarannya berdasarkan kurikulum tunagrahita dan tunarungu.

Di sini, siswa kelas I juga lebih banyak mendapat kebebasan bermain. Muniyati beralasan, tak mau membebani anak-anak dengan pelajaran terlalu berat. "Bermain itu dunia mereka, dunia anak-anak," ungkapnya.

Kesadaran orangtua

Tentang persoalan yang dihadapi, menurut Muniyati, umumnya muncul karena rendahnya kesadaran orangtua untuk menyekolahkan anaknya. Meskipun gratis, ternyata masih sulit menemukan orangtua yang mau menyekolahkan anaknya bersama anak autis.

Sebagian orangtua enggan anaknya yang normal belajar di sekolah yang sama dengan anak autis. Alasan mereka, khawatir anaknya ketularan autis.

"Ke depan, saya dan para guru ingin menjadikan sekolah ini sebagai sekolah percontohan untuk anak autis maupun anak normal. Kami pun ingin membuktikan bahwa anak miskin sekalipun kalau dididik dengan benar juga bisa berkualitas," ujar Muniyati.

Dia sadar, perjalanan masih panjang. Bagi Muniyati, perjalanan itu baru bisa dikatakan berhenti setelah tidak ada lagi perlakuan diskriminatif terhadap anak autis dalam dunia pendidikan di Indonesia. *

Sumber : Kompas, Selasa, 12 Juni 2007

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks