Jun 20, 2009

Madonna : Naluri Purba Madonna

Naluri Purba Madonna
Oleh : Frans Sartono

Madonna kembali lagi ke arena disko lewat album terbarunya, Confessions on a Dance Floor. Kultur disko, joget jingkrak-jingkrak, adalah alam asal Madonna. Di usia 47 tahun saat ini, ketika belantika musik pop diramaikan wajah-wajah muda, ibu dua anak itu memunculkan lagi jurus joget yang hampir 25 tahun terkubur.

"Saya memang ingin membuat album yang bisa diputar orang di pesta-pesta, di tempat kerja, atau di dalam mobil. Saya ingin membuat orang berjoget tanpa henti,” kata Madonna dalam jumpa pers di Tokyo, Jepang, awal Desember lalu.

Banyak pengulas menilai Confessions on a Dance Floor sebagai album yang menggejolak. Ada yang menyebutnya sebagai glittery disco, disko yang gemerlap. Madonna dan produser Stuart Price menyodorkan lagu-lagu yang mudah memancing impuls goyang.

”Saya tidak sedang mood untuk menyanyikan balada. Saya tidak bisa diganggu, I wanna dance—saya ingin menari,” kata Madonna dalam wawancara dengan majalah Attitude.

Tak ada lagu balada sunyi dengan sentuhan gitar akustik seperti lagu You’ll See. Lagu jenis itu memperlihatkan wajah Madonna yang sendu. Dengan mendayu itu bertutur tentang perempuan yang tegar meski dikhianati lelaki. Kini Madonna memperlihatkan sisi lain sebagai ratu disko.

Pencarian diri

Madonna sengaja memanggil kembali riuh dunia disko era akhir 1970-an, the roaring seventies. Dalam lagu Hung Up yang ditempatkan di urutan pertama album, Madonna sengaja mencuplik intro dan interlude lagu Gimme, Gimme, Gimme (A Man After Midnight) dari ABBA. Lagu ABBA, grup asal Swedia itu, merupakan salah satu lagu ”wajib” lantai disko era akhir 1970-an dan awal 1980-an.

”Saya harus mengirim utusan ke Stockholm untuk menyerahkan surat dan rekaman kepada mereka (ABBA). Saya meminta izin dan memohon dengan sangat kepada mereka,” kata Madonna seperti dikutip majalah Attitude.

”Saya sampaikan betapa saya menghormati musik mereka. (Lagu Hung Up) itu merupakan penghormatan kami kepada mereka,” lanjut Madonna.

Madonna sangat lega dan bangga karena ternyata ABBA mengizinkan karya mereka digunakan sebagai bagian dari komposisi Madonna. ABBA selama ini sangat susah mengizinkan karya mereka dijadikan sampling—cuplikan—oleh seniman lain.

”Mereka bisa saja bilang tidak, tapi saya bersyukur mereka memperbolehkan,” tutur Madonna.

Dalam album baru terbitan Warner Bros itu Madonna juga memasukkan potongan lirik lagu kondang dari album lamanya. Dalam lagu I Love New York, misalnya, Madonna mencomot lirik lagu Love Song yang termuat dalam album Like a Prayer keluaran tahun 1989.

Confessions on a Dance Floor menjadi semacam album retrospektif Madonna pada era disko, kultur joget yang melahirkan Madonna. Madonna Louise Veronica Ciccone, nama wanita kelahiran Michigan, Amerika Serikat, 16 Agustus 1958, itu memang datang dari alam gerak. Ia adalah anggota cheer leader semasa SMA. Ia pernah belajar tari dengan kelompok Alvin Alley dan Peral Lang’s Dance Company di New York.

”Itu semua menjadi bagian dari masa lalu saya. Saya tarik masa lalu saya ke hari ini. Saya harap pula menyambung ke masa depan,” kata Madonna.

Ia memang dikenal sebagai penyanyi yang terus-menerus melakukan reinvention, pencarian diri untuk memperbarui dan menyegarkan persona diri dan pesona musiknya.

Paradoks

Madonna menyadari posisinya di pentas musik pop yang merupakan bagian dari kultur pop. Menurut sementara orang, itu merupakan jagat superfisial, cetek.

”Itu (musik pop) menjadi superfisial karena banyak orang yang membuatnya tanpa merenung lebih dalam atau menyampaikan gagasan,” ujar Madonna dalam wawancara dengan Matthew Todd dari Attitude.

”Saya mencoba berjalan pada batas-batas yang tipis. Saya membuat sesuatu yang menghibur. Tapi, saya juga membuat sesuatu yang politis dan provokatif yang membuat orang mempertanyakan sesuatu,” katanya menambahkan.

Madonna tak peduli jika orang menanggapi sinis pandangan tersebut.

”Yeah, tapi bukankah hidup itu sebuah paradoks. Mengatakan bahwa dunia materi itu tidak penting, itu bisa membingungkan. Bukankah kita tumbuh dalam pemahaman seperti itu. Saya nanti dikira menghina orang,” tutur si Material Girl itu.

Musik yang dibuatnya, kata Madonna, bukan merupakan sesuatu yang dangkal. Sepintas dari kulit luar, kata dia, mungkin akan terkesan dangkal. Akan tetapi, jika orang mau menyimak lirik, tutur Madonna, orang akan mendapat kesan berbeda.

”Saya ingin membuat orang langsung bergembira. Saya ingin orang bangkit dari tempat duduk dan berjingkrak-jingkrak,” kata Madonna.

Berjoget, konon, merupakan naluri purba. Di zaman modern naluri itu ia menemukan tempatnya di lantai disko atau di mana saja orang ingin berjingkrak-jingkrak. Juga pada album Madonna, Confessions on a Dance Floor.

Sumber : Kompas, Sabtu, 24 Desember 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks