Jun 19, 2009

Ki Mas Ngabehi Warsino Guno Sukasno : Ki Warsino, Empu Dalang Pengagum Anoman

Ki Warsino, Empu Dalang Pengagum Anoman
Oleh : Brigitta Isworo Laksmi

Setelah beberapa kali bertanya, akhirnya Kompas berhasil menemukan kediaman Ki Mas Ngabehi Warsino Guno Sukasno (85). Dalang senior itu seakan menunggu kedatangan Kompas. Ketika kami datang, dia sedang duduk di pendapa samping rumah sambil nglaras (bersantai) mendengarkan gending Jawa dari radio transistor sambil melayangkan pandangan ke halaman.

Kami disambut di halaman lalu diajak masuk ke ruang tamu rumah di Dusun Kedung Gebang, Kelurahan Talunamba, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, itu.

Warsino banyak disebut sebagai salah satu guru bagi dalang kondang gaya Surakarta. Sebut saja ”dalang setan”—karena sabetannya yang luar biasa—Ki Manteb Soedarsono, atau Ki Anom Suroto.

Bagi dia pribadi, istilah menjadi guru para dalang tersebut kurang tepat. ”Saya hanya kadang-kadang mendampingi mereka atau sekadar berdiskusi,” ujarnya. ”Anom Suroto semasa mudanya sering kemari,” katanya.

”Saya mulai mendalang tahun 1938 di desa-desa. Tahun 1941 saya belajar mendalang di Mangkunegaran semasa Mangkunegara VII dan Mangkunegara VIII,” ujar dia membuka cerita.

”Guru saya di Mangkunegaran adalah Ki Mangundiwiryo, abdi dalem Mangkunegaran,” tutur Warsino yang suka memainkan lakon Ramayana itu. Guru pertamanya adalah Ki Bagong Natacarita dari Kartasura. ”Saya mengikuti beliau ke mana-mana bila beliau mendalang,” ujarnya.

Lupa kapan tepatnya, pada akhir 1960-an dia merantau ke Medan dan baru kembali ke Kedung Gebang tahun 1980 sambil membawa seperangkat gamelan yang sekarang selalu dibawanya mendalang.

Takdir

Mendalang bagi Warsino bagaikan takdir yang tidak terhindarkan. Kakek buyutnya hingga sang ayah adalah dalang. Diawali dari kakek buyutnya, Ki Jayani, darah dalang mengalir ke diri kakeknya, Guno Yoso. Profesi mendalang itu diteruskan sang ayah, Guno Sukasno.

”Saya dan ketiga adik laki-laki saya juga mendalang,” ujarnya. Dia mengatakan, ”Aku sabisa-bisa nyulihi, aja kepedhutan (Saya sebisa-bisanya menggantikan, jangan sampai punah),” ujarnya.

”Saya ini kalau mendalang, ya seutuhnya mendalang. Sekarang ini orang mendalang dicampur-campur, dengan campursari, dagelan, dan lain-lain menyesuaikan dengan permintaan penonton. Saya tidak mau begitu karena inti cerita wayang adalah jejer (narasi yang menceritakan lakon wayang). Karena bahasa jejer memang rumit dan halus, banyak yang tidak mengerti, akhirnya itu sering kali dihilangkan. Padahal yang penting adalah jejer kawitan (saat awal kisah dimulai) dan jejer pathet sanga (lewat tengah malam di tengah kisah),” ujarnya.

Pada masa mudanya, mendalang merupakan profesi kebanggaan yang akhirnya memicu fanatisme daerah secara sempit. Oleh karena itu, melaksanakan ”laku” dengan cara puasa kemudian menjadi salah satu cara menjaga diri dari berbagai ”serangan” dalang lain. Agar tidak hujan dan tidak ada gangguan, dia puasa mutih selama tiga hari. ”Terutama kalau bermain di Donomulyo, di daerah Malang yang dalangnya terkenal kuat-kuat,” tuturnya.

”Kalau zaman sekarang, dalang malah berkumpul kalau ada yang mendalang. Manteb main di sana lalu semua pergi ke sana. Kalau dulu, dalang bisa tidak senang kalau yang main di daerahnya dalang dari daerah lain,” ungkapnya.

Suatu kali dia menggunakan pokok pohon pinang yang demikian keras kayunya sebagai pengganti batang pisang untuk menancapkan wayang-wayangnya.

”Nah, saya pakai pokok pinang. Kamu mau apa?” ujarnya untuk menggambarkan bagaimana dia harus unjuk kekuatan. Seorang dalang yang ”diganggu”, dia menuturkan, suaranya bisa hilang, tidak bisa suluk (narasi pembukaan dengan nada khas).

Anoman

Ki Warsino yang piawai menggerakkan wayang hingga dikenal sebagai ”dalang sabet” ini mengaku sudah berkeliling hampir ke seluruh Indonesia untuk mendalang dan meruwat. Ia pernah mendalang di rumah mantan Presiden Megawati Soekarnoputri. Di zaman Presiden Soekarno, hampir sebulan sekali dia main di hadapan presiden.

Di halaman rumahnya yang luas, kini setiap Jumat Wage, ada wayangan untuk ruwatan. Dalang yang main bergilir. Saat dia didaulat Kompas memainkan wayang, Ki Warsino membuka kotak tua di pendapa rumahnya. Tiga tokoh wayang, yaitu Permadi, Dewi Larasati, dan Kakrasana, dikeluarkan.

”Ini warisan dari Ki Jayani,” ujarnya. Dia lalu membuat sabetan ringan. Selanjutnya dia memainkan wayang Anoman dan Antareja, saudara Bima yang bisa menembus Bumi. Sabetannya seakan menghidupkan tokoh-tokoh di tangannya.

Dia sendiri menyukai tokoh Anoman, kera putih utusan Sri Rama untuk berkomunikasi dengan Sinta saat ditawan Rahwana. ”Dia adalah tokoh yang suka menolong, ksatria, tetapi kemudian berhenti dan menjadi pandita,” ujarnya.

Warsino pun kini telah menjadi ”Anoman”, menjadi pandita dalang. Air mukanya masih menerawang saat kami tinggalkan di pengujung sore yang berbau harum tanah karena hujan sempat turun. (NUT/WHY/ROW)

Sumber : Kompas, Senin, 2 Januari 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks