Jun 12, 2009

Kario, Pujangga Pantun Melayu

Kario, Pujangga Pantun Melayu
Oleh : Emilius Caesar Alexey

Bangsa Melayu bangsa pujangga, gembiranya dalam senyum, marahnya tetap santun, dan bicaranya menggunakan pantun.

Ungkapan itu tidaklah berlebihan jika kita datang ke Pulau Bangka. Masyarakat di daerah ini sering melantunkan pantun dalam kehidupan sehari-hari, termasuk para pejabatnya ketika berpidato.

Di antara masyarakat yang gemar berpantun itu, terdapat satu orang yang layak disebut pujangga pantun terbaik. Pujangga itu, Kario, mampu berbalas pantun sampai ratusan kali dalam dua jam, "melawan" ratusan orang.

Dia mampu mengalahkan semua jawara pantun di seluruh rentang tanah Melayu dalam acara "Dunia Melayu Dunia Islam" di Malaka, Malaysia, tahun 2004.

Perkenalan Kario dengan pantun dimulai saat berusia 9 tahun atau kelas III sekolah dasar. Kario mulai mendengar pantun dari kakeknya ketika dia diminta memijit dan mencabuti uban sang kakek.

Sedikit demi sedikit Kario mulai mengerti, sastra Melayu itu sederhana, tetapi bermakna dalam. Hanya berisi dua baris sampiran dan dua baris isi, tetapi dapat memberikan petuah yang bijak. Salah satu pantun yang diingat Kario adalah nasihat kakeknya tentang perjodohan.

Sungai Palembang hanyut ke hulu/bermain sampan si anak China/Kalaulah bimbang pikir dahulu/kalaulah jodoh tak akan ke mana.

Rupanya Kario cepat belajar. Pada tahun yang sama dia mengerti tentang pantun, Kario sudah menjuarai lomba pantun tingkat SD dan mendapat hadiah tas dan buku. Saat itu, anak nelayan di Kurau, Koba, ini sadar pantun bisa juga memberi rezeki dan harus ditekuni.

Masa kecil dan remaja Kario dilewatkan menjadi pemilah ikan di Pelabuhan Pendaratan Ikan Kurau. Sambil memilah ikan, Kario sering melontarkan pantun-pantun jenaka dengan sampiran mengenai ikan.

Pantun-pantun itu membuat Kario menjadi idola para tengkulak dan berbalas pantun dengannya. Semakin sering berbalas pantun, daya pikirnya semakin tajam. Tetapi, Kario mulai kehabisan bahan pantun baru.

Kario mulai membacai buku sastra Melayu yang dia dapat dengan meminjam, menyewa, atau membeli. Dia juga membaca buku agama untuk memperdalam kandungan filosofis dari pantunnya.

Untuk sampiran, Kario memperluas perbendaharaan kata dengan mengamati alam sekitar rumah, di kebun, di pantai, dan di mana pun. Dia hafalkan semua nama jenis burung, ikan, bunga, buah, sungai, dan tempat.

"Sangat penting menyamakan rima dari setiap baris pantun, entah a-a-a-a atau a-b-a-b. Untuk akhiran vokal a, aku menghafal kata-kata china, malaka, kelapa; untuk akhiran i ada kata kenari, burung kedidi, ikan tengiri, dan sejenisnya," papar Kario.

Pola menghafal akhiran untuk baris sampiran dan memperdalam makna filosofis dari setiap peristiwa membuat Kario sangat terlatih membalas pantun dalam waktu tidak sampai lima detik.

Hal itu membuat Kario remaja mampu berbalas pantun dengan para orang tua di lapangan sepak bola dekat rumahnya. Bahkan, pertandingan sepak bola sering sepi penonton karena masyarakat justru mengerumuni Kario dan para lawan tandingnya yang sedang berbalas pantun.

Mulai terkenal

Meskipun sudah terkenal di kalangan masyarakat Kurau, Koba, popularitas Kario dalam wilayah yang lebih luas baru terjadi pada tahun 2003 ketika dia terpilih sebagai duta pantun dari Bangka Belitung. Di final, Kario mengalahkan seorang penyanyi gambus dari Mentok dalam 30 pantun.

Kemudian, Kario dikirim ke Malaysia untuk mengikuti seminar "Dunia Melayu Dunia Islam" pada tahun 2004. Dari seminar itu, Kario mendapat tambahan ilmu pantun mengenai pentingnya kaitan antara baris sampiran pertama dan kedua.

Dalam acara itu, semua pujangga pantun diberi kesempatan untuk berbalas pantun. Namun, tidak ada pujangga pantun yang dapat berbalas pantun secara spontan dan sehebat Kario.

Pada puncaknya, Kario berbalas pantun dengan seorang pujangga dari Kepulauan Riau secara spontan. Akhirnya, Kario memenangi "duel pantun" itu dalam belasan pantun. Melihat kemampuan mereka yang atraktif dalam berbalas pantun itu, tidak ada lagi pujangga pantun Malaysia yang berani menantang Kario.

Sayangnya, tidak ada penghargaan dan fasilitas dari pemerintah untuk pujangga pantun dengan bakat alam sehebat Kario. Dia pun kembali ke kehidupan lamanya sebagai tukang parkir di Pelabuhan Pendaratan Ikan Kurau.

Bakat berpantun Kario hanya sering digunakan untuk acara lamaran khas Melayu Bangka atau kampanye untuk partai politik atau calon bupati. Namun, justru dari acara-acara informal itu Kario mendapat keberuntungannya.

Yohanes Yudhistira, Direktur Radio Prima (Grup Radio Sonora Pangkal Pinang), sangat tertarik ketika menemukan Kario dan merekrutnya menjadi salah satu penyiar untuk acara pantun berbalas. Keinginan menghidupkan dan memasyarakatkan pantun langsung disanggupi Kario.

Hasilnya mengejutkan, ratusan orang selalu mengirimkan pantun dengan menelepon ketika Kario siaran dan langsung dibalas hanya dalam waktu kurang dari lima detik. Masyarakat di pedesaan juga memasang pengeras suara atau memaksimalkan volume radio mereka ketika Kario mengudara setiap Jumat pukul 20.00 sampai 22.00.

Kebiasaan berpantun mulai hidup lagi di kalangan masyarakat Melayu Bangka. Semula untuk berpartisipasi dalam acaranya Kario, tetapi lama-kelamaan berubah menjadi gaya hidup. Bahkan, para pendatang dari Jawa dan Madura juga mulai belajar berpantun karena mengikuti tren itu.

Popularitas Kario berbuah manis. Dia pernah membuat SIM secara gratis karena polisi yang menjadi petugasnya hanya meminta Kario membuat pantun lalu lintas waktu dia siaran.

Kario pernah juga diterbangkan ke Jakarta dan diinapkan di hotel oleh seorang pejabat hanya untuk memberikan 10 pantun guna melamar calon menantunya.

Namun, buah popularitas yang sangat manis bagi Kario adalah ketika dia diminta oleh Dinas Pendidikan Bangka Tengah untuk mengajar muatan lokal pelajaran pantun di SD 12 Kurau. Pujangga pantun yang tidak tamat SD, tetapi mengajar di SD.

Yang kedua, ketika Kario diberi kesempatan oleh Radio Prima untuk menerbitkan buku berisi 1.000 pantun terbaiknya. Saat ini, Kario sudah menyusun sekitar 700 pantun terbaik dan buku itu akan siap diterbitkan pada awal tahun 2007.

"Pucuk cemara bunga cemara/bunga mawar pohon berduri/seorang pemantun memang tidak bisa kaya/pemantun hanya bisa kaya hati," ungkap Kario pula.

Sumber : Kompas, Sabtu, 7 Oktober 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks