Jun 19, 2009

Cipto Sukiyem : Menjaga Sejarah Berbekal Naluri

Menjaga Sejarah Berbekal Naluri
Oleh : Dahono Fitrianto dan Edna C Pattisina

Bapak bangsa kita, Soekarno, pernah berpesan, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Namun, sejujurnya, masih sempatkah kita memikirkan sejarah dan masa lalu saat 7 hari seminggu dan 24 jam sehari serasa tidak pernah cukup untuk mengejar kehidupan masa kini kita?

Di tengah kondisi seperti itu, melegakan rasanya bertemu Cipto Sukiyem, penduduk desa, rakyat biasa, yang tanpa pamrih menjalani hidup menjaga sejarah asal-usulnya.

Cipto terlahir dengan nama Sukiyem saja pada 18 Juli 1964 di Dusun Tawangrejo, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sejak lahir hingga kini memiliki tiga anak dan satu cucu, ia tidak pernah pergi dari tempat itu mencari penghidupan yang lebih baik seperti sebagian besar tetangganya. ”Saya tidak pernah ingin keluar dari sini, tidak pernah tertarik. Saya punya pekerjaan dan kewajiban di sini,” tuturnya.

Pekerjaan dan kewajiban yang ia lakukan adalah menjadi tenaga sukarela merawat dan menjaga Candi Cetho peninggalan masyarakat Hindu dari abad ke-14.

Sejak kecil

Cipto ”mewarisi” pekerjaan menjaga Candi Cetho. Kakeknya ikut dalam penggalian candi yang sempat terkubur tanah dan hutan pada tahun 1930-an. Sejak saat itu, keluarga Cipto seolah kedhapuk (mendapat mandat—Red) menjaga candi yang terletak 1.400 meter di atas muka laut di lereng Gunung Lawu.

Sejak umur delapan tahun Cipto telah mengikuti ayah dan kakaknya tiap hari masuk ke dalam kompleks candi untuk membersihkan halaman dan bangunan candi, atau membersihkan coretan iseng pengunjung di dinding candi. Ia menjalani tugas tersebut bersama dua penjaga lain yang masih saudaranya juga, yakni pamannya, Sukimin, dan kakak sepupunya, Narno.

Cipto bersekolah hingga kelas 2 SMP sebelum memutuskan berhenti sebab SMP yang ada jaraknya 20 km dari rumahnya dan harus ditempuh berjalan kaki. ”Akhirnya saya tidak kuat dan bilang ke Bapak untuk berhenti saja,” kenangnya. Sejak itu Cipto menjaga Candi Cetho yang rutin dia lakukan tiap pagi sebelum pergi mengurus tanaman sayurnya.

Sejak 1981, dia diangkat menjadi tenaga kontrak pada Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Provinsi Jawa Tengah dengan gaji Rp 170.000 per bulan. ”Dulu pertama kali diangkat oleh Kantor Purbakala bayarannya Rp 25.000 per bulan,” ujarnya.

Jumlah itu pun hampir setengahnya digunakan untuk biaya transpor setiap mengambil gaji di Kantor Purbakala di Prambanan, sekitar 80-an kilometer dari rumahnya. ”Untuk menjaga sejarah naluri leluhur, saya tidak pernah merasa keberatan dengan upah sebanyak itu,” ucap Cipto polos.

Dia mendapat pelatihan dari Kantor Purbakala mengenai cara membersihkan batuan candi dan patung di dalamnya, termasuk mendapat sikat ijuk dan bahan kimia pembersih batu.

”Saya mendapat pelatihan merawat candi, tetapi malah belum pernah diajari sejarah candi ini,” ujar Cipto yang seperti sebagian besar penduduk Jenawi lainnya memeluk agama Hindu.

Meski begitu, Cipto yakin leluhurnyalah yang membangun dan hingga kini bersemayam di dalam candi. ”Saya tidak tahu siapa membangun candi ini. Saya hanya tahu secara naluri leluhur saya yang membangun,” tutur Cipto.

Uniknya, naluri merawat dan menjaga candi itu pun menurun kepada anaknya. Tanpa pernah disuruh, apalagi dipaksa, anak ketiga Cipto, Aris Yuliawan (8), setiap hari sepulang sekolah selalu menyusul Cipto ke candi dan membantu ayahnya membersihkan lingkungan candi.

Tugas berat

Tugas menjaga candi tidak ringan. Di luar membersihkan dan merawat candi, Cipto dan dua rekannya juga harus menjaga lingkungan candi dari pencuri.

Menurut Cipto, tahun 1991 lalu dua patung paling sakral di sana, yakni patung Sabdopalon dan Nayagenggong, sempat digasak pencuri. Barang tersebut akhirnya ditemukan di Singapura beberapa bulan kemudian dan berhasil diselamatkan.

”Padahal malamnya saya meronda sekitar candi dan aman- aman saja. Tahu-tahu paginya dua patung itu sudah hilang,” katanya.

Cipto juga memandu dan mengantar tamu yang ingin nyepi atau ziarah ke candi yang bagi sebagian orang dianggap membawa berkah.

Sementara bagi Cipto, Candi Cetho bukan tempat ngalap berkah atau mencari jalan singkat mendapatkan kekayaan materi. Bagi dia, merawat candi adalah cara menjaga hubungan dengan asal-usulnya. ”Jika saya ikhlas menjaga leluhur saya, maka leluhur akan menjaga saya,” tandasnya yakin.

Selebihnya, Cipto mencukupi kebutuhan keluarga dengan menjadi petani wortel dan bawang merah bergantian setiap empat bulan. Hasilnya tidak pernah berlebih, tetapi juga tidak kurang selama ini. Hidupnya tetap sederhana bersama istri dan dua anaknya yang paling kecil di rumah berdinding batu.

Yang dia yakini, leluhur-leluhur itu akan selalu membalas menjaganya dalam bentuk warisan kebijaksanaan dan pesan keluhuran masa lalu yang tersimpan dalam setiap peninggalan mereka.

Sumber : Kompas, Sabtu, 4 Februari 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks