Jun 16, 2009

Carel van Schaik, Jatuh Cinta pada Orangutan

Carel van Schaik, Jatuh Cinta pada Orangutan
Oleh : Ni Komang Arianti

Jangan sekali-sekali meninggalkan obeng di kandang orangutan karena salah satu di antara orangutan itu akan memungutnya tanpa Anda ketahui, menyembunyikannya, dan akan menggunakannya untuk meloloskan diri bila Anda sudah pulang.

Itu bukan anekdot. Profesor Carel van Schaik (53), guru besar dan Direktur Institut dan Museum Antropologi Universitas Zurich, sangat mengagumi kecerdasan kera besar Indonesia tersebut.

"Orangutan merupakan primata dengan tingkat intelegensi yang tinggi, sama halnya seperti simpanse. Sayangnya, orangutan tidak tersohor di masyarakat luas seperti kesohoran simpanse sebagai primata cerdas di dunia," ujar Carel, saat ditemui Kompas, Kamis (13/7) di Jakarta, sehari sebelum ia terjun kembali ke habitat orangutan di Tuanan, Kalimantan Tengah.

Pria kelahiran Amsterdam, Belanda, ini merupakan satu dari sekian banyak peneliti orangutan yang telah menjelajahi pedalaman hutan hujan tropis di Sumatera dan Kalimantan sejak tahun 1976 demi mengamati perilaku kera besar berambut merah tersebut.

Carel bercerita kisah jatuh cintanya yang pertama kali dengan orangutan bermula dari ekspedisi penelitian kelompok monyet yang dilakukan Maria, istrinya, pada tahun 1976 di Ketambe, Aceh. Sebagai mahasiswa ilmu botani dan masih berstatus pacar Maria saat itu, Carel sangat menikmati ekspedisi tersebut.

"Jujur saja, sebagai mahasiswa botani, mempelajari tanaman cukup membosankan. Ketika Anda sudah menemukan contoh-contoh tanaman yang akan diteliti, Anda cukup mengirimkannya ke herbarium untuk diteliti secara cermat. Tetapi, meneliti binatang seperti monyet sungguh berbeda, Anda bisa langsung mencatat perilakunya pada saat itu juga," kata Carel.

Membuat alat

Perasaan "jatuh cinta" mahasiswa botani itu terhadap kelompok monyet ini berlanjut saat Carel mengetahui kabar tentang masih banyaknya jumlah monyet, terutama orangutan, di pedalaman hutan Sumatera. Ia segera kembali ke Universitas Utrecht, Belanda, dan menyelesaikan sekaligus meraih gelar master untuk studi botani dan primata pada tahun 1979.

Ketertarikan pada primata, khususnya orangutan, membawa langkah Carel kembali ke Sumatera. Selama bertahun-tahun, Carel bersama beberapa mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Nasional menyurvei sejumlah lokasi yang diperkirakan sebagai habitat orangutan.

Pada awal tahun 1990, tim Carel menemukan sebuah rawa "mati" berbau busuk dengan air berwarna coklat kemerahan di antara lebatnya pepohonan hutan hujan tropis di Aceh Selatan. Bagi orang lain, rawa ini sangat tidak menyenangkan untuk ditinggali, tetapi di rawa inilah Carel menemukan surga orangutannya.

"Suaq Balimbing, nama tempat di mana rawa itu berada. Kami sungguh terkejut oleh penemuan kami saat itu. Di rawa itulah kami menemukan habitat orangutan dengan kepadatan populasi lebih dari sepuluh individu per kilometer persegi," ungkap ayah dua putri ini.

Di tempat itu ia pertama kali menyaksikan orangutan menggunakan alat berupa ranting pohon saat mereka mencari madu lebah keringat dari sebuah lubang pohon.

"Saat itu serasa menonton film kartun, sampai saya mengusap-usap mata karena tidak percaya atas apa yang saya lihat," ujar pria yang menjalani postdoktoral-nya di Universitas Princenton, Amerika Serikat, tahun 1986.

Menurut Carel, penggunaan ranting kayu itu menunjukkan orangutan menggunakan otaknya untuk merencanakan cara mengambil madu dengan alat yang tepat.

Seusai mengukur kedalaman lubang pohon, orangutan itu mengambil ranting kayu, lalu mengupas kulitnya, kemudian memotongnya sesuai dengan ukuran yang telah ia perhitungkan. Seusai membuat alat, orangutan itu memasukkan alat tadi ke lubang pohon dan leluasa menikmati madu lebah.

Pengalaman berharga ini semakin menyemangati Carel meneliti kebudayaan orangutan didasarkan pada kecerdasan mereka menggunakan alat, perkembangan bayi orangutan, dan inovasi mereka dalam mencari makanan. Fokus penelitian di Suaq Balimbing hingga tahun 1999 itu memberikan sejumlah kontribusi baru terhadap studi perilaku dan organisasi sosial orangutan sumatera.

Berpacu dengan waktu

Sayangnya, konflik yang muncul dari kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada tahun 1999 membuat Carel dan peneliti orangutan lainnya harus meninggalkan stasiun penelitian Suaq Balimbing, yang didirikan pada tahun 1991. Bukan hanya harus meninggalkan Suaq Balimbing, Carel juga kehilangan sahabat sekaligus saudaranya, Idrusman, pemandu lokal yang telah ikut sejak awal ekspedisi Carel di Aceh.

Untuk mengenang sosok Idrusman, Carel mempersembahkan buku berjudul Di Antara Orangutan: Kera Merah dan Bangkitnya Kebudayaan Manusia yang penerbitan dalam bahasa Indonesia didanai Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo dan telah diluncurkan di Indonesia pada pertengahan bulan ini. Buku diterbitkan pertama kali pada tahun 2004 dengan judul asli Among Orangutan: Red Apes and the Rise of Human Culture oleh The Belknap Press of Harvard University Press.

"Saat ini kami berpacu dengan waktu dan perkebunan kelapa sawit yang banyak mengonversi hutan habitat orangutan. Semoga orangutan belum keburu punah sebelum kami berhasil mengumpulkan data tentang kebudayaan mereka," ujarnya penuh harap.

Sumber : Kompas, Selasa, 25 Juli 2006

0 comments:

 

© Newspaper Template Copyright by bukan tokoh indonesia | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks