Jun 19, 2009

Embit Kartadarma : Peneliti Keamanan Pangan

Peneliti Keamanan Pangan
Oleh : Yenti Aprianti

Ia menyayangkan hingga kini bangsa ini masih berkutat dengan persoalan penggunaan zat-zat berbahaya dalam makanan. ”Sepertinya semua yang sudah kami lakukan cuma dianggap angin lalu,” kata Dr Embit Kartadarma (64), dosen dan ahli teknologi makanan dari Departemen Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung.

Ia telah melakukan penelitian dan menyosialisasikan zat-zat alternatif pengganti zat-zat berbahaya kepada masyarakat sejak tahun 1970-an. Embit sering kali mendatangi pasar-pasar untuk mencari sampel. Jika dari penelitian di laboratorium ia menemukan zat mencurigakan pada sebuah makanan, ia pun segera menelusuri asal-muasal, termasuk mencari produsennya.

Di lapangan Embit sering kali berpura-pura sebagai pembeli biasa, agar lebih leluasa melakukan wawancara dan pedagang menjawab pertanyaan dengan lebih terus-terang.

Dalam perjalanannya meneliti, banyak zat berbahaya ia temukan dijadikan bahan untuk memproduksi makanan. Zat berbahaya itu bisa berupa pengawet, zat warna, maupun insektisida yang sudah dinyatakan berbahaya dalam perundang-undangan tentang pangan di Indonesia. Di antara makanan-makanan tersebut, banyak yang sangat populer dan banyak dikonsumsi masyarakat.

Dalam hal ini, Embit merasa harus bersikap hati-hati. Sebab, biasanya industri makanan yang memproduksi makanan mengandung zat berbahaya melibatkan banyak orang, termasuk rakyat kecil yang membutuhkan penghidupan.

”Masih banyak rakyat Indonesia yang belum sejahtera sehingga bisa makan saja sudah untung. Mereka tidak berpikir lagi soal pentingnya makanan yang aman,” ujar Embit. Jalan tengah yang biasa ia lakukan adalah melaporkan penemuannya kepada dinas terkait yang lebih berwenang agar segera ditindaklanjuti.

Embit menilai pemerintah kurang bersungguh-sungguh memberantas penggunaan zat berbahaya pada makanan dan menyosialisasikan pengganti dari zat berbahaya yang termasuk aman. Pemerintah selalu berdalih tidak punya cukup anggaran untuk memberantasnya. Sementara produsen makanan tidak mau berusaha lebih keras mencari pengganti zat berbahaya dengan alasan kalaupun ada zat pengganti, harganya lebih mahal dan sulit didapat.

”Biasanya semua zat itu bisa dibeli di pedagang besar farmasi yang ada di setiap kota,” kata Embit, yang ikut menyusun buku Kodeks Makanan Indonesia.

Di toko farmasi itu, biasanya zat-zat tersebut dibagi dalam empat kelas, zat untuk kelas teknik, makanan, obat-obatan, dan zat murni untuk penelitian di laboratorium.

Keamanan pangan

Embit mengaku awalnya tidak tertarik meneliti soal makanan, tetapi lebih tertarik pada pengolahan makanan. Namun, setelah lulus dari sekolah asisten apoteker–setingkat sekolah menengah atas—di Bandung, ia meneruskan pendidikan ke ITB dan mengambil Jurusan Ilmu Farmasi. Karena ilmu tentang pengolahan atau teknologi makanan tidak dipelajari di perguruan tinggi tersebut, ia pun mengalihkan perhatiannya pada keamanan pangan. Menurutnya, menganalisis zat-zat dalam makanan memberikan kesenangan tersendiri.

Embit lulus kuliah tahun 1972 dan langsung menjadi dosen di almamaternya. Pada tahun 1982 ia berkesempatan meneruskan pendidikan tingkat strata dua dan tiga di University of New South Wales, Australia, dan menamatkan studinya tersebut pada tahun 1991.

Di Australia ia menambah pengetahuannya tentang berbagai proses mengolah makanan sebagai bekal untuk mempertajam analisisnya soal keamanan pangan.

Sehari-hari dia mengaku tidak membeli makanan sembarangan. ”Kalau ingin sesuatu, minta dibuatkan istri saja di rumah,” kata suami dari Mien Sumintarsin (53).

Soal makanan aman di keluarganya, Embit merasa bersyukur bisa bekerja sama dengan istrinya yang lulusan sekolah analis kimia. ”Karena bidang kami sama, jadi kalau berdiskusi nyambung, termasuk soal makanan untuk keluarga,” kata Embit yang mengaku ia dan istrinya sudah terbiasa tidak jajan sejak kecil.

”Waktu masa sekolah, saat teman-teman jajan, saya diam saja karena tidak boleh jajan oleh orangtua. Mereka mencegahnya dengan tidak memberi uang jajan. Kebetulan, istri saya pun selalu diberi bekal makanan sejak kecil oleh orangtuanya,” ujar Embit.

Ayah dari Supriadi Kartadarma (31), Supriatni Kartadarma (24), dan Suprihani Kartadarma (18) menanamkan hal serupa pada anak-anaknya. ”Mereka selalu makan di rumah,” kata Embit yang mengaku sering mendengar anak-anaknya diledek teman-temannya karena menolak jajan makanan di berbagai tempat karena khawatir mengandung zat berbahaya. ”Hal itu tidak terlalu menjadi masalah sebab anak-anak saya juga bisa memberikan wawasan pada teman-temannya,” tutur Embit.

Sumber : Kompas, Sabtu, 21 Januari 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks