Jun 25, 2009

Ketut Muja : Muja, Kayu yang Memanggil...

Muja, Kayu yang Memanggil...
Oleh : Putu Fajar Arcana

Ketika kayu eboni dan sawo dianggap paling bernilai sebagai bahan patung, Ketut Muja (61) nekat beralih menggunakan akar. Ia menemukan akar kayu leci terbengkalai milik tetangganya. Setiap lewat, akar leci seperti memanggil-manggil, sampai akhirnya ia minta dari tetangganya. Dalam waktu tak lama, benda itu berubah menjadi karya indah bertemakan pencolongan Sinta oleh Rahwana.

Karya ini kemudian dibeli mantan Presiden Soeharto seharga Rp 3,5 juta. Jumlah yang cukup besar waktu itu. ”Saya ingat waktu itu awal tahun 70-an, saya ambil uang di Istana Tampaksiring. Pulangnya dikawal pengawal presiden,” kenang I Ketut Muja saat ditemui di rumahnya, Desa Singapadu, Gianyar, awal pekan lalu.

Sejak itu patung-patung dari akar leci merebak di sekitar Gianyar. Hampir seluruh energi dan pikiran para pematung Bali disedot untuk menciptakan bentuk-bentuk unik dari akar leci. Pohon yang tadinya sama sekali tidak dilirik, apalagi memiliki nilai ekonomi, kini menggantikan posisi kayu eboni atau sawo yang mulai langka.

Salah satu karakter khas seniman tradisi Bali adalah sangat mudah meniru. Dan umumnya, para penggagasnya justru senang karena merasa kreasinya hanya sebagai anugerah Tuhan. Prinsip bekerjanya, bukan mereka yang menemukan, tetapi Tuhan yang berkehendak.

Ketut Muja mungkin harus diposisikan sebagai kreator yang berbeda. Ia memang mendapatkan kemahirannya mematung secara otodidak. Dahulu sekitar tahun 1960-an, selama hampir enam tahun ia berguru kepada pembuat topeng tradisi I Wayan Tangguh. Dari gurunya ini Muja mempelajari bentuk-bentuk realis, sampai kemudian ia beralih menekuni surealisme sekitar awal tahun 1970-an. Alasannya sederhana, karena Bali saat itu mulai kehabisan bahan baku.

Waktu itu, kata Muja, patung-patung karya I Tjokot baru saja dikenal sebagai patung-patung modern. ”Tjokot bekerja dengan sekali pahat, makanya bentuknya kasar,” ujar suami dari Ni Made Robin (61) ini.

Estetik khas

Ketika mengetahui patung-patung akar lecinya mulai ditiru, Muja beralih ke bentuk lain. Ia kemudian menciptakan satu kecenderungan estetik yang khas, yang sampai kini sulit ditiru. Ayah dari pelukis Made Supena ini memandang kayu sebagai sebentuk organisme yang memiliki garis takdir. Dengan begitu, proses kerja yang ia lakukan ketika menggarap bentuk-bentuk realis dibalik sedemikian rupa, untuk menciptakan satu relasi baru antara seniman dan bahan.

Ide dalam pola semacam itu menjadi sesuatu yang paling berharga. Karena Muja selalu berangkat dari tekstur dan bentukan-bentukan permukaan kayu akibat proses alami (takdir). Hebatnya, pematung yang dilahirkan tahun 1944 ini hampir selalu berhasil menemukan kisah-kisah klasik Ramayana atau Mahabaratha, yang sesuai dengan pola tekstur kayu.

Muja bahkan tak sekadar menemukan kisah yang cocok, ia memberi semacam reinterpretasi terhadap kisah-kisah klasik itu. Bentuk-bentuk yang disodorkannya pun tidak lagi mengacu kepada karya-karya patung tradisi Bali yang ornamentik.

Sebelum saya memahat bisa berhari-hari melewati kayu yang menumpuk. Sampai nanti terasa ia memanggil saya, barulah saya mulai, kata dia.

Sore itu, ia sedang berhadapan dengan ”tumor” dari kayu gelintungan. ”Ini sudah saya amati berbulan-bulan, temanya ketemu tentang sosok kembar yang bisa dilihat dari berbagai sudut,” kata anak dari undagi Singapadu di masa lalu, I Nyoman Doblogan, ini.

Orisinalitas

Sikap penghormatan terhadap kayu ini membuat Muja selalu orisinal dalam berbagai hal. Ia tidak saja menemukan karya-karya yang selalu berbeda satu sama lain, tetapi juga tidak tergerus kecenderungan massal yang kini menghinggapi banyak seniman Bali.

Saya selalu bekerja dari ide, memahat, sampai selesai. Tak bisa suruh orang lain, terus tinggal tulis nama, kata dia. Ia bahkan sama sekali tidak tergoda dunia material yang begitu menjanjikan. Di rumahnya, ia membangun dua rumah khusus untuk menyimpan koleksinya. Bahkan kini sedang menyiapkan satu rumah lagi karena karya-karyanya mulai tidak tertng.

Kalau ada yang beli itu jodoh saja, tutur Muja sembari berhenti sejenak menorehkan pahatnya pada kayu. Muja bercerita, seorang kolektor pernah menyatakan keinginannya untuk membeli seluruh karyanya. Saya tolak mentah-mentah, kalau beli harus berdasarkan suka atau tidak.

Ayah lima anak ini tak berhenti bereksplorasi. Belakangan ia mengeluarkan seri karya dari kayu sampah yang hanyut di lautan. Sekarang coba lihat, hampir-hampir tak ada lagi kayu hanyut di sekitar laut Bali, ha-ha- ha, ujarnya. Seri karya ini tampak menarik karena di bagian- bagian tertentu terdapat lubang bekas dimakan binatang laut.

Seri karya ini pun kini sudah ditiru. Tetapi saya tak apa-apa. Mungkin saya yang harus mencari yang baru lagi..., kata Muja ringan.

Tak banyak seniman tradisi yang mengalami lompatan estetik seperti Muja. Tradisi bagi dia adalah wilayah ideal, yang setiap waktu mesti direinterpretasi untuk menemukan bahasa estetik dalam wilayah-wilayah orisinal. Di situlah pemahat ini pantas dihargai dan dihormati....

Sumber : Kompas, Sabtu, 13 Agustus 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks