Jun 9, 2009

Jonathan Pradana Mailoa : Sang Penyelamat Muka Bangsa

Sang Penyelamat Muka Bangsa
Oleh : Nasrullah Nara

Laksana penghibur di tengah rentetan bencana di Tanah Air. Bagaikan penyelamat muka bangsa ini di tengah anjlokya prestasi olahraga di kancah Asian Games. Begitulah perumpamaan terhadap prestasi Jonathan Pradana Mailoa.

Dalam Olimpiade Fisika Internasional (OFI) yang berlangsung di Nanyang Technological University, Singapura, Juli 2006, siswa SMA Kristen Penabur 1 Jakarta itu tak sekadar meraih medali emas. Ia bahkan merebut gelar The Absolute Winner setelah mencatat nilai tertinggi dalam ujian teori dan eksperimen.

Pada ujian teori dan eksperimen, Jonathan meraih nilai 29,7 dan 17,10, lebih tinggi ketimbang nilai pesaing utamanya dari China, Yang Suo Long, yang mencatat 29,6 (untuk teori) dan 16,45 (eksperimen).

Atas prestasinya mengalahkan 385 siswa dari 84 negara, remaja kelahiran Jakarta, 20 September 1989, putra pasangan Sherlie Darmawan dan Edhi Mailoa, itu sekaligus dinobatkan sebagai The Best ASEAN Student.

Bagi Indonesia sendiri, inilah kali pertama predikat juara dunia diraih sejak aktif mengirimkan tim ke OFI tahun 1993. Dalam sejarah keikutsertaan Indonesia dalam ajang OFI, para pelajar Indonesia memang boleh dibilang sudah menjadi "langganan" medali emas, terutama sejak era tahun 2000-an.

Sebutlah Widagdo Setiawan (SMA Negeri 1 Denpasar) yang meraih emas pada OFI 2003 di Taiwan. Tahun 2004 di Korea Selatan giliran Yudistira Virgus (SMA Xaverius 1 Palembang) meraih emas.

Tahun 2005 di Spanyol, Indonesia merebut dua emas melalui Andika Putra (SMA Sutomo 1 Medan) dan Ali Sucipto (SMA Xaverius 1 Palembang). Tahun 2006, selain Jonathan, tiga pelajar lainnya yang meraih emas adalah Irwan Ade Putra, Andy Octavian Latief (SMA Negeri 1 Pamekasan), dan Pangus Ho (SMA Kristen 3 Penabur Jakarta).

Akan tetapi, baru kali inilah tercipta sebuah pencapaian "emas" yang luar biasa. Penggabungan nilai ujian eksperimen dan teori menunjukkan nilai "karat emas" yang diraih Jonathan paling tinggi dari seluruh peserta OFI di Singapura. Intinya, Indonesia menjadi juara dunia Fisika Internasional melalui kecerdasan Jonathan.

Prestasi spektakuler Jonathan dengan sendirinya membuat Indonesia semakin disegani dalam kompetisi sains. Indonesia disetarakan dengan China, Amerika Serikat, Korea, dan Taiwan.

Kesadaran berprestasi

Menggapai juara dunia sebetulnya sudah diimpikan awal tahun 2000-an oleh Prof Dr Yohanes Surya selaku pembina tim olimpiade fisika Indonesia. Itu didasarkan fakta bahwa di berbagai wilayah Tanah Air tersebar bibit potensial.

Impian itu tak lepas pula dari fenomena tumbuhnya kesadaran para orangtua untuk mengarahkan putra-putrinya berprestasi gemilang di bidang sains, di samping bidang lainnya. Pada saat bersamaan mulai tumbuh pula kesadaran sekolah untuk mengondisikan lingkungannya sebagai wahana pengembangan kecerdasan siswa untuk meraih prestasi internasional.

Jonathan boleh disebut buah dari sinergi pembinaan lingkungan keluarga dan sekolah. Ayah-bundanya selalu memenuhi kebutuhan belajar Jonathan sejak duduk di bangku SD. Di luar jam sekolah, Jonathan ikut les bidang sains. Pantas jika nilai Jonathan pada pelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam sejak SD hingga SMA nyaris selalu sempurna.

Sewaktu masuk SMA Kristen Penabur 1 Jakarta tahun 2004, atmosfer pembinaan atas potensi Jonathan makin kondusif. Di sekolah yang dikenal sebagai tempat bertaburnya bintang olimpiade itu Jonathan tak sekadar mendapatkan pelajaran Fisika bermutu dari guru-guru yang rata-rata berkualifikasi S-2.

Setiap Sabtu, ketika umumnya para remaja larut dalam acara liburan akhir pekan, Jonathan dan sejumlah siswa di sekolahnya ikut klub fisika dengan membahas soal-soal setingkat universitas.

Kecerdasannya dalam bidang fisika mulai terpantau secara nasional ketika ia meraih medali emas pada Olimpiade Sains Nasional 2005 di Jakarta. Dari situlah ia bersama 20-30 rekannya dari seluruh Indonesia digembleng secara intensif sebelum ikut Olimpiade Fisika Asia di Kazakhstan, April 2006. Medali perak yang diraihnya di Kazakhstan justru memunculkan rasa penasaran pada dirinya. Tiga bulan kemudian, rasa penasaran itu dituntaskannya secara sempurna di Singapura.

Dalam persiapan menuju Singapura, berbagai buku analisis soal fisika—setara dengan program magister doktor Massachusetts Institute of Technology maupun dari universitas-universitas di Berkeley, Princeton, Moskwa, dan India—menjadi "makanan" sehari-hari Jonathan, kecuali Sabtu-Minggu. Ia hanya bisa menyalurkan hobinya main games dan play station di luar jadwal belajar pukul 08.00-17.00.

Prestasi gemilang Jonathan membuktikan bahwa pembinaan di bidang pendidikan mampu mengharumkan nama bangsa. Sementara pembinaan di bidang-bidang lain masih belum menunjukkan bukti yang signifikan.

Hanya, munculnya siswa-siswa unggulan seperti Jonathan sejauh ini lebih merupakan hasil kerja keras para guru di sekolah, ditambah kemampuan individu siswa dan dukungan dana dari orangtua siswa sendiri.

Sumber : Kompas, Sabtu, 30 Desember 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks