Jun 4, 2009

Ketut Wiradnyana : Ketut dan Misteri Bukit Kerang

Ketut dan Misteri Bukit Kerang
Oleh : Andy Riza Hidayat

Di meja kerjanya terdapat tiga serpihan batu dan satu potong tulang gajah yang sudah membatu. Telah 13 tahun, Ketut Wiradnyana mengakrabi benda-benda arkeologis seperti itu dan mencoba mengungkap misterinya. Meneliti tempat bersejarah, masuk keluar hutan, goa, dan liang kubur di belantara Sumatera dan Nias menjadi pekerjaan pria asal Bali ini.

Temuan artefak menuntun Ketut mempelajari pola kehidupan manusia masa silam dengan kebudayaannya. Menyelami misteri batuan, tengkorak, atau hematit (sejenis batuan lembek berwarna kemerahan). Itulah salah satu alasan dia mencintai pekerjaan sebagai arkeolog.

Hari-hari ini dia menunggu hasil carbon dating, yaitu penelusuran usia benda arkeologis memakai media karbon, atas temuan tengkorak manusia di Situs Bukit Kerang. Antara Maret-April 2007, dia memimpin penggalian arkeologi (ekskavasi) di salah satu Situs Bukit Kerang di Gampong Pangkalan, Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang, Nanggroe Aceh Darussalam.

Situs Bukit Kerang yang terletak sekitar 120 kilometer arah barat laut Kota Medan ini merupakan rangkaian dari situs yang tersebar antara wilayah Deli Serdang, Langkat, di Sumatera Utara hingga Aceh Tamiang di Nanggroe Aceh Darussalam. Saat ini hanya tinggal situs di Gampong Pangkalan, Kecamatan Kejuruan Muda, dan Gampong Mesjid, Kecamatan Bendahara, Aceh Tamiang.

Kegiatan ekskavasi di Gampong Pangkalan kali itu merupakan yang kedua. Ketut pernah ke situs tersebut pada 1998. Saat itu ekskavasi tak bisa dilanjutkan karena di Aceh tengah konflik. Pada tahun 2007, Balai Arkeologi Medan kembali melakukan ekskavasi dengan bantuan Pemerintah Perancis.

Situs Bukit Kerang adalah salah satu obsesi Ketut untuk mengungkap ihwal manusia purba yang pernah hidup di pesisir timur Sumatera. Baginya, tak ada kegiatan lebih menarik daripada ke lapangan dan melakukan ekskavasi. Dia memimpin para peneliti dan dibantu relawan mahasiswa Departemen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe.

Untuk menuju lokasi itu, mereka mesti melewati jalan perkebunan yang berdebu sejauh 25 kilometer. Perjalanan pun dilanjutkan dengan jalan kaki sekitar 30 menit. Kompas yang ikut meninjau lokasi ekskavasi itu, akhir April lalu, membutuhkan waktu selama empat jam perjalanan.

Misteri

Penggalian Situs Bukit Kerang kali ini diharapkan akan menjawab misteri yang belum jelas tentang apa yang ditemukan Ketut tahun 1998. Pada ekskavasi pertama ditemukan satu individu kerangka manusia purba yang diduga hidup antara 5.000 dan 7.000 tahun silam.

"Sebutan manusia purba di sini lebih menyangkut kebudayaan mereka yang purba, yaitu pada masa Mesolitik," ujar Ketut.

Kotak ekskavasi yang digali berada jauh dari jalan utama Lintas Timur Sumatera. Kalau pada ekskavasi pertama kotak ekskavasi berukuran 2 meter x 2 meter, yang kedua ini 2 meter x 4 meter di lokasi berbeda. Pada ekskavasi yang kedua ini ditemukan tiga kerangka individu, terutama kondisi tengkoraknya masih lengkap.

Ketut tertarik pada Situs Bukit Kerang karena peneliti asing menaruh perhatian serius. Pemerhati budaya Belanda Callenfels dan peneliti Inggris Mc Kinnon pernah melakukan pengumpulan data terkait dengan situs tersebut. Arkeolog Indonesia RP Soejono dan Truman Simanjuntak berkali-kali mendorong para peneliti untuk melanjutkan penelitian di Bukit Kerang.

Situs Bukit Kerang merupakan situs spesifik. Keberadaannya di Indonesia hanya di pesisir timur Sumatera. Lantaran itu, semua temuan peralatan (artefak)—umumnya terbuat dari batu lonjong dan pipih—disebut sumatralith.

Nama Bukit Kerang diambil dari gundukan tanah yang sebagian besar materialnya berupa cangkang kerang. Diperkirakan pada zaman dahulu manusia purba di pesisir timur Sumatera menyantap kerang sebagai menu utama, karena (saat itu) dekat laut dan mudah didapat. Saat ini Situs Bukit Kerang terletak cukup jauh ke arah pedalaman.

Mencari

Suami Nur Aida Tarigan ini lahir dari pasangan Ketut Wasek (almarhum) dan Ketut Sori di Negara, Bali. Anak kelima dari tujuh bersaudara ini menyelesaikan SMA di Bali pada 1986. Ketut sempat kuliah di Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Atma Jaya, Yogyakarta. Tahun berikutnya, dia belum merasa puas dengan disiplin ilmu yang dipilih, lalu mendaftar sebagai mahasiswa baru Jurusan Arkeologi, Universitas Udayana, Denpasar.

Selama mempelajari ilmu arkeologi, ia menemukan tantangan belajar, menyingkap kehidupan manusia masa lalu. "Dalam arkeologi terbuka kesempatan untuk mengembangkan diri, mengapresiasi kebudayaan dengan data memadai," ungkap ayah dua anak ini.

Dia lulus sarjana arkeologi Universitas Udayana pada 1992. September 1994, Ketut meniti karier sebagai peneliti di Balai Arkeologi Medan. Bekerja di Medan berarti kesempatan untuk memenuhi obsesinya menguak misteri situs kjokken moddinger atau shell midden atau "sampah dapur" manusia purba, yaitu berupa bukit kerang.

Rasa lelah berhari-hari di tempat penggalian terbayar ketika menemukan tiga tengkorak dalam kotak penggalian. Bagian dari tiga tengkorak itu diserahkan kepada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan lembaga serupa di Perancis untuk diteliti usianya. Hasilnya masih dinanti.

Kesimpulan sementara atas temuan itu, di pesisir timur Pulau Sumatera diperkirakan pada 5.000-7.000 tahun lalu pernah terdapat kehidupan religi manusia. Ini dibuktikan dengan adanya bekal kubur, hematit, dan letak kerangka yang membujur utara-selatan. Manusia yang dikubur di Situs Bukit Kerang, Gampong Pangkalan, bisa jadi adalah nenek moyang orang Tamiang.

Kerangka manusia yang ditemukan di situs tersebut merupakan percampuran ras Mongoloid dan Austromelanesoid. Penelitian yang diikuti ekskavasi oleh Ketut Wiradnyana dan kawan-kawan ini bisa disebut penelitian penting untuk mengungkap tentang kehidupan manusia yang pertama kali menghuni wilayah Sumatera.

Hasil penemuan atas kerangka manusia di Bukit Kerang itu menghasilkan hipotesis bahwa manusia purba yang tinggal di wilayah pesisir timur Sumatera serupa dengan temuan manusia purba di Hoa Binh, Vietnam.

Jika hipotesis itu benar, demikian Ketut, seharusnya tidak perlu terjadi perdebatan yang tajam—secara sporadik mencuat di masyarakat setempat—ketika kita melihat keberagaman etnik yang ada di tengah masyarakat di Sumatera Utara dewasa ini.

"Kebudayaan masa lampau sudah bercampur hingga menghasilkan kebudayaan baru. Dan ini sangat berguna bagi peradaban manusia sekarang," ujar Ketut.

***
BIODATA

Nama: Ketut Wiradnyana
Tempat dan Tanggal Lahir: Negara, Bali, 26 April 1966
Istri: Nur Aida Tarigan

Anak:
- Putu Gde Maha Vivaldi Pradnyana (10)
- Made Mirah Ayu Mahadewi (6)

Pendidikan :
1992: lulus S-1 Jurusan Arkeologi, Fakultas Sastra, Universitas Udayana, Denpasar, Bali
2006: mulai kuliah pascasarjana Antropologi Sosial, Universitas Negeri Medan

Aktivitas Organisasi:
1994-sekarang: anggota Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI)
1995-sekarang: anggota Asosiasi Prehistori Indonesia (API)

Jabatan:
2003-sekarang: Peneliti Madya Balai Arkeologi Medan
2001-sekarang: Kepala Subag Tata Usaha Balai Arkeologi Medan

Pengalaman Profesi:
1994-1996: anggota Penelitian Arkeologi di Barus
2003-2004: anggota penelitian arkeologi Nias bersama Institut de Recherche pour le Developpement (IRD)
2005-sekarang: Ketua Tim Peneliti Arkeo-geografi Pulau Nias

Karya Tulis:
- Sebaran Budaya Hoabinh di Sumatera Utara
- Alat Paleolitik dari Pekan Muzoi, Nias
- Indikasi Estetika Masa Mesolitik di Sumatera Utara dan Aceh Timur
- Tinggalan Megalitik di Pulau Samosir, Sumatera Utara

Sumber : Kompas, Rabu, 30 Mei 2007

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks