Jun 28, 2009

Harjanto Halim, dari Agen Minuman Mineral ke Marimas

Harjanto Halim, dari Agen Minuman Mineral ke Marimas
Oleh : SN Wargatjie

SEKALIPUN orangtua adalah pengusaha sukses, belum tentu anaknya akan menjadi pengusaha sukses juga. Banyak faktor untuk menjadi sukses mengikuti jejak orangtua, antara lain pendidikan, finansial, dan interaksi sang anak terhadap stimulans dari luar.

ADA satu faktor lagi, yaitu faktor timing," kata Harjanto Halim (40) ketika ditemui di kediamannya di kawasan Telomoyo, Semarang. Minuman serbuk Marimas hasil produksinya berhasil menembus pasaran nasional. Kini dia mengeluarkan produk baru berupa minuman serbuk teh hijau, Maritea.

Menurut penuturan Harjanto, ketika minuman serbuk Marimas diluncurkan pertama kali pada akhir tahun 1994, pasaran minuman sejenis masih memiliki peluang besar untuk tampilnya minuman serbuk baru.

HARJANTO mengakui, istri juga mempunyai pengaruh cukup besar atas keberhasilan karier suami. "Saya senang, selama ini istri saya mendukung. Apa pun yang saya lakukan dalam usaha, dia mendukung. Bahkan, kemudian dia juga percaya dan mau susah. Pernah saya dibelikan rumah gedung besar oleh ayahnya sewaktu kami baru menikah, tetapi saya merasa tidak nyaman karena penghasilan saya waktu itu belum klop dengan rumah itu. Akhirnya rumah tersebut saya jual untuk kemudian saya belikan rumah lebih sederhana. Setelah itu saya bisa bekerja lebih tenang, dan istri saya mendukung keputusan itu," ungkap suami dari Lisa Ambarwati Dharmawan ini.

Sebelum berhasil dengan Marimas, Harjanto pernah jatuh bangun dengan macam-macam produk. Antara lain, dia pernah membuat minuman serbuk campuran susu-telur-madu-jahe, tetapi hanya bertahan sekitar satu tahun saja.

"Memang paling berat adalah saat menghadapi kegagalan. Untungnya waktu itu orangtua dan kakak-kakak saya cukup mendukung. Mereka mengatakan gagal tidak masalah dan mereka menganjurkan saya untuk mencoba lagi saja," ungkap anak kelima dari delapan anak pasangan Liem Liang Peng-So Sioe Dwan itu.

"Ayah tidak marah ketika saya mengalami kegagalan. Sebaliknya, Ayah memberi semangat untuk terus berusaha. Ayah mengatakan, belum tentu orang yang kelihatannya berhasil itu betul-betul berhasil karena mungkin saja utangnya banyak. Kata Ayah, ’Hao kan bu hao ce’, pepatah Mandarin yang artinya ’indah dipandang dari luar, tetapi tidak enak sebenarnya’. Memang pada saat mengalami kegagalan siapa yang mendampingi kita juga menentukan, bukan diri kita saja," tutur Harjanto.

HARJANTO Halim tidak mengandalkan kredit bank ketika dia memulai usahanya. Modal pertama berasal dari pemberian sang ayah. Ketika usahanya gagal dan modal ludes, dia tidak cari pinjaman bank, apalagi minta lagi modal dari orangtuanya.

Dia bekerja sebagai agen minuman mineral dan aneka snack dengan modal nama ayahnya yang sudah dikenal di kalangan pengusaha. Keuntungan dari usaha agen ini dia kumpulkan untuk modal usaha lagi, ditambah pinjaman modal tanpa bunga dari teman-teman.

"Asal punya jaringan cukup dan personal character yang bagus, teman-teman pasti mau bantu," kata ayah dari Dian Ekaputri (11) dan Bing Dimasputra (9) ini. Reputasi dan nama baik itu penting sekali, katanya menandaskan.

Ketika menjadi agen minuman mineral, dia sering terjun ke pasar-pasar di Jawa Tengah. Dari hasil komunikasi dengan pedagang di pasar dan didukung pengamatannya sendiri, dia melihat peluang pada pangsa minuman serbuk.

Saat itu di pasaran banyak beredar minuman serbuk panas, seperti jahe dan bandrek, dengan pelbagai merek. Sedangkan minuman serbuk yang dingin pada waktu itu hanya ada satu merek dan harganya relatif mahal sehingga hanya beredar di toko besar dan swalayan.

"Dari situ timbul ide membuat minuman serbuk dingin dengan harga terjangkau banyak orang," ungkap Harjanto yang segera mencoba mewujudkan idenya dengan serentetan percobaan.

"Percobaannya sederhana dengan peralatan yang juga sederhana. Untuk mendapat rasa yang cocok, saya cicipi sendiri, juga istri ikut mencicipi," ungkap lulusan teknologi pangan University of California, Davis, Amerika Serikat, tahun 1990 ini.

Marimas diluncurkan akhir tahun 1994. Namanya sederhana, tetapi persuasif. Produk pertama 500.000 kantong (sachet) yang dia sebarkan langsung ke pasar-pasar di Jawa Tengah. Pengalamannya sekitar empat tahun sebagai agen minuman mineral dan aneka snack banyak membantu dirinya dalam memasarkan produknya itu.

Pada awal pemasaran Marimas, dia tidak menggunakan iklan di media cetak maupun elektronik untuk promosi, melainkan hanya melalui pengeras suara di pasar yang dia kunjungi. "Waktu itu promosi yang saya lakukan konvensional dan distribusinya juga konvensional, yaitu dengan menitipkan produk saya kepada orang-orang yang saya kenal," tutur Harjanto yang kini menggunakan manajemen modern dengan merekrut tenaga profesional dan karyawannya dari 20 orang meningkat menjadi 300 orang.

Sekarang produksi Marimas mencapai 10 juta kantong per bulan. Omzet yang pada awal usaha sekitar Rp 100 juta sekarang Rp 2 miliar-Rp 3 miliar per bulan.

"Saya melihat prospek minuman serbuk masih cukup bagus. Memang mungkin nanti akan bersaing dengan minuman lain yang siap saji dalam bentuk botol. Tetapi, produk saya tetap lebih praktis, bisa dikantongi, dan untuk sajian di kantor-kantor tidak makan tempat," kata Harjanto.

DALAM kesibukannya mengelola Marimas, Haryanto masih menyediakan waktu untuk menjadi dosen paruh waktu teknologi pangan di Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang. Lelaki yang gemar olahraga renang dan membaca buku filsafat ini juga aktif sebagai Ketua Paguyuban Kopi Semawis (Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata), yang bertujuan antara lain menggali potensi ekonomi dan pariwisata di kawasan pecinan Semarang. (SN Wargatjie)

Sumber : Kompas, Jumat, 13 Mei 2005

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks